Claim Missing Document
Check
Articles

SISTEM ANGKA KREDIT BELUM "MENGGIGIT" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.66 KB)

Abstract

       Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 1989 yang lalu maka dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No: 26/Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru di dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud).        Dikeluarkannya SK Menpan tersebut di atas  bertepatan dengan "moment" nasional  tentu bukan tanpa maksud sama sekali; adapun maksudnya adalah peringatan hari pendidikan nasional yang penuh memorial tersebut diharapkan menjadi babak baru bagi sistem pendidikan nasional  yang ditandai dengan meningkatnya mutu pendidikan melalui jalur peningkatan kemampuan profesional dan prestasi guru.       Benarkah sistem angka kredit tersebut mampu memperbaiki nasib para guru?  Jawabnya terdapat dalam Surat Edaran bersama antara Mendikbud dan Kepala BAKN No:57686 /MPK/1989 dan No: 38/SE/1989 yang secara eksplisit menerangkan bahwa penetapan angka kredit bagi jabatan guru adalah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu dan prestasi guru.
MENEPIS PERSEPSI UNIVERSITAS KELAS DUA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.553 KB)

Abstract

       Delapan tahun silam, tepatnya tanggal 8 September 1984, Presiden Soeharto berkenan meresmikan kiprah Universitas Terbuka (UT) dalam upayanya membantu memberikan pelayanan pendidikan tinggi. Waktu itu secara simultan perguruan tinggi kita tengah menghadapi dua kompleksitas sekaligus, yaitu kompleksitas kuantitas dan kompleksitas kualitas. Dari dimensi kuantitas terdapat jutaan lulusan sekolah menengah yang tidak bisa melanjutkan studinya ke perguruan tinggi karena terbatasnya daya tampung; sedang dari dimensi kualitas banyak lulusan pendidikan tinggi yang diragukan mutunya oleh masyarakat.          Dalam upayanya untuk mensimplifikasi kompleksitas yang pertama itu, mengenai kuantitas, maka UT didirikan. Dalam sambutannya waktu itu Presiden Soeharto menyatakan bahwa didirikannya UT merupakan jawaban tepat untuk mera takan pelayanan pendidikan tinggi kita dalam kondisi dan situasi peri kehidupan masyarakat, khususnya dikarenakan wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.          Waktu itu memang banyak  lulusan sekolah menengah yang "frustasi" disebabkan sulitnya mencari tempat untuk melanjutkan studinya;  dan di antara mereka banyak yang mengalami kesulitan geografis,  artinya perguruan tinggi idamannya terletak sangat jauh dari tempat tinggal yang mana kejauhan ini mengandung konsekuensi logis untuk me-realisasikannya. Dengan kata lain untuk bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi terdapat banyak kesulitan atas jauhnya jarak tempat tinggal dengan perguruan tinggi.
“CITIZEN LAW SUIT” Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.655 KB)

Abstract

         Kiranya baru pertama kali terjadi dalam belantara pendidikan nasional semenjak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya lebih dari 60 tahun yang silam; yaitu adanya ?citizen law suit?, yang dalam hal ini ialah gugatan warga negara yang merasa dirugikan dengan kebijakan diber-lakukannya Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2005/2006. Dalam sejarah pendidikan nasional, kiranya baru pertama kali hal ini terjadi.          Kalau diperhatikan yang digugat pun tidak main-main; masing-masing adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) waktu itu Bambang Suhendro. Gugatan yang cukup menarik perhatian ini dilakukan oleh Tim Advokasi Korban Ujian Nasional (Tekun) dari LBH Jakarta yang konon mengatasnamakan para korban UN.          Tentang adanya gugatan tersebut Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla pernah menyatakan kesedihannya. Mengapa? Karena, katanya, hanya di Indonesia lah siswa yang tidak lulus ujian terus menggugat pemerintah.          Dengan adanya gugatan tersebut pihak penggugat meminta agar Pak Bambang Sudibyo selaku Mendiknas dan Pak Bambang Suhendro selaku Ketua BSNP tidak melakukan apa-apa berkaitan dengan persiapan UN tahun 2007 yang akan datang. Jangankan melakukan sosialisasi dan/atau persiapan, sedangkan mengumumkan akan tetap diberlakukannya UN tahun depan saja sudah dianggap mengabaikan hukum.
NASIB KEBUDAYAAN DAERAH DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.584 KB)

Abstract

Mulanya biasa saja; sebuah dusun yang terletak di daerah pedesaan yang tenteram dan nyaman, baik dalam pengertian fisik maupun nonfisik. Sosiabilitas warga dusun ini sangatlah tinggi; tolong-menolong dan bantu-membantu adalah pola hidupnya. Kalau ada keluarga yang susah maka bersama-sama mereka membantunya; bukan sekedar basa-basi sebagaimana yang terjadi pada kelompok masyarakat tertentu di kota (?), akan tetapi hal itu dilakukan dengan penuh rasa tulus dan religius. Setiap musim panen tiba mereka mengumpulkan dana untuk "bersih desa", mempertunjukkan wayang atau keseni-an tradisional lain yang mendidik. Hal ini dilaksanakan dalam suasana religi dan sosial yang tinggi; mensyukuri karunia Tuhan, dan bersuka-ria bersama sambil mempererat tali persaudaraan antar warga. Pendeknya kehidupan dusun ini cukup nyaman dalam pengertian yang seluas-luasnya. Tiba-tiba seorang warga dusun tersebut membeli antena parabola. Hampir setiap malam, bahkan sering juga siang hari, warga dusun menikmati sajian-sajian programa siaran luar negeri. Ingat, sudah menjadi kebiasaan warga dusun untuk ikut menikmati keberuntungan yang diperoleh oleh tetangganya; dalam hal ikut menikmati siaran tele-visi parabola contohnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Setelah ada parabola ternyata warga dusun tersebut memi-liki kebiasaan dan budaya baru; pemudanya senang meniru-niru gaya Madonna, anaknya senang meniru-niru Gaban atau Si Kura-Kura Ninja. Pola kehidupan orangtuanya pun mulai bergeser. Musim panen masih saja berlangsung tetapi aca-ra "bersih desa" tak pernah dilakukannya lagi.
ANAK INDUSTRI VERSUS ANAK AGRARIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.627 KB)

Abstract

       Apakah ada bahayanya jika anak-anak kita sekarang banyak yang tergila-gila dengan permainan anak modern seperti ding dong, nitendo, sega, bom bom car,  games watch, packman, video games, CD man, bumpy, computer games, dan sejenisnya itu?  Apakah kita harus memaksa anak kembali  ke jaman kuno untuk bermain dengan alat-alat permainan tradisional?        Itulah bagian dari pertanyaan yang berkembang dari ibu-ibu dan orang tua anak ketika berlangsung Sarasehan Nasional tentang Dolanan Anak  dalam rangka menyambut  Hari Anak Nasional (HAN) di Yogyakarta baru-baru ini.  Ada beberapa hal yang tersembunyi di dalam pertanyaan tersebut; antara lain para orang tua mengakui betapa sulitnya mengajak anak untuk bermain dengan alat-alat per-mainan tradisional di satu pihak,  ketergilaan anak akan permainan modern di lain pihak, serta kurang disadarinya "bahaya" yang ter-kandung di dalam alat permainan modern di pihak yang lain lagi.       Apabila kita perhatikan perkembangan  "anak-anak industri" yang bermukim di kota-kota metropolis dan semimetropolis seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Ujung Pandang, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya akan terkesan pada kita terjadinya perubahan peri-laku di dalam bermain.  Dengan penuh antusias anak-anak tersebut ke luar masuk toko atau tempat-tempat bermain sendirian atau ter-kadang berkelompok dua atau tiga orang sekaligus.       Perubahan perilaku tersebut akan nampak semakin valid dan signifikan kalau kita bandingkan dengan "anak-anak agraris" yang tinggal di pedesaan. Meski sama-sama percaya diri, anak-anak yang bermukim di daerah pedesaan umumnya lebih tenang, santun, sopan dan toleran.
KENDALA PENAMBAHAN FREKUENSI UMPT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.562 KB)

Abstract

       Kebijakan atau rencana  penambahan frekuensi  Ujian Masuk Perguruan Tinggi (UMPT),  baik PTN maupun PTS,  dari satu kali menjadi dua kali dalam satu tahun  memancing berbagai respon dari masyarakat, khususnya dari kalangan perguruan tinggi itu sendiri; baik rektor, dosen maupun mahasiswa.          Respon yang muncul  tentang rencana penambahan frekuensi UMPT tersebut ternyata sangat beragam; di satu sisi ada sementara pihak yang merespon secara positif rencana tersebut, bahkan lebih daripada itu  ada beberapa pimpinan perguruan tinggi  yang secara spontan menyatakan siap untuk menjalankan rencana baru itu. Pada sisi yang lain  ada pula sementara pihak yang merespon secara ne-gatif dengan  menyatakan rencana atau kebijakan  yang dilontarkan oleh menteri pendidikan nasional itu hanya sebatas wacana saja dan sebentar lagi  juga akan "tenggelam" sebagaimana rencana atau ke-bijakan-kebijakan lain sebelumnya.          Secara faktual memang banyak pendapat yang berkembang di masyarakat  dari para praktisi pendidikan tinggi  yang menyatakan bahwa rencana penambahan frekuensi UMPT tersebut idenya sangat bagus  tetapi untuk melaksanakannya  masih diperlukan pengkajian secara lebih mendalam.          Sebagaimana kita ketahui bersama,  baru-baru ini Pak Malik Fadjar selaku menteri pendidikan nasional menyampaikan keterangan  bahwa ke depan dimungkinkan UMPT  yang selama ini hanya dilak-sanakan satu kali  akan ditingkatkan frekuensinya menjadi dua kali di dalam setiap tahunnya.  Kebijakan baru ini nantinya akan diberlakukan baik bagi PTN maupun PTS yang siap melaksanakannya.
PROBLEMATIKA YANG AMAT SERIUS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.474 KB)

Abstract

       Apabila dicermati dari berbagai aspek maka dunia pendidikan di Jawa Tengah dapat dikatakan cukup berhasil dan mempunyai nilai lebih, akan tetapi dari berbagai kelebihan tersebut ternyata masih ada pula kekurangannya. Adapun salah satu kekurangan yang sangat serius dan cukup memprihatinkan sampai sekarang ini adalah menyangkut terbatasnya daya tampung SMTP.       Secara makro daya tampung SMTP di Jawa Tengah sampai saat ini masih berada di bawah daya tampung nasional; itu berarti bahwa apabila dikomparasikan dengan propinsi lain dapat dipastikan Jawa Tengah akan berada pada urutan bagian bawah dalam hal daya tampung SMTP.       Pada tahun 1989 yang lalu daya tampung SMTP di Jawa Tengah masih berkisar pada angka 50%, sebuah sumber mengatakan 54% tetapi sumber yang lain mengatakan masih 45%;  itu berarti bahwa sekitar separoh dari lulusan Sekolah Dasar (SD) di Jawa Tengah tidak dapat melanjutkan studinya di SMTP. Kalau mereka akan melanjutkan studinya maka harus "hijrah" di propinsi lain yang daya tampung SMTP-nya relatif tinggi; dan itupun tentunya belum merupakan jaminan untuk diterima.
PENDIDIKAN PADA MILENIUM KE-3 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.419 KB)

Abstract

       Pertemuan penting  kalangan pengembang pendidikan swasta di negara-negara Asia Pasifik baru-baru ini dilaksanakan di Manila, Philippina melalui forum Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE).  Ada dua agenda penting di dalam pertemuan ini; masing-masing ialah pertemuan pimpinan (board meeting) yang diikuti oleh 13 orang dan kongres ke-21 yang diikuti oleh sekitar 300 orang.      Dalam tradisi PAPE memang sudah dibiasakan adanya kongres tahunan yang dilaksanakan secara bergiliran di masing-masing ne-gara anggota. Kalau tahun ini diselenggarakan di Manila, Philippina maka tahun sebelumnya kongres dilaksanakan di Seoul, Korea; dan tahun depan akan dilaksanakan di Hawai, Amerika Serikat (AS). Di dalam kongres tahunan ini  dibahas persoalan-persoalan pendidikan yang berkembang,  baik yang berskala internasional maupun yang berskala regional, khususnya di kawasan Asia Pasifik.       Kongres ke-21  menampilkan "kata-kata kunci"  dari seorang pakar pendidikan bernama Bro. Andrew Gonzalez, FSC; di samping sekretaris Departemen Pendidikan Philippina,  dia adalah Presiden Asosiasi Universitas-Universitas Katholik di Asia. Dalam kongres ini juga ditampilkan presentasi dari nara sumber lain di luar Philippina antara lain dari Indonesia.  Oleh panitia saya diminta membawakan makalah dengan judul "The National Education Performance for Sus-tainable Development in The Third Millennium".       Setidak-tidaknya ada tiga permasalahan yang berkembang di dalam kongres ke-21;  masing-masing adalah tuntutan pendidikan di Milenium Ke-3, kinerja pendidikan yang bervariasi di negara-negara anggota PAPE,  serta peran pendidikan swasta di dalam membangun kinerja pendidikan di masing-masing negara.
HIRUK PIKUK PENDIDIKAN TINGGI DI TAHUN 1992 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.885 KB)

Abstract

       Berita gembira telah membuka lembaran pendidikan tahun 1992; yaitu berita tentang naiknya anggaran sektor pendidikan. Dalam menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tanggal 6 Januari 1992 di hadapan sidang DPR maka Presiden Soeharto menyatakan adanya kenaikan anggaran untuk sektor pendidikan.          Dalam bagian pidatonya tersebut Presiden menyata-kan bahwa sektor pendidikan tetap mendapatkan prioritas. Ini memang benar karena sejak beberapa tahun sebelumnya sektor pendidikan juga selalu mendapatkan prioritas. Se-jak tahun 1989/1990 s/d 1991/1992  RAPBN kita senantiasa menempatkan  sektor pendidikan dalam kelompok  "the best three" untuk soal jumlah dana. Pada RAPBN 1992/1993 yang dikomunikasikan presiden di awal tahun 1992 tersebut maka sektor pendidikan dengan alokasi dana lebih dari Rp 3,0 trilyun kembali masuk dalam kelompok tersebut.          Apabila dibandingkan dengan besarnya alokasi dana dalam RAPBN satu tahun sebelumnya yang jumlahnya "hanya" sekitar Rp 2,50 trilyun maka sektor pendidikan tahun ini memang  mengalami kenaikan anggaran yang sangat berarti.  Kenaikan ini bukan saja meningkatkan nilai rupiah untuk melaksanakan pembangunan pendidikan, tetapi kenaikan ini membuktikan betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan di bidang pendidikan.
DARI JEPANG KE NEGARA-NEGARA PASIFIK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.262 KB)

Abstract

       Seandainya saja "Bali Post" dapat memuat artikel ini dalam kurun waktu antara tanggal 18 s/d 21 September 1992 maka di Kuala Lumpur, Malaysia, masih berlangsung pertemuan penting yang melibatkan para pakar pendidikan dari negara-negara Pasifik; yaitu XIV'th Congress of Pan Pacific Association of Private School Education (PAPE). Pertemuan ini diikuti oleh delegasi negara-negara anggotanya; Jepang, Canada, Amerika Serikat (AS), New Zealand, Taiwan, Thailand, Malaysia. Indonesia juga mengirimkan delegasinya ke dalam forum pendidikan di tingkat internasional itu; kebetulan saya pun diminta berpartisipasi dalam pertemuan yang memang saya minati itu.          Konggres PAPE diselenggarakan setiap tahun dengan mengambil tempat secara berganti-ganti; misalnya dua tahun lalu Indonesia mendapat giliran, setahun kemudiannya adalah Canada, dan sekarang ini di malaysia.          Secara empirik saya memiliki semacam kenangan de-ngan forum-forum yang diprakarsai PAPE.  Memang, bertemu dengan teman-teman pakar, praktisi serta birokrat pendi-dikan dari berbagai negara yang tergabung di bawah panji PAPE sangat mengasyikkan;  kita dapat membagi pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan baru tentang pendidikan,ter-utama pengalaman dan pengetahuan pendidikan di negaranya masing-masing.Bergeraknya pengetahuan dan teknologi yang melaju dengan sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir ini  menyebabkan kita tak pernah kering dari pengalaman-pengalaman dan pengetahuan baru di bidang pendidikan.