Articles
JOGJA LEARNING GATEWAY
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.614 KB)
     Sultan Hamengku Buwana (HB) X selaku gubernur DIY dalam dialog dengan anggota Pengibar Bendera Pusaka se-DIY menyatakan Yogyakarta tidak bisa lagi disebut kota pendidikan hanya karena banyaknya pelajar dan mahasiswa serta jumlah sekolah dan perguruan tinggi yang ada di kota ini. Julukan kota pendidikan haruslah berorientasi kepada mutu; oleh karena itu Yogyakarta harus berbenah untuk menggapai kualitas pendidikannya.        Menurut Sultan, dengan adanya otonomi daerah maka sekolah dan per-guruan tinggi menjadi tumbuh di mana-mana; oleh karenanya masalah mutu menjadi penting karena tanpa mutu yang memadai maka orang akan memi-lih sekolah dan perguruan tinggi di daerahnya masing-masing.        Pernyataan Sultan tersebut dapat dipandang sebagai sebuah pengakuan bahwa mutu pendidikan di Yogyakarta belumlah sesuai sebagaimana yang diharapkan dan masih perlu ditingkatkan; di sisi lain dapat dipandang pula sebagai lecutan bagi insan pendidikan di Yogyakarta untuk berlomba-lomba meningkatkan kualitas.
JANGAN MENCIPTA KETERGANTUNGAN !
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (100.817 KB)
      Dalam minggu-minggu ini mulai diselenggarakan kegiatan "tutorial perdana" kepada mahasiswa Universitas Terbuka (UT) untuk semester gasal, ialah semester pertama dan tiga (Smt-I dan Smt-III). Kegiatan tutorial disini dimaksudkan sebagai pertemuan langsung antara mahasiswa UT dengan para tutor dalam rangka membantu belajar mahasiswa, misalnya dengan memperdalam materi kuliah, memecahkan soal-soal, dan sebagainya.       Seorang mahasiswa UT yang pernah berjumpa dengan saya beberapa waktu yang lalu sempat mengutarakan kegembiraan yang menyedihkan.        Pertama sekali mahasiswa tersebut menceriterakan bahwa dirinya termasuk mahasiswa yang rajin (tentu saja subyektif! ), oleh karena dia selalu mengikuti dan mengerjakan program-program yang dicanangkan oleh universitas. Misal selalu membaca modul, mengerjakan soal-soal mengikuti program audio-visual yang disiarkan melalui TVRI, dan sebagainya.       Meskipun demikian diakuinya bahwa tidak seluruh materi dapat "ditangkap" untuk distrukturkan dan diorganisir dalam benaknya.  Fifty-fifty , demikian kalau dapat dikomputasikan dengan bilangan, artinya separoh materi program dapat "ditangkap" sedangkan separoh lainnya pada "lari". Itulah sebabnya maka kegiatan tutorial disambut dengan rasa kegembiraan yang berlimpah, oleh karena dengan tutorial maka beberapa materi yang lari dapat ditangkap kembali.
âBEST UNIVERSITYâ UGM YOGYAKARTA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.308 KB)
     Ini sebuah kisah sukses (success story) suatu perguruan tinggi ândesoâ, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Menurut hasil studi Majalah The Times di Inggris, UGM Yogyakarta dinyatakan memiliki prestasi yang lumayan di berbagai bidang sekaligus. Tegasnya, UGM Yogyakarta dinya-takan masuk 100 universitas terbaik (best universities) untuk bidang-bidang ilmu-ilmu sosial (social sciences), ilmu-ilmu budaya dan humaniora (art and humanities), dan bidang ilmu-ilmu biomedis (biomedicines).       Menurut studi tersebut memang UGM Yogyakarta tidak masuk dalam daftar 200 perguruan tinggi terbaik untuk keseluruhan bidang studi yang ada; namun untuk bidang ilmu-ilmu sosial berada pada peringkat ke-47, bidang ilmu-ilmu budaya dan humaniora pada peringkat ke-70, dan bidang ilmu-ilmu biomedis pada peringkat ke-73 perguruan tinggi terbaik dunia.       Yang membanggakan, kompetitor UGM Yogyakarta dalam tiga bidang ilmu tersebut adalah berbagai perguruan tinggi yang sudah sangat dikenal masyarakat dunia; misalnya saja University of Oxford (UK) dan Harvard University (US) untuk bidang ilmu-ilmu sosial, University of California Berkeley (US) dan Tokyo University (Japan) untuk bidang ilmu-ilmu budaya dan humaniora, serta University of Cambridge (UK) dan Harvard University (US) untuk bidang ilmu-ilmu biomedis. Siapa tak kenal dengan nama-nama perguruan tinggi berkelas dunia tersebut?
PENDIDIKAN UNTUK KESADARAN DIRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (115.693 KB)
      Bila kita bisa membuat kategorisasi negara-negara di dunia ini dalam dua kelompok, ialah "negara dinamis" yang dengan kekuatan teknologinya mampu mengantisipasi masa depan secara tajam dan berekspansi (techno-expanse) secara terprogram, serta "negara statis" dengan berbagai lilitan aspek tradisional bagi langkah-langkah antisipatif masyarakatnya; maka hampir seluruh negara di Benua Afrika akan masuk dalam kelompok negara yang terakhir.      Tentunya tidak ada maksud mendiskreditkan Afrika meski harus memasukkan negara-negara pada benua tersebut dalam kelompok "negara statis".      Di tengah negara-negara lain yang sedang gencar bereksperimentasi terhadap berbagai penemuan teknologi (komputer, senjata modern, pesawat ruang angkasa, dsb) maka masih banyak masyarakat Afrika yang mengasah tombak dan pedang untuk berebut "kapling" secara fisik. Hal ini merupakan potret kelesuan masyarakat Afrika pada umumnya di tengah-tengah munculnya masyarakat informasi yang ki-an nyata.      Bervareasinya karakteristik penduduk Afrika, baik dari dimensu adat, budaya, lambang status, kepercayaan, agama, dsb adalah merupakan salah satu faktor dominan yang menghambat kemajuan negara-negara di Afrika pada umumnya.
MEMBERDAYAKAN PERAN PENDIDIKAN KAUM IBU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (122.773 KB)
Seorang negarawan dan juga religis dari India, Mahatma Gandhi, pernah menyatakan "woman is the mother of man". Wanita adalah ibunya kaum pria; demikian kira-kira terjemahan bebas atas kalimat tersebut. Apa yang dinyatakan oleh Gandhi ini mengandung makna yang cukup dalam; yaitu sedemikian tingginya penghargaan beliau ter-hadap kaum wanita pada umumnya dan kaum ibu pada khususnya.      Penghormatan kepada wanita, terutama sekali kaum ibu, tentunya merupakan hal yang penting mengingat sampai kini masih ada saja sekelompok masyarakat yang kurang dapat menghargai eksistensi dan peran kaum ibu. Bahkan, akhir-akhir ini muncul fenomena pelecehan wanita yang nota bene termasuk kaum ibu di dalamnya.       Apabila kita sempat menelusuri perjalanan sejarah manusia dari masa ke masa memang sejak semula terdapat kelompok manusia yang sedemikian mengagungkan wanita; di samping ada pula sekelompok lainnya yang tidak menghargai kaum "lemah" ini. Munculnya mitos di Yunani tentang dewa-dewa wanita yang sangat dihormati (misalnya Dewi Fortuna, Dewi Minerva, Dewi Venus, dsb) menandakan sedemikian diagungkannya kaum wanita. Dalam kebudayaan Mesir kuno terdapat Tuhan-Tuhan wanita; di negara lain kita mengenal Dewi Kuan Him; bahkan di Indonesia, khususnya di Jawa, kita mengenal Dewi Sri serta Nyai Roro Kidul. Secara langsung maupun tak langsung hal itu menyiratkan adanya penghormatan terhadap wanita.      Bagaimana dengan kelompok yang tidak menghargai ibu? Tentu ada pula; dalam sejarah kuno bangsa Nomad di Arab, yang dikenal dengan Zaman Jahiliyah, maka eksistensi wanita sangat dilecehkan. Anak wanita dibunuh, gadis-gadis diperkosa, dan ibu-ibu dijadikan pe- muas duniawi saja. Itulah sejarah buram kaum ibu.
SELAMAT DATANG MENDIKNAS BARU
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (101.642 KB)
Sampai seminggu sebelum dilantiknya Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) sebagai presiden RI dan Boediono sebagai wakil presiden RI tidak banyak orang tahu dan menduga bahwa menteri pendidikan nasional akan dipercayakan kepada Muhammad Nuh. Akan tetapi sekarang semua orang mengerti bahwa Pak Nuh-lah yang menjadi orang nomor satu di departemen pendidikan. Â Â Â Â Â Â Â Kalau kita lihat rekam jejaknya; sebenarnya Pak Nuh bukanlah orang baru di dunia pendidikan. Sebelum menjadi menteri pendidikan, ia adalah menteri komunikasi dan informatika. Sebelum menjadi menteri komunikasi dan informatika, ia adalah rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya; dan sebelum menjadi rektor ITS Surabaya, ia pernah men-jadi direktur Politeknik Elektronika Negeri (PEN) Surabaya. Â Â Â Â Â Â Â Melihat track record-nya tersebut, pantaslah kalau Pak Nuh dipercaya memegang kendali pendidikan nasional. Kiranya benar apa yang disampai-kan Presiden SBY bahwa orang yang dipanggil di Cikeas, termasuk Pak Nuh, adalah memenuhi standar untuk menjadi pembantu presiden.
PENDIDIKAN DI DUA ERA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (410.943 KB)
      Sekitar 500-an orang yang terdiri dari para tokoh serta praktisi pendidikan Tamansiswa baru saja berkumpul di Yogyakarta dalam acara konferensi nasional.Acara yang dilaksanakan dari tanggal 24 s/d 27 Juli 1994 ini sempat dihadiri beberapa petinggi negeri; termasuk di antaranya Menko Polkam, Susilo Sudarman, yang di samping merupakan salah satu alumni Tamansiswa kebetulan kini beliau juga menjadi Ketua Badan Pembina Tamansiswa.        Salah satu materi menarik yang dibahas pada acara tersebut menyangkut fungsi pendidikan dalam hubungannya dengan datangnya era industrialisasi dan era globalisasi sebagaimana yang pernah "diramal" oleh Bapak Pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara.        Seperti kita ketahui sebelum bersama dengan rekan dan sahabatnya mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa    tahun 1922, Ki Hadjar Dewantara pernah menunjukkan kewas kitaannya dengan membuat "ramalan" (anticipation) bahwa kita bangsa Indonesia pada suatu ketika akan mengalami dahsyatnya perkembangan alam dan jaman.Begitu dahsyatnya perkembangan yang terjadi sehingga timbullah kebingungan; orang-orang sering tertipu oleh keadaan dan sulit menen-tukan mana hal-hal yang laras dan mana hal-hal yang ti-dak laras untuk dirinya.Â
KONTRIBUSI PROFESI PGRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1993: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (409.399 KB)
      Ketidak-hadiran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro dalam peringatan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang ke-48 tgl 25 November 1993 yang lalu di Jakarta merupakan cerminan sikap pemerintah yang kurang memperhatikan nasib guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Demikianlah kira-kira yang dinyatakan oleh Wakil Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Sukowaluyo.        Lebih lanjut Pak Sukowaluyo menyatakan bahwasanya guru hanya diperlukan jika ada kepentingan tertentu saja sesudah itu sering dilupakan; padahal perjuangan mereka ini merupakan kata kunci pendidikan dasar.        Apa yang dinyatakan oleh Pak Sukowaluyo tersebut bernada "keras",seperti mengandung prasangka yang kurang baik (suudzaan) atau lebih cenderung berprasangka buruk (prejudice), meskipun mungkin maksud hatinya cukup baik untuk "menyentil" pemerintah agar supaya lebih memperha-tikan nasib guru, khususnya yang tergabung dalam PGRI.
PROFIL PENDUDUK LANJUT USIA DI INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (130.254 KB)
      Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat seiring meningkatnya kondisi kesejah-teraan masyarakat. Jumlah lansia di Indonesia meningkat dua kali lipat dibanding dengan kenaikan seluruh penduduk. Pernyataan ini dikemu-kakan oleh Kepala Kanwil Departemen Sosial Provinsi Jawa Barat, Djaemi Sulaeman, dalam seminar "Peningkatan Peran Keluarga Lansia" di Bandung baru-baru ini (Pikiran Rakyat, 5/2/1996).     Sesuai dengan proyeksi PBB/ESCAP, maka jumlah penduduk lan-sia yang berusia 60 tahun ke atas diperkirakan naik dari 9,4 juta jiwa menjadi 16,2 juta jiwa (72 persen) untuk periode tahun 1985 s/d 2000. Dalam periode yang sama jumlah penduduk Indonesia hanya mening-kat dari 164,6 juta jiwa menjadi 216 juta jiwa (32 persen). Dari data eksakt ini terlukiskan bahwa peningkatan jumlah lansia memang lebih tajam dibanding dengan peningkatan jumlah penduduk; bahkan angka peningkatannya ternyata lebih dari dua kali lipat.      Lebih lanjut dikemukakan oleh Pak Djaemi bahwa dalam rangka menjamin kesejahteraan lansia lahir dan batin maka mereka itu perlu ditangani faktor ketenagakerjaan formal dan informalnya sedini mung-kin, khususnya bagi lansia potensial. Seperti halnya dengan penduduk usia muda dan dewasa para lansia pun membutuhkan pekerjaan dan penghasilan yang layak tanpa menghambat upaya perluasan kesempat-an kerja bagi kelompok usia yang lebih muda.      Pernyataan tersebut kiranya memang banyak benarnya. Bahwa para lansia kita perlu pekerjaan dan penghasilan yang layak, utamanya lansia yang potensial, kiranya memang benar juga. Hanya saja, salah satu problematika yang dihadapi pemerintah dalam usaha menangani para lansia ini ialah terdapatnya hambatan data; sampai saat ini masih sulit mendata berapa besar lansia potensial dan lansia nonpotensial.
MENGGAGAS "AKSI KOLEKTIF" MASYARAKAT
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (95.281 KB)
     Ekspose yang baru saja dilakukan Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan di Jakarta, tepatnya pada 15 November 2001 baru-baru ini, menyajikan sejumlah rekomendasi yang ditujukan kepada para pengambil keputusan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat luas. Salah satu rekomendasi yang cukup mena-rik adalah perlu dilakukannya aksi kolektif (collective action) dari masyarakat untuk peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.        Di dalam rekomendasinya mengenai desentralisasi pendidikan, Komnas Pendidikan menyatakan perlu dilakukan aksi kolektif untuk meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan sekaligus untuk merealisasi prinsip-prinsip demokrasi pendidikan. Aksi kolektif ini dapat diwujudkan antara lain dalam pembentukan dewan pendidikan pada tingkat daerah, komite di tingkat sekolah, permintaan pertanggungjawaban kepada para pengelola pendidikan serta kegiatan-kegiatan lain yang secara konkrit berorientasi pada peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.        Rekomendasi tersebut di atas didasarkan kepada kesimpulan Komnas Pendidikan yang menyatakan bahwa peran dan kepedulian masyarakat di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional umumnya masih rendah dan belum terkoordinasi.        Dari hasil pengamatan Komnas Pendidikan dapat dinyatakan bahwa hampir di seluruh daerah ternyata peran dan kepedulian ma-syarakat dalam penyelenggaraan pendidikan umumnya rendah, pada hal masyarakat merupakan potensi tersendiri apabila bisa dimotivasi dan dikoordinasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Motivasi dan koordinasi inilah yang belum dapat direalisasi secara maksimal.