Claim Missing Document
Check
Articles

MASA DEPAN UNIVERSITAS TERBUKA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.085 KB)

Abstract

       Baru-baru ini pucuk pimpinan Universitas Terbuka (UT), Setijadi, memberi presentasi pada "Seminar Prospek Universitas Terbuka di Masa Depan" di Yogyakarta. Seminar ini diselenggarakan oleh Fakultas Pasca Sarjana IKIP Yogyakarta; adapun tujuannya di samping memberi wawasan kepada masyarakat mengenai pelaksanaan sistem pendidikan tinggi nonkonvensional di negara kita,  juga sekaligus menggali masukan guna meningkatkan mutu dan kredibilitas UT itu sendiri.          Kalau kita mengingat peristiwa penting di sekitar tujuh tahun yang lalu, tepatnya 4 September 1984, ketika UT dinyatakan eksistensinya; maka berbagai harapan masyarakat menumpuk padanya, khususnya harapan tentang adanya sistem pelayanan pendidikan tinggi yang nonkonvensional, untuk meratakan pendidikan bagi masyarakat.          Barangkali kita masih ingat apa yang dikemukakan Presiden Soeharto ketika itu;  didirikannya UT merupakan jawaban tepat untuk meratakan kesempatan memperoleh pe-layanan pendidikan tinggi dalam kondisi dan situasi peri kehidupan masyarakat dewasa ini, terutama dikarenakan wilayah kepulauan negeri ini yang sangat luas.
BADAN AKREDITASI NASIONAL BUKAN LEMBAGA INDEPENDEN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.157 KB)

Abstract

       Akhirnya terbentuklah Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang kehadirannya sudah lama ditunggu-tunggu oleh masyarakat pendidik-an, utamanya masyarakat pendidikan tinggi. Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro menandatangani pembentukan BAN dan sekaligus melantik para anggotanya. Sebanyak 17 anggota dari berbagai kalangan, utamanya kalangan pendidikan tinggi, telah dilantik menjadi anggota BAN; meskipun keanggotaannya itu didasarkan pada aspek individual, bukan aspek institusional.          Terbentuknya BAN tersebut mengingatkan saya pada suatu dis-kusi akademik lebih dari lima tahun lalu pada sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta;  waktu itu topik pembicaraannya berkisar pada badan atau lembaga mana yang layak mengakreditasi perguruan tinggi di negara kita. Adapun konotasi layak dalam konteks akreditasi adalah badan atau lembaga yang bisa mengakreditasi perguruan tinggi secara objektif, jujur, dan jauh dari keberpihakan.          Istilah layak dengan tiga indikator tersebut waktu itu benar-benar mendapat "tekanan" pada diskusi; pasalnya kiprah tim akreditasi yang bekerja selama ini (saat itu) dianggap belum memenuhi kriteria layak. Banyak pengelola perguruan tinggi (baca: PTS) yang kurang puas ter-hadap metode kerja tim akreditasi.
MEWASPADAI INEFISIENSI SEKOLAH DASAR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.717 KB)

Abstract

       Kesibukan Sekolah Dasar (SD) seperti tidak pernah habis-habisnya; setelah pelaksanaan Ebtanas berakhir maka saat ini teman-teman pengelola SD dihadapkan pada kesibukan baru, yaitu penerimaan siswa baru. Dua peristiwa tahunan ini sama-sama "memusingkan" para guru dan kepala sekolah; apabila pada Ebtanas mereka "pusing" memikirkan agar anak didiknya dapat lulus dengan nilai yang "benar" (bukan katrolan), sedangkan pada penerimaan siswa baru sekarang ini mereka "pusing" karena khawatir sekolahnya tidak laku di pasaran sehingga tidak mendapat siswa baru dalam jumlah yang memadai.          Kekhawatiran  teman-teman guru dan kepala sekolah tersebut memang cukup beralasan; belajar dari pengalaman tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya  dalam kurun waktu tiga atau empat tahun yang terakhir ini ternyata banyak SD tidak sanggup "menggaet" siswa baru dalam jumlah yang layak dan memadai.          Tahun lalu banyak SD di  Jawa Timur, Jawa Tengah,  dan wilayah-wilayah lain yang hanya mendapatkan belasan siswa baru, bahkan ada yang tidak sanggup meraih sepuluh siswa baru, meskipun sarana gedungnya telah dipersiapkan untuk menampung 40 siswa per kelasnya.  Akibatnya banyak sekolah yang "gulung tikar";  siswanya sedikit, gurunya menganggur, gairah belajar menurun, dan sebagainya. Bebe rapa SD terpaksa mengadakan aksi tutup buku karena tidak sanggup mendayung perahu lebih jauh lagi.  Peristiwa se-perti inilah  yang sangat dikhawatirkan oleh teman-teman guru serta kepala sekolah; khususnya sekolah swasta yang hidup-matinya lebih mengandalkan jumlah siswa.
RRI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.808 KB)

Abstract

       Ketika penjajah Belanda  masih  berkuasa di negara kita  ternyata mereka sangat jeli memanfaatkan sarana yang sangat potensial untuk menyebar-luaskan informasi, yaitu siaran radio.  Tentu saja waktu itu pemanfaatan siaran radio lebih diorientasikan pada kepentingan politik kaum penjajah. Pada tahun 1925 mereka mendirikan stasiun pemancar yang disebut Bataviasche Radio Vereniging (BRV) di Jakarta, yang kemudian disusul dengan stasiun-stasiun pemancar yang lainnya. Sete-lah itu dimulailah siaran radio yang jelas-jelas lebih mereferensi pada kepentingan politik kaum penjajah.  Pada awal tahun 1930-an lagi-lagi mereka mendirikan  Nederlands Indishe Radio Omroep Maatchappij (NIROM) yang merupakan perkumpulan radio Belanda.           Tentu bisa diduga,  materi siaran radio tersebut dijadikan sebagai sarana dan media komunikasi antar orang-orang Belanda (Nederlander) yang tinggal di Indonesia.  Lebih daripada itu secara sistematis materi siarannya juga dirancang mampu memberikan pengaruh kepada bangsa kita untuk menyulut konflik ideologis di antara bangsa Indonesia itu sendiri. Tidak bisa diragukan, sarana yang potensial dan efektif ini dapat memberikan keuntungan politik yang sangat besar bagi pihak pemerintah penjajah waktu itu.          Untunglah hal yang demikian itu telah membangkitkan kesadaran bagi putra-putra bangsa waktu itu tentang tersimpannya potensi siaran radio sebagai media komunikasi dan sarana politik.  Maka dimulailah perintisan berdirinya stasiun siaran (broadcasting) oleh putra-putra bangsa dan untuk kepentingan bangsa sendiri.
KESIAPAN DIY MELAKSANAKAN UAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.252 KB)

Abstract

Setelah sempat mendapatkan reaksi yang agak “bersemangat” baik dari publik, dalam hal ini berbagai kelompok masyarakat yang peduli terhadap pendidikan, maupun dari legislatif akhirnya Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun 2004 dilaksanakan juga. Mulai hari Senin tanggal 10 Mei 2004 UAN dilaksanakan serentak di Indonesia pada satuan SMA dan SMK.          Dalam beberapa hari terakhir ini kita sempat disuguhi banyak berita tentang penolakan UAN tahun 2004 dari berbagai kelompok masyarakat. Dengan berbagai argumentasi yang dikemukakan, dari yang sangat masuk akal sampai yang terkesan mengada-ada, mereka menyatakan keberatan akan dilaksanakannya UAN di sekolah-sekolah. Bila kita cermati keberatan tersebut sebenarnya lebih bersumber kepada penentuan angka 4,01 sebagai kriteria kelulusan siswa. Banyak guru dan siswa yang merasa “ketakutan” dengan angka tersebut.          Reaksi penolakan ternyata tidak hanya dilakukan oleh berbagai kelom-pok masyarakat, tetapi juga oleh wakil rakyat; dalam hal ini Komisi VII DPR RI yang memang membidangi pendidikan. Komisi ini bahkan sempat “mengancam” akan mengusulkan penghapusan dana sebesar 260 miliar rupiah apabila Depdiknas tetap “ngotot” untuk menyelenggarakan UAN pada tahun 2005 nanti.
MEMASYARAKATKAN INFORMASI KE-PTS-AN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.274 KB)

Abstract

       Hati-hati jangan sampai keliru dalam memilih PTS, perguruan tinggi swasta. Demikian sari bunyi petuah klasik yang sangat sering kita dengar setiap tahunnya pada saat-saat menjelang datangnya tahun akademik baru perguruan tinggi.       Sudah menjadi semacam tradisi akademik bahwa pada saat-saat seperti sekarang ini Depdikbud, baik melalui aparatnya di Departemen, di KOPERTIS, atau yang terjun langsung secara operasional di lembaga pendidikan tinggi senantiasa menghimbau sekaligus memberikan saran kepada masyarakat luas agar bersikap cermat dan hati-hati dalam memilih PTS.       Bagi calon mahasiswa baru maka memilih perguruan tinggi, terutama PTS, hampir sama artinya dengan memilih masa depan bagi dirinya sendiri. Itu berarti kesalahan atau ketidaktepatan dalam memilih PTS sebagai lembaga pendidikan tinggi yang diandalkan mampu memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan tingkat profesional dapat berakibat fatal bagi masa depannya.       Himbauan Depdikbud tersebut diatas diangkat dari adanya realitas tentang banyaknya mahasiswa PTS yang menyatakan salah pilih setelah disyahkan secara resmi menjadi warga baru sebuah lembaga pendidikan tinggi swasta.
PROFESI, PROFESIONAL, PROFESIONALISME, DAN PROFESIONALITAS GURU DALAM UNDANG-UNDANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MAJALAH FASILITATOR
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.442 KB)

Abstract

Semenjak dahulu masalah profesi, profesional, profesionalisme, dan profesionalistas guru menjadi topik pembicaraan yang tidak terselesaikan, bahkan pernah menjadi perdebatan berkepanjangan yang tak kunjung selesai. Masalahnya sederhana, sampai saat ini tidak pernah ada definisi tentang profesi, profesional, profesionalisme, dan profesionalitas yang disepakati oleh masyarakat luas, utamanya para guru itu sendiri. Pada sisi yang lain keempat terminologi tersebut sampai sekarang juga mengandung pengertian yang berbeda di antara pihak-pihak yang berkepentingan.   Apakah guru termasuk profesi tersendiri? Apakah para penyandang predikat guru itu dapat disebut kaum profesional sebagaimana penyandang predikat dokter, bankir, kontraktor, dan sebagainya? Apakah para guru di Indonesia sudah memiliki standar profesionalisme dan profesionalitas yang memadai sebagaimana tuntutan pendidikan itu sendiri? Pertanyaan-perta-nyaan seperti ini sudah terlalu lama menggelayut di pundak insan-insan pendidikan; dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini seringkali tidak dapat memuaskan para guru; bahkan tidak jarang menimbulkan pertanyaan baru yang ujung pangkalnya di sekitar pertanyaan dasar itu sendiri.
KOMERSIALISASI TUTORIAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.497 KB)

Abstract

Tahun demi tahun problematika pendidikan di negara kita tidak semakin berkurang, tapi sebaliknya justru semakin membengkak dan kompleks, baik yang berupa problematika warisan maupun problematika baru yang senantiasa muncul dan tidak kalah menggigit.       Depdikbud, khususnya para pengelola Universitas Terbuka (UT) akan mendapat giliran lagi. Pada saat sibuk-sibuknya mereka mengadakan penataan struktur organisasi, pemilihan alternatif dan model penyajian program yang paling effektiv sampai pada persiapan penyelenggaraan evaluasi semesteran,  yang mana kini mereka disodori problematika baru, tutorial swasta.       Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 4 Januari 1985 koran ibu kota terbesar dinegeri ini memuat berita bahwa salah satu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Yogyakarta akan mengadakan program tutorial bagi mahasiswa UT untuk membantu mereka yang menemui kesulitan dalam memahami teks dan soal-soal.       Selanjutnya berita itu juga menyebutkan bahwa para mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini akan ditarik bayaran, bila lebih banyak pesertanya akan lebih murah.  Disediakan sekian orang pengajar (tutor) yang semuanya merupakan staf pengajar UGM dan sejak dibuka pendaftaran setiap pagi ratusan mahasiswa UT mendatangi tempat pendaftaran. (Ini berita apa publikasi terselubung koq datanya komplit sekali,  sedangkan koran lokal malah tidak mempublikasikannya.  Ah, kita singkirkan saja dulu kecurigaan dan praduga tidak baik tersebut).
PRESTASI INDIVIDUAL VERSUS KOLEKTIF Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.282 KB)

Abstract

       Apakah Anda kenal dengan Peter Pan, Raja, Sheila On 7, Slank, dan Dewa 19? Kalau pertanyaan ini saya tujukan kepada para remaja barangkali semuanya akan menyatakan kenal, bahkan kenal banget! Peter Pan, dll, adalah kelompok musik populer yang sekarang banyak “digandrungi” oleh para remaja kita. Remaja kita tidak saja kenal lagu-lagunya tetapi ternyata kenal juga sampai kesukaannya, susunan keluarganya, sampai kebiasaan di atas dan di luar panggungnya.          Sekarang kalau pertanyaannya sedikit “dibelokkan”, Apakah Anda kenal Pangus Ho, Irwan Ade Putra, Yonathan Pradana Mailoa, Andi Octa-vian Latief, Firmansyah Kasim, dan Rudy Handoko? Kalau pertanyaan ini saya tujukan kepada remaja barangkali tidak genap lima dari setiap seratus remaja yang mengenalnya; atau bahkan semua akan mengatakan tidak kenal sama sekali.          Sungguh-sungguh terjadi; Peter Pan, Raja, dll. yang “hanya” (maaf) memiliki prestasi di tingkat nasional saja sangat dikenal di kalangan remaja, sedangkan Pangus Ho, Irwan Ade Putra, dll. yang memiliki prestasi di ting-kat internasional malah tidak dikenal.
UJIAN CICILAN : KEPUTUSAN SIMPATIK MENDIKBUD Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.003 KB)

Abstract

       Dewasa ini di negara kita terdapat sekitar 550 perguruan tinggi swasta (PTS) yang terdistribusi di seluruh tanah air; suatu jumlah yang relatif besar bila dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri yang banyaknya "hanya" 44 lembaga, termasuk di dalamnya Universitas Terbuka (UT).       Daya tampung PTS pun dapat dikatakan sebagai cukup tinggi. Dari sekitar 1,1 juta mahasiswa di negeri ini maka sekitar 650 ribu diantaranya adalah merupakan mahasiswa PTS;  sedangkan sisanya yang 300 ribu adalah mahasiswa PTN reguler, serta yang sekitar 150 ribu adalah tercatat sebagai mahasiswa UT.       Salah satu problema utama yang dihadapi oleh para mahasiswa PTS dalam menyelesaikan studinya adalah masalah ujian negara; sebuah mekanisme akademik yang harus ditempuh untuk meraih ijazah negara.       Bagi civitas akademika PTS pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya masalah ujian negara ini tidak saja merupakan "trouble" klasik yang harus dilewati, tetapi lebih dari itu ujian negara ini sering dipandang sebagai "momok" yang sangat menakutkan.