Claim Missing Document
Check
Articles

MENCERMATI KETERBUKAAN SEKSUAL REMAJA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.697 KB)

Abstract

       Kiranya benar  bahwasanya hubungan seksual  yang menyimpang merupakan penyebab potensial penyebaran AIDS serta tempat-tempat prostitusi merupakan tempat-tempat strategis untuk "berpangkalnya" penyakit tersebut.  Permasalahannya sekarang adalah kenapa muncul kekhawatiran terhadap remaja sekolah kita terhadap berjangkitnya pe-nyakit tersebut;  apakah remaja sekolah kita banyak yang melakukan hubungan seksual menyimpang atau sering berkunjung ke tempat-tem-pat prostitusi sehingga menjadi berpotensi terjangkiti AIDS.       Kalau kita cermati akhir-akhir ini  memang sering muncul kekha-watiran anggota masyarakat mengenai kekhawatirannya atas remaja sekolah kita.  Mereka mengharapkan agar supaya pemerintah dan para peduli AIDS untuk mencegah berjangkitnya penyakit yang mengerikan tersebut pada remaja sekolah kita.        Lebih daripada itu konon  bahkan ada yang mengusulkan  kepada Menteri Pendidikan agar AIDS dapat dimasukkan di dalam formulasi kurikulum sekolah.  Adapun maksudnya supaya anak-anak dan remaja sekolah mengerti semenjak dini mengenai seluk beluk AIDS; dengan demikian atas kesadarannya sendiri mereka akan menghindari berjangkitnya AIDS, setidak-tidaknya pada diri sendiri.      Meskipun usulan tersebut belum dapat dipenuhi akan tetapi cukup simpatik dan bermanfaat sebagai bahan renungan.  Usulan tersebut di atas juga mencerminkan kekhawatiran yang mendalam mengenai ke-mungkinan berjangkitnya AIDS pada remaja sekolah kita.  Kalau kita mau jujur, banyak diantara kita yang juga memiliki kekhawatiran yang sama. Bagaimana pun remaja sekolah merupakan pemimpin bangsa di masa depan.  Sangat sulit dibayangkan bangsa ini kelak akan dipimpin oleh mereka yang menderita AIDS; cacat medis dan cacat sosial.
SHARING PRODUKTIF DENGAN G-20 SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN JAWA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.193 KB)

Abstract

Ketika artikel ini ditulis, Presiden Susilo Bambang Yoedhoyono (SBY) dari Indonesia sudah berada di London, Inggris. Bahkan beliau baru saja mengadakan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. Keberadaan Presiden SBY di Inggris ini dalam rangka menghadiri Pertemuan G-20 yang dijadwalkan berlangsung tanggal 1 dan 2 April.  Pertemuan G-20 yang beranggotakan 20 negara oleh para pemimpin dunia memang dianggap penting dan strategis untuk memecahkan kompleksitas ekonomi dunia; apalagi ditengah-tengah krisis ekonomi yang dialami oleh banyak negara seperti sekarang ini. Demikian penting dan strategisnya pertemuan tersebut maka wajar saja kalau banyak pemimpin dan kepala negara termasuk Perdana Menteri Jepang Taro Aso dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama dijadwalkan menghadirinya.  Sebagai catatan, anggota Kelompok Ekonomi G-20 atau The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors tersebut masing-masing Afrika Selatan, Argentina, AS, Australia, Brazilia, Britania Raya, Canada, Cina, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Rusia, Saudi Arabia, Turki dan Uni Eopa. Tujuan dibentuknya Kelompok Ekonomi G-20 ialah memecahkan kompleksitas ekonomi dunia serta memperkecil kesenjangan ekonomi antara negara maju dengan negara berkembang dan negara terbelakang.
BAHASA BERSIFAT LOKAL, ILMU ITU UNIVERSAL Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.78 KB)

Abstract

Manusia dapat berfikir dengan baik bahkan secara abstrak karena kemampuannya berbahasa. Berkat bahasa manusia dapat berfikir secara berlanjut, teratur dan sistematis ---------- (Filsafat Ilmu-Akta V)Saya pernah mengikuti suatu seminar disalah satu Universitas yang cukup terkenal di Surakarta. Yang membuat terkesan adalah salah satu peserta seminar tersebut dengan gencarnya menghimbau kepada seluruh peserta untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik; "Berbahasa Indonesia yang benar" katanya.Tetapi akhirnya saya cukup dibuat heran karena di akhir kalimatnya beliau berkata: "Untuk dapat mengerti kualitas suatu perguruan tinggi, maka ada baiknya kita membandingkan input serta output dari perguruan tinggi yang bersangkutan ...dst".Bukankah input dan out-put dapat diterjemahkan menjadi masukan dan keluaran? atau juga kualitas (dari bahasanya Lady Di, quality) kalau perlu dapat disederhanakan menjadi mutu, (minimal dalam konteks tsb), tetapi tooh beliau tetap menggunakan beberapa istilah asing.
TIGA MAKNA KEBANGKITAN NASIONAL KEDUA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.858 KB)

Abstract

       Perjalanan bangsa Indonesia sekarang ini  sudah sampai pada era kebangkitan nasional kedua;  suatu era yang penuh dengan tantangan dan dinamika,  persaingan dan romantika,  serta perubahan dan sinergika. Tentunya bukan berarti bahwa era kebangkitan nasional pertama tanpa terwarnai dengan tantangan, persaingan, dan perubahan; tetapi tantangan, persaingan, dan perubahan yang terjadi di era kebangkitan nasional kedua ini terasa lebih dinamis, romantis dan sinergis.       Kalau kita cermati dengan teliti sesungguhnya GBHN 1993  telah  membuat pencandraan terhadap era kebangkitan nasional kedua tersebut secara rinci sbb:  "Pembangunan Jangka Panjang 25 Tahun Kedua merupakan masa kebangkitan nasional kedua bagi bangsa Indonesia yang tumbuh dan berkembang dengan makin mengandalkan pada ke-mampuan dan kekuatan sendiri serta makin menggeloranya semangat kebangsaan untuk membangun bangsa Indonesia dalam upaya mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju".       Dari  formulasi politis tersebut  ada tiga makna (trimakna)  yang terkandung di dalamnya;  masing-masing adalah sbb:  (1) bangsa kita senantiasa tumbuh dan berkembang secara mandiri dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, (2) semangat kebangsaan makin digelorakan untuk menyongsong kemajuan, dan (3) upaya terus menerus untuk mensejajarkan kehidupan dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu maju.       Kemandirian, kebangsaan dan kesejajaran itulah yang merupakan inti sari dari makna kebangkitan nasional kedua;  hal itu berarti bahwa dalam mengarungi era kebangkitan kedua saat ini maka bangsa Indonesia harus lebih memantapkan kemandirian yang dilandasi semangat kebangsaan untuk meraih kemajuan agar supaya dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dulu maju.
MENGGUGAT IKIP MENGGUGAT KARYA ILMIAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.667 KB)

Abstract

       Apabila perjalanan pendidikan pada tahun 1991 ini telah dibuka secara mantap dengan diresmikannya "lembaga pendidikan" yang baru, yaitu Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) ternyata dalam perkembangan selanjutnya justru terjadi fenomena penggugatan terhadap eksistensi lembaga pendidikan yang sudah ada. Pada tahun 1991 ini IKIP lah yang terkena sasaran penggugatan tersebut.          Berbagai media massa di negara kita sempat memberitakan perihal akan diakhirinya masa hidup IKIP; konon sebanyak 10 IKIP Negeri akan segera "dibubarkan" dengan cara diubah statusnya menjadi universitas. Meski sempat dibantah oleh yang bersangkutan konon berita klasik yang diaktualisasi ini justru bersumber dari Direktur Jendral Dikti Depdikbud, Soekadji Ranoewihardjo. Sebenarnya berita mengenai gugatan terhadap eksistensi IKIP itu sen-diri bukanlah merupakan berita yang baru;  tetapi berita tersebut menjadi sangat menarik perhatian dikarenakan (konon) sumbernya adalah orang nomer satu dalam urusan pendidikan tinggi di negeri ini.          Lepas dari mana sumber berita tersebut maka sebe-lum terekspose secara massa sesungguhnya gosip mengenai akan segera di-"KO"-nya IKIP memang sudah beredar secara terbatas di kalangan kampus, terutama di kalangan penge-lola IKIP; ada yang menyebutkan bahwa IKIP akan digabung ke  universitas sebagai FKIP,  ada yang menyebutkan IKIP akan dikurangi populasinya,  bahkan ada yang menyebutkan IKIP akan ditutup sama sekali. 
PERAN DAN WEWENANG BP3 DI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.848 KB)

Abstract

       Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3)  jangan  hanya bersikap "yes man" kepada kepala sekolah;  akan tetapi sebagai wakil dari orang tua siswa harus berani mengoreksi kebijakan pemanfaatan dana sekolahnya. Pernyataan yang kiranya cukup menggelitik ini baru saja disampaikan oleh Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta yang kebe-tulan juga seorang mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta, H. Soeparno (Suara Karya, 16/8/97).       Lebih lanjut dikatakan oleh Soeparno bahwa pengurus BP3 harus mengerti situasi keuangan sekolah, baik yang bersumber dari pemerintah kita maupun sumbangan orang tua siswa.  Tidak sekedar mengerti akan tetapi juga berani mengoreksi pemanfaatan dana tersebut apabila dipandang tidak sesuai dengan keperluan dan ketersediaannya.  Di sisi yang lain dinyatakan pula bahwa seluruh pendapatan dan pengeluaran sekolah harus dituangkan secara jelas dan transparan dalam RAPB Sekolah (RAPBS),  termasuk uang gedung.  Penggunaan dana sekolah juga harus melalui rapat pleno orang tua siswa.  Jika dipandang perlu BP3 bisa menyewa akuntan untuk memeriksa pembukuan sekolah.       Pernyataan tersebut  kiranya sangat menarik dicermati;  masalah-nya selama ini orang tua siswa di banyak sekolah memang tidak tahu, tidak paham,  dan apalagi pernah mengoreksi kebijakan pemanfaatan dana sekolah. Namun demikian di sisi yang lain banyak pula orang tua siswa yang memang sengaja tak mau tahu bagaimana pimpinan seko-lah memanfaatkan dana sekolahnya.  Pada sisi yang lain lagi pengurus BP3 pun terkadang ada yang kurang kontrol terhadap pengeluaran se-kolah, bahkan juga terhadap pengeluaran badan yang diurusinya.       Sistem monitoring, kontrol dan juga koreksi terhadap pemanfaat-an dana sekolah pada dasarnya memang sangat bagus; meski demikian apakah sudah tepat pengurus BP3 ikut mengoreksi pemanfaatan dana sekolah. Disinilah persoalan yang perlu diklarifikasi.
PENDIDIKAN GURU TANPA KONSEP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.983 KB)

Abstract

       Perubahan status IKIP menjadi universitas yang belum genap lima tahun dalam merealisasikannya kini menghadapi tantangan, bila tidak dapat dinyatakan sebagai masalah.  Tantangan tersebut tidak berasal dari "luar" tetapi justru dari "dalam",  dalam hal ini adalah dari pimpinan departemen pendidikan sendiri sebagai pengambil dan pembuat keputusan.          Baru-baru ini menteri pendidikan,  Dr. Yahya A. Muhaimin, menyatakan bahwa departemen pendidikan akan mengkaji ulang per-ubahan status IKIP menjadi universitas.  Hal itu didasarkan kepada adanya sejumlah universitas eks-IKIP yang hanya mengutamakan hal-hal substantif dengan menelantarkan ilmu pedagogi. Dikhawatir-kan ekses perubahan itu dalam jangka panjang dapat mempengaruhi ketersediaan tenaga pendidikan di Indonesia.  Padahal bangsa kita ini membutuhkan tenaga guru  yang tidak hanya cakap dalam ilmu-nya tetapi juga memahami ilmu pedagogi.          Pak Yahya  selaku menteri pendidikan sempat menyayangkan perubahan status IKIP menjadi universitas yang salah satu pertim-bangannya dilatarbelakangi adanya anggapan bahwa IKIP merupakan  second class education. Padahal di negara maju seperti Amerika Se-rikat (AS)  mereka mempunyai institusi pendidikan yang dinamakan dengan Teacher College.          Lebih lanjut ketika pada Pak Yahya ditanyakan kemungkinan universitas eks-IKIP tersebut  berubah lagi statusnya menjadi IKIP seperti awalnya ternyata beliau menyatakan bahwa kemungkinan itu tidak tertutup. Artinya, bukan tidak mungkin nantinya universitas eks-IKIP akan kembali kepada status semula sebagai IKIP.  
MENGAPA HASIL EBTANAS MENURUN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.402 KB)

Abstract

       Sudah sekitar tiga empat minggu yang lalu hasil Ebtanas SMTP diumumkan;  bahkan hasil penerimaan siswa baru di SMTA yang nota bene menggunakan NEM SMTP pun telah diumumkan pula;  tetapi sampai kini masih ada pertanyaan  yang belum terjawab secara tuntas,  yaitu mengapa hasil Ebtanas siswa SMTP berkecenderungan menurun.       Sebagai ilustrasi NEM yang tertinggi  pada siswa SMTP se-kodya Semarang tahun yang lalu mencapai angka di atas 54,00; sementara untuk tahun ini NEM yang tertinggi hanya menunjuk pada angka 52,92.  NEM rata-rata sekolah  yang tertinggi pun ternyata juga mengalami penurunan.  Tahun ini NEM rata-rata sekolah yang tertinggi hanya men capai 42,85; pada hal setahun yang lalu angkanya di atas 43,50.        Sebagai informasi yang lebih lengkap untuk tahun ini ada siswa yang NEM-nya hanya bersikutat di sekitar angka 22,00;  sedangkan pada sisi yang lain ada sekolah yang  NEM rata-rata siswanya hanya mencapai angka 22,77. Nah ...., dapat kita hitung bersama betapa rendahnya NEM rata-rata untuk setiap mata pelajaran yang diEbtanaskan.       Keadaan seperti tersebut, yang menunjukkan adanya penu-runan pencapaian hasil Ebtanas oleh siswa, ternyata dialami pula oleh banyak daerah lain di wilayah Propinsi Jawa Tengah pada khususnya dan di negara kita pada umumnya. Akhirnya muncullah sebuah pertanyaan yang bernada "evaluatif",  mengapa hasil Ebtanas SMTP untuk tahun ini mengalami penurunan?
PARADIGMA BARU PENDIDIKAN TINGGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.678 KB)

Abstract

       Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia ke depan hendaknya dikembangkan menjadi  lembaga yang memiliki otonomi secara memadai serta mempunyai kredibilitas institusional yang mantab sehingga dapat berperan sebagai kekuatan moral.  Demikianlah salah satu ide atau pemikiran  yang sempat berkembang dalam Konferensi Nasional Pendidikan Indonesia yang diselenggarakan  secara koordinatif oleh Depdiknas, Bappenas dan Bank Dunia baru-baru ini.       Konferensi nasional yang telah dihadiri secara langsung oleh menteri pendidikan, Yahya Muhaimin, serta beberapa pejabat ketiga instansi tersebut juga sempat membahas  tentang bagaimana strategi untuk mengembangkan perguruan tinggi di Indonesia  yang tengah menghadapi tantangan berat.       Memang,  perguruan tinggi di Indonesia sekarang ini sedang menghadapi tantangan yang sangat berat;  baik tantangan secara internal maupun eksternal. Secara internal sangat beragamnya mutu  perguruan tinggi di Indonesia  merupakan tantangan yang menarik; sementara itu secara eksternal relatif rendahnya kualitas perguruan tinggi kita dibanding  dengan negara-negara manca merupakan tan-tangan yang menarik pula untuk dijawab.      Realitasnya memang demikian. Dari 1.500-an perguruan tinggi di Indonesia, PTN maupun PTS,  ternyata hanya sedikit yang ber-kelas dunia (world class university).  Kalau kita mengacu publikasi dari AsiaWeek edisi 2000,  dari keseluruhan PTN dan PTS kita ter-nyata hanya lima yang memenuhi standar mutu internasional dengan komparator perguruan tinggi di Asia dan Australia. Selebihnya ma-sih merupakan perguruan tinggi "kelas kampung".
ANCAMAN "INVISIBLE UNEMPLOYED" Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.128 KB)

Abstract

Pintu kesempatan bagi lulusan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), termasuk lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG), yang ingin mengabdi menjadi guru SD di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah dibuka lebar. Bagi yang berminat kesempatan mendaftarkan diri dibuka dari tanggal 26 s/d 29 Agustus 1991; dan bagi yang bernasib baik akan diangkat menjadi guru pada SD-SD Negeri yang dipandang masih perlu mendapatkan tambahan guru. Good News! Dibukanya pintu kesempatan tersebut ki ranya merupakan berita yang baik; bagi upaya peningkatan mutu maka makin banyak guru -mestinya- akan semakin baik mutu lulusan yang dihasilkan oleh lembaga SD, sementara itu bagi para lulusan LPTK yang masih menganggur belum memperoleh kesempatan mengamalkan ilmunya maka atas dibu kanya kesempatan tersebut setidak-tidaknya dapat membuka harapan baru. Meskipun demikian, di kalangan masyarakat sendiri -khususnya masyarakat SD- bersamaan dengan dibu-kanya kesempatan tersebut timbul pertanyaan besar; yaitu apakah memang DIY masih mengalami kekurangan guru SD se-hingga masih perlu menerima atau menambah guru baru. Pertanyaan tersebut tentu saja sangat wajar serta tidak berlebih-lebihan. Bukankah di berbagai media massa akhir-akhir ini gencar diberitakan mengenai relatif ba-nyaknya SD yang kekurangan siswa? Lebih dari itu bahkan beberapa SD terpaksa ditutup dikarenakan tidak mendapat siswa dalam jumlah yang layak. Dengan demikian dibukanya penerimaan guru SD memang berkesan antagonistik.