Claim Missing Document
Check
Articles

PAK KOESNADI PENDIDIK SEJATI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.69 KB)

Abstract

         Rabu tanggal 7 Maret 2007 sore saya terima SMS, “Tolong beritahu teman-teman ngepos di F-14 malam ini mulai jam 19.00, berita dari Sri Sultan, Pak Koes confirmed wafat ... Sofian”. Berdasarkan SMS yang ditulis oleh Mas Sofian Effendi, rektor UGM, tersebut saya segera menga-barkan berita duka kepada teman-teman di Jakarta. Semenjak siang saya mencoba menghubungi Pak Koes memang tidak dapat.        Banyak teman di Jakarta yang tidak percaya pada berita duka yang saya kirim. Mas Herwindo yang dulu bersama Pak Koes dan saya sama-sama menjadi anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) dan sekarang menjadi staf ahli Mendiknas bahkan membalas SMS saya yang mencerminkan ketidakpercayaan, “terima kasih Mas Pri informasinya, tetapi tadi saya telpon ke rumah beliau koq masih belum ada kepastian”; itulah potongan kalimat SMS yang dikirim jam 20:39:10 hari yang sama.        Percaya tidak percaya, Pak Koes mantan rektor yang pernah mengantar mahasiswa UGM melakukan “demo” di Gedung DPR DIY itu telah wafat. Beliau benar-benar telah meninggalkan kita di tengah-tengah kekaguman banyak orang atas kinerja profesional seorang Koesnadi Harjasoemantri.
LEMBAGA PENDIDIKAN KITA MISKIN DEPARTEMEN TEKNOLOGI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.12 KB)

Abstract

       "Kita memilih teknologi yang paling menguntungkan dalam proses nilai tambah guna kepentingan bangsa. Tidak berkiblat ke luar, tapi ke dalam, berorientasi pada kepentingan nasional. Bisa saja saya mengambil teknologi dari mana saja. Tapi saya tidak akan mengambil teknologi yang tidak sesuai dengan keadaan kita, seperti teknologi yang dimanfaatkan pada kapal pemecah lapisan es. Juga tidak akan mengambil teknologi dari sistem heating (pemanasan) di Eropa, sebab tidak sesuai dengan iklim di Indonesia. Saya cuma interest. Yang saya pikirkan; teknologi apa yang dibutuhkan bangsa ini !".       Demikian salah satu point terpenting yang dikemukakan oleh Menristek RI, Prof. Dr. B.J. Habibie ketika beliau diwawancarai oleh wartawan ibukota baru-baru ini,  kaitannya dengan kiblat teknologi kita.       Apa  yang dikemukakan oleh Pak Habibie diatas memang sangat perlu kita perhatikan untuk selanjutnya kita pegang (jawa: gondheli), mengingat sampai saat ini masih banyak yang bertanya-tanya kemana kiblat teknologi kita. Apakah berkiblat ke Amerika? Ke Jepang? Ke negara-negara sosialis? Atau ke negara-negara Barat lainnya?!       Ternyata buka itu semua, tapi kedalam.  Ke negeri kita sendiri!
UJIAN NASIONAL DIPERLUKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.027 KB)

Abstract

Sekitar tiga atau empat tahun silam saya diundang pimpinan Depdiknas untuk memberi masukan tentang sebaiknya evaluasi atau ujian nasional perlu dilanjutkan atau tidak. Di dalam pertemuan yang dihadiri pimpinan Depdiknas, serta pakar dan praktisi pendidikan dengan tegas saya katakan bahwa ujian nasional, apa pun namanya, sangat diperlukan dengan catatan pelaksanaannya harus memperhatikan asas kejujuran dan keadilan.          Mengapa ujian nasional sangat diperlukan? Anak-anak Indonesia itu hampir tidak pernah berprestasi di tingkat internasional; misalnya dalam forum International Mathematic Olympiad (IMO) banyak kalah, dalam International Physic Olympiad (IPhO) hampir tak pernah menang, dalam Third International Mathemetic and Science Study (TIMSS) juga “keok”, dalam Asia-Pacific Astronomy Olympiad (APAO) banyak “kawonipun”, dsb. Di sisi lain hasil Ebtanas (waktu itu) dari tahun ke tahun juga “jeblok”. Tanpa dilaksanakannya ujian nasional secara serius yang dapat membia-sakan mental siswa kita maka tradisi kekalahan tersebut bisa bertahan seumur hidup.          Apa yang pernah saya katakan beberapa tahun silam itu kiranya perlu ditampilkan mengingat akhir-akhir ini, sebagaimana biasanya setelah hasil ujian diumumkan, pembicaraan mengenai ujian nasional terasa hangat kembali di masyarakat.          Apabila kita perhatikan, ada sebagian anggota masyarakat yang minta ujian nasional tetap dipertahankan tetapi ada pula yang minta agar supaya ujian nasional segera dihentikan; tentu masing-masing dengan argumentasi yang pantas diperhatikan. Di sisi lain, semula pihak Depdiknas menyatakan tidak perlu dilakukan ujian nasional ulangan, bahkan Pak Jusuf Kalla selaku wakil presiden menyatakan tak perlu dilakukannya ujian nasional ulangan. Di sisi lain lagi, DPR RI meminta pemerintah segera mengadakan ujian nasional ulangan. Seolah-olah hanya karena masalah ujian nasional maka antara pemerintah dengan DPR harus saling “berhadapan”. 
PENELITIAN KITA MASIH MEMPRIHATINKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.239 KB)

Abstract

       Kiranya tak ada yang tidak sependapat bahwa salah satu komponen yang paling dominan untuk dapat mengangkat citra sebuah lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan tinggi, adalah kegiatan penelitian yang dilakukan oleh civitas akademikanya.       Pada perguruan tinggi hal ini sangat jelas adanya karena secara eksplisit telah tersebutkan dalam wilayah pengabdiannya yang tertuang pada tridharma perguruan tinggi; masing-masing adalah pelayanan pendidikan, penelitian serta pengabdian masyarakat.       Itulah sebabnya maka perguruan tinggi dapat dii-baratkan sebagai kursi yang  "berkaki tiga". Perguruan tinggi yang tidak mampu melaksanakan kegiatan penelitian secara memadai ibarat kehilangan fungsi dari salah satu "kaki"-nya. Akibatnya kursi tersebut tidak akan mampu berdiri dengan kokoh tanpa beban sekalipun, apalagi bila harus digunakan untuk menyangga beban; ....."ambruk"!
HUBUNGAN PENDIDIKAN INDONESIA-AUSTRALIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.586 KB)

Abstract

Kunjungan secara resmi Perdana Menteri Australia John Howard ke Indonesia belum lama ini sangatlah menarik dicermati baik secara politis maupun kultural. Secara politis kemenarikan itu antara lain ter-letak pada prioritas kunjungan yang dilakukan oleh seorang "vokalis" ke sebuah negara yang divokalinya. Bisalah dimengerti kalau Presiden Soeharto sempat menyatakan bahwa sebagai dua negara yang mempu-nyai latar belakang sejarah, latar belakang budaya serta sistem sosial dan politik yang berbeda maka wajar saja kalau hubungan Indonesia-Australia pernah mengalami "naik-turun".      Kunjungan John Howard ke Indonesia memang bukan untuk yang pertama kali; akan tetapi merupakan kunjungan perdana sejak yang bersangkutan dilantik menjadi perdana menteri sekitar tiga bulan yang lalu.Dengan demikian secara politis kunjungan tersebut dari kaca mata Howard termasuk penting dan masuk dalam skala prioritas.       Dari sisi kultural ternyata ada pula hal menarik yang perlu dicer-mati; yaitu telah dinyatakannya oleh kedua pemimpin negara tersebut mengenai kedekatan budaya. Kedua pemimpin nampaknya sama-sama menyadari bahwa meskipun antara Indonesia dan Australia memiliki latar belakang kultural yang berbeda akan tetapi perbedaan itu makin lama makin menipis sehingga kedekatan budaya antar dua negara ini makin lama makin terasakan.       Hal tersebut terjadi antara lain  karena banyaknya putra-putra In-donesia yang belajar di Australia, atau sebaliknya. Kedua pemimpin negara tersebut secara eksplisit memang sempat membahas banyaknya siswa dan mahasiswa Indonesia yang akhir-akhir ini gencar menuntut ilmu di Australia.  Di samping itu banyak pula mahasiswa (dan dosen) Australia yang secara serius mempelajari kebudayaan Indonesia. Kea-daan yang seperti ini hendaknya dapat memberi dampak yang positif bagi kedua negara.
PARADOKS PENDIDIKAN TEKNIK SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.788 KB)

Abstract

Baru saja saya memberikan presentasi dalam sebuah seminar nasional pendidikan bersama beberapa rektor, diantaranya Djoko Santoso (ITB), Gumilar Rosliwa Somantri (UI), Ganjar Kurnia (Unpad), dan Sunaryo Kartadinata (UPI Bandung).          Ketika sedang berbicara tentang pendidikan teknik, para peserta semi-nar pun sempat terperangah karena ternyata pembangunan di negara kita memerlukan aplikasi teknologi yang beraneka ragam namun pemanfaatan mesin, peralatan, dan temuan teknologi lain dari pendidikan teknik kita masih jauh dari maksimal; bahkan cenderung disisihkan.          Permasalahan lain muncul: penyelenggaraan pendidikan teknik (satuan pendidikan tinggi) kita masih terbatas jumlahnya, itu pun masih terkon-sentrasi di Pulau Jawa seperti di UI, ITB, UGM dan ITS; padahal kebutuhan atas aplikasi teknologi untuk pembangunan di luar Jawa justru lebih bera-gam dan mendesak.
KETIDAKADILAN DALAM SIPENMARU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.612 KB)

Abstract

       Apabila tiada aral melintang serta segala sesuatunya akan berjalan sesuai dengan rencana sebentar lagi negeri ini akan punya gawe.  Tanggal 21 - 24 Mei 1984 akan diselenggarakan pengujian tertulis seleksi penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru)  bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) serta Universitas Terbuka yang pelaksanaan-nya secara serentak di seluruh Indonesia.       Sekitar seratus delapan belas ribu (=118.000) mahasiswa baru akan dihasilkan didalam penyaringan ini (termasuk sekitar 8 000 yang akan disaring malalui pene-lusuran minat dan kemampuan).       Dari jumlah diatas yang kiranya agak mengejutkan adalah mahasiswa baru pada Universitas Terbuka yang pada angkatan pertama ini diperkirakan mampu menampung seki-tar 25 000 (dua puluh lima ribu) mahasiswa baru, suatu jumlah yang relatif besar atau kalau kita hitung akan mencapai sekitar 21% dari jumlah keseluruhan mahasiswa baru untuk semua program di perguruan tinggi negeri (semoga tidak timbul kesan bahwa Universitas Terbuka hanya mementingkan kuantitas).        Tanpa melihat kuantitas keluaran SMTA  baik untuk tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya, baik SMTA nege-ri maupun swasta tentu jumlah tersebut nampak begitu besar, akan tetapi manakala kita sempat menengok data statistik yang ada maka tidak mustahil kalau kesan ter-sebut akan semakin memudar dan akan berubah secara kontraversial.
KELOMPOK RISIKO TINGGI AIDS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.381 KB)

Abstract

Secara medis sudah ditemukan  bahwa HIV merupakan penyebab AIDS. Manusia,  menurut Parmono Achmad (1987)  merupakan sum-ber HIV.  HIV bisa "bersarang" pada sel limposit T, B and makrofag, kulit, plasma, air mani, liur, kencing, kelenjar getah bening, sumsum tulang, otak serta cairan vagina.  Sedangkan sumber penularan yang paling efektif adalah air mani dan darah.  Tiga cara penularannya sbb: hubungan seksual (homoseks, heteroseks dan biseks),  parental (transfusi darah, jarum suntik) serta "dari ibu ke anak" (transplasentasi, air susu).  Sedangkan masuknya HIV kepada calon penderita bisa melalui  alat kelamin, placenta dan mulut (saat menyusui).       Sebenarnya secara medis HIV tersebut  sangat mudah dimatikan,  demikian menurut para ahli medis,  yaitu dengan: (1) pemanasan pada suhu 50 derajat Celcius selama kurang lebih 30 menit,  (2) eter, etanol 20 derajat, (3) aceton, (4) natrium hipoklorit 0,20 persen,  (5) alkohol 70 persen selama satu menit,  (6) beta propiolakton 0,25 persen, (7) natrium hidroksida 40 m nol/1,  (8) glutaraldehida 1 persen,  serta (9) amonium klorida.       Apakah hal itu berarti bahwa AIDS mudah dijinakkan?  Ternyata tidak, karena HIV mempunyai kemampuan untuk mengubah struktur genetis dari protein lapis pelindung luarnya sehingga sulit "dikenali" oleh sistem pertahanan tubuh manusia. Dengan kondisi yang demikian itu AIDS menjadi penyakit yang sulit diatasi;  bahkan sampai sekarang belum ditemukan obat atau penawar yang manjur.       Ada pakar medis  yang memasukkan AIDS  sebagai anggota baru Penyakit Menular Seksual (PMS) karena penyakit ini salah satu cara penularan AIDS melalui hubungan seksual atau senggama; khususnya senggama pada kasus homoseks, biseks dan kasus senggama "deviasi" lainnya.
REAKTUALISASI FUNGSI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.527 KB)

Abstract

Asumsi mengenai terdapatnya hubungan timbal balik (reciprocal relationship)  antara pendidikan dengan ilmu pengetahuan dan tekno-logi (iptek) sampai kini tidak pernah diragukan; artinya makin mantap pelaksanaan pendidikan di suatu negara semakin pesat perkembangan ipteknya;  begitu pula perkembangan iptek yang pesat secara langsung dan/atau tak langsung akan mendinamisasi pelaksanaan pendidikan di negara yang bersangkutan.       Kiranya siapapun setuju bahwa dalam dua dasa warsa terakhir ini perkembangan teknologi di berbagai negara berlangsung sangat pesat; bahkan terkadang lebih pesat daripada yang dibayangkan sebelumnya. Pesatnya perkembangan teknologi ini berakibat pada munculnya dua era sekaligus;  yaitu era industri dan era informasi yang berlangsung secara simultan dengan karakteristiknya masing-masing.       Dalam bukunya Technology in Your World (1987), M.Hacker dan R. Barden melukiskan bahwa sejak pertengahan abad ke-18 era industri berjalan naik dan menjelang datangnya tahun 2000 ini peker-jaan industrial mampu menyita sekitar 20 persen dari total pekerjaan yang ada di dunia ini. Pada sisi yang lainnya, era informasi yang baru berkembang sejak pertengahan abad ke-20 ini juga bejalan naik dan menjelang datangnya tahun 2000 ini pekerjaan informasional mampu menyita sekitar 75 persen dari total pekerjaan yang ada di dunia ini. Dengan demikian berlangsungnya era industri dan era informasi telah menyita sekitar 95 persen dari segala jenis pekerjaan yang ada.       Angka-angka tersebut  melukiskan betapa dominannya  pengaruh fenomena yang berkembang di era industri maupun era informasi ter-hadap perikehidupan di dunia ini.  Yang kemudian perlu diklarifikasi ialah sejauh mana dunia pendidikan mampu mengantisipasi datangnya dua era tersebut; apakah fungsi pendidikan mengalami pergeseran dan /atau perubahan dengan datangnya dua era tersebut.
PRESTASI SAINS ANAK INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.752 KB)

Abstract

       Baru saja muncul dua informasi mengenai prestasi sains anak Indonesia.  Kedua informasi ini saling kontradiktif dan antagonistik antara yang satu dengan yang lain. Apabila informasi yang pertama dapat membuat senang dan sungguh membanggakan kita; sebaliknya informasi yang kedua  sungguh dapat membuat sedih dan "mempermalukan" kita.          Di dalam forum  Asian Physics Olympiads (APhO) ke-2 yang baru saja diselenggarakan di Taiwan,  delegasi Indonesia berhasil meraih prestasi yang membanggakan. Rezy Pradipta, seorang siswa dari SMU Taman Taruna Nusantara, nyata-nyata berhasil menggondol medali emas atas prestasi terbaiknya.  Konon,  para juri dibuat terkagum-kagum oleh anak Indonesia ini ketika ia menjelaskan pem-buktian Hukum Keppler 1, Hukum Keppler 2, dan Hukum Keppler 3 yang sudah ditemukan sejak empat abad silam.          Di samping medali emas,  tim Indonesia juga berhasil meraih 1 medali perak atas nama Frederick Petrus, 1 medali perunggu atas nama Abrar Yusra,  serta 3 honorable mention masing-masing atas nama Agustinus P. Sahanggamu, Christoper Hendriks dan Rizki M. Ridwan. Benar-benar membanggakan.          Informasi kedua datang dari TIMSS, The Third International Mathematics and Science Study.  Di dalam forum internasional yang diikuti oleh peserta dari 42 negara ini ternyata pencapaian prestasi sains siswa Indonesia relatif sangat rendah.  Dalam kompetisi yang telah melibatkan ribuan siswa SLTP di Indonesia  dan puluhan ribu siswa sederajat di 41 negara lainnya ini  ternyata pencapaian prestasi anak Indonesia masih jauh dari kata memuaskan.