Articles
âKUMPULKEBOâ DALAM PENELITIAN SOSIAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (103.028 KB)
      Beberapa waktu yang lalu Yogyakarta pernah "geger berat"; pasalnya sekelompok peneliti muda telah mencoba mengkomunikasikan hasil penelitiannya (?) yang ternyata cukup "menyentuh" citra kota dengan segenap predikat dan warga masyarakatnya, pada hal sistem komunikasinya teramat terbuka.      Konon, menurut penelitian itu, di tengah-tengah warga masyarakat Yogyakarta yang terkenal dengan sistem sosio-kultu-ralnya yang serba "adhiluhung" itu ternyata banyak dijumpai pasangan suami-isteri yang "lupa" menikah, alias "kumpul kebo".      Dikarenakan sistem komunikasi penelitiannya yang sangat terbuka maka hasil penelitian yang kebenarannya masih disangsikan oleh banyak orang tersebut, meskipun mungkin banyak pula yang mempercayainya, segera menyebar di seantero jagad Indonesia. Lebih dari itu "surprising news" tersebut nampaknya sampai pula di beberapa negara manca; saya sempat mendapat surat dari seorang sahabat di luar negeri yang menanyakan kebenaran berita itu.      Penyebaran hasil penelitian tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari "jasa" pers; meski demikian tentu pers tidak dapat disalahkan begitu saja, mengingat hasil penelitian tersebut memang mempunyai nilai berita yang cukup tinggi.
REPOPULARISASI SEKOLAH KEJURUAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (98.247 KB)
Tanggal 23 Oktober 2000 yang lalu saya diminta memberikan presentasi di dalam seminar sehari mengenai pengkajian pendidikan kejuruan dan teknologi yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta. Tujuan seminar ini ialah untuk memformulasi upaya-upaya melakukan pembaruan atau inovasi terhadap penyelenggaraan Seko-lah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia.      Sebagaimana yang telah dialami oleh satuan pendidikan yang lainnya maka perkembangan SMK di Indonesia selama ini mengalami pasang dan surut. Suatu ketika jenis sekolah yang mempersiapkan lulusannya untuk terjun langsung ke pos-pos kerja di masyarakat ini mengalami keadaan pasang; dalam arti kehadirannya didambakan oleh masyarakat dan lulusannya pun banyak yang langsung diserap dunia kerja. Di waktu lain sekolah yang mempersiapkan lulusannya menjadi tenaga kerja terampil menengah (middle skilled worker) ini kehadirannya diremehkan oleh masyarakat dan para lulusannya pun banyak yang menjadi penganggur.      Sekolah kejuruan di negara kita pernah mengalami masa-masa keemasan ketika departemen pendidikan dipimpin oleh Pak Wardiman Djojonegoro. Di antara 30-an menteri pendidikan yang pernah kita miliki rasanya sangat sedikit yang menaruh perhatian secara mema-dai terhadap sekolah kejuruan. Di bawah kendali Pak Wardiman, tanpa bermaksud mengkultuskan seseorang, pamor sekolah kejuruan memang bersinar terang. SMK yang semula dianggap sekolah "kelas dua" mulai diakui sejajar dengan SMU dan sekolah-sekolah lain pada umumnya. Jumlah siswanya pun secara nasional mengalami kemajuan secara sangat signifikan.      Sayangnya, ketika Pak Wardiman pergi dari departemen pen-didikan maka pamor sekolah kejuruan pun mulai redup. Pengakuan kesepadanan di antara SMK dengan SMU sepertinya mulai terkikis; indikasinya di berbagai kesempatan masyarakat lebih sering membi-carakan SMU daripada SMK. Jumlah siswa SMK pun pada beberapa tempat mulai menurun; sementara itu program-program kreatif yang dahulunya sangat populer seperti Pendidikan Sistem Ganda (PSG) sepertinya mulai dilupakan orang. Sekarang bahkan banyak orang yang melupakan keberadaan sekolah kejuruan.
ANTARA HARKAT DAN RISIKO KULTURAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.456 KB)
      Kehadiran tenaga kerja wanita benar-benar telah memperoleh sambutan "welcome" dari masyarakat; sementara itu pemerintah sendiri menyikapi hal ini secara proporsional, terbukti tidak jarang mendudukkan wanita pada berbagai pos kerja yang sangat strategis.       Dalam struktur kepegawaian pun wanita mendapatkan tempat yang cukup istimewa; misalnya dari segi kuantitas maka dari sebanyak 3.529.640 pegawai negeri sipil di Indonesia (data tahun 1987) maka sebanyak 1.091.571 orang di antaranya, atau sebesar 30,92%, merupakan tenaga kerja wanita. Periksa Tabel 3!      Lebih dari itu secara kualitatif pemerintah pun mengambil kebijakan untuk mendudukkan tenaga kerja wanita pada pos-pos "kunci"; misalnya diangkatnya beberapa wanita Indonesia sebagai menteri negara, sebagai rektor perguruan tinggi negeri, sebagai pimpinan perusahaan, sebagai kepala kantor pemerintah, sebagai duta bangsa di dalam moment-moment internasional, dan sebagai-nya.
KOLABORASI RISET "SELATAN-SELATAN"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (211.657 KB)
      Kepercayaan negara-negara yang tergabung di dalam keanggotaan Gerakan Non-Blok (GNB) kepada Indonesia untuk menyelenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di Jakarta sekarang ini sudah barang tentu harus disambut dengan gembira dan penuh tanggung jawab. Kepercayaan ini secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dengan masalah kredibilitas negara kita.        Tanpa mengurangi tanggung jawab atas kepercayaan tersebut maka sebagai tuan rumah sangatlah wajar apabila setiap instansi pemerintah memanfaatkan moment tersebut untuk membuat program-program kegiatan multilateral guna lebih mempererat kerja sama sesama negara yang tergabung dalam GNB; dan rupanya ini disadari benar oleh Depdikbud yang ingin memanfaatkan moment tersebut.        Mendikbud RI Fuad Hassan baru-baru ini menyatakan bahwa Depdikbud ingin memanfaatkan moment KTT-GNB untuk merealisasi dan mempererat kerja sama dengan sesama ang-gota GNB dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, dan lebih khusus lagi di bidang penelitian.
PENUTUPAN 209 PROGRAM STUDI KEGURUAN CERMIN "KEJENUHAN AKADEMIK"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (123.86 KB)
          Baru-baru ini Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Depdikbud, Prof. Dr. Soekadji Ranoewihardjo, didampingi oleh Ketua Panitya Sipenmaru 87, Prof. Ir. S. Pramoetadi menginformasikan bahwa untuk tahun ini daya tampung 43 PTN --perguruan tinggi negeri-- di negara kita mengalami penurunan yang cukup berarti (untuk tidak mendramatisir sebagai penurunan drastis) apabila dibandingkan dengan tahun yang lalu.          Pada tahun 1985 yang lalu ke-43 PTN di Indonesia, tidak termasuk Uniersitas Terbuka (UT) mampu menampung mahasiswa baru sebanyak 87.352 orang; dengan perincian sebanyak 71.280 orang diterima melalui jalur Sipenmaru dan 16.072 melalui jalur PMDK. Untuk melengkapi informasi jumlah peserta ujian tulis Sipenmaru waktu itu mencapai angka 512.050 orang.          Sedangkan pada tahun 1986 kemarin seluruh PTN di negara kita, tidak termasuk UT mampu menampung mahasiswa baru sebanyak 98.240 orang. Perinciannya ialah sbb: diterima melalui jalur Sipenmaru sebanyak 81.866 orang, dan diterima melalui jalur PMDK sebanyak 16.374 orang. Pada waktu itu jumlah peserta ujian tulis Sipenmaru mencapai angka 586.431 orang.          Program penerimaan mahasiswa baru tahun 1987 ini hanya akan menampung sebanyak 84.659 orang. Perinciannya adalah sbb: kursi kuliah yang diperebutkan melalui jalur Sipenmaru sebanyak 67.980 orang, dan kursi kuliah yang    diperebutkan melalui jalur PMDK adalah sebanyak 16.679 orang.
KOLABORASI PENDIDIKAN ANTARNEGARA PASIFIK
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (106.748 KB)
Negara-negara di pinggiran laut Pasifik (Pacific Rim), untuk selanjutnya disebut negara-negara Pasifik, khususnya anggota Pan-Pacific Association of Private Education (PAPE), sekarang tengah berada di dalam era global-industrial. Pada satu sisi konteks global tertandai dengan terjadinya keterjangkauan akses informasi hampir di seluruh bidang kehidupan, sedangkan di sisi yang lain konteks industrial tertandai dengan terjadinya transformasi pada berbagai konsentrasi sumber investasi.        Keterjangkauan informasi tersebut di atas telah menimbulkan kompetisi global. Setiap menit bahkan setiap detik kita menghadapi persaingan serta perpaduan budaya antarbangsa (cultural contact) yang tidak mungkin dihindari. Setiap detik kita dituntun oleh alam dan didorong oleh teknologi untuk melibatkan diri ke dalam arus perubahan. Di sisi lainnya, masyarakat negara-negara Pasifik yang mulanya masih meletakkan konsentrasi sumber investasi pada tanah pertanian (preindustrial society) secara perlahan-lahan tetapi pasti mengubahnya ke permesinan dan jasa (industrial society). Sekelompok kecil diantaranya bahkan telah mengubahnya ke ilmu pengetahuan dan teknologi (post industrial society).        Salah satu metoda untuk mensiasati kompetisi global tersebut ialah dengan menjaring kolaborasi antarnegara pada masalah-masalah tertentu yang dianggap penting (important) dan/atau genting (ur-gent) oleh sekelompok negara. Pendidikan merupakan salah satu masalah yang memenuhi kedua kriteria tersebut. Itu berarti bahwa kolaborasi pendidikan antarnegara Pasifik sangat diperlukan sebagaimana pernah saya kemukakan dalam seminar internasional PAPE di Manila Filipina beberapa waktu yang lalu.
MEMANUSIAKAN MANUSIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MOZAIK OBITUARI
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.202 KB)
     âLho ..., Ibu mana Pak? Nanti bisa hilang lho.â Demikian goda saya pada Pak Koes, demikianlah biasa saya menyapa, di Shanghai, Cina tahun 2002. Dengan penuh canda Pak Koes pun menjawab, âAh ..., biarkan saja, nanti kan ada yang ngopeniâ. Waktu itu Pak Koes berjalan di depan dan âmeninggalkanâ Ibu yang masih jauh di belakang ketika akan mengunjungi objek wisata di depan Benteng Cina yang sangat terkenal itu. Kita ke Cina bersama rombongan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tanggal 16 s/d 23 Juni 2002. Kami memang sering bepergian bersama Pak Koes, di dalam maupun di luar negeri. Biak Papua, Tana Toraja Sulawesi, Sambas Kalimantan, Tanah Datar Sumatera dan Mataram NTB adalah seba-gian dari tempat-tempat yang pernah kami kunjungi bersama.        Godaan dan canda seperti tersebut di atas memang sering dialamatkan kepada Pak Koes oleh sesama teman anggota BPPN, bahkan oleh staf BPPN itu sendiri. Pak Koes pun senantiasa menanggapinya dengan penuh canda, dan setahu saya beliau tidak pernah marah. Dan hebatnya ..., dengan godaan dan canda seperti itu beliau tidak kehilangan kewibawaan yang telah melekat pada dirinya.
YANG DITERIMA DAN YANG GAGAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.692 KB)
      Hari Senin tanggal 15 Juli 1985, apabila tiada aral yang melintang, pemerintah yang dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan akan mengumumkan hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1985/1986 . Bila kegiatan ini dapat kita ibaratkan sebagai sebuah rangkaian dari proses pengadilan, maka pada hari itulah vonis hakim akan dibacakan.       Bagi yang berkepentingan langsung, dalam hal ini para peserta Sipenmaru itu sendiri, beberapa hari terakhir selama menantikan datangnya hari penentuan bukan mustahil telah merupakan hari-hari yang cukup menggelisahkan.Hari-hari mana mereka mencoba mereka-reka dan menghitung nasib yang akan menemani perjalanan hidupnya.        Hal ini kiranya sangat wajar oleh karena saat-saat pengumuman hasil Sipenmaru seringkali dianggap sebagai titik awal bagi seseorang dalam mencapai prestasi yang maksimal melalui jalur akademis.       Seseorang yang lolos dari jaring-jaring Sipenmaru akan diterima menjadi warga baru pada sebuah perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) , yang berarti terbukalah kesempatan untuk menjadi seorang pemikir, ilmuwan dan memasuki kelompok kaum cerdik pandai yang sangat dibutuhkan bagi suksesnya pembangunan negara dan bangsa (tentu saja bukan berarti bahwa mereka yang tidak termasuk dalam kaum cerdik pandai tidak dibutuhkan bagi suksesnya pembangunan).
SENI MENGELOLA SEKOLAH NEGERI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.475 KB)
Setelah âgegeranâ CDMA mulai reda yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap tidak jelas jluntrung dan ending-nya, kini Yogyakarta diguncang âgempaâ baru berupa dipermasalahkannya pengelolaan sekolah negeri; utamanya menyangkut penarikan biaya seragam sekolah yang dianggap tidak transparan, pembebasan siswa (baru) korban gempa dari berbagai iuran sekolah, dan sebagainya. Â Â Â Â Â Â Â Awalnya sederhana, banyak orang tua siswa sekolah negeri yang mengeluh karena tarikan untuk uang seragam sekolah angka nominalnya sangat tinggi; padahal kalau membeli sendiri harganya jauh lebih murah. Keluhan seperti ini kemudian ditampung oleh LSM yang peduli terhadap pendidikan di Yogyakarta; kemudian ditindaklanjuti dengan minta klarifi-kasi kepada pihak sekolah. Masalah pun berkembang pada iuran pendidikan yang dipungut dari siswa (baru) korban gempa. Â Â Â Â Â Â Â Sampai langkah tersebut masyarakat menilai konstruktif terhadap lang-kah yang ditempuh oleh LSM; namun kekonstruktifan itu sedikit berkurang manakala ketika diadakan pertemuan konsolidasi pihak-pihak yang berke-pentingan ternyata LSM yang bersangkutan justru tidak datang. Sekarang ini kasus tersebut malah sudah dilaporkan ke Polda DIY. Â Â Â Â Â Â Â Melihat perkembangan tersebut sepertinya kasus penarikan biaya untuk seragam sekolah dan pungutan bagi siswa (baru) korban gempa semakin meruncing. Sebagian anggota masyarakat justru mulai acuh, jangan-jangan kasus ini hanya akan mencabik-cabik nama Yogyakarta sebagai Kota Pen-didikan tanpa âendingâ yang jelas sebagaimana dengan kasus CDMA.
PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN (II)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (138.502 KB)
      Secara umum pendidikan kita mempunyai andil yang besar untu memantabkan pertumbuhan ekonomi negara, yang secara tidak langsung bersifat kontributif terhadap upaya-upaya penekanan kemiskinan struktural kita. Namun masalah utama sebernya justru terletak pada aspek pemerataan. Belum efektifnya proses pemerataan materional telah menyebabkan terciptanya kemiskinan struktural; yang manifestasinya terlihat pada munculnya fenomena tentang ratio "si-kaya" dan "si-miskin" yang masih cukup terasa.      Sesuatu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan adalah meskipun pendidikan mempunyai kontribusi yang cukup dominan dalam upaya penekanan angka kemiskinan namun pendidikan itu sendiri nampaknya juga punya andil dalam menciptakan kemiskinan struktural.      Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dalam dunia pendidikan tinggi kita dewasa ini timbul semacam gejala elitisme pendidikan; atau setidak-tidaknya semi-elitisme pendidikan. Artinya didapati kecenderungan bahwa pelayan an pendidikan tinggi lebih ternikmati oleh kaum elite ekonomis, atau paling tidak kaum menengah ke atas yang memiliki banyak uang (walaupun diakui bahwa dalam struktur dan sistem sosiabilitas kita tidak mengenal adanya stratifikasi sosial-ekonomis secara eksplisit).