Articles
KUALITAS INPUT PTN TERNYATA RENDAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (116.023 KB)
      Baru saja "vonis" atau pengumuman kelulusan siswa SMTA dikomunikasikan secara serentak melalui sekolahnya masing-masing. Itu berarti bahwa siswa kelas tiga telah mengetahui secara pasti hasil upayanya yang dilaksanakan selama ini; lulus atau gagal, menang atau kalah.       Dalam saat-saat seperti sekarang ini maka berbagai perguru-an tinggi memasang pola dan strateginya untuk menggaet kandidat mahasiswa baru; bahkan secara implisit terkesan adanya kompetisi antar perguruan tinggi untuk merebut kandidat sebanyak mungkin. Hal ini berlaku bagi perguruan tinggi swasta maupun negeri, PTS maupun PTN.      Bagi PTN maka persiapan-persiapan mengaplikasikan pola dan strategi penerimaan mahasiswa baru tersebut di atas sudah dilaksanakan jauh hari sebelumnya.       Para pengelola PTN nampaknya menyadari bahwa pola dan strategi tersebut sangat menentukan kualitas input yang akan dihasilkan; dalam artian bahwa setiap terjadi kekeliruan dalam mengaplikasikan pola dan strategi akan berakibat pada tidak berkualitasnya input yang dihasilkan. Sedangkan ketepatan pengaplikasian pola dan strategi pun nampaknya belum mampu memberikan jaminan terhadap kualitas input yang dihasilkan.
NAIKNYA SPP DI UGM
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (212.601 KB)
      Jujur saja, apabila berbicara mengenai perguruan tinggi di negara kita yang sangat jenius dalam mengantisipasi PP No:30/1990 tentang Pendidikan Tinggi maka UGM, Universitas Gadjah Mada, adalah termasuk dalam kelompok perguruan tinggi ini. Penilaian ini tentunya bisa saja kurang tepat, akan tetapi penilaian ini lebih didasarkan pada referensi empirik yang pernah muncul di dalam dunia pendidikan tinggi kita daripada didasarkan pada interest pribadi yang seringkali justru dapat menyesatkan.        Keputusan pimpinan UGM untuk menciptakan formasi Pembantu Rektor (PR) IV yang didasarkan pada kepentingan pengembangan lembaga hanya beberapa saat setelah PP No: 30/1990 diberlakukan merupakan manifestasi spesifik dari ketetapan di dalam Pasal 29 (dan penjelasannya). Gagasan mengenai royalti dan kompensasi dosen PTN yang mengajar di PTS, meskipun tidak mulus dalam operasionalisasinya, juga tidak lepas dari ketetapan Pasal 111 dan Pasal 112 PP tersebut. Itulah sebagian contoh yang sekaligus meru-pakan referensi empirik mengenai kejeniusan UGM di dalam mengantisi PP No:30/1990 yang secara formal memang telah dibakukan sebagai "pegangan" dalam menyelenggarakan per-guruan tinggi di negara kita.        Bagaimana dengan gagasan ataupun rencana kenaikan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) yang akan dilakukan UGM mulai tahun akademik 1992/1993 yang akan datang? Se-perti diketahui UGM akan menaikkan SPP-nya dengan nilai kenaikan 50% mulai tahun ini. Gagasan atau rencana yang inipun kiranya tidak dapat dilepaskan dari ketetapan-ke-tetapan yang diatur dalam PP No:30/1990 tersebut.
KILAS BALIK PERJUANGAN KI HADJAR
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.725 KB)
      Kita mempunyai kebiasaan yang konstruktif pada setiap tanggal 2 Mei memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Kiranya tidak banyak yang tahu bahwa kebiasaan ini sudah dimulai tiga puluh lima tahun yang silam; tepatnya 2 Mei 1960. Setiap kita memperingati Hardiknas maka nama Ki Hadjar Dewantara segera muncul di benak kita; memang peringatan Hardiknas itu sendiri diambil dari hari lahir Ki Hadjar sebagai Bapak Pendidikan yang menyumbangkan hampir seluruh hidupnya untuk mengembangkan pendidikan nasional.        Sebagaimana kita ketahui pemerintah kita melalui Surat Keputus-an Presiden RI Nomer:316/1959 tertanggal 16 Desember 1959 menetapkan bahwa tanggal lahir Ki Hadjar, 2 Mei, sebagai hari pendidikan nasional sebagaimana yang selalu kita peringati setiap tahunnya itu.        Siapapun mengenal, bahwa Ki Hadjar Dewantara adalah Tokoh Pendidikan Nasional kita. Persahabatannya dengan beberapa tokoh pendidikan manca negara, di antaranya Rabrindanath Tagore (India), Prof. Dr. J.J. van Rijckevorsel (Netherland), dan Dr. Maria Montessori (Netherland) menyebabkan nama tokoh ini sangat dikenal pula di manca negara. Ki Hadjar mengembangkan Konsep Trikon yang amat terkenal itu; yang unsurnya terdiri dari kontinuitas, konvergensitas, dan konsentrisitas. Maknanya adalah menerima budaya manca secara selektif tanpa meninggalkan budaya bangsa kita sendiri.
MEWASPADAI BERJANGKITNYA PENYAKIT AIDS (1)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.995 KB)
Data yang berhasil didokumentir oleh dr. Kabul Rachman, seorang ahli penyakit kulit dan kelamin dari Undip Semarang, menyebutkan bahwa sampai September 1985 di Amerika telah ditemukan 12.932 kasus yang 6.81 diantaranya meninggal dunia. Sedangkan per 16 Maret 1987 di USA ditemukan 35.397 kasus, di Perancis 1.221 kasus, di Afrika 2.80 kaus, dan di Asia "baru" 103 kaus. (ada yang melaporkan pada tahun 1979) ini, setidak-tidak-nya kini telah "menyerang" lebih dari 40 negara di seluruh benua dari Amerika sampai Asia. Dan, kini telah terbukti bahwa penyakit yang cukup "menakutkan" tersebut telah sampai di negara kita. Barangkali tidak sekedar "berwisata", akan tetapi penyakit ini kelihatannya ingin "menetap" pula di negara kita.      Sementara itu seorang internis dari Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam UNS Surakarta, dr. Guntur Hermawan, mengacu tulisan nicholas P. dalam "Immune Competencein maitian Living in New York 1983" menginformasikan bahwa sekitar 40% penderita AIDS meninggal dengan cepat. Angka kematian dalam 2 tahun lebih dari 70%, dan setiap hari dilaporkan 5 kasus baru pada "Centre of Communicable Diseases Control" di Atlanta.      Dokter H. Prastowo Mardjikoen, seorang Ginikolog dari UGM Yogyakarta, mempunyai catatan tersendiri.Sampai Agustus 1986 sebanyak 71 negara telah melaporkan sekitar 29.000 kasus AIDS, dan WHO sekarang ini memperkirakan ada sekitar 100.000 penderita AIDS di seluruh dunia. Dan khusus di Amerika Serikat sendiri menjelang tahun 1991 nanti diramal akan ditemui lebih dari 270.000 penderita.
PRESIDENTIAL LECTURE: GATES
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (107.77 KB)
Setelah berhasil mendatangkan pakar pembangunan yang juga Direktur Proyek Millenium PBB Geoffrey Sachs; kemudian pakar ekonomi Inggris yang juga Penasihat Perubahan Iklim dan Pembangunan untuk Pemerintah Inggris, Nicholas Stern; kemudian pakar keuangan yang juga mantan per-dana menteri Pakistan, Shaukat Aziz; dan terakhir pakar perbankan yang juga Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006, Muhammad Yunus; kini Indonesia berhasil mendatangkan pakar ICT dan juga Pendiri dan Pemilik Microsoft Corp, Bill Gates. Â Â Â Â Â Â Â Jumâat 9 Mei lalu Bill Gates didatangkan untuk memberi kuliah umum yang disebut Presidential Lecture. Yang menarik, bukan saja kuliah pakar telematika ini diikuti oleh 2.500 orang tetapi Presiden SBY dan beberapa menteri pun tekun menyimak presentasi pria yang pernah dihina sebagai kurang waras ini. Â Â Â Â Â Â Â Dalam paparannya yang bertajuk âThe Second Digital Decadeâ terse-but Gates menyatakan pentingnya ICT untuk meningkatkan produktivitas kerja kaum profesional. Di samping itu Gates sempat menyatakan Indonesia merupakan negara yang potensial untuk perkembangan teknologi; untuk itu Microsoft berkomitmen mendukungnya. Sebelumnya Gates memang men-janjikan akan memberikan software secara gratis bagi sekolah-sekolah di Indonesia yang menginginkannya.
SD SWASTA JANGAN DIKORBANKAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.673 KB)
GAGASAN kemanusiaan Mendikbud tentang Sistem Orang Tua Asuh yang telah diterapkan di Sekolah Dasar (SD) seluruh Indonesia mendapat sambutan simpatik dari segenap lapisan masyarakat, khususnya bagi mereka yang telah tersentuh nyanyian kemanusiaan yang mengalun.            Sistem orang tua asuh yang digalakkan untuk mensukseskan program WAJAR (Wajib Belajar) tersebut memakai prinsip tanjung perak tepi laut, siapa suka boleh ikut.      Prinsip yang jauh dari segala paksaan tersebut nampaknya memang cocok diterapkan dalam dunia pendidikan kita dewasa ini, terbukti dengan banyaknya anggota masya rakat yang dengan ikhlas bersedia menjadi orang tua asuh untuk satu atau beberapa murid SD sekaligus.      Kenyataan ini barangkali akan berbicara lain bila dipaksakan kepada masyarakat, misalnya saja kepada masyarakat golongan tertentu diinstruksikan menjadi Orang Tua Asuh, dan sebagainya.      Oleh karena dengan prinsip sukarela bisa tercatat orang tua asuh relatif besar jumlahnya (angka yang eksakt belum diumumkan Depdikbud ...?) maka dapat dikatakan bahwa sistem ini merupakan proyek Depdikbud yang mendapat sukses besar, karena berangkat dari embrio yang sehat.
MENGHITUNG INOVASI GAYA HABIBIE
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.353 KB)
      Sistem pendidikan di Indonesia sudah tiba saatnya harus segera diubah. Demikian diungkapkan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Prof. Dr. B.J. Habibie, dalam sebuah rapat kerja dengan Komisi X DPR.      Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seharusnya ditingkatkan jumlahnya dan juga sedini mungkin disampaikan kepada anak didik, sedangkan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) bisa dikurangi jam pelajarannya. Selain itu cara ujian di sekolah dengan jalan memilih jawaban juga harus segera diubah, karena hal itu dapat membahayakan mental anak didik yang akan menjadi penerus bangsa.      Sekarang ini mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) banyak dikorbankan untuk pelajaran IPSK.      Lebih lanjut Menristek memberikan ilustrasi bahwa idealnya lulusan teknik yang dibutuhkan masyarakat seki-tar 35 s/d 40 persen, sedangkan lulusan ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan sebesar 26 s/d 35 persen dari jumlah lulusan seluruhnya.
KONDISI PTS DAN SISTEM AKREDITASINYA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (119.867 KB)
      Setelah usai dilaksanakannya tes tertulis Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada tanggal 18 dan 19 Juni 1996 yang lalu maka saat ini para kandidat mahasiswa baru PTN tengah menunggu hasil perjuangannya. Hasil UMPTN itu sendiri menurut rencana akan diumumkan kira-kira akhir Juli nanti.      Di saat-saat seperti sekarang ini para lulusan sekolah menengah pada umumnya dan peserta UMPTN pada khususnya mulai "berpaling" pada perguruan tinggi alternatif. Mereka mencari perguruan tinggi lain di luar PTN yang memberikan kemungkinan untuk merintis masa depannya melalui kelanjutan studi. Tujuannya; apabila nantinya tidak diterima alias ditolak masuk PTN karena gagal testing mereka telah menemukan perguruan tinggi alternatif. Maklumlah sampai se-karang ini PTN masih menjadi "university of choice" di negara kita; meskipun predikat ino makin lama terasa semakin mengendor.      Secara empirik kompetisi perebutan kursi PTN rellatif ketat; dan tahun ini meskipun jumlah peserta UMPTN cenderung menurun akan tetapi bukan berarti bahwa kompetisinya telah menjadi kendor. Saat ini satu kursi PTN rata-rata masih diperebutkan oleh enam atau tujuh kandidat;akibatnya lebih banyak peserta UMPTN yang gagal daripada yang berhasil masuk PTN. Mereka yang gagal lebih berkepentingan terhadap pemilihan perguruan tinggi alternatif.     Dalam mencari perguruan tinggi alternatif tersebut akhirnya PTS, Perguruan Tinggi Swasta, menjadi pilihan; meskipun banyak pula lulusan sekolah menengah yang semenjak semula sudah menjatuhkan pilihannya di PTS. Tentu saja PTS yang bonafide. Para kandidat mahasiswa ramai-ramai mencari informasi mengenai PTS. Kota-kota besar yang banyak mempunyai PTS seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Malang akhirnya menjadi pusat perhatian. De-mikian pula dengan beberapa kota besar di luar Pulau Jawa.
BOROBUDUR, TERATAI INDAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.46 KB)
Candi Borobudur mempunyai ukuran 123x123 meter, dibuat bertingkat menggunakan batu alam yang volumenya tidak kurang dari 55.000 meter kubik. Bagian tengah dari candi merupakan tubuh bangunan yang terdiri dari lima tingkatan yang berbentuk bujur sangkar yang semakin ke atas semakin kecil ukurannya. Sedangkan bagian atas candi berupa batu bersusun tiga yang semakin ke atas semakin kecil pula ukurannya.Bagian atas dari candi tersebut denahnya tidak lagi berbentuk atau berpola bujur sangkar akan tetapi berbentuk lingkaran, sehingga kalau dipandang dari atas akan kelihatan tiga lapisan lingkaran yang sepusat. Dinding bangunan candi penuh dengan ukiran relief yang indah, dan kalau kita berjalan untuk membacanya akan kita dapatkan cerita dari relief yang jumlahnya tidak kurang dari 1.300 pigura dan panjangnya mencapai dua setengah kilometer (2.500 meter) apabila disambung-sambungkan.Di samping itu, untuk melindungi bangunan candi dari genangan atau melimpahnya air hujan maka dibuat pula suatu cara penyaluran air dengan memasang sekitar 100 buah pancuran di setiap sudut pada setiap tingkatnya. Apabila diperhatikan dengan cermat ujung pancuran tersebut masing-masing berupa makara yang bentuk dan ukirannya benar-benar sangat indah.Monumen raksasa yang mengandung nilai-nilai historis maupun nilai-nilai kultural yang tinggi tersebut tidak mungkin dapat dibangun apabila tanpa perencanaan yang matang dan teliti. Bangunan candi ini juga dapat dan telah membuktikan keberhasilan arsitek Indonesia di masa lalu dan sekaligus merupakan bukti nyata mengenai kebesaran bangsa sejak masa lalu.
KAPAL PENDIDIKAN KINI "TENGGELAM"
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.873 KB)
      Masalah pendidikan nasional kita tenggelam oleh hangatnya isu-isu politik seperti soal calon presiden, kasus Bank Bali, dan sebagainya. Padahal permasalahan di bidang pendidikan sangatlah urgen untuk dicarikan jalan keluar karena terkait langsung dengan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia itu sendiri. Demikian dinyatakan secara eksplisit oleh Prof. Dr. Ir. Hidayat Syarief, M.S. selaku Deputi Bidang SDM Bappenas dalam Semiloka Pembangunan Penididikan Nasional di Bandung baru-baru ini (Pikiran Rakyat: 7/9/99).      Lebih lanjut Pak Hidayat menyatakan keprihatiannya bahwa sekarang ini ada fenomena yang menunjukkan para anggota legislatif maupun kandidat legislatif kurang memiliki komitmen yang kuat terhadap visi SDM. Keadaan ini tentu sangat memprihatinkan sebab dengan kurang dimilikinya komitmen yang kuat terhadap visi SDM maka mereka tidak akan mampu menciptakan kondisi untuk melajukan jalannya kapal pendidikan nasional kita.      Para anggota legislatif nantinya harus mampu menyuarakan permasalahan-permasalahan pendidikan serta menghasilkan sejumlah perundang-undangan yang kondusif, dinamis dan berkualitas untuk memajukaan pendidikan nasional. Mereka juga harus mampu memberi masukan yang berbobot kepada pemerintah sehingga nantinya lahir kebijakan pendidikan yang sesuai dengan harapan masyarakat.      Masih menurut Pak Hidayat, siapapun presiden dan pejabat negara di masa yang akan datang hendaknya terdiri dari mereka yang memiliki jiwa amanah serta memiliki visi dan misi yang kuat terhadap pengembangan kualitas SDM. Hanyalah dengan SDM yang berkualitas maka pelaksanaan pembangunan nasional di masa-masa yang akan datang dapat berlangsung baik serta sesuai dengan apa yang diinginkan masyarakat.