Claim Missing Document
Check
Articles

E-BOOK: MANFAAT DAN KENDALANYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN SINAR HARAPAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.046 KB)

Abstract

       Coba Anda buka situs http://bse.depdiknas.go.id/ maka sajian pertama kali yang muncul adalah foto dan sambutan Pak Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan nasional. Dalam sambutannya beliau menyatakan peme-rintah dengan penuh rasa gembira dan bangga menyuguhkan sejumlah buku teks pelajaran layak-pakai yang hak ciptanya telah dimiliki Departemen Pendidikan Nasional alias Depdiknas.        Suguhan buku-buku teks pelajaran oleh pemerintah tersebut tersedia di situs Depdiknas yang diberi nama Situs Buku Sekolah Elektronik yang disingkat BSE atau e-Book. Sekarang ini jumlah keseluruhan buku teks pelajaran yang disuguhkan ada 407 judul buku yang semuanya sudah dinilai kelayakannya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Jumlah ini tentu relatif besar, meskipun masih harus ditambah terus untuk memenuhi keperluan pembelajaran di satu sisi serta tuntutan kemajuan ilmu dan tekno-logi di sisi yang lain.          Banyak kalangan guru dan siswa yang menyambut gembira atas dilun-curkannya e-book oleh Presiden SBY pada tanggal 20 Agustus 2008 yang lalu; meski demikian banyak pula yang sedih tak dapat mengakses fasilitas pemerintah ini dikarenakan berbagai keterbatasan, dan bahkan banyak pula yang tidak mengikuti perkembangan pelayanan Depdiknas tersebut. Itulah heterogenitas masyarakat kita.
"TRY-OUT ERROR" LIMA HARI SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.222 KB)

Abstract

       Gagasan penerapan lima hari sekolah mendapat banyak tantangan masyarakat; hal ini tercermin dari respon masyarakat itu sendiri baik yang dimunculkan atas nama individu, kelompok, maupun organisasi.  Akhir-akhir ini bahkan banyak anggota masyarakat yang memberikan semacam warning terhadap gagasan lima hari sekolah.          Dalam pertemuannya dengan Mendikbud beberapa waktu lalu Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sempat menanyakan gagasan lima hari sekolah kepada Mendikbud;  dan mendapat jawaban bahwa sampai kini belum ada keputusan apapun tentang pelaksanaan lima hari sekolah.  Sekarang sedang diadakan uji coba (try-out) atas gagasan itu;  dan keputusan mengenai pelaksanaan lima hari sekolah sangat tergantung pada evaluasi hasil uji coba. Beberapa Pimpinan MUI Daerah ada yang sudah menyatakan ketak-setujuannya terhadap gagasan lima hari sekolah.  Beberapa unsur pimpinan Muhammadiyah pun secara terbuka menyatakan ketidak-setujuannya.          Lain lagi dengan Perguruan Nasional Tamansiswa dengan kebia-saannya yang low profile;  Tamansiswa tak pernah menyatakan setuju atau tidak setuju,  akan tetapi secara konkrit telah mengirim surat ke cabang-cabang di seluruh Indonesia untuk tidak (dulu) menerapkan gagasan lima hari sekolah sebelum ada keputusan lebih lanjut dari Majelis Luhur sebagai pimpinan pusat.  Majelis Luhur sendiri sedang mempelajari efektivitas gagasan lima hari sekolah.
LOGIKA AKADEMIK KURIKULUM 2006 Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.604 KB)

Abstract

         “GBHN 1999 menegaskan tentang perlunya diversifikasi kurikulum yang dapat melayani keanekaragaman kemampuan sumber daya manusia, kemampuan siswa, sarana pembelajaran, dan budaya daerah. Diversifikasi kurikulum menjamin hasil pendidikan bermutu yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, dan berdaya saing untuk maju dan sejahtera”; demikian ditulis oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas dalam “Kurikulum Masa Depan: Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi” (2000).          Lebih lanjut ditulis, kurikulum disusun sesuai dengan kekinian dan kemasadepanan; karena itu kurikulum harus relevan, fleksibel, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun publik. Pertanggungja-waban ini menuntut kejelasan orientasi kurikulum, yakni lebih pada hasil belajar daripada prosedur pembelajaran. Dengan orientasi ini ditetapkan kompetensi dasar siswa pada setiap jenjang pendidikan yang dapat dicapai melalui berbagai cara sesuai dengan keadaan sekolah/daerah.          Itulah “filosofi” dikembangkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pada waktu itu. Dengan “filosofi” seperti ini seharusnya KBK dapat bertahan relatif lama, setidaknya sepuluh tahun sebagaimana Kurikulum 1994 dan Kurikulum 1984. Realitasnya, belum lagi berumur lima tahun ternyata KBK akan dihentikan, dieliminasi, disempurnakan, dikembangkan, diganti, atau apa pun namanya.
PROFESIONALISASI ORGANISASI PROFESI PGRI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.992 KB)

Abstract

       Tanggal 25 November adalah bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), atau sering pula disebut dengan hari guru. Empatpuluhsatu tahun yang lalu,  tepatnya pada tanggal 25 November 1945 lahirlah sebuah organisasi yang berfungsi sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi para "pahlawan tanpa tanda jasa" ini.       Berbeda dengan setahun yang silam, peringatan hari guru kali ini menurut rencana dilaksanakan secara se-derhana tetapi cukup khidmat.       Peringatan hari guru yang ke-40 tahun yang lalu dipusatkan di kota Surakarta dengan berbagai acara yang semarak, dan selain Bpk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu hadir pula Bpk Wakil Presiden. Tentu saja tidak ketinggalan para pengurus PGRI serta para guru dari berbagai daerah.       Meskipun peringatan kali ini tidak semeriah tahun lalu, tetapi peringatan kali ini diwarnai dengan suasana yang cukup berkesan.       Ketua umum Pengurus Besar PGRI, H. Basyuni Suraamiharja mengatakan bahwa peringatan hari ulang tahun PGRI yang ke-41 kali ini secara nasional diwarnai suasa-na bahagia, sebab salah satu dari idaman para guru untuk mempunyai Gedung Guru yang bersifat monumental dan fung-sional akan segera terwujud.
"EDUCATIONAL CAMPAIGN" VERSI AUSTRALIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.467 KB)

Abstract

       Terkecuali untuk masyarakat perguruan tinggi mungkin saja lima tahun yang lalu  masyarakat kita pada umumnya masih belum familiar dengan nama-nama "keren" seperti  University of New South Wales (UNSW),The University of Wollongong, Monash University (MU), La Trobe University,  Deakin University, Macquarie University Sydney, Swinburne University of Technology, RMIT University, dsb,  meskipun bonafiditas perguruan-perguruan tinggi tersebut sangat boleh dibanggakan.       Itu dulu! Sekarang ini masyarakat kebanyakan pun mulai terbiasa mendengar nama-nama "keren" tersebut.  Bahkan untuk berbagai per-guruan tinggi di Australia yang mulanya tidak dikenal pun masyarakat kita mulai familiar dengannya;  katakan misalnya Victoria University of Technology,  AIUS Curtin University (in Joondalup Campus), Edith Cowan University,  North Territory University, University of Western Australia (UWA), dsb.  Lebih daripada itu untuk pendi-dikan menengah umum, kejuruan dan non-formal pun masyarakat kita mulai tahu dengan nama-nama lembaga di Australia,  seperti misalnya  The Trinity College, Taylors Group of Schools, St.Michaels Gra-mmar School, Holmesglen TAFE, TAFE South Australia, Perth Institute of Business and Technology,TAFE International Western Australia, Eynesbury College (EC),  Holmes College Gold Coast, dan masih banyak lagi nama-nama lainnya.       Kenapa hal itu bisa terjadi?  Karena lembaga-lembaga pendidikan di Australia termasuk rajin dan gencar mempublikasi dan mempromosikan diri. Dalam satu dasa warsa yang terakhir ini Australia memang termasuk negara di Kawasan Asia-Pasifik yang paling rajin dan paling gencar di dalam "mensosialisasikan" lembaga-lembaga pendidikannya. Aktivitas edukasional-promotif ini sesungguhnya merupakan bagian dari kebijakan "industrialisasi pendidikan" yang sengaja dikembangkan oleh pemerintah Australia.
PENTINGNYA UJI MATERI UU BHP SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.139 KB)

Abstract

       Satu bulan sejak disahkannya UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) di dalam sidang paripurna DPR RI tanggal 17 Desember 2008 lalu ternyata masih menyisakan diskusi yang hangat. Hal itu terjadi karena terdapatnya penolakan sekelompok masyarakat yang terlibat langsung dalam praktek pendidikan, termasuk dari Tamansiswa sebagai organisasi penyelenggara pendidikan yang berkiprah sejak jaman prakemerdekaan.          Tanpa mengabaikan yang memberikan respon positif, berbagai elemen masyarakat memang banyak yang memberikan respon negatif dalam bentuk penolakan; mahasiswa, guru, dosen, organisasi profesi, organisasi intelek-tual, dan yayasan penyelenggara pendidikan.          Yang menarik diikuti, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari ikut mem-berikan respon negatif. Beliau menyatakan, disahkannya UU BHP hanya akan membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa kuli. Rasanya memang lucu, seorang menteri yang nota bene merupakan bagian dari pimpinan pemerintah ikut merespon negatif sebuah UU yang pengesahannya merupa-kan hasil kesepakatan antara DPR dengan pemerintah.
INGAT ..., PTS BUKAN ISTERI KEDUA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.839 KB)

Abstract

Lain Bu Minah lain pula Nyonya Mience, walaupun keduanya serupa tapi tak sama. Keduanya sama-sama baru memiliki problem besar, anak laki-laki mereka sama-sama lulus SMA, sama-sama mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), juga sama-sama mendaftar ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS) tentu saja sebagai calon mahasiswa. Anehnya semuanya sama-sama tidak tahu PTS atau justru PTN yang menjadi cadangannya.Bedanya adalah, suami Bu Minah seorang petani kecil, jangankan yang namanya perabot rumah tangga modern sedang makan sehari-hari saja serba pas-pasan. Porsi lauk tahu dan tempe yang biasa mengantar sayur bayam dan nasi keperut terpaksa diirit lagi supaya dapat lebih banyak menabung untuk membiayai sekolah anaknya kelak di perguruan tinggi.Sedangkan suami Nyonya Mience ialah direktur bank yang bonafide. Punya perabot yang serba lux,punya mobil, punya villa, punya bungalow, punya hotel, punya lapangan tenis pribadi serta punya apa-apa lagi yang saya sampai tidak tahu namanya.Si Unyil putera Bu Minah yang mempunyai aikyu lumayan serta tergolong anak yang rajin membuka buku kini telah diterima di Universitas Mojopahit (PTS). Sedangkan si Usil putera Nyonya Mience yang dulu pernah berurusan dengan polisi gara-gara mobil yang dikebutnya menyerempet tukang bakso pinggir jalan juga diterima di Akademi Hukum Blambangan (PTS), entah karena nilai testnya tinggi atau karena koneksi sang bapak. (Oh ya sekarang tidak ada lagi yang namanya koneksi-koneksian ... Ehm).
MENGARUNGI TAHUN SENI DAN BUDAYA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.815 KB)

Abstract

       Di dalam pidato atau sambutan akhir tahunnya Presiden Soeharto telah mencanangkan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya. Ada dua hal yang diharapkan dari pencanangan ini. Pertama, dengan mem-perbanyak aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat kita maka jati diri bangsa Indonesia akan lebih mantap dan terkokohkan;  dan kedua, dengan semakin banyaknya aktivitas seni dan budaya oleh masyarakat diharapkan turis asing pun semakin banyak yang tersedot oleh mesin pariwisata Indonesia sehingga hal ini secara otomatis akan meningkatkan devisa negara kita.       "Sambil menyelam minum air"; itulah pepatah klasik yang masih berlaku pada kita.  Di tengah-tengah terjadinya berbagai kasus asosial dan degradasi moral yang melanda sebagian masyarakat kita maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk memperkokoh jati diri bangsa kita; dan media yang dipilih adalah seni dan budaya.        Tepatlah kiranya pilihan kita itu karena melalui aktivitas seni dan budaya maka kreativitas masyarakat dapat disalurkan secara konstruktif.  Kita "menyelam" dalam hal ini.  Pada sisi lain dengan penyaluran kreativitas yang konstruktif melalui aktivitas seni dan budaya tersebut kalau dapat kita kemas secara profesional akan mendatangkan devisa negara yang bukan tidak mungkin sampai pada taraf yang "aduhai" nilainya. Disinilah kita "minum airnya".       Banyak negara  telah membuktikan  bahwa penyaluran kreativitas masyarakat secara konstruktif melalui aktivitas seni dan budaya dapat mendatangkan keberuntungan bagi negara yang bersangkutan. Dalam hal ini kita dapat menyebut  Jepang, Korea Selatan dan Thailand untuk negara-negara di kawasan Timur; sedangkan untuk kawasan Barat kita dapat menyebut Spanyol, Perancis dan Yunani. Jamaica, Meksiko dan Brazilia ada di kawasan yang lain lagi.  Di negara-negara tersebut seni dan budaya mendatangkan devisa yang nilainya sangat berarti.
PRESTASI "TFR" JAWA TIMUR MEMUASKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.024 KB)

Abstract

       Survei "besar" tentang kependudukan dan kesehatan di Indonesia tengah berlangsung; semenjak beberapa bulan yang lalu dilaksanakan Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) atau yang lebih populer dengan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 1991. Data survei ini sudah diambil secara nasional pada Bulan Mei dan Juli 1991 yang lalu, analisis datanya sebagian sudah selesai dikerjakan, sedangkan laporan finalnya masih dalam proses penyelesaian; meskipun begitu hasil sementara untuk beberapa kasus sudah dapat dinikmati masyarakat.          SDKI-91 dapat dikatakan survei yang "besar" bukan saja karena sifatnya nasional akan tetapi jumlah anggota sampel atau respondennya memang relatif besar; yaitu telah melibatkan lebih dari 28.000 rumah tangga dan 22.000 wanita yang tersebar di seluruh Indonesia.          Tujuan dilaksanakannya SDKI-91 adalah untuk meng-analisis data mengenai kelahiran dan kematian, keluarga berencana (KB) serta kesehatan bayi dan anak dalam upaya pengefektivan program dan kebijakan kependudukan dan ke-sehatan di Indonesia. Survei ini merupakan proyek kerja sama antara Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Departemen Kesehatan, dan Biro Pusat Statistik. Di luar ketiga lembaga ini ada beberapa lembaga interna-sional yang memberikan subsidinya,  United States Agency for International Development (USAID), United Nations Fund for Population Activities (UNFPA), serta Institute for Resource Development (IRD).
DARI TOKYO TOWER BISA MELIHAT JEPANG Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.436 KB)

Abstract

       Kalau sempat memperhatikan secara sepintas saja maka kita akan mengetahui bahwa status sosial ekonomi masyarakat Jepang umumnya adalah tinggi. Bukan berarti bahwa tidak ada orang miskin akan tetapi kebanyakan, untuk tidak menyatakan hampir seluruhnya, penduduk Jepang memang hidup di atas garis kemiskinan.       Keadaan itu nampaknya relevan dengan  berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai institusi internasional.  Pada tahun 1993 yang lalu Bank Dunia meneliti perkembangan ekonomi di wilayah Asia Timur dan dalam laporannya yang berjudul "The East Asian Miracle : Economic Growth and Public Policy" (1993) menuliskan nama Jepang sebagai salah satu dari delapan negara yang dikategorikan ajaib dalam pertumbuhan ekonominya. Lebih daripada itu, Jepang Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong dan Singapura dimasukkan dalam kelompok High Performing Asian Economies. Bahkan Jepang ada dalam deretan paling atas.  Kelompok ini berada satu lapisan di atas kelompok lain, The Newly Industrializing Economies yang di dalamnya ada nama-nama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.      Untuk konteks Jepang,  laporan penelitian tersebut mungkin  tidak meleset karena lajunya pertumbuhan ekonomi tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.  Secara sepintas saja tak pernah kita dapati pengemis di pinggir jalan atau di tempat-tempat strategis yang lainnya; apalagi pengemis yang "door to door" itu tidak pernah akan ada di Jepang. Jangankan pengemis, orang yang berpakaian kotor pun jarang kita dapati, meskipun bukan berarti tidak ada sama sekali.       Kalau banyak orang (kita) sering mengibaratkan Indonesia meru-pakan potongan surga yang terjatuh di bumi barangkali potongan yang lain jatuh di Jepang.  Alam pegunungan di Jepang sungguh cantik luar biasa. Sebuah karunia Tuhan yang tiada tara nilainya.