Articles
BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA ILMIAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1991: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (213.684 KB)
Untuk mengawali artikel mengenai Bahasa Indonesia ini saya sengaja mengutip sebagian kalimat dalam "Surat Pembaca" sebuah majalah internasional yang justru bukan berbahasa Indonesia; yaitu TIME No:40 edisi Oktober 1991. Surat pembaca tersebut ditulis oleh seorang pembaca yang beralamatkan di Scarborough, Canada.
Dua hal penting yang ditulisnya adalah sbb: per-tama, Inggris dan China merupakan dua bahasa (dan kebuda yaan) yang merajai dunia saat ini, termasuk di dalamnya negara-negara di ASEAN. Lebih lanjut dia menunjuk Hong Kong dan Singapura sebagai dua tempat yang mendemontrasi kan dengan baik keterpaduan dan dominansi dua bahasa ter sebut. Kedua, Bahasa Inggris lebih unggul dalam bidang kematematikaan dan penerapan komunikasi elektronik, se-dangkan Bahasa China lebih unggul dalam hal-hal yang ber sifat artistik (seni) dan filosofis.
Sedikit penjelasan yang diberikan oleh Emil dalam tulisannya tersebut adalah bahwa tidak dapat dipungkiri kalau sekarang ini sistem komunikasi surat-menyurat le-bih banyak menggunakan Bahasa Inggris, sebaliknya sistem komunikasi gambar, lukisan, tulisan seni (pictorial characters) lebih banyak menggunakan "Bahasa" China.
SISTEM SELEKSI MASUK PERGURUAN TINGGI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.769 KB)
      Isu pendidikan kita yang paling aktual pasca diumumkannya hasil Ebtanas sekolah menengah, khususnya SMU, adalah penerimaan ma-hasiswa baru di perguruan tinggi. Sekarang ini para lulusan sekolah menengah kita sedang sibuk menyiapkan diri untuk menembus dinding perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), yang dianggap dapat mengembangkan kemam-puannya untuk menggapai cita-cita.      Di sisi lainnya pihak perguruan tinggi sendiri tengah menghadapi persoalan tentang bagaimana metode menciptakan sistem seleksi yang efektif hingga kandidat yang tersaring menggunakan alat testing yang dibuat benar-benar kandidat yang bermutu; dalam pengertian (kandidat) mahasiswa baru dengan potensi akademik yang pantas. Kiranya memang tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat inipun masih banyak perguruan tinggi yang mengaplikasi sistem seleksi mahasiswa baru di dalam tahapan formalistik saja.      Secara empirik ada berbagai jenis alat seleksi yang dikembangkan oleh perguruan tinggi kita; misalnya saja PTN pernah menerapkan tes model Proyek Perintis (PP), Sipenmaru, UMPTN, dsb, sementara itu ada beberapa PTS yang dalam menseleksi kandidat mahasiswa baru menggunakan tes psikologis (psycho-test), tes bakat, tes kemampuan abstraksi, tes pengetahuan umum, dsb. Lebih daripada itu Tes Potensi Akademik (TPA) yang dibuat oleh Overseas Training Office (OTO) pun sekarang mulai "masuk kampus". Beberapa perguruan tinggi di Amerika Serikat mengembangkan sistem seleksi dengan Graduate Record Examination (GRE), Test of Writing Ability (TWA), dsb.
AKUNTABILITAS PUBLIK UMPTN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.168 KB)
       Sudah ada kesepakatan para rektor Perguruan Tinggi Negeri untuk melanjutkan sistem penerimaan mahasiswa baru seperti yang dilaksanakan di dalam beberapa tahun terakhir ini; hanya saja nama aktivitasnya akan diganti dari Ujian Masuk PTN (UMPTN) menjadi Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) PTN.        Apabila kita melihatnya dari ilmu evaluasi pendidikan, istilah seleksi memang lebih tepat digunakan daripada istilah ujian untuk kasus penerimaan mahasiswa baru PTN. Untuk memasuki momentum pengajaran biasa digunakan istilah seleksi (selection) sementara itu untuk mengakhirinya digunakan istilah ujian (examination).        Meskipun namanya mengalami penggantian akan tetapi desain global aktivitasnya sama saja; yaitu pendaftaran kandidat mahasiswa ditangani panitia lokal yang dikoordinasi panitia pusat, kandidat dapat mendaftarkan diri di tempat yang paling dekat dengan tempat tinggal untuk memilih PTN mana saja yang dikehendaki, tes tertulis dilaksanakan secara serempak se Indonesia dengan materi tes yang sama, jawaban tes diolah dengan komputer oleh panitia pusat, dan hasilnya diumumkan secara serempak baik melalui masing-masing PTN maupun melalui media yang lain.       Secara metodologis nampaknya tidak ada perubahan prinsipial dari UMPTN menjadi SPMB. Akan halnya SPMB sendiri menyangkut hari pelaksanaan, metode, dsb, sudah mulai disosialisasi ke masya-rakat luas. Meskipun demikian di sisi yang lain, UMPTN yang akan diubah menjadi SPMB sepertinya masih menyisakan beberapa perma-salahan berkait dengan akuntabilitas publik; utamanya menyangkut transparansi finansial dan transparansi akademis.
PENDEKATAN ILMIAH GERAKAN KB MANDIRI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (125.51 KB)
      Keberhasilan pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), atau yang di luar negeri lazim disebut dengan "family planning", di Indonesia semakin tidak diragukan; hal ini secara kuantitatif dapat dilihat dari semakin banyaknya peserta KB, sedangkan secara kualitatif dapat dilihat dari semakin mandirinya peserta KB itu sendiri.      Negara-negara lain dan badan-badan internasional pun juga mengakui keberhasilan tersebut. Kalau di tahun lalu Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan internasional dalam bidang per-KB-an, maka tanggl 8 Juni 1989 mendatang Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB akan memberikan penghargaan serupa kepada Indonesia yang akan diberikan kepada Presiden Soeharto di New York.      Keberhasilan KB tersebut semakin mempunyai posisi yang strategis; bahkan, baru-baru ini Presiden Soeharto menyatakan bahwa keberhasilan gerakan KB akan semakin menjadi unsur penentu keberhasilan pembangunan nasional.      Logikanya: keberhasilan gerakan KB dalam menekan tingkat pertumbuhan penduduk secara langsung telah mengu rangi beban pembangunan, sehingga dana pembangunan yang terbatas jumlah-nya lebih dapat dikerahkan pada berbagai sektor pembangunan yang ada.
MASALAH BAHASA INGGRIS DI SEKOLAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (121.823 KB)
      Kabar pendidikan yang sangat aktual yang sekarang menjadi topik pembicaraan di kalangan guru dan orang tua siswa, juga ma-syarakat luas pada umumnya, ialah tentang rencana pengembangan kurikulum sekolah kita. Adapun inti pengembangannya ialah dengan menambah jam mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah; khususnya di sekolah menengah.      Beberapa waktu yang lalu pimpinan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menginformasikan adanya rencana mengembangkan kurikulum sekolah, khususnya sekolah menengah, dengan menambahkan jam mata pelajaran Bahasa Inggris di dalamnya. Ada-pun harapan dari penambahan jam mata pelajaran ini adalah supaya para lulusan sekolah kita dapat berbahasa Inggris secara baik agar nantinya memiliki daya kompetisi yang lebih handal. Apabila lulusan sekolah kita dapat berbahasa Inggris secara lancar mereka sanggup berkompetisi dengan kompetitor-kompetitor dari manca negara dalam memperebutkan oportunitas di lapangan.      Rencana tersebut semakin menghangat dengan berakhirnya konferensi para menteri pendidikan di negara-negara ASEAN yang tergabung dalam South East Asia Minister of Education Organization (SEAMEO) beberapa hari yang lalu. Pasalnya, di dalam konferensi yang berlangsung di Denpasar tanggal 15 s/d 17 Februari 2000 itu, Teo Chee Hean selaku Presiden SEAMEO mengemukakan perlunya negara-negara ASEAN melakukan evaluasi terhadap kurikulum seko-lahnya masing-masing.      Lebih lanjut Teo menyatakan bahwa dalam menghadapi era di Milenium III ini negara-negara ASEAN perlu meninjau kembali kuri-kulum sekolah untuk disesuaikan dengan tuntutan kemajuan yang sangat pesat, khususnya dalam hal ini menyangkut tantangan globalisasi dan terjadinya revolusi informasi yang telah berdampak besar terhadap proses belajar mengajar di sekolah.
POTRET MAHASISWA INDONESIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (128.007 KB)
      Kesibukan yang paling menyita waktu bagi lulusan SMTA sekarang ini adalah berkompetisi mencari informasi tentang pergu-ruan tinggi sekaligus berkompetisi memperebutkan kursi belajar di perguruan tinggi; baik perguruan tinggi negeri, PTN, maupun perguruan tinggi swasta, PTS.      Mengapa kegiatan tersebut menyita waktu? Karena kompetisi masuk perguruan tinggi, PTN atau PTS, sekarang ini sangatlah ketat, sehingga apabila dirinya tidak siap untuk berkompetisi maka jangan diharapkan cita-cita untuk dapat melanjutkan belajar pada perguruan tinggi akan dapat kesampaian.      Kita bisa mengambil contoh sbb: ujian tulis masuk PTN tahun 1988 diikuti oleh 436.230 kandidat untuk memperebutkan "hanya" 71.000 kursi belajar; sehingga setiap kursi belajar PTN diperebutkan oleh 6 atau 7 kandidat. Kondisi ini tetap bertahan pada penerimaan mahasiswa baru PTN tahun 1989, dan diprediksikan tetap bertahan lagi untuk tahun 1990 ini; artinya setiap kursi belajar pada PTN diperebutkan oleh 6 atau 7 kandidat.
HARAPAN UBAH NASIB GURU TINGGAL HARAPAN
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (471.614 KB)
      Pada tahun 1989 bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang lalu diturunkanlah Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No: 26/Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru di dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Diturunkannya SK Menpan ini yang bertepatan dengan "moment" nasional tentunya bukan tanpa maksud sama sekali; adapun maksudnya adalah peringatan hari pendidikan nasional yang penuh memorial tersebut diharapkan dapat menjadi babak baru bagi sistem pendidikan nasional yang ditandai dengan meningkatnya kualitas pendidikan melalui jalur peningkatan kemampuan profesional dan prestasi guru.        Apakah ada korelasi langsung antara materi SK Men pan tersebut dengan mutu atau kemampuan profesional dan prestasi guru? Jawabnya terdapat dalam Surat Edaran ber-sama antara Mendikbud dan Kepala BAKN No: 57686/MPK/1989 serta No: 38/SE/1989 yang secara tegas menerangkan bahwa penetapan angka kredit bagi jabatan guru adalah di dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu dan prestasi guru.        Sistem angka kredit bagi jabatan guru di lingkungan Depdikbud tersebut, yang diharapkan bisa memperlancar arus kenaikan jenjang kepangkatan dan peningkatan pres-tasi para guru, kiranya juga berangkat dari konsep yang tidak jauh berbeda; membenahi mutu pendidikan nasional kita melalui sektor gurunya.
ASPEK HISTORIS DAN DINAMIKA PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (414.353 KB)
      Sejak berdirinya tahun 1912 Muhammadiyah berada pada posisi yang sangat strategis dalam peta pendidikan nasional kita. Meskipun organisasi rakyat ini tidak mengkhususkan perilaku organisatoriknya dalam bidang pendidikan akan tetapi Muhammadiyah telah berhasil menangani soal-soal pendidikan secara dinamis-proporsional sehingga mampu menjadikan dirinya sebagai lembaga yang diperhitungkan.        Secara historis Muhammadiyah memang mencanangkan berbagai amal usaha; salah satunya amal usaha di bidang pendidikan. Apabila pada awalnya pendidikan di Muhammadiyah dilakukan secara konvensional, misalnya melalui pengajian rutin di kampung-kampung dengan masjid atau rumah-rumah penduduk sebagai "ajang" pertemuan, maka sekarang ini (sebagian) pendidikan di Muhammadiyah sudah dilakukan secara modern atau setidak-tidaknya nonkonvensional. Kalau kini pengajian rutin masih dilakukan oleh insan Muhammadiyah saya tidak bermaksud menyatakan semuanya masih serba konvensional.        Pendidikan di Muhammadiyah yang dilakukan secara konvensio-nal pada tempo dulu secara perlahan tetapi pasti telah diubah metode dan pendekatannya secara nonkonvensional tanpa harus menghilangkan esensi dan substansinya. Dari dimensi tertentu justru dalam hal inilah letak kelebihan dan kehebatan Muhammadiyah.
PENDIDIKAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KOMPAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (130.499 KB)
Pendidikan dan masyarakat multikultural itu memiliki hubungan yang bersifat timbal balik (reciprocal relationship); artinya, kalau pada satu sisi pendidikan memiliki peran yang signifikan untuk membangun masyarakat multikultural maka di sisi yang lain masyarakat multikultural dengan segala karakternya itu memiliki potensi yang signifikan untuk memberhasilkan fungsi dan peranan pendidikan pada umumnya.        Hal itu berarti bahwa penguatan di satu sisi secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan penguatan pada sisi yang lain. Penguatan terhadap pendidikan, misalnya dengan memperbaiki sistem, mengefektif-kan kegiatan belajar, dsb, akan menambah keberhasilan dalam membangun masyarakat multikultural. Di sisi lain penguatan pada masyarakat multikul-tural, yaitu dengan mengelola potensi yang dimilikinya secara benar akan menambah keberhasilan fungsi dan peranan pendidikan pada umumnya.        Implikasinya, dilakukannya penguatan pada kedua sisi secara simultan akan memberikan hasil yang optimal, baik dari sisi peranan pendidikan maupun sisi pembangunan masyarakat multicultural itu sendiri. Â
MENIMBANG EFEKTIVITAS MULTIDEPARTEMENTASI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SUARA KARYA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (104.692 KB)
      Barangkali kejadiannya hanyalah secara kebetulan saja. Setelah di Jawa Barat terjadi kasus "Emen-Ganda" yang sempat menyita perhatian berbagai kalangan, khususnya kalangan pendidik, kini muncul kasus baru yang tidak kalah menariknya yakni kasus "Rahmat".      Secara kebetulan saja orang yang terlibat secara langsung dalam kasus tersebut- Emen, Ganda serta Rahmat ketiganya merupakan pelaku didik di SD, Sekolah Dasar. Juga secara kebetulan kasus tersebut munculnya di daerah propinsi yang sama. Dan mungkin secara kebetulan pula kalau dibalik kasus tersebut terdapat hal-hal yang bersifat "aneh" untuk ukuran masyarakat kita; lepas dari sah atau tidaknya "keanehan" tersebut.      Yang kiranya belum "kebetulan" ialah: kalau kasus Emen-Ganda sekarang ini sudah bisa diselesaikan secara musyawarah dan mufakat (?), sementara itu kasus "Rahmat" sedang menapaki medan. Ibarat pelari marathon, kalau Emen dan Ganda sudah memasuki garis "finish" maka Rahmat baru saja meninggalkan garis "start".      Emen dan Ganda dua pelaku didik di SD yang pernah ditu-runkan pangkat atau jabatannya serta dimutasikan tempat kerjanya kini sudah cukup lega. Meskipun pemutasian tempat kerja ternyata tidak bisa dihindari, namun mereka masih cukup beruntung karena masalah penurunan pangkat atau jabatan akhirnya dapat "dianulir".