Claim Missing Document
Check
Articles

APLIKASI KARAGENAN SEBAGAI CANGKANG KAPSUL KERAS ALTERNATIF PENGGANTI KAPSUL GELATIN Pipih Suptijah; Sugeng Heri Suseno; Kurniawati Kurniawati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 15 No 3 (2012): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 15 (3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v15i3.21434

Abstract

Karagenan merupakan polisakarida yang diekstrak dari rumput laut merah kelas Rhodophyceae yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku material berbasis polisakarida salah satunya adalah cangkang kapsul keras. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan karagenan sebagai bahan baku cangkang kapsul keras. Pembuatan cangkang kapsul keras dilakukan secara manual yaitu dengan pencelupan cetakan ke dalam larutan pembentuk kapsul. Formulasi larutan yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas empat perlakuan yaitu karagenan konsentrasi 3%, 4%, 5%, dan 6%. Formulasi karagenan terbaik dilihat dari parameter spesifikasi cangkang kapsul, kadar air, dan waktu hancur kapsul. Karagenan yang digunakan dalam pembuatan cangkang kapsul keras mengandung kadar air sebesar 18,38%, abu 17,58%, sulfat 17,90%, dan viskositas 124 cP. Cangkang kapsul yang diperoleh memiliki spesifikasi panjang kapsul bagian badan 17,75-18,45 mm dan tutup 11,23-11,42 mm, diameter badan 7,19-7,44 mm dan tutup 7,357,69 mm, volume 0,63-68 mL, ketebalan 0,029-0,151 mm, berat kapsul 0,037-0,129 g. Konsentrasi karagenan secara signifikan berpengaruh terhadap waktu hancur dan viskositas larutan pembentuk cangkang kapsul, namun tidak berpengaruh terhadap kadar air cangkang kapsul. Formulasi terbaik terdapat pada cangkang kapsul dengan konsentrasi karagenan 5% yang memiliki viskositas sebesar 6.10010.333 cP, kadar air sebesar 17,43%, dan waktu hancur 20,59 menit.
Pemanfaatan Kitosan dalam Daur Ulang Air sebagai Aplikasi Teknik Produksi Bersih Anggun Ratnawulan; Erliza Noor; Pipih Suptijah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 21 No 2 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 21(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.756 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i2.23044

Abstract

Industri pengolahan udang merupakan salah satu industri yang aktivitasnya menggunakan air dalam jumlah besar. Kuantitas dan efisiensi penggunaan air di industri tersebut sampai dengan saat ini belummendapat perhatian serius oleh pihak manajemen bila dibandingkan dengan perhatian terhadap mutu dan kualitas air yang digunakan. Produksi bersih menawarkan suatu strategi yang bersifat solutif untukmeminimalisir dan mengefisiensikan penggunaan sumberdaya air dan turut serta membantu pengelolaan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat konsentrasi biokoagulan kitosan dalamdaur ulang air limbah pencucian udang, kelayakan ekonomi dan manfaatnya bagi lingkungan. Penelitian ini secara teknis dilakukan dengan metode jar test, yaitu melalui proses koagulasi – flokulasi dan absorbsi dengan konsentrasi kitosan 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm. Paramater yang diamati meliputi BOD, COD, TSS, warna, kekeruhan, TDS, dan total coliform. Kelayakan ekonomi dilakukan melalui analisisB/C Ratio dan Payback periode, serta analisis lingkungan dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada konsentrasi larutan kitosan sebesar 15 ppm dengan dua kali proses koagulasi flokulasi danmelalui absorbsi kitosan serpihan 15 gram, efektif mengubah air limbah menjadi air bersih. Kitosan secara signifikan dapat menurunkan BOD 76%, COD 86%, TSS 61%, warna 85%, kekeruhan 89%, TDS 10%, dan totalcoliform. Penggunaan kitosan sebagai bahan daur ulang air layak secaraekonomi dilihat dari nilai B/C Ratio lebih dari 1, memiliki nilai Payback periode 4 bulan, dan secara lingkungan dapat menghemat penggunaan sumberdaya air.
Physicochemical Characteristics of Nanocalcium Extract from Bones of Yellowfin Tuna (Thunnus Albacares) Wiyan Viyata Prinaldi; Pipih Suptijah; Uju Uju
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 21 No 3 (2018): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.221 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v21i3.24708

Abstract

Fish bone calcium is known to have good bioavailability and can be used as a natural calcium source. This study was aimed to compare the physicochemical characteristics of nano-calcium from yellowfin tuna (Thunnus albacares) obtained by three different extraction methods: milling, acid and alkaline. The research was divided into three stages: preparation of bone powder, production ofnano-calcium from fish bone and characterization of the physicochemical properties of bone powder and nano-calcium. Acid extracted nano-calcium was found to have better properties as compared to that extracted by milling and alkaline as indicated by the degree of whiteness 92.61%, moisture content 0.33%, ash 99.03%, protein 0.19%, fat 0.22%, particle size 259 nm, calcium content 83.25% and phosphorus 9.65%. The Fourier Transform Infrared (FTIR) spectra profiles indicated the presence of phosphate group (PO43-) suggesting the nano-calcium was in the form of calcium phosphate apatite.
Hydroxyapatite Production from Cuttlebone as Bone Scaffold Material Preparations Krisman Umbu Henggu; Bustami Ibrahim; Pipih Suptijah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 22 No 1 (2019): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2244.688 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v22i1.25869

Abstract

The increasing production of cuttlefish has been associated with the increasing of by-product waste particularly cuttlebone. Cuttlebone is known to contain an inorganic element in form of calcium carbonate(CaCO3) which can be utilized as a source of calcium oxide (CaO) for hydroxyapatite synthesis. This study was aimed to determine the physicochemical characteristics of the cuttlebone and the optimum calcination temperature for CaO extraction and hydroxyapatite synthesis. This study was divided into three steps. Firstly, analysis of the cuttlebone physicochemical properties; secondly, extraction and characterization of the CaO with different calcination temperature (500°C, 600°C, 700°C for 6 hours); and thirdly, hydroxyapatite synthesis using a combination of hydrothermal method at 200°C 6 hours and different calcination treatments (800°C, 900°C, 1,000°C for 1 hour). The results showed that the cuttlebone contained moisture 3.54±0.11%,lipid 0.32±0.19%, protein 4.78±0.23%, carbohydrate 5.29±0.02%, and ash 89.61±0.26. The main element of the ash was CaCO3 aragonite characterized by the high absorption at wavelengths of 1,795; 1,507;1,083; 871; 713 and 700 cm-1. The calcination treatment of 700°C produced the highest amount of CaO. The hydroxyapatite produced with a combination of hydrothermal and calcination temperature 1,000°Chad calcium phosphate ratio (Ca/P) 1.66, crystalline level 90.10%, amorphous level 9.90% and particles morphology of rod-shaped.
Characteristics of Daggertooth Pike Conger Fish (Muraenesox cinerus) as Raw Material for Diversification Products Development Untung Trimo Laksono; Tati Nurhayati; Pipih Suptijah; Nani Nur’aenah; Teguh Setyo Nugroho
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 22 No 1 (2019): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.342 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v22i1.25878

Abstract

Daggertooth pike conger fish (Muraenesox cinerus) has elongated body shape similar to eels and distribute widely worldwide. The fish has edible portion of 50-60% but there has been less information regarding the chemical characteristics. The aim of this research was to determine chemical composition of daggertooth pike conger fish (proximate, amino acid, fatty acid and mineral) and textural properties from its kamaboko. Purposive sampling method applied in this research with length, freshness and distance from location as criteria. Analytical method performed including proximate, amino acids, fatty acids, and minerals (P, Na, Ca, K, Mg dan Fe). Chemical composition from daggertooth pike conger fish showed that on proximate levels of protein, fat, ash, carbohydrates and moisture content value were 12.273%, 4.96%, 1.17%, 1.12% and 80.49% respectively. Dominant macro minerals, namely potassium (K) 170.20 mg /100 g, Ca 90.75 mg /100 g, and Na 80.15 mg /100 g. Amino acid (AA), namely glutamic acid 2.68%, 1.57% lysine, leusine 1.25%, 1.54% aspartic acid and arginine 1:04%. Moreover, the essential fatty acids namely EPA (eicosa pentanoat acid) 0.6%, DHA (docosa hexanoat acid) 0.9%, 0.2% fatty acids linoleic, oleic and linolenic 1.4% 1.0%. CaCl2 (0.2-0.6%) addition to daggertooth pike conger kamaboko could improve textural quality.
Karakteristik fisikokimia kolagen larut asam dari kulit ikan parang-parang (Chirocentrus dorab) Mega Safithri; Kustiariyah Tarman; Pipih Suptijah; Neni Widowati
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 22 No 3 (2019): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.307 KB) | DOI: 10.17844/jphpi.v22i3.28924

Abstract

Waste of parang parang fish (Chirocentrus dorab) skin can be used as a source of collagen. Collagen isolation can be done chemically by the Acid Soluble Collagen (ASC) method. The objective of this research was to isolate collagen with ASC method and characterize their physicochemical. Collagen isolation consisted of pretreatment and hydrolysis with acids. The pretreatment used NaOH 0.1 M for 12 hours, while hydrolysis used acetic acid 0.5 M. Pretreatment results indicated that the concentration of non-collagen protein was 0.1243 mg/mL, while the yield collagen was 2.61%. The collagen had the viscosity of 6.50 cP, the denaturation temperature of 4°C, the transition temperature of 77.30°C, and the melting temperature of 153.90°C. The obtained collagen also had pH of 6.25. The fourier transform infrared (FTIR) spectra analysis showed the collagen contained amide A (3425.58), B (2924.09), I (1647.21), II (1543.05), and III (1246.02) (cm-1). The collagen also contained glycine (26.69%), proline (12.24%) and alanine (9.51%).
Optimasi Produksi Kitosan Larut Air menggunakan Metode Hidrolisis Bertekanan: Optimatization of Production Water Soluble Chitosan Using Pressurized Hidrolysis Method Sudianto; Sugeng Heri Suseno; Pipih Suptijah
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 23 No 3 (2020): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 23(3)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v23i3.30022

Abstract

Modifications for chitosan production continue to be done so as to produce various forms of chitosan in the form of chips, granules, membranes and gels. Meanwhile, to diversify the derivatives from chitosan still needs to be done, existing chitosan diversified products such as glucosamine and water soluble chitosan production needs to be done to increase diversification and expand the use of chitosan products. The purpose of this study was to determine the optimum conditions of the water soluble chitosan production process by hydrolysis pressure using the Box-Behnken Methodology Response Surface (RSM-BoxBehnken) with Design Expert 07.0.0 program software. The RSM-Box Behnken recommends optimum conditions for production of water soluble chitosan at 1.75% HCl concentration, 1:10 ratio fo chitosan, for 45 minutes (desirability 76.1%) resulting in yield of 79,5%, pH of 5,93, water content of 25.45% , ash content of 1.33%, nitrogen level of 4.78% and solubility of chitosan of 42.66%. Processing production water soluble chitosan using the optimum conditions from the RSM recommendation obtained yield of 80%, pH of 6.0, water content of 41.9% , ash content of 1.29%, nitrogen level of 3.28% and solubility of chitosan of 66.38%.
Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak dan Tepung Ikan Gabus dan Potensinya sebagai Imunomodulator: Isolation and Characterization Extract and Powder from Snakehead Fish (Channa striata) and It Potency as Immunomodulator Stocks. Maria Ivan Budju Niga; Pipih Suptijah; Wini Trilaksani
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol 25 No 1 (2022): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 25(1)
Publisher : Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v25i1.37831

Abstract

Ikan gabus (Channa striata) mengandung fraksi protein albumin yang besar dan potensial digunakan sebagai biofarmasi serta bahan substitusi albumin manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lama waktu pengukusan dan profil tepung ikan serta ekstrak daging dan ekstrak daging ikan dengan penyaringan dari ikan gabus sebagai sediaan imunomodulator. Ekstraksi albumin menggunakan metode pengukusan dengam lama pengukusan berbeda (10, 15, 20, dan 25 menit) dan albumin dianalisis menggunakan metode Bromocresol Green (BCG). Penelitian ini meliputi analisis proksimat dan logam berat ikan gabus, ekstraksi, analisis mineral, kadar albumin, berat molekul menggunakan SDS-PAGE, gugus fungsi menggunakan FTIR, ukuran partikel dan asam amino. Hasil penelitian menunjukan bahwa daging ikan gabus mengandung air 80,93%, lemak 1,37%, protein 16,76%, abu 0,65% dan karbohidrat 1,28%. Kandungan logam berat daging ikan gabus yaitu Hg 0,013-0,28 ppm dan Pb 0-0,637 ppm. Ekstraksi menghasilkan albumin daging segar 4,8 g/100 mL, ektrak daging 3,76 g/100mL, ekstrak daging dengan penyaringan 4,6g/100 mL dan tepung ikan 3,8 g/100 mL. Tepung ikan mengandung kadar protein 85,80%, air 9,26%, abu 2,67%, lemak 2,06% dan energi total 362,58 kkal/ 100 g. Ekstrak daging dengan penyaringan mengandung asam amino serina, lisina, asam aspartat, alanina, dan asam glutamat, serapan gelombang albumin 1.644,96 dengan berat molekul 63 hingga 70 kDa dan terdapat molekul IgG sebagai sediaan imunomodulator.
KARAKTERISASI DAN BIOAVAILABILITAS NANOKALSIUM CANGKANG UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Pipih Suptijah; Agoes M. Jacoeb; Nani Deviyanti
Jurnal Akuatika Vol 3, No 1 (2012): Jurnal Akuatika
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4460.716 KB)

Abstract

Cangkang udang berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan baku dalam proses pembuatan nanokalsium. Tujuan dari penelitian ini yaitu memanfaatkan cangkang udang vannamei menjadi nanokalsium, menentukan karakteristik nanokalsium secara fisik dan kimia serta mengetahui bioavailabilitas nanokalsium yang dihasilkan. Pembuatan nanokalsium dilakukan dengan metode presipitasi. Nanokalsium memiliki rendemen optimum oleh perendaman cangkang udang selama 48 jam (13,92%). Kadar kalsium optimum dihasilkan oleh perendaman cangkang udang selama  48 jam (85,49%). Hasil analisis AAS menunjukkan nanokalsium masih mengandung komponen mineral lain yaitu magnesium, kalium, natrium, fosfor, besi, seng, dan mangan. Nanokalsium yang dihasilkan memiliki nilai pH sebesar 9,40. Ukuran partikel nanokalsium berkisar antara 37-127 nm. Nanokalsium memiliki nilai derajat putih berkisar 81,73-93,39%, dengan rata-rata 87,56%.  Bioavailabilitas nanokalsium cukup tinggi pada menit ke-7 yaitu sebesar 63,3%.   Kata kunci : AAS, bioavailabilitas, cangkang udang Vannamei, nanokalsium, dan SEM
CHARACTERIZATION OF NANOHYDROXYAPATITE FROM TUNA’S Thunnus sp BONE AS BIOMATERIALS SUBSTANCE Aditya Bayu Hanura; Wini Trilaksani; Pipih Suptijah
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.345 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v9i2.19296

Abstract

Tuna Thunnus sp is a high-value fisheries products. The abundance of waste from tuna’s processing industry has not been used optimally. The objective of this study was to produce and characterize nanohidroxyapatite (Ca5(PO4)3((OH)0.8F0.2) of tuna’s Thunnus sp bone waste using high temperature sintering of 400-800OC continuing by nanomilling method. The results of the characterization showed that the sintering temperature of 800OC was the best treatment yielding of hidroxyapatite 57.73%, 89.27% white degree level. The result of statistic analysis showed that the sintering temperature variation gave a significant effect on the white degree at the test level (p <0.05). Proximate result after sintering showed moisture content of 0.15%, 99.83% ash, 0.05% fat, 0.73% protein and 0% crude fiber. Results of heavy metal analysis showed the content of lead (Pb) and mercury (Hg) was negative, and cadmium (Cd) 0.018 ppm. The mineral test consist of calcium, phosphor, kalium, magnesium, iron, zinc, manganese, and sodium with the dominant elements were 49.76% calcium and 9.02% phosphor. The result of statistic analysis showed that the sintering temperature variation gave significant effect to the three main minerals at the test level (p<0.05). The Particle Size Analyzer test showed that nanohidroxyapatite particles was measured at 800-900 nm. The X-Ray Diffractometer analysis showed the results of sample identification contains hydroxyapatite and fluorian, with syn 100.00%. The hidroxyapatite was a compound complex and crystals formed has a hexagonal shape with a percentage of 82.9% crystallinity. Keywords : bone, nanohidroxyapatite, particles, sintering, tuna
Co-Authors . Nurjanah . Prantommy . Uju A. Alhana Abdurrahman Ali Aditya Bayu Hanura Aditya Yudha Prawira Sukarno AGOES M. JACOB Agoes M. Jacoeb Agoes Mardiono Jacoeb Ahmad Zahid Anggraeny, Dyta Anggun Ratnawulan Anjarsari Anjarsari Asadatun Abdullah AYU BABY MUTIARA MANDELLA Ayu Fitri Izaki Bagus Sukma Agung Bambang Murdiyanto Basuki Wasis Bustami Ibrahim Bustami Ibrahim cholil - anwar Dadi Rochnadi Sukarsa Darma Sri Wahyuni Dery Firdaus Desie Rachmania DEWI APRI ASTUTI Dini Indriani Dini Nurfianti Diniah Diniah Dona Fradilla Bahri Endang Sri Heruwati Erliza Noor Evy Damayanthi Fajar Kurnia Budiman Fariz Pari, Rizfi Febri Gunawan Gregoria S. S. Djarkasi Hari Eko lrianto Henggu, Krisman Umbu Heni Sri Septiani Hijrah Amin Hilda Lu’lu’in Nanda Alfira Devi Inneke F. M Rumengan Irman Febrian JOHN HALUAN Joko Santoso Kamini Kamini Kiagus Dahlan Kurniawati Kurniawati Kustiariyah Tarman Laode Muhamad Hazairin Nadia Leily Amalia Lila Rani LINAWATI HARDJITO Lucia Cecilia Mandey Luh Putu Ratna Sundari Luntungan, Aldian H. MAGGY T WIJAYA MAGGY T. SUHARTONO Mala Nurilmala Maria Ivan Budju Niga Marina Marina Mega Safithri Meydia Meydia Mohammad Saleh Mulyono S. Baskoro N. Nurjanah Nani Deviyanti Nani Nur’aenah Neni Widowati Nisa Nantami Nofri Sandria Nugroho, Teguh Setyo ovintya - yanuarizki Putri Septembriani Putri Wening Ratrinia Raden Hilman Wirayudha Rezki Kamila Rimbawan , Ruddy Suwandi safrina dyah hardiningtyas Safrina, Dyah Saptari Joan Tatra Slamet Hermanto Sri Ningrum Pudjiastuti Stenly Wullur sudianto SUGARA MURSID Sugeng Heri Suseno Supriyono Eko Wardoyo SYAHRIAL SYAHRIAL syeila - rosmalawati Talumepa, Anggun C. N. TATI NURHAYATI Taufik - Hidayat Taufik Hidayat Tetty Kemala Tika Ayu Budiarti Ulfa Safitri, Anisa Untung Trimo Laksono Widyana Ayu Kristantina Winarti Zahiruddin Wini - Trilaksani Wiyan Viyata Prinaldi Wulandari Wulandari Yayandi Gushagia Yogaswara, Ghema Yugha Subagja Yunisha Aktinidia Zahidah mawardi Zhalindri Noor Adjani