Ahmad Syai
Unknown Affiliation

Published : 72 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

PERUBAHAN BENTUK PENYAJIAN TARI GUEL DI KABUPATEN ACEH TENGAH (KAJIAN SEJARAH) Indah Nirmala Sari; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 3 (2017): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research entitled “The form transformation of Guel dance in Central Aceh District (Historical study)”. Meanwhile, the problem of this research is how the Guel Dance in Central Aceh District transforms in terms of the dance form. This research aims to describe the form transformation of this Guel dance. This research use a qualitative approach in form of descriptive analysis. The subject of this research is the Guel dance’s artist and Guel dancer as well.  The object of this research is the form transformation of Guel dance in Central Aceh District. Technique of data collection in this research is done by observation to achieve a comprehensible image regarding the things being observed, an interview to seek the information deeply, and documentation which is done by investigating the belongings as well as pictures that can help the researcher in order to accomplish this research. The techniques of data analysis used are data reduction, data display, and conclusion drawing. The result of the research shows that Guel dance was originally presented as a tradition of welcoming the royal guests, this dance also presented in a certain families’ wedding parties. The Guel dance then had a change in form so it became the compulsory element that is presented in the Gayonese wedding celebration especially in the Central Aceh District and Bener Meriah. As the era keeps developing, the Guel dance has changed in terms of its form. Hence, this dance is widely presented for the purpose of entertaining and shown in a lot of art events among people in Central Aceh District. The Guel Dance is not changed specifically due to the fact that it still is the same in term of presentation, it only had a transformation in several parts such as the attire, musical instruments, and the number of the dancer. The Guel dance still show its originality by preserving the symbol of white elephant and Senggeda (didong) in its dance.Key words: Guel dance, form transformation
PEMANFAATAN LIMBAH BOTOL BEKAS PADA PEMBELAJARAN BINA DIRI DI SMALB-CD YPAC II BANDA ACEH Asmaul Husna; Ahmad Syai; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.817 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Pemanfaatan Limbah dalam Pembelajaran Bina Diri di SMALB-CD YPAC II Banda Aceh” mengangkat masalah tentang bagaimana proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus dan apa hambatan guru dalam proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pemanfaatan limbah botol bekas dalam pembelajaran bina diri serta mendeskripsikan hambatan guru dalam proses pemanfaatan limbah botol bekas pada pembelajaran bina diri pada anak berkebutuhan khusus pendekatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek pada penelitian ini adalah guru dan siswa sedangkan Objek pada penelitian ini adalah pemanfaatan limbah dalam pembelajaran bina diri kelas XII  Lokasi penelitian ini di SMALB-CD YPAC II Banda Aceh, jalan Banda Aceh-Medan, Gampong Santan, Kecamatan Ingin Jaya Aceh Besar. Teknik Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi serta pengolahan dan analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan  limbah pada pembelajaran bina diri guru mengajarkan cara pembuatan kerajinan dari bahan limbah botol bekas yang diikuti semua siswa berlangsung dengan baik. Guru menanyakan kembali kepada siswa apa saja bahan-bahan yang digunakan dalam membuat kerajinan dari botol bekas yang sudah diajarkan dan dibuat saat pembelajaran berlangsung. Selain itu juga terdapat beberapa hambatan dalam pemanfaatan limbah dalam pembelajaran bina diri yaitu guru harus pelan-pelan dan lebih intensif mengajar cara membuat kerajinan, karena mereka mudah lupa, dan sewaktu-waktu bisa saja mudah lelah.Kata kunci: limbah, pembelajaran, bina diri,   
PROSES PEMBELAJARAN GITAR AKUSTIK PADA KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SMP NEGERI 1 BANDA ACEH Faralita Lestari; Ahmad Syai; Ramdiana Ramdiana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 4, No 3 (2019): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul penelitian ini adalah proses kegiatan ekstrakurikuler Gitar di Sekolah SMP Negeri 1 Banda Aceh. Rumusan permasalahannya terkait tentang bagaimana pembelajaran gitar akustik pada kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Banda Aceh dan apa saja kendala yang dialami guru pada kegiatan ekstrakurikuler gitar di sekolah tersebut. Tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah untuk mendeskripsikan kegiatan ekstrakurikuler gitar yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Banda Aceh dan untuk mendeskripsikan kendala apa saja yang dialami guru pada ekstrakurikuler di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif sedangkan jenis pendekatannya adalah deskriptif. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SMP Negeri 1 Banda Aceh, sedangkan objek penelitiannya adalah proses pembelajaran   ekstrakurikuler gitar disekolah tersebut. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk teknik analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengembangan kepribadian siswa termasuk dalam katagori baik dalam proses pembelajaran gitar yang dilaksanakan selama 2-3 bulan dari bulan Agustus sampai November.  Tahapan-tahapan yang dilakukan pada penelitian ini adalah mula-mula siswa dan siswi mengenal tali/senar pada senar gitar 1 sampai 6 dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Bungong Jeumpa”, sampai mereka hafal terhadap irama lagu tersebut, kemudian guru mulai memberikan akord lagu “bungong jeumpa”. Sambil siswi belajar akord tersebut guru ikut membimbing pada saat proses latihan. Tahap selanjutnya yang dilakukan guru adalah dengan mengajar satu perasatu. Untuk latihan pada lagu “Bungoeng Jeumpa” dibutuhkan latihan dan pengulangan terus menerus sampai mereka bisa bermain gitar dengan baik dan benar, diantaranya dengan menggunakan teknik penjarian. Untuk latihan selanjutnya proses latihan yang dilakukan selanjutnya proses latihan yang dilakukan masih sama ketercapaiannya terkait dengan teknik serta menstabilkan tempo agar tempo lagu yang dimainkan tidak lari.Kata kunci: Proses, Latihan, Ekstrakurikuler, Gitar
BENTUK PENYAJIAN TARI LANGKIR DEHWER DI KECAMATAN TEUPAH SELATAN KABUPATEN SIMEULUE Dwi Restika; Ahmad Syai; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 3 (2016): AGUSTUS
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.954 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini tentang “Bentuk Penyajian Tari Langkir Dehwer di Kecamatan Teupah Selatan Kabupaten Simeulue”. Mengangkat masalah bagaimana bentuk penyajian dan makna tari Langkir Dehwer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Langkir Dehwer serta makna yang terkandung dalam tari Langkir Dehwer. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriftif. Data penelitian ini bersumber dari para seniman dan pelatih yang mengetahui tentang tarian Langkir Dehwer di Desa Pasir Tinggi Kecamatan Teupah Selatan Kabupaten Simeulue. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yaitu: mereduksi data, display data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa tari Langkir Dehwer ditarikan oleh delapan orang penari, empat penari perempuan dan empat penari laki-laki. Tetapi penari perempuan tetap diperankan oleh laki-laki, karena tari yang berpasangan dengan perempuan tabu di kalangan masyarakat Simeulue khususnya di desa Pasir tinggi Kecamatan Teupah Selatan. Tari ini memiliki 33 gerakan, tetapi banyak pengulangan gerak, 21 jenis pola lantai, alat musik yang digunakan adalah Gendang. Properti yang digunakan delapan helai tali nilon. Tata rias penari menggunakan bedak tabur secukupnya saja, bahkan tidak digunakan sama sekali karena semua penarinya laki-laki dan sudah berumur. Secara garis besar, makna yang terkandung dalam rangkaian gerak tari Langkir Dehwer adalah makna bagaimana tata cara kehidupan bermasyarakat. Tarian ini ditampilkan pada acara pernikahan, khitanan, dan acara-acara adat lainnya.Kata kunci: bentuk penyajian, tari Langkir Dehwer   
FUNGSI DAN BENTUK PENYAJIAN ALAT MUSIK CANANG DALAM PROSESI ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT GAYO DI KABUPATEN ACEH TENGAH Nurul Fitriah; Ahmad Syai; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 3, No 2 (2018): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.93 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini berjudul Fungsi dan Bentuk Penyajian Alat Musik Canang Dalam Prosesi Adat Perkawinan Masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan rumusan masalah Bagaimana fungsi alat musik Canang dalam prosesi adat perkawinan masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah, dan Bentuk Penyajian alat musik Canang dalam prosesi adat perkawinan masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Tujuan penelitian adalah untuk mendeksripsikan fungsi dan Bentuk Penyajian alat musik Canang dalam prosesi adat perkawinan masyarakat Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif   dengan   jenis   penelitian   deskriptif.   Pengumpulan   data   dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.  Teknik  analisis  data dilakukan  secara kualitatif yaitu berupa reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 2 prosesi dalam adat perkawinan, yaitu Beguru yang berfungsi meliputi: (1) Canang sebagai hiburan (2) Canang sebagai ungkapan emosional (3) Canang sebagai sarana komunikasi (4) Canang sebagai simbolis, Mah bayi yang berfungsi meliputi: (1) Canang sebagai hiburan (2) Canang sebagai sarana komunikasi (3) Canang sebagai simbolis, dan bentuk penyajian  alat musik  Canang dalam prosesi Beguru meliputi: (1) Pemain Canang (2) Intrument yang digunakan yaitu, Canang, Memong, Gong Rebana, Pemukul Canang (3) Waktu dan tempat pertunjukan (4) Kostum pemain (5) Lagu/irama, dan bentuk penyajian alat musik Canang dalam prosesi  Mah bayi meliputi: (1) Pemain Canang (2) Intrument yang digunakan yaitu, Canang, Memong, Gong Rebana, Pemukul Canang, peluit (3) Waktu dan tempat pertunjukan (4) Kostum pemain (5) Lagu/irama. Kata Kunci: fungsi, bentuk penyajian, alat musik Canang
EKSISTENSI TARI LIKOK PULO DI PULAU ACEH KABUPATEN ACEH BESAR (TAHUN 2005-2015) Panji Gunawan; Ahmad Syai; Aida Fitri
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.239 KB)

Abstract

ABSTRAK             Penelitian ini berjudul Eksistensi Tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar (Tahun 2005-2015) rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana eksitensi tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar Tahun (2005-2015) Tujuan  penelitian ini adalah mendeskripsikan Eksistensi Tari Likok Pulo di Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar (Tahun 2005-2015). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian Deskriptif. Sumber data yang diperoleh dari Syeh tari tradisional Likok Pulo, masyarakat di Pulau Aceh, dan para penari Likok Pulo. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari tradisional Likok Pulo merupakan salah satu kesenian tradisional Aceh yang berasal dari Pulau Aceh. Tarian tradisional Likok Pulo ini sudah tidak eksis lagi di kalangan masyarakat luas tapi masih tetap digemari oleh masyarakat pulau aceh tersebut Seniman yang ada di pulau aceh ini sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di masyarakat,bahwa pemerintah masih kurang peduli terhadap keberadaan tarian ini, hasilnya banyak masyarakat yang kurang berminat dan mulai meninggalkan tarian tradisional tersebut. Di kalangan pemuda dan pemudi daerah itu sendiri juga tidak banyak yang melestarikan adat dan istiadat tersebut, dikarenakan oleh alasan tertentu seperti, harus pergi ke sekolah, bekerja, dan malu untuk menarikan tarian tradisional, dikarenakan yang menari itu mayoritasnya adalah wanita.Kata kunci: eksistensi, tari Likok Pulo, masyarakat, kesenian.
BENTUK DAN MOTIF NISAN PLAK-PLIENG KERAJAAN LAMURI ACEH Rajes Ikhlas Rosaguna; Ahmad Syai; Lindawati Lindawati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 1 (2016): FEBRUARI 2016
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.474 KB)

Abstract

ABSTRAKPemilihan dalam objektifitas fisik sebuah obyek yaitu dengan bentuk dan permuakaannya seperti pada motif Nisan Plak-plieng Kerajaan Lamuri Aceh”, mengangkat masalah bagaimana bentuk dan motif pada nisan Plak-plieng kerajaan Lamuri Aceh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan motif pada nisan Plak-plieng kerajaan Lamuri Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian berlokasi di Desa Lamreh Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan ukurannya, nisan Plak-plieng dibagi dalam empat jenis yaitu nisan Plak-plieng tipe A, B, C dan D. Bentuk dari nisan tersebut ada dua yaitu bentuk balok vertikal tegak dengan ujung kepala atau atapnya berbentuk atap kuil dan bentuk balok vertikal dengan ujung kepala atau atapnya berbentuk piramid/limas segitiga. Motif hias yang terdapat pada nisan Plak-plieng tipe A yaitu motif bungoeng Seureupeu, bungoeng Awan, bungoeng Puta Taloe Dua, bungoeng Glima, bungoeng Teratai Mekar, dan bungoeng Gapeuh. Motif hias pada nisan Plak-plieng tipe B yaitu  bungoeng Seureupeu, bungoeng Glima, bungoeng Awan, bungoeng Jeumpa, bungoeng Awan Sitangkee, dan bungoeng Pua Taloe Dua. Motif pada nisan Plak-plieng tipe C yaitu motif bungoeng Seuleupo, bungoeng Awan Sitangkee, bungoeng Puta Taloe Dua dan bungoeng Sagoe. Motif hias pada nisan Plak-plieng tipe D yaitu motif bungoeng Seureupeu, bungoeng Awan Sitangkee dan bungoeng Glima. Pada nisan kecil dan besar terdapat perbedaan ukiran yaitu pada nisan besar terdapat ukiran Inskripsi (tulisan pemilik makam dan cuplikan kata-kata sastra) sedangkan pada nisan kecil hanya terdapat motif hias saja. Kata Kunci: Bentuk, motif, nisan Plak-plieng.
BUAI DI LUAN SORIP KAMPUNG AIR SIMEULUE TENGAH Irma Yulinanda; Ahmad Syai; Nurlaili Nurlaili
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 2, No 4 (2017): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.481 KB)

Abstract

ABSTRAK            Penelitian ini berjudul “Buai di Luan Sorip Kampung Air Simeulue Tengah” mengangkat masalah bagaimana perkembangan Buai di Luan Sorip Kampung Aie simeulue tengah, dan makna syair Buai di Luan Sorip Kampung Aie Simeulue Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Perkembangan dan makna syair Buai di Luan Sorip Kampung Aie Simeulue tengah. Sumber data dalam penelitian adalah pencipta syair Buai, Penlantun Buai, masyarakat desa Luan Sorip. Penelitian dilakukan di desa Luan Sorip Kampung Air Simeulue Tengah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan mereduksi data, display data, dan verivikasi/drawing conclusion. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa Buai adalah bermula dari sebuah tradisi mengayunkan anak sambil menyanyi hingga anak tertidur pulas. Pada tahun 1783 Buai diciptakan menjadi sebuah seni tradisi yang menggabungkan antara seni vokal dan syair sebagai unsur utamanya. Syair di dalam Buai ini terdapat banyak nasehat-nasehat dan wejangan untuk para pendengarnya. Buai dimainkan pada acara mallaulu yaitu malam sebelum akat nikah berlangsung. Pada awal penciptanya Buai dimainkan pada acara pernikahan Kajo (pernikahan besar) saja, perkembangan selanjutnya Buai sudah dimainkan di acara apasaja yang meminta Buai ini ditampilkan termasuk mallaulu pernikahan, mallaulu sunat rasul, jamuan makan dan sebagainya. Buai ini juga mempunyai banyak makna dalam syairnya karena syair Buai ini menggunakan bahasa perumpamaan yang mempunyai arti tentang pentingnya kehidupan. Biasanya saat Buai ditampilkan orang yang mendengarkanya akan berlinang air mata.Kata kunci: Buai, Simeulue Tengah
BENTUK PENYAJIAN TARI RAMPHAK DI SANGGAR RAMPOE BANDA ACEH Ferdi Junanda; Ahmad Syai; Tengku Hartati
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 1, No 4 (2016): NOVEMBER
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.322 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul “Bentuk Penyajian Tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh” mengangkat masalah tentang bagaimana bentuk penyajian tari Ramphak dalam acara pertunjukan atau hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penyajian tari Ramphak di sanggar Rampoe Banda Aceh. Sumber data dalam penelitian ini adalah koordinator sanggar Rampoe (Zulkifli), penari sanggar Rampoe Banda Aceh. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan teknik analisis data dengan mereduksi, display, serta verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Ramphak dikembangkan oleh Yusri Sulaiman pada tahun 2006 yang ditarikan oleh 8 orang penari wanita dan empat orang penari pria. Tarian ini memiliki 31 gerakan yaitu 15 gerak wanita,15 gerak pria dan 1 gerak bersama. Gerak yang terdapat pada tari ini adalah gerak-gerak cuplikan dari beberapa tari tradisional di Aceh, seperti tari saman, ratoeh duek, laweut dan seudati.Tari Ramphak diiringi dengan syair Aceh yang dilantunkan oleh syeh. Tari Ramphak termasuk ke dalam tari pertunjukan yang berfungsi sebagai hiburan semata. Kata Kunci: bentuk, penyajian, tari Ramphak
PEMBELAJARAN EKSTRAKURIKULER TARI LIKOK PULO PADA SISWA TUNA RUNGU DI SMPLB ANEUK METUAH KOTA JANTHO Zilfa Rizki; Ahmad Syai; Cut Zuriana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik Vol 5, No 2 (2020): MEI
Publisher : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Seni, Drama, Tari & Musik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pembelajaran Ekstrakurikuler Tari Likok Pulo pada Siswa Tuna Rungu di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho”. Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana proses pembelajaran ekstrakurikuler Tari Likok Pulo di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho, dan kendala apa saja yang ditemui guru dalam kegiatan ektrakurikuler Tari Likok Pulo pada siswa Tuna Rungu di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran ekstrakurikuler Tari Likok Pulo pada siswa Tuna Rungu di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho, dan untuk mendeskripsikan kendala guru dalam kegiatan Ekstrakurikuler Tari Likok Pulo pada siswa Tuna Rungu di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses belajar dalam kegiatan ekstrakurikuler Tari Likok Pulo pada siswa Tuna Rungu di SMPLB Aneuh Metuah Kota Jantho berjalan dengan baik. Hal ini dibuktikan melalui prestasi yang telah diraih siswa dalam berbagai perlombaan tari, meskipun guru yagn melatih Tari Likok Pulo tersebut lulusan dari IAIN Ar-Raniry, namun siswa-siswi di SMPLB Aneuk Metuah Kota Jantho mampu menarikan Tari Likok Pulo dengan baik. Metode yang digunakan pada saat proses belajar mengajar berlangsung adalah metode physical prompting, metode gestural prompting, direct instruction, dengan menerapkan pendekatan konstektual, dan media stimulasi audiotoris pada proses pembelajaran tari yang sesuai dengan kemampuan siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.Kata Kunci: Ekstrakurikuler, Likok Pulo, Tuna Rungu