Claim Missing Document
Check
Articles

FORMULASI DAN EVALUASI HANDBODY LOTION BERBAHAN DASAR LEMAK TENGKAWANG (Illipe Butter) Diba, Farah; Afra, Akwilina; Tavita, Gusti Eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.71156

Abstract

Tengkawang seeds are one of the non-timber forest products that can be processed into Borneo tengkawang fat. Tengkawang fat contains myristic acid, palmitic acid, stearic acid, oleic acid and linoleic acid. The acid content in tengkawang fat has properties that can moisturize the skin for a long time so tengkawang fat can be used as an ingredient in handbody lotion formulas. This study aimed to formulate and evaluate a handbody lotion from tengkawang fat during a 28 day storage period. The benefits of this research are obtaining formulations and providing information regarding the potential use of tengkawang fat as a hand lotion. This research was made with variations in the concentration of tengkawang fat 1%, 3%, 6% and 9%. The results of the study showed that all concentrations of tengkawang fat in handbody lotion had good properties during the storage period.Keywords : Handbody Lotion, Tengkawang Fat, Tengkawang SeedsAbstrakBiji tengkawang merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu yang bisa diolah menjadi lemak tengkawang. Lemak tengkawang mengandung asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam oleat dan asam linoleat. Kandungan asam pada lemak tengkawang memiliki sifat yang dapat melembabkan kulit dalam waktu lama sehingga lemak tengkawang bisa dijadikan bahan pada formula handbody lotion. Tujuan dari penelitian ini memformulasikan dan mengevaluasi handbody lotion dari lemak tengkawang selama masa penyimpanan 28 hari. Manfaat dari penelitian ini memperoleh formulasi dan memberikan informasi mengenai potensi pemanfaatan lemak tengkawang sebagai handbody lotion. Penelitian ini dibuat dengan variasi konsentrasi lemak tengkawang 1%, 3%, 6% dan 9%. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa semua konsentrasi lemak tengkawang pada handbody lotion memiliki sifat yang baik selama masa penyimpanan. Kata kunci : Handbody Lotion, Lemak Tengkawang, Biji Tengkawang
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DI DESA RAWAK HILIR KECAMATAN SEKADAU HULU KABUPATEN SEKADAU Tavita, Gusti Eva; Issan, Kurniawan Pratama; Yanti, Hikma
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.63472

Abstract

Bamboo is one of the non-timber forest products (NTFPs) used for various needs by the people of Rawak Hilir Village, Sekadau Hulu District, Sekadau Regency. Aims of the study was to obtain data on the use of bamboo by the people of Rawak Hilir Village. The benefits of this research are expected to be used as a source of information regarding the types and forms of bamboo utilization in Rawak Hilir Village. This study used a survey method with direct interview techniques. Data collection used a list of questions or questionnaires in the form of questions directed at several respondents. A sampling at the research location was carried out using purposive sampling, namely, respondents with extensive knowledge about the local name of bamboo and the benefits of bamboo. One hundred thirty-nine people were used as respondents. Based on the results in the field, 7 species of bamboo were obtained, namely Muntik (Schizostachyum sp), Aor (Bambusa blumeana J.A.&J.H.Schulz), Buluh (Schyzostachyum brachycladum Kurz), Botong (Dendrocalamus asper (Schult)Backer ex Heyne), Porin (Gigantochloa levis Blanco), Porin Anyang (Gigantochloa balui K.M. Wong ), and Pensak (Bambusa multiplex (Lour)ReauschJ.A.& Schult). Found 4 species of bamboo utilized by the people of Rawak Hilir Village, Sekadau Hulu District, Sekadau Regency, namely as handicraft, consumption, construction, and ritual/traditional ceremonial materials.Keywords: Bamboo, Community, Non-Timber Forest Products, Rawak Hilir Village, UtilizationAbstrakBambu merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan oleh masyarakat desa Rawak Hilir Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau. Oleh karena itu,  penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data pemanfaatan bambu oleh masyarakat Desa Rawak Hilir. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber informasi mengenai jenis serta bentuk pemanfaatan bambu di Desa Rawak Hilir. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik wawancara secara langsung. Pengumpulan data menggunakan alat bantu yaitu daftar pertanyaan atau kuisioner berupa bentuk-bentuk pertanyaan yang diarahkan kepada sejumlah responden. Pengambilan sampel di lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan purposive sampling, yaitu responden yang memiliki pengetahuan luas mengenai nama lokal bambu dan manfaat bambu, masyarakat yang dijadikan responden sebanyak 139 orang. Berdasarkan hasil di lapangan, diperoleh 7 jenis bambu yaitu Muntik (Schizostachyum sp), Aor (Bambusa blumeana), Buluh (Schizostachyum brachycladum), Botong (Dendrocalamus asper), Porin (Gigantochloa levis), Porin anyang (Gigantochloa balui), dan Pensak (Bambusa multiplex). Ditemukan 4 jenis pemanfaatan bambu oleh masyarakat Desa Rawak Hilir Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau yaitu sebagai bahan kerajinan, bahan konsumsi, bahan kontruksi, dan bahan ritual/ upacara adat.Kata kunci: Bambu, Masyarakat, Hasil Hutan Bukan Kayu, Desa Rawak Hilir, Pemanfaatan.
POTENSI DAN PEMANFAATAN AREN (Arenga pinnata) OLEH MASYARAKAT DI DESA GEMA KECAMATAN SIMPANG DUA KABUPATEN KETAPANG M, Iskandar A; Wirando, Wirando; Tavita, Gusti eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 4 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i4.64258

Abstract

The sugar palm plant (Arenga pinnata) is a versatile palm plant that can be used in almost all parts and has economic value. The research objective was to obtain information on the potential and utilization of Aren for further use by the community in Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency. The research was carried out in February-March 2022 using the census method, namely to take an inventory of sugar palm plants based on growth rates, interviews and documentation. The results showed that there were 242 individual Aren plants in Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency with a potential of 47.93% not yet productive Aren plants, 26.85% almost productive Aren plants, 9.91% productive Aren plants, and 9.91% non-productive Aren plants. Productive 15.41%. The people of Gema Village, Simpang Dua District, Ketapang Regency use male flowers which can produce palm sap water as a raw material for making palm sugar, which is divided into jiroh (liquid sugar), solid sugar (brown sugar) and ant sugar. In addition, the fruit is used as fruit and fro, the leaves are used as a wrapper for solid sugar (brown sugar) and broom sticks and fibers are used as a substitute for filters and as a lid for water.Keywords: Aren, Potential Aren, Utilization Of Aren.AbstrakTumbuhan Aren (Arenga pinnata) merupakan tumbuhan palma yang serbaguna dapat dimanfaatkan hampir disemua bagian dan memiliki nilai ekonomi. Tujuan penelitian untuk mendapatkan informasi terhadap potensi dan pemanfaatan Aren untuk selanjutnya dapat dimanfaatatkan secara terus menerus oleh masyarakat di Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang. Penelitian  dilaksanaan pada Februari-Maret 2022  menggunakan metode sensus, yaitu untuk menginventarisasi tumbuhan Aren berdasarkan tingkat pertumbuhan, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sejumlah 242 individu tumbuhan Aren di Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang dengan potensi tumbuhan Aren belum produktif 47,93%, tumbuhan Aren hampir produktif 26,85%, tumbuhan Aren sedang prodktif 9,91%, dan tumbuhan Aren tidak produktif 15,41%. Masyarakat Desa Gema Kecamatan Simpang Dua Kabupaten Ketapang memanfaatkan bunga jantan yang dapat menghasilkan air nira Aren sebagai bahan baku pembuatan gula Aren yang terbagi menjadi jiroh (gula cair), gula padat (gula merah) dan gula semut. Selain itu buah dimanfaatkan sebagai kolang-kaling, daun dimanfaatkan sebagai pembungkus gula padat (gula merah) maupun sapu lidi dan ijuk dimanfaatkan sebagai penganti penyaring maupun sebagai tutup labu air.Kata kunci: Aren, Potensi Aren, Pemanfaatan Aren.
ETNOBOTANI TANAMAN KRATOM (Mitragyna speciosa) OLEH MASYARAKAT DI SEKITAR DAS LABIAN DI DESA LABIAN IRA"™ANG KECAMATAN BATANG LUPAR KABUPATEN KAPUAS HULU Herawatiningsih, Ratna; sabtiani, Rita; Tavita, Gusti Eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.72344

Abstract

Ethnobotany is a branch of science that studies the direct relationship between humans and plants in terms of their use and management, especially in traditional societies. The aim of this research is to document the ethnobotany and use of the kratom plant by the community in Labian Ira'ang Village. The Kratom plant (Mitragyna speciosa) is a type of endemic plant originating from Kalimantan and planted by the people of Labian Ira'ang village. There are two types of Kratom plants in Labian Ira'ang Village, namely red leaf veins and green leaf veins. The results of this research found that the ethnobotanical kratom plant can be used as traditional medicine, can also be used in traditional events, and can be used as a natural dye to make woven fabrics. Apart from that, kratom leaves have high economic value because they can be sold and are in great demand, while kratom wood can be used as a building material, for example to make huts and firewood for the community. The leaves can be used as mosquito coils.Keywords: Alkaloids, Mitragynin, Herbal Kratom Tea.Abstrak  Etnobotani adalah cabang keilmuan yang mempelajari hubungan langsung antara manusia dengan tumbuhan dalam hal pemanfaatan dan pengelolaannya terutama pada masyarakat tradisional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendokumentasi etnobotani dan pemanfaatan tanaman kratom oleh masyarakat di Desa Labian Ira"™ang. Tanaman Kratom   (Mitragyna speciosa) merupakan salah satu jenis tumbuhan endemik yang berasal dari Kalimantan dan ditanam oleh masyarakat di desa Labian Ira"™ang. Tanaman Kratom di Desa Labian Ira"™ang   terdapat dua jenis yaitu vena daun merah dan vena daun hujau. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa etnobotani tanaman kratom ini dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional, dapat juga dimanfaatkan dalam acara adat, dan dapat dijadikan sebagai pewarna alami untuk membuat kain tenunan. Selain itu daun kratom mempunyai nilai ekonomis  yang tinggi karena dapat dijual serta banyak peminatnya, sedangkan   kayu kratom  bisa digunakan sebagai bahan bangunan misalnya untuk membuat pondok dan kayu bakar bagi masyarakat. tulang daunnya dapat digunakan untuk obat nyamuk bakar.Kata kunci: Alkaloid, Mitragynin, Herbal Teh Kratom.
Rehabilitasi Ekosistem Mangrove di Kawasan Destinasi Wisata Pantai Batu Burung Kota Singkawang Tavita, Gusti Eva; Ashari, Asri Mulya; Helena, Shifa
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2024): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i1.1548

Abstract

Pantai Batu Burung adalah salah satu destinasi wisata berbasis lingkungan pantai di Singkawang yang di tepian pantainya dikeiling pohon mangrove. Salain sebagai tempat wisata, wilayah ini juga digunakan sebagai jalur transportasi dan wilayah penangkapan ikan. Dengan aktivitas tersebut, memungkinkan terjadinya perubahan garis pantai, dan tentunya berpengaruh terhadap kualitas ekosistem mangrove yang dimilikinya. Pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan rehabilitasi mangrove di pantai Batu Burung dengan tujuan untuk mengedukasi peserta kegiatan melalui ceramah edukatif tentang pentingnya menjaga kelestarian ekosistem mangrove, dirangkaikan dengan giat langsung penanaman mangrove di kawasan tersebut.  Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang peserta yaitu mahasiswa bersama masyarakat setempat untuk bersinergi dalam rehablitasi mangrove di kawasan Pantai Batu Burung. Edukasi tentang bagaimana memelihara lingkungan pesisir agar tidak terdegradasi akibat aktivitas manusia, dilakukan di areal penanaman mangrove dengan metode ceramah. Selanjutnya dilakukan penanaman pohon mangrove Rhizopora sp. sebanyak 33 batang bibit untuk setiap peserta. Evaluasi kegiatan ini menunjukkan keberhasilan penanaman 1000 pohon mangrove Rhizopora di pantai Batu Burung, dan kuisioner yang dibagikan di awal dan akhir kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan mahasiswa dalam memahami  pentingnya melakukan rehabilitasi terhadap \ ekosistem pesisir dan menjaganya dari kerusakan terutama diakibatkan oleh aktivitas manusia. Rehabilitation of the Mangrove Ecosystem in the Batu Burung Beach Tourism Destination Area, Singkawang City Abstract: Batu Burung Beach is one of the environmentally based coastal tourist destinations in Singkawang, with mangrove trees lining its shoreline. Apart from serving as a tourist attraction, this area is also used for transportation routes and fishing activities. With these activities, it is possible for changes in the coastline to occur, which, of course, have an impact on the quality of its mangrove ecosystem. In this Community Service activity, mangrove rehabilitation is carried out at Batu Burung Beach with the aim of educating participants through informative lectures on the importance of preserving the mangrove ecosystem, coupled with direct mangrove planting in the area. This activity is attended by 30 participants, including students and local residents, to work together in rehabilitating the mangroves at Batu Burung Beach. The evaluation of this activity shows the successful planting of 1000 Rhizophora mangrove trees at Batu Burung Beach. Education on how to maintain the coastal environment so that it is not degraded due to human activities is carried out in mangrove planting areas using the lecture method. Next, 33 Rhizopora mangrove seeds were planted for each participant and questionnaires distributed at the beginning and end of the activity show an increase in students' ability to understand the importance of rehabilitating the condition of coastal ecosystems and protecting them from damage, especially caused by human activities.
EDUKASI DAN SOSIALISASI PELESTARIAN HUTAN MANGROVE PADA MASYARAKAT DI WILAYAH MANGROVE KUALA, KABUPATEN MEMPAWAH Tavita, Gusti Eva; Amir, Amriani
Bina Bahari Vol 2, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, FMIPA Universitas Tanjungp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/binabahari.v2i2.35

Abstract

Mangrove forests have an important role in our environment, some of which are as a barrier to abrasion and as a source of food and the community's economy. Disruption of the balance of the mangrove forest ecosystem, will cause a decrease in these functions. This Community Service Activity (PKM) aims to educate and socialize the mangrove forest conservation program to residents around the Kuala Mempawah mangrove forest. This activity was carried out using the lecture method and continued with the planting of mangrove trees along the coastline that had been previously damaged. The enthusiasm of the residents in maintaining and preserving the mangrove forest is very high and they work together to plant so that all the seeds provided can be planted.Education, conservation, abrasion, mangrove
Determination of Physical Chemical Properties and Antioxidant Potential of Bajakah Tampala Herbal Tea (Spatholobus littoralis Hassk) Hartanti, Lucky; Rafdinal, Rafdinal; Ashari, Asri Mulya; Apindiati, Rita Kurnia; Tavita, Gusti Eva; Fadliah Nur, Andi Denisa; Warsidah, Warsidah
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 6 No. 3 (2022)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v6i3.764

Abstract

Herbal tea is one of the functional drinks, which is consumed for the purpose of preventing or treating disease. The number of side effects that arise from the consumption of drugs made from synthetic or chemical materials has led to a tendency for people to return to consuming herbal plants as a solution to health problems. The purpose of this study is to make tea from the roots of tampala (Spatholobus littoralis Hassk) and to test the physical and chemical properties, organoleptic examination and determination of antioxidant activity. Testing of physical and chemical properties including water content, ash content and pH of the preparation, organoleptic examination including taste and odor and color of the brewed solution and determination of antioxidant activity was carried out using the DPPH method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazil). The results of the physicochemical test of tampala tea showed that a pH of 6.8, water content of 7.63%, ash content of 7.7%. On organoleptic examination, the tea using the brewed water showed a slightly sour taste, a characteristic wood smell and a brownish yellow color. Based on the physical and chemical character of the tampala herbal tea test results, it meets the requirements of SNI No. 3836 of the 2013 National Standardization Agency, while the antioxidant test results of the tampala herbal tea was obtained an IC50 value (Inhibition Concentration 50) of 89.63 ppm, included in the category of strong antioxidant potential, because it is in the category of strong antioxidant potential. in the range of 50-100 ppm.
PEMANFAATAN BAMBU OLEH MASYARAKAT DUSUN SINAR HARAPAN KECAMATAN TEKARANG KABUPATEN SAMBAS Gunawan, Andri .; M, Iskandar A; Tavita, Gusti eva
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.68884

Abstract

Bamboo is a non-timber forest product that has good properties to use, because it has a strong stem. Bamboo has a very important role, especially the community of Sinar Harapan Village, Tekarang District, Sambas Regency. this can be seen from the many uses of bamboo for various community needs, such as food, clothing and handicraft needs. The purpose of this research is to identify the bamboo used, form of use, and the local wisdom of the community in utilizing bamboo. The method used in this research is a survey method. Sampling is done by census or full sampling. The data collection technique used in this research is interview technique. Based on the results of the data obtained at the research site, it was noted that there were 3 types of Abe Bamboo (Gigantochloa balui), Reed Bamboo (Schizostachyum zollingeri) and Ater Bamboo. (Gigantochloa atter), There are 11 bamboo products, namely nyiruk, small baskets, chicken cages, rectangular fruit baskets, pin fruit baskets, round fruit baskets, takin, bubu, galah, lemang and bamboo shoots. The most widely used type of bamboo is Abe (90.9%), while the Ater type bamboo is only used for cooking.Keywords: Utilization, Species of Bamboo, Sinar Harapan VillageAbstrakBambu merupakan hasil hutan bukan kayu yang memiliki khasiat yang baik untuk dimanfaatkan, karena memiliki batang yang kuat. Bambu memiliki peranan yang sangat penting khususnya masyarakat Desa Sinar Harapan, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas. hal ini terlihat dari banyaknya pemanfaatan bambu untuk berbagai kebutuhan masyarakat, misalnya kebutuhan pangan, sandang dan kerajinan. tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi Bambu yang dimanfaatkan, bentuk pemanfaatan, dan bagaimana kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan bambu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, Pengambilan sampel dilakukan secara sensus atau full sampling, Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara. Berdasarkan hasil data yang diperoleh di lokasi penelitian tercatat ada 3 jenis Bambu Abe (Gigantochloa balui) Bambu Buluh (Schizostachyum zollingeri) dan Bambu Ater. (Gigantochloa atter), Pemanfaatan bambu ada 11 produk yaitu nyiruk, bakul kecil, sangkar ayam, keranjang buah segi empat, keranjang buah pin, keranjang buah bulat, takin, bubu, galah, lemang dan rebung, Jenis bambu yang paling banyak digunakan adalah Abe (90,9%), sedangkan bambu jenis Ater hanya digunakan untuk memasak.Kata Kunci: Pemanfaatan, Jenis Bambu, Desa Sinar Harapan
Utilization of Forest Plants as Spices by Women in Benua Kencana Village, Sintang Ellen Putri Yumita; Gusti Eva Tavita; Yusro, Fathul; Yeni Mariani
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 2 (2025): April-Juni
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i2.8696

Abstract

Spices have many benefits, especially as additional ingredients in cooking, traditional medicine and raw materials for the pharmaceutical and cosmetic industries. This study aims to identify forest plant species utilized as spices by women in Benua Kencana Village, Sintang Regency, and to understand their usage and processing practices. The research employed a survey method with semi-structured interviews involving 161 female respondents. Data analysis was conducted using Use Value (UV) and Fidelity Level (FL) to assess the degree of utilization and community trust in forest spice plants. The results indicate that the utilized plant parts include leaves, stems, fruits, and bark, serving various functions such as flavor enhancers (sweet, sour, and aromatic), tenderizers, preservatives, and neutralizers in cooking. The plants with the highest UV values (1.00) were Garcinia xanthochynus (asam kandis) and Pycnarrhena cauliflora (sengkubak), while those with the highest FL values (100%) included Pycnarrhena cauliflora (sengkubak), Eryngium foetidum (sumpak laut), Garcinia xanthochynus (asam kandis), Baccaurea motleyana (rambai), and Baccaurea angulata (benit). Women play a dominant role in the management and utilization of these spices, particularly in selecting, processing, and passing down knowledge about their uses. This study highlights the importance of documenting and preserving local knowledge to support food security and the conservation of natural resources.
IPTEK bagi Masyarakat Perbatasan Entikong dalam Pengolahan Kerajinan Bambu Tavita, Gusti Eva; Warsidah, Warsidah; Aritonang, Anthoni B.; Ashari, Asri Mulya
Bakti Budaya: Jurnal Pengabdian kepada masyarakat Vol 4 No 2 (2021): 2021: Edisi 2
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.016 KB) | DOI: 10.22146/bakti.2297

Abstract

Entikong is one of Indonesia's land border areas with Sarawak Malaysia, which is the gateway for economic and business activities. Despite being the front porch of a country, the fact is that the border areas of the State are very conditioned with lag. Limited access to public service resources and the inadequate community ability in processing natural resources including agriculture and plantations are the dominant factors influencing the lag of a border area. Bamboo is one of the abundant forest products in Entikong. The use of bamboo in the community is still limited to its use as building materials (scaffolding) and as a protective fence for plants in the gardens of the citizens. Bamboo Rope (Gigantochloa hasskarliana Kurz) species of bamboo found in the Entikong region, where elsewhere it generally makes it as a household handicraft material, but has not been used effectively in the entikong region. Community service activities aim to improve the skills of the Entikong community in processing bamboo plants as handicrafts of household goods of economic value so that it can be an additional source of income for the people on the border ===== Entikong adalah wilayah perbatasan darat Indonesia dengan Sarawak Malaysia, yang menjadi gerbang kegiatan ekonomi dan perniagaan. Meskipun menjadi beranda depan dari suatu negara, kenyataannya bahwa wilayah batas negara sangat sarat dengan ketertinggalan. Keterbatasan mengakses sumber-sumber pelayanan masyarakat dan kemampuan masyarakat yang tidak memadai dalam mengolah sumber daya alam termasuk pertanian dan perkebunan merupakan faktor yang dominan memengaruhi ketertinggalan sebuah wilayah perbatasan. Bambu adalah salah satu hasil hutan yang kelimpahannya besar di daerah Entikong. Pemanfaatan bambu dalam masyarakat masih terbatas pada penggunaannya sebagai bahan bangunan (perancah) dan sebagai pagar pelindung tanaman di kebun-kebun warga. Bambu tali (Gigantochloa hasskarliana Kurz.) adalah salah satu spesies bambu yang terdapat di wilayah Entikong. Di tempat lain umumnya menjadikannya sebagai bahan kerajinan rumah tangga, tetapi belum dimanfaatkan secara efektif di wilayah Entikong. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan keterampilan warga masyarakat Entikong dalam mengolah tanaman bambu sebagai kerajinan alat-alat rumah tangga yang bernilai ekonomis sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan masyarakat di perbatasan tersebut.
Co-Authors . Deni . Megawati Abdurrani Muin Addrian Advinda Afra, Akwilina Ahmad Muslim Alex, . Amriani Amir Amriani Amir Amriani Amir Andi Denisa Fadliah Nur Andi Hairil Alimuddin Anthoni B. Aritonang Anwari, Sofwan Ardhiansyah, Afthony Ardiana, Nisa Arif Data Kusuma Aritonang, Anthoni B. Ashari, Asri Mulya Asri Mulya Ashari Ayu Wandira Azwad, Rifaldi Bambang Kurniadi Bambang Kurniadi Desriani Lestari Desriani Lestari Dina Setyawati Doni saputra Dwi Cahyo Nugroho EKO WAHYUDI Ellen Putri Yumita Evy Wardenaar Evy Wardenaar Fadillah H. Usman Fadillah H. Usman Fadliah Nur, Andi Denisa Farah Diba Fathul Yusro Fitri Wulandari Gunawan, Andri . Gusti Hardiansyah Hari Prayogo Hasan Ashari Oramahi Helena, Shifa Issan, Kurniawan Pratama Jaidan, Jaidan Jong, Yeriko Junisa, Junisa Lita Lita Lolyta Sisillia Lucky Hartanti Lucky Hartanti Lucky Hartanti Lucky Hartanti, Lucky Lusiana Lusiana M, Iskandar A M. Dirhamsyah Muflihati, . Neva Satyahadewi Nur Haida Prayogo, Harri Putri, Ayu Rasinta Rafdinal Rafdinal Ratna Herawatiningsih Rayani, Primadita Riko Tampati Rini Sulistri Selvi Rita Kurnia Apindiati Rita Kurnia Apindiati Rita Kurnia Apindiati Rita Kurnia Apindiati Rita Kurnia Apindiaty Riza Linda Rusmiati, . sabtiani, Rita Saroh, Zummais Septria, Devie Siti Latifah Siti Masitoh Kartikawati Sitti Fauziah Noer Sofia Aliza Maharani Sondang M. Sirait Sri Zha Zha Dilla Sriastuti, Widia Sukal Minsas Syam, Waridat Ilahiyat Togar F Manurung Tuah, Ignasius Vinsensia, Miranda Viviana, Maya Wanira, Ayu Warsidah Warsidah Warsidah, Warsidah Wirando, Wirando Yanti Hikma Yeni Mariani Yudas, . Yusup, Dandi Yuyun Kurniawan