Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Phubbing sebagai Perilaku Menyimpang dalam Pembelajaran Mahasiswa: Perspektif Sosiologi Pendidikan Nurjihad Nurjihad; Abdurrohman Abdurrohman; M. Zainul Asror; Ahmad Tohri
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.36280

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola interaksi sosial mahasiswa, termasuk dalam aktivitas pembelajaran di perguruan tinggi. Salah satu fenomena yang semakin sering ditemukan adalah phubbing, yaitu perilaku mengabaikan interaksi tatap muka karena lebih memusatkan perhatian pada smartphone. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk, faktor penyebab, dan proses normalisasi phubbing sebagai perilaku menyimpang dalam pembelajaran mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi Universitas Hamzanwadi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif interpretatif. Informan penelitian terdiri atas 23 orang yang dipilih secara purposive, meliputi 20 mahasiswa dan 3 dosen. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu serta member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa phubbing diwujudkan dalam aktivitas mengakses media sosial, membalas pesan, menonton video, bermain gim, dan memeriksa notifikasi selama perkuliahan. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh rendahnya orientasi akademik, kuatnya habitus penggunaan smartphone, pembelajaran yang kurang interaktif, rendahnya motivasi belajar, serta normalisasi penggunaan smartphone di lingkungan kelas. Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa phubbing telah mengalami transformasi dari perilaku individual menjadi norma sosial baru melalui proses habituasi, imitasi, lemahnya kontrol sosial, dan penerimaan kolektif. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan konsep Academic Phubbing Normalization sebagai perspektif sosiologis untuk menjelaskan transformasi perilaku menyimpang menjadi praktik yang diterima dalam budaya akademik era digital.
PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWI SUKU SUMBAWA DI PULAU LOMBOK: PERSPEKTIF INTERAKSIONISME SIMBOLIK Novitasari Novitasari; Abdul Latif; M. Zainul Asror; Ahmad Tohri
SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan Vol. 5 No. 7 (2026)
Publisher : Penerbit Lafadz Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/sibatik.v5i7.5292

Abstract

This study aims to analyze the forms of consumptive behavior and the factors influencing consumptive behavior among Sumbawanese female students pursuing higher education on Lombok Island, with particular attention to their experiences as migrant students and the role of social interaction. The study employed a qualitative approach with a descriptive design. Informants were selected purposively and consisted of nine Sumbawanese female students enrolled in higher education institutions on Lombok Island. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, involving data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. Data credibility was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that consumptive behavior is not limited to purchasing unnecessary goods but also takes the form of trend-oriented consumption, lifestyle consumption, peer-mediated purchasing, spontaneous buying, and the use of digital payment services. Social media, peer conformity, transaction convenience, lifestyle, and economic conditions operate as interrelated factors. As migrant students, the participants negotiate consumption practices associated with their home culture with consumption patterns encountered in their university and residential environments. From a symbolic interactionist perspective, commodities and consumption activities acquire social meanings through interaction, allowing consumption to function as a mechanism of social adjustment and identity presentation. These findings highlight the importance of financial literacy, self-control, and media literacy in fostering more reflective and rational consumption practices among university students.
Implementasi Awiq-Awiq sebagai Mekanisme Pengendalian Sosial pada Masyarakat Sasak di Desa Ekas Buana, Lombok Timur Wahyudi Saputra; Ahmad Tohri; Hanapi Hanapi
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.36635

Abstract

The phenomenon of single parent women is an emerging social reality in various regions of Indonesia, including West Nusa Tenggara. This study aims to describe the strategies and obstacles faced by single parent women in fulfilling family economic needs. Using a qualitative approach with phenomenological design, this study involved 15 informants selected purposively in North Tanak Malit Hamlet, South Masbagik Village, Masbagik District. Data collection techniques included participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model with source triangulation as validity testing. The results showed that single parent women's strategies include optimizing domestic and public roles through the use of agricultural land, laundry-ironing services, selling snacks, and borrowing from close relatives. The obstacles faced include limited rest time, difficulty managing time between work and childcare, and problematic financial management. This study confirms that the double burden experienced by single parent women is a social construction that requires policy interventions based on economic empowerment and strengthening of social capital.
Digitalization and Preservation of the Cultural History of Ketangga Village, East Lombok Regency Apriana, Amelia; Hilmiati, Sri; Ritanti, Tri Yuliana; Umri, Hasbiyadi; Aulya, Eliza; Tohri, Ahmad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v11i3.6104

Abstract

Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu desa yang memiliki berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang berkaitan dengan jejak Kerajaan Selaparang. Berbagai situs bersejarah seperti Masjid Pusaka, Gedeng Raja Selaparang, Makam Mamiq Raja, Makam Prabu Rengkasari, Makam Tuan Lebe, Makam Anak Raja, dan Tapak Kaki Kuda Raja memiliki nilai historis yang tinggi. Namun, sebagian besar informasi mengenai situs tersebut masih diwariskan secara lisan dan belum terdokumentasi secara optimal. Kegiatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan serta melestarikan sejarah budaya Desa Ketangga melalui media digital dan penyediaan sarana informasi pada situs sejarah. Metode yang digunakan meliputi analisis kebutuhan, observasi lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat, dokumentasi foto dan video, serta pemasangan papan informasi pada situs sejarah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa lima situs sejarah berhasil didokumentasikan dalam 5 video digital yang dipublikasikan melalui platform YouTube. Selain itu, 3 papan informasi berhasil dipasang pada situs Makam Mamiq Raja, Makam Prabu Rengkasari, dan Makam Tuan Lebe sebagai media edukasi bagi masyarakat dan pengunjung. Kegiatan ini memberikan kontribusi dalam pelestarian sejarah budaya lokal, meningkatkan akses informasi sejarah, serta mendukung pengembangan potensi wisata budaya Desa Ketangga. Digitalization and Preservation of the Cultural History of Ketangga Village, East Lombok Regency Abstract Ketangga Village, located in Suela District, East Lombok Regency, is home to various historical and cultural relics linked to the legacy of the Selaparang Kingdom. Sites such as the Masjid Pusaka (Heritage Mosque), Gedeng Raja Selaparang (King's Pavilion), and the tombs of Mamiq Raja, Prabu Rengkasari, Tuan Lebe, and the Anak Raja (Royal Child), as well as the Tapak Kaki Kuda Raja (King's Horse Footprint), hold significant historical value. However, much of the information regarding these sites has been passed down primarily through oral tradition and lacks optimal documentation. This initiative aimed to document and preserve the cultural history of Ketangga Village using digital media and by providing informational signage at the historical sites. The methodology employed included a needs assessment, field observations, interviews with community leaders, photo and video documentation, and the installation of information boards. The project successfully documented five historical sites into 5 digital videos published on YouTube. Additionally, 3 information boards were installed at the tombs of Mamiq Raja, Prabu Rengkasari, and Tuan Lebe to serve as educational resources for the local community and visitors. This activity contributes to the preservation of local cultural history, improves access to historical information, and supports the development of cultural tourism potential in Ketangga Village.
Penguatan Literasi dan Numerasi Anak Sekolah Dasar Melalui Pendampingan Belajar Berbasis Komunitas Meilina, Baiq Farida; Amania, Nai Lailatul; Fathin, Azro Anisah; Rohmayani, Tiya Pitri; Indra, Tomi; Wahyuni, Sri; Tohri, Ahmad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v11i3.6137

Abstract

Rendahnya kemampuan literasi membaca dan numerasi dasar masih menjadi tantangan pendidikan di wilayah pedesaan, termasuk di Dusun Tejong, Desa Ketangga, yang ditandai dengan rendahnya minat membaca, keterbatasan bahan bacaan, serta rendahnya kepercayaan diri anak dalam menyelesaikan operasi perkalian dasar. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat kemampuan literasi dan numerasi anak sekolah dasar melalui pendampingan belajar berbasis komunitas sebagai upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 4 tentang pendidikan berkualitas. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN), sekolah, pemerintah dusun, orang tua, dan masyarakat pada seluruh tahapan kegiatan, mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Program diikuti oleh 16 anak sekolah dasar sebagai peserta aktif. Pendampingan literasi dilakukan melalui penerapan metode phonics   dan storytelling, sedangkan penguatan numerasi dilaksanakan melalui latihan bertahap, metode perkalian bersusun pendek, serta pemberian reward untuk meningkatkan motivasi belajar. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan peserta, ditandai dengan meningkatnya jumlah anak yang berani membaca dari 5 menjadi 14 orang, kemampuan retelling dari 3 menjadi 10 orang, serta kemampuan menyelesaikan operasi perkalian dari 5 menjadi 7 orang. Selain itu, program turut meningkatkan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan partisipasi aktif peserta melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah dusun, orang tua, dan masyarakat. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan belajar berbasis komunitas memberikan hasil positif sebagai alternatif strategi pendampingan dalam memperkuat kemampuan literasi membaca anak, sementara peningkatan kemampuan numerasi dasar juga terlihat meskipun masih memerlukan pendampingan yang lebih berkelanjutan. Strengthening Literacy and Numeracy Skills of Elementary School Children Through Community-Based Learning Support in Tejong Hamlet Abstract Low levels of reading literacy and basic numeracy remain significant educational challenges in rural areas, including Dusun Tejong, Ketangga Village, characterized by low reading interest, limited access to reading materials, and low confidence in solving basic multiplication problems. This community service program aimed to strengthen elementary students' reading literacy and numeracy skills through community-based learning assistance while supporting Sustainable Development Goal (SDG) 4 on Quality Education. Using a Participatory Action Research (PAR) approach, the program engaged university students participating in the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata), schools, village authorities, parents, and the local community in needs assessment, planning, implementation, and evaluation. Sixteen elementary students participated in activities combining phonics and storytelling for reading literacy with gradual practice, short-column multiplication, and motivational rewards for numeracy. Evaluation showed notable improvements: students confident in reading aloud increased from 5 to 14, those able to retell reading content increased from 3 to 10, and those able to solve multiplication problems increased from 5 to 7. The program also enhanced learning motivation, self-confidence, and active participation through multi-stakeholder collaboration. These findings demonstrate that community-based learning assistance is a promising strategy for strengthening children's reading literacy and supporting basic numeracy development, although sustained and continuous assistance remains necessary to consolidate numeracy gains and ensure longer-term educational outcomes. Low levels of reading literacy and basic numeracy remain major educational challenges in rural areas, including Dusun Tejong, Ketangga Village, as indicated by students’ low interest in reading, limited access to reading materials, and lack of confidence in solving basic multiplication problems. This community service program aimed to strengthen elementary school students’ reading literacy and numeracy skills through community-based learning assistance while supporting Sustainable Development Goal (SDG) 4 on Quality Education. The program employed a Participatory Action Research (PAR) approach involving university students participating in the Community Service Program (Kuliah Kerja Nyata), schools, village authorities, parents, and the local community in needs assessment, planning, implementation, and evaluation. Sixteen elementary school students participated in the program. Reading literacy was strengthened through phonics and storytelling, while numeracy activities used gradual practice, short-column multiplication, and rewards to enhance learning motivation. Evaluation results showed improvements in students’ abilities: those confident in reading aloud increased from 5 to 14, those able to retell stories from 3 to 10, and those able to solve multiplication problems from 5 to 7. The program also enhanced students’ learning motivation, self-confidence, and active participation. These findings indicate that community-based learning assistance can effectively strengthen children’s reading literacy and contribute to basic numeracy development, although numeracy gains remain relatively modest and require sustained follow-up support.
Pemberdayaan UMKM Berbasis Potensi Lokal melalui Inovasi Cookies Daun Kelor di Desa Ketangga Ardian, M.; Hisbiatan, Sohibil; Oktaviani, Reza Arsan; Nursasmila, Eci; Saputri, Pany Maulidia; Tohri, Ahmad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v11i3.6138

Abstract

Pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera) di Dusun Tejong, Desa Ketangga, Kabupaten Lombok Timur masih terbatas sebagai sayuran rumah tangga, meskipun tanaman ini tersedia cukup melimpah dan memiliki potensi sebagai bahan pangan bernilai tambah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan minat kewirausahaan masyarakat melalui inovasi cookies daun kelor berbasis pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Kegiatan melibatkan 38 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga, pemuda, dan masyarakat umum. Metode pelaksanaan mengacu pada tahapan ABCD, yaitu Discovery, Dream, Design, Define, dan Destiny, yang diimplementasikan melalui identifikasi aset lokal, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, demonstrasi dan praktik pembuatan cookies, pendampingan analisis Break Even Point (BEP), serta monitoring dan evaluasi. Evaluasi program dilakukan menggunakan instrumen pretest–posttest, observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan capaian peserta pada aspek pengetahuan mengenai potensi daun kelor dari 15% menjadi 70%, keterampilan memproduksi cookies dari 25% menjadi 90%, dan minat berwirausaha dari 30% menjadi 85%. Program juga menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan cookies daun kelor, formula produk yang mudah diterapkan menggunakan teknologi tepat guna, hasil uji organoleptik sederhana yang menunjukkan tingkat penerimaan produk yang baik, serta simulasi analisis BEP sebagai dasar pengenalan kelayakan usaha skala rumah tangga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan ABCD mampu mengoptimalkan potensi lokal sebagai dasar pemberdayaan masyarakat dan menjadi langkah awal dalam pengembangan usaha berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Local Potential-Based Community Empowerment through Moringa Leaf Cookie Innovation in Ketangga Village Abstract The utilization of Moringa (Moringa oleifera) leaves in Tejong Hamlet, Ketangga Village, East Lombok Regency, remains limited to household vegetable consumption, despite the plant's abundant availability and potential as a value-added food product. This community service initiative aimed to enhance the community's knowledge, skills, and entrepreneurial interest through the innovation of Moringa leaf cookies, utilizing the Asset-Based Community Development (ABCD) approach. The activity involved 38 participants, comprising housewives, youths, and general community members. Implementation followed the ABCD stages—Discovery, Dream, Design, Define, and Destiny—encompassing local asset identification, Focus Group Discussions (FGD), training, cookie-making demonstrations and hands-on practice, Break-Even Point (BEP) analysis guidance, and monitoring and evaluation. Program evaluation utilized pre-test and post-test instruments, observations, questionnaires, interviews, and documentation, with data analyzed through both quantitative and qualitative descriptive methods. Evaluation results demonstrated significant improvements in participant outcomes: knowledge regarding Moringa leaf potential rose from 15% to 70%, cookie production skills increased from 25% to 90%, and entrepreneurial interest grew from 30% to 85%. The program also produced Standard Operating Procedures (SOP) for making Moringa leaf cookies, an easily applicable product formula utilizing appropriate technology, simple organoleptic test results indicating high product acceptance, and a BEP analysis simulation to introduce the concept of household-scale business viability. This activity demonstrates that the ABCD approach can effectively optimize local potential for community empowerment and serve as a foundational step toward developing sustainable, local food-based enterprises.