Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Efek Antikolesterol Sirup Sirih Cina Pada Tikus Rattus norvegicus Model Hiperkolesterolemia Tjodi, Angel; Killay, Amos; Unitly, Adrien Jems Akiles
Kalwedo Sains (KASA) Vol 2 No 2 (2021): Kalwedo Sains (KASA), September 2021
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav2i2p61-67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek terapi sirup sirih cina, dan dosis mana yang lebih efektif dalam menurunkan kadar kolesterol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan Uji Duncan pada taraf nyata α = 0,05 menggunakan perangkat lunak SAS. Sampel berjumlah 15 ekor tikus, yang dibagi menjadi 5 kelompok.Kelompok tikus K (-), K (+), P1, P2, dibuat hiperkolesterolemia dengan diberi lemak babi 3gr/ekor/hari.Tikus K (+) diberikan simvastatin sebagai pembanding. Kelompok P1, dan P2 diberikan sirup sirih cina dengan dosis berturut-turut 1,8, 3,6, ml/ekor/ hari. Tikus diaklimatisasikan selama 7 hari kemudian diberi perlakuan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kadar kolesterol akibat dari pemberian sirup sirih cina, dimana dosis yang efektif yaitu 3,6 ml/ekor/hari sehingga dapat disimpulkan bahwa sirup sirih cina memiliki potensi dalam menurunkan kadar kolesterol pada tikus Rattus norvegicus hiperkolesterolemia yang mana hasil ini sama dengan yang ditunjukan obat simvastatin.
Efek Antihiperurisemia Sirup Sirih Cina Pada Tikus Rattus norvegicus Model Asam Urat Hulkiawar, Welhel Y.; Killay, Amos; Unitly, Adrien Jems Akiles
Kalwedo Sains (KASA) Vol 3 No 1 (2022): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2022
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav3i1p20-26

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antihiperurisemia sirup sirih cina. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) kemudian dilanjutkan Uji Duncan pada taraf nyata α=0,05 menggunakan perangkat lunak SAS. Sampel berjumlah 15 ekor tikus,yang dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok tikus K (-), K (+), P1, P2, dibuat asam urat dnegan injeksi kalium bromat 29 mg/kg BB. Tikus K (+) diberikan allopurinol sebagai pembanding. Kelompok P1 dan P2 diberikan sirup sirih cina dengan dosis berturut-turut 1.8, dan 3.6 ml/ekor/hari. Tikus diaklimatisasikan selama7 hari kemudian diberi perlakuan selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kadar asam urat dalam darah akibat dari pemberian sirup sirih cina dimana dosis yang efektif yaitu 1.8 ml/ekor/hari sehingga dapat disimpulkan bahwa sirup sirih cina memiliki potensi dalam menurunkan kadar asam urat dalam darah tikus Rattus norvegicus.
Morfometrik Turpepel (Cuora amboinensis) Pada Sekitar Sungai Waibatumerah Kelurahan Waihoka, Kota Ambon Silahooy, Charles; Unitly, Adrien Jems Akiles; Silahooy, Veince B.
Kalwedo Sains (KASA) Vol 3 No 2 (2022): Kalwedo Sains (KASA), September 2022
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav3i2p84-88

Abstract

Indonesia memiliki kekayaan alam berupa keanekaragaman fauna, salah satunya adalah kura-kura. Indonesia merupakan habitat bagi 10% jenis kura-kura air tawar yang ada di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data morfometrika dari morfologi Turpepel (Cuora amboinensis) yang hidup pada daerah sekitar aliran sungai waibatumerah kelurahan Waihoka, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Setelah dilakukan penangkapan, Turpepel (Cuora amboinensis) dideskripsikan kemudian dilakukan studi morfometrika yaitu diukur panjang dan lebar karapas (carapace), panjang dan lebar plastron, panjang dan lebar kepala, panjang dan lebar kaki depan, panjang dan lebar kaki belakang, panjang dan lebar telapak kaki depan dan belakang dan panjang ekor. Turpepel yang diteliti merupakan jenis Kura-kura Darat bernama latin Coura amboinensis. Turpepel tersusun atas karapas (carapace) yaitu tempurung atau batok yang keras dengan warna karapas hitam dan plastron yaitu susunan lempengan kulit keras pada bagian perut dengan warna plastron putih kekuningan (krem), memiliki kaki berselaput dan ekor memanjang, namun melebar pada pangkalnya, serta kloaka yang dekat pada pangkal ekor.
Peningkatan Jumlah Anak Tikus Dari Induk Yang Terpapar Asap Rokok Pasca Diterapi Ekstrak Etanol Sirih Cina (Peperomia pellucida L.) Tetelepta, Nelma; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La; Killay, Amos; Silahooy, Veince B.
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 1 (2023): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i1p36-42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat peran ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) terhadap peningkatan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok. 15 ekor tikus yang digunakan dalam penelitian ini dengan 5 (lima) kelompok perlakuan dan 3 (tiga) kali ulangan. Tikus kelompok kontrol negatif dikawinkan pada awal penelitian dan dipaparkan asap rokok selama 14 hari, tikus kelompok kontrol positif dikawinkan kemudian diberi paparan asap rokok selama 14 hari dan dilanjutkan dengan pemberian vitamin C dengan dosis 3.2 gram selama 14 hari, sedangkan tikus kelompok dosis ekstrak etanol sirih cina dikawinkan, kemudian setelah bunting diberi paparan asap rokok selama 14 hari. Pengamatan embrio dilakukan pada saat masa kebuntingan ke 15 hari kemudian dibedah. Sedangkan pengamatan jumlah anak dilakukan pada saat anak tikus dilahirkan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam Analysis Of Variance (ANOVA), selanjutnya dilakukan uji duncan dengan selang kepercayaan 95 % (α = 0,05) dengan menggunakan perangkat lunak SAS. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol Sirih cina (Peperomia pellucida L.) dengan dosis 0.72 gram/ekor/hari mampu menjaga keberhasilan implantasi embrio kedinding uterus sehingga rata-rata jumlah anak tikus meningkat. Disimpulkan bahwa Pemberian ekstrak etanol sirih cina (Peperomia pellucida L.) dapat meningkatkan jumlah anak dari induk tikus yang terpapar asap rokok, dimana dosis yang baik yaitu 0.72g/ekor/hari.
Efek Antioksidan Sirup Cengkeh Dalam Mencegah Kerusakan Paru-Paru Tikus Terpapar Asap Rokok Unitly, Adrien Jems Akiles; Killay, Amos; Nindatu, Maria; Silahooy, Veince Benjamin; Watuguly, Theopilus Wilhelmus; Lesirolo, Medlin
Kalwedo Sains (KASA) Vol 5 No 1 (2024): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2024
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav5i1p15-23

Abstract

Sirup cengkeh mengandung senyawa fitokimia flavonoid, alkaloid, terpenoid, fenol, saponin, tannin dan vitamin C. Kandungan fitokimia ini diyakini dapat berperan sebagai antioksidan eksogen yang mampu mencegah dan menetralisir radikal bebas akibat asap rokok. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek antioksidan sirup cengkeh dalam mencegah kerusakan paru-paru tikus terpapar asap rokok. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan yang diteliti adalah perbedaan dosis sirup cengkeh yang diberikan pada tikus model, terdiri dari: K(-) yaitu kelompok tikus yang terpapar asap rokok 10 batang/ekor/hari selama 14 hari, K(+) yaitu kelompok tikus yang diberi vitamin C 3,21 mg kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari, P1 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 1,28 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari, P2 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 2,56 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari dan P3 yaitu kelompok tikus yang diberikan sirup cengkeh 3,84 ml/ekor/hari kemudian 1 jam setelahnya dipapar asap rokok 10 batang/ekor/hari, yang dilakukan selama 14 hari. Setelah perlakuan tikus dibedah untuk dilakukan histologi organ paru-paru. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode desktiptif kualitatif dengan mengamati histopatologi pada fotomikrograf paru-paru tikus dengan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE). Hasil penelitian menunjukan bahwa Efek antioksidan sirup cengkeh dalam mencegah kerusakan paru-paru tikus terpapar asap rokok yang terbaik pada dosis 3.84 ml.
Aktivitas Harian Kuskus Genus Phalanger Di Hutan Negeri Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah Muskita, Edwin; Moniharapon, Mechiavel; Unitly, Adrien Jems Akiles; Silahooy, Veince Benjamin; Eddy, La
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 2 (2023): Kalwedo Sains (KASA), September 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i2p70-77

Abstract

Kuskus merupakan salah satu dari jenis mamalia berkantung yang persebarannya sampai di Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas harian pada kuskus genus phalanger di hutan negeri saparua, kecamatan saparua, kabupaten maluku tengah. Penelitian ini di lakukan di Negeri Saparua, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah menggunakan teknik focal animal sampling digunakan sebagai prosedur pengamatan perilaku harian kuskus. Focal animal sampling adalah pengamatan yang difokuskan pada satu individu dalam satu waktu tertentu. Pengamatan di lakukan sebanyak 3 kali pengulangan yang di lakukan sebanyak 2 kali per hari yaitu pada pagi dan malam hari, dengan lama waktu pengambilan data 60 menit (1 jam) dengan interval 1 menit setiap pengambilan data sheet. Variabel yang di amati adalah perilaku makan (feeding), istirahat (resting), berpindah tempat (moving), dan membersihkan diri (grooming). Data yang di peroleh pada hasil pengamatan ditabulasi selanjutnya disajikan secara deskriptif dan etogram. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan presentasi perilaku makan kuskus phalanger pada pagi hari yaitu sebesar 16,3 menit (25,05%), dan pada malam hari sebesar 30 menit (49,96%), waktu istirahat kuskus phalanger pada pagi hari sebesar 30,37 menit (26,05%), dan pada malam hari sebesar 6 menit (8,22%), waktu berjalan (moving) kuskus phalanger pada pagi hari 8,43 menit (14,05%), dan malam hari yaitu 10,33 menit (17,18%), dan untuk presentasi waktu membersihkan diri (Grooming) terjadi pada pagi dan malam hari dengan presentasi yang sama yaitu 3,33 menit (5,33%). Didapati bahwa perilaku harian kuskus phalanger dominan terjadi pada malam hari.
Potensi Ekstrak Etanol Daun Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus) Dalam Meningkatkan Bobot Testis, Konsentrasi dan Viabilitas Spermatozoa Tikus Rattus norvegicus Ratulewen, Desi Ellida; Pagaya, Joseph; Kaihena, Martha; Unitly, Adrien Jems Akiles; Eddy, La
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 2 (2023): Kalwedo Sains (KASA), September 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i2p78-87

Abstract

Kecipir merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung beberapa senyawa kimia seperti flavonoid, saponin dan tannin dan kandungan mineral seperti fosfor, dan kalsium dimana golongan senyawa-senyawa kimia tersebut berpotensi sebagai agen fertilitas jantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun kecipir dalam menningkatkan bobot testis, konsentrasi dan viabilitas spermatozoa tikus Rattus norvegicus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan menggunakan 1 ekor tikus yang dibagi ke dalam 4 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor tikus. Kelompok pertama adalah kontrol, kelompok kedua adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 2,52 mg/ekor/hari selama 32 hari, kelompok ketiga adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 5,04 mg/ekor/hari selama 32 hari dan kelompok keempat adalah pemberian ekstrak etanol daun kecipir dengan dosis 7,56 mg/ekor/hari selama 32 hari. Pengambilan data dilakukan setelah tikus diberi ekstrak etanol daun kecipir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun kecipir dapat meningkatkan bobot testis, konsentrasi dan viabilitas spermatozoa tikus dimana dosis efektif yang dapat digunakan adalah dosis 7,56 mg/ekor/hari.
Karakteristik Morfologi Kerbau Moa (Bubalus bubalis) Di Pulau Moa, Kecamatan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya Sikafir, Beatrix Belina; Silahooy, Veince Benjamin; Sikafir, Beregita Lidiana; Unitly, Adrien Jems Akiles
Kalwedo Sains (KASA) Vol 4 No 2 (2023): Kalwedo Sains (KASA), September 2023
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav4i2p109-114

Abstract

Pulau Moa memiliki potensi pengembangan ternak kerbau yang cukup besar. Besarnya potensi pengembangan ternak kerbau di pulau Moa perlu diikuti dengan upaya pelestarian plasma nutfah kerbau. Salah satu upaya pelestarian plasma nutfah kerbau dapat dilakukan melalui analisis karakter morfologi kerbau. Penelitian ini mengkaji karakter morfologi kerbau Moa (Bubalus bubalis) di pulau Moa, Kematan Moa, Kabupaten Maluku Barat Daya. Sampel penelitian terdiri dari 20 ekor kerbau yang terdiri dari 10 ekor jantan dan 10 ekor betina, diambil dari dua desa yang berbeda yaitu Desa Tounwawan dan Desa Klis. Pengambilan data umur dan sifat kualitatif meliputi (1) warna dan bentuk tubuh, (2) warna mata, dan (3) bentuk tanduk. Setelah itu dilakukan pengambilan data sifat kuantitatif morfologi meliputi (1) panjang kepala, (2) panjang leher, (3) panjang ekor, (4) panjang kaki, dan (5) lingkar dada. Hasil yang diperoleh dianalisis dengan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan Uji Duncan dengan selang kepercayaan 95% (α = 0.05) dengan menggunakan perangkat lunak SAS. Berdasarkan hasil penelitian, sifat kualitatif kerbau Moa menunjukkan bahwa tubuh berwarna abu-abu dengan warna kulit hitam, bentuk tubuh pendek dan gemuk dengan kaki agak pendek dan lurus, serta lingkar dada agak lebar. Mata kerbau berwarna hitam dominan, bentuk tanduk kerbau ada dua yaitu tanduk yang melengkung ke atas dan tanduk yang melengkung ke bawah. Sedangkan sifat kuantitatif kerbau Moa menunjukkan perbedaan panjang kepala, panjang leher, dan panjang kaki kerbau Moa antara umur 1.5 tahun dan 4.5 tahun baik untuk jantan maupun betina (p<0.05). Morfologi yang mencolok adalah pada kerbau usia 4.5 tahun yaitu panjang ekor dan panjang kaki kerbau jantan lebih panjang dari panjang ekor dan panjang kaki kerbau betina (p<0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang linier antara tingkatan umur dengan perkembangan tubuh kerbau. Semakin tinggi umur kerbau jantan dan betina, maka semakin besar ukuran tubuh kerbau, dan terdapat perbedaan morfologi antara kerbau jantan dan betina.
Identification of Phytochemical Compounds Antioxidant Leaf Extract and Clove Flower Extract (Syzygium aromaticum) Lumingkewas, Adeleyda M. W.; Unitly, Adrien Jems Akiles
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 9 No 10 (2023): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v9i10.4927

Abstract

One plant known as a flavoring spice, but also as a traditional medicinal plant that is thought to contain antioxidant phytochemical compounds, namely cloves (Syzygium aromaticum) which are widely found in Maluku, Sulawesi and surrounding areas. This study aims to identify the phytochemical compounds of antioxidants of leaf extract and clove flower extract (Syzygium aromaticum) originating from North Sulawesi using leaf methanol extract and clove flowers, where the test was carried out at the Research Center for Spice and Medicine Plant (Ballitro) Bogor included the alkaloid qualitative test , flavonoids, saponins, tannins, and triterpenoids. The results found that there were components of antioxidant phytochemicals in the form of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and triterpenoids in the extraran methanol leaf and clove flowers, with the frequency of existence ranging from there to many.