Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Pengaruh Pemberian Vitamin B6 dan Vitamin B12 Terhadap Konsentrasi Homosistein Serum pada Pasien Leukemia Limfoblastik Akut Julispen Syafruddin Muhi; Fadil Oenzil; Amirah Zatil Izzah
Sari Pediatri Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.928 KB) | DOI: 10.14238/sp20.3.2018.158-64

Abstract

Latar belakang. Leukemia merupakan 35% keganasan pada anak. Persentase terbanyak adalah Leukemia limfoblastik akut (LLA) yang mencapai 80%. Pedoman kemoterapi LLA berdasarkan Indonesian Childhood ALL-Protocol 2013 menggunakan metotreksat (MTX) intratekal dan intravena, bekerja menghambat enzim dihidrofolat reduktase (DHFR) menyebabkan peningkatan konsentrasi homosistein yang mempunyai efek neurotoksisitas. Vitamin B6 dan B12 adalah kofaktor enzim yang berperan pada remethylation dan transsulferation yang dapat menurunkan konsentrasi homosistein. Tujuan. Mengetahui pengaruh vitamin B6 dan B12 terhadap konsentrasi homosistein pada pasien LLA yang mendapat MTX intratekal (MTX IT) dan MTX intravena dosis tinggi (high dose/MTX HD).Metode. Penelitian case control study pre dan post control group design pada pasien LLA yang dirawat di bagian Anak RS Dr. M.Djamil Padang dari Januari-Juni 2017. Jumlah sampel kelompok kontrol dan perlakuan 10 orang. Kelompok perlakuan mendapat vitamin B6 20 mg/hari dan B12 0,5 mg/hari selama 6 minggu. Hasil. Konsentrasi homosistein awal kelompok kontrol 11,72±1,7067 µmol/L dan setelah 6 minggu 11,630±1,4765 µmol/L, tidak berbeda bermakna secara statistik (p>0,05). Kelompok perlakuan, konsentrasi awal 12,05±2,0919 µmol/L dan setelah 6 minggu 10,07±1,6526 µmol/L, berbeda bermakna secara statistik (p<0,05). Pemberian vitamin B6 20 mg/hari dan B12 0,5 mg/hari menurunkan rerata konsentrasi homosistein 1,98±0,8108 µmol/L, bermakna secara statistik (p<0,05). Kesimpulan. Pemberian vitamin B6 dan B12 pada pasien LLA yang mendapatkan MTX IT dan MTX HD dapat menurunkan rerata konsentrasi homosistein.
Status Vitamin D pada Anak dengan Leukemia Akut Shinta Ayudhia; Amirah Zatil Izzah; Firman Arbi; Finny Fitry Yani
Sari Pediatri Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp24.1.2022.51-5

Abstract

Latar belakang. Vitamin D adalah kelompok prohormon yang berperan dalam pencegahan dan pertumbuhan sel kanker sebagai antiproliferatif, pro apoptosis dan anti inflamasi. Hal ini disebabkan karena reseptor vitamin D juga terdapat pada sel hematopoesis normal dan abnormal. Namun, penelitian tentang vitamin D pada anak dengan leukemia masih sedikit. Dari beberapa penelitian yang telah ada menunjukkan kadar vitamin D pada pasien leukemia berada pada level defisiensi dan insufisiensi.Tujuan. Mengetahui status vitamin D pada pasien leukemia akut di Rumah Sakit Umum Pusat M. Djamil, Padang.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 53 pasien anak yang baru terdiagnosis leukemia akut dari bulan Mei 2018 hingga Mei 2019. Dilakukan pemeriksaan kadar vitamin D di laboratorium dan pengumpulan data karakteristik pasien.Hasil. Didapatkan 30 (56,6%) pasien berjenis kelamin laki-laki, rentang umur paling banyak usia 1-10 tahun. Status gizi kurang terdapat pada 47 (88,7%) pasien. Diagnosis leukemia limfoblastik akut didapatkan 47 (88,7%) pasien. Gejala klinis terbanyak adalah demam (96,2%), pucat (96,2%), hepatomegali (92,5%). Pasien mendapatkan paparan matahari > 30 menit sebanyak 86,8%. Rerata kadar vitamin D pada pasien leukemia akut adalah 24,01±7,91 ng/ml. Status vitamin D pada pasien leukemia akut 50,9% berada pada rentang insufisiensi.Kesimpulan. Status vitamin D pada pasien leukemia akut di RSUP M. Djamil berada pada rentang insufisiensi.
Hubungan Kadar Ferritin Serum dengan Fungsi Tiroid pada Anak dengan Thalassemia beta Mayor Melisha Lisman Gaya; Eka Agustia Rini; Amirah Zatil Izzah
Sari Pediatri Vol 25, No 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.1.2023.27-31

Abstract

Latar belakang. Thalassemia beta mayor merupakan penyakit yang ditandai dengan anemia kronik, hipoksia kronik jaringan, dan pemberian transfusi darah seumur hidup. Penumpukan besi akibat pemberian transfusi berulang berefek toksik pada berbagai organ, termasuk kelenjar tiroid.Tujuan. Mengetahui hubungan antara kelebihan beban besi dengan kejadian hipotiroid pada anak yang menderita thalassemia beta mayor.Metode. Penelitian cross-sectional terhadap 43 subjek dengan thalassemia beta mayor dan mendapat transfusi darah rutin pada periode April 2018-Februari 2019. Subjek dipilih secara total sampling dan dikelompokkan berdasarkan kadar ferritin serum <2500 µg/L dan >2500 µg/L. Hasil kadar tiroksin dan thyroid stimulating hormone dikelompokkan menjadi eutiroid dan hipotiroid. Hasil analisis statistik bermakna bila p<0,05.Hasil. Kadar ferritin serum <2500 µg/L dan >2500 µg/L terdapat pada masing-masing 19 (44,2%) dan 24 (55,8%) subjek. Hipotiroid terjadi pada 13 (38,1%) subjek dengan kadar ferritin >2500 ?g/L dan delapan (38,1%) subjek dengan kadar ferritin <2500 µg/L. Tidak ditemukan hubungan bermakna antara ferritin serum dengan fungsi tiroid pada subjek (p=0,432).Kesimpulan. Persentase hipotiroid meningkat seiring peningkatan kadar ferritin serum, tetapi tidak terdapat hubungan bermakna antara kadar ferritin serum dengan fungsi tiroid pada anak dengan thalassemia beta mayor. 
Hubungan Asupan Protein dengan Kadar Zink Rambut terhadap Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Kota Padang As Siddiqi, Abdurrahman Arsyad; Masnadi, Nice Rachmawati; Jurnalis, Yusri Dianne; Izzah, Amirah Zatil; Mayetti, Mayetti; Yantri, Eny
Sari Pediatri Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.1.2025.1-8

Abstract

Latar belakang. Stunting menggambarkan gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh masalah nutrisi. Defisiensi zink dapat menghentikan proses pertumbuhan. Asupan zink memiliki korelasi positif terhadap asupan protein dari makanan. Kadar zink tubuh dapat diukur melalui kadar zink rambut, yang lebih akurat menggambarkan kadar zink kronis dan sesuai untuk kondisi stunting.Tujuan. Mengetahui hubungan antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan di Puskesmas Anak Air, Ikur Koto, dan Seberang Padang.Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan di tiga Puskesmas di Kota Padang dan Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat dari Februari 2023 hingga Maret 2024. Subjek adalah anak dengan stunting berusia 24-59 bulan. Data asupan protein diukur dengan wawancara food recall 2x24 jam, sedangkan kadar zink rambut dianalisis menggunakan teknik flame atomic absorption spectrometry (FAAS).Hasil. Sebanyak 97 subjek yang diteliti, 67% memiliki asupan protein kurang dengan median 13,92 gram, dan 67% memiliki kadar zink rambut kurang dengan median 123,80 ppm. Selain itu, 64,6% anak dengan asupan protein kurang juga memiliki kadar zink rambut yang rendah. Hasil penelitian diuji dengan uji statistik chi-square dan diperoleh nilai p-value adalah 0,627 (p>0,05) maka Ho diterima yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara asupan protein total harian dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan protein dengan kadar zink rambut pada anak stunting usia 24-59 bulan.
Pengaruh Probiotik terhadap Kadar Calprotectin Feses dan Durasi Diare Akut pada Anak Yulfiwanti, Idha; Jurnalis, Yusri Dianne; Asrawati, Asrawati; Syarif, Iskandar; Mariko, Rinang; Izzah, Amirah Zatil; Ihsan, Indra
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.74-9

Abstract

Latar belakang. Probiotik adalah mikroorganisme yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik mengurangi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun, produksi substansi antimikroba, menurunkan proses inflamasi, dan menghambat pertumbuhan kuman patogen penyebab diare. Pengukuran calprotectin feses sebagai penanda penyakit inflamasi pada diare akut merupakan metode noninvasif, cepat dan mudah.Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh probiotik terhadap kadar calprotectin feses dan durasi diare akut pada anak.Metode. Penelitian eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest control group yang dilaksanakan di Puskesmas dan Rumah Sakit di kota Padang. Penelitian dimulai dari bulan Januari sampai Juni 2023. Populasi penelitian adalah pasien anak usia 2-60 bulan dengan diare akut yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Terdapat 31 sampel kelompok kontrol yang mendapatkan terapi standar WHO dan 30 sampel kelompok kasus yang mendapatkan terapi standar WHO ditambah probiotik. Dilakukan pengamatan terhadap durasi diare akut dan kadar calprotectin feses.Hasil. Anak dengan usia >24 bulan lebih banyak pada kedua kelompok dengan sebagian besar kelompok dengan gizi baik. Rerata berat badan dan tinggi badan subjek pada kelompok kasus adalah 10,76 kg dan 82,6 cm, sedangkan kelompok kontrol adalah 10,15 kg dan 81 cm. Terdapat pemendekan durasi diare yang signifikan pada kelompok kasus dibandingkan kelompok kontrol adalah 10,32 (+6,35)jam (p-value =0,049). Terdapat perbedaan kadar calprotectin feses yang signifikan antara sebelum dan sesudah pemberian probiotik pada kelompok kasus (p-value =0,038).Kesimpulan. Pemberian probiotik dapat memperpendek rerata durasi diare akut dan menurunkan rerata kadar calprotectin feses secara bermakna. Pemberian probiotik ini dapat disarankan sebagai terapi adjuvan dalam tata laksana diare akut pada anak.
Fungsi Hati Anak Leukemia Limfoblastik Akut dalam Kemoterapi Fase Induksi berdasarkan Usia dan Status Gizi Anggraini, Syahzalya; Izzah, Amirah Zatil; Anggraini, Fika Tri; Alioes, Yustini; Handayani, Tuti
Sari Pediatri Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.3.2024.131-6

Abstract

Latar belakang. Kemoterapi merupakan pengobatan utama pada anak leukemia limfoblastik akut (LLA). Kemoterapi fase induksi adalah kemoterapi pertama yang membunuh 95-98% sel leukemik. Pemberian kemoterapi menyebabkan kerusakan hati ditandai dengan peningkatan kadar enzim transaminase dan dapat disertai peningkatan kadar bilirubin. Faktor yang mempengaruhi pengobatan LLA, di antaranya usia dan status gizi.Tujuan. Melihat gambaran kadar enzim transaminase dan bilirubin pada anak LLA berdasarkan usia dan status gizi pada kemoterapi fase induksi.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling pasien anak LLA di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil, Padang, periode September 2022 sampai Agustus 2023. Data demografis, SGOT, SGPT, dan bilirubin total pasien didapatkan melalui rekam medis.Hasil. Penelitian ini mendapatkan sebanyak 49 sampel, dengan mayoritas responden adalah perempuan (53,1%), usia <10 tahun (65,3%) dan status gizi normal (77,6%). Cenderung terjadi peningkatan ringan SGOT (65,3%) dan SGPT (49%) serta kadar normal bilirubin (49%) pada kemoterapi fase induksi. Kadar SGOT dan SGPT cenderung mengalami peningkatan ringan pada semua kelompok status gizi. Pada 4 anak overweight ditemukan peningkatan berat SGOT (25%) dan SGPT (50%). Kadar bilirubin cenderung normal pada setiap status gizi, tetapi meningkat sedang pada overweight (75%). Peningkatan kadar SGOT dan SGPT cenderung ringan pada setiap kelompok usia. Bilirubin meningkat sedang pada anak ?10 tahun (53%).Kesimpulan. Pada umumnya SGOT dan SGPT mengalami peningkatan kadar ringan serta bilirubin dalam kadar normal pada anak LLA selama kemoterapi fase induksi. Peningkatan berat SGOT,SGPT dan bilirubin ditemukan pada overweight dan usia ?10 tahun.