Claim Missing Document
Check
Articles

KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN COLLEMBOLA PADA LIMA TIPE EKOSISTEM DI KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Remila Selvany; Rahayu Widyastuti; Yayuk Rahayuningsih Suhardjono
ZOO INDONESIA Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v27i2.4041

Abstract

Collembola merupakan kelompok Arthropoda yang sangat beragam dan memiliki fungsi penting di dalam ekosistem tanah. Namun, kelimpahan dan keanekaragaman Collembola di Kalimantan Barat masih sedikit dipelajari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi kelimpahan dan keanekaragaman Collembola, serta hubungannya dengan faktor lingkungan. Sampel dikumpulkan pada Desember 2016 dan Februari 2017. Collembola dikumpulkan dari hutan alami, hutan karet, kebun kelapa sawit, ladang dan lahan marginal. Hasil penelitian diperoleh tiga ordo, 10 famili dan 26 genus dengan total 393 individu. Terdapat perbedaan pada kelimpahan dan keanekaragaman ordo, famili dan ge-nus pada lima ekosistem yang berbeda. Perbedaan faktor lingkungan berperan penting terhadap kelimpahan dan struktur komunitas Collembola. Berdasarkan indeks keanekaragaman, hutan alami memiliki keanekaragaman Collembola tertinggi (2,69), diikuti oleh hutan karet (2,44), kebun kelapa sawit (2,37), ladang (1,52) dan lahan marginal (0,56). Hasil analisis korelasi menunjukkan terdapat korelasi positif antara beberapa genus Collembola dengan C organik, N total dan C/N rasio.
POTENSI BAKTERI PENGGUNA METANOL DARI RIZOSFER TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) UNTUK MEMPRODUKSI PROTEIN SEL TUNGGAL Umi Hidayati; Jekvy Hendra; Delima Napitupulu; Andreas Panjaitan; Rahayu Widyastuti
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 1, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i1.107

Abstract

Rizosfer tanaman karet menyimpan potensi yang besar melalui keberadaan mikroorganisme yang bermanfaat untuk berbagai kepentingan, misalnya produk bioindustri seperti biofungisida dan biofertilizer. Pengembangan produk dari hasil eksplorasi mikroorganisme dari rizosfer tanaman karet akan menjadi peluang untuk meningkatkan peran dari perkebunan karet. Protein Sel Tunggal (PST) merupakan sel kering atau biomassa mikroorganisme seperti cendawan, khamir, bakteri, dan ganggang yang dapat digunakan sebagai sumber protein untuk pangan, selain mengandung protein tertentu, juga mengandung karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan nutrisi lain yang dibutuhkan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi mikroorganisme dari rizosfer tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) untuk produksi protein sel tunggal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanah, Kimia dan Kesuburan Tanah di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan dan Laboratorium Cendawan Departemen Hama dan Penyakit Tanaman mulai  Februari 2011 sampai dengan Mei 2011. Analisa protein menggunakan metode Kjeldahl. Mikroorganisme dari rizosfer tanaman karet yang mampu menggunakan metanol dapat digunakan untuk produksi protein sel tunggal dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pakan. Eksplorasi mikroorganisme dari rhizosfer tanaman karet memperoleh 22 isolat dan terseleksi 8 isolat untuk pengujian kadar protein yang terdiri 5 bakteri K2, K4, K8, K11, dan K13, serta 3 cendawan K15, K17, dan K18. Pengujian Hypersensitive Response, menghasilkan 2 isolat bakteri patogen K10 dan K13. Kandidat yang terbaik adalah isolat K4 dengan kadar protein 0,91%. Isolat K4 sudah terlihat dari awal memiliki pertumbuhan  paling cepat dan bukan patogen.  How to Cite : Hidayati, U., Hendra, J., Napitupulu, D., Panjaitan, A., & Widyastuti, R. (2011). Potensi bakteri pengguna metanol dari rizosfer tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) untuk memproduksi protein sel tunggal. Jurnal Penelitian Karet, 29(1), 25-34. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/107
Peranan Tanah Rhizosfer Bambu sebagai Bahan untuk Menekan Perkembangan Patogen Phytophthora palmivora dan Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Pepaya Winda Ika Susanti; Rahayu Widyastuti; Suryo Wiyono
Jurnal Tanah dan Iklim (Indonesian Soil and Climate Journal) Vol 39, No 2 (2015)
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jti.v39n2.2015.65-74

Abstract

Keanekaragaman dan fluktuasi kelimpahan Collembola di sekitar tanaman kelapa sawit di perkebunan Cikasungka, Kabupaten Bogor Erwinda Erwinda; Rahayu Widyastuti; Gunawan Djajakirana; Yayuk Rahayuningsih Suhardjono
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 13 No 2 (2016): Juli
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.554 KB) | DOI: 10.5994/jei.13.2.99

Abstract

Collembola is one of the dominant microarthopods in almost all soils types. They have important function in food webs soil ecosystem. This research was done at Cikasungka oil palm plantation for six months (April until September 2014). The aim of the research was to collect the information of diversity abundance and population fluctuations of Collembola, and their linkages between environmental factors. Collembolans were collected based on four points of soil sample from five trees of oil palm which has similar criteria. Distance of 0, 120, 240 cm from the trees, and compost lane were used to collect the samples. Results showed 37 species from 10.438 individuals with a density of 544 individu/m2. The species belongs to  4 orders and 13 families. Result also showed that are fluctuations in the abundance at the sample sites. The highest abundance of Collembolans was found in base tree zone (920 individu/m2) and compost lane (763 individu/m2). During six months, total populations of Isotomid sp. 5 (Isotomidae) was higher than the others species of Collembolans. Based on the correlation analysis, various species of Collembolans are positively correlated with rainfall and soil pH.
Keanekaragaman dan kelimpahan Collembola pada perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Bajubang, Jambi Joko Warino; Rahayu Widyastuti; Yayuk R. Suhardjono; Budi Nugroho
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 14 No 2 (2017): Juli
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.531 KB) | DOI: 10.5994/jei.14.2.51

Abstract

Collembola are essentials for soil health, because of their are as decomposers of organic material. However, Collembola are still not widely know in Indonesia. Information about Collembola is very limited, especially in oil palm plantations, so it is very interesting to study. The research aims to study the abundance and diversity of Collembola and also examines the influence of  environmental factors (rainfall and humidity) toward Collembola population. The study was conducted in smallholder oilpalm plantations in four villages namely Bungku, Pompa Air, Sungkai, and Singkawang at Bajubang Jambi. The observations were conducted in November 2013 until April 2014. Soil sampling is done by using a rectangular blade measuring 16 cm x 16 cm which is inserted into the ground as deep as 5 cm. Soil samples were taken on four plots located in four villages. At each location a single plot of 50 m x 50 m is made. Soil sampling was performed on the weedly zone area and inactive pathway area for 6 months, 3 samples on the open ground and 3 samples on the compost line randomly. The results showed that Collembola obtained from all observed areas were 3 orders, 7 families, and 21 genus with a total abundance of 21,951 individuals. Collembola abundance found on the weedly zone area numbered 9,960 individuals consisted of 3 orders, 6 families, and 17 genus. While at  inactive pathway area numbered 11,991 individuals consisted of 3 orders, 7 families, 16 genus. Among the three orders found Entomobryomorpha has the highest abundance of 19,999 individuals, both on the weedly zone area and inactive pathway area. From the results of research  suspected that high and low levels of abundance and diversity influenced by fertilization, drought, and herbicides. Fertilization of the organic matter can increase abundance, were while drought and herbicide can reduce abundance of Collembola.
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN COLLEMBOLA PADA LIMA TIPE EKOSISTEM DI KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Remila Selvany; Rahayu Widyastuti; Yayuk Rahayuningsih Suhardjono
ZOO INDONESIA Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52508/zi.v27i2.4041

Abstract

Collembola merupakan kelompok Arthropoda yang sangat beragam dan memiliki fungsi penting di dalam ekosistem tanah. Namun, kelimpahan dan keanekaragaman Collembola di Kalimantan Barat masih sedikit dipelajari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi kelimpahan dan keanekaragaman Collembola, serta hubungannya dengan faktor lingkungan. Sampel dikumpulkan pada Desember 2016 dan Februari 2017. Collembola dikumpulkan dari hutan alami, hutan karet, kebun kelapa sawit, ladang dan lahan marginal. Hasil penelitian diperoleh tiga ordo, 10 famili dan 26 genus dengan total 393 individu. Terdapat perbedaan pada kelimpahan dan keanekaragaman ordo, famili dan ge-nus pada lima ekosistem yang berbeda. Perbedaan faktor lingkungan berperan penting terhadap kelimpahan dan struktur komunitas Collembola. Berdasarkan indeks keanekaragaman, hutan alami memiliki keanekaragaman Collembola tertinggi (2,69), diikuti oleh hutan karet (2,44), kebun kelapa sawit (2,37), ladang (1,52) dan lahan marginal (0,56). Hasil analisis korelasi menunjukkan terdapat korelasi positif antara beberapa genus Collembola dengan C organik, N total dan C/N rasio.
Use of phosphorus- and potassium-solubilizing multifunctional microbes to support maize growth and yield Ana Khalisha; Rahayu Widyastuti; Iswandi Anas Chaniago
SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 19, No 1 (2022): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/stjssa.v19i1.57816

Abstract

Intensive chemical fertilizer use has led to environmental problems, ecological impacts, and dependence on chemical fertilizers. Microbial inoculants (biofertilizers) combined with mineral fertilizers can be used to establish an environmentally friendly and sustainable agricultural practice. This study aimed to observe the effectiveness of multifunctional microbes (S. pasteuri and A. costaricaensis) in their wild-type and mutant forms. The microbes can simultaneously solubilize phosphorus and potassium from minerals (rock P and feldspar) to support maize growth and yield. Microbial viability in the zeolite carrier was tested, and the treatment was applied to the field to determine the effect on maize growth and yield. The results showed that zeolite could maintain the microbe population at an average of 108 CFU g-1 during 4 months of storage. A field test revealed that all microbes treatments combined with minerals without the addition of chemical fertilizers could support maize growth and yield by producing maize ear. In particular, mutant A. costaricaensis can support dry stalk weight and maize ear length as effective as chemical fertilizers due to its ability to increase available P and exchangeable K in the soil. Overall, microbes could provide P but not K from the minerals and soil for plant uptake.
Kelimpahan Fauna Tanah pada Ekosistem Pascabakar Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia Endang Sulistyorini; Rahayu Widyastuti; Sugeng Santoso
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 4, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.151 KB) | DOI: 10.37637/ab.v4i3.745

Abstract

Sistem pengelolaan hutan di Kabupaten Kapuas Hulu selama ini kurang optimal sehingga luas hutan dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang mengakibatkan kualitas hutan semakin menurun. Eksploitasi hutan seperti penebangan hutan, peningkatan peralihan fungsi kawasan hutan menjadi pemukiman, perkebunan, perladangan berpindah, dan terjadinya kebakaran hutan merupakan ancaman yang serius terhadap ekosistem hutan terutama keberadaan fauna tanah dan hilangnya keanekaragaman hayati. Fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah yang menjaga ekosistem melalui proses dekomposisi dan siklus hara. Proses-proses tersebut bertujuan untuk memperbaiki serta mempertahankan sifat biologi, kimia, dan fisik tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kelimpahan fauna tanah dan pengaruh lingkungan terhadap kelimpahan fauna tanah pada ekosistem hutan sekunder, lahan pascabakar 1 tahun, belukar muda (2-3 tahun) dan belukar tua (5-20 tahun). Sampel tanah diambil dengan menggunakan metode transek sepanjang 100 m dengan 10 titik sampling pada kedalaman 0-5 cm. Ekstraksi fauna tanah dilakukan dengan menggunakan alat modifikasi Berlese Funnel Heat Extractor. Identifikasi ordo dilakukan dengan mikroskop cahaya stereo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap ekosistem memiliki kelimpahan dan keanekaragaman yang berbeda. Kelimpahan fauna tanah terbesar dan terendah adalah 1.350 dan 461 individu /m2 pada ekosistem hutan sekunder dan lahan pascabakar 1 tahun. Keanekaragaman terbesar terdapat pada ekosistem hutan sekunder dan belukar tua (1,82;1,95) dengan kategori keanekaragaman sedang. Kelimpahan fauna tanah didominasi dari kelas Hexapoda (insecta) dan terendah dari kelas Symphyla.
Efektivitas Fungi Mikoriza Arbuskula pada Tanaman Singkong (Manihot esculenta) di Tanah Inceptisol Bogor Yaumil Khairiyah; Rahayu Widyastuti; Rohani Cinta Badia Ginting
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 27 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.27.3.414

Abstract

Cassava is widely grown in Inceptisol. As agricultural land, the soil has several problems, i.e., high soil acidity, easily leached soil surface layers, unstable soil aggregates, and slow permeability. Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) form a symbiotic relationship with over 80% of higher plant species. However, the effectiveness of AMF on cassava has not been widely reported. This study aimed to determine the effect of AMF inoculants on the vegetative growth of cassava in Inceptisol. The AMF inoculants used were Gigaspora sp., Glomus manihotis, and a consortium of Acaulospora tuberculata and Glomus rubiforme. The experiment was performed in a Randomized Block Design with 8 treatments and 3 replications, i.e., M1 = G. manihotis; M2 = Gigaspora sp.; M3 = consortium of A. tuberculata-G. rubiforme; M4 consortium of G. manihotis-Gigaspora sp.; M5 consortium of G. manihotis-A. tuberculata-G. rubiforme; M6 consortium of A. tuberculata-G. rubiforme-Gigaspora sp.; and M7 consortium of G. manihotis-A. tuberculata-G. rubiforme-Gigaspora sp.; and control (as recommended dose of NPK fertilizers). In the AMF application treatment, 75% of the recommended NPK fertilizer was applied, thus saving 25% from the control. A total of 50 AMF spores were applied to each cassava plant and maintained for 8 weeks. The data were analyzed using the RStudio 4.1.1 program. The results showed that all treatments with AMF gave various effectiveness and could compete with the indigenous AMF. AMF application significantly increased the vegetative growth of cassava grown in Inceptisols, i.e., shoot and root dry weight, root length, P-uptake, and percentage of root infection. Application of G. manihotis and the consortium of A. tuberculata-G. rubiforme-Gigaspora sp. effectively increased cassava plants' growth for 8 weeks in Inceptisol. The AMF application could save 25% on the use of NPK fertilizers. Keywords: Acaulospora, cassava, Gigaspora, Glomus, fertilizer, mycorrhizal
Identifikasi dan Kekerabatan Rhizobia Pohon Mangium dan Sengon Berdasarkan nodD1 dan nifH Misbakhul Bait; Rumella Simarmata; Rahayu Widyastuti
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 27 No. 4 (2022): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.27.4.627

Abstract

Rhizobia from legumes Acacia mangium (Mangium) and Paraserianthes falcataria (Sengon) have often been isolated and studied for their applications to plants, but studies on the nod and nif genes are still lacking. Even though this plant were often used as a source of paper raw materials and reforestation plants. The aim of this study was to define the genetic relationship of a group of potential strains isolated from tropical legume trees in terms of 16S rRNA, nodD1, and nifH genes. This research method includes the selection of isolates based on the main character of Rhizobiales, to isolate the 16S rRNA, nodD1, and nifH genes from the selected isolates, and to construct a phylogeny tree based on the isolated genes. Two rhizobia were selected based on a selection test, namely DCM 212 from A. mangium and DF13 from P. falcataria. DCM 212 isolate was identified as having the closest similarity to Rhizobium multihospitium CC-13H. The isolate of DF13 had high similarity with Bradyrhizobium elkanii based on 16S rRNA, nodD1, and nifH. The degenerative primer pairs used in this study could not detect nodD1 gene from DCM 212 isolate. Keywords: Bradyrhizobium, phylogeny, rhizobium
Co-Authors . Anandyawati . Giyanto . Giyanto A M Zuhud, Ervizal Abied Khafidhan Adiyaksa, Ivan Khofian AHMAD JUNAEDI Ana Khalisha Anandyawati, . Anas Iswandi Andreas Panjaitan Andreas Panjaitan Andreas Panjaitan, Andreas Ania Cintaresmini Ania Citraresmini Ania Citraresmini Antonius Suwanto Aprilianti, Nabila Apsari Putri Wulandari Aris Tri Wahyudi Atang Sutandi Atit Kanti Aviantara, Dwindrata B. Azra Zahrah Nadhirah Ikhwani Bria, Deseriana Budi Nugroho Budi Nugroho Dadang . DADANG DADANG Daniel Happy Putra Darmawan Darwis Delima Napitupulu Delima Napitupulu Devanda Ayu Lidya Permata Putri Dewi Sekar Pengerteni Dewi, Tirta Kumala Dhanti Hanifa Muslimah Dimas Syahiddin Dwi Andreas Santosa DWI ANDREAS SANTOSA Dwi Wulandari Edy Hartulistiyoso Eka Lupitasari Endang Sulistyorini Endang Sulistyorini Enny Widyati Enok Sumarsih ERNIN HIDAYATI Erwinda Erwinda Evi Ambarsari Fahrizal Hazra Fajri, Ihsanul Fany Juliarti Panjaitan Fitriyani, Indri Hapsari Giyanto Gunawan Djajakirana Hariyadi Heru Bagus Pulunggono I Made Sudiana I Nyoman Sujana Ida Widiyawati Idris Idris Idris, Komaruddin Irawati, Arfi Irdika Mansur Iswandi Anas Iswandi Anas Iswandi Anas Iswandi Anas Iswandi Anas Chaniago Jekvy Hendra Jekvy Hendra Joko Warino Kartika, Sari Yulia Khairiyah, Yaumil Laksmita Prima Santi MAIPA DIA PATI Masaru Kobayashi Misbakhul Bait Nabila Dianisa Niken Puspita sari Nofrifaldi Ohiwal, Morgan Priyo Cahyono Putri Wulandari, Dwi Ramadhani Sri Astuti, Andi Febrianti Ratnawati Lantifasari Remila Selvany Risa Rosita Rohani Cinta Badia Ginting Rumella Simarmata Rury Kurniawan Safira Eka Aprianti Sanjaya, Wilhelmus Terang Arga Sari Yulia Kartika Sarjiya Antonius SATRIYAS ILYAS Satya Nugroho Soetanto Abdoellah Sri Sulisawati Suciati, Fuzi Sugeng Santoso Sugiarto, Petrus Sugiyanta , Sukmadewi, Desak Ketut Tristiana Sumarsih, Enok Suryo Wiyono Syaiful Anwar Taufiq Hidayat Tita Puspitasari Titik Tri Wahyuni Umadi, Sarah Sakinah Umi Hidayati Umi Hidayati Utami, Aditya Dyah Widrializa, . Wilhelmus Terang Arga Sanjaya Wilhelmus Terang Arga Sanjaya Wilhelmus Terang Arga Sanjaya Winda Ika Susanti Wiwik Eko Widayati Yayuk R. Suhardjono Yayuk Rahayuningsih Suhardjono Yayuk Rahayuningsih Suhardjono Yuni Lisafitri Yusuf, Sri Malahayati Zuhud, Evrizal A M