Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KORELASI PENGETAHUAN COVID-19 DENGAN KEPATUHAN MENJALANI PROTOKOL KESEHATAN 5M PADA MAHASISWA FK UNTAR ANGKATAN 2020 Winny Tjongarta; Zita Atzmardina
Al-Iqra Medical Journal : Jurnal Berkala Ilmiah Kedokteran Vol 6, No 1 (2023): EFFECTS OF CORONA VIRUS 2019
Publisher : Journal Medical Universitas muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/aimj.v6i1.8533

Abstract

Pada bulan Desember 2019, seluruh dunia dihebohkan dengan munculnya virus baru yang mematikan, yaitu Coronavirus-19 (COVID-19). Penyakit tersebut menyebar sangat cepat dan menyebabkan kematian begitu tinggi, sehingga pemerintahan memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan memberlakukan protokol kesehatan 5M yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi penularan virus COVID-19. Untuk mencegah penularan tersebut masyarakat di anjurkan untuk menjaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan COVID-19 dengan sikap dan perilaku menjalani protokol kesehatan 5M pada mahasiswa FK UNTAR angkatan 2020. Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik memalui penyebaran kuesioner kepada responden. Hasil penelitian dari 76 responden menunjukkan pengetahuan yang baik, yaitu 67 responden (88,2%), sikap yang baik sebanyak 65 responden (85,5%), perilaku baik 73 responden (96,1%) dengan rata-rata usia responden ialah 20 (65,8%). Sehingga, didapatkan hubungan antara pengetahuan dengan sikap (P value  0,01 ; RR 1,64); hubungan antara pengetahuan dengan perilaku (P value 0.47;RR 1,57); tidak didapatkan hubungan antara sikap dan perilaku (P value 0.221 ; RR 1,39). Terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap, pengetahuan dan perilaku, tetapi tidak ditemukan hubungan antara sikap dan perilaku. Hal tersebut dapat terjadi karena jumlah responden yang sedikit atau ada faktor lain yang tidak diteliti. Oleh karena itu, bagi peneliti selanjutnya disarankan agar dapat mencari responden yang lebih bervariasi dan bukan hanya dari mahasiswa kedokteran.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, PERILAKU MENCUCI TANGAN TERHADAP KEJADIAN DIARE BALITA DI TINTING SELIGI Arianti Mutiara Ilsa; Zita Atzmardina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14447

Abstract

Diare merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak dan balita. Diare menjadi penyebab kematian keildua pada balita. Diare balita tidak lepas dari pola asuh orang tua. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang kurang pada orang tua dapat menjadi perantara penularan diare pada balita. Salah satu perilaku ibu balita yang diduga berkaitan dengan kejadian diare adalah mencuci tangan yang kurang. Mencuci tangan menggunakan sabun dapat menurunkan angka kejadian diare hingga 47%. Hal ini penting diketahui oleh masayarakat agar dapat meningkatkan kesadaran untuk cuci tangan. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku mencuci tangan ibu teilrhadap kejadian diare pada balita. Penelitian analitik dengan desain cross sectional. Variabel bebas adalah pengetahuan, sikap dan perilaku ibu mencuci tangan. Variabelterikat adalah kejadian diare pada balita. Penelitian dilakukan di Desa Tinting Seligi kabupaten Kapulas Hulu. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Jumlah sampel 81 orang. Hasil penelitian adalah Ibu balita yang mempunyai pengetahuan baik terhadap mencuci tangan sebanyak 46 orang (56,8%) dan pengetahuan kurang sebanyak 35 orang (43,2%) (PR=4,222, 95%CI=1,386 – 12,862).Ibu balita yang mempunyai sikap positif terhadap mencuci tangan sebanyak 38 orang (46,95) dan yang mempunyai sikap negatif sebanyak 43 orang (53,1%) (PR=4,163, 95%CI = 1,484 – 11,681). Ibu balita yang mempunyai perilaku baik terhadap mencuci tangan sebanyak 20 orang (24,7%) dan yang mempunyai perilaku kurang sebanyak 61 orang (75,3%) (PR=3,357, 95%CI=1,163 – 9,694). Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan, sikap dan perilaku mencuci tangan Ibu terhadap kejadian diare pada balita di Deisa Tinting Seligi Kabupaten kapuas Hulu dengan p-value < 0,05.
PENGARUH PENDIDIKAN SEKSUALITAS TERHADAP PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU TENTANG SEKSUALITAS PADA SISWA/I SMP NEGERI 245 JAKARTA Alfaniah Aufa Shidqi Al Widad; Zita Atzmardina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14523

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan seksualitas terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang seksualitas pada siswa/i SMP Negeri 245 Jakarta. Penelitian observasional dengan desain analitik cross-sectional ini dengan menggunakan rumus analitik katagorik tidak berpasangan dan didapatkan 158 orang subjek penelitian dengan cara simple random sampling. Data dikumpulkan berupa identitas responden dan penilaian pendidikan seksualitas serta pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang seksualitas yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan disebarkan melalui daring. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian dari 158 sampel didapatkan sebanyak 51,9% siswa/i mendapatkan pendidikan seksualitas dan yang tidak mendapatkan pendidikan seksualitas sebanyak 48,1%. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tidak terdapat pengaruh pendidikan seksualitas terhadap pengetahuan (p value = 0,23), sikap (p value = 0,351; PR = 0,809), dan perilaku (p value = 1; PR = 1,03). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada pengaruh pendidikan seksualitas terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang seksualitas pada siswa-siswi SMP Negeri 245 Jakarta. Meskipun tidak mendapatkan pendidikan seksualitas dari orang tua dan sekolah, tetapi ada era digital, informasi bisa didapatkan dengan lebih mudah. Diharapkan peneliti selanjutnya dapat meneliti pengaruh pendidikan seksualitas sejak dini terhadap responden yang lebih beragam.
Kasus Gizi Buruk pada An. MFA dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Gembong, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Periode: 10 November 2022 – 12 Desember 2022 Felix Ongko; Cindy Willyana; Melly Liman; Zita Atzmardina
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9311

Abstract

ABSTRACT Malnutrition (severe wasting) is a state of malnutrition caused by insufficient intake or increased demand/output or both simultaneously. Globally, one in five children under the age of 5 die from malnutrition. Based on the World Health Organization (WHO) in 2022, Indonesia is in the second highest cases of malnutrition out of 84 countries. Based on Riset Kesehatan Dasar Indonesia in 2018, stated that 10.2% toddlers were undernourished and 3.5% toddlers were malnourished. In 2022 the number of toddlers with malnutrition at the Gembong Health Center is 5 toddlers, which is decrease compared to 2021, which is 6 toddlers. Improvement nutritional status of Child MFA thereby increasing growth and development optimally. A family medicine approach with the Mandala of Health paradigm was carried out in a child aged 1 year and 7 months came to the Gembong Health Center to control post-hospitalization of bronchopneumonia and improve malnutrition. During the physical examination and anthropometry plotted on the WHO curve, it was found that the weight/height was below -3 SD so it was categorized as severe wasting. At the time of the visit, the factors that caused the patient's condition were lack of appetite, irregular diet, less varied food menu and lack of knowledge of the patient's parents regarding the child's nutritional needs and malnutrition. After the intervention, an increase in body weight (BB) and height (TB) was obtained. Based on a comprehensive and holistic approach to Child MFA, there is an increase in BB and TB in An.MFA so that it is expected that the quality of life of An.MFA is better. Keywords: Family Medicine, Mandala of Health, Severe Wasting  ABSTRAK Gizi buruk (severe wasting) merupakan keadaan malnutrisi yang disebabkan oleh asupan yang kurang atau kebutuhan/keluaran yang meningkat atau keduanya secara bersamaan. Secara global, satu dari lima anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat gizi buruk. Berdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 2022, Indonesia menempati urutan kedua kasus gizi buruk tertinggi dari 84 negara. Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2018 menyatakan bahwa terdapat 10,2% balita dengan gizi kurang dan 3,5% baalita dengan gizi buruk. Tahun 2022 jumlah balita dengan gizi buruk di Puskesmas Gembong sebanyak 5 balita dimana jumlah ini berkurang dibanding dengan tahun 2021 sebanyak 6 balita. Perbaikan status gizi An.MFA sehingga meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Dilakukan pendekatan kedokteran keluarga dengan paradigma Mandala of Health pada seorang anak usia 1 tahun 7 bulan datang ke Puskesmas Gembong dengan keluhan ingin kontrol post rawat inap bronkopneumonia dan perbaikan gizi buruk. Saat dilakukan pemeriksaan fisik dan antropometri yang di plotting dalam kurva WHO didapatkan BB/TB di bawah -3 SD sehingga dikategorikan sebagai gizi buruk. Pada saat dilakukan kunjungan ditemukan bahwa faktor yang menyebabkan kondisi pasien adalah kurangnya nafsu makan, pola makan yang tidak teratur, menu makanan yang kurang bervariasi serta kurangnya pengetahuan orang tua pasien mengenai kebutuhan gizi anak dan gizi buruk. Setelah dilakukan intervensi maka didapatkan peningkatan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Setelah dilakukan pendekatan komprehensif dan holistik pada An.MFA terjadi peningkatan BB dan TB pada An.MFA sehingga diharapkan kualitas hidup An.MFA lebih baik. Kata Kunci: Kedokteran Keluarga, Mandala of Health, Gizi Buruk
Diagnosis Komunitas dalam Upaya Penurunan Kasus Baru Penyakit Jantung Koroner di Wilayah Kerja Puskesmas Gembong, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten Periode 07 November – 21 Desember 2022 Cindy Willyana; Felix Ongko; Melly Liman; Zita Atzmardina
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9312

Abstract

ABSTRACT Community diagnosis is needed in a community to address existing health problems. Coronary Heart Disease / CHD is a condition where there is blockage in the coronary arteries due to atherosclerosis. Coronary Heart Disease is a major contributor to death and increasing DALYs in the global population. The 2018 RisKesDas reports that the prevalence of CHD in Indonesia is 1.5% of the total population. An increase in CHD cases at the Gembong Health Center was reported from 1 case to 17 cases (1600%) in the period September - October 2022. Increase public knowledge about Coronary Heart Disease, healthy heart exercises and CHD risk factors owned by the community in the working area of the Gembong Health Center in efforts to reduce new cases of CHD. Causes and interventions were identified using a community diagnostic approach. Collecting data using a mini-survey and identifying the source of the problem using the Blum paradigm. The problem priority is determined from the Delphi non-scoring method. Identify the cause of the problem with a fishbone diagram. Counseling about CHD, demonstrating healthy heart exercises, and screening for CHD risk factors were selected as interventions to address this problem. The PDCA (Plan-Do-Check-Action) method is applied as a monitoring method and a systematic approach to evaluation. The first intervention in the form of counseling about CHD obtained a post-test score of ≥ 70 in 86.7% of respondents. The results of the second intervention found that 3 respondents voluntarily were able to do healthy heart exercises. The results of the third intervention showed that all respondents screened and found out their CHD risk factors. Lifestyle aspects play an important role in the increase in CHD cases at the Gembong Health Center. The interventions carried out led to an increase in public knowledge of CHD and risk factors and healthy heart exercises. Keywords: CHD, Community diagnosis, Blum Paradigm, Delphi, Fishbone diagram  ABSTRAK Diagnosis komunitas diperlukan dalam sebuah komunitas untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang ada. Penyakit Jantung Koroner / PJK merupakan kondisi terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah koroner akibat proses atherosklerosis. Penyakit Jantung Koroner merupakan kontributor utama atas kematian dan meningkatnya angka DALYs pada populasi global. RisKesDas 2018 melaporkan prevalensi PJK di Indonesia sebesar 1,5% dari total penduduk. Peningkatan kasus PJK di Puskesmas Gembong dilaporkan dari 1 kasus menjadi 17 kasus (1600%) pada periode September - Oktober 2022. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Penyakit Jantung Koroner, senam jantung sehat dan faktor risiko PJK yang dimiliki masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Gembong dalam upaya menurunkan kasus baru PJK. Penyebab dan intervensi diidentifikasi menggunakan pendekatan diagnostik komunitas. Pengumpulan data menggunakan surveimini dan identifikasi sumber masalah menggunakan paradigma Blum. Prioritas masalah ditentukan dari metode non-scoring Delphi. Identifikasi penyebab masalah dengan diagram fishbone. Penyuluhan mengenai PJK, demonstrasi senam jantung sehat, dan skrining faktor risiko PJK dipilih sebagai intervensi untuk mengataso permasalahan ini. Metode PDCA (Plan-Do-Check-Action) diterapkan sebagai metode monitoring dan pendekatan sistematis untuk melakukan evaluasi. Intervensi pertama berupa penyuluhan mengenai PJK didapatkan nilai post-test ≥ 70 pada 86,7% responden. Hasil intervensi kedua didapatkan 3 responden secara sukarela mampu melakukan senam jantung sehat. Hasil intervensi ketiga didapatkan seluruh responden melakukan screening dan mengetahui faktor risiko PJK yang dimilikinya. Aspek lifestyle memainkan peran penting dalam meningkatnya kasus PJK di Puskesmas Gembong. Intervensi yang dilakukan menyebabkan meningkatnya pengetahuan masyarakat akan PJK serta faktor risiko dan senam jantung sehat. Kata Kunci: PJK, Diagnosis komunitas, Paradigma Blum, Delphi, Diagram fishbone
Hubungan Antara Konsumsi Garam Berlebih dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Pasien Hipertensi Berusia Minimal 20 Tahun Zita Atzmardina; Agnestina Agnestina; Ajeng Probowati
Ebers Papyrus Vol. 18 No. 2 (2012): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi termasuk  sepuluh  penyakit  terbanyak  di  Puskesmas Kelurahan Srengseng, Jakarta  Barat.  Pada tahun   2008,  kejadiannya  meningkat  lebih  dari  dua  kali  lipat. Berdasarkan survei awal, penderita hipertensi tidak terkendali sering mengonsumsi makanan dengan  kadar  garam  tinggi.  Karenanya, ingin  diketahui apakah ada  hubungan antara konsumsi garam berlebih dengan hipertensi tidak  terkendali.  Penelitian bersifat analitik cross-sectional ini dilakukan terhadap 68 penderita hipertensi berusia minimal 20 tahun yang datang ke Balai Pengobatan (BP) umum. Pengumpulan data menggunakan metode non random purposive sampling, wawancara dari kuesioner 24 hour dietary recall, dan pengukuran tekanan darah. Data yang di peroleh berasal dari uji statistik Chi square yang signifikan dan perhitungan risiko dengan   Prevalence Ratio (PR). Dari 35 responden yang mengonsumsi garam berlebih terdapat 29 orang (82,86%) yang menderita hipertensi tidak terkendali, sedangkan dari 33 responden yang mengonsumsi garam secara moderat (tidak berlebih) hanya 16 orang (48,48%). Dari penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara konsumsi garam berlebih dengan hipertensi tidak terkendali pada pasien berusia minimal 20 tahun di Puskesmas Kelurahan Srengseng, (X 2=8,97; 0.0025<p<0.005). Responden yang mengonsumsi garam berlebih mempunyai risiko  1,71 kali  lebih  besar (PR=1,71) menderita hipertensi tidak terkendali dibandingkan dengan responden yang mengonsumsi garam secara moderat.
PROFIL CAPAIAN IMUNISASI DASAR ATAU LANJUTAN PADA BADUTA SEBELUM DAN SELAMA PANDEMI COVID-19 Wiyarni Pambudi; Sari M.D Nataprawira; Zita Atzmardina; Sylvia Regina
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v1i1.12054

Abstract

Perubahan global dari pandemi penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) dapat mengganggu layanan penyelamatan hidup yang kritis seperti imunisasi rutin, sehingga meningkatkan kerentanan populasi terhadap wabah Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Ketika kasus COVID-19 meningkat dan pemerintah menerapkan pembatasan sosial, kunjungan pasien rawat jalan menurun secara signifikan. Hal ini mengakibatkan penurunan angka imunisasi anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil capaian imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan sebelum dan selama pandemi COVID-19, profil capaian imunisasi rutin di 34 provinsi serta hubungannya dengan status zona risiko pandemi. Data yang dianalisis pada studi observasional deskriptif dengan desain potong lintang ini adalah laporan rutin pelayanan imunisasi Sub Direktorat Imunisasi, Kementerian Kesehatan RI. Kajian terhadap capaian imunisasi 34 provinsi menunjukkan terjadi penurunan praktik pelayanan imunisasi dasar sebesar -17,0% (p < 0,0005) dan imunisasi lanjutan -12,9% (p < 0,0005) dibandingkan sebelum masa pandemi. Uji statistik menyatakan profil capaian imunisasi dasar memiliki hubungan yang bermakna secara statistik (p < 0,05) terhadap peningkatan kasus di suatu wilayah, namun berkorelasi lemah berlawanan (-0,5 < r < -0,3). Penurunan cakupan imunisasi lanjutan yang terjadi selama pandemi COVID-19 berkorelasi sangat lemah berlawanan (r > -0,3) dan tidak memiliki hubungan yang bermakna secara statistik (p > 0,05) dengan zona risiko pandemi. Dalam situasi pandemi, petugas kesehatan dihadapkan pada tantangan tambahan untuk mempertahankan dan memperkuat imunisasi rutin seperti kondsi sebelum pandemi. Peningkatan upaya komunikasi mengenai pentingnya vaksinasi akan bermanfaat, karena efek pandemi COVID-19 telah menyoroti ancaman penyakit menular dan meningkatkan kesadaran akan praktik imunisasi rutin.  The global progression of the coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic may disrupt critical life-saving services such as routine immunization, thus increasing the susceptibility of population to outbreaks of vaccine-preventable diseases (VPDs). As COVID-19 cases increased and government implemented stay-at-home orders, outpatient visits declined significantly. This condition may decrease the rates of childhood immunization. This study aims to determine the profile of basic immunization and follow-up immunization achievements before and during the COVID-19 pandemic, the profile of routine immunization outcomes in 34 provinces and their relationship to the pandemic risk zone status. The data analyzed in this descriptive observational study with a cross-sectional design were routine reports on immunization services at Sub Directorate of Immunization, MoH. Profile on immunization coverages showed a decrease in basic immunization service practices by -17.0% (p <0.0005) and advanced immunization -12.9% (p <0.0005) compared to before the pandemic period. Statistical test showed that the basic immunization achievement profile had a statistically significant relationship (p <0.05) with the increase in cases in a region, but had a weak correlation (-0.5 <r <-0.3). The decrease in advanced immunization had a very weak correlation (r> -0.3) and had no statistically significant relationship (p> 0.05) with an increase in COVID-19 cases. During pandemic situation, health providers are presented with the additional challenge of maintaining and strengthening routine vaccination as previously done before pandemic. Increasing communication efforts regarding the importance of vaccination will be worthwhile, as the effect of the COVID-19 pandemic has highlighted the threat of an infectious disease and has increased awareness of the routine immuization practices.
GENERALIZED STRUCTURAL EQUATION MODELLING: KEPUTUSAN PEMERIKSAAN HIV AIDS PADA WARIA (ANALISIS DATA SURVEI TERPADU BIOLOGIS DAN PERILAKU TAHUN 2013) Zita Atzmardina; Indang Trihandini
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v1i1.12090

Abstract

Waria sering mendapatkan diskriminasi. Perilaku waria yang berisiko perlu tindakan pendeteksian dini sehingga tidak menjadi sumber penularan. Penelitian bertujuan untuk melihat model perilaku waria dalam memutuskan pemeriksaan HIV/AIDS di Palembang, Pontianak, Samarinda, dan Makasar tahun 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, menggunakan data STBP tahun 2013. Hasil analisis GSEM memperlihatkan faktor predisposing mempengaruhi keputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=0,61). Peran petugas berpengaruh terhadap pengetahuan waria (koef. path=1,1) dan mempunyai pengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS pada waria (koef. path=3,5). Oleh sebab itu, penyuluhan melalui petugas kesehatan atau petugas lapangan sangat penting dalam pengambilan keputusan pemeriksaan HIV/AIDS. Transvestites or shemales are usually discriminated. Their behavior is risky to be a contagious agent that can be prevented by having early detection. This study observes models of transvestite behavior in deciding to have HIV/AIDS screening test at Palembang, Pontianak, Samarinda and Makassar in 2013. The design was cross sectional. GSEM analysis result indicates that predisposing factor influences decision to have HIV/AIDS test on shemales (path coefficient = 0.61). Role of health officer effects knowledge of shemales (path coefficient = 1.1) and it has prominent impact on determination to have HIV/AIDS test on shemales (path coefficient = 3.5). Therefore, socialization by health officer or field trainer is crucial on determining HIV/AIDS test.
PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP KETAJAMAN MATA MURID KELAS VIII-IX SMP N 1 KARANGANYAR Haviva Evi Nur Kholifah; Zita Atzmardina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15289

Abstract

Gadget merupakan alat teknologi canggih sebagai sarana komunikasi dan informasi yang membantu aktivitas manusia. Gadget mempunyai berbagai macam jenis yang terdiri dari handphone, laptop, ipad atau tablet. Indonesia merupakan urutan keempat pengguna gadget tertinggi di dunia. Manfaat dari penggunaan gadget sendiri dapat mempermudah manusia dalam berkomunikasi, mencari informasi pengetahuan serta sebagai hiburan tetapi dari banyaknya manfaat penggunaan gadget, gadget sendiri dapat memberi dampak negatif seperti terbuangnya waktu, menurunnya adab dan asusila, mengganggu kesehatan dan dapat menyebabkan ketergantungan pada gadget. Secara global, penyebab paling umum dari gangguan penglihatan adalah kelainan refraksi. Kebiasaan membaca yang dekat seringkali menjadi penyebab kelainan refraksi dan radiasi cahaya yang berlebihan ke mata, termasuk radiasi gadget. Tujuan studi ini adalah untuk melihat apakah penggunaan gadget berdampak pada ketajaman mata murid kelas VIII-IX SMP N 1 Karanganyar. Studi ini adalah studi analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen adalah frekuensi dan durasi penggunaan gadget. Variabel dependen adalah ketajaman mata. Penelitian dilakukan di SMP N 1 Karanganyar yang dilaksanakan pada periode Januari–Februari 2023. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan pemeriksaan menggunakan snellen chart untuk menilai visus mata. Jumlah sampel 80 responden. Berdasarkan hasil uji chi square didapatkan hasil p-value=0,000 yang memiliki arti ada pengaruh antara frekuensi dan durasi penggunaan gadget terhadap penurunan ketajaman mata.
PENGETAHUAN, SIKAP, TINDAKAN PHBS DENGAN KEJADIAN DIARE PADA SISWA/I SDN DUREN TIGA 14 Riska Apriliani Hendarto; Zita Atzmardina
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.15336

Abstract

Anak yang pada usia saat sekolah yakni golongan individual yang memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar penyakit, salah satunya diare. Kemudian, dengan menanamkan nilai PHBS di sekolah sangat diperlukan agar anak sekolah mampu menanamkan perilaku hidup yang bersih dan juga sehat serta dengan berpartisipasi yang aktif dala  membentuk suatu pribadi dan sekolah yang sehat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan PHBS dengan kejadian diare pada pelajar kelas III -VI di SDN Duren Tiga 14 pada tahun 2023. Metode penelitian yang dipakai yakni analitik observasional melalui penggunaan rumus potong lintang yang dijalankan di SDN Duren Tiga 14. Pengambilan data dijalankan melalui meminta responden untuk mengerjakan kuisioner secara langsung. Analisa data dijalankan melalui analisa bivarait dengan pengujian chi-squre yang hasilnya dideskripsikan pada tabel distribusi frekuensi. Sample dipilih secara simple random sampling. Hasil penelitian dari 194 responden terdapat 63,4% tidak mengalami diare dan 36,6% mengalami diare. Hasil penelitian memaparkan bahwa adanya hubungan diantara pengetahuan dengan p-value=<0,001, sikap dengan p-value=<0,001, serta dengan tindakan p-value=<0,001 terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Simpulan hasil pada penelitian ini yakni didapatkan hubungan secara statistik antara pengetahuan, sikap, serta tindakan terhadap PHBS dengan peristiwa diare. Hal tersebut dapat membawa arti bahwasanya makin baik PHBS dari responden menjadikan peristiwa diare makin rendah.