Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Hubungan Kadar HBA1C dan Insulin Puasa Terhadap Infeksi Saluran Kemih Pada Kelompok Lanjut Usia di Panti Santa Anna Donatila Mano S; Zita Atzmardina; Alexander Halim Santoso; Fernando Nathaniel; Joshua Kurniawan; Dean Ascha Wijaya; Eric Raditya Kaminto; Andini Ghina Syarifah; Pasuarja Jeranding Ezra; Agnes Marcella; Rifi Nathaznya Syachputri
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i7.13510

Abstract

ABSTRACT Urinary tract infection (UTI) poses a serious concern in the elderly population, with approximately 25% of total infection cases in the geriatric group being UTIs. Diabetes mellitus stands as a leading cause of global morbidity and is associated with severe complications, including an increased risk of infections impacting the quality of life. Patients with diabetes face a twofold higher risk of mortality due to infections. Advanced age is also a risk factor for UTIs, influenced by factors such as uncontrolled diabetes. Measuring parameters such as fasting insulin and HbA1c levels is crucial for understanding correlation between diabetes and UTIs. HbA1c can reflect long-term glycemic control in diabetic patients. This cross-sectional study aims to investigate relationship between HbA1c and fasting insulin levels concerning the occurrence of UTIs in the elderly population, conducted at the Santa Anna Nursing Home in 2023. The study included 33 respondents with an average age of 72.88 years, predominantly comprising 24 female respondents (72.7%). The mean fasting insulin level was 12.46 mIU/mL, and HbA1c level was 5.97%. UTIs were diagnosed in 11 respondents (33.3%). The correlation analysis between these variables indicated no significant difference in the mean HbA1c levels between groups with or without UTIs (p = 0.955). However, a significant difference was observed in the mean fasting insulin levels between the two groups (p 0.001). This finding is noteworthy as fasting insulin levels have a direct correlation with circulating blood glucose levels and formation of red blood cells, potentially influencing HbA1c levels. Further clarification is needed on how these three variables interact. Keywords: Elderly, Fasting Insulin, HbA1c, Urinary Tract Infection  ABSTRAK Infeksi saluran kemih (ISK) adalah masalah serius pada populasi lanjut usia, sekitar 25% dari total kasus infeksi pada kelompok geriatri adalah ISK. Diabetes melitus adalah penyebab utama morbiditas global dan berhubungan dengan komplikasi serius, termasuk risiko infeksi yang berdampak pada kualitas hidup. Pasien diabetes memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi untuk kematian akibat infeksi. Peningkatan usia juga merupakan faktor risiko untuk ISK, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti diabetes yang tidak terkontrol. Pengukuran parameter seperti insulin puasa dan HbA1c adalah kunci dalam memahami korelasi antara diabetes dan ISK. HbA1c dapat mencerminkan kontrol glikemik jangka panjang pada pasien diabetes. Penelitian potong lintang ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dan insulin puasa terhadap kejadian ISK pada kelompok lanjut usia yang dilakukan di Panti Lansia Santa Anna pada tahun 2023. Penelitian mengikutsertakan 33 responden dengan rata-rata usia 72,88 tahun dan didominasi oleh jenis kelamin perempuan  sebanyak 24 responden (72,7%). Rerata kadar insulin puasa sebesar 12,46 mIU/mL dan kadar HbA1c sebanyak 5,97%. Sebanyak 11 responden (33,3%) terdiagnosis ISK. Hasil korelasi antara kedua variabel tersebut menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam rerata kadar HbA1c antara kelompok dengan atau tanpa ISK (p = 0,955). Meskipun demikian, terdapat perbedaan signifikan dalam rerata kadar insulin puasa antara kedua kelompok (p 0,001). Hal ini menjadi sebuah pertimbangan karena kadar insulin puasa memiliki korelasi langsung dengan jumlah gula yang beredar bebas dalam darah dan pembentukan sel darah merah yang dapat meningkatkan tingkat HbA1c. Diperlukan penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana ketiga variabel ini berinteraksi. Kata Kunci: HbA1c, Infeksi Saluran Kemih, Insulin Puasa, Lanjut Usia
Senam Sebagai Langkah awal Peningkatan Kualitas Hidup di Desa Talaga Zita Atzmardina; Yesan Suci Paramitha; Ilham Wicaksono San Murdoko; Sindytia Fahri; Nathania Immanuel
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 05 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i05.3297

Abstract

Hipertensi yang juga menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular merupakan salahsatu masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Upaya pengendalianhipertensi tidak hanya melalui terapi farmakologis, tetapi juga intervensi non-farmakologisseperti aktivitas fisik. Senam hipertensi adalah salah satu bentuk latihan yang efektifmenurunkan tekanan darah dan meningkatkan kebugaran. Kegiatan pelatihan senam hipertensiini dilaksanakan di Desa Talaga dengan pendekatan edukasi dan demonstrasi berbasiskomunitas, melibatkan 34 peserta. Rangkaian kegiatan meliputi registrasi, pemaparan materi,penayangan video, demonstrasi gerakan, dan praktik langsung oleh peserta. Keberhasilandiukur melalui kemampuan peserta memperagakan gerakan senam hipertensi dengan benar.Hasil menunjukkan seluruh peserta mampu melakukan gerakan sesuai arahan, dan tiga pesertadapat memperagakan ulang tanpa arahan, menandakan pemahaman yang baik. Kendala yangditemukan adalah kurangnya keterlibatan peserta laki-laki, sehingga partisipasi belummencerminkan keterwakilan seluruh masyarakat. Secara keseluruhan, metode edukasi dandemonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan masyarakat terkait senamhipertensi. Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal pembentukan kebiasaan hidup sehatdan mendukung program pengendalian hipertensi di tingkat komunitas.
Mewujudkan Lingkungan Sehat Bebas Bronkopenumonia Zita Atzmardina; Novelee Irawan Putri; Valleryano Lay; Hanna Paulina Wibowo; Devi Putri Nabila
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 06 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i06.3298

Abstract

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk pneumonia yang paling sering terjadi pada anak-anak dan lansia, dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, terutama di negara berkembang. Di wilayah kerja Puskesmas Salembaran Jaya, jumlah kasus bronkopneumonia pada balita meningkat dari 12 kasus pada Juli 2025 menjadi 17 kasus pada September 2025. Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi lingkungan, status gizi, paparan polusi udara, serta rendahnya cakupan imunisasi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penyuluhan kesehatan mengenai bronkopneumonia dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat di Kelurahan Salembaran Jaya. Metode kegiatan meliputi registrasi peserta, pelaksanaan pre-test, pemberian materi edukasi, sesi diskusi interaktif, pelaksanaan post-test, serta pembagian leaflet informasi kesehatan. Dari 40 peserta yang hadir, sebanyak 35 orang menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan. Hasil analisis perbandingan skor pre-test dan post-test menunjukkan bahwa 82,86% peserta mengalami peningkatan pengetahuan ≥20 poin setelah intervensi edukasi. Temuan ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan berperan signifikan dalam meningkatkan literasi masyarakat terkait bronkopneumonia. Sebagai kesimpulan, intervensi edukasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mendukung upaya pencegahan bronkopneumonia di tingkat komunitas. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari strategi promotif dan preventif di wilayah kerja Puskesmas.
Correlation of Blood Glucose Levels, Uric Acid, and Lipid Profile with Hand Grip Strength: The Role of Age as A Control Variable Clement Drew; Zita Atzmardina; Alexander Halim Santoso; Fiona Valencia Setiawan
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 5 (2026): Volume 6 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i5.22436

Abstract

ABSTRACT Handgrip strength (HGS) is an essential biomarker of muscle strength and physical health, with links to illnesses like cardiovascular disease, metabolic syndrome, and frailty. It is particularly important in aging populations, where physical strength promotes independence and quality of life. Blood glucose, uric acid, and lipid profiles all impact metabolic health, influencing physical performance. Elevated glucose levels, disturbed uric acid metabolism, and aberrant lipid profiles lead to impaired muscle function and increased cardiovascular risk. When combined with age-related alterations such as sarcopenia and metabolic dysregulation, these markers have an even greater impact on HGS. This study investigates the association between these metabolic markers and HGS, hypothesizing that aberrant profiles are associated with lower HGS, independent of age. This cross-sectional study in West Jakarta included 120 adults tested for handgrip strength, hemoglobin, blood sugar, uric acid, cholesterol, HDL, LDL, triglycerides, and the triglycerides-to-HDL ratio. Results showed positive correlations between HGS and hemoglobin, hematocrit, and blood sugar, highlighting their roles in oxygen transport and energy provision. The triglycerides-to-HDL ratio also correlated positively with HGS, indicating the influence of lipid metabolism on muscle performance. Age showed an inverse correlation with HGS, consistent with sarcopenia. This study examines the relationship between physiological factors and handgrip strength in the elderly, stressing the importance of optimizing hemoglobin, blood sugar, and cholesterol levels. Limitations include a cross-sectional design and gender bias, necessitating a long-term, comprehensive future study. Keywords: Aging, Handgrip Strength, Lipid Profile, Metabolic Health, Sarcopenia.
Perbedaan Rata-Rata Pengetahuan Ibu antara Anak dengan Status Gizi Baik dan Tidak Baik di Desa Salembaran Jaya Novelee Irawan Putri; Zita Atzmardina
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 8 (2026): Volume 8 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i8.25598

Abstract

ABSTRACT Child nutritional status is highly dependent on the nutritional intake provided by the mother, which is influenced by the mother's level of nutritional literacy and her ability to early detect co-infections. Nutritional problems in children remain a concern, especially at the rural community level, where severe respiratory infections such as bronchopneumonia are frequent triggers for toddler weight loss. This study aims to determine the difference in the average maternal knowledge score—encompassing balanced nutrition guidelines and the understanding of bronchopneumonia danger signs—between children with good and poor nutritional status. This research is a quantitative comparative study using primary data obtained from the Salembaran Jaya Community Health Center in October 2025. The total sample consisted of 35 respondents, categorized into children with poor nutritional status (n = 11) and good nutritional status (n = 24). Data were analyzed using the Independent Sample t-test. The results showed that the average maternal knowledge score in the group of children with poor nutritional status was 73.64 (SD = 19.63), while in the group with good nutritional status it was 60.00 (SD = 17.45). The statistical analysis obtained a p-value of 0.047 (p 0.05). In conclusion, there is a statistically significant difference in the average maternal knowledge between children with good and poor nutritional status in the studied population. Interestingly, mothers of children with poor nutritional status showed a higher average knowledge score, indicating that theoretical maternal knowledge alone might not directly translate into good nutritional practices without other supporting factors such as sanitation, infection prevention, and household food security. Keywords: Maternal Knowledge, Nutritional Status, Bronchopneumonia, Children ABSTRAK Status gizi anak sangat bergantung pada asupan nutrisi yang diberikan oleh ibu, di mana hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat literasi ibu mengenai gizi serta kemampuannya dalam melakukan deteksi dini penyakit infeksi penyerta. Permasalahan gizi pada anak masih menjadi perhatian, terutama di tingkat komunitas pedesaan seperti di Desa Salembaran Jaya, dimana Bronkopneumonia kerap menjadi pemicu utama penurunan berat badan balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata skor pengetahuan ibu yang mencakup pedoman gizi seimbang dan pemahaman tanda bahaya Bronkopneumonia antara anak dengan status gizi baik dan tidak baik di desa tersebut. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif komparatif dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari Puskesmas Salembaran Jaya pada Oktober 2025. Total sampel berjumlah 35 responden, yang dikategorikan ke dalam kelompok anak dengan status gizi tidak baik (n = 11) dan status gizi baik (n = 24). Analisis data menggunakan uji Independent Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan ibu pada kelompok anak dengan status gizi tidak baik adalah 73,64 (SD = 19,63), sedangkan pada kelompok anak dengan status gizi baik adalah 60,00 (SD = 17,45). Hasil analisis statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,047 (p 0,05). Kesimpulannya, terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik mengenai rata-rata pengetahuan ibu antara anak dengan status gizi baik dan tidak baik di Desa Salembaran Jaya. Menariknya, ibu dari anak dengan status gizi tidak baik justru menunjukkan rata-rata skor pengetahuan yang lebih tinggi, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan teoritis ibu saja tidak cukup untuk mencegah malnutrisi tanpa didukung oleh praktik sanitasi, pencegahan infeksi, dan ketahanan pangan rumah tangga. Kata kunci: Pengetahuan Ibu, Status Gizi, Bronkopneumonia, Anak
KEGIATAN BERBASIS KOMUNITAS UNTUK MENURUNKAN KASUS TUBERKULOSIS PARU Zita Atzmardina; Salsabila Rahma Fadlilah; Zalfa Hemilda Putri; Fairuz Zefiro Letius; Amelia Assyifa
Jurnal Serina Abdimas Vol 4 No 3 (2026): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v4i3.38010

Abstract

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional, dengan Indonesia menempati peringkat kedua di dunia untuk kasus TB. Kabupaten Tangerang, khususnya puskesmas Cikupa, menghadapi tantangan besar dalam upaya menurunkan angka kasus TB dikarenakan rendahnya tingkat pengetahuan dan ketidakpatuhan dalam pengobatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat melalui intervensi berbasis Paradigma Blum. Hasil identifikasi akar masalah menunjukkan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai TB, durasi pengobatan dan fungsi imunisasi TB. Intervensi yang dilakukan di Desa Bojong melibatkan 38 peserta, dengan materi mengenai penularan, gejala, pemeriksaan, pengobatan, dan pencegahan TB. Selain penyuluhan, juga diadakan demonstrasi etika batuk dan cuci tangan. Hasil evaluasi menggunakan pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan nilai rata-rata sebesar 23,82 poin yang menunjukkan adanya keberhasilan kegiatan ini. Kendala yang dihadapi adalah peserta yang datang terlambat, tetapi kegiatan tetap dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan ini dapat dikatakan efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan menjadi langkah penting untuk mengendalikan kasus TB di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkesinambungan guna mendukung target eliminasi TB pada tahun 2030.
Skrining Hiperurisemia sebagai Upaya Deteksi Dini Risiko Gout melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada Civitas Akademika Universitas Tarumanagara Yohanes Firmansyah; Twidy Tracisia; Chrismerry Song; Evi Evi; Zita Atzmardina; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 08 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i08.3712

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolik yang sering tidak terdeteksi karena umumnya tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, meskipun berhubungan dengan peningkatan risiko gout dan berbagai penyakit kardiometabolik. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan melaksanakan skrining hiperurisemia pada civitas akademika Universitas Tarumanagara melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Goes to Campus sebagai upaya deteksi dini penyakit tidak menular. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA) yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan skrining kadar asam urat menggunakan metode point-of-care testing (POCT), evaluasi hasil pemeriksaan, serta tindak lanjut bagi peserta dengan hasil di luar nilai rujukan. Skrining berhasil menjangkau civitas akademika Universitas Tarumanagara dan mengidentifikasi peserta dengan kadar asam urat yang memerlukan evaluasi lebih lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksanaan skrining berbasis kampus memberikan kemudahan akses terhadap deteksi dini hiperurisemia serta mendukung penguatan upaya pencegahan penyakit tidak menular melalui identifikasi faktor risiko secara lebih awal .
Perbedaan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Pada Kelompok Lanjut Usia Dengan Insomnia Djung Lilya Wati; Meilani Kumala; Zita Atzmardina; Fernando Nathaniel; Dean Ascha Wijaya
Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Vol. 1 No. 3 (2023): Juli : Termometer: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/termometer.v1i3.2060

Abstract

Insomnia is the most common sleep disorder experienced by the elderly, which has a significant negative effect on morbidity and mortality in the elderly group. A study from the Penn State Adult Cohort found that people who are sleep deprived with objectively short sleep duration have a higher risk of developing hypertension. This cross-sectional study aims to determine differences in systolic and diastolic blood pressure in the elderly group (³60 years) with insomnia which were selected consecutively at the Tarumanagara University COVID-19 Vaccine Center for the period March – April 2021. The Insomnia Severity Index (ISI) questionnaire was used to evaluate the severity of insomnia. Blood pressure is measured with a digital tensimeter according to standard procedures. Statistical analysis using the Mann Whitney test. Of the 119 respondents, the average age was 69.84 years and 58% of the respondents were women. The mean systolic blood pressure was 150.18 and the average diastolic blood pressure was 83.23. From all respondents, it was found that 17.6% of respondents experienced insomnia. The results of the Mann Whitney statistical test explained that there was no difference in the mean systolic and diastolic blood pressure in the group with insomnia and without insomnia (p-value > 0.05). Further clinical studies revealed that the group of elderly who had insomnia tended to have higher blood pressure than the group of elderly who did not experience insomnia (SBP: 160 vs 151; DBP: 85 vs 84). Dealing with insomnia can be an effort to lower blood pressure.