Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Respon Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) (Coleoptera: Curculinoidae: Scolytidae) terhadap Ekstrak Buah Kopi yang Terinfestasi Hama sebagai Atraktan di Perkebunan Kopi Rakyat Gunung Tilu Rasiska, Siska; Safira, Sania; Hidayat, Yusup; Yulia, Endah; Ariyanti, Mira
Agrikultura Vol 33, No 3 (2022): Desember, 2022
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v33i3.40277

Abstract

Penggerek buah kopi (PBKo), Hypothenemus hampei Ferr. adalah salah satu hama utama pada tanaman kopi. Persentase serangan hama PBKo pada buah kopi dapat mencapai 100% jika tidak ada pengendalian. Salah satu teknologi pengendalian hama PBKo yang dapat dilakukan adalah penggunaan ekstrak buah kopi yang terinfestasi hama PBKo sebagai atraktan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh esktrak buah kopi yang terinfestasi sebagai atraktan hama PBKo dan memperoleh konsentrasi ekstrak buah kopi terinfestasi yang paling efektif sebagai atraktan imago hama PBKo. Selain itu juga dipelajari serangga arthropoda lain yang tertangkap. Penelitian ini dilakukan di perkebunan kopi rakyat Gunung Tilu, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada bulan November 2021 hingga Maret 2022. Pembuatan ekstraksi buah kopi terinfestasi dengan menggunakan teknik maserasi dan destilasi air dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Toksikologi Lingkungan, sedangkan pengamatan hama dilakukan di Laboratorium Hama Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 8 perlakuan yaitu P0 = kontrol; P1 = 50 mL air sulingan, P2 = 100 mL air sulingan, P3 = 150 mL air sulingan, P4 = 50 mL ekstrak etanol, P5 = 100 mL ekstrak etanol, P6 = 150 mL ekstrak etanol dan P7 = etanol 10 mL dengan masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak buah kopi terinfestasi dengan menggunakan teknik maserasi dan destilasi air tidak dapat menarik hama PBKo serta tidak menurunkan intensitas serangan hama PBKo. Namun, ekstrak buah kopi terinfestasi dapat menarik sejumlah serangga hama dari ordo Diptera famili Drosophilidae dan parasitoid dari ordo Hymenoptera famili Braconidae.
Efikasi Ekstrak Air dan Pupuk Organik Cair Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Patogen Alternaria solani secara In Vitro dan In Vivo Erawati, Alfira Dewi; Yulia, Endah; Dono, Danar
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.48596

Abstract

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh jamur Alternaria solani merupakan penyakit penting pada tomat. Alternaria solani mampu menginfeksi tanaman tomat pada setiap fase pertumbuhan tanaman sejak dari benih, bibit hingga fase generative pada hampir setiap musim tanam. Pengendalian penyakit bercak daun umum dilakukan dengan menggunakan pestisida sintetik namun aplikasi yang tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan. Pemanfaatan pestisida nabati dapat menjadi alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. Tanaman kelor merupakan tanaman yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan jamur patogen karena mengandung senyawa antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak air dan pupuk organik cair (POC) daun kelor dalam menghambat pertumbuhan A. solani serta meningkatkan pertumbuhan tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Jatinangor dari bulan Januari-April 2023. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Pengujian pengaruh ekstrak air daun kelor terhadap A. solani dilakukan menggunakan metode makanan beracun dan pengujian pengaruh ekstrak dan POC daun kelor dengan metode perlakuan benih dan aplikasi pada tanah dan tanaman. Perlakuan berupa lima konsentrasi ekstrak 1-5%, kontrol dan fungisida propineb 0,25% serta aplikasi POC konsentrasi 5 ml/l pada pengujian in vivo. Hasil penelitian in vitro menunjukkan bahwa konsentrasi 2-5% menghambat pertumbuhan koloni jamur A. solani mencapai 46,8% dan menyebabkan malformasi hifa jamur A. solani. Hasil penelitian in vivo menunjukkan bahwa ekstrak kelor 5% + POC mampu menekan kejadian penyakit hingga 77,8% serta meningkatkan vigor bibit tanaman tomat dengan pertumbuhan bibit yang lebih tinggi, jumlah daun yang lebih banyak serta bobot basah bibit yang lebih besar.
Uji Ekstrak Metanol Biji Kembang Telang (Clitoria ternatea L.) dalam Menghambat Pertumbuhan Koloni serta Produksi dan Perkecambahan Konidia Jamur Fusarium oxysporum f. sp. cepae Suganda, Tarkus; Kaltsum, Rumaisha Thifaaliyah; puspasari, Lindung Tri; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 1 (2024): April, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i1.53887

Abstract

Fusarium oxysporum f. sp. cepae (FOC) adalah patogen penyebab penyakit moler pada bawang merah, dan termasuk salah satu patogen yang sulit untuk dikendalikan. Pengendalian menggunakan pestisida sintetik tidak dianjurkan karena mampu membahayakan ekosistem. Salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk pengendalian adalah dengan menggunakan pestisida nabati. Tanaman kembang telang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pestisida nabati, terutama bagian bijinya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan ekstrak metanol biji kembang telang dalam menghambat pertumbuhan koloni, produksi konidia, serta perkecambahan konidia FOC. Percobaan dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan April sampai dengan September 2023. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 6 konsentrasi ekstrak (0,1; 1; 2; 3; 4; 5%) dengan 4 ulangan. Pengujian terhadap penghambatan pertumbuhan koloni dilakukan menggunakan metode makanan beracun (poison food), sementara pengujian terhadap penghambatan produksi konidia dilakukan dengan menghitung kerapatan konidia setelah aplikasi ekstrak, dan pengujian terhadap penghambatan perkecambahan dilakukan dengan menghitung jumlah konidia yang berkecambah pada campuran agar-konidia yang telah diaplikasikan ekstrak. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol biji kembang telang mampu menghambat pertumbuhan koloni dan perkecambahan konidia FOC, namun tidak mampu menghambat produksi konidianya. Penghambatan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni ditunjukkan oleh konsentrasi 3-5% dengan persentase penghambatan 18,5-25,4%, sementara penghambatan tertinggi terhadap perkecambahan konidia ditunjukkan oleh konsentrasi 5%, dengan persentase penghambatan 18,1%.
Kejadian dan Uji Hipersensitivitas Bakteri yang Berasosiasi dengan Penyakit Busuk Batang Jagung di Sumbawa Nusa Tenggara Barat Fitri, Elysa; Widiantini, Fitri; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 34, No 2 (2023): Agustus, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i2.48717

Abstract

Jagung merupakan salah satu komoditas penting yang mendukung perekonomian nasional di Indonesia, khususnya bagi masyarakat Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Keberadaan penyakit tanaman pada tanaman jagung dikhawatirkan menjadi ancaman terhadap produktivitas jagung di NTB. Salah satu penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian hasil yang tinggi pada tanaman jagung adalah penyakit busuk batang yang dilaporkan disebabkan oleh patogen bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kejadian penyakit dan menguji hipersensitivitas bakteri yang berasosiasi dengan penyakit busuk batang pada tanaman jagung di Kabupaten Sumbawa. Observasi di lapangan dilakukan di Kabupaten Sumbawa NTB sementara percobaan laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Karantina Tumbuhan Sumbawa dan Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada rentang waktu dari Februari hingga April 2023. Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa gejala penyakit busuk batang ditemukan pada 13 lokasi pertanaman jagung di Kabupaten Sumbawa termasuk Kecamatan Moyo Hulu, Utan, Labangka, Labuhan Badas, Unter Iwes dan Potatano dengan kejadian penyakit yang masih rendah. Hasil uji Gram menunjukkan 13 isolat yang diperoleh adalah Gram negatif yang merupakan karakteristik umum bakteri patogen. Hasil uji hipersensitivitas pada daun tembakau menunjukkan gejala positif untuk 13 isolat bakteri tersebut.
Potensi Minyak Atsiri Biji Adas dalam Menginduksi Resistensi Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) terhadap Penyakit Antraknosa (Colletotrichum acutatum J. H. Simmonds) Fahmi, Rahmad Bahaudin; Suganda, Tarkus; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 2 (2024): Agustus, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i2.54580

Abstract

Induksi resistensi adalah strategi untuk meningkatkan ketahanan tanaman dengan mengaktifkan mekanisme pertahanan tanaman sehingga dapat mencegah infeksi patogen dari awal pertumbuhan tanaman. Minyak atsiri biji adas adalah salah satu agen penginduksi resistensi yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman. Kandungan senyawa utama dalam minyak atsiri biji adas dilaporkan dapat merangsang produksi metabolit sekunder seperti fenolik dan flavonoid yang memiliki sifat antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan minyak atsiri biji adas sebagai agen penginduksi resistensi pada tanaman cabai, menelusuri cara aplikasi yang optimal guna menekan penyakit antraknosa serta mengidentifikasi perbedaan kandungan metabolit sekunder seperti fenolik dan flavonoid pada daun cabai setelah diinduksi. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2023 hingga Maret 2024 di Laboratorium Fitopatologi dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, serta Laboratorium Aplikasi Kimia dan Pelayanan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran. Metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan lima ulangan yaitu kontrol tidak diinokulasi, kontrol yang diinokulasi, perendaman benih, penyemprotan bibit, kombinasi perendaman benih dan penyemprotan bibit serta fungisida M-Bion 1/48 MZ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi antara perendaman benih dan penyemprotan bibit dengan minyak atsiri biji adas efektif meningkatkan ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit antraknosa. Perlakuan kombinasi berhasil mengurangi perkembangan total penyakit antraknosa (AUDPC) pada daun cabai sebesar 29,75% dan menekan penyakit antraknosa pada buah cabai sebesar 45,75%. Hasil juga menunjukkan kandungan total fenolik dan flavonoid tertinggi pada perlakuan kombinasi antara perendaman benih dan pemyemprotan bibit dengan minyak atsiri biji adas masing-masing sebesar 0,87% dan 0,56%. Dengan demikian, perlakuan induksi resistensi menggunakan minyak atsiri biji adas memiliki potensi signifikan dalam pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai.
Deteksi dan Identifikasi Jamur Stemphylium vesicarium pada Tanaman Bawang Putih di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung Jawa Barat Afrilia, Hilda Ayu; Hersanti, Hersanti; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.59460

Abstract

Stemphylium vesicarium merupakan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) A2 di Indonesia dan dilaporkan dapat menginfeksi spesies Allium, cabai, asparagus, dan pir di beberapa negara. Gejala hawar daun menyerupai infeksi S. vesicarium pada bawang putih ditemukan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung namun belum dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen penyebab penyakit hawar daun pada bawang putih menggunakan pendekatan morfologi dan molekuler. Identifikasi morfologi dilakukan berdasarkan pengamatan karakteristik makroskopis dan mikroskopis, sedangkan identifikasi molekuler dilakukan melalui amplifikasi DNA menggunakan primer ITS (Internal Transcribed Spacer) dengan primer forward ITS1 dan reverse ITS4 serta sekuensing genetik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni hingga September 2024. Pengambilan sampel daun yang terinfeksi S. vesicarium dilakukan di tiga lokasi pertanaman di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Isolasi patogen dan identifikasi morfologi dilakukan di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Uji patogenesitas pada tanaman bawang putih dilakukan di lahan percobaan di Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase kejadian penyakit hawar daun di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung adalah sebesar 33,78%, sementara rata-rata persentase keparahan penyakitnya mencapai 10,67%. Isolat yang diperoleh memiliki ciri morfologi khas S. vesicarium, seperti bentuk konidia lonjong dengan sekat transversal dan sekat longitudinal dan tidak terbentuk dalam rantai. Analisis molekuler mengonfirmasi kesesuaian hasil identifikasi dengan urutan gen ITS S. vesicarium yang dilaporkan di basis data genetik. Studi ini berhasil mengidentifikasi S. vesicarium sebagai patogen utama penyebab hawar daun pada tanaman bawang putih.
Eksplorasi Bakteri Potensial sebagai Agens Pengendali Hayati dan Uji Antagonistiknya terhadap Colletotrichum acutatum J.H. Simmonds Penyebab Penyakit Gugur Daun Karet Riswandi, Hafiz; Widiantini, Fitri; Yulia, Endah; Christita, Margaretta; Parakkasi, Karmilla
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.60502

Abstract

Karet (Hevea brasiliensis (Willd. ex A.Juss.) Müll.Arg.) adalah tanaman perkebunan yang masuk dalam famili Euphorbiaceae dan berasal dari Brazil. Karet merupakan salah satu komoditas penting bagi sektor perkebunan di Indonesia. Sebagai negara yang memiliki luas lahan karet terluas di dunia, produktivitas perkebunan karet di Indonesia masih rendah apabila dibandingkan dengan Thailand. Penyakit gugur daun merupakan salah satu masalah dalam budidaya tanaman karet di Indonesia karena mengakibatkan kerugian hasil yang tinggi. Patogen penyebab penyakit gugur daun juga mengganggu produksi perkebunan karet swasta di Kabupaten Kutai Timur. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi bakteri agens pengendali hayati dan menguji daya antagonisnya terhadap jamur patogen penyebab penyakit gugur daun. Pengambilan sampel dilakukan di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur sementara percobaan laboratorium dilaksanakan di Gedung Genomik dan Gedung InaCC – BRIN, Cibinong pada bulan September 2023 hingga Juni 2024. Hasil uji daya antagonis memperoleh tiga isolat bakteri— F1.4, E1.3, dan E5.2—yang berpotensi sebagai agens pengendali hayati. Tiga isolat bakteri tersebut merupakan bakteri Gram negatif. Isolat bakteri F1.4 dan E1.3 mampu menghasilkan enzim kitinase secara kualitatif. Hasil uji hemolisis dan hipersensitivitas menunjukkan gejala negatif untuk ketiga isolat bakteri tersebut. Penelitan ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai potensi agens pengendali hayati dalam mendukung pertanian berkelanjutan untuk tanaman karet.
Sensitivitas Fusarium oxysporum f.sp. cepae Isolat Kabupaten Garut terhadap Beberapa Jenis Fungisida pada Konsentrasi Subletal serta Virulensinya pada Dua Varietas Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Maulana, Ghifari Aditya; Yulia, Endah; Suganda, Tarkus
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.60439

Abstract

Penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC) merupakan salah satu penyakit paling merugikan pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Petani umumnya mengandalkan fungisida sintetis dengan bahan aktif yang terbatas dan sering kali digunakan dalam dosis tidak sesuai anjuran, sehingga berpotensi menurunkan keefektifan pengendalian serta memicu resistensi patogen. Penelitian ini bertujuan untuk menguji sensitivitas tiga isolat FOC asal Kabupaten Garut (Suc1, Byb2, Smr3) terhadap berbagai bahan aktif fungisida dalam konsentrasi subletal, serta menguji virulensi ketiganya terhadap dua varietas bawang merah, yaitu Tuk-tuk dan Sumenep. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga November 2024. Uji sensitivitas dilakukan menggunakan metode poisoned food dengan empat taraf konsentrasi (1/2X, X, 3/4X, dan 2X; X = 1/10 konsentrasi anjuran) untuk mengukur penghambatan pertumbuhan koloni dan kerapatan konidia. Uji virulensi dilakukan tujuh minggu setelah tanam dengan mengamati intensitas penyakit, tinggi tanaman, dan bobot basah tanaman. Hasil menunjukkan bahwa seluruh isolat FOC masih sensitif terhadap semua jenis fungisida pada konsentrasi anjuran. Bahan aktif prokloraz + propikonazol menunjukkan keefektifan tertinggi dengan penghambatan koloni sebesar 93,33%. Azoksistrobin + difenokonazol efektif terhadap isolat Suc1 dan Smr3, namun kurang efektif terhadap Byb2 (maksimal 68,15%). Sementara itu, fungisida berbahan aktif tunggal klorotalonil, propineb, dan mankozeb menunjukkan penghambatan di bawah 50%. Virulensi FOC tetap tinggi dengan intensitas penyakit di atas 50% pada kedua varietas. Perlakuan dengan mankozeb menghasilkan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Tuk-tuk (92,3%) dan klorotalonil pada varietas Sumenep (88,3%). Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun fungisida mampu menekan pertumbuhan FOC, patogen masih dapat menyebabkan penyakit serius pada tanaman bawang merah.
Studi Komparatif Cara Aplikasi Bakteri Endofit untuk Menghambat Perkembangan Penyakit Hawar Pelepah Daun Padi (Rhizoctonia solani) Widiantini, Fitri; Krissanti, Petra Sulistya Dian; Rasiska, Siska; Susanto, Agus; Yulia, Endah
Agrikultura Vol 36, No 2 (2025): Agustus, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i2.63212

Abstract

Penyakit hawar pelepah daun pada tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani merupakan salah satu penyakit utama yang menyebabkan kerugian signifikan dalam budidaya padi, sehingga perlu diterapkan strategi pengendalian yang efektif. Penggunaan bakteri endofit sebagai agens biokontrol untuk mengendalikan penyakit tanaman menjadi salah satu pendekatan alternatif yang cukup menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai metode aplikasi bakteri endofit dalam mengendalikan hawar pelepah daun. Bakteri endofit yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri endofit Os1, Os6, dan Os7 yang memiliki aktivitas antagonis. Metode aplikasi yang diuji meliputi perendaman benih, penyemprotan ke daun, penyiraman suspensi ke tanah, serta kombinasi dari ketiganya. Percobaan dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 14 perlakuan aplikasi bakteri endofit yang masing-masing diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi perendaman benih, penyemprotan daun, dan penyiraman tanah dengan suspensi bakteri endofit Os6 memberikan hasil paling efektif dalam menekan perkembangan hawar pelepah, dengan nilai relative lesion height (RLH) sebesar 11,16% dan intensitas penyakit sebesar 7,41%. Penyakit hawar pelapah daun menyebar terutama melalui anakan yang terinfeksi, dan perlakuan kombinasi aplikasi Os6 juga terbukti paling efektif dalam menekan persentase anakan terinfeksi yang ditunjukkan dengan persentase anakan terserang sebesar 7,68% dan menghasilkan nilai THR (tingkat hambat relatif) sebesar 88,23%. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi cara aplikasi bakteri endofit yang berpotensi sebagai agens biokontrol (Os6) memberikan perlindungan pada tanaman padi terhadap penyakit hawar pelepah daun.
Peran Gulma Cynodon dactylon sebagai Sumber Inokulum Bipolaris pada Tanaman Padi Yulia, Endah; Nabilla, Anisa; Widiantini, Fitri; Dewi, Vira Kusuma
Agrikultura Vol 36, No 2 (2025): Agustus, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i2.63430

Abstract

Penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh Bipolaris oryzae masih menjadi kendala signifikan dalam budidaya tanaman padi. Selain sumber infeksi utama, keberadaan gulma di sekitar lahan sawah dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit dengan berperan sebagai inang alternatif atau reservoir patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi patogen penyebab bercak daun pada Cynodon dactylon serta mengevaluasi patogenisitasnya terhadap tanaman padi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2021 hingga Maret 2022, dengan kegiatan pengambilan sampel di lahan sawah wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, serta analisis laboratorium di Laboratorium Fitopatologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Kegiatan lapangan meliputi observasi gejala dan penilaian intensitas penyakit, sedangkan kegiatan laboratorium mencakup isolasi patogen, identifikasi morfologi, dan uji patogenisitas menggunakan metode detached leaf assay. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima isolat dengan karakter morfologi yang sesuai dengan Bipolaris spp., yang seluruhnya menimbulkan gejala khas bercak coklat pada daun padi dalam uji patogenisitas. Temuan ini mengonfirmasi bahwa C. dactylon dapat berperan sebagai reservoir Bipolaris spp., sehingga berpotensi menjadi sumber inokulum penyakit bercak coklat pada tanaman padi.