Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Efektivitas ekstrak daun kunyit (Curcuma longa Linn.) sebagai antifungi terhadap Trichophyton rubrum Sungkar, Mustofa Lukman; Setyaningsih, Yuni; Razi, Fachri; Zulfa, Fajriati
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i1.994

Abstract

Trichophyton rubrum, salah satu jamur dermatofita yang umum ditemukan di Indonesia, menghadirkan tantangan besar yang memerlukan solusi efektif. Untuk mengatasi masalah ini, penelitian yang berfokus pada sifat antijamur dari ekstrak daun kunyit (Curcuma longa Linn.) menawarkan potensi yang menjanjikan untuk mengobati infeksi kulit dermatofit. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas ekstrak etanol daun kunyit sebagai antijamur terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum secara in-vitro. Menggunakan pendekatan eksperimental dengan desain post-test-only control group, berbagai konsentrasi ekstrak daun kunyit (10%, 20%, 30%, dan 40%) diperiksa bersama kontrol negatif dan positif (aquades dan ketokonazol 2%). Diameter zona hambat pertumbuhan pada media Sabouraud Dextrose Agar diukur dengan menggunakan metode sumur. Analisis menggunakan uji Kruskal-Wallis menunjukkan signifikansi statistik (P <0,05), diikuti dengan uji Post Hoc Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan potensi penghambatan ekstrak daun kunyit terhadap pertumbuhan jamur, dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% menunjukkan kekuatan penghambatan ringan, dan 40% menunjukkan kekuatan penghambatan sedang. Variasi hasil dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak dan waktu inkubasi. Khususnya, konsentrasi yang paling efektif adalah 40%, menunjukkan diameter zona hambat berukuran sedang sebesar 8,3625 mm pada 24 jam dan 7,84 mm pada 48 jam, melampaui konsentrasi lainnya. Khasiat ini dapat dikaitkan dengan adanya senyawa seperti alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, fenol, dan triterpenoid dalam ekstrak daun kunyit, yang secara kolektif berkontribusi terhadap sifat antijamurnya. Kata kunci: Ekstrak daun kunyit; metode sumuran; Tricophyton rubrum; zona hambat
Efektivitas ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum secara in vitro Angelica, Tracy; Setyaningsih, Yuni; Razi, Fachri; Zulfa, Fajriati
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v8i3.997

Abstract

Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang menyerang epidermis dan keratin, dengan spesies yang menjadi penyebab salah satunya adalah Trichophyton rubrum. Penggunaan obat-obatan kimia dalam waktu lama dapat berpotensi memberikan efek samping berupa efek toksik dan resistensi. Buah mengkudu memiliki kandungan senyawa Flavonoid, Alkaloid, Tanin, Saponin dan Fenol yang telah diketahui dapat menghambat pertumbuhan jamur. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) terhadap pertumbuhan jamur T. rubrum secara in vitro. Penelitian ini dilakukan dengan kelompok kontrol post-test eksperimental laboratorium. Pada uji ini, ekstrak buah mengkudu didapatkan dengan metode maserasi etanol 96%. Pengujian aktivitas anti fungi dilakukan dengan metode difusi sumuran dengan variabel bebas yaitu ekstrak buah mengkudu konsentrasi 4%, 6%, 8%, 10%, dan 12,5% serta ketokonazol (kontrol positif) dan aquadest (kontrol negatif). Hasil penelitian menunjukkan adanya zona hambat yang dihasilkan setelah diberikan perlakuan ekstrak buah mengkudu. Pengamatan dilakukan pada waktu 24 jam dan 48 jam. Konsentrasi ekstrak dengan daya hambat tertinggi terdapat pada konsentrasi 8%, dengan rata-rata diameter zona hambat 8,095 mm pada pengamatan 48 jam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak buah mengkudu konsentrasi 4%, 6%, 8%, 10%, dan 12,5% efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur T. rubrum.
Efektivitas antibakteri ekstrak ultrasonik dan maserasi daun ungu (Graptophyllum pictum L. Griff) terhadap Staphylococcus aureus Utomo, Muhammad Gifta; Bahar, Meiskha; Hadiwiardjo, Yanti Harjono; Zulfa, Fajriati
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v9i1.1000

Abstract

Staphylococcus aureus merupakan bakteri utama penyebab berbagai penyakit infeksi pada manusia, mulai dari infeksi kulit hingga aliran darah. Resistensi S. aureus terhadap beberapa antibiotik saat ini mendorong pencarian pengobatan alami yang tidak menyebabkan resistensi. Daun ungu (Graptophyllum pictum (L.) Griff.) dikenal di Indonesia sebagai tanaman obat yang sering dimanfaatkan untuk mengatasi wasir. Tanaman ini memiliki potensi sebagai agen antibakteri melalui senyawa metabolit sekundernya, seperti flavonoid dan tanin, yang dapat diekstraksi dengan metode ultrasonik dan maserasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas antibakteri ekstrak daun ungu antara metode ultrasonik dan maserasi terhadap pertumbuhan S. aureus. Penelitian dilakukan secara in vitro dengan desain penelitian true experimental. Perbandingan kemampuan antibakteri dilakukan dengan menggunakan ekstrak daun ungu dari metode ultrasonik dan maserasi pada konsentrasi 60%, 70%, dan 80%. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi sumuran, dan pengukuran zona hambat dilakukan setelah 24 jam. Hasil analisis One-Way ANOVA mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan, dan uji Post Hoc Tukey menegaskan bahwa kedua metode pada setiap konsentrasi memiliki perbedaan rata-rata yang signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif. Hasil uji independent sample t-test mengindikasikan terdapat perbedaan yang signifikan antara ekstrak daun ungu yang diekstraksi menggunakan metode ultrasonik dan metode maserasi. Dalam keseluruhan hasil, Ekstrak daun ungu dengan metode ultrasonik menunjukkan rata-rata diameter zona hambat yang lebih besar jika dibandingkan dengan ekstrak maserasi. Keunggulan tersebut disebabkan oleh kemampuan metode ultrasonik untuk menghasilkan ekstrak yang lebih murni tanpa mengonsumsi banyak energi dan pelarut.
EFEKTIVITAS EKSTRAK BIJI ASAM JAWA (Tamarindus indica Linn.) SEBAGAI ANTIFUNGI TERHADAP MALASSEZIA furfur Nela Azalina Aziz; Setyaningsih, Yuni; Maria, Ima; Zulfa, Fajriati
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran Vol. 10 No. 1 (2025): Maret
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mtj.v10i1.1776

Abstract

Jamur non-dermatofita, Malassezia furfur, yang menyebabkan penyakit Pityriasis versicolor, menjadi masalah di Indonesia karena adanya kemungkinan resistensi. Antijamur alami dapat menjadi solusi pengobatan baru. Biji asam jawa (Tamarindus indica Linn.) diketahui mengandung senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, dan fenol yang berpotensi sebagai antijamur. Tujuan studi ini untuk menguji efektivitas ekstrak biji asam jawa sebagai agen antifungi terhadap pertumbuhan Malassezia furfur secara in vitro dengan metode eksperimental dan desain post test only control group. Ekstraksi etanol biji asam jawa dibuat dengan metode maserasi dan konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan 20%. Ketokonazol 2% berperan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO berperan sebagai kontrol negatif. Pengujian dilakukan pada media Saboraud Dextrose Agar (SDA) menggunakan metode difusi sumuran dan mengukur zona bening pada inkubasi 24 jam dan 48 jam. Analisis menggunakan uji Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan daya hambat yang signifikan, selanjutnya dilakukan uji Post Hoc Mann Whitney. Daya hambat yang dihasilkan tergolong sedang, kecuali pada konsentrasi 15% dan 20% pada inkubasi 24 jam yang tergolong kuat. Faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan zona bening adalah konsentrasi ekstrak, jumlah senyawa metabolit sekunder, dan waktu inkubasi. Konsentrasi 15% pada inkubasi 24 jam merupakan konsentrasi yang paling efektif. Kemampuan ini berkaitan dengan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antifungi.
Rasionalitas RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DIARE AKUT BALITA DI RS X TAHUN 2022 Az Zahra, Fatima; Aprilia, Citra Ayu; Zulfa, Fajriati; Harfiani, Erna
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 3 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyebab kematian nomor dua pada balita adalah diare. Pemberian antibiotik pada diare harus sesuai dengan indikasi. Resistensi antibiotik dapat terjadi jika penggunaan antibiotik tidak rasional. Hal ini akan menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan sehingga pengendalian resistensi antibiotik harus dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah, masyarakat, tenaga kesehatan, dan rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien balita rawat jalan yang mengalami diare akut di RS X tahun 2022. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain penelitian potong lintang. Data berasal dari rekam medis yang diambil dalam satu waktu. Sebanyak 16 pasien balita dijadikan sampel yang dipilih menggunakan teknik total sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini adalah penggunaan 17 antibiotik pada pasien balita rawat jalan yang mengalami diare akut di RS X tahun 2022 76,4% tidak rasional dan 23,6% rasional. Obat yang paling banyak diberikan adalah Sefiksim sebagai terapi empiris. Hasil pengelompokkan rasionalitas antibiotik berdasarkan metode Gyssens adalah sebanyak 5 antibiotik tergolong kategori V (tidak ada indikasi), 1 antibiotik kategori IVa (terdapat antibiotik lain yang lebih efektif), 7 antibiotik kategori IIa (dosis tidak tepat), dan 4 antibiotik kategori 0 (penggunaan antibiotik rasional). Pedoman penggunaan antibiotik berdasarkan pola bakteri dan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik di RS X merupakan salah satu cara untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga dapat mengendalikan resistensi antibiotik. Kata kunci: diare, metode gyssens, rasionalitas antibiotik DOI : 10.35990/mk.v8n3.p230-241
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN MEMBUAT WEDANG JAHE SERAI UNTUK PENGUATAN IMUNITAS MENCEGAH COVID-19 DI DESA PANGKALAN JATI CINERE DEPOK Setyaningsih, Yuni; Susantiningsih, Tiwuk; Irmarahayu, Agneta; Zulfa, Fajriati
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 5 No 2 (2021): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v5i2.977

Abstract

COVID-19 adalah penyakit menular disebabkan SARS-CoV-2 yang telah menyebar menjadi pandemi di seluruh dunia termasuk Indonesia. COVID-19 dapat berupa penyakit ringan atau sampai kematian dan obat untuk COVID-19 belum ada. Indonesia merupakan negara yang kaya akan tanaman herbal, yang sudah banyak digunakan di masyarakat. Dua tanaman herbal yang sering digunakan adalah jahe dan serai. Berdasarkan penelitian tanaman ini dapat memelihara kesehatan dan meningkatkan sistem imun. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang manfaat jahe serai dan keterampilan membuat wedang jahe serai dalam rangka peningkatan sistem imun pada masa pandemi COVID-19. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan demonstrasi pembuatan wedang jahe serai serta mengikutsertakan responden untuk berpartisipasi aktif dalam pembuatan wedang jahe serai. Pada pengabdian masyarakat ini didapatkan hasil adanya peningkatan pengetahuan responden mengenai manfaat wedang jahe serai dan cara pembuatannya. Diharapkan setelah pengabdian masyarakat ini responden dapat menerapkan dan mengaplikaskan pengetahuan yang didapatkan dalam rangka meningkatkan sistem imun pada masa pandemi COVID-19
PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA TERHADAP JENIS BAKTERI PENYEBAB KONTAMINASI MAKANAN Djasfar, Seftiwan Pratami; Bahar, Meiskha; Jonesti, Wilfadri Putra; Zulfa, Fajriati; Setyaningsih, Yuni
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.7362

Abstract

Microbial contamination in food can pose a serious threat, as it not only reduces food quality but also directly impacts health, ranging from mild to severe conditions, and can affect people of all ages. Adolescents are vulnerable to food poisoning due to limited knowledge and skills in safe food handling. This community service activity involved partners from SMAN 6 Depok and aimed to address the main problems faced by teenagers, such as limited knowledge about the types of microorganisms that can cause contamination in food. Educating adolescents is crucial, considering that the highest cases of food poisoning occur in this age group, yet education efforts are still rare because most health programs focus on groups directly involved in food processing. The methods used include interactive educational approaches, such as presentations, discussions, and Q&A sessions, as well as laboratory practices to observe microorganisms with the aid of a microscope. The activity also involved administering questionnaires in the form of pre-tests and post-tests to the adolescents. The results of the activity showed a significant increase in knowledge about the types of microorganisms that cause food contamination, from 40% to 96%. This educational program has strong sustainability potential with long-term impacts in the form of increased adolescents’ knowledge and a reduced risk of foodborne diseases.
EFFECT OF ULTRASOUND FREQUENCY VARIATIONS ON THE ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF ACTINOMYCETES ISOLATES AGAINST Salmonella typhi Vindasari, Kenza Anggita; Bahar, Meiskha; Zulfa, Fajriati; Amalia, Muttia
BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan) Vol. 12 No. 2 (2026): Biolink February
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/biolink.v12i2.15882

Abstract

Salmonella typhi is a negative Gram bacteria that causes typhoid fever and requires alternative therapeutic approaches due to increasing antibiotic resistance. Actinomycetes are known as producers of secondary metabolites with high, stable, and adaptive antibacterial activity; however, their effectiveness is strongly influenced by the extraction method of bioactive compounds. Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) has the potential to enhance extraction efficiency through cavitation effects and frequency variation, which has not been widely explored. This study aimed to determine the effect of different UAE frequencies (30 kHz, 40 kHz, and 50 kHz) on the ability of Actinomycetes isolates to inhibit the growth of S. typhi. Extraction was performed using UAE at three different frequencies. Antibacterial activity was evaluated using the well diffusion method on Nutrient Agar medium. The diameter of inhibition zones was measured using a digital caliper and analyzed using One-Way ANOVA followed by Bonferroni post hoc test. The mean inhibition zone diameters at 30 kHz, 40 kHz, and 50 kHz were 4.42 mm, 4.00 mm, and 5.76 mm, respectively. Based on the Davis and Stout classification, the 30 kHz and 40 kHz treatments were categorized as weak (<5 mm), whereas 50 kHz was classified as moderate (5–10 mm). Statistical analysis indicated significant differences among treatment groups (p < 0.05). These differences affected the effectiveness of Actinomycetes  in inhibiting the growth of S. typhi. The 50 kHz frequency exhibited the highest antibacterial activity, with the largest inhibition zone diameter indicating optimal efficiency in the release of secondary metabolite compounds.
In Vitro Antifungal Activity of Ethanolic Stem Extract of Tinospora crispa Against Candida albicans and Malassezia furfur Mumtaz, Syifa Afifah; Zulfa, Fajriati; Thadeus, Maria Selvester; Setyaningsih, Yuni
BIOEDUSCIENCE Vol 9 No 3 (2025): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jbes/17984

Abstract

Background: Fungal infections such as candidiasis caused by Candida albicans and pityriasis versicolor caused by Malassezia furfur are highly prevalent in Indonesia. Conventional antifungal treatments often face challenges like resistance and adverse side effects. As an alternative, brotowali stem (Tinospora crispa) extract, rich in alkaloids, flavonoids, and tannins, shows promise as an antifungal agent. This research investigates the in vitro antifungal efficacy of ethanol extract from brotowali stem against C. albicans and M. furfur. Methods: A laboratory experimental design utilizing the well-diffusion method was applied, measuring inhibition zone diameters on Sabouraud Dextrose Agar after 2x24 hours at extract concentrations of 45%, 60%, 75%, and 90%. Results: The ethanol extract of brotowali stem exhibited statistically significant but relatively low antifungal activity based on inhibition zone diameters against C. albicans (0,002) and M. furfur (0,001), with higher concentrations showing greater antifungal. The largest inhibition zones measured 5.93 mm for C. albicans and 3.97 mm for M. furfur. Conclusions: The extract concentrations of 90% concentration exhibited moderate antifungal activity against C. albicans. For M. furfur, all concentrations demonstrated weak antifungal activity.
Peningkatan Ketrampilan Membuat Minuman Jasule Untuk Imunitas Dimasa Pandemi Covid-19 Di Pangkalan Jati Cinere Depok Susantiningsih, Tiwuk; Setyaningsih, Yuni; Irmarahayu, Agneta; Zulfa, Fajriati
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 1 (2021): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v6i1.5056

Abstract

During the Covid-19 pandemic, good immunity was needed to avoid the corona virus infection. One of the efforts to prevent corona virus infection was to increase the body's immune status. High body immunity can be obtained from eating healthy foods, getting adequate rest and avoiding stress / mental stress. One local wisdom of the people in Indonesia to increasing immunity level was the habit of consuming herbal drinks which were believed to increase immunity level because there were several very useful ingredients. One of the herbal drinks made from ginger and lemon was JASULE (Jahe Susu Lemon), which was a ginger milk drink with lemon added. In this training, the participants were given material about the importance of the herbal drink JASULE (Jahe Susu Lemon). The importance of growing ginger and lemon as a medicinal plant in the yard. Also given training in making JASULE drink until all participants can make it themselves. The training activities for making herbal drinks JASULE to increase body immunity level during the Covid-19 Pandemic were held in Pangkalan Jati Cinere, Depok. This activity was well received by all participants with enthusiasm and the questions asked. Participants gained additional knowledge and skills in making herbal drinks JASULE, which can be seen from the increasing in post test scores after counseling and training in making herbal drink JASULE to increasing body immunity level during the Covid-19 Pandemic in Pangkalan Jati Cinere, Depok was 42.4% ie from 47.9% to 90.3%.