Claim Missing Document
Check
Articles

PERSPEKTIF SINTAKTIS TERHADAP PENGGUNAAN VOKATIF KOMBINASI BAHASA SUNDA DALAM KUMPULAN CERITA PENDEK KANYAAH KOLOT KARYA KARNA YUDIBRATA Wahya; Ferry Parsaulian Pakpahan
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i3.259

Abstract

ABSTRACT This paper discusses Sundanese combination vocatives from a syntactic perspective, namely the first type of Sundanese combination vocative and the second type of sentence based on the syntactic form that contains Sundanese combination vocatives. This research uses a qualitative descriptive method. Presentation of data uses the listening method. Data analysis uses distributional methods with a syntactic approach. The research data source uses a written data source, namely a book collection of short stories entitled Kanyaah Kolot by Karna Yudibrata, 2014 edition. Based on the results of the analysis, it can be concluded that Sundanese combination vocatives can be classified into three types, namely (a) Type 1 Combination Vocatives of Kinship + Proper Names , (b) Type 2 Vocative Combination of Kinship + Government Position, (c) Type 3 Vocative Combination of Kinship + Religious Position, which consist of 9, 7 and 1 data respectively. Thus, Sundanese combination vocatives in the data source are dominated by Type 1 Vocative Combination of Kinship + Proper Name. Second, vocative Sundanese language combinations are found in four types of sentences based on their syntactic form, namely (a) declarative sentences, (b) imperative sentences, (c) argumentative sentences, and (d) exclamative sentences, which respectively contain 2, 5, 4, and 6 data. Thus, Sundanese vocative combinations tend to appear more often in exclamative sentences. In this exclamative sentence, there are two types of combination vocatives, namely Type 1 and Type 2. In this regard, Type 2 combination vocatives in Sundanese appear more often than Type 1 combination vocatives in that language. Key words: syntax, vocative, combination vocative, type, sentence type
DIMENSI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF KEHORMATAN UTUH DALAM CERITA REKAAN BERBAHASA SUNDA Wahya Wahya; Ferry Parsaulian Pakpahan
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i1.295

Abstract

ABSTRACT This study uses a descriptive qualitative method. Data collection uses the listening method with note-taking techniques. Data analysis uses the pragmatic matching method with a sociolinguistic approach. The data sources used are six Sundanese fictional story books. The use of honorific vocatives in the form of whole words based on this study is found in nineteen data. There are three honorific vocatives in the form of whole words, namely Juragan 'Boss', gamparan 'Sir/Madam’, and Dunungan 'Employer' with a total of 13, 5, and 1 respectively. Honorific vocatives in the form of whole words are used by speakers towards speech partners at the level of familiar code and respectful code, six and thirteen data respectively so that their use is dominated by the respectful code. There are eight types of social relations between speakers and speech partners in the use of honorific vocatives in the form of whole words, namely (a) channels, (b) jobs, (c) suspects-investigators, (d) workers-guests employers, (e) husband-wife, (f) workers-employers wives, (g) workers-staff wives, and (h) patients-nurses with a dominant social relationship of acquaintances. Keywords: vocatives, honorific vocatives, whole words, speech level codes, social relations,
VOKATIF PROFESI BAHASA SUNDA wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.358

Abstract

ABSTRACT This study attempts to reveal the vocatives of Sundanese language professions from a morphological and syntactic perspective using a qualitative descriptive method. Data collection used a listening method with note-taking techniques. Data analysis used a morphological and syntactic approach. Data sources used four Sundanese language fiction books as samples, namely (1) Teu Tulus Paeh Nundutan/TTPN by Ki Umbara, 2013; (2) Oleh-Oleh Perang/OOP by Rukmana Hs. 2006; (3) Ki Merebot/KM by Ahmad Bakri, 2016; (4) Carita Nyi Halimah/CNH by Samsoedi, 2018. Based on the data source, there are nineteen professional vocative data found, which are divided into two forms, namely fifteen singular forms, namely (1) Guru 'Guru' (two data), (2) Dokter 'Doctor' (four data), (3) Suster 'Suster' (two data), (4) Mandor 'Mandor' (two data), and (5) Koki 'Koki' (one data) in the form of a whole word and (6) Dok 'Dok' (two data) and (7) Ndor 'Ndor' (two data) in the form of fragments. There are four combined professional vocatives: (8) Pa Mantri 'Pak Mantri' (three instances) and (9) Pa Supir 'Pak Supir' (one instance). Professional vocatives are found in declarative, imperative, interrogative, and exclamatory sentences, with 2, 2, 11, and 4 instances, respectively. Professional vocatives appear more frequently in interrogative sentences. They are positioned at the beginning of a sentence (initial), in the middle (medial), and at the end (final) (1, 1, and 17 instances, respectively). These professional vocatives are more frequently distributed at the end of a sentence. It can be concluded that Sundanese professional vocatives often appear in singular form as whole words in interrogative sentences at the end of the sentence. Keywords: professional vocatives; form; full word; fragment; distribution
ADAKAH KETERKAITAN MUNCULNYA KATA MATA ‘MATA’ TERHADAP MATAPOÉ ‘MATAHARI’ BAHASA SUNDA SECARA GEOGRAFIS? Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 8 No 1 (2026): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v8i1.414

Abstract

Artikel ini berjudul “Adakah Keterkaitan Munculnya Kata Mata ‘Mata’ terhadap Kata Matapoé ‘Matahari’ Bahasa Sunda secara Geografis?” Artikel ini membahas bagaimana keterkaitan atau pengaruh munculnya kata mata terhadap munculnya kata matapoé dalam bahasa Sunda secara geografis? Penelitian ini bersifat deskriptif diakronis. Metode pengumpulan data menggunkan metode simak langsung di lapangan dengan teknik rekam dan catat dengan menggunakan instrumen penelitian berupa daftar tanya yang memuat kosakata dasar Swadesh dan kosakata budaya. Lokasi penelitian bertempat di 26 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat (2005) serta 30 desa dan kelurahan berbahasa Sunda di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (2016). Informan sebagai sumber data masing-masing satu orang untuk setiap desa atau kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% titik-titik pengamatan di perbatasan Bogor-Bekasi, Jawa Barat memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’, kemudian 67% titik-titik pengamatan di Kecamatan Banjarharjo dan Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah memperlihatkan adanya keterkaitan antara munculnya kata mata ‘mata’ terhadap munculnya kata matapoé ‘matahari’. Dengan demikian, ada kecenderungan munculnya sebuah kata karena kata lain karena secara morfologi bentuk kata yang memengaruhi, yakni mata, menjadi dasar bagi pembentukkan kata yang dipengaruhi, yakni matapoé.
KESANTUNAN BERBAHASA SUNDA MELALUI PENGGUNAAN VOKATIF ENGKANG: PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK: KESANTUNAN BERBAHASA SUNDA MELALUI PENGGUNAAN VOKATIF ENGKANG: PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK Wahya Wahya; Tatang Suparman
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.198

Abstract

Vokatif kekerabatan terdapat dalam setiap bahasa alami di dunia sebagai ciri keuniversalan bahasa. Vokatif kekerabatan juga terdapat dalam bahasa Sunda. Salah satu vokatif kekerabatan yang sering digunakan dalam percakapan bahasa Sunda adalah vokatif Engkang. Penggunaan vokatif ini dalam komunikasi verbal menandai kesantunan berbahasa. Tulisan ini membahas kesantunan berbahasa Sunda melalui penggunaan vokatif Engkang. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode padan pragmatik dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan berupa empat buah buku fiksi berbahasa Sunda. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif Engkang digunakan dalam empat hubungan sosial di antara pembicara dan mitra bicara, yaitu (a) adik perempuan-kakak laki-laki (2 data), (b) kekasih (1 data), (c) istri-suami (6 data), dan (d) perempuan-laki-laki yang dihormati (2 data). Vokatif Engkang hanya digunakan oleh perempuan terhadap laki-laki sebagai kesantunan berbahasa Sunda.
DIMENSI SINTAKSIS PENGGUNAAN KONSTRUKSI VOKATIF KOMBINASI KEKERABATAN DAN NAMA DIRI DALAM BUKU FIKSI BAHASA SUNDA: DIMENSI SINTAKSIS PENGGUNAAN KONSTRUKSI VOKATIF KOMBINASI KEKERABATAN DAN NAMA DIRI DALAM BUKU FIKSI BAHASA SUNDA Wahya Wahya; Tatang Suparman
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.226

Abstract

Konstruksi vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri merupakan konstruksi yang terdiri atas konstituen vokatif kekerabatan dan konstituen vokatif nama diri. Dalam tulisan ini konstruksi vokatif kombinasi tersebut diamati penggunannya dalam kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya dan distribusinya dalam kalimat tersebut. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode distribusional dengan pendekatan sintaksis. Sumber data terdiri atas sebelas buku fiksi berbahasa Sunda dengan mempertimbangkan terdapatnya data yang diperlukan dalam buku tersebut. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ditemukan enam belas data sampel kalimat yang memuat konstruksi vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri. Konstruksi vokatif ini terdapat dalam lima kalimat deklaratif, empat kalimat imperatif, empat kalimat interogatif, dan tiga kalimat eksklamatif. Konstruksi vokatif kombinasi ini berdistribusi pada posisi inisial, satu dalam kalimat deklaratif dan satu dalm kalimat imperatif; pada posisi medial, tiga dalam kalimat deklaratif, satu dalam kalimat imperatif, dan satu dalam kalimat interogatif; pada posisi final, satu dalam kalimat deklaratif, dua dalam kalimat imperatif, tiga dalam kalimat interogatif, dan tiga dalam kalimat eksklamatif. Dalam kalimat eksklamatif, konstruksi vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri hanya terdapat pada posisi final. Dalam kalimat deklaratif, konstruksi vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri terdapat dalam kalimat berstruktur klausa, baik klausa lengkap maupun tidak lengkap.
PENGGUNAAN VOKATIF UJANG DAN JANG DALAM NOVEL SI BOHIM JEUNG TUKANG SULAP KARYA SAMSOEDI: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK wahya
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.277

Abstract

ABSTRAK Tulisan ini membahas penggunaan vokatif Ujang dan Jang dalam Novel Si Bohim jeung Tukang Sulap Karya Samsoedi: Kajian Sosiolinguistik. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif. Penyediaan atau pengumpulan data menggunakan metode simak, yakni menyimak pemakain vokatif Ujang dan Jang oleh penutur terhadap mitra tutur. Berdasarkah hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal berikut. Dari sumber data yang digunakan ditemukan empat belas data kalimat yang memuat vokatif utuh Ujang dan vokatif penggalan Jang. Dari 14 data kalimat tersebut, 10 data kalimat memuat vokatif Ujang dan 4 data memuat vokatif Jang. Penggunaan vokatif Ujang mendominasi penggunaan vokatif Jang. Berdadarkan penggunaan kode tingkat tutur, pada penggunaan vokatif Ujang yang berjumlah 10 data, 9 data terdapat dalam penggunaan kode tingkat tutur akrab dan 1 data terdapat dalam penggunaan kode tingkat tutur hormat. Pada penggunaan vokatif Jang yang berjumlah 4 data, 3 data terdapat dalam penggunaan kode tingkat tutur akrab dan 1 data terdapat dalam penggunaan kode tingkat tutur hormat. Dengan demikian penggunaan kode tingkat tutur akrab mendominasi. Artinya, vokatif Ujang dan Jang lebih sering digunakan dalam kode tingkat tutur akrab. Hubungan sosial penutur dengan mitra tutur dalam penggunaan vokatif Ujang dan Jang ada empat, yaitu kekeluargaan, kenalan baru, rekan bisnis, dan pesulap-penonton yang didominasi hubungan sosial kekeluargaan. Kata kunci: vokatif, vokatif utuh, vokatif penggalan, tingkat tutur, hubungan sosial ABSTRACT This article discusses the use of the vocatives Ujang and Jang in the novel Si Bohim jeung Tukang Sulap by Samsoedi: Sociolinguistic Study. The research method is descriptive-qualitative. Providing or collecting data using the listening method, namely listening to the use of the vocatives Ujang and Jang by speakers towards their speech partners. Based on the research results, the following can be concluded. From the data source used, fourteen sentence data were found containing the complete vocative of Ujang and fragmentary vocatives of Jang. Of the 14 sentence data, 10 sentence data contain the Ujang vocative and 4 data contain the Jang vocative. Ujang's vocative use dominates Jang's vocative use. Based on the use of speech level codes, there are 10 data on the use of the Ujang vocative, 9 data are contained in the use of the familiar speech level code and 1 data is contained in the use of the respectful speech level code. In the use of Jang's vocative, there are 4 data, 3 data are in the use of the familiar speech level code and 1 data is in the use of the respectful speech level code. Thus, the use of familiar speech level codes dominates. This means that the vocatives Ujang and Jang are more often used in familiar speech level codes. There are four social relationships between the speaker and his speech partner in the use of the vocatives Ujang and Jang, namely kinship, new acquaintances, business partners, and magician-audience, which are dominated by familial social relationships. Key words: vocative, whole vocative, fragmentary vocative, level of speech, social relationship
SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PANGKAT KEMILITERAN DALAM NOVEL BERBAHASA SUNDA OLEH-OLEH PERTEMPURAN KARYA RUKMAN HS wahya
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.353

Abstract

Artikel ini membahas sisi sosiolinguistik penggunaan vokatif pangkat kemiliteran dalam bahasa Sunda. Di dalamnya dibahas penggunaan vokatif pangkat kemiliteran ini dari sisi bentuk, hubungan sosial penutur dan mitra tutur, dan penggunaannya dalam tingkat tutur bahasa Sunda. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan adat menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode padan dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan adalah sumber data tunggal, yaitu sumber data tulis berupa novel berjudul Oleh-Oleh Pertempuran edisi 2006 karya Rukmana Hs. Penggunaan sumber data ini dengan mempertimbangkan terdapatnya data yang diperlukan di samping sebagai sampel. Data yang diperoleh berdasarkan kritreia yang ditentukan dari sumber data berjumlah 18 data. Berdasarkan hasil analsisis data dapat disimpulkan sebagai berikut. Dari 18 data yang diperoleh, 10 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk utuh; 3 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk penggalan, dan 5 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk kombinasi. Secara hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif pangkat kemiliteran ini, ada tiga jenis, yaitu (1) pertemanan ada 3 data, (2) bawahan-atasan/komandan ada 12 data, (3) atasan/komandan-bawahan ada 3 data. Kepangkatan militer yang merupakan pangkat bawahan-atasan ada lima, yaitu (1) Kopral-Sersan, (2) Kapten-Jendral, (3) Kopral-Letnan, (4) Sersan-Kapten, dan (5) Letnan-Kapten. Kepangkatan militer yang merupakan pangkat-atasan bawahan ada (3), yaitu (1) Letnan-Kopral, (2) Sersan-Kopral, dan (3) Letnan Muda-Sersan. Tingkat tutur yang digunakan penutur tehadap mitra tutur ada dua jenis, yaitu tingkat tutur hormat ada 13 data dan tingkat tutur akrab ada 5 data.
A PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF SERAPAN BAHASA SUNDA wahya
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.393

Abstract

Abstrak Tulisan ini membahas vokatif serapan dalam bahasa Sunda. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan vokatif serapan bahasa Sunda oleh para tokoh dalam buku fiksi berbahasa Sunda. Analisis data menggunakan metode padan, yakni padan referensial dan translasional dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan sebanyak tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda sebagai sampel. Berdasarkan sumber data dan kriteria data yang ditentukan ditemukan dua puluh kalimat yang memuat empat belas vokatif serapan yang dituturkan penutur kepada mitra tutur. Keempat belas vokatif serapan yang sudah diadaptasi dalam bahasa Sunda ini adalah (1) Nyonya, (2) Babah, (3) Engko, dan (4) Ko dari bahasa Tionghoa; (5) Enon, (6) Non, dan (7) Mandor dari bahasa Portugis; (8) Embok, (9) Mas, dan (10) Lurah dari bahasa Jawa; (11) Tuan dari bahasa Indonesia/Melayu, (12) Sobat dan (13) Ketib dari bahasa Arab; (14) Lebé dari bahasa Tamil. Berdasarkan jenisnya, vokatif serapan ini ada enam, yaitu (1) vokatif kekerabatan, (2) vokatif penghormatan, (3) vokatif keakraban, (4) vokatif keagamaan, (5) vokatif profesi, dan (6) vokatif jabatan dalam pemerintah. Hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif serapan ini ada sembilan, yaitu (1) pembantu-majikan, (2) pembantu-anak majikan, (3) ketetanggaan, (4) pejabat pemerintah-warga, (5) warga-pejabat pemerintah, (6) pembeli-pedagang, (7) kenalan baru, (8) antara pejabat pemerintah, dan (9) kenalan lama. Penggunaan tingkat tutur dalam penggunaan vokatif serapan ada dua kode, yaitu kode akrab dan kode hormat dengan penggunaan yang seimbang. Kata Kunci: vokatif serapan, sosiolinguistik, adaptasi, hubungan sosial, tingkat tutur
PENGGUNAAN VOKATIF NAMA DIRI TERHADAP MITRA TUTUR DALAM TINGKAT TUTUR BAHASA SUNDA Wahya, Wahya
Journal of Linguistic Phenomena Vol 2 No 2 (2024): Journal of Linguistic Phenomena, Januari 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jlp.v2i2.51922

Abstract

Penggunaan vokatif nama diri, baik berbentuk utuh maupun penggalan, terhadap mitra tutur dalam tingkat tutur bahasa Sunda dapat terjadi, baik dalam tingkat tutur kode akrab maupun dalam tingkat tutur kode hormat. Demikian pula hubungan yang terdapat di antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif nama diri tersebut dapat diamati dalam penggunaan tingkat tutur bahasa Sunda. Penelitian ini mencoba mengungkapan masalah di atas. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan metode padan, yakni padan referensial dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan merupakan sumber data tertulis tunggal, yaitu buku fiksi berbahasa Sunda yang berjudul Bentang Hariring (2016) karya Dian Hendrayana. Berdasarkan kriteria data yang ditentukan, dari sumber data yang digunakan tersebut ditemukan 33 data kalimat yang memuat bentuk vokatif nama diri, yakni 18 kalimat termasuk tindak tutur kode akrab dan 15 kalimat termasuk tindak tutur kode hormat. Selanjutnya, hubungan sosial yang terdapat di antara penutur dan mitra tutur pada penggunaan vokatif nama diri dalam tingkat tutur kode akrab dan tingkat tutur kode hormat sebagi berikut. Tingkat tutur kode akrab yang memuat vokatif nama diri utuh dan penggalan terhadap mitra tutur masing-masing memiliki hubungan sosial empat jenis dan satu jenis. Tingkat tutur kode hormat yang memuat vokatif nama diri utuh dan penggalan terhadap mitra tutur masing-masing memiliki hubungan sosial enam jenis dan satu jenis. Hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur pada penggunaan vokatif nama diri penggalan, baik pada tingkat tutur kode akrab maupun pada tingkat tutur kode hormat hanya terdapat pada satu hubungan sosial, yaitu pertemanan.