Claim Missing Document
Check
Articles

PANGAN DALAM PERSPEKTIF BUDAYA SUNDA: MATERI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DI DESA SINDULANG, KECAMATAN CIMANGGUNG, KABUPATEN SUMEDANG Wahya, Wahya; Rahman, Fadly; Hamid, Abdul
Midang Vol 2, No 1 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i1.50859

Abstract

Setiap bangsa di dunia tidak dapat melepaskan dirinya dari keperluan akan pangan atau makanan karena pangan merupakan sumber tenaga ketika melakukan aktivitas. Dengan pangan manusia dapat mempertahankan hidupnya di dunia. Oleh karena itu dicari berbagai cara melalui budaya agar pangan tetap dapat terus hadir dan diingat dalam kehidupan. Pangan dalam perspektif budaya Sunda memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Pangan bukan hanya sekadar sesuatu yang diperlukan fisik untuk memberikan tenaga ketika melakukan aktivitas, tetapi memiliki nilai-nilai dalam kehidupan. Oleh karena itu, bukanlah hal yang aneh masalah makanan itu diangkat dalam ungkapan atau peribahasa dalam budaya Sunda yang menunjukkan kecerdasan orang Sunda dalam memandang makanan dari perspektif budayanya. Orang yang tidak kebagian makanan istimewa diasosiakan dengan bengkok tikoro ‘kehabisan makanan karena telat datang’. Keadaan masyarakat yang makmur digambarkan dengan murah sandang murah pangan ‘murah pakaian murah makanan’. Ketika bertamu hanya mendapatkan minuman tanpa makanan disindir dengan ngaburuy ‘seperti kecebong’. Orang kaya yang banyak makanan dan uang diilustrasikan dengan rea ketan rea keton ‘banyak ketan dan uang’. Budaya pangan melekat dengan kehidupan orang Sunda.
Morfofonemik Bahasa Indonesia pada Kata Serapan Bahasa Inggris yang Berawalan Fonem Voiceless: Kajian Teori Optimalitas Ferdiansyah, Irfan; Wagiati, Wagiati; Wahya, Wahya
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v17i2.22890

Abstract

This study analyzes the morphophonemic prefix me- on English loanwords in Indonesian language. The approach used to dissect the problem is the Optimality Theory. The method used is a qualitative method with descriptive. The source used in this study is the corpus ind_mixed_2013 in the Corpora Collection Leipzig, and the dictionary source used is the dictionary of Alan M. Stevens and A. Ed. Schmidgall-Tellings entitled A Comprehensive Indonesian-English Dictionary, Second Edition. The purpose of this study is to find the optimal candidate produced by the speaker and find out the relationship between the optimal candidate and the candidate with the most frequency in the corpus. The results obtained in this study show that the candidates most often formed by BI speakers are candidates who have experienced nationalization [n], and [ŋ]. Then, BI speakers have become accustomed to using optimal candidates, except for absorption words that begin with the phonemes /p/, /s/, and /k/.
Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas Cece Sobarna; Gugun Gunardi; Wahya Wahya
PANGGUNG Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.426

Abstract

ABSTRACTThe continuous changes of society have brought some impacts to the name of a place. Even though it is only a name, it actually deals with the cultural perspective of the surrounding communities. Currently, toponym becomes important for society as a part of identity formation processes including for the Sundanese. Beside spoken in West Java and Banten, Sundanese language is also spoken by Central Java communities who live in western areas such as Cilacap, Brebes, and Banyumas regencies. In Cilacap and Brebes regencies, Sundanese language is still an effective language for daily communication. However, in Banyumas regency, this language undergo changes. In fact, the Sundanese language in Banyumas is a quite unique since the archaic words such as pineuh  (sleeping) and teoh (below) are still found. This area still keeps its oral tradition such as the story about the history of the place names. By employing dialectology theory to the data collected from the field, this study of the place name is an effort to strengthen an identity as the place name can be understood as a symbol rooted on the history of the place in its local culture. This tradition contributes toward a sustainability of the place name along with their cultural values.Key words: place names, local wisdom, identity   ABSTRAKPerubahan masyarakat yang terus-menerus berpengaruh pada perubahan penamaaan tempat di suatu daerah.Tidak hanya sekadar nama, dalam penamaan sebuah tempat terkandung pandangan  masyarakat pemiliknya. Saat ini, toponimi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari proses pembentukan identitas. Selain di wilayah Jawa Barat dan Banten, bahasa Sunda digunakan pula oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah yang berada di bagian barat, seperti Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di wilayah Kabupaten Cilacap dan Brebes bahasa Sunda sampai sekarang masih digunakan. Namun, di wilayah Kabupaten Banyumas, bahasa Sunda mengalami penyusutan. Padahal, bahasa Sunda di wilayah tersebut cukup menarik, yakni masih ditemukan kata-kata arkais, seperti pineuh ‘tidur’ dan teoh ‘bawah’. Wilayah ini juga masih menyimpan banyak tradisi lisan, di antaranya adalah ihwal cerita terjadinya nama tempat. Dengan menggunakan teori dialektologi terhadap data yaang dikumpulkan di lapangan, pengkajian nama tempat ini merupakan sebuah upaya yang strategis dalam rangka penguatan jati diri bangsa karena nama tempat dapat dipahami sebagai tanda yang mengacu pada cerita dan sejarah yang berakar pada budaya lokal. Tradisi ini berkontribusi terhadap kelanggengan nama berikut nilai-nilai budaya di dalamnya.Kata kunci: nama tempat, kearifan lokal, jati diri
INOVASI FONETIS BAHASA SUNDA DI PERBATASAN KABUPATEN MAJALENGKA DENGAN KABUPATEN CIREBON DAN KUNINGAN Pradana, Allif; Wahya, Wahya; Lyra, Hera Meganova
SEBASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 6 No 2 (2023): SeBaSa
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sbs.v6i2.20922

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan varian bahasa sunda di perbatasan Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Cirebon dan Kuningan yaitu di kecamatan sindangwangi sebagai wilayah borderland bahasa Sunda yang memiliki pembaharuan inovasi fonetis pada kosakata nya menjadikan bahasa sunda di kecmatan sindangwangi mempunyai perubahan dari bentuk ataupun makna. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori borderland oleh dahareni (2010) dan Inovasi Internal oleh Wahya (1995). Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif qualitatif oleh Djajasudarma (2010) untuk memaparkan secara dalam temuan dari penelitian dan teknik catat dan lanjutan simak oleh Nandra dan Reniwati untuk pencarian 229 kosakata budaya (2009). Hasil penelitian dari 35 kosakata asal dengan 40 varian inovatif beshasil ditemukan dan dideskripsikan menjadi: 1. Proses Fonologi satu tahap dengan: 1. Perubahan fonem, 2. Penambahan fonem, 3. Pengurangan fonem, 4. Metatesis, dan 2. Proses fonologi dua tahap untuk mengukur urutan diakronis dari 5 varian kosakata inovatif.
Fungsi Sosial Vokatif Bahasa Melayu Palembang di Kota Baturaja: Kajian Sosiolinguistik Putri, Laily Adha Intan; Wahya, Wahya; Wagiati, Wagiati
Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 25, No 2 (2024): Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aksara/v25i2.pp692-703

Abstract

In communication, vocatives are quite often used. Vocatives are nouns whose presence is optional in a sentence and are directed at the person being spoken to (second person). The purpose of this study is to analyze how the social function of vocatives in Palembang Malay in Baturaja City. The theory of Wahya & Suparman (2023) is used in this study because it is more relevant in discussing regional language vocatives. This study is a field study with a qualitative descriptive research method. This study examines four domains, namely education, transactions, family, and intimacy so that they are located in schools, markets, residents' homes, and workspaces/classrooms. Data were collected using the listening method with basic tapping techniques and continued with recording techniques and note-taking techniques. The matching method and distributional method (agih) were used to analyze the data. The results of the data analysis are presented using informal techniques in the form of Palembang Malay data accompanied by their equivalents in Indonesian sentences in spoken language. The social functions of vocatives found in this study are (1) familiarity (full and fragmented proper names, Dek, kau, kamu); (2) politeness (Yuk/Ayuk, Buk, Bik, Cik); (3) endearment (Adek/Dek, Yuk/Ayuk, Nak), and (4) directive (full proper name, kau, kau tu). With this research, it is expected to add references on the influence of local culture in the use of vocatives and strengthen the theory of sociolinguistic studies on vocatives in regional languages in Indonesia.Keywords: vocative; Palembang Malay; social function of vocatives; sociolinguistics
CAMPUR KODE PADA INTERAKSI MASYARAKAT DESA BANJARSARI KECAMATAN SUKATANI, KABUPATEN BEKASI: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Hasanah, Nisrina; Wagiati; Wahya
SEBASA Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 8 No 2 (2025): SeBaSa
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sbs.v8i2.30759

Abstract

Bekasi was and still an area with many social contacts of various languages because Bekasi had a port that is the center of traders meeting from various regions. Due to that influence of various languages, Bekasi residents sometimes mix various local languages ​​when speaking. Therefore, the purpose of this study is to determine the code mixing that occurs in Banjarsari Village, Sukatani District, Bekasi Regency and what factors influence the occurrence of code mixing there. The method used is qualitative descriptive method. The data were collected using the listening method with tapping and recording techniques. We recorded the interactions of residents in two domains, namely neighborhood and transactions then analyzed it using the padan method with the Hubung Banding Menyamakan, Hubung Banding Membedakan, and Hubung Banding Menyamakan Hal Pokok techniques. The data were also analyzed using the code mixing theory by Muysken which is insertion, alternation, and congruent lexicalization. The data are presented using formal and informal methods. In Banjarsari Village, code mixing occurs in four languages, namely Banten Javanese, Betawi, Sundanese and Indonesian. This code mixing occurs due to the history of politics and territory, intermarriage, social media, and speakers who come from outside the village.
Morfofonemik Bahasa Indonesia pada Kata Serapan Bahasa Inggris yang Berawalan Fonem Voiceless: Kajian Teori Optimalitas Ferdiansyah, Irfan; Wagiati, Wagiati; Wahya, Wahya
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v17i2.22890

Abstract

This study analyzes the morphophonemic prefix me- on English loanwords in Indonesian language. The approach used to dissect the problem is the Optimality Theory. The method used is a qualitative method with descriptive. The source used in this study is the corpus ind_mixed_2013 in the Corpora Collection Leipzig, and the dictionary source used is the dictionary of Alan M. Stevens and A. Ed. Schmidgall-Tellings entitled A Comprehensive Indonesian-English Dictionary, Second Edition. The purpose of this study is to find the optimal candidate produced by the speaker and find out the relationship between the optimal candidate and the candidate with the most frequency in the corpus. The results obtained in this study show that the candidates most often formed by BI speakers are candidates who have experienced nationalization [n], and [ŋ]. Then, BI speakers have become accustomed to using optimal candidates, except for absorption words that begin with the phonemes /p/, /s/, and /k/.
ASMA YAUM AL-QIYAMAH FIZ AL-QUR'AN AL-KARIM MIN KHILAL AL-MANZHIR AL-DALALI AL-MA'RIFI WA QIYAMUHU AL-TARBAWIYAH AL-RIHIYAH Kosim, Abdul; Nur, Tajudin; Wahab, T. Fuad; Wahya, Wahya
Arabi : Journal of Arabic Studies Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : IMLA (Arabic Teacher and Lecturer Association of Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24865/ajas.v3i2.94

Abstract

This study aimed to discuss the names of judgment day in the Qur'an through cognitive semantic approach and the values of spiritual education. Through the cognitive semantic approach, the conception of meaning to describe the judgment day in the Qur'an was formulated by mapping the meaning resulted from the source domain (Sd) to target domain (Sd). To show and compare references in (Sd) to (Td), referential technique was used. From organizing (Sd) to (Td) on metaphorical expressions which showed the judgment day in the Qur'an, the conceptions of the meaning of state, time, movement, and change were generated. The studies on the names of judgment day in the Qur'an influence the value of moral education, which is able to increase faith in God, observe nature and its big symptoms, create good character between God and man, and believe in God's noble character.
VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS: VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.44

Abstract

Vokatif penghormatan dalam bahasa Sunda merupakan salah satu vokatif yang secara sintaktis dapat diamati perilakuknya. Penelitian ini yang berjudul “Vokatif Penghormatan dalam Bahasa Sunda: Kajian Sintaksis” mengamati vokatif penghormatan yang terdapat dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintakasis. Di samping itu, mengamati distribusi vokatif dalam kalimat serta satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan tersebut dalam kalimat deklaratif, baik yang di sebelah kanan maupun yang di sebelah kirinya. Penenelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan tekni catat; penganalisisan data menggunakan metode distribusional dengan pendekatan sintaksis. Sumber data yang digunakan adalah tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa vokatif penghormatan terdapat dalam kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat interogatif, dan kalimat eksklamatif dan dominan terdapat dalam kalimat deklaratif dan eksklamatif. Vokatif penghormatan dapat berdistribusi pada awal, tengah, dan akhir kalimat dan dominan terdapat pada akhir kalimat eksklamatif. Satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan dalam kalimat deklaratif, ada yang di sebelah kanan kalimat deklaratif; ada yang di selah kiri kalimat deklaratif. Pendamping di sebelah kanan umumnya berkonstruksi bukan klausa, sedangkan pendamping di sebelah kiri semuanya berkonstruksi klausa.
SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING: SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i3.71

Abstract

Vokatif merupakan unsur universal bahasa yang digunakan penutur untuk memanggil pertutur. Secara bentuk, vokatif ada dua, yaitu bentuk utuh dan bentuk penggalan. Tulisan ini membahas vokatif bentuk penggalan. Metode penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan metode distribusional dan padann. Sumber data penelitian berupa novel berbahasa Sunda berjudul Kabandang ku Kuda Lumping (2018) karya Ahmad Bakri. Berdasarkan sumber data yang digunakan diperoleh 34 data yang memuat vokatif dalam bentuk penggalan, yaitu 31 data memuat vokatif nama diri dan 3 data memuat vokatif kekerabatan. Dari 31 data vokatif nama ditemukan 6 vokatif nama diri yang berbeda, yaitu Mod, Asan, Jang, Léh, Téng, dan Yib yang masing-masing merupakan penggalan dari Emod, Marhasan, Ujang, Aléh, Oténg, dan Oyib. sedangkan vokatif kekerabatan yang berbeda ada 2, yaitu Ki dan Mang, yang masing-masing merupakan penggalan dari Aki ‘Kakek’ dan Emang ‘Paman’. Hubungan sosial yang terdapat di antara penutur dan petutur adalah 26 merupakan hubungan sosial pertemanan, 2 hubungan sosial ketetanggaan, 5 hubungan sosial kenalan baru, dan 1 hubungan sosial suami-istri. Adapun dari sisi pemakaian tingkat tutur, 33 data menunjukkan tingkat tutur kode akrab dan 1 data menunjukkan tingkat tutrur kode hormat. Tingkat tutur kode hormat hanya ditemukan satu data, yakni antara Ujang Udin dengan Aki Uda, yang memiliki hubungan sosial ketetanggan. Dengan demikian, dari hasil analisis di atas, vokatif bentuk penggalan didominasi vokatif nama diri, hubungan sosial antara penutur dan petutur merupakan hubungan pertemanan, dan tingkat tutur didominasi kode akrab.