Claim Missing Document
Check
Articles

PERSPEKTIF SINTAKSIS TERHADAP VOKATIF BERULANG BERDERET BEREFERENSI SAMA DALAM BAHASA SUNDA: PERSPEKTIF SINTAKSIS TERHADAP VOKATIF BERULANG BERDERET BEREFERENSI SAMA DALAM BAHASA SUNDA Wahya, Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i2.149

Abstract

Artikel in membahas vokatif berulang berderet bereferensi sama. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak, yakni simak tanpa libat cakap dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode distribusional. Adapun metode penyajian data bersifat informal. Sumber data yang digunakan adalah sebelas buku cerita rekaan berbahasa Sunda yang di dalamnya memuat data yang diperlukan. Berdasarkan hasil penelitian, dari sumber data yang digunakan dengan kriteria data yang ditetapkan, ditemukan empat belas data yang memuat vokatif berulang berderet bereferensi sama. Selanjutnya, vokatif tersebut terbagi atas tujuh tipe, yaitu (1) vokatif nama diri berulang berderet berwujud kata utuh disertai penggalannya, (2) vokatif nama diri berulang berderet berwujud penggalan disertai kata utuhnya, (3) vokatif nama diri berulang berderet berwujud penggalan, (4) vokatif kekerabatan berulang berderet berwujud kata utuh, (5) vokatif berulang berderet berunsur kata kekerabatan disertai nama diri, (6) vokatif berulang berderet berunsur nama diri disertai panggilan kesayangan, dan (7) vokatif berulang berderet berunsur panggilan kesayangan yang berbeda. Distribusi vokatif berulang berderet bereferensi sama tersebut berposisi pada awal kalimat ada sepuluh data, pada tengah kalimat ada satu data, dan pada akhir kalimat ada tiga data. Dengan demikian, dominasi pada awal kalimat. Jenis kalimat yang terbentuk dengan tipe-tipe vokatif di atas adalah interogatif, imperatif, deskriptif, dan eksklamatif. Adapun jenis vokatif yang ditemukan adalah vokatif nama diri, vokatif kekerabatan, vokatif panggilan sayang, serta vokatif kombinasi antara kekerabatan dan nama diri serta nama diri dan panggilankesayangan.
VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK: VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
KABUYUTAN Vol 1 No 2 (2022): Kabuyutan, Juli 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i2.39

Abstract

Vokatif sebagai panggilan atau sapaan dari penutur kepada petutur memiliki berbagai jenis. Salah satu jenis vokatif ini adalah vokatif kesayangan. Vokatif ini memiliki fungsi untuk mamanggil petutur dengan perasaan sayang. Vokatif kesayangan biasanya digunakan orang tua untuk memanggil anaknya atau suami memanggil istrinya. Vokatif kesayangan secara universal terdapat dalam bahasa-bahasa di dunia, termasuk dalam bahasa Sunda. Tulisan ini membahas vokatif kesayangan dalam bahasa Sunda, yang secara khusus hanya diamati secara sosiolinguistik. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode padan dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan berupa buku fiksi berbahasa Sunda sebanyak sebelas buku. Dari hasil penelitian diperoleh 22 data kalimat yang memuat vokatif kesayangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif kesayangan sebanyak 22 data ini dipakai dalam hubungan sosial antara penutur dan petutur yang berbeda, yang terdiri atas (1) vokatif kesayangan untuk anak kecil laki-laki (3 data), (2) vokatif kesayangan untuk anak remaja laki-laki (4 data), (3) vokatif kesayangan untuk anak remaja perempuan (5 data), vokatif kesayangan untuk laki-laki dewasa (1 data), dan vokatif kesayangan untuk perempuan dewasa (9 data). Ditemukan vokatif yang sama untuk pemakaian di antara penutur dan petutur dalam hubungan sosial yang berbeda, yaitu vokatif cu, panggalan dari incu, kasep, anaking, eulis, dan geulis.
FUNGSI SOSIAL VOKATIF DALAM KOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA: FUNGSI SOSIAL VOKATIF DALAM KOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA wahya
KABUYUTAN Vol 1 No 3 (2022): Kabuyutan, November 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i3.75

Abstract

Vokatif merupakan salah satu unsur bahasa yang secara universal berperan penting dalam menjalankan fungsi sosial bahasa sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia di mana pun di dunia ini. Dari sisi kebudayaan vokatif memiliki fungsi sosial tertentu bagi penuturnya. Demikian pula halnya vokatif dalam bahasa Sunda. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati fungsi sosial vokatif dalam komunikasi verbal orang Sunda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode simak, yakni menyimak penggunaan vokatif dalam ekspresi bahasa Sunda, dengan teknik catat, yakni mencatat data langsung dari sumber data. Penganalisisan data menggunakan metode dalam linguistik, yaitu metode padan, dengan pendekatan kebudayaan. Sumber data yang digunakan adalah beberapa buku fiksi berbahasa Sunda yang di dalamnya memuat data yang diperlukan. Berdasarkan pengamatan atas data, fungsi sosial vokatif dalam komuniksi verbal orang Sunda ada enam, yaitu (1) keakraban, (2) pertemanan, (3) kesantunan, (4) kesayangan, (5) pengakuan atas keberadaan kelompok, dan (6) pengakuan atas profesi dan jabatan.
BUDAYA SANTUN MELALUI PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR HORMAT BAHASA SUNDA DENGAN PEMANFAATAN VOKATIF: BUDAYA SANTUN MELALUI PENGGUNAAN TINGKAT TUTUR HORMAT BAHASA SUNDA DENGAN PEMANFAATAN VOKATIF Wahya, Wahya
KABUYUTAN Vol 2 No 1 (2023): Kabuyutan, Maret 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i1.127

Abstract

Budaya santun dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda antara lain diwujudkan melalui penggunaan tingkat tutur hormat ketika orang Sunda berkomunikasi. Penggunaan tingkat tutur hormat dapat berorientasi terhadap diri sendiri dapat pula berorientasi terhadap orang lain. Tingkat tutur hormat ini secara linguistik ditandai dengan pilihan kata tertentu. Artikel ini membahas mekanisme penggunaan tingkat tutur hormat terhadap orang lain ketika terjadi peristiwa tutur disertai penggunaan vokatif di dalamnya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Analisis data menggunakan metode padan pragmatik dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan adalah sumber data tulis berupa novel berbahasa Sunda yang berjudul Rasiah Geulang Rantay (1997) karya Nanie. Pemilihan sumber data ini mempertimbangkan terdapatnya data yang diperlukan dalam penelitian. Berdasarkan karakteristik data yang diperlukan terpilih sembilan belas data yang memperlihatkan penggunaan tingkat tutur halus yang disertai dengan penggunaan vokatif. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa mekanisme penggunaan tingkat tutur hormat yang berorientasi terhadap orang lain yang disertai dengan pemakaian vokatif di dalamnya terbagi atas dua kategori, yaitu (1) tingkat tutur hormat yang terjadi di antara angggota keluarga, yang terdiri atas lima subkategori dengan tujuh jenis vokatif dan variasinya, (2) tingkat tutur hormat yang terjadi bukan di antara angggota keluarga, yang terdiri atas sembilan subkategori dengan delapan jenis vokatif.
Inovasi Eksternal Leksikal Bahasa Sunda di Wilayah Perbatasan Cirebon: Kajian Dialektologi Febianti, Dike; Wahya, Wahya; Lyra, Hera Meganova
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i1.136551

Abstract

This study examines lexical external innovation in Sundanese in Babakan District, Cirebon Regency, a linguistic border area between Sundanese and Cirebon Javanese. The research aims to (1) identify external lexical innovations, (2) analyze the factors driving them, and (3) examine their sociolinguistic impact on language use. A descriptive qualitative approach supported by quantitative distribution analysis was employed. Data were collected from 200 lexical items based on the GSKSKB (a combined Swadesh and cultural vocabulary list) through fieldwork with native speakers. Findings reveal that 61 lexical items (30.5%) represent external innovations, primarily from Indonesian (22%) and, to a lesser extent, from Cirebon Javanese (8.5%). These innovations occur across core lexical domains, including body parts, kinship, and basic vocabulary, indicating that even a stable lexicon is susceptible to change. Distribution patterns show varying stages of diffusion, from localized occurrences to widespread adoption. The analysis suggests that external innovation is shaped by linguistic accommodation and language prestige. Indonesian, as a high-prestige national language, is the primary source of lexical borrowing, while Cirebon Javanese reflects localized influence. These innovations coexist with native Sundanese forms, creating lexical competition rather than immediate replacement. This study contributes to Sundanese dialectology by providing empirical evidence of external innovation in a border region and highlights the interplay between language contact, diffusion, and sociolinguistic adaptation.
The Role of the Sound of the Letter "Q" in the Middle and End of Words in Mandar Nabilah Haruna; Cece Sobarna; Wahya wahya
Journal of Social Research Vol. 3 No. 12 (2024): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v3i12.2322

Abstract

This study raises the role of the sound of the letter "q" in Mandar, especially when it is in the middle and end of the word. The Mandar language, which lives and is used by the people of West Sulawesi, has characteristics that are often misunderstood by non-Mandar speakers. One of the most common mistakes is to replace the sound of the letter "q", which is actually a glottal stop, with the sound of "k", which results in a significant shift in meaning. This study aims to reveal the importance of correct understanding of the pronunciation of glottal stops, especially in the context of the Mandar language. Through a qualitative descriptive method, this study collected data from native speakers and the Great Dictionary of Mandarin-Indonesian Language, to analyze words containing the letter "q". The results of the study show that the sound of glottal stop is very crucial in maintaining the authenticity of the meaning and understanding of a word in Mandar. With a collection of 55 words, the study highlights the urgency of preserving the correct way of pronunciation to avoid misunderstandings among non-native speakers. This research not only contributes to the development of linguistics, but also supports efforts to revitalize the Mandar language, which is now endangered. By understanding the sound of this glottal stop, it is hoped that news anchors, journalists, and the general public can better appreciate and use the Mandar language appropriately, so that this regional language remains alive and developing.
Membedah Antonomasia: Kritik dan Identitas Sosial dalam Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori Winnarny Nurul Listary; Wahya Wahya; Wagiati Wagiati
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 11 No 2 (2026)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v11i2.2922

Abstract

This research discusses the types, functions, and meanings of antonomasia as social criticism and identity in the novel My Name is Alam by Leila S. Chudori. This research aims to contribute to the advancement of knowledge in the field of language, especially in stylistic studies. This research uses a qualitative-descriptive method with a stylistic approach and antonomasia theory. Descriptive data for qualitative research consists of written words from subjects in the novel Namaku Alam by Leila S. Chudori. In this research, the descriptive data used are only written words used as language symptoms. The results of this research show that antonomasia in the novel Namaku Alam by Leila S. Chudori is used to represent criticism and social identity. Antonomasia in literary works is formed based on the author's writing style. The conclusion of this research is that antonomasia is divided into two types, namely, group and persona, and five main functions, namely as a label or self-identity, nickname, praise or satire, pseudonym (other name), and aesthetics or entertainment.
VOKATIF AKANG DAN KANG BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS: VOKATIF AKANG DAN KANG BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS Wahya Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 3 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i3.180

Abstract

Artikel ini berjudul “Vokatif Akang dan Kang Bahasa Sunda dalam Perspektif Sintaksis”. Vokatif Akang dan vokatif Kang merupakan vokatif kekerabatan dalam bahasa Sunda. Vokatif Kang merupakan penggalan dari vokatif Akang. Kedua vokatif ini memiliki kesamaan dan perbedaan perilaku sintaksis. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak. Penganalisisan data menggunakan metode distribusional. Sumber data terdiri atas dua belas buku fiksi berbahasa Sunda, yang terbit di antara tahun 1993 dan 2018. Berdasarkan sumber data yang digunakan dengan kriteria data yang ditentukan ditemukan kalimat yang memuat vokatif Akang dan Kang sebanyak 37 buah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif Akang dan Kang memiliki kesamaan dan perbedaan perilaku sintaksis. Perbedaan perilaku sintaksis di antara kedua vokatif ini adalah sebagai berikut: vokatif Akang hanya terdapat dalam kalimat deklaratif dan eksklamatif, sedangkan vokatif Kang ditemukan pula dalam kalimat imperatif dan interogatif; vokatif Akang hanya terdapat pada tengah dan akhir kalimat, sedangkan vokatif Kang ditemukan pula pada awal kalimat; vokatif Akang lebih sering didahului fatis emosi, sedangkan vokatif Kang tidak; vokatif Akang dapat didahului artikula si, sedangkan vokatif Kang tidak; vokatif Akang tidak berkombinasi dengan nama diri dan gelar, sedangkan vokatif Kang berkombinasi.
PENGGUNAAN FATIS DEULEU DALAM BUKU FIKSI BERBAHASA SUNDA: PENGGUNAAN FATIS DEULEU DALAM BUKU FIKSI BERBAHASA SUNDA Wahya Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i1.215

Abstract

Penelitian penggunaan fatis deuleu dalam fiksi berbahasa Sunda ini bersifat deskriptif- kualitatif. Data disajikan menggunakan metode simak, yakni simak bebas libat cakap. Data dianalisis menggunakan metode padan referensial dengan pendekatan sosiolinguistik dan semantik. Sumber data sampel yang digunakan berjumlah sembilan buku fiksi berbahasa Sunda dengan pertimbangan terdapatnya sampel data yang diperlukan di dalamnya. Berdasarkan pengamatan atas sumber data tersebut, dipilihlah 28 data kalimat yang di dalamnya memuat fatis deuleu. Dari semua data tersebut penggunaan fatis deuleu ditemukan hanya terdapat dalam tingkat tutur kode akrab. Selanjutnya, ditemukan empat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan fatis deuleu ini, yaitu (1) ketetanggaan, (2) kekerabatan, (3) pertemanan, dan (4) kenalan baru dengan jumlah data masing-masing 13, 8, 6, dan 1. Selanjutnya, jika diamati berdasarkan makna konteks kalimat, fatis deuleu yang terdapat dalam kalimat eksklamatif ini dalam penuturan memiliki sebelas jenis makna gramatikal, yaitu (1) menegaskan ketidaksetujuan,1 data, (2) menegaskan kemarahan, 9 data, (3) menegaskan sanggahan, 5 data, (4) menegaskan penjelasan, 6 data, kemudian (5) menegaskan kekagetan, (6) meminta tidak terburu-buru, (7) menegaskan perintah, (8) menegaskan alasan, (9) menegaskan ejekan, (10) menegaskan penyesalan, dan (11) menegaskan larangan, masing-masing ada 1 data. Dengan demikian, penggunaan fatis deuleu dalam buku fiksi berbahasa Sunda hanya digunakan dalam tingkat tutur kode akrab dengan hubungann sosial penutur dengan mitra tutur cenderung ketetanggaan serta dengan makna gramatikal kalimat penutur terhadap mitra tutur menegaskan kemarahan.
STRATEGI BERKOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA MENGGUNAKAN VOKATIF KEKERABATAN DAN VOKATIF NAMA DIRI DISERTAI TINGKAT TUTUR: STRATEGI BERKOMUNIKASI VERBAL ORANG SUNDA MENGGUNAKAN VOKATIF KEKERABATAN DAN VOKATIF NAMA DIRI DISERTAI TINGKAT TUTUR Wahya Wahya
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 6 No 2 (2024): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Juni 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v6i2.235

Abstract

Bahasa Sunda sebagai bahasa alamiah masih digunakan sebagai alat komunikasi, baik dalam ranah keluarga maupun dalam ranah di luar keluarga oleh etnik Sunda di Indonesia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa ini kaya dengan vokatif, di antaranya vokatif kekerabatan, vokatif nama diri, dan vokatif kombinasi kekerbatan dan nama diri. Tulisan ini membahas ketiga jenis vokatif tersebut dikaitkan dengan penggunaan tingkat tutur dalam bahasa Sunda sebagai strategi komunikasi verbal orang Sunda. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan data menggunakan metode simak dengan teknik cakap. Penganalisisan data menggunakan metode padan pragmatik dengan pendekatan sosiolinguistik. Berdasarkan kriteria data yang telah ditetapkan dari sumber data yang layak, terpilih 39 data yang memuat vokatif kekerabatan, vokatif nama diri, dan vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri. Dari data sejumlah itu, ditemukan sebanyak 13 data memuat vokatif kekerabatan saja, 10 data memuat vokatif nama diri saja, dan 16 data memuat vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri. Sejalan dengan kriteria data tersebut disertai penggunaan tingkat tutur, kemudian dikaitkan dengan strategi berkomunikasi verbal orang Sunda, sebanyak 13 data berkaitan dengan strategi kesantunan berkomunikasi orang Sunda, 10 data berkaitan dengan strategi keakraban berkomunikasi verbal orang Sunda, dan 16 data berkaitan dengan strategi kesantunan sekaligus keakraban berkomunikasi verbal orang Sunda. Berdasarkan wujud data vokatif kekerabatan dan jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi kesantunan berkomunikasi verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan agak santun, (2) menciptakan hubungan santun, (3) menciptakan hubungan lebih santun, dan (4) menciptakan hubungan sangat santun, baik dalam ranah keluarga maupun di luar ranah keluarga. Berdasarkan wujud vokatif nama diri dan jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi keakraban berkomunikai verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan lebih akrab, dan (2) menciptakan hubungan akrab, baik dalam ranah keluarga maupun di luar ranah keluarga. Selanjutnya, berdasarkan wujud vokatif kombinasi kekerabatan dan nama diri serta jenis kode tingkat tutur yang menyertainya, strategi kesantunan sekaligus keakraban berkomunikai verbal orang Sunda terdiri atas (1) menciptakan hubungan santun sekaligus akrab, (2) menciptakan hubungan lebih santun sekaligus lebih akrab, (3) menciptakan hubungan lebih santun sekaligus akrab, dan (4) menciptakan hubungan sangatsantun sekaligus akrab.