Claim Missing Document
Check
Articles

Algoritma Alokasi Sumber Daya Berbasis Minimum Interferensi Menggunakan Metode Dua-hop Pada Komunikasi D2d Wildan Maulani; Arfianto Fahmi; Vinsensius Sigit
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Laju perkembangan teknologi sat ini sangat cepat, sehingga berdampak pada teknologi seluler yang berkembang mengikuti kebutuhan konsumen dari sisi kecepatan data, kapasitas data bahkan layanan jaringan. Saat ini perkembangan teknologi seluler sudah pada era generasi ke-4 (4G) dan sudah mulai berkembang ke jaringan seluler generasi ke-5 (5G). Salah satu contoh penerapan teknologi komunikasi pada jaringan 5G di masa yang akan datang adalah Device to Device (D2D). Dengan menerapkan teknologi D2D, arsitekturnya akan menggunakan jaringan multi-tier heterogen yang terdiri dari komunikasi sel kecil, relay dan D2D. Tugas akhir ini akan menggunakan algoritma alokasi sumber daya berbasis minimum interferensi dengan metode dua-hop di komunikasi D2D pada jaringan seluler 5G. Dalam skema ini, awalnya, BS menghitung interferensi atas setiap sumber daya di sisi relay dan tujuan. Sekali, BS menghitung interferensi, kemudian mengalokasikan blok sumber daya itu yang menciptakan lebih sedikit gangguan dibandingkan dengan sumber daya lain. Dalam hal alokasi sumber daya, BS memberikan prioritas yang tinggi ke blok sumber daya yang mengalami lebih sedikit gangguan. Dengan menggunakan metode tersebut akan meningkatkan SINR dan memaksimalkan throughtput sehingga kapabilitas saluran downlink menjadi lebih baik. Kata kunci: Interferensi, Alokasi sumber daya, Relay, Komunikasi D2D, pengguna seluler Abstract Technology is to grow to follow consumer needs in terms of data speed, data capacity and even network services. At present the development of cellular technology is in the 4th generation (4G) era and has begun to develop into 5th generation cellular networks (5G). One example of the application of communication technology on 5G networks in the future is Device to Device (D2D). By implementing D2D technology, the architecture will use heterogeneous multi-tiered networks consisting of small cell, relay and D2D communications. To reduce interference, this final project will use a minimum interference-based resource allocation algorithm with the two-hop method in D2D communication on 5G cellular networks. In this scheme, initially, the BS calculates interference with each resource on the relay side and destination. Once, the BS calculates interference, then allocates that resource block which creates less interference compared to other resources. In terms of resource allocation, BS gives high priority to resource blocks that experience fewer disruptions. Using this method will increase SINR and maximize throughput so that the downlink channel capabilities get better Keywords: Interference, Resource allocation, Relay, D2D Communication, cellular users
Evaluasi Kinerja Rof - Cwdm Frekuensi 3,5 Ghz Untuk Jaringan 5g Yosia Raya Peranginangin; Arfianto Fahmi; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio over Fiber hadir sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung permintaan yang terus bertambah. Melihat perkembangan komunikasi di dunia yang sangat pesat, Radio over Fiber dapat diaplikasikan guna mendukung layanan komunikasi jarak jauh. Tugas Akhir ini melakukan pengujian dan simulasi Radio over Fiber ( RoF) berbasis Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM) pada frekuensi 3,5 Ghz untuk performansi 5G. Parameter utama yang digunakan untuk analisis hasil penelitian ini yaitu Bit Error Rate (BER), Q- Factor, Rise Time Budget (RTB), Link Power Budget (LPB) , Signal to Noise Ratio dan daya pada jarak 1 km sampai 10 km . Rancangan yang telah dibuat diimplementasikan pada software simulasi. Dari hasil pengujian dan simulasi pada jarak 1 km sampai 10 km, didapatkan hasil rata-rata Q-factor 10,362 dan BER 10-31.490 untuk besar daya transmisi -8 dBm sampai dengan -4 dBm. Pada jarak 1 km sampai 10 km didapatkan hasil rata-rata Q-factor 21,729 dan BER 10-106,312 untuk besar daya transmisi -3 dBm sampai dengan 0 dBm. Diharapkan penilitian ini dapat dijadikan referensi untuk pengembangan jaringan 5G dan generasi berikutnya. Kata Kunci : Radio over Fiber, Wavelength Division Multiplexing, 5G Abstract Radio over Fiber is present as one of the technologies that can support the increasing demand. Seeing the development of communication in a very fast world, Radio over Fiber can be used to support long distance communication services. This Final Project tests and simulates Radio over Fiber (RoF) based on Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM) at a frequency of 3.5 Ghz for 5G performance. The main parameters used for the analysis of the results of this study are Bit Error Rate (BER), Q-Factor, Rise Time Budget (RTB), Link Power Budget (LPB), Signal to Noise Ratio and power at a distance of 1 km to 10 km. The design that has been made is implemented in simulation software. From the results of tests and simulations at a distance of 1 km to 10 km, the results obtained an average of Q-factor 10.362 and BER 10- 31.490 for transmission power from -8 dBm to -4 dBm. At a distance of 1 km to 10 km obtained an average Q-factor of 21,729 and BER 10-106,312 for large transmission power of -3 dBm up to 0 dBm. Keywords: Radio over Fiber, Wavelength Division Multiplexing, 5G
Perbandingan Kompensator Dispersi Antara Dispersion Compensating Fiber (dcf) Dan Fiber Bragg Gratting (fbg) Didalam Jaringan Dwdm Ilham putra pratama; Arfianto Fahmi; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Terdapat beberapa pilihan untuk mengurangi permasalahan dispersi di sepanjang serat kabel optik. Dalam penelitian ini, pilihan tersebut ada pada Dispersion Compensating Fiber (DCF) dan Fiber Bragg Gratting (FBG). DCF adalah serat optik yang memiliki nilai dispersi negatif, sehingga bisa mengembalikan pelebaran pulsa yang terjadi. FBG adalah sebuah perangkat yang berisikan kisi-kisi indeks bias yang berbeda, bertujuan untuk mengembalikan nilai periode bit, seperti sebelum terjadi dispersi. Baik FBG maupun DCF, memiliki karakternya masing-masing. Sehingga akan diteliti perangkat mana yang layak untuk mengatasi dispersi pada jarak hingga 500 km di jaringan DWDM. DCF memiliki tiga skema, post-dispersion, pre-dispersion dan mix dispersion, sedangkan FBG akan diletakan satu kali pada posisi batas rise time budget. Penelitian ini diharapkan mendapatkan pilihan yang terbaik untuk mengatasi dispersi yang terjadi disepanjang jarak 500 km. Penulis memiliki hipotesis bahwa DCF memiliki keunggulan dibanding DCF, karena penurunan dispersi dilakukan secara bertahap melalui panjang kabel DCF. Akan tetapi, tidak mustahil bahwa FBG bisa lebih baik karena kisi-kisi yang dilewati oleh sinyal bisa mengatasi dispersi pada jarak hingga 500 km.. Kata kunci : Dispersion Compensating Fiber, Fiber Bragg Grating, Dense Wavelength Division Multiplexing, Sistem Komunikasi Optik Abstract Optical communication systems have the advantage of small transmission losses, wide bandwidth, not affected by electromagnetic waves, and data security. So that with its advantages, research continues to be carried out to improve the performance of fiber optic communication systems. There is a major problem in trying to get the advantages it has, namely dispersion along the optical fiber.There are several options for reducing dispersion problems along optical fiber fibers. In this study, the choice was in Dispersion Compensating Fiber (DCF) and Fiber Bragg Gratting (FBG). DCF is an optical fiber that has a negative dispersion value, so it can restore pulse widening that occurs. FBG is a device containing a different refractive index grid, aiming to return a bit period value, such as before dispersion occurs. Both FBG and DCF have their own characters. So that it will be investigated which devices are suitable for dealing with dispersions at distances of up to 500 km on DWDM networks. DCF has three schemes, post-dispersion, pre-dispersion and mix dispersion, while the FBG will be placed once at the rise time budget boundary position. This research is expected to get the best choice to overcome the dispersion that occurs along a distance of 500 km. The author hypothesizes that DCF has an advantage over DCF, because the decrease in dispersion is carried out gradually through the length of the DCF cable. However, it is not impossible that the FBG can be better because the lattice passed by the signal can overcome dispersion at distances of up to 500 km. Keywords: Dispersion Compensating Fiber, Bragg Grating Fiber, Dense Wavelength Division Multiplexing, Optical Communication System
Manajemen Interferensi Pada Komunikasi Device-to-device Menggunakan Algoritma Two-phase Auction-based Fair And Interference Allocation I Gede Aditya Pratama; Arfianto Fahmi; Vinsensius Sigit
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Komunikasi Device-to-Device (D2D) telah diusulkan di Long Term Evolution (LTE) sebagai solusi penting untuk meningkatkan throughput jaringan dan mengurangi beban lalu lintas di core network. Namun, transmisi sinyal pengguna seluler dapat menyebabkan interferensi pada komunikasi D2D ketika komunikasi D2D menggunakan resource yang sama dengan pengguna seluler. Tugas Akhir ini melakukan manajemen interferensi dengan cara meminimalkan interferensi yang disebabkan oleh sinyal seluler kepada D2D receiver menggunakan algoritma Two-Phase Auction-based Fair and Interference Resource Allocation (TAFIRA). Algoritma TAFIRA digunakan untuk meminimalkan interferensi, baik pada evolved Node B (eNB) dan pada penerima pasangan komunikasi D2D sambil tetap mempertahankan target sistem sum rate dan memastikan alokasi sumber daya yang adil di antara pasangan komunikasi D2D. Penggunaan teknologi manajemen interferensi saat ini menggunakan parameter yang berbeda, sehingga tidak diketahui teknologi apa yang lebih baik untuk memanajemen interferensi. Oleh karena itu, Tugas Akhir ini membandingkan algoritma TAFIRA dengan algoritma lain yaitu algoritma Minimum Interference dan algoritma Random Allocation untuk membahas masalah interferensi dengan parameter yang sama. Tugas Akhir ini mengkonfirmasi bahwa algoritma TAFIRA dapat memperoleh target system sum rate yang lebih baik dibandingkan dengan kedua algoritma lainnya. Algoritma TAFIRA menimbulkan sedikit peningkatan interferensi pada eNB dan D2D receiver. Tugas Akhir ini juga mengkonfirmasi bahwa, algoritma TAFIRA adalah solusi yang efisien untuk memanajemen interferensi. Kata Kunci : Device-to-Device (D2D), Data rate, Alokasi sumber daya , TAFIRA, Minimum Interference, Random Allocation Abstract Device-to-Device(D2D )communication has been proposed in Long Term Evolution (LTE) as an important solution to increase network throughput and reduce traffic load on the core network. D2D is a promising technique to provide wireless peer-to-peer services and increase spectrum utilization in LTE-Advanced networks. However, cellular signal transmission can cause interference on D2D communication when D2D communication uses the same resource as cellular user. This thesis wants to manage interference by minimizing interference on D2D receiver caused by cellular user signal using Two-Phase Auction-based Fair and Interference Resource Allocation (TAFIRA) algorithm. The TAFIRA algorithm can be used to minimize interference, both on evolved Node B (eNB) and on D2D communication pair receiver while still maintaining a system sum rate and ensuring fair resource allocation between D2D communication pairs. The use of interference management technology currently uses different parameters, so it is not known which technology is better for managing interference. Therefore, This thesis compare the TAFIRA algorithm with other algorithms, namely the Minimum Interference algorithm and the Random Allocation algorithm to discuss the same research problem. This thesis confirms that the TAFIRA algorithm can obtain a better system sum rate target than the other two algorithms. TAFIRA algorithm raises a slight increase in interference on eNB and D2D receiver. This thesis also confirms that, TAFIRA algorithm is an efficient solution for managing interference. Keywords: Device-to-Device (D2D), Data rate, Resource allocation, TAFIRA, Minimum Interference, Random Allocation
Analisis Pengaruh Alokasi Daya Pada Power Domain Non-orthogonal Multiple Access Untuk Arah Downlink Aprian Firlanda Imani; Arfianto Fahmi; Nachwan Mufti Adriansyah
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu target sistem komunikasi selular fifth generation (5G) adalah peningkatan kapasitas yang lebih besar dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) adalah salah satu skema multiple access yang menjanjikan peningkatan spectral efficiency yang lebih besar dibandingkan dengan skema Orthogonal Multiple Access (OMA). Ada dua kategori NOMA, yaitu PowerDomain (PD) dan Code-Domain (CD). Fokus pembahasan pada skema NOMA dengan jenis Power-Domain yang diaplikasikan pada arah downlink. Superposition Coding (SC) digunakan pada sisi pengirim untuk menggabungkan sinyal multi-user dengan alokasi daya yang berbeda, alokasi daya bergantung pada kondisi kanal dari user tersebut. Succesesive Interference Cancellation (SIC) digunakan pada sisi penerima untuk menghilangkan interferensi antar multi-user. Jumlah user yang menggunakan resource block yang sama adalah dua dengan kondisi user 1 tidak menerapkan SIC dan user 2 menerapkan SIC. Hasil simulasi menunjukan nilai BER dibawah 10-6 ketika alokasi daya user 1 memiliki nilai 0,65 sampai 0,9 dan alokasi daya user 2 memiliki nilai 0,1 sampai 0,45. Rentang kebutuhan SNR antar user agar BER dibawah 10-6 cukup jauh kecuali ketika alokasi daya 0,8:0,2. Nilai SNR dan kapasitas kanal pada user 1 lebih rendah dibandingkan SNR user 2 karena pada user 1 sinyal dari user 2 dianggap sebagai noise. Kapasitas kanal total PD-NOMA lebih besar dibandingkan dengan OFDMA pada saat alokasi daya user berbeda signifikan. Kata Kunci: Non Orthogonal Multiple Access, Power Domain, Fix Power Allocation, Succesesive Interference Cancellation. Abstract One of the requirement for mobile communications systems fifth generation (5G) is enhancement capacity from previous generations. Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) is one of multiple access schemes that promises greater spectral efficiency improvement compared to the Orthogonal Multiple Access (OMA) scheme. There are two categories of NOMA that is Power-Domain (PD) and Code-Domain (CD). The focus of the study is on the NOMA scheme with Power-Domain type applied to the downlink. At the sender, this scheme uses Superposition Coding (SC) to combine multi-user signals with different power allocations, it’s depending on the channel conditions of the user. The receiver used Succesesive Interference Cancellation (SIC) to eliminate inter-multi-user interference. The number of users using the same resource block is two. With the condition that user 1 does not implement SIC and user 2 applies SIC. Simulation results show BER values below 10-6 when user 1 power allocation has a value of 0.65 to 0.9 and user 2 power allocation has a value of 0.45 to 0.1. The range of SNR requirements between users so that the BER is below 10-6 is quite far except when the power allocation is 0.8: 0.2. the value of SNR and channel capacity in user 1 are lower than user SNR 2 because in user 1 the signal from user 2 is considered as noise. The total PD-NOMA channel capacity is greater than OFDMA when the user power allocation is significantly different. Keywords: Non Orthogonal Multiple Access, Power Domain, Fix Power Allocation, Succesesive Interference Cancellation.
Desain Dan Implementasi Radio Am Untuk Komunikasi Di Dalam Laut Krisna Rangga Pradhana; Nyoman Bogi Aditya Karna; Arfianto Fahmi
eProceedings of Engineering Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunikasi radio AM adalah komunikasi radio yang menggunakan modulasi AM. Modulasi yang perancangan dan pembuatanya mudah tetapi ketahanan terhadap noise-nya rendah. Dan dengan semakin berkembangnya teknologi, pengiriman data tidak hanya dilakukan di udara saja tapi juga didalam air laut.Pada pengiriman data di air laut, masih sering dijumpai menggunakan SONAR(Sound,Navigation and Ranging) yang memancarkan gelombang suara yang nanti akan dipantulkan kembali jika mendeteksi benda tertentu. Pada penelitian ini penulis membuat alat yang berupa transmitter dan receiver radio AM untuk komunikasi radio AM. Dengan rangkaian transmitter dan receiver yang dibuat dilakukan pengukuran redaman di udara dengan mengukur nilai Vpp, persentase redaman dan nilai FSL yang dilakukan pada jarak transmitter dan receiver sejauh 0,1 m sampai dengan 12 m. Dari hasil pengujian dan pengukuran diketahui nilai persentase redaman dari alat yang telah dibuat dengan menggunakan frekuensi carrier 490KHz didapatkan persentase redaman dari jarak 0,1 m sampai 12 m sebesar (-416%) - 48%. Lalu dengan menggunakan frekuensi carrier 544KHz pada jarak yang sama diperoleh nilai redaman sebesar (-31%) – 77%. Sedangkan untuk redaman propagasi menggunakan frekuensi 490KHz didapatkan redaman dari jarak 0,1 m sampai 12 m sebesar - 4,80 dB – -6,30 dB. Lalu dengan menggunakan frekuensi 544KHz pada jarak yang sama diperoleh nilai redaman sebesar -5,78 dB – -14,52 dB. Disini bisa dikatakan bahwa memang semakin jauh jarak antara transmitter dan receiver maka nilai redaman akan semakin besar. Kata kunci: komunikasi radio AM, modulasi AM, persentase redaman
Eksperimen Frekuensi Menggunakan Implementasi Modulasi Digital Pada Sistem Komunikasi Di Bawah Laut Boy Fernando; Nyoman Bogi Aditya Karna; Arfianto Fahmi
eProceedings of Engineering Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada Penelitian ini dibuat alat sederhana untuk komunikasi di bawah laut dengan spesifikasi yang dapat mengatasi faktor hambatan dalam berkomunikasi di bawah laut. Alat ini juga didesain agar dapat mengatasi error pada informasi yang dikirimkan. Langkah yang dilakukan pada penilitian ini adalah dengan membuat suatu transmitter yang berperan sebagai pemancar dan dihubungkan dengan sebuah XR2206 Function Generator sebagai sumber sinyal input, kemudian dibuat sebuah receiver yang berperan sebagai penerima sinyal yang dikirimkan oleh transmitter. Lalu transmitter dan receiver akan diuji dengan beberapa parameter, diantaranya jarak, kedalaman, dan frekuensi (frekuensi resonansi 400 kHz & frekuensi input 100 kHz). Alat ini dibuat berdasarkan implementasi modulasi digital, yaitu Modulasi FSK. Hasil yang diperoleh dari pengujian (pada jarak 10 cm – 50 cm dengan kedalaman 15 cm, 20 cm, 25 cm) ini yaitu dengan hasil frekuensi termodulasi 200 kHz terjadi presentase redaman sebesar 59.23% - 63.84%, 68.44%-71.58%, dan 68.42%-70.98%. Kata kunci: Modulasi FSK, Redaman, Frekuensi, XR2206 Function Generator, Transmitter, Receiver
Simulasi Pengalokasian Sumber Daya Pada Komunikasi Menggunakan Algoritma Heuristik Pada Skema Underlay D2D Communication Claudia Sofiana Tamba; Arfianto Fahmi; Vinsensius Sigit Widhi Prabowo
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah pengguna seluler secara signifikan menimbulkan peningkatan kepadatan trafik komunikasi dalam jaringan seluler, sehingga diperlukan adanya penambahan kapasitas jaringan. Komunikasi D2D merupakan fitur yang mampu melayani komunikasi peer to peer sehingga pasangan D2D dapat berkomunikasi secara langsung tanpa harus melewati Base Transceiver Station (BTS) dengan cara menggunakan kembali sumber daya dari celuller user. Komunikasi D2D menyebabkan interferensi penerapan komunikasi D2D dapat menimbulkan interferensi terhadap komunikasi telepon seluler konvensional. Sehingga untuk mengurangi interferensi yang terjadi saat pengalokasian sumber daya diperlukan resource allocation secara tepat. Pada Tugas Akhir ini akan dilakukan simulasi alokasi sumber daya menggunakan algoritma heuristic dan algoritma greedy, algoritma minimum interference dengan algoritma random allocation sebagai pembandingnya. Algoritma diujikan pada dua skenario yaitu variasi jumlah pasangan D2D dan variasi jarak radius sel. Kemudian nilai sumrate, efisiensi spektral, efisiensi energi dan fairness yang didapat dari hasil simulasi dibandingkan untuk menentukan algoritma yang paling optimal. Algoritma greedy memiliki nilai sumrate, efisiensi spektral, efisiensi energi yang lebih unggul dan performansi algoritma heuristic tidak jauh berbeda dengan algoritma greedy Sementara Algoritma heuristic memberikan solusi untuk membagi resource secara adil kepada pasangan D2D dibuktikan dengan nilai fairness yang lebih baik daripada algoritma yang lainnya dan lebih cocok digunakan ketika terjadi tingkat complexity tinggi.Kata Kunci : resource allocation, device to device, heuristic, greedy, minimum interference, random allocation
Analisa Kinerja Pada Perencanaan TD-LTE ADVANCED Studi Kasus Kota Bandung Purusadi Hastruman; Arfianto Fahmi; Uke Kurniawan Usman
Aviation Electronics, Information Technology, Telecommunications, Electricals, Controls (AVITEC) Vol 2, No 2 (2020): August
Publisher : Institut Teknologi Dirgantara Adisutjipto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28989/avitec.v2i2.670

Abstract

In LTE Advanced technology there are two methods used in the duplexing process, there are frequency division duplex (FDD) wherein this duplexing concept communication is divided based on the frequency and the other is time division duplex (TDD) where communication is divided based on the time. Duplexing using the TDD method has advantages of handling data-based services that the majority have Non-Guarantee Bit Rate (N-GBR) characteristics because most of these services do not require a minimum bit rate to be able to work and this is an advantages because nowadays people like to use data-based services. So in this LTE Advanced network planning using the TDD method,  frequency 2300 MHz for TD-LTE advanced, and parameters that to be the main focus are throughputs, reference signal received power (RSRP), reference signal strength indicator (RSSI), carrier to interference noise ratio (CINR), and block error rate (BLER). And the result of the simulations from TD-LTE Advanced planning are the mean of throughput value is 3,5 Mbps, mean of RSRP value is -110,8 dBm, mean of RSSI value is -72,36 dBm, mean of CINR value is 4,81 dB, and mean of BLER value is 0,07%.
Vegetation classification algorithm using convolutional neural network ResNet50 for vegetation mapping in Bandung district area Rina Pudji Astuti; Ema Rachmawati; Edwar Edwar; Simon Siregar; Indra Lukmana Sardi; Arfianto Fahmi; Yayan Agustian; Agus Cahya Ananda Yoga Putra; Faishal Daffa
JURNAL INFOTEL Vol 14 No 2 (2022): May 2022
Publisher : LPPM INSTITUT TEKNOLOGI TELKOM PURWOKERTO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20895/infotel.v14i2.756

Abstract

Bandung District is one of crop provider for West Java Province. About 31.158,22 ha is used for crop. However, some of them are not maintained well due to lack of vegetation map information. Local authority has tried to map the vegetation in their area by using free license satellite images, and aerial images from Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Despite both images being able to provide large plantation area images, both are unable to classify the vegetation type in those images. Telkom University with Bandung Agriculture Regional Office (Dinas Pertanian Kabupaten Bandung) has conducted joint research to develop algorithm based on 50-layer residual neural network (ResNet50) to classify the vegetation type. The input is of this algorithm is primarily aerial images are captured from different type, height, and position of crops. Seven different ResNet50 configurations have been set and simulated to classify the crop images. The result is the configuration with resized images, employing triangular policy of cyclic learning rate with rate 1.10−7 – 1.10−4 comes out as the best setup with more than 95% accuracy and relatively low loss.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W A.B. Muhammad Abi Hakim Amanullah Achmad Ali Muayyadi Afandi, Mas Aly Afief Dias Pambudi Agus Cahya Ananda Yoga Putra Ahmad Sulaeman Ahmad Tri Hanuranto Aji Maulana Akhmad Hambali Ali Muayadi Ali Muayadi Ali Muayyadi Ali, Erfansyah Alit Dian Saepudin anah Putri Andre Yohanes Antoni Andreana Yunio Prasetya Andri Juli Setiawan Anggun Fitrian Isnawati Anhar Muthaqien Aprian Firlanda Imani Aries Priyadi Ramadhan Bhaskara Narottama Bhaskara Narottama Bobby Juan Pradana Boy Fernando Brian Pamukti Budi Syihabuddin Claudia Sofiana Tamba Dadan Nur Ramadan Dadang Gunawan Dadang Gunawan Denny Darlis Desti Madya Saputri Devin Benz Rizki Dharu Arseno Diah Ayu Lestari, Diah Ayu Doan Perdana Dody Herdianto Rachmat Edwar Elmira Puspa Sari Ema Rachmawati Erwin Priyantono Ezi Rohmat Fairuz Azmi Faishal Daffa Fajar Adityawarman Fajar Adityawarman Ferdi Setyo Ariawan Firli Fauzia Karima Firmansyah Firmansyah Furry Rachmawati Gasi Dhias Gina Ilma Amalia Gina Ramadhanti Ginting, Ishak Hafidh Finandriyanto Hamka Ikhlasul Amal NZ Heroe Wijanto Hurianti Vidyaningtyas I Gede Aditya Pratama I Putu.D Irawan Ilham putra pratama Indra Lukmana Sardi Indrarini Dyah Irawati Jefry Armando Yunas Josia Ezra Kris Sujatmoko Krisna Rangga Pradhana Kurnia Cahya Ade Putra Linda Meylani Luh Putu Ayu Sri Aryaningrum Luthfi Aditama Mega Nugraha Meutia Qoonita Noviyani Mochammad Arfin Mohamad Yasin Ramadhan Muhamad Asvial Muhamad Fithryan Muhammad Irfan Maulana Muhammad Raudhi Azmi Muhammad Salman Al Faris Muhammad Yaser Nachwan Mufti Adriansyah Nur Andini Nur Fathimah Nur Indah Nur'Adli, Luthfi Nuriadnyana, Rana Nyoman Bogi Aditya Karna Obed Rhesa Ludwiniananda Obed Rhesa Ludwiniananda Patricius Evander Christy Patricius Evander Christy Pradika Erta Ardanta Priatama Yadita Purusadi Hastruman Raden Arjani Rosalina Rana Nuriadnyana Rana Nuriadnyana Ray Putra Tarigan Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reni Dyah Wahyuningrum Revi Dianawati Reyza Pratama Rifki Fauzi Nurzaman Rina Pudji Astuti Rizal Haerul Akbar Rizky Wahyudi Robie Zulfalaily AK Rudi Sianipar Saleh Dwi Mardiyanto Salma Pratiwi Simon Siregar Sitha Vrindhavani Devi Putri Suci Monica Sari Sugondo Hadiyoso Suryananda Padmadinata Syaiful Rahmat Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Usman Vinsensius Sigit Vinsensius Sigit Vinsensius Sigit Widhi Prabowo Wildan Maulani Wulan Dwi Anggraini Yayan Agustian Yoga Prahara Novandanu Yosia Raya Peranginangin Yudha Purwanto Yudhi Suryanto Yuyu Wahyu