Claim Missing Document
Check
Articles

Perancangan Dan Analisis Coverage Area Jaringan Wifi Pada Gerbong Kereta Api Penumpang Eksekutif Jakarta-bandung (design And Analisys Of Coverage Area Wifi Network On Carriage Executive Railway Passenger Depart Jakarta-bandung) Luh Putu Ayu Sri Aryaningrum; Rina Pudji Astuti; Arfianto Fahmi
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan layanan internet pada kereta eksekutif sulit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan belum adanya jaringan yang dapat mendukung layanan internet pada transportasi berkecepatan tinggi seperti kereta api. Pada Penelitian sebelumnya telah dilakukan perencanaan Coverage Dan Capacity Jaringan Long Term Evolution (LTE) sepanjang jalur kereta api Jakarta-Bandung. Dengan teknologi LTE yang mendukung akses data dengan kecepatan tinggi, makro sel sepanjang jalur kereta dapat mendukung koneksi internet pada kereta penumpang dengan performansi yang baik. Pada Kereta Penumpang diinstalasi perangkat Outdoor Antenna WiFi, Modem USB 3G/4G dan Wireless Router pada tiap gerbong yang terkoneksi dengan core network melaui eNodeB. Perencanaan capacity planning dan coverage planning dilakukan dengan perhitungan bandwith per user, offered bit quantity dan link budget. Model propagasi yang digunakan adalah COST 231 Multiwall dengan simulasi menggunakan software RPS (Radiowave Propagation Simulator). Dari hasil perhitungan didapatkan 2 hasil jumlah access point. Pada simulasi menggunakan 1 access point didapatkan hasil terbaik dengan 95% daerah tercover dengan received signal level diatas -72 dBm dan pada simulasi menggunakan 2 access point hasil menunjukkan area tercover dengan 98% received signal diatas -72 dBm. Pada simulasi menggunakan 2 access point diperlukan adanya alokasi channel untuk mengurangi interferensi pada gerbong kereta. Kata Kunci : Coverage area WiFi, COST 231 Multiwall, Radiowave Propagation Simulator, Received Signal Level.
Analisis Perencanaan Jaringan Lte-a Dengan Menggunakan Coordinated Multipoint Di Kota Bandung Alit Dian Saepudin; Arfianto Fahmi; Hurianti Vidyaningtyas
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem LTE mampu memberikan maximum data rate 100 Mbps untuk downlink dan 50 Mbps untuk uplink. Namun LTE masih memiliki masalah, yaitu user yang berada di cell edge sulit untuk mendapatkan cakupan karena letaknya yang sudah jauh dari eNodeB. Kondisi ini menyebabkan penurunan SINR dan throughput pada user di cell edge. Pada tugas akhir ini dilakukan perencanaan LTE-Advanced di wilayah kota Bandung, khususnya Kelurahan Sumur Bandung, Bandung Wetan, Batununggal, Lengkong, dan Regol. Perencanaan dilakukan dengan frekuensi 1800 Mhz dan dengan metode Coordinated Multipoint (CoMP). Metode ini diharapkan mengatasi permasalahan user yang berada di cell edge dan menaikkan throughput di cell edge. Parameter yang dianalisis pada tugas akhir ini adalah SINR, User Connected dan throughput. Dari perhitungan site pada wilayah uji didapatkan site berjumlah 40. Pada scenario 1 didapatkan rata rata SINR sebesar 12,05 dB, User Connected sebanyak 90%, User Throughput 40,66 Mbps. Untuk Skenario 2 didapatkan SINR sebesar 25,02 dB, User Connected sebesar 99,9%, dan User Throughput 72,6 Mbps. Untuk scenario 3, SINR yang didapatkan sebesar 20,89 dB, User Connected sebesar 99,9 %, dan user throughput 129,072 Mbps. Kata Kunci: LTE-Advanced, Coverage Planning, Capacity Planning, CoMP Abstract LTE system is capable of providing maximum data rate of 100 Mbps for downlink and 50 Mbps for uplink. But LTE still has a problem, when the user is in cell edge. Users who are in the cell edge is difficult to get coverage because of its location that is far from eNodeB. This condition causes a decrease in SINR and throughput on the user in the cell edge. In this final project carried out LTE-Advanced planning in the area of Bandung, especially Kelurahan Sumur Bandung, Bandung Wetan, Batununggal, Lengkong, and Regol. Planning is done with frequency 1800 Mhz and with Coordinated Multipoint (CoMP) method. This method is expected to solve user issues in cell edge and increase throughput in cell edge. Parameters analyzed in this final project are SINR, User Connected and throughput. From the site calculation on the test teritory it is found site amounted to 40. In scenario 1 the average SINR is 12,02 dB, User Connected 90%, User Throughput 40,66 Mbps. For Scenario 2 obtained SINR of 25,02 dB, User Connected of 99,9%3, and User Throughput 72.6 Mbps. For scenario 3, SINR obtained for 20,89% dB, User Connected of 99,9%, and user throughput 129,072 Mbps. Keywords: LTE-Advanced, Coverage Planning, Capacity Planning, CoMP
Analisis Reduksi Papr Dengan Teknik Clipping Dan Pulse Shaping Menggunakan Filter Rrc Pada Sc-fdma Jefry Armando Yunas; Arfianto Fahmi; Nur Andini
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan komunikasi saat ini membutuhkan datarate serta efisiensi bandwidth yang tinggi. Orthogonal Frequency Division Multiplexing Access (OFDMA) merupakan suatu teknik multicarrier yang memiliki efisiensi yang tinggi dalam pemakaian frekuensi, kuat dalam menghadapi frequency selective fading, dan tidak sensitif terhadap sinyal delay sehingga telah banyak diterapkan pada teknologi komunikasi broadband, seperti Mobile Wimax. Namun demikian, OFDMA juga mempunyai kelemahan yakni memiliki nilai Peak to Average Power Ratio (PAPR) yang tinggi. Tingginya nilai PAPR menyebabkan power amplifier membutuhkan daerah linier yang lebar sehingga akan mengurangi efisiensi penguat daya dalam sistem. The low peak-to average power ratio (PAPR) sistem telah memotivasi LTE untuk mengadopsi single carrier frequency division multiple access (SC-FDMA) sebagai uplink dalam skema multiple accessnya untuk mendapatkan nilai PAPR yang rendah. Pada penelitian sebelumnya, Renu Rani dkk melakukan reduksi PAPR dengan kombinasi clipping dan pulse shaping dan reduksi PAPR yang didapatkan sebesar 4,9dB. Teknik yang diajukan pada tugas akhir ini adalah kombinasi dari clipping dan pulse shapping menggunakan filter Root Raised Cosine (RRC) dengan memperhatikan jumlah subcarrier dan roll of factor yang digunakan. Prinsip utama teknik clipping adalah pemotongan sinyal sebelum sinyal memasuki amplifier dengan cara membatasi amplitudo sinyal-sinyal masukan clipping dengan suatu nilai (threshold) yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan pulse shaping filter merupakan proses pengkonvolusian dengan koefisien filter sesuai dengan roll of factor filter yang digunakan. Reduksi PAPR yang didapatkan menggunakan subcarrier 1024 dan rolloff 0,6 sebesar 3,4dB. Sistem SC- FDMA dengan teknik clipping dan pulse shaping memiliki performansi PAPR dengan perbaikan PAPR terbaik adalah dengan menggunakan jumlah subcarrier 256 dan rolloff 0,1, hal ini terlihat dari simulasi yang diujikan menggunakan submapping IFDMA dan RRC, dengan perbaikan sebesar 0,142dB. Namun EbNo untuk mencapai BER 10-4 meningkat sebesar 2,8 dB. Kata kunci : LTE, SC-FDMA, OFDMA, RRC, clipping, pulse shaping filter, subcarrier mapping
Perencanaan Fronthaul Microwave Untuk Radio Komunikasi Pada Jaringan 4g Aries Priyadi Ramadhan; Arfianto Fahmi; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kota bandung sudah terdapat jaringan akses LTE, akan tetapi masih ada beberapa wilayah yang masih belum tercakupi untuk jaringan LTE, sehingga perlu adanya perancangan jaringan telekomunikasi yang tepat agar mendapatkan layanan komunikasi yang baik. Pada saat ini PT.Tri Indonesia sudah menyediakan layanan jaringan LTE untunk wilayah kota bandung, solusi yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menambah site existing yang kemudian dikuatkan kembali dengan menggunakan repeater untuk melayani layanan LTE di wilayah kota bandung. Akan tetapi solusi tersebut masih belum sepenuhnya mencakupi seluruh kota bandung. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis perencanaan fronthaul microwave menggunakan komunikasi microwave. Fronthaul microwave merupakan transmisi antara BBU yang berada pada eNodeB site existing menuju RRH yang berada pada new site. Untuk menganalisa perancangan akses data yang mencakupi area perencanaan, dilakukan perancangan microwave link, coverage planning dan capacity planning jaringan LTE. Selanjutnya disimulasikan menggunakan software pathloss 5.0 untuk microwave link dan atoll untuk coverage planning. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, dengan frekuensi kerja sebesar 70 Ghz dan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk gain antenna sebesar 40,6; 43,0 dan 50,0 dBi dan daya terima minimum sebesar -75 dBm. Mendapatkan hasil seluruh link fronthaul microwave mencapai avaibility sebesar > 99,99 % dengan nilai fade margin sebesar 28 dB sampai 45 dB , hal ini disebabkan oleh nilai daya terima tiap site lebih besar dari nilai daya terima minimum perangkat. Kemudian dari hasil perencanaan coverage pada salah satu wilayah perencanaan, menghasilkan nilai rata-rata RSRP sebesar - 82.48 dBm dan rata-rata SINR sebesar 6.07 dB dengan demikian simulasi perencanaan coverage parameter RSRP dan SINR di katakan berhasil karna termasuk dalam kondisi cukup bagus. Kata kunci : RRH, BBU, Fronthaul, Link Microwave, nilai daya terima,RSRP, SINR.
Analisis Performansi Teknik Orthogonal Pilot Sequences (ops) Dan Simple Amplitude Predistortion (sap) Untuk Mereduksi Peak To Average Power Ratio (papr) Pada Ofdm Rifki Fauzi Nurzaman; Arfianto Fahmi; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

OFDM merupakan teknik modulasi multicarrier yang memiliki kemampuan dalam melakukan transmisi dengan kecepatan yang tinggi serta efisien dalam penggunaan spektrum frekuensi atau bandwidth. Prinsip kerja OFDM adalah membagi data kecepatan tinggi ke dalam beberapa data berkecepatan rendah dengan cara dimodulasi dengan subcarrier orthogonal. Walaupun begitu, salah satu kelemahan besar sistem OFDM adalah tingginya nilai Peak to Average Power Ratio (PAPR). Pada teknik OPS-SAP, reduksi PAPR dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap OPS, ditempatkan setelah proses Inverse Fast Fourier Transform (IFFT) dengan data ditambahkan pilot simbol pada domain waktu yang orthogonal. Pada tahap kedua yaitu SAP dilakukan setelah tahap OPS yang dimana jika nilai PAPR masih tinggi akan diproses dengan metric calculation dan samples update untuk meminimalkan PAPR. Teknik di atas dipilih karena teknik OPS memiliki keunggulan dalam mengurangi kompleksifitas sistem serta memungkinkannya Blind Detection pada receiver dan pada teknik SAP memiliki keunggulan dalam mereduksi PAPR tanpa mangirim Side Information ke penerima. Hasil dari simulasi pada tugas akhir ini adalah teknik yang mempunyai nilai perbaikan performansi PAPR sebesar 1,4 dB pada Teknik OPS M=8 pada probabilitas 2,564x10-5, 1 dB pada Teknik SAP pada probabilitas 1,2x10-2, dan 2,4 dB pada kombinasi pada probabilitas 4x10-4 OPS-SAP pada QAM 128 Subcarrier dibandingkan dengan OFDM konvensional. Kata Kunci : OFDM, PAPR, OPS, SAP OFDM is a multicarrier modulation technique that has the ability to transmit at high speeds and is efficient in the use of frequency spectrum or bandwidth. The working principle of OFDM is to divide high-speed data into several low-speed data by modulation with orthogonal subcarriers. However, one of the major weaknesses of the OFDM sistem is the high value of Peak to Average Power Ratio (PAPR). In the OPS-SAP technique, PAPR reduction is carried out in two stages. The first stage is the OPS stage, placed after the Inverse Fast Fourier Transform (IFFT) process with data added by pilot simbols on the orthogonal time domain. In the second stage, SAP is carried out after the OPS stage, where if the PAPR value is still high, it will be processed with metric calculation and sample updates to minimize PAPR. The above technique was chosen because the OPS technique has the advantage of reducing sistem complexity and allowing Blind Detection in the receiver and in SAP techniques it has the advantage of reducing PAPR without sending Side Information to the receiver. The results of the simulation in this final project is a technique that has a value of PAPR performance improvement of 1.4 dB in OPS M = 8 at probability 2,564x10-5, 1 dB in SAP at probability 1,2x10-2, and 2.4 dB in the OPS-SAP combination at probability 4x10-4 on QAM 128 Subcarrier compared to OFDM conventional. Keywords: OFDM, PAPR, OPS, SAP
Analisis Performansi Format Modulasi Mach-zehnder Pada Next Generation Passive Optical Network 2 (ng-pon2) Kurnia Cahya Ade Putra; Arfianto Fahmi; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan sistem komunikasi optik telah mencapai kemampuan untuk mengirimkan data dengan bitrate 40 Gbps. Teknologi ini disebut sebagai teknologi NG-PON2, teknologi ini juga mendukung penggunaan panjang kabel mencapai 40 km dan rasio splitter hingga 1:256. Pada teknologi NG-PON2 menggunakan 4 OLT dengan masing-masing memiliki spesifikasi 10 Gbit/s downstream dan 2,5 Gbit/s upstream serta menggunakan teknik multiplexing TWDM. Line coding yang digunakan diantarnya NRZ, RZ, RZ-DPSK dan RZDQPSK dengan rentang daya kirim 7-11 dBm. Panjang link yang digunakan adalah 10, 20, 30 dan 40 km dengan total rasio splitter 1:16. Berdasarkan hasil uji analisa yang dilakukan berdasarkan acuan ITU-T, didapatkan hasil line coding RZ-DQPSK merupakan line coding yang terbaik untuk teknologi ini. Dengan jarak 10, 20, 30, dan 40 km berturut-turut menghasilkan LPB yaitu -16,353 dBm, -19,854 dBm, -23,354 dBm dan -26,853 dBm. Nilai SNR yaitu 40,251093 dB, 36,099789 dB, 31,616630 dB dan 26,448934 dB. Nilai Q-Factor yaitu 51,4665, 31,9124, 19,0459 dan 10,5055. Serta nilai BER yaitu 0, 8,363× 𝟏𝟎−𝟐𝟐𝟒, 3,39693× 𝟏𝟎−𝟖𝟏 dan 4,05714× 𝟏𝟎−𝟐𝟔 . Kata kunci : line coding, NG-PON2, TWDM, komunikasi serat optik. Abstract The development of optical communication systems has achieved the ability to transmit data with abitrate 40 Gbps. This technology is referred to as NG-PON2 technology, this technology also supports the use of cable lengths of up to 40 km andratios splitter up to 1: 256. The NG-PON2 technology uses 4 OLTs with each having a 10 Gbit / s downstream specification and 2.5 Gbit / s upstream and usingtechniques multiplexing TWDM. The line coding used is delivered by NRZ, RZ, RZ-DPSK and RZ-DQPSK with a power range of 7-11 dBm. Thelengths link used are 10, 20, 30 and 40 km with a totalratio of splitter 1:16. Based on the test results of analysis carried out by reference to ITU-T, the result coding line RZ-DQPSKis line coding the bestfor this technology. With a distance of 10, 20, 30, and 40 km respectively producing LPB which is -16,353 dBm, -19,854 dBm, -23,354 dBm and -26,853 dBm. SNR values are 40.251093 dB, 36,099789 dB, 31,616630 dB and 26,448934 dB. Q-Factor values are 51.4665, 31.9124, 19.0459 and 10.5055. As well as the BER value is 0, 8,363× 𝟏𝟎−𝟐𝟐𝟒, 3,39693× 𝟏𝟎−𝟖𝟏 dan 4,05714× 𝟏𝟎−𝟐𝟔 . Kata kunci : line coding, NG-PON2, TWDM, optical fiber communicatios.
Analisis Reduksi Papr Pada Sistem Vlc Ofdm Dengan Metode Sslm Rana Nuriadnyana; Arfianto Fahmi; Budi Syihabuddin
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada masa sekarang ini, karena banyaknya komunikasi wireless maka penggunaan frekuensi didunia ini sekamin terbatas. VLC bisa menjadi solusi dalam komuunikasi nirkabel dikarenakan semakin terbatasnya frekuensi yang tersedia di dunia ini dan juga beberapa keuntungan yang dimiliki oleh VLC. penggunaan OFDM bisa meningkatkan kecepatan data pada sistem VLC ini. OFDM memiliki kelemahan, salah satunya adalah Peak to Power Average (PAPR) yang tinggi. Salah satu metode efektif yang telah banyak digunakan untuk mereduksi nilai PAPR adalah Conventional Selected Mapping (CSLM). Metode CSLM memanfaatkan sensitifitas PAPR terhadap rotasi fasa dengan mengkalikan sinyal yang akan masuk ke IFFT terhadap rotasi fasa yang berbeda lalu memilih sinyal dengan nilai PAPR yang terendah. Namun, untuk mendeteksi sinyal yang akan dipilih, metode CSLM membutuhkan transmisi Side Information (SI). Metode yang dinamakan Symmetric Selected Mapping (SSLM) telah diperkenalkan untuk mereduksi nilai PAPR di sistem DCO-OFDM tanpa mengorbankan efisiensi bandwith yang disebabkan oleh transmisi SI. Teknik pada SSLM mengkalikan sinyal yang akan dikirim dengan magnitude tambahan dan rotasi fasa yang berbeda. Pada jurnal ini mendesain OFDM pada VLC lalu menganalisis hasil reduksi nilai PAPR dan BER dengan metode SSLM. Dari hasil simulasi didapatkan nilai PAPR menggunakan CSLM dan SSLM dapat mereduksi PAPR sebesar 2,8 dB. Kata kunci : VLC, OFDM, DCO-OFDM, PAPR, SSLM Abstract At present, due to the amount of wireless communication, the frequency usage in this world is limited. VLC can be an increasingly limited solution in wireless communication available in the world and also some of the benefits supported by VLC. the use of OFDM can increase the speed of data on this VLC system. OFDM has weaknesses, one of which is high Peak to Power Average (PAPR). One effective method that has been widely used to reduce the value of PAPR is Conventional Selected Mapping (CSLM). The CSLM method uses PAPR sensitivity to phase rotation by multiplying the signal that will enter IFFT against different phase rotations and then selects the signal with the lowest PAPR value. However, to replace the signal to be selected, the CSLM method requires the transmission of Side Information (SI). The method called Symmetric Selected Mapping (SSLM) has given approval to reduce PAPR values in DCO-OFDM systems without increasing the efficiency of the tape produced by SI transmission. The technique in the SSLM multiplies the signals that will be sent with additional magnitudes and different phase rotations. In this journal designing OFDM on VLC then analyzing the results of the PAPR value reduction and BER using the SSLM method. From the simulation results obtained the PAPR value using CSLM and SSLM can reduce PAPR by 2,8 dB. Keywords: VLC, OFDM, DCO-OFDM, PAPR, SSLM
Analisis Pengaruh Full Width Half Maximum Terhadap Jarak Maksimal Antara Source Ke Receiver Pada Sistem Visible Light Communication Devin Benz Rizki; Arfianto Fahmi; Vinsensius Sigit
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi informasi dan komunikasi sedang berkembang dengan cepat. Visible Light Communication (VLC) adalah perkembangan teknologi komunikasi yang multi fungsi untuk memenuhi dua kebutuhan manusia yaitu penerangan dan konektivitas internet. Namun pada kenyataan penerapan teknologi ini perlu memiliki standar parameter untuk tercapainya mobilitas pengguna yang maksimal dan juga konsumsi energi yang minim guna menciptakan teknologi multifungsi dan efesien. Full Width Half Maximum (FWHM) adalah salah satu parameter yang mempengaruhi kinerja sistem VLC khusus nya pada sisi transmitter. Ideal nya FWHM ditentukan berdasarkan kebutuhan, namun guna menjawab tantangan mobilitas user yang terbatas maka FWHM ideal perlu ditentukan. Hasil yang didapatkan dengan performansi keberhasilan sistem adalah BER 10-3 adalah 22,72 meter persegi dari luas keseluruhan ruangan 25 meter persegi pada rentang FWHM 70º - 85º. Kata Kunci : VLC, FWHM, Coverage, Transmitter, BER. Abstract Information and communication technology is developing rapidly. Visible Light Communication (VLC) is a development of multi-functional communication technology to meet two human needs, namely lighting and internet connectivity. But in reality the application of this technology needs to have a standard parameter to achieve maximum user mobility and also efficient energy consumption in order to answer existing problems. Full Width Half Maximum (FWHM) is one of the parameters that affects the performance of the VLC system specifically on the side of transmitter. The ideal of FWHM is determined based on needs, but in order to answer the challenges of limited user mobility, the ideal FWHM needs to be determined. The results obtained with the system's successful performance are BER 10-3 is 22,72 meters from the total area of the room 25 meters in the FWHM range 70º - 85º. Keywords : VLC, FWHM, Coverage, Transmitter, BER.
Analisis Sistem Radio Over Fiber Pada Aplikasi Sel Piko Untuk Lte Raynanda Chandra Wibisono; Arfianto Fahmi; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio over Fiber (RoF) merupakan pengiriman sinyal radio melalui kabel serat optik. Sedangkan piko sel adalah cakupan wilayah terkecil dari sistem seluler sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas jaringan. Selain memiliki bit rate yang tinggi, RoF juga memiliki kapasitas yang besar sehingga membuat jaringan ini baik untuk digunakan pada area padat pengguna. Long Term Evolution (LTE) adalah teknologi seluler yang membutuhkan kecepatan tinggi dan kapasitas yang besar, namun penggunaan kabel tembaga pada LTE menyebabkan terbatasnya laju data maksimum. Maka, untuk meningkatkan laju data maksimum dibutuhkan penggantian kabel tembaga dengan menggunakan serat optik karena memiliki laju data yang lebih tinggi dan kapasitas yang lebih besar dari pada kabel tembaga. Analisis dilakukan pada sisi downstream dengan laju bit sebesar 10Gbps dengan variasi line coding NRZ dan RZ dan teknik modulasi ASK, FSK, dan PSK. Sinyal radio menggunakan LiNb03 Mach Zehnder Modulator (LiNb03-MZM) dengan skema variasi jarak link sistem transmisi 10 sampai 20 Km dengan spasi jarak sejauh 1 Km . Hasil simulasi pada penelitian ini didapatkan performansi terbaik dengan teknik modulasi dan line coding yang berbeda. Didapatkan nilai performansi daya terima terbaik yaitu -7,967 dBm untuk jarak 10 km. QFactor 27,867 untuk jarak 10km dengan menggunakan RZ-PSK dengan BER sebesar 3,33 × 10-169. Kata kunci : Radio over Fiber, LTE, Sel Piko Abstract Radio over Fiber (RoF) is a radio signal delivery through an optical fiber cable. While the Pico Cell is the smallest coverage area of the mobile system so it can be used to increase network capacity. In addition to having a high bit rate, RoF also has a large capacity that makes this network good for use on the user's dense areas. Long Term Evolution (LTE) is a mobile technology that requires high speed and great capacity, but the use of copper wires on LTE leads to a limited maximum data rate. Thus, to increase the maximum data rate the required replacement of copper wires using fiber optic because it has a higher data rate and greater capacity than copper wires. The analysis was conducted on the downstream side at 10Gbps bit rate with NRZ and RZ line coding and ASK, FSK, and PSK modulation varies techniques. The radio signal uses the LiNb03 Mach Zehnder Modulator (LiNb03-MZM) with a variation scheme of transmission distance link System 10 to 20 Km with spacing as far as 1 Km. Simulated results of this study gained the best performance with different modulation techniques and line coding. Obtained the best value of power performance is-7.967 dBm for a distance of 10 km. Q-Factor 27.867 for 10km distance using RZ-PSK with BER of 3.33 × 10-169. Keywords : Radio over Fiber, LTE, Pico Cell
Pengelolaan Sumber Daya Radio Dan Mitigasi Interferensi Pada Komunikasi Device To Device Yang Underlaying Pada Jaringan 5g Priatama Yadita; Arfianto Fahmi; Vinsensius Sigit
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu fitur pada teknologi 5G yang sedang dikembangkan yaitu komunikasi device to device (D2D) merupakan solusi penting yang memungkinkan untuk meningkatkan laju data jaringan secara signifikan dan mengurangi beban lalu lintas di sebuah sistem seluler. Komunikasi D2D merupakan fitur yang mampu melayani komunikasi peer to peer sehingga pasangan D2D dapat berkomunikasi secara langsung tanpa harus melewati Base Transceiver Station (BTS) dengan cara menggunakan kembali sumber daya dari celuller user. Namun komunikasi D2D menyebabkan interferensi yang signifikan pada jaringan seluler ketika pembagian sumber daya radio diantara kedua device tersebut. Sehingga untuk mengurangi interferensi yang terjadi saat pengalokasian sumber daya diperlukan algoritma untuk melakukan alokasi sumber daya secara tepat. Pada penelitian ini akan dilakukan simulasi alokasi sumber daya menggunakan algoritma heuristic, algoritma minimum interference dan algoritma random allocation. Algoritma akan diujikan pada dua skenario yaitu variasi jumlah pasangan D2D dan variasi jarak radius sel. Nilai data rate, fairness dan efisiensi energi yang didapat dari hasil simulasi akan dibandingkan untuk menentukan algoritma yang paling optimal. Hasil perbandingan yang diperoleh adalah algoritma heuristic memiliki nilai data rate, fairness, dan efisiensi energi yang lebih baik ketika variasi jumlah pasangan D2D dibandingkan algoritma minimum interference dan algoritma random allocation sehingga cocok digunakan ketika tingkat complexity tinggi. Kata Kunci : seluler, device to device, random allocation, minimum interference, heuristic Abstract One of the features of 5G technology that is being developed is device to device (D2D) communication is an important solution that allows to significantly increase network data rates and reduce traffic loads on a cellular system. D2D communication is a feature that is able to serve peer to peer communication so that D2D partners can communicate directly without having to pass through the Base Transceiver Station (BTS) by reusing resources from the celuller user. However, D2D communication causes significant interference in cellular networks when sharing radio resources between the two devices. So as to reduce the interference that occurs when allocating resources, an algorithm is needed to make a proper allocation of resources. In this study resource simulation will be simulated using heuristic algorithms, minimum interference algorithms and random allocation algorithms. The algorithm will be tested on two scenarios that is variations in the number of D2D pairs and variations in cell radius distance. The value of data rate, fairness and energy efficiency obtained from the simulation results will be compared to determine the most optimal algorithm. The comparison results obtained are the heuristic algorithm has better data rate, fairness, and energy efficiency when variations in the number of D2D pairs compared to the minimum interference algorithm and random allocation algorithm so that it is suitable for use when the level of complexity is high. Keywords: celluler, device to device, random allocation, minimum interference, heuristic
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W A.B. Muhammad Abi Hakim Amanullah Achmad Ali Muayyadi Afandi, Mas Aly Afief Dias Pambudi Agus Cahya Ananda Yoga Putra Ahmad Sulaeman Ahmad Tri Hanuranto Aji Maulana Akhmad Hambali Ali Muayadi Ali Muayadi Ali Muayyadi Ali, Erfansyah Alit Dian Saepudin anah Putri Andre Yohanes Antoni Andreana Yunio Prasetya Andri Juli Setiawan Anggun Fitrian Isnawati Anhar Muthaqien Aprian Firlanda Imani Aries Priyadi Ramadhan Bhaskara Narottama Bhaskara Narottama Bobby Juan Pradana Boy Fernando Brian Pamukti Budi Syihabuddin Claudia Sofiana Tamba Dadan Nur Ramadan Dadang Gunawan Dadang Gunawan Denny Darlis Desti Madya Saputri Devin Benz Rizki Dharu Arseno Diah Ayu Lestari, Diah Ayu Doan Perdana Dody Herdianto Rachmat Edwar Elmira Puspa Sari Ema Rachmawati Erwin Priyantono Ezi Rohmat Fairuz Azmi Faishal Daffa Fajar Adityawarman Fajar Adityawarman Ferdi Setyo Ariawan Firli Fauzia Karima Firmansyah Firmansyah Furry Rachmawati Gasi Dhias Gina Ilma Amalia Gina Ramadhanti Ginting, Ishak Hafidh Finandriyanto Hamka Ikhlasul Amal NZ Heroe Wijanto Hurianti Vidyaningtyas I Gede Aditya Pratama I Putu.D Irawan Ilham putra pratama Indra Lukmana Sardi Indrarini Dyah Irawati Jefry Armando Yunas Josia Ezra Kris Sujatmoko Krisna Rangga Pradhana Kurnia Cahya Ade Putra Linda Meylani Luh Putu Ayu Sri Aryaningrum Luthfi Aditama Mega Nugraha Meutia Qoonita Noviyani Mochammad Arfin Mohamad Yasin Ramadhan Muhamad Asvial Muhamad Fithryan Muhammad Irfan Maulana Muhammad Raudhi Azmi Muhammad Salman Al Faris Muhammad Yaser Nachwan Mufti Adriansyah Nur Andini Nur Fathimah Nur Indah Nur'Adli, Luthfi Nuriadnyana, Rana Nyoman Bogi Aditya Karna Obed Rhesa Ludwiniananda Obed Rhesa Ludwiniananda Patricius Evander Christy Patricius Evander Christy Pradika Erta Ardanta Priatama Yadita Purusadi Hastruman Raden Arjani Rosalina Rana Nuriadnyana Rana Nuriadnyana Ray Putra Tarigan Raynanda Chandra Wibisono Rendy Munadi Reni Dyah Wahyuningrum Revi Dianawati Reyza Pratama Rifki Fauzi Nurzaman Rina Pudji Astuti Rizal Haerul Akbar Rizky Wahyudi Robie Zulfalaily AK Rudi Sianipar Saleh Dwi Mardiyanto Salma Pratiwi Simon Siregar Sitha Vrindhavani Devi Putri Suci Monica Sari Sugondo Hadiyoso Suryananda Padmadinata Syaiful Rahmat Tjahjo Adiprabowo R Uke Kurniawan Usman Vinsensius Sigit Vinsensius Sigit Vinsensius Sigit Widhi Prabowo Wildan Maulani Wulan Dwi Anggraini Yayan Agustian Yoga Prahara Novandanu Yosia Raya Peranginangin Yudha Purwanto Yudhi Suryanto Yuyu Wahyu