This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Hedi Pudjo Santosa
Unknown Affiliation

Published : 71 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR-FAKTOR DALAM MOTIVASI PARTISIPAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP TINGKAT KETERLIBATAN PADA PROGRAM AQUA DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM Rangga Akbar Pradipta; Hedi Pudjo Santosa; Nurrist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.692 KB)

Abstract

Aqua pada tahun 2014 memulai kegiatan komunikasi pemasarannya melalui beragam media yang terintegrasi, salah satunya adalah Instagram. Dalam media social ini, Aqua berhasil menarik banyak perhatian pengguna Instagram, dan menciptakan interaksi yang berjumlah tidak sedikit. Faktor-faktor motivasi para pengguna Instagram yang menjadi partisipan kegiatan Aqua di Instagram inilah yang menjadi tujuan penelitian ini. Merujuk kepada Self Determination Theory (Ryan & Deci, 2000) tentang motivasi, peneliti ingin menemukan faktor motivasi yang menjadi alasan kuat para partisipan untuk terlibat. Dan bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat keterlibatan yang tercipta antara brand dan konsumen juga menjadi pertanyaan peneliti.Penelitian dilakukan secara eksploratif, dan dianalisis dengan menggunakan Partial Least Square Path Modeling (PLS-PM). Jumlah sample penelitian diambil dari populasi partisipan kegiatan Aqua di Instagram dengan teknik random sampling. Dan pengumpulan data penelitian dilakukan dengan online survey. Kemudian proses analisa data PLS-PM ini dilalui dengan dua tahapan, yaitu evaluasi model pengukuran (outer model) dan evaluasi model structural (inner model).Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa motivasi partisipan dibentuk dengan dua faktor terkuat yaitu knowledge dan introjected regulation. Faktor knowledge menjadi faktor motivasi terbesar dimana dalam penelitian ini partisipan memiliki kecenderungan tinggi untuk berpartisipasi dengan alasan untuk menambah pengetahuan dan mengasah kemampuan mereka dalam berkreasi dengan foto di media social Instagram. Kemudian, pada penelitian ini juga dibuktikan bahwa dampak atas motivasi partisipan tersebut terefleksikan dengan persepsi mereka akan nilai-nilai positif tentang kegiatan Aqua di Instagram ini, begitu juga dengan brand Aqua itu sendiri.
Produksi Program Acara BeritaFeature “Harmoni Islam” di Cakra Semarang TV sebagai Penyunting Gambar Kaisya Ukima Tiara Anugrahani; M Bayu Widagdo; Hedi Pudjo Santosa; I Nyoman Winata; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.184 KB)

Abstract

Program berita feature dianggap paling tepat untuk mengemas acara yang mengangkat topik mengenai informasi-informasi Islam karena salah satu karakteristik berita feature yang bertujuan memberi tahu dan menyampaikan informasi tetapi sekaligus menghibur khalayak.Sehingga, selain menambah pengetahuan, penonton pun terhibur.Ada berbagai macam kemasan berita featureyang dapat kita nikmati di televisi. Program Harmoni Islam sendiri tergolong ke dalam Berita feature Informatif. Feature informatif sendiri sangat digemari oleh penonton, karena karakteristik masyarakat modern yang sangat sibuk dan tidak memiliki cukup waktu tapi ingin tahu lebih banyak tentang segala hal. Produksi program berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan lima posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, sutradara, penulis naskah, juru kamera dan penyunting gambar.Dalam karya ini fokus menjabarkan apa saja tugas penyunting gambar dalam membuat Program Harmoni Islam dari tahap praproduksi, produksi, dan paskaproduksi.Program ini dibuat 29episode yang tak hanya menginformasikan tentang seluk-beluk agama Islam tapi juga mengenalkan tradisi khas Bulan Ramadhan di daerah Semarang dan sekitarnya.Tayang di televisi lokal Cakra Semarang TV sebagai saran publikasi dengan cara mengisi slot programRamadhan yaitu Pelangi Ramadhan. Tayang setiap hari selama Bulan Ramadhan mulai tanggal 28 Juni 2014 sampai 27 Juli 2014 pukul 17.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan dapat mengedukasi dan menambah informasi masyarakat mengenai serba-serba Islam sehingga meningkatkan ibadah di Bulan Ramadhan dan menambah wawasanKata kunci: news features, Islam, informasi, Ramadhan, Televisi, Penyunting gambar.
Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Group dengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di Semarang Cantya Cantya Darmawan Purba Dewanta; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.727 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Groupdengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di SemarangNAMA : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087Kenaikan jumlah perokok wanita yang termasuk di dalamnya adalah mahasiswi semakinmeningkat dari tahun ke tahun, hal ini terjadi karena beberapa factor, salah satunya adalahindustry rokok mulai membidik wanita sebagai sasaran pasarnya, selain itu mahasiswi lebihsering untuk bersama sama peer groupnya sebagai kelompoknya daripada menghabiskanwaktunya dirumah. Hal ini tentu saja akan mendorong mahasiswi untuk menganggap bahwamerokok merupakan hal yang biasa dilakukan, terlebih lagi teman-teman sebayanya jugaperokok.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokokdikalangan mahasiswi di Semarang. Peneliti mencoba mewawancarai mahasiswi di Semarangsebanyak 40 orang untuk mengisi kuesioner penelitian untuk mengetahui hubungan antaraintensitas terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan mahasiswi perokok dimana dia memutuskan untuk terus merokok dan jugapengambilan keputusan merokok mahasiswi non-perokok dimana mereka memutuskan memulaimerokok atau tidak.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi non-perokok di Semarang. Dengan Y1 sebesar 0.000 dan nilai koefisienkorelasi Kendall‟s W adalah 0,906 maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangatsignifikan. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitaspeer group, maka semakin mendorong mahasiswi non-perokok untuk memulai merokok.Dan juga terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokokdi Semarang. Dengan Y2 sebesar 0.000 dan nilai koefisien korelasi Kendall‟s W adalah 0,776maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangat signifikan. Dimana semakin tinggiterpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitas peer group, maka semakinmendorong mahasiswi perokok untuk terus merokok.Key words : Terpaan iklan, Peer group, Pengambilan keputusan, MerokokABSTRACTTITLE : Corelation Between Cigarette Advertising Exposure and Peer Group Level OfConformity With The Decision Of Smoking Among Female Smokers CollegeStudent In Semarang.NAME : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087The number of women smokers were increasing from year to year, including the female college student,this happens due to several factors, one of that several factors is the cigarette industry started targetingwomen as a target market, furthermore most of female college students more frequently spend their timewith the same friend as a peer group rather than spend their time at home. It absolutely will encouragefemale college students to consider that smoking is a common thing to do, even more their peers are alsoa smoker.This research‟s goal is to determine how was the relationship between the intensity of cigaretteadvertising exposure and peer group level of conformity, with the decision of smoking, among the femalestudents in Semarang. Researcher tried to interview 40 female college students at Semarang, and askedthem to fill out a research questionnaire to determine how was the relationship between the intensity ofcigarette advertising exposure and peer group level of conformity with the decision of smoking, wherethey decided to keep smoking and also a non-smoker college student decided to start smoking or not.The results of this research shows that there is a positive relationship between cigarette advertisingexposure and peer group level of conformity with the decision of smoking among non-smokers collegestudent in Semarang. With Y1 of 0.000 and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.906then the relationship of the three tested are positive and highly significant. Where the higher cigaretteadvertising exposure and the higher peer group level of conformity, so it pushes a non-smokers collegestudents to start smoking.And also there is a positive relationship between cigarette advertising exposure and peer group level ofconformity with the decision of smoking among smokers college student in Semarang. With Y2 of 0.000and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.776 then the relationship of the three testedare positive and highly significant. Where the higher cigarette advertising exposure and the higher peergroup level of conformity, so it pushes a smoker college students to keep smoking continously.Key words: Exposure of advertising, Peer group, Decide, SmokingBAB IPENDAHULUANLatar BelakangMerokok sudah menjadi kebiasaan di masyarakat yang dianggap tidak berbahaya.Dewasa ini merokok merupakan hal biasa yang dilakukan oleh masyarakat. Tidak sulit bagi kitauntuk menemukan seseorang yang merokok, baik di dalam maupun diluar rumah.Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baikmenggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe dalam Fatimah N, 2010: 1). Perilakuini bisa diamati melalui aktifitas subyek berdasarkan pengakuan mereka mengenai volume,frekuensi, tempat, waktu, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Merokok sudahmenjadi kebiasaan tersendiri dalam masyarakat. Kegiatan ini bahkan telah menjadi suatukebutuhan bagi para pencandunya.Hal tersebut merupakan fenomena tersendiri karena setiap orang tidak dapat memungkiridampak negatif rokok. Tetapi dari tahun ke tahun jumlah perokok semakin meningkat, tingkatproduksi dan pemakaian rokok di dalam negeri terus meningkat (Danto,2010,http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok.Kian.Tak.Terbendung).Tabel 1.1Kenaikan Pasar Rokok NasionalJenis Rokok Kenaikan Di Tahun 2013Sigaret Kretek Tangan naik 4% menjadi 85 miliar batangSigaret Kretek Mesin Filter naik 2% menjadi 87 miliar batangSigaret Putih Mesin naik 5% menjadi 22 miliar batangSumber:anonim,2013,http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Penjualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotukKenaikan penjualan rokok tentu saja diikuti juga oleh naiknya jumlah perokok.Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2008, Indonesia menduduki posisiketiga di dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 jutapenduduk Indonesia. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Secarasosiologis bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggapsebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan.Kenaikan jumlah perokok aktif paling tinggi di kalangan perempuan remaja dan dewasa,lima kali lipat lebih dari 0,3% (2005) menjadi 1,6% (2010). Sedangkan pada laki-laki remajakenaikannya lebih dari dua kali lipat yaitu 14% pada 2005 menjadi 37% pada 2010. Dari dataWHO, rokok telah mengakibatkan kematian lebih dari 400 ribu orang per tahun di Indonesiasedangkan di dunia jumlah kematian adalah 5,4 juta atau satu kematian tiap 6,5 detik. Lebih dari80% perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana Riskesdas (RisetKesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok adalah sebesar 34,7% (Antara,2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesia-naik-lima-kalilipat/).Peneliti juga menanyakan secara acak kepada 20 mahasiswi di semarang. Penelitimenanyakan “apakah anda merokok atau tidak?”. Hasil yang didapatkan adalah, diantara 20mahasiswi 14 diantaranya menjadi perokok aktif.Data yang diperoleh peneliti juga di dukung dengan data dari Dinas Kesehatan KotaSemarang pada tahun 2010 menyebutkan bahwa perokok anak atau remaja putri mencapai 4,0%dan perokok perempuan dewasa mencapai 4,5% dari jumlah penduduk kota semarang (Rika,2011.http://www.fkm. undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=4311).Dari tahun ke tahun jumlah perokok aktif semakin meningkat. Seseorang dipengaruhioleh dua faktor dalam menyikapi keberadaan suatu produk. Faktor tersebut terdiri dari pengaruhinternal dan eksternal. Pengaruh internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang, sedangkanpengaruh eksternal dapat berupa komunikasi dengan media (komunikasi pemasaran), kelompokacuan, kelas sosial, budaya, dan sub budaya (Prasetijo, 2003: 165). Faktor keduanya inilah yangmempengaruhi tingkat pengetahuan seserorang tentang rokok dan mempengaruhi seseoranguntuk pertimbangannya dalam melakukan keputusan merokok.Analisis baru-baru ini tentang iklan rokok di Indonesia juga menekankan bahwa sejak2002 hingga saat ini sejumlah iklan merek rokok melibatkan perempuan, beberapa iklan rokokmenampilkan perempuan muda penuh gaya dan memberi pesan yang secara tersirat yangmembenarkan bahwa merokok untuk perempuan di era modern seperti sekarang ini sudah bisaditerima.Secara tidak langsung iklan rokok yang sering di tayangkan di televisi menunjukkanbahwa perempuan yang merokok terkesan keren, mewah, hura-hura, kelas sosial atas, keakraban,have fun, seru, pesta,dan gemerlap. Tentu saja terpaan iklan memberikan andil dalam mendorongseseorang yang terterpa oleh iklan tersebut tertarik untuk merokok.Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan merokok, selain iklan rokok jugafaktor teman sebaya juga mempunyai andil besar mempengaruhi remaja untuk mulai merokokataupun terus merokok. Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswi lebih banyak menghabiskanwaktu dengan teman sebayanya dibanding dengan keluarganya. Khususnya bagi mahasiswi yangmerantau dari kota lain dan berkuliah di Semarang. Situasi ini lebih cenderung untuk membuatmahasiswi melakukan keputusan untuk memulai merokok bagi yang belum merokok ataupunterus merokok bagi yang sudah menjadi perokok, karena tingkat kebebasan yang tinggi danpengawasan orang tua yang kurang.Sikap mengenai rokok akan berbeda-beda bagi setiap mahasiswi tergantung dari seberapatinggi pengetahuan mahasiswi mengenai rokok. Secara sadar maupun tidak sadar seseorang akanmelakukan penginderaan lewat iklan yang menerpanya. Iklan merupakan pesan yangmenawarkan sebuah produk yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media yang bertujuanuntuk menciptakan pengetahuan dan mempersuasi khalayak agar mencoba dan akhirnyamembeli produk yang ditawarkan.Perumusan MasalahDalam penelitian ini akan mencari tahu bagaimanakah hubungan antara intensitas terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di semarang?Tujuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusanmerokok di kalangan mahasiswi di semarang, baik mahasiswi yang belum menjadi perokokmaupun yang sudah menjadi perokok.Kerangka TeoriSocial cognitive dari Albert BanduraDalam social cognitive theory keputusan akan terjadi jika seseorang melihat peristiwayang menarik perhatiannya dari model yang menampilkan suatu perilaku dan menghasilkan nilaidan sesuai harapan. Melalui hal tersebut, seseorang akan mengembangkan harapan-harapantentang apa yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku yang sama dengan model. Harapanharapanini akan mempengaruhi hasil pengambilan keputusannya untuk berperilaku. Tetapi,proses ini akan bergantung oleh sejauh mana seseorang tersebut mengidentifikasi dirinya denganmodel dan sejauh mana ia merasa sesuatu yang dilakukannya sesuai dengan harapannya.Bandura menjelaskan dalam social cognitive theory terdapat empat tahapan proses:proses perhatian (attention), proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris(reproduction) dan proses motivasional (Rakhmat, 2007: 240).Populasi dan SampelPopulasiPopulasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi di Semarang yang pernah diterpa iklan rokok danmempunyai peer group yang merokok. Jumlah mahasiswi dalam populasi ini tidak diketahuijumlah pastinya.sebanyak 40 orang.Teknik Samplingnonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling accidental.Sumber DataData primerSumber data utama yang diperoleh langsung dari responden di lapangan, melalui wawancarauntuk mengisi kuesioner yang akan diisi oleh 40 responden.Data SekunderData yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang sudahdikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi denganmasalah yang sedang diteliti.Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaraTINGKAT TERPAAN IKLAN ROKOK, KONFORMITAS PEER GROUP, DANPENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGAN MAHASISWIDISEMARANG.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas instrument PenelitianSebelum suatu instrument digunakan untuk mengambil data maka terlebih dahulu akandilakukan uji coba atas instrument yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menentukan butirbutirinstrument yang sah. Instrument yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakanuntuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrument yang reliable adalahinstrument yang akan menghasilkan data yang sama bila digunakan untuk beberapa kali dalammengukur obyek yang sama.Penentuan butir yang sah menggunakan teknik konsistensi internal, yaitu denganmengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Untuk mendapatkan koefisien korelasiantara skor total, digunakan teknik korelasi Product Momment dari Carl Pearson. Uji cobapenelitian ini dilakukan pada 40 mahasiswi. Setelah kuesioner terkumpul semua, maka langkahselanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memberi skor pada tiap butir instrument dan skorkasar dari kuesioner tersebut kemudian dimasukkan dalam tabulasi untuk diuji validitas danreliabilitasnya.Pada penelitian ini perhitungan validitas dan reliabilitasnya menggunakan bantuan programSPSS 17. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r table untukdegree of freedom (df) = n-2,dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jumlah sampel dalam ujicoba ini adalah (n) = 40 dan besarnya df dapat dihitung 40-2 = 38 dengan alpha 0,05 didapat rtable = 0,3120 (dengan melihat r table pada df 38 dengan uji dua sisi). Valid atau tidaknyapertanyaan diketahui dengan cara membandingkan Correlated Item- Totalcorrelation denganhasil perhitungan r table 0,3120. Jika r hitung lebih besar dari r table dan nilai positif, makapertanyaan itu dinyatakan valid.Pada pengukuran reliabilitas dilakukan dengan cara One Shot atau pengukuran sekali saja.Nugroho (2005: 72) menjelaskan bahwa SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitasdengan uji statistic Cronbach „ s Alpha > 0,60.Hasil uji validitas dan reliabilitas instrument-instrumen dalam kuesioner akanditampilkan dalam table 3.1 berikut :Table 3.1.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pertanyaan KuesionerNO INDIKATOR ITEM DITERIMA ITEM GUGUR TOTAL1 Kuantitas terpaan - 1 , 2 22 Kualitas terpaan 3 , 4 5 , 6 43 Kekompakan 10 , 11 , 14 , 15 , 16 , 17 1 , 2 , 12 , 13 104 Kesepakatan 6 , 7 , 8 9 45 Ketaatan 3 , 4 , 5 - 36 Keputusan MerokokNon Perokok1 , 2 , 3 - 37 Keputusan MerokokPerokok1 , 2 , 3 - 3TOTAL 23 8 29Sumber : Data primer yang diolah, 2013Kualitas Terpaan Iklan RokokKualitas terpaan iklan rokok merupakan aspek psikologis yang merupakan perhatian yangdiberikan seseorang terhadap suatu iklan rokok. Kualitas terpaan yang dimiliki oleh mahasiswi diSemarang tergolong tinggi terhadap terpaan iklan rokok.Gambar 3.1Hasil Jawaban Variabel Terpaan Iklan RokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Dari hasil penghitungan tersebut maka interval kelasnya tampak pada table 3.3 berikut :Tabel 3.3Pengelompokan Kelas Terpaan Iklan RokokINTERVAL INDIKATOR10 ≥ - ≤ 12 Tinggi7 ≥ - ≤ 9 Sedang4 ≥ - ≤ 6 RendahSumber : Data primer yang diolah, 20133.4 Tingkat Konformitas Peer GroupKonformitas merupakan suatu tuntutan yang tidak tertulis dalam kelompok teman sebayaterhadap anggotanya, namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menimbulkan perilakutertentu pada anggota kelompok tersebut. Seorang anak seringkali melakukan konformitas agarditerima dalam kelompok dan menjaga hubungan sosialnya agar tetap harmonis. Konformitasmempunyai tiga indicator antara lain kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan.42% dari 40 responden mahasiswi di Semarang memiliki tingkat konformitas terhadappeer group yang tinggi. Sebanyak 40 % dari mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasyang sedang dan sisanya yaitu sebesar 18 % memiliki konformitas terhadap kelompoknyadengan tingkat yang rendah. Dapat dibuktikan pada gambar 3.5 di bawah ini ;Gambar 3.5Diagram Tingkat Konformitas terhadap Peer GroupSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasterhadap peer group mereka dengan kategori yang tinggi. Hal ini karena tingkat ketaatan dankekompakan yang mereka miliki sedang, meskipun hanya kesepakatan mereka terhadappendapat dan keputusan kelompok tinggi.3.5 Keputusan MerokokDalam menentukan pengambilan keputusan merokok, indicator yang digunakan adalahbagi mahasiswi perokok, mereka akan memutuskan untuk terus merokok. Sedangkan untukmahasiswi yang belum menjadi perokok atau non perokok, mereka akan mengambil keputusanuntuk memulai merokok.3.5.1 Mahasiswi Non-PerokokTabel 3.5Pengelompokan Norma Keputusan Merokok MahasiswiINTERVAL INDIKATOR9,5 ≥ - ≤ 15 Ya3 ≥ - ≤ 9,4 TidakSumber : Data primer yang diolah, 2013Dan hasil dari variable ini,memperoleh tanggapan 12 mahasiswi dari 40 responden diSemarang yang menjadi responden penelitian terhadap pengambilan keputusan merokok adalah75 % dari 12 responden mahasiswi non-perokok di Semarang memutuskan untuk tidak memulaiuntuk merokok. Sebanyak 25 % dari mahasiswi non-perokok tersebut memutuskan untukmemulai untuk merokok. Dapat dilihat lebih lanjut pada Gambar 3.6Gambar 3.6Diagram Keputusan Merokok Non-PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi non-perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk tidak memulai untuk merokok. Mungkin memang keberadaan peer groupyang merokok dan juga terpaan iklan kurang mampu untuk membuat mereka memutuskan untukmulai merokok.3.5.2 Mahasiswi PerokokBanyak responden yang dilibatkan dalam penelitian ini merupakan perokok, yaitu berjumlah 28mahasiswi dari 40 mahasiswi, dan hasil jawaban dari mereka adalah 93 % dari 28 respondenmahasiswi perokok di Semarang memutuskan untuk terus merokok. Sisanya sebanyak 7 % darimahasiswi perokok tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan merokok. Dapat dilihat padagambar 3.7 di bawah ini :Gambar 3.7Diagram Keputusan Merokok PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk terus merokok. Hal ini dapat terjadi karena tingkat konformitas peer groupmereka yang tinggi dan terpaan iklan rokok yang sedang.HUBUNGAN TERPAAN IKLAN ROKOK DAN TINGKAT KONFORMITAS PEERGROUP DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGANMAHASISWI DI SEMARANGUntuk mencari hubungan antara dua variabel bebas (X) yaitu hubungan terpaan iklanrokok (X1) dan tingkat konformitas peer group (X2) yang dihubungkan dengan variabel terikatpengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiwi di Semarang baik yang sudah menjadiperokok (Y1) maupun mahasiswi yang belum menjadi perokok (Y2) peneliti menggunakananalisis korelasi dengan bantuan aplikasi komputer SPSS 17.Uji HipotesisUji hipotesis penelitian hubungan terpaan iklan produk rokok dan tingkat konformitaskelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok digunakan alat uji statistik Kendallmelalui program SPSS 17. Kriteria hasil uji statistik mengenai signifikansi hasil penelitiansebagai berikut :i. Jika nilai signifikansi < 0,01 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.ii. Jika nilai signifikansi < 0,05 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.iii. Jika nilai signifikansi > 0,05 : hubungan antar variabel tidak signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat ditolak.Untuk menentukan seberapa kuat hubungan diantara 3 variabel, akan digunakan pedomansebagai berikut (Santoso dan Fandy Tjiptono, 1997 : 177) :1. Korelasi antara 0 – 0,5 merupakan korelasi lemah.2. Korelasi antara 0,5 – 1 merupakan korelasi kuatHipotesis 1 (H1) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswiperokok di Semarang.Tabel 4.1Hasil Uji Kendall W Responden Non-PerokokN 40Kendall‟s W (a) .906Chi-Square 72.456Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 1 (H1) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang dapat diterima.Hipotesis 2 (H2) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswinon-perokok di Semarang.Tabel 4.2Hasil Uji Kendall W Responden PerokokN 40Kendall‟s W (a) .779Chi-Square 62.359Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 2 (H2) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang dapat diterima.Analisis dan InterpretasiMahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group yang tinggisecara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk terus merokok daripada mereka yangmemiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Begitu juga halnya denganmahasiswi non-perokok, Mahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peergroup yang tinggi secara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk memulai merokokdaripada mereka yang memiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Haltersebut menunjukkan bahwa terpaan iklan rokok yang diterima akan dapat menuntun mahasiswiuntuk tetap terus merokok atau memulai untuk merokok. Pada prakteknya iklan rokokmemelihara citra produk dan makna penawaran dalam benak konsumen. Pemasar memahamidan mengeksplorasi nilai yang melekat pada endorser, tag line dan visualisasi iklan dalambentuk citra positif. Citra positif tersebut selanjutnya ditransfer kepada merek produk rokoktersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan konsumen mempersepsikan produk rokok denganasosiasi yang positif.Pandangan positif mahasiswi dari pengalaman merek tersebut akan dikembangkan melaluilingkungan sosialnya. Hal ini karena pembentukan sikap dan perilaku dipengaruhi oleh prosesbelajar (sosialisasi) berupa pergaulan atau interaksi sosial. Interaksi social ialah suatu prosesdimana individu memperhatikan dan merespon individu lain sehingga dibalas dengan suatuperilaku tertentu. Reaksi yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa individu tersebutmemperhatikan orang yang memberi stimulus sehingga terjadi interaksi sosial. Salah satuinteraksi sosial yang dapat diamati adalah interaksi sosial dalam komunikasi kelompok berupakonformitas kelompok.Seorang mahasiswi mengamati peristiwa dari lingkungannya dan memperlajarinya melaluiproses perhatian (social learning). Peristiwa yang menarik perhatian adalah yang menonjol,sederhana, dan berulang-ulang seperti penayangan iklan rokok. Setelah mahasiswimemperhatikan informasi dari iklan, mereka menyimpan hasil pengamatan dalam memorimereka. Proses membuat gambaran mental terhadap peristiwa yang diamati (visual imagery) danmenunjukkan representasi dalam bentuk bahasa merupakan proses retention.Selanjutnya adalah proses reproduksi motoris (reproduction), menghasilkan kembaliperilaku yang diamati. Mahasiswi cenderung memulai merokok dan meneruskan tetap merokokapabila didukung oleh lingkungan peer group mereka. Pada akhirnya bila penerapan perilakuyang diamati menghasilkan nilai dan sesuai harapan, mereka akan mengadopsi perilaku tersebutdan mengulang kembali pada waktu yang akan datang.KesimpulanMenurut hasil penelitian hubungan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di Semarang mendapatkesimpulan sebagai berikut :1. Terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitaspeer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi nonperokokdi Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakintinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswi non-perokokuntuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi non-perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.2. Terdapat hubungan yang positif juga antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dansemakin tinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswiperokok untuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.Daftar PustakaArdianto, Elvinaro & Lukiati K E. (2007). Komunikasi Masa : Suatu Pengantar. Bandung :Remaja Rosdakarya.Bandura, A. 2001. Social Cognitive Theory: An Agentive perspective. Annual Review ofPsychology, 52, 1-26. Dalam Pulkkinen, Jyrki. 2003. The Paradigms of e-Education.Baron, R.A, & Byrne, D.(1994). Social Psychology : Understanding Human Interaction(edisi ke-7). Needham Heights, MA : Allyn & Bacon.Botvin, Gilbert J dkk. (1993).Smoking Behavior of Adolescents Exposed to CigaretteAdvertising. Public Health Report Vol.108 No 2. New York : Cornell University MedicalCollege.Bryant, Jennings dan Dolf Zillmann. (2002). Media Effects Advances in Theory andResearch. NJ : LEA.Bungin, Burhan. (2001). Erotika Media Massa. Surakarta : University Press.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta : Jalasutra.Durianto, Darmadi, dkk. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar : Melalui Riset Ekuitas danPerilaku Merek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Effendi, Onong Ochjana. 2003. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Engel, James F, Roger P Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen Jilid2. Jakarta : Binarupa Aksara.Fatimah, Nurul. (2010).Hubungan Terpaan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Teman Sebaya Terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar Maju.Kasali, Rhenald. 1995.Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (1998). Building Measuring and Managing Brand Equity. EnglewoodClifford, New Jersey : Prentice Hall Inc.Komalasari, Dian dan Avin F H.(2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok PadaRemaja. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perilaku merokok_avin.pdf.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Mar‟at. (1981). Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta : PT Ghalia Indonesia.McQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nugroho, Bhuono Agung. (2005). Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian denganSPSS. Yogyakarta : ANDI.Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.Oktarinda, 2010, http://bataviase.co.id/node/2048Prasetijo, Ristiyani, dan John J.O.I Ihalauw.(2003). Perilaku Konsumen. Salatiga : FakultasEkonomi UKSW.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Rasyid, Anuar, 2009. Pengaruh Sikap Siswa SMA Muhammadiyah Bangkinang terhadapBahaya Narkoba sebagai Efek Sosialis. Skripsi. Riau : Universitas Riau.Rika. 2011. Gambaran Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswi KesehatanMasyarakat di Kota Semarang Tahun 2011. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.Santrock, John W. 1996. Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sarwono, S.W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Erlangga.Sears, D dan Peplau, L.A.(1994). Psikologi Sosial. Alih Bahasa : Michael, A. Jilit Kedua.Jakarta : Erlangga.Shadel, William G dkk. 2008. Exposure to Cigarette Advertising and Adolescents‟Intention to Smoke . The Moderating Role of the Developing Self Concept. Journal of PediatricPsychology vol 33 no 7. Oxford : Oxford University Press.Shimp, Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta : Erlangga.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (editor). (1989). Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.Sugiyono, DR. 2000. Metode Penelitian. Bandung : CV Alvabeta.Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : Rosdakarya.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : ANDI.Trisnanto, Adhy. 2007. Cerdas Beriklan. Yogyakarta : Galangpress.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoZen, Bambang Hakim. (2007). Hubungan Antara Sikap Tentang Pesan Bahaya Merokokdan Ketertarikan Personal Lingkungan Perokok dengan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuhlima-juta-orang-setiap-tahun.html) .(Anonim,2013, http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Pen jualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotuk).(Anonim,2012, http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130124_majalahlain_perempuan_perokok.html ).(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuh-lima-juta-orang-setiap-tahun.html).(Antara, 2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesianaik-lima-kali-lipat/)(Danto, 2010, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok. Kian.Tak.Terbendung).(Nurmayanti, 2012, http://www.tembakausehat.com/index.php/berita/400-pangsa-pasarphilip-morris-diindonesia-naik-jadi-334)(Pramesthi, Olivia Lewi, 2012, http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05 /meningkatperokok-pemula-di-indonesia).(Rika, 2011. http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx =4311)(Sila Ananda, Kun, 2012, http://www.merdeka.com/sehat/wanita-perokok-ringan-berisikomati-mendadak.html).(Wahyuningsih, Merry, 2012, http://health.detik.com/read/2012/04/26/142725/1902318/763/ylki-di-indonesia-rokok-dijual-bebas-seperti-beras)(Yuliana, Rika, 2011.http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&i dx=4311)http://psycholocious.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-sosial-albertbandura.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sosialhttp://odasamodra.wordpress.com/2013/02/25/teori-kognitif-sosial-bandura/http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39229/3/Chapter%20II.pdfhttp://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/pembuat-keputusan/http://oro.open.ac.uk/35093/http://www.youtube.com/watch?v=v-SFvtFCpjQhttp://www.youtube.com/watch?v=HBHng8zd5GIhttp://www.youtube.com/watch?v=FfgdKR9ZS94http://www.youtube.com/watch?v=Yr2sKIN0vo4http://www.youtube.com/watch?v=YUgz6EG9hs4
RESEPSI KHALAYAK TERHADAP SOSOK USTADZ DALAM KASUS USTADZ GUNTUR BUMI PADA TAYANGAN INFOTAINMENT Sulastri _; Adi Nugroho; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.045 KB)

Abstract

Televisi merupakan teknologi audio visual yang dapat menyajikan informasi dan hiburan secara cepat, terjangkau, dan umum dimiliki oleh masyarakat. Setiap stasiun televisi berusaha memberikan program-program terbaru sesuai dengan tren program yang berlangsung. Begitu beranekaragam produk yang disajikan televisi, salah satu produk unggulan yang disajikan televisi adalah infotainment.Ustadz adalah sosok seorang guru agama dan menjadi panutan bagi jemahnya. Ustadz Guntur Bumi yang terseret kasus penipuan menjadi target pemberitaan oleh infotainment. Tayangan infotainment sangat menarik untuk di teliti,karena selalu melakukan blow up yang berlebihan dari suatu masalah yang sedang dihadapi oleh pesohor. Infotainment juga melakukan judging terhadap berita-berita yang memojokan pesohor. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan audiens mengenai pemberitaan Guntur Bumi di infotainment. Penelitian ini menggunakan model encoding-decoding Stuart Hall untuk menjelaskan jalannya proses encoding-decoding pemberitaan dari infotainment.Penelitian ini adalah penelitian dengan tipe deskriptif yang bersifat kualitatif dan menggunakan pendekatan analisis resepsi. Hasil penelitian ini adalah analisis resepsi khalayak dipandang sebagai produser makna yang tidak hanya menjadi konsumen isi media. Hasil penelitian akan membagi khalayak ke dalam tiga posisi pemaknaan. Yaitu kelompok dominat reading, khalayak yang menerima sosok ustadz yang ditayangkan oleh infotainment sesuai dengan preferred reading (makna dominan). Kelompok negotiated reading, memaknai sosok ustadz sesuai dengan pemberitaan, namun tidak setuju dengan pemberitaannya di infotainment.Sedangkan kelompok oppositional reading, adalah khalayak yang memiliki pemaknaan yang berbeda sama sekali dengan makna dominan.Penelitian ini sangat terbuka untuk dikaji dari sudut pandang dan metode berbeda dan menjadi dasar penelitian selanjutnya, terutama hal mengenai pemberitaan pesohor di infotainment dan khalayak aktif sehingga dapat menambah kajian penerimaan khalayak.Kata Kunci : analisis resepsi, infotainment, sosok, pemberitaan, ustadz
Representasi Perempuan dalam Budaya Patriarki (Studi Semiotika pada Film Sang Penari) Jenny Putri Avianti; Hedi Pudjo Santosa; Turnomo Rahardjo; M Bayu Widagdo; Hapsari Dwiningtyas
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.024 KB)

Abstract

Film merupakan media massa yang paling efektif untuk menyebarkan ideologi-ideologi baru pada masyarakat. Sekarang ini, sebuah film dapat berpengaruh terhadap perilaku sosial dalam masyarakat, tentunya sesuai dengan pesan apa yang di dapat dari sebuah film yang mereka nikmati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika untuk menganalisa obyek audio-visual yang diteliti. Teknik analisa data menggunakan teori John Fiske “the codes of television”. Film Sang Penari diuraikan secara sintagmatik pada level realitas dan level representasi. Sedangkan penguraian level ideologi menggunakan analisa secara paradigmatik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perempuan di representasikan dalam film Sang Penari. Film ini menggambarkan budaya patriarki yang sangat lekat dengan budaya Jawa. Ketimpangan gender dan penindasan terhadap perempuan penari ronggeng memunculkan wacana yang berkembang di masyarakat bahwa ronggeng identik dengan kekerasan dan praktik pelacuran terselubung. Penggunaan istilah “tradisi” menjadikan penari ronggeng sebagai wanita terhormat dan memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Akan tetapi, status terhormat tersebut hanya untuk melegalkan proses pelacuran terselubung pada penari ronggeng. Hasil dari penelitian ini yakni perempuan pekerja seni terutama penari ronggeng dalam film Sang Penari hanya dianggap sebagai penghibur laki-laki bukan perempuan yang memiliki bakat bernyanyi dan menari. Film ini juga menunjukkan kemandirian dan kemampuan perempuan penari ronggeng sebagai seorang penghibur atau seniman. Kata kunci : Film, Perempuan, Patriarki
MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKAN ANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINE Eleonora Irsya; Hedi Pudjo Santosa; Yanuar Luqman
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.912 KB)

Abstract

MEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEAbstrakPortal berita online memberikan keleluasaan kepada pengaksesnya untuk mengunduhaplikasi situs berita dan berkomentar dalam kolom komentar yang disediakan hanya denganmembuat akun. Namun, banyak yang membuat akun dengan identitas lain atau tidak denganidentitas aslinya atau anonim. Hal itu dipermudah dengan tidak adanya verifikasi ketat ketikaakan membuat akun. Selain itu diduga adanya komunikasi hiperpersonal dalam portal beritaonline yaitu masyarakat lebih tertarik berkomunikasi dengan perantaraan internet daripadaberkomunikasi secara langsung. Banyak alasan yang mendasari mengapa mereka melakukan haltersebut ditambah dengan menggunakan akun anonim. Penelitian ini bertujuan untukmengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasi hiperpersonalmenggunakan akun anonim. Penelitian ini menggunakan landasan Computer MediatedCommunication Theory (CMC), Deindividuation Theory dan Dependency Theory.Hasil penelitian ini menemukan fakta bahwa Portal berita online, selain sebuah situsberita online juga merupakan media komunikasi maya, memungkinkan penggunanya dapatmenulis identitas yang diinginkan sebagai upaya membentuk suatu image tertentu. Akun anonymtersebut dibuat supaya diri mereka tidak mudah dikenali oleh orang lain ketika mengirimkankomentar. Ada pula yang merasa identitas tidak terlalu penting dalam kolom komentar karenadirinya tidak ingin terganggu oleh orang yang terganggu dengan komentar yang dikirimnya.Komunikasi hiperpersonal yang terjadi dikarenakan adanya sebuah kesepahaman yang terbentukwalaupun tidak mengenal latarbelakang masing-masing. Ada pula yang mempunyai keterbatasandalam berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan nyata sehingga beralih ke portal beritaonline untuk membahas isu-isu yang terjadi.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan implikasi-implikasi dalam aspek akademisdan praktis. Implikasi akademis penelitian ini berupa kontribusi dalam memperkaya ilmupengetahuan mengenai interaksi dengan menggunakan media baru di mana terdapat fenomenamelakukan komunikasi hiperpersonal dengan akun anonim. Sementara itu, implikasi praktismemberikan rekomendasi bagi pengakses portal berita online dalam berperilaku sehingga dapattercipta komunikasi yang sehat.Kata Kunci: Media Online, Anonim, Komunikasi Hiperpersonal.UNDERSTANDING HYPERPERSONAL COMMUNICATION PHENOMENON USINGANONYMOUS USERNAME IN ONLINE NEWS PORTALAbstractOnline news portal provides flexibility for users to download the application news sitesapplication and submit a comment in the comments field which will if only users made theaccount. However, many user creates account using fake or anonymous identity. The access tobe anonymous user get easier by the absence of the detail verification when creating an account.Besides that, it is believed that using hyperpersonal communication is because people these dayare more interested to communicate using Internet than direct communication. Many underlyingreason that make them do so and also using the anonymous account. This research is aimsuncover the reason why using hyperpersonal communication using anonymous username. Thisresearch uses Computer Mediated Communication Theory (CMC), Deindividuation Theory andDependency Theory.The research’s outcomes found that online news portal, in addition to an online news siteis also a virtual communication media, allowing users to write the desired identity as an effort toestablish a certain image. The anonymous accounts were made so that they themselves are noteasily recognized by others when submitting a comment. There is also a feeling of identity doesnot really matter in the comments field because he did not want to bothered by people who aretroubled by the comments sent. Hyperpersonal communication that occurs due to a form ofunderstanding that even do not know the background of each. There also has limitations incommunicating with other people in real life so the switch to online news portal to address issuesthat occur.The research is expected to provide the implications of the academic and practicalaspects. Academic implications of this research is a contribution in enriching the knowledge ofthe interaction by using new media where there is a phenomenon Hyperpersonal communicatewith an anonymous account. Meanwhile, the practical implications of providingrecommendations to the access of online news portals to behave so as to create a goodcommunication.Key words : Online Media, Anonym, Hyperpersonal CommunicationMEMAHAMI FENOMENA KOMUNIKASI HIPERPERSONAL MENGGUNAKANANONYMOUS USERNAME DALAM PORTAL BERITA ONLINEKolom sign in or log in atau register or log in sudah tidak asing lagi ketika mengaksessosial media. Fungsinya adalah mendaftarkan identitas untuk memperoleh username. Apakahsulit? Tidak, tinggal mengisi kolom-kolom sesuai dengan data diri. Sayangnya, dewasa ini makinbanyak identitas non riil atau asal-asalan yang dibuat untuk berinteraksi antar pengunjung atauuser lain dalam media sosial tersebut. Hal ini dikarenakan tidak adanya tuntutan untuk membuatidentitas username yang sesuai dengan identitas asli dan kebebasan untuk membuat sebanyakmungkin username.Mendaftar dengan verifikasi yang longgar memicu adanya identitas palsu yangmemberikan kebebasan dalam menggunakan sosial media. Kelonggaran identitas tersebut tidakterlepas dari salah satu karakteristik media baru yang disampaikan Feldman (dalam Flew2005:101) yaitu manipulable (mudah dimanipulasi). Masyarakat diberi kebebasan untukmemanipulasi, merubah data dan informasi secara bebas tanpa adanya batasan atau aturan.Belum pernah ada kasus hukum yang melibatkan users dalam sebuah portal media online karenakomentar yang melanggar etika.Masyarakat seperti diberi kesempatan untuk tidak perlu bertanggung jawab terhadapkomentar atau pendapat dengan pilihan kata yang tidak patut. Hal itu dikarenakan masyarakataman karena identitas mereka tidak riil atau berlindung dibalik username palsu. Manusia telahlupa pada kehidupan nyata dan terjebak dalam virtual reality di mana mereka lebih nyamanuntuk hidup di dalamnya. Internet digunakan sebagai pelarian untuk mendapatkan rasa nyamandan mengatasi rasa kesepian sehingga dapat mengembalikan harga diri sebagai makhluk sosial—tidak dapat hidup tanpa berinteraksi dengan orang lain.Orang yang hidup dengan menggunakan internet acap kali terjebak dalam situasi isolasisosial di mana dia lebih terbuka pada media tersebut. Orang-orang tersebut menggunakaninternet sebagai teknologi sosial atas solusi dalam mengatasi kesepian, ketidakberdayaan, dankehilangan harga diri (Maria Bakardjieva, 2005:123). Sedangkan Walther memberi nama“komunikasi hiperpersonal” untuk menggambarkan komunikasi dengan perantara komputer yangsecara sosial lebih menarik daripada komunikasi langsung. Dia memberikan tiga faktor yangcenderung menjadikan partner komunikasi via komputer lebih menarik: (a) e-mail dan jeniskomunikasi komputer lainnya memungkinkan presentasi diri yang sangat efektif, dengan lebihsedikit penampilan atau perilaku yang tidak diinginkan dibandingkan komunikasi langsung; (b)orang yang terlibat dalam komunikasi via komputer kadang kala mengalami proses atributif yangberlebihan yang di dalamnya dengan membangun kesan stereotip tentang partner mereka; dan (c)ikatan intensifikasi bisa terjadi dalam pesan-pesan positif dari seseorang partner sehingga akanmembangkitkan pesan-pesan positif dari rekan satunya (dalam Severin dan Tankard, 2005:462).Dalam dunia nyata identitas merupakan karakteristik esensial yang menjadi basis pengenalandari sesuatu hal, ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Menurut Chris Barker,identitas itu bukanlah sesuatu yang terberi (given), tetapi merupakan sesuatu yang dibuat(created). Sama halnya dengan virtual reality, identitas harus dibuat namun tidak mengharuskanakan kebenarannya.Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan mengungkap alasan yang mendasari mengapa mempraktikkankomunikasi hiperpersonal menggunakan anonymous username.TeoriComputer Mediated Communication Theory and the problem of identityComputer Mediated Communication Theory digunakan untuk menjelaskan komunikasiyang terjadi dengan menggunakan media baru yang dinamakan internet. Teori ini digunakanuntuk menjelaskan komunikasi yang dalam hal ini memberi tanggapan atau komentar antarpemilik username pada portal berita online, di mana komunikasi tersebut terjadi dalam ruangvirtual yang dikenal sebagai virtual reality.Deindividuation TheoryTeori Deindividuation juga menegaskan bahwa masuknya individu secara mendalamdalam sebuah kerumunan atau kelompok mengakibatkan hilangnya identitas diri. Akibatnya,seseorang yang merasa kehilangan identitas pribadi lebih cenderung mendorong orang untukbertindak agresif atau menyimpang dari perilaku sosial supaya dapat diterima ketika merekaberada di pengaturan grup daripada ketika mereka sendirian. Dalam kaitannya dengan teorideindividuation, kondisi anonim dalam kelompok menyebabkan kurangnya kesadaran seseorangsiapa mereka sebagai individu.Dependency TheoryTeori ketergantungan media itu sendiri berpendapat bahwa pengaruh media ditentukan olehketerkaitan antara media, penonton, dan masyarakat. Keinginan individu untuk informasi darimedia adalah variabel utama dalam menjelaskan mengapa pesan media memiliki efek kognitif,afektif, atau variabel. Ketergantungan media tinggi, ketika individu mendapatkan kepuasan tetapibergantung pada informasi dari sistem media.Metode PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif-deskriptif. Penelitiankualitatif mencari jawaban atas pertanyaan dengan menguji berbagai latar sosial dan individuyang menjalaninya. Moleong (2007:6) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai penelitianyang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitianmisalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsidalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan denganmemanfaatkan metode alamiah.Mengungkap alasan atau motivasi yang mendasari mengapa mempraktikkan komunikasihiperpersonal menggunakan username anonym pada portal berita online membutuhkanpendekatan secara langsung di lapangan sehingga diperoleh pengetahuan baru berdasarkanpandangan para informan.Menurut Husserl (dalam Kuswarno 2009:40) fenomenologi bertugas untuk menjelaskanthings in themselves, mengetahui apa yang masuk sebelum kesadaran dan memahami makna danesensinya dalam intuisi dan refleksi diri. Proses ini memerlukan penggabungan apa yang tampakdan apa yang ada dalam gambaran orang yang mengalaminya. Jadi gabungan antara yang nyatadengan yang ideal.Salah satu komponennya yang menjadi analisis dalam penelitian ini adalah kesengajaan.Kesengajaan untuk membuat anonymous username untuk berkomunikasi dalam portal beritaonline. Kesengajaan selalu berhubungan dengan kesadaran, dengan demikian kesengajaanmerupakan proses internal dalam diri manusia. Faktor yang berpengaruh terhadap kesengajaanantara lain kesenangan (minat), penilaian awal dan harapan terhadap objek. Kesengajaan untukmembuat anonymous username dibangun oleh konsep pokok yaitu identitas menjadikan sebuahentitas yang masuk dalam kesadaran sama seharusnya identitas mempertahankan karakteristikdasar dari sebuah entitas. Dalam fenomenologi, identitas terdapat pada ilusi untukmempertahankan hal-hal pokok dari objek sehingga masih bisa dikenali. Dalam sisi portal beritaonline, individu merusak identitas ketika mengembalikan ilusi kepada kesadaran, inilah yangdisebut Husserl sebagai sebuah kesengajaan.PembahasanPerilaku Mengakses Internet dalam Kehidupan Sehari-hariInternet sebagai media komunikasi paling mutakhir bisa dipahami sebagai bagian darikomunikasi massa yang tujuannya memberikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak.Tetapi, karena adanya beberapa perbedaan karakteristik yang cukup signifikan sebagaiakibat perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat (Hadi, 2005:20). Portal beritaonline sebagai bagian dari internet telah menjadi bagian dari kebutuhan hiduppenggunanya. Dengan mengakses media sosial ini, pengakses portal berita online dapatmemanfaatkan internet sebagai ”sebuah alat” untuk memenuhi kebutuhan akan informasidan komunikasi manusia yang semakin tinggi. Ditambah lagi, dukungan piranti dalammengakses internet yang semakin praktis memungkinkan manusia dapat lebih mudahdalam mengakses internet dengan menggunakan handphone. Dari keterangan yangdiperoleh dari para informan, aktivitas yang cukup padat tidak menghalangi mereka untuktetap menyempatkan waktu mengakses portal berita online, walaupun sekadar mengecekataupun mencari informasi yang sedang up to date. Dari hasil penelitian, diperolehpemanfaatan lain dari portal berita online dan kolom komentar. Informan dari penelitianmengakui bahwa pemanfaatan portal berita online dan kolom komentar juga dapatdigunakan untuk menambah wawasan atas sebuah isu yang berkembang baik dibacanyasecara langsung atau diperolehnya dari komentar pengakses lain. Ditambah, para informantidak menemukan kelebihan yang dirasakannya menggunakan portal berita online darimedia konvensial. Para informan menganggap media konvensional sudah tidak praktis danekonomis, sehingga perlahan meninggalkan media konvensional untuk beralih ke mediaonline. Tidak semua portal yang ada di Indonesia diakses oleh para informan penelitian ini,paling sering dikunjungi adalah Detik.com, Kompas.com, Tempo.co dan Bola.net karenamenurut informan portal ini menjanjikan kecepatan informasi dalam mengakses berita yangterbaru. Selain itu, tampilan yang lebih sederhana dan lebih terfokus pada beritamenjadikan alasan menarik menjadikan akun portal berita pantas dipilih untuk diikuti. Darihasil penelitian, ditemukan bahwa informan menggunakan portal berita online sebagaimedia baru yang memiliki banyak kegunaan, seperti yang dikatakan McQuail (2000:128-129) yang menjabarkan konsep media baru yang dimiliki oleh portal berita online yaituTingkat Interaktivitas, Tingkat Social Presence, Tingkat Autonomy dan TingkatPlayfullness.Penggunaan Akun Anonymous dalam Portal Berita OnlinePara informan seperti terpengaruh oleh orang lain dan merasakan bahwa tidak adaketentuan yang ketat dalam pembuatan akun. Slouka dalam Ashar Hadi (2005:165)menjelaskan bahwa penggandaan identitas di Internet tak lebih dari sekedar komoditas.Artinya, identitas tidak bersifat esensial, melainkan dibentuk untuk kepentingankepentingan.Para informan juga mempunyai kepentingan menggunakan anonymous,mereka tidak ingin ditelusuri identitasnya karena tidak ingin berurusan dengan orang lainkarena komentarnya. Goffman (dalam Littlejohn dan Foss [eds], 2008:87) mengatakantentang bagaimana cara komunikator mempresentasikan dirinya (self-presentation).Kehidupan sehari-hari dapat dilihat seperti sebuah pertunjukan, di mana terdapat rasapenasaran apa yang akan ditampilkan oleh sang aktor dan yang akan membentuk suatukesan kepada khalayaknya. Seperti layaknya sebuah pertunjukan, terdapat dua bagian dimana aktor tersebut berperan, yaitu front stage dan back stage. Bagian front stage adalahtempat di mana pertunjukan tersebut berlangsung dan diatur sedemikian rupa. Bagianback stage adalah tempat di mana terdapat kesan yang berlawanan dari kesan yangdibangun saat pertunjukan (Goffman dalam Lemert dan Branaman [eds], 1997:Ixv).Akun anonymous yang dimiliki oleh para informan memainkan peran sebagaiaktor pada front stage. Dalam front stage, terdapat beberapa faktor penentu yaitu latar(setting), ciri khas (personal front), dan penampilan dan sikap (appearance and manner)(Goffman, 1956:13-16). Sebagai aktor pada front stage, akun anonymous diharuskanmenyembunyikan beberapa hal, seperti misalnya kesalahan (errors) yang secara tidaksengaja muncul saat persiapan pertunjukan atau saat pertunjukan tersebut berlangsung(Goffman, 1956:27). Hal itu dilakukan oleh para informan dengan membaca ulangkomentar yang hendak mereka kirimkan dan menambah wawasan mereka telebih dahulusebelum memberikan komentar. Goffman sendiri yang mengatakan bahwa untukmemperoleh peran, maka seorang aktor tidak diperkenankan untuk membiarkan dirinyamengalami ejekan, hinaan, dan berbagai bentuk perendahan diri (1956:29). Sependapatdengan Goffman, para informan menghindari hal-hal negatif yang bisa saja terjadidengan menyembunyikan identitas asli mereka. Seperti yang dikatakan oleh Goffman(1956:28), untuk menghasilkan sebuah pertunjukan yang bagus, standar ideal yangdimiliki seorang aktor dapat diperoleh dengan mengorbankan privasi dirinya ataubeberapa hal yang berhubungan dengan dirinya dan orang lain di sekitarnya. Privasibukan saja seputar identitas namun juga berupa kegiatan-kegiatan yang dilakukan olehaktor pada back stage. Para informan tidak memberikan tambahan informasi mengenaidiri mereka sebenarnya dalam bentuk apapun dalam akun anonymous. Bagaimana punjuga, meski terdapat tekanan dari suatu bagian untuk dapat diidentifikasi sebagai frontdan back dari sebuah pertunjukan yang di mana saling berhubungan satu sama lain, tetapakan ada beberapa bagian yang fungsinya dapat saling bertukar, kapan menjadi front dankapan menjadi back, dan juga sebaliknya (Goffman, 1956:77). Hal ini menurut parainforman bergantung pada rubrik berita yang mereka baca, mereka bisa menjadi dirisendiri ketika mengomentari hal yang mereka suka, bola misalnya. Berbeda ketikamengomentari news dan isu politik yang mereka belum tentu paham.Perilaku Komunikasi Hiperpersonal dalam Portal Berita OnlineTerdapat perbedaan pandangan pengakses portal berita online dalam menyikapikomunikasi dengan menggunakan media virtual ini. Pandangan pertama, bahwa portalberita online memberikan kenyamanan kepada penggunanya sebagai media komunikasiyang mudah. Portal berita online memberikan situasi yang berbeda di mana penggunanyadapat menentukan momen yang tepat dalam membuat komentar sehingga orang dapatmemberikan respon yang sesuai dengan harapan. Maka dari itu, pengakses portal beritaonline berusaha menyesuaikan dengan orang lain sehingga dapat tertarik untuk meresponkomentar yang dibuatnya. Harapan (expectation) yang dimaksud dalam bahasan iniadalah seperti yang dijelaskan oleh West dan Turner (2008:159) yang dapat diartikansebagai pemikiran dan perilaku yang diantisipasi dan disetujui dalam percakapan oranglain. Oleh karenanya, termasuk di dalam harapan ini adalah perilaku verbal dan nonverbalseseorang. Akan tetapi, harapan dalam komunikasi pengakses portal berita onlineberkaitan dengan isi berita dan perilaku yang diwakilkan oleh tulisan yang dibuat olehpenggunannya di portal berita online. Untuk memaknai harapan yang bersifat non-verbalcukup berbeda dengan dunia nyata karena para pelaku komunikasi tidak bertemu secaralangsung. Burgoon dan Hale menyatakan ada dua jenis harapan : prainteraksional daninteraksional.Harapan pra-interaksional (pre-interactional expectation) mencakupjenis pengetahuan dan keahlian interaksional yang dimiliki oleh komunikatorsebelum memulai percakapan. Jika dikaitkan dengan hasil penelitian mengenaiperilaku pengakses portal berita online, para pengakses portal berita online tidakselalu mengetahui apa yang dibutuhkan untuk memasuki dan mempertahankansebuah percakapan. Percakapan yang terjadi tidak selalu sesuai yang diharapkankarena belum tentu suatu permulaan pembicaraan dapat menarik orang lain untukturut berkomentar atau mengomentari komentar yang dibuat oleh para informan.Pengetahuan akan komunikan dan keahlian kecakapan interaksional komunikatorsangat besar pengaruhnya.Harapan interaksional (interactional expectation) merujuk padakemampuan seseorang untuk menjalankan interaksi itu sendiri. Kebanyakan orangmengharapkan orang lain untuk menjaga jarak sewajarnya dalam sebuahpercakapan. Menurut Burgoon dan Hale kemampuan seseorang dalammenjalankan interaksi ini sering kali mempertimbangkan isyarat non-verbal danketergantungannya pada latar belakang budaya dari komunikator. Dengandemikian, harapan akan terpenuhi oleh budaya tempat komunikator tinggal.KesimpulanPerangkat elektronik seperti perangkat komputer atau laptop serta gadget seperti smartphone danandroid memudahkan para pengakses portal berita online untuk selalu terhubung dengan internetdan mengakses situs berita. Walaupun tidak praktis dibandingkan dengan gadget, intensitasmengakses internet menggunakan komputer tidak kalah dengan pengguna gadget canggih.Media konvensional meliputi koran dan majalah sudah tidak efisien dibandingkan dengan situsberita online dalam menyajikan sebuah news dan perkembangan isu-isu yang sedang hangatdiperbincangkan. Situs berita online dianggap lebih efisien dan hemat dan memiliki efek dominoyang mampu membawa pembaca untuk mengetahui berita secara mendalam dan dalam berbagaisisi yang berbeda. Ditambah dengan kemudahan interaktif yang disediakan dalam bentuk kolomkomentar.Pembuatan akun anonymous yang dilakukan merupakan dianggap tidak menyalahi peraturankarena tidak ada peraturan yang berlaku tegas dalam pembuatan identitas dalam portal beritaonline. Nama yang dipakai ada yang tidak jauh dari identitas asli namun ada yang sangat jauhdari identitas asli. Hal ini dimanfaatkan para pengakses portal untuk bisa berkomentar tanpadikenali langsung oleh orang lain. Mereka tidak ingin terganggu ruang privasinya karenakomentar yang dikirimkan.Komunikasi dalam portal berita online sangat rentan terhadap mis-understanding dalammemaknai pesan. Kecakapan pengakses portal berita online dalam menyampaikan pesan kepadapengakses lain dianggap penting dalam berkomunikasi sehingga pesan yang disampaikan dapatdimaknai secara benar dan tidak menyinggung orang lain.Kekurangan dalam berkomunikasi langsung dan kekurangan dalam diri sendiri menjadi salahsatu alasan pengakses portal berita online untuk secara nyaman berkomunikasi via portal beritaonline. Identitas baru yang dibuat bisa saja diketahui kemudian hari, namun pengakses portalberita dan pemilik akun anonymous tidak gentar dan takut karena mereka merasa benar danberkomentar secara sopan.
Fenomena Gitaran Sore Sore Di PRO TV Dalam Mendidik Masyarakat Yuanisa Meistha; Adi Nugroho; Hedi Pudjo Santosa; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.605 KB)

Abstract

Sebagai sebuah acara hiburan yang mendidik, program acara “Gitaran Sore Sore” di ProTVdirasakan masih kurang mampu menarik minat masyarakat, khususnya di kalangan pelajar danmahasiswa sebagai targetnya. Hal ini dibuktikan walaupun Kota Semarang yang merupakan kotapelajar, namun animo pelajar dan mahasiswa untuk menonton acara “Gitaran Sore Sore” tergolongmasih rendah. Hasil survey suaramerdeka.com menegaskan fenomena yang serupa. Mengacufenomena di atas, peneliti tertarik untuk meneliti “mengapa acara Gitaran Sore Sore di ProTVkurang mampu menarik minat masyarakat?.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuikeunikan acara “Gitaran Sore Sore” di ProTV sehingga kurang mampu menarik minat masyarakat.Permasalahan penelitian di atas didekati melalui social learning theory dan model uses andgratification, di mana salah satu fokus dasarnya adalah adanya asumsi bahwa menarik tidaknyasuatu acara sangat tergantung dalam perseptual dan fokus dari penerima pesan. Model uses andgratification menekankan bahwa audiens akan cenderung mengkonsumsi suatu acara di mediamassa apabila sesuai dengan kepentingannya dan memperoleh kepuasan dari aktivitas konsumsiyang dilakukan terhadap media massa. Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian, makatipe deskriptif analitis yang digunakan, karena tujuan penelitian deskriptif analisis adalah untukmembuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifatpopulasi atau daerah tertentu. Narasumber yang digunakan sebanyak 5 (lima) orang yangdianggap mengetahui masalah penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian diketahui: 1) Terjadi penurunan minat menonton yang cukupsignifikan pada program acara yang edukatif dan menghibur di Pro TV, seperti; Made In Indonesia,Gitaran Sore Sore, Jejak Jelajah Wisata, Bio7 dan Cooking Show Dimarco, di mana pada saatyang sama mengalami penurunan pemasukan iklan, khususnya di tahun 2013 dan 2014. Kebijakanperubahan strategi programming yang kurang kondusif bagi segmentasi pasar yang dilakukanProTV diduga merupakan aspek dan faktor penting, yaitu sebagai determinasi pokok terhadapminat menonton ProTV; 2) Langkah strategis berupa perubahan strategi programming ke arahacara yang lebih edukatif dan menghibur yang ternyata belum mampu meningkatkan minatmenonton, dapat dijelaskan dengan uses and gratification model yang mengidentifikasi segmentasidan target audience-nya sebagai salah satu informasi dalam menentukan format dan programacara yang disajikan, melakukan berbagai promo on air dan off air, di samping urgensi tentangperlunya melakukan monitoring terhadap pasar; 3) Program–program yang ditayangkan ProTVseperti; Gitaran Sore-Sore, dan program in house yang ditayangkan cukup memberikan imagestation Pro TV karena sesuai dengan segmentasi dan target audience-yang dibidiknya, walaupunsecara kuantitatif belum mampu meningkatkan minat menonton secara umum; 4) Perluasan pasaryang dilakukan ProTV yang diikuti dengan program– program yang lebih variatif beserta segalastrategi programming-nya ini mampu meningkatkan audience share ProTV yang berimbas pulapada meningkatnya pendapatan melalui iklan karena rating yang tinggi.Keywords: Gitaran Sore Sore, Program acara hiburan yang Mendidik.
Meme Comic dengan Isu Pemilihan Presiden 2014 Nailah Fitri Zulfan; Hedi Pudjo Santosa; Much Yulianto; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.597 KB)

Abstract

Foto/gambar apa pun bisa dibuat meme comic dan juga bisa disesuaikan dengan situasi tertentu yang sedang hangat dibicarakan masyarakat. Seperti pemberitaan di media konvensional yang selalu terkini, meme comic pun menampilkan isu-isu terkini yang sedang hangat di masyarakat. Tahun 2014 merupakan tahun politik, karena pada tahun ini terdapat pemilihan presiden dan wakil presiden. Isu politik menjadi ramai dibicarakan, termasuk dibicarakan lewat meme comic. Meme comic menjadi wadah pembicaraan masyarakat mengenai pemilihan presiden 2014. Perbincangan politik terkait pemilihan presiden 2014 yang berat ditampilkan lewat meme comic yang menghibur.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis semiotika mitos yang dikembangkan Roland Barthes. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna yang ditampilkan lewat meme comic dengan isu pilpres 2014. Peneliti menggunakan paradigma kritis untuk mengkaji dan mendeskripsikan meme comic bertema isu Pilpres 2014. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Pop Culture, Teori Postmodern, Teori Media Baru.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meme comic dengan isu pilpres 2014 menampilkan makna-makna tersembunyi, yaitu humor yang sudah dikawinkan dengan isu politik. Fungsinya adalah untuk membungkus isu politik yang sensitif dan kaku agar menjadi lebih ringan dan diterima semua kalangan tanpa harus membuat tersinggung. Isu politik lewat meme comic pilpres 2014, menjadikan kritik, saran dan ledekan yang diarahkan kepada capres-cawapres menjadi sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius dan kaku. Makna lain yang ditampilkan adalah meme comic dengan isu pilpres 2014 ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari ide yang benar-benar baru. Meme comic merupakan bentuk intertektualitas, dimana ide yang terbentuk dari ide yang sudah ada sebelumnya.Keyword: Meme Comic, Politik, Humor, Intertekstual
SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer ) Dwinda Harditya; Hedi Pudjo Santosa; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.912 KB)

Abstract

Nama : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Judul : SOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAM TABLOID SOCCER (Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Story di Tabloid Soccer )ABSTRAKSIWAGs merupakan akronim dari wives and girfriends. WAGs pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 sebagai bentuk kekesalan terhadap para pacar dan istri personel Timnas Inggris yang dianggap mengganggu konsentrasi dan membawa dampak yang negatif. Pada perkembangannya istilah ini digunakan untuk menyebut para pacar dan istri pesepak bola profesional. Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid bertema sepak bola di Indonesia yang secara khusus membahas tentang sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sosok WAGs yang direpresentasikan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Selain itu, penelitian ini juga ingin membedah konstruksi sosok WAGs untuk mencari nilai tersembunyi tentang sosok WAGs Teori yang digunakan adalah teori representasi dari Stuart Hall dan Teori tentang konstruksi perempuan dalam tabloid. Tipe penelitian adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan semiotika. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan sintagmatik dan paradigmatik dengan pendekatan analisis narasi dan pemikiran Roland Barthes tentang teknik konotasi pesan fotografis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tabloid Soccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.Kata kunci : perempuan, tabloid, representasi, stereotip, fenomena sepak bola.Name : Dwinda HardityaNIM : D2C009014Title : WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) FIGURES IN TABLOID SOCCER (Semiotical Analysis of Soccer Babes Column and Love Story Column in Tabloid Soccer)ABSTRACTWAGs is an acronym for wives and girfriends. WAGs, first introduced by British journalists at the World Cup 2006 in Germany as a form of resentment against the wives and girlfriends who are interfere concentration of England national team personnel and have a negative effect. In the development, this term is used to describe all the wives and girlfriends professional footballer . Soccer is one of the football tabloid in Indonesia that specifically discusses the WAGs figures in Soccer Babes column and Love Story column.The purpose of this research is to identify the WAGs figures, which is represented by Soccer Babes column and Love Story column. In addition, this research also wanted to dissect WAGs construction to find the hidden value. This research used representation theory of Stuart Hall and theories about the construction of women in the tabloids. The type of research is a qualitative descriptive with semiotical approach and documentation technique for collecting data. Data analysis was performed with the syntagmatic and paradigmatic analysis with narrative analysis approach and message connotations photographic technique by Roland Barthes .The results showed, WAGs of professional footballers have positive values, both through with narrative and image display. WAGs with the main role and the positive values will covered negative values, which is generated by the previous WAGs. Soccer helps to introduce and establish a new understanding to the readers about WAGs figures through display and narrative in Soccer Babes column and Love Story column.Keywords : women, tabloid, representation, stereotypes , phenomenon of footballSOSOK WAGs (WIVES AND GIRLFRIENDS) DALAMTABLOID SOCCER(Analisis Semiotika Kolom Soccer Babes dan Kolom Love Storydi Tabloid Soccer)I. PENDAHULUANWAGs (dibaca wog) merupakan akronim dari wives and girfriends, sebuah istilah yang dilekatkan pada pacar dan istri para pesepak bola profesional. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh para jurnalis Inggris pada perhelatan Piala Dunia 2006 di Jerman. Para WAGs personel Inggris tersebuat antara lain sosok Victoria Adams, mantan vokalis Spice girls yang merupakan istri David Beckham, Cheryl Tweedy istri dari bek Inggris Ashley Cole sekaligus anggota grup musik Girls Aloud, Alex Curran, super model Eropa yang sekaligus istri dari Steven Gerrard, dan masih banyak lagi yang kesemuanya merupakan artis, model, public figure papan atas di Inggris maupun Eropa. Para jurnalis Inggris yang dikenal tajam dalam mengkritik, menganggap para WAGs tersebut menjadi kambing hitam atas kegagalan Inggris di Piala Dunia 2006. Para WAGs tersebut dianggap mengganggu konsentrasi para pemain karena harus menemani dan melayani kehidupan sosialita mereka seperti berbelanja di butik dan pergi ke salon.Sejak saat itu, istilah, WAGs sudah menjadi sebuah stereotip negatif bagi para pacar dan istri pesepak bola profesional. Stereotip negatif yang dimaksud adalah para pacar dan istri mereka dianggap sebagai pendompleng status kepopuleran para pesepak bola profesional tersebut, selain itu penghasilan pesepak bola profesional yang tinggi dianggap menjadi daya tarik. Bagi para WAGs, selain gaji para pesepak bola yang tinggi, ketenaran akibat prestasi yang ditorehkan oleh para pesepak bola tersebut secara tidak langsung turutmenaikkan nama WAGs tersebut di mata masyarakat. Mereka yang awalnya berasal dari sosok yang tidak dikenal, belum terlalu terkenal di mata masyarakat, secara tiba-tiba dapat menjadi populer seiring dengan prestasi pacar atau suami mereka di dunia sepak bola, atau sosok yang terkenal dapat meningkatkan popularitas dengan berpacaran dengan pesepak bola profesional yang berprestasi. Media memiliki peran besar dalam memperkenalkan sosok WAGs tersebut lewat berbagai cara. Pertama, cara yang dilakukan adalah dengan mengkategorisasikan para WAGs tersebut. Kedua, melalui kontroversi yang dilakukan oleh pesepak bola terhadap WAGsnya maupun sebaliknya.Tabloid Soccer merupakan salah satu tabloid olahraga yang khusus mengambil tema sepak bola. Tabloid olahraga yang terbit di Indonesia yang membahas secara spesifik mengenai sosok WAGs melalui kolom Soccer babes dan love story. Kedua kolom tersebut termasuk dalam kategori rubrik Soccer Style dalam tabloid ini. Soccer Style merupakan salah satu rubrik dalam Tabloid Soccer yang membahas mengenai sisi lain dunia sepak bola. Soccer mencoba memberikan ruang bagi para perempuan untuk dapat muncul dalam tabloid olahraga yang seringkali didominasi oleh laki-laki. Hal tersebut salah satunya coba diwujudkan dengan cara menampilkan sosok WAGs yang selama ini jarang dibahas secara mendalam oleh media lain. Melalui kedua kolom tersebut, sosok WAGs coba diprofilkan sekaligus diperkenalkan kepada para pembaca tabloid ini. Sebagai sebuah media cetak, Soccer memiliki ideologi sendiri dalam menampilkan sosok WAGs. Soccer memiliki tampilan atau cara tersendiri untukmenghadirkan sosok ini bagi para pembacanya. Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Soccer merepresentasikan sosok WAGs dalam kolom Soccer Babes dan Love Story. Penelitian ini menggunakan pendekaan teori representasi dari Stuart Hall, Tabloid dan konstruksi perempuan dari Martin Hamer dan Martin Conboy. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan semiotika dengan analisis data secara sintagmatik melalui analisis narasi dan teknik konotasi pesan fotografis dari Roland Barthes. Selain analisis sintagmatik, peneliti menggunakan analisis paradigmatik untuk mencari nilai tersembunyi yang terdapat dalam Soccer yang menampilkan sosok WAGs melalui kolom Soccer Babes dan Love Story.II. ISIDari dua belas sosok WAGs yang diwakili oleh sosok Eleanor Abbagnato, Michella Quattrocioche, Carolina Marcialis (Liga Italia), Heather Weir, Ursula Santirso, Georgina Dorsett (Liga Inggris), Pilar Rubio, Jorgelina Cardoso, Carolina Martin (Liga Spanyol), Maria Imizcoz Garcia, Lilli Hollunder, dan Anna Stachurska (Liga Jerman), yang termuat dalam kolom Soccer Babes dan kolom Love Story. Menurut Vladimir Propp, analisis sintagmatik menggunakan unit narasi dasar yang disebutkan oleh Propp sebagai sebuah “fungsi”, fungsi tersebut dapat diperoleh dari berbagai adegan atau bagian yang terdapat dalam film, komik, televisi, dan segala jenis produk media yang mengandung narasi (Berger, 1991: 14). Analisis paradigmatik digunakan untuk mencari nilai-nilai atau ideologi yang tersembunyi dalamteks yang mampu membangkitkan makna tertentu bagi pembaca (Berger, 1991: 18), secara analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik maka diperoleh nilai-nilai antara lain :1. Secara sintagmatik, melalui analisis narasi dan analisis fotografis Roland Barthes, Tabloid Soccer menampilkan sosok WAGs sebagai sosok perempuan yang aktif, memiliki pengaruh, ceria, setia independen, memiliki bakat, dan berprestasi. Melalui gambar, sosok WAGs ditampilkan Soccer sebagai sosok perempuan modis, berparas cantik, dan menampilkan nilai sensualitas perempuan dalam batas kewajaran.2. Secara paradigmatik, ada lima nilai yang bisa dipetik dari dua belas sosok WAGs yang diteliti, yaitu WAGs sebagai sosok penentu karir, WAGs sebagai pasangan ideal, WAGs sebagai perempuan mandiri, WAGs sebagai sosok perempuan pecinta fashion, dan WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci.Pertama, Sosok WAGs sebagai penentu karir. Definisi WAGs sebagai sosok penentu karir adalah Sosok WAGs yang memiliki pengaruh besar terhadap karir pasangannya sebagai pesepak bola profesional, seperti pengaruh WAGs dalam menentukan klub yang dipilih oleh pasangannya dan WAGs membantu meningkatkan perubahan moral pasangannya dalam karir sepak bola.Kedua, WAGs sebagai sosok pasangan ideal didefinisikan bahwa sosok WAGs membantu memberi dukungan terhadap pasangannya sebagai pesepak bola profesional, dan menjadi sosok yang bisa diandalkan untuk membangun komitmen dalam membina sebuah hubungan.Ketiga, WAGs sebagai perempuan mandiri memiliki definisi sosok WAGs yang secara ekonomi mampu memiliki profesi yang bisa diandalkan untuk hidup, dan tidak bergantung dari penghasilan pasangannya. Hal ini sebagai perwujudan liberalisme secara ekonomi dan eksistensi yang dilakukan oleh WAGs.Keempat, WAGs sebagai sosok pecinta fashion didefinisikan sebagai sosok WAGs yang memiliki selera fashion yang baik, karena latar belakang sosok WAGs yang mayoritas merupakan selebriti sehingga memiliki selera fashion yang cukup baik, selain itu fashion merupakan salah identitas yang membangun karakter sosok WAGs.Kelima, sosok WAGs sebagai sebuah stereotip yang dibenci oleh perempuan didefinisikan sebagai WAGs merupakan sebuah stereotip yang diciptakan media-media di Inggris dan berkonotasi negatif, dari hasil penelitian ditemukan beberapa WAGs yang secara nyata menolak sebutan itu karena mampu mempengaruhi nilai dan peran mereka di mata masyarakat.Dari kelima nilai tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa Tabloid Soccer, membantu memperkenalkan dan membentuk pemahaman baru kepada pembacanya tentang sosok WAGs, lewat WAGs yang ditampilkan melalui kolom Soccer Babes dan kolom Love Story.III. PENUTUPSoccer menampilkan para pacar dan istri pesepak bola profesional tersebut dengan nilai-nilai yang positif, baik melalui narasi maupun tampilan gambar. Dengan menampilkan sosok WAGs dengan peran dan nilai-nilai positif tersebut, nilai-nilai negatif yang dihasilkan oleh pemaknaan WAGs terdahulu akan tertutupi. Dalam hal ini, media berperan membentuk makna baru dengan merepresentasikan nilai-nilai dan bentuk yang berbeda.Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa Soccer tidak sekadar menganggap para WAGs sebagai news candy semata, melainkan ada nilai yang coba disampaikan kepada pembacanya, misalnya nilai kemandirian. Dalam penelitian ini, sosok WAGs telah mengalami pergeseran nilai yang ke arah positif dibanding ketika istilah ini muncul pertama kali pada 2006. Hal ini menunjukan bahwa sosok WAGs saat ini tidak bisa digeneralisir dengan makna terdahulu, perlu adanya pembanding atau informasi mendalam yang menunjukkan sosok WAGs memiliki nilai positif atau negatif.DAFTAR PUSTAKASUMBER BUKU :Barker, Chris. 2004. Dictionary Of Cultural Studies. London : Sage Publications.Barthes, Roland. 1990. Imaji, Musik, dan Teks. Yogyakarta : Jalasutra.Berger, Arthur Asa. 1991. Media Analysis Techniques. London : Sage Publications.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta: Jalasutra.Cashmore, Elish. 2002. Key Concepts Sports and Exercise Psychology. London: Routledge.Coakley, Jay. 2001. Sports in Society : Issues & Controversies. New York: Mc Graw Hill.Conboy, Martin. 2006. Tabloid Britain. London : Routledge.Danesi, Marcel. 2010. Memahami Semiotika Media. Yogyakarta : Jalasutra.Denzin, Norman & Yvonna Lincoln. 1994. The SAGE Handbook of Qualitative Research. London: Sage Publications.Eriyanto. 2001. Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta : LKIS. Fiske, John. 2004. Cultural and Communication Studies : Sebuah pengantar paling Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra. Hall, Stuart. 1997. Representation : Cultural Representation and Signifying Practises. London : Sage Publications.Hamer, Martin. 2004. Key Concepts In Journalism Studies. London : Sage Publications.Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kawamura, Yuniya. 2005. Fashionology: an introduction to fashion studies. Oxford: Berg Publisher. Kuper, Simon & Stefan Szymanski. 2009. Soccernomics. New York : Nation Books. Leslie, Larry Z. 2011. Celebrity in 21 Century. California : ABC CLIO LLC. Potter, Deborah. 2006. Handbook of Independent Journalism. United States: Bureau of International Information Programs U.S. Department Of State. Putnam, Hilary. 2001. Representation and Reality. Cambridge : The Mit Press. Rojek, Chris. 2001. Celebrity. London: Reaktion Books. Sugiarto, Atok. 2005. Paparazzi: Memahami Fotografi Kewartawanan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Scapp, Ron & Brian Seitz. 2010. Fashion Statements. New York: Palgrave Macmilan. Schwarzmantel, John. 2008. Ideology and Politics. London: Sage Publications. Sterling, Cristopher H. 2009. Encyclopedia of Journalism. London : Sage Publications. Tannsjo, Torbjorn & Claudio Tamborini. 2000. Values in Sport. London: E & FN Spon. Tong, Roesmarie Putnam. 2008. Feminist Thought. Yogyakarta : JalaSutra. Turner, Rachel S. 2008. Neo Liberal Ideology: History, Concepts, and Policies. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis Dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism, and Media. United Kingdom: Edinburgh University Press Ltd. Urrichio, William. 2008. Media, Representations, and Identities. United Kingdom: Intellect Books.Van loon, Borin, dkk. 2008. Introducing Media Studies. Yogyakarta : Resist Book. Watkins, Susan Alice dkk. 2007. Feminisme untuk Pemula. Yogyakarta : Resist Book. Webb, Jenn. 2009. Understanding Representation. London : Sage Publications. Wood, Julie T. 1994. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. Stamford: Wadswoerth Publishing.SUMBER MEDIA CETAK : London Evening Standard, 5 July 2006.London Lite, 14 May 2007.Times Magazine, New Yorker, & Sunday Times, July 2006. New Yorker, 3 July 2006. The Football Agents, Buklet Tabloid Bola Edisi 03, Terbit 28 Januari 2013. 20 Highest Paid Footballers, Buklet Tabloid Bola Edisi 17, Terbit 6 Mei 2013. Tabloid Soccer edisi 1 September 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Oktober 2012. Tabloid Soccer edisi 15 Desember 2012 Tabloid Soccer edisi 26 Januari 2013 Tabloid Soccer edisi 2 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 16 Februari 2013 Tabloid Soccer edisi 11 Mei 2013 Tabloid Soccer edisi 1 Juni 2013 Tabloid Soccer edisi 22 Juni 2013.SKRIPSI : Ayun, Primada Qurrota. 2011. Representasi Perempuan dalam Rubrik Sosialita Koran Kompas. Skripsi : Universitas Diponegoro. Savitri, Isma. 2009. Representasi Perempuan dalam Tabloid Bola. Skripsi: Universitas Diponegoro. Tambunan, Chrismanto. 2010. Konstruksi Perempuan Pada Iklan Obat Kuat di Media Cetak. Skripsi: Universitas Diponegoro.SUMBER INTERNEThttp://www.biography.com/people/mia-hamm-16472547, diakses 2 juli 2013. www.bola.net/bolatainment/shakira-dinobatkan-sebagai-WAGs-tercantik-di-euro-2012-b33ff4.html, diakses 9 Maret 2013. www. bolamaster.com, diakses 27 Juni 2013. bleachreport.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.cbc.ca/sports/soccer/fifawomensworldcup2011/story/2011/05/27/spf-homare-sawa.html, diakses 2 juli 2013. dnaberita.com, diakses 27 Juni 2013. www. detiksport.com, diakses 19 Mei 2013. www.duniasoccer.com, diakses 27 Juni 2013.http://www.fifa.com, diakses 2 Juli 2013. Footbalerswives.com, diakses 27 Juni 2013. google images.com/WAGsEngland2006, 19 Mei 2013. Hufftington.post, diakses 27 Juni 2013. Lavaguardian.com, diakses 27 Juni 2013 www. kapanlagi.com, diakses 27 Juni 2013 Madrid-Barcelona.com , diakses 27 Juni 2013www. namafb.com, diakses 9 Maret 2013. Mirror.co.uk, diakses 27 Juni 2013. Reveal.co.uk, diakses 27 Juni 2013.http://rsssf.com/tableso/ol-women.html, diakses 2 Juli 2013. http://www.thesun.co.uk/themostbeautifulWAGs, diakses 27 Juni 2013 uk.omg.yahoo.co.uk, diakses 27 Juni 2013. www.wowkeren.com, diakses 27 Juni 2013zimbio.com, diakses 27 Juni 2013.www. zonabola.com, diakses 19 Mei 2013.
Pemaknaan Khalayak Terhadap Ruang Privat Pada Tayangan Suka Suka Uya Oki Riski Karlisna; Hedi Pudjo Santosa; Hapsari Dwiningtyas; Lintang Ratri Rahmiaji
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.391 KB)

Abstract

Tayangan Suka Suka Uya merupakan sebuah variety show yang ingin memberikan alternatif hiburan bagi pemirsanya dengan menghadirkan bintang tamu public figure untuk direlaksasi, menceritakan apapun tentang kehidupan pribadinya sehingga batas antara ruang privat dan ruang publik di media seolah menjadi kabur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi Stuart Hall yang bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis keberagaman interpretasi khalayak tentang ruang privat public figure yang dikemas dan ditampilkan dalam tayangan Suka Suka Uya serta bagaimana khalayak mendeskripsikan ruang privat di media, khususnya televisi. Hasil penelitian menunjukkan ada tiga tipe pemaknaan mengenai interpretasi khalayak terhadap ruang privat public figure yang dikemas dan ditampilkan dalam tayangan Suka Suka Uya. Dominant – hegemonic reading adalah posisi dimana khalayak menyetujui makna dominan (preferred reading) bahwa batas antara ruang privat dan publik kabur, melebur jadi satu, dan dianggap sebagai sebuah hal yang wajar bagi seorang public figure karena adanya voyeurism dan penerimaan informasi privat oleh khalayak sebagai hiburan. Negotiated reading dimana khalayak menyetujui makna dominan dari teks media dengan pertimbangan terdapat perbedaan batasan antara public figure dan orang biasa mengenai ruang privat. Khalayak menegosiasikan hal tersebut karena batasan ruang privat public figuredianggap berbeda dan lebih luas sebagai konsekuensi dari profesinya serta selera informan pada bintang tamu yang hadir. Terakhir, opositional reading adalah posisi dimana khalayak secara tegas menolak makna dominan yang ditawarkan oleh teks media karena mereka menganggap bahwa batasan ruang privat dan publik tetap ada dan masing – masing orang termasuk public figure. Ruang privat dideskripsikan sebagai aib yang tabu dibicarakan di ruang publik. Selain itu, perbedaan pemaknaan terhadap ruang privat juga muncul karena perbedaan gender informan, laki – laki dan perempuan. Informan perempuan cenderung lebih menerima terbukanya ruang privat dibandingkan informan laki – laki. Keywords : resepsi, ruang privat, public figure, khalayak
Co-Authors Adi Nugroho Agus Naryoso S.Sos, M.Si, Agus Naryoso Angga Dwipa Annie Renata Siagian Apriani Rahmawati Arlita Dwi Utami Arum Sawitri Wahyuningtias Asti Kusumaningtyas Ayu Permata Sari Ayu Pramudhita Noorkartika Ayunda Sari Rahmahanti Bagas Satria Pamungkas Brillian Barro Vither Cantya Darmawan Purba Dewanta Citra Luckyta Lentera Gulita Danieta Rismawati Debi Astari Dian Kurniati Diandini Nata Pertiwi Dilla Maulida Distian Jobi Ridwan Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dwinda Harditya Dyah Puspita Saraswati Eleonora Irsya Fahrina Ilhami Febri Ariyadi Fransiska Candraditya Utami Galih Arum Sri Gelar Mukti Ghela Rakhma Islamey Gilang Maher Pradana Gilang Wicaksono Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani I Nyoman Winata Indra Prasetya Jenny Putri Avianti Jimmy Fachrurrozy Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Kaisya Ukima Tiara Anugrahani Kartika Ayu Pujamurti Kevin Devanda Sudjarwo Lintang Ratri Rahmiaji Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Mirnalia Mazaya Mirtsa Zahara Hadi Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Imaduddin Nailah Fitri Zulfan Nanda Dwitiya Swastha Nofita Fatmawati Noni Meisavitri Nugraheni Yunda Nuraga Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Oki Adi Saputra Oki Riski Karlisna Phopy Harjanti Bulandari Primada Qurrota Ayun Puji Purwati Rangga Akbar Pradipta Ria Rahmawati Rika Futri Adelia Rika Kurniawati Rizki Rengganu Suri Perdana Rizky Kusnianto Sallindri Sanning Putri Sarah Veradinata Purba Sefti Diona Sari Sembiring, Rinawati Shabara Wicaksono Sri Widowati Herieningsih Sulastri _ Tandiyo Pradekso Taufik Suprihartini Taufik Suprihatini Theresa Christya A Theresia Dita Anggraini Tri Hastuti Caisari Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Vania Ristiyana Wahyu Widiyaningrum Wiwied Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yuanisa Meistha Yudi Agung Kurniawan Yuliantika Hapsari