Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS BERPIKIR KRITIS DENGAN TEMA VENTILATOR PADA SISWA SMP/MTs KELAS VIII Yuliawati Susana; Sarwanto Sarwanto; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 4, No 2 (2015): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v4i2.9606

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) karakteristik modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis pada tema ventilator sehingga dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa di SMP Negeri 6 Purwodadi; (2) kelayakan modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis pada tema ventilator sesuai dengan kriteria standar kelayakan bahan ajar dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) di SMP Negeri 6 Purwodadi; (3) keefektifan modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis pada tema ventilator dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 6 Purwodadi. Penelitian dan pengembangan modul IPA terpadu ini menggunakan prosedur 4-D Models yang terdiri dari 4 tahap yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap pendistribusian(disseminate). Analisis data yang digunakan selama proses penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria,analisis tes kemampuan kognitif melalui t-test dan gain score serta analisis deskriptif dengan persentase untuk kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan: (1)karakteristik modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis menggunakan keterpaduan integrated telah berhasil dikembangkan dengan fitur-fitur berdasarkan indikator berpikir kritis yaitu focus, reasons, inference, situation, clarity, dan overview; (2) modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis dengan tema ventilator yang dikembangkan sangat layak digunakan dalam pembelajaran ditinjau dari aspek isi, keterpaduan, berpikir kritis, penyajian, kegrafikan dan bahasa; (3) modul IPA terpadu berbasis berpikir kritis dengan tema ventilator yang dikembangkan telah digunakan efektif untuk pembelajaran dengan hasil perolehan persentase sebesar 75,00% ditinjau dari aspek kemampuan berpikir kritis.
PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP EFIKASI DIRI DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN PADA SISWA SMA DITINJAU DARI LETAK DAN STATUS SEKOLAH Revolusi Prajaningrat Saktiyudha; Puguh Karyanto; Suciati Suciati
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 7, No 3 (2018): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v7i3.31720

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh model experiential learning terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan pada siswa di kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan; (2) interaksi antara siswa pada kelas yang menerapkan model konvensional dengan metode praktikum dan kelas yang menerapkan model experiential learning dengan letak sekolah terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan; (3) interaksi antara siswa di sekolah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan dengan status sekolah terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan desain faktorial 2×2×2. Populasi penelitian adalah siswa SMA kelas X di SMA N 3 Sukoharjo, SMA Veteran 1 Sukoharjo, SMA N 1 Bulu dan SMA Kristen Kalam Kudus Sukoharjo Tahun Pelajaran 2015/2016. Sampel terdiri dari 239 siswa SMA negeri dan swasta pada kawasan perkotaan dan perdesaan di kelas yang menggunakan model konvensional dan model experiential learning. Sampel dipilih melalui teknik cluster random sampling. Kelas X2, XA, X4, dan XD menggunakan model konvensional dan kelas X1, XB, X2, dan XB menggunakan model experiential learning. Data dikumpulkan dengan metode angket. Analisis data sesuai deskriptif kuantitatif menggunakan Uji Anova dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan siswa pada kawasan perkotaan adalah 59,63 dan pada kawasan perdesaan adalah 60,93. Kesimpulan penelitian adalah: (1) terdapat pengaruh model experiential learning terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan pada siswa di kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan; (2) tidak terdapat interaksi antara siswa pada kelas yang menerapkan model konvensional dengan metode praktikum dan kelas yang menerapkan model experiential learning dengan letak sekolah terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan; dan (3) terdapat interaksi antara siswa di sekolah kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan dengan status sekolah terhadap efikasi diri dalam pembangunan berkelanjutan.
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS PREDICT, PLANNING, OBSERVE, EXPLAIN, WRITE (P2OEW) PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA Yenny Putri Pratiwi; Sajidan Sajidan; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 4, No 4 (2015): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v4i4.9640

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Pengembangan modul berbasis P2OEW, 2) Kelayakan modul berbasis P2OEW, dan 3) Keefektifan modul berbasis P2OEW pada materi pencemaran lingkungan kelas X SMA Negeri 7 Surakarta. Pengembangan modul berbasis P2OEW mengacu pada model research and developmen (R&D) dari Borg and Gall yang dimodifikasi meliputi langkah-langkah: 1) penelitian dan pengumpulan data, 2) perencanaan, 3) pengembangan produk awal, 4) uji coba produk awal, 5) revisi produk I, 6) uji coba lapangan terbatas, 7) revisi produk II, 8) uji lapangan operasional, dan 9) revisi produk akhir. Hasil penelitian yaitu: 1) Pengembangan modul berbasis P2OEW dilakukan dengan memperhatikan karakteristik model P2OEW, kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik, materi pencemaran lingkungan, dilengkapi dengan wacana dan lembar kegiatan siswa, 2) Modul berbasis P2OEW layak berdasarkan penilaian dari ahli modul memperoleh 3,25 dengan kategori baik, ahli perangkat memperoleh 3,60 dengan kategori sangat baik, ahli materi memperoleh 3,61 dengan kategori sangat baik, penilaian praktisi memperoleh 3,67 dengan kategori sangat baik, penilaian siswa memperoleh 3,47 dengan kategori baik, dan 3) Modul berbasis P2OEW efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa berdasarkan nilai rerata pengetahuan kelas modul 78,54 dan kelas existing learning 69,74; nilai rerata sikap kelas modul 80,86 lebih baik daripada kelas existing learning 75,04 dalam sikap teliti, tanggung jawab, dan kerjasama; nilai rerata keterampilan kelas modul 80,96 dan kelas existing learning 75,74. Pengembangan modul berbasis P2OEW layak dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA MATERI SISTEM EKSKRESI UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR KRITIS Stevie Christiyoda; Sri Widoretno; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 5, No 1 (2016): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v5i1.9510

Abstract

Penelitian dan pengembangan bertujuan untuk mengembangkan modul berbasis kemampuan pemecahan masalah pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan menghitung efektivitas modul berbasis kemampuan pemecahan masalah pada materi sistem ekskresi dengan modul sekolah dalam hal berpikir kritis. Metode penelitian dan pengembangan modul menggunakan prosedur Borg & Gall yang telah dimodifikasi menjadi sembilan tahap. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan bahwa  modul berbasis kemampuan pemecahan masalah pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan berpikir kritis dikembangkan sesuai dengan aspek kemampuan pemecahan masalah dan aspek berpikir kritis yang divisualisasikan pada tujuan, materi, kegiatan dan soal evaluasi; dan  modul berbasis kemampuan pemecahan masalah pada materi sistem ekskresi efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang ditunjukkan dengan hasil uji anacova untuk perbedaan hasil antara modul berbasis kemampuan pemecahan masalah modul standar pada materi sistem ekskresi adalah FTabel (0,05:2) = 2,37 < FHitung  = 4,16.
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS MODEL PEMBELAJARAN ARIAS UNTUK MEMBERDAYAKAN MOTIVASI DAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI EKOSISTEM Dyah Erlina Sulistyaningrum; Puguh Karyanto; Widha Sunarno
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 4, No 1 (2015): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v4i1.9576

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengembangkan modul berbasis model pembelajaran ARIAS untuk memberdayakan motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem; (2) Mengetahui kelayakan penggunaan modul berbasis model pembelajaran ARIAS untuk memberdayakan motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem; (3) Mengetahui efektivitas penggunaan modul berbasis model pembelajaran ARIAS terhadap motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan (Research and Development) yang merujuk pada Borg dan Gall. Rancangan modul dikembangkan menjadi modul Draft 1. Modul Draft 1 divalidasi oleh validator ahli dan praktisi berdasarkan kelayakan isi, bahasa, penyajian, kegrafikan, basis model pembelajaran ARIAS, berpikir kritis dan motivasi belajar siswa kemudian dilakukan uji coba lapangan kecil pada 10 siswa SMA N Kebakkramat. Setelah merevisi modul berdasar saran dan masukan pada uji skala kecil maka direvisi menjadi modul draft II. Modul draft II kemudian diuji utama pada 15 siswa SMA N Kebakkramat. Berdasar saran dan masukan uji lapangan modul draft II direvisi mnenjadi modul draft III. Modul draft III diuji coba sesungguhnya pada 36 siswa kelas X-8 SMA N Kebakkramat. Keefektifan modul terhadap hasil belajar, motivasi dan berpikir kritis siswa dianalisis menggunakan gain score dinormalisasikan untuk pretest-postest kelas uji coba sesungguhnya. Setelah modul direvisi menjadi produk akhir, dilakukan persebaran untuk pengembangan modul lebih luas. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)Modul berbasis model pembelajaran ARIAS untuk memberdayakan motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem dikembangkan dengan merujuk pada penelitian pengembangan (Research and Development) yang merujuk pada Borg dan Gall; (2) Kualitas modul berbasis model pembelajaran ARIAS untuk memberdayakan motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem yang dikembangkan termasuk kategori sangat baik untuk kelayakan isi, penyajian, kegrafikan, dan sintaks model pembelajaran ARIAS serta menunjukkan kategori baik untuk kelayakan motivasi dan berpikir kritis berdasarkan validator ahli dan praktisi; (3) Modul berbasis model pembelajaran ARIAS untuk memberdayakan motivasi dan berpikir kritis siswa pada materi ekosistem efektif memberdayakan motivasi belajar siswa dengan hasil N-gain score sebesar 0,51 dan efektif memberdayakan berpikir kritis siswa dengan hasil N-gain score sebesar 0,60 dengan kategori sedang.
PENGEMBANGAN MODUL IPA TERPADU BERBASIS MASALAH DENGAN TEMA PENCEMARAN LINGKUNGAN Wiji Hastuti; Widha Sunarno; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 4, No 3 (2015): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v4i3.9632

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) karakteristik modul IPA terpadu berbasis masalah dengan tema pencemaran lingkungan; (2) kelayakan modul IPA terpadu berbasis masalah; (3) keefektifan modul IPA terpadu berbasis masalah dengan tema pencemaran lingkungan dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Karanganyar. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model pengembangan yang digunakan adalah model Four-D yaitu pendefinisian (define), perencanaan (desain), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Analisis data yang dilakukan selama proses penelitian dan pengembangan, meliputi analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria, dan analisis tes kognitif pretest dan posttest melalui t-test. Hasil penelitian menunjukkan: (1) karakteirtik modul IPA terpadu berbasis masalah dengan tema pencemaran lingkungan telah berhasil dikembangkan dengan model pengembangan Four-D melalui tahap pembelajaran berbasis masalah, meliputi: orientasi pada masalah, mengorganisasi belajar melalui observasi, membimbing penyelidikan, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. (2) hasil kelayakan modul dari validator sangat baik ditinjau dari komponen isi, keterpaduan, pendekatan, penyajian, kegrafikan, dan bahasa; (3) modul IPA terpadu berbasis masalah dengan tema pencemaran lingkungan efektif memberdayakan kemampuan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan hasil Gain score sebesar 0,7391 berarti modul ternomalisasi tinggi dengan tingkat efektifitas 42,5% berarti efektifitas sedang.
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INQUIRY LAB UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGANALISIS PADA MATERI SISTEM GERAK KELAS XI IPA Ferida Dwi Karlina; Sajidan Sajidan; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 7, No 1 (2018): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v7i1.19790

Abstract

Tujuan penelitian yaitu: 1) mengetahui karakteristik modul berbasis Inquiry Lab untuk memberdayakan kemampuan menganalisis pada materi sistem gerak, 2) mengetahui kelayakan modul berbasis Inquiry Lab untuk memberdayakan kemampuan menganalisis pada materi sistem gerak, 3) mengetahui keefektivan modul berbasis Inquiry Lab untuk memberdayakan kemampuan menganalisis pada materi sistem gerak di SMA negeri 1 Ngawi. Pengembangan modul berbasis Inquiry Lab mengacu pada 9 langkah model research and development (R&D) dari Borg and Gall meliputi: 1) penelitian dan pengumpulan data, 2) perencanaan, 3) pengembangan produk, 4) uji coba produk awal, 5) revisi produk I, 6) uji coba lapangan, 7) revisi produk II, 8) uji coba lapangan operasional, 9) revisi produk akhir. Analisis hasil penelitian menggunakan dua teknik yaitu deskriptif kualitatif dan diskriptif kuantitatif. Hasil penelitian tentang: 1) Karakteristik Modul Biologi Inquiry Lab pada Materi Sistem Gerak yang dikembangkan menggunakan sintak Inquiry Lab, meliputi observasi, manipulasi, generalisa, verifikasi dan aplikasi. Setiap kegiatan pembelajaran siswa di arahkan untuk menemukan konsep melalui aktivitas laboraturium, 2) Hasil validasi Modul Biologi berbasis Inquiry Lab pada materi sistem gerak dapat digunakan sebagai bahan ajar baru di sekolah. Kelayakan didasarkan atas penilaian terhadap modul melalui uji validasi ahli materi 94,80% dengan kualifikasi sangat baik, validasi ahli pengembangan modul 84,21% dengan kualifikasi sangat baik, validasi ahli perangkat 96,55% dengan kualifikasi sangat baik, validasi ahli keterbacaan 75% dengan kualifikasi baik. Uji kelompok kecil pengguna lapangan (guru dan siswa), validator praktisi (guru) 90,06% dengan kualifikasi sangat baik, dan uji dari lapangan terbatas 81,88% dengan kualifikasi sangat baik, dan uji  keefektifan yang telah sesuai dengan tujuan pengembangan, 3) Keefektifan Modul Biologi berbasis Inquiry Lab pada materi sistem gerak telah efektif dalam memberdayakan kemampuan menganalisis siswa karena menunjukkan adanya perbedaan hasil posttest antara kelas modul dan kelas exiting learning dengan nilai Sig.=0.000 < α=0.05 dengan rata-rata masing-masing kelas modul 75,83 dan kelas exiting learning 69,83.
PENGEMBANGAN MODUL BIOLOGI BERBASIS MODEL GUIDED INQUIRY LABORATORY PADA MATERI BIOTEKNOLOGI Annisa Kartika Nurjanah; Sajidan Sajidan; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 5, No 3 (2016): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v5i3.9438

Abstract

Penelitian dan pengembangan modul ini bertujuan untuk mengetahui: 1) karakteristik produk modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi, 2) kelayakan prototipe modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi, 3) keefektifan modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory pada materi bioteknologi. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan metode Borg & Gall yang telah dimodifikasi menjadi sembilan tahapan: 1) tahap penelitian pendahuluan, 2) tahap perencanaan, 3) tahap pengembangan rancangan awal produk, 4) tahap uji coba lapangan permulaan, 5) tahap revisi produk tahap pertama, 6) tahap uji lapangan terbatas atau uji keterbacaan, 7) tahap revisi produk tahap kedua, 8) tahap uji lapangan operasional, 9) tahap revisi produk akhir. Model pengembangan modul menggunakan desains ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluations). Instrumen yang digunakan meliputi: angket, observasi, wawancara dan tes. Analisis data yang digunakan selama penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, teknik persentase dan uji independen sample t test. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: 1) karakteristik modul berbasis model guided inquiry laboratory dikembangkan berdasarkan sintaks guided inquiry laboratory, meliputi: observation, manipulation, generalitation,verifikation dan aplication, 2) kelayakan prototipe modul berbasis model guided inquiry laboratory menurut para ahli berkategori “sangat baik”, praktisi pendidikan berkategori “sangat baik” dan menurut siswa berkategori “sangat baik”, 3) modul biologi berbasis model guided inquiry laboratory efektif meningkatkan hasil belajar aspek sosial dengan skor rata-rata sebesar 85.94, aspek keterampilan dengan skor rata-rata sebesar 93.47, aspek pengetahuan siswa dengan skor rata-rata sebesar 86.58, berdasarkan hasil uji independent sample t test menunjukkan adanya perbedaan postest hasil belajar aspek pengetahuan antara kelas modul dengan kelas existing pada materi bioteknologi dengan signifikan T Hitung (0,002) < T Tabel (0.05). 
KEEFEKTIFAN PRODUK PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF UNTUK MENGUKUR KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA (MENURUT TAKSONOMI BLOOM YANG TEREFISI) PADA MATERI PROTISTA Eny Tarliany; Sajidan Sajidan; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 8, No 1 (2019): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v8i1.31818

Abstract

Tujuan penelitian yaitu: Menguji keefektifan produk pengembangan instrumen penilaian kognitif untuk mengukur kemampuan kognitif siswa pada materi protista. Pengembangan instrumen penilaian kognitif untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi mengacu pada model research and development (R&D) modifikasi dari Borg and Gall meliputi 9 langkah, yaitu: 1) penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi, 2) perencanaan, 3) pengembangan produk awal, 4) uji coba produk awal, 5) revisi produk I, 6) uji coba lapangan, 7) revisi produk II, 8) uji coba lapangan operasional, dan 9) revisi produk akhir. Pada penelitian ini hanya dilakukan sembilan tahapan R&D. Analisis hasil penelitian menggunakan teknik deskriptif dan kualitatif. Hasil penelitian  meliputi: 1) produk pengembangan instrumen penilaian kognitif dikembangkan berdasarkan indikator keterampilan proses kognitif menurut Anderson dan Krathwohl 2010, 2) kelayakan isi produk instrumen penilaian kognitif untuk mengukur keterampilan proses kognitif termasuk dalam kategeri “sangat baik” dan validitas konstruk “sangat baik”; validitas butir soal dengan kategori interpretasi minimal “cukup”; tingkat kesukaran soal dengan proporsi 11,00% kategori sedang dan 89,00% kategori sulit; daya beda dengan interpretasi minimal “cukup”; kepraktisan soal termasuk aktegori “baik”, 3) Perbedaan nilai kemampuan kognitif siswa kelas evaluasi dengan GDL (77,10) dengan kelas existing learning dengan DL (70,60) menunjukkan keefektifan produk instrumen penilaian kognitif ini.
PENGEMBANGAN MODUL BERBASIS INQUIRY LESSON UNTUK MENINGKATKAN DIMENSI KONTEN PADA LITERASI SAINS MATERI SISTEM PENCERNAAN KELAS XI Meika Meika; Suciati Suciati; Puguh Karyanto
INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA Vol 5, No 3 (2016): INKUIRI: Jurnal Pendidikan IPA
Publisher : Magister Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/inkuiri.v5i3.9450

Abstract

Tujuan penelitian dan pengembangan: 1) Karakteristik modul berbasis  inquiry lesson untuk meningkatkan dimensi konten pada literasi sains; 2) Menguji kelayakan modul berbasis  inquiry lesson; 3) Menguji Keefektivan modul berbasis inquiry lesson untuk meningkatkan dimensi konten pada literasi sains siswa materi Sistem Pencernaan kelas XI. Penelitian dan pengembangan modul ajar menggunakan model prosedur Borg & Gall (1983) yang telah dimodifikasi yang meliputi 10 tahap: 1) penelitian dan pengumpulan data; 2) perencanaan; 3) pengembangan produk awal; 4) uji coba lapangan awal; 5) revisi produk I; 6) uji coba lapangan utama; 7) revisi produk II; 8) uji coba operasional; 9) revisi produk akhir; 10) diseminasi dan implementasi. Pengembangan modul meliputi validator yang terdiri dari: ahli materi, ahli penyajian, ahli bahasa, ahli perangkat pembelajaran, 2 praktisi, dan uji skala kecil berjumlah 10 siswa. Uji coba lapangan utama menggunakan modul terdiri dua kelas yaitu Kelas XI IA3 dan XI IA4. Data kemampuan dimensi konten pada literasi sains dianalisis dengan N-Gain ternormalisasi untuk mengetahui keefektivan modul berbasis inquiry lesson. Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: 1) Karakteristik modul berbasis inquiry lesson yang dikembangkan sesuai sintaks inquiry lesson meliputi: observasi, manipulasi, generalisasi, verifikasi, aplikasi; 2) Kelayakan modul menurut para validator dengan kategori sangat baik ”89,23%”, praktisi dengan kategori sangat baik “85,42%”dan siswa dengan kategori sangat baik ”84,33%”; 3) Keefektivan modul yang dikembangkan berbasis inquiry lesson dibuktikan dengan uji Wilcoxon, yang menunjukkan ada perbedaan dalam dimensi konten pada literasi sains sebelum dan sesudah menggunakan modul berbasis inquiry lesson memiliki probabilitas (p) sebesar 0,000 (p<0,05), Ho ditolak. Kesimpulan dari penelitian dan pengembangan adalah modul berbasis inquiry lesson layak dan efektif meningkatkan dimensi konten pada literasi sains materi Sistem Pencernaan kelas XI.