Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Regenerasi Tari Jepin Tembung Panjang di Kota Pontianak: Regeneration of the Jepin Tembung Panjang Dance in Pontianak City Oktariani, Dwi
Wacana : Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran Vol 8 No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbsp.v8i1.22306

Abstract

Tari Jepin Tembung Panjang berkembang di kota Pontianak pada masyarakat melayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebuah proses regenarasi yang terjadi pada Tari Jepin Tembung Panjang agar tetap terjaga kelestariannya. Mengingat bahwa maestro tarian ini yaitu bapak M. Yusuf Dahyani sudah memasuki usia tua dan merupakan satu-satunya seniman yang tersisa sehingga dikhawatirkan tarian ini terancam punah. Metode kualitatif dipilih dalam penelitian ini dengan hasil data yang dituangkan secara deskriptif menggunakan pendekatan etnografi dan sosiologi. Teknik wawancara, observasi dan dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data-data mengenai proses regenerasi tari Jepin Tembung Panjang. Hasil penelitian menunjukan bahwa proses regenerasi tari Jepin Tembung Panjang dilakukan pada pelaku seni yang meneruskannya kepada masyarakat. Proses regenerasi tari Jepin Tembung Panjang terjadi secara tradisional dan modern. Proses regenerasi tradisional melalui ikatan keluarga, orang terdekat dan lingkungan masyarakat. Proses regenerasi secara modern terjadi melalui pemanfaatan kecanggihan media sosial, pelatihan secara virtual atau daring, serta pertunjukan berbentuk video yang dapat dinikmati secara berulang-ilang. Dengan demikian tari jepin tembung Panjang diupayakan kelestariannya dan diwariskan kepada generasi-generasi mendatang.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATERI MEMAHAMI TEKNIK DAN GAYA MENYANYI MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM POSING LEARNING Suryani, Sri; Oktariani, Dwi
TACET Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni Vol 1, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/tacet.v1i1.59577

Abstract

 Permasalahan dalam penelitian ini ialah rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII pada materi memahami teknik dan gaya menyanyi lagu daerah. Tujuan pada penelitian ini ialah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi memahami teknik dan gaya menyanyi lagu daerah menggunakan model Problem Posing Learning di kelas VIII B SMP Negeri 2 Mempawah Timur. Penelitian ini dipaparkan dalam bentuk deskriptif, yaitu mendeskripsikan hasil analisis peningkatan hasil belajar siswa melalui model Problem Posing Learning..   Bentuk penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan prosedur penelitian Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi. Teknik pengumpulan data berupa teknik observasi langsung. Konsep model pembelajaran Problem Posing Learning yakni, diskusi, presentasi, konfirmasi, dan evaluasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII   pada materi memahami teknik dan gaya menyanyi lagu daerah. Penelitian ini dilakukan pada satu kelas yaitu kelas VIII B. Penelitian ini di lakukan dalam dua siklus. Berdasarkan hasil penelitian terdapat peningkatan hasil belajar pada tiap siklusnya. Pada siklus ke I yaitu 50 % dan pada siklus ke II yaitu 95 % , sehingga terjadi peningkatan sebesar 45 %. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Posing Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi memahami teknik dan gaya menyanyi lagu daerah.Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Problem Posing Learning, Teknik dan Gaya Menyanyi
Pilanuk Dance: Forms of Existence and Moral Values "‹"‹in the Kanayatn Dayak Community Oktariani, Dwi
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 15, No 2 (2024): Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v15i2.81814

Abstract

A traditional dance work departs from a value that is owned by an ethnic group. Pilanuk dance is a dance originating from the Kanayatn Dayak tribe in West Borneo. This study discusses the existence o the Pilanuk dance which has succeeded in regenerating it amoung the Kanayatn Dayak community and the wider community. The description o the moral values contained in the Pilanuk dance o the Kanayatn Dayak tribe in West Borneo is based on the philosophy o the Pilanuk dance, the origins of creation, the practice process, and what can be seen from the Pilanuk dance form. Descriptive method to present data in the form o words obtained in the field together with a search of study documentation, and sources who are performers of the Pilanuk dance. This research was conducted in Ambawang district, Kubu raya, West Borneo. The approach taken to obtain data in this study is to use a semiotic and etnochoreologic approach. The results of the study show that the Pilanuk dance contains moral values that are beneficial to people"™s lives. Moral values can be seen from the form of motion and the philosophy on which the Pilanuk dance is created. The moral values in Pilanuk dance include dexterity, ingenuity, vigilance, seriousness, dicipline, entertainment and aestethic, responsibility, cooperation, mutual cooperation, harmony, brotherhood, friendship, the value of truth and the value of honesty.
Fungsi Tari Bigal dalam Upacara Adat Ngensudah Dayak Melahui di Kecamatan Ella Hilir Kabupaten Melawi Natasia, Angela Dhea; Oktariani, Dwi; Oktaviari Satrianingsih, Aline Rizky
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v3i2.34444

Abstract

Upacara Adat Ngensudah adalah ritual yang bertujuan untuk mencabut larangan atau pantangan dan menghormati kerabat yang telah meninggal. Sejalan dengan arti kata “Ngensudah” yang dalam bahasa Indonesia berarti “selesai”, masyarakat Dayak Melahui percaya bahwa Upacara Adat Ngensudah berfungsi sebagai media untuk mengantarkan arwah orang yang telah meninggal dengan tenang. Oleh karena itu, upacara ini dilaksanakan setiap kali ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Penelitian ini berfokus pada pemahaman fungsi Tari Bigal dalam Upacara Adat Ngensudah pada masyarakat Dayak Melahui di Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat setempat mengenai peran tari tradisional, khususnya Tari Bigal dalam masyarakat Dayak Melahui. Keterlibatan masyarakat setempat dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan apresiasi mereka terhadap Tari Bigal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi, dengan menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tari Bigal merupakan elemen penting dalam Upacara Adat Ngensudah. Fungsi Tari Bigal dalam Upacara Adat Ngensudah di Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, adalah untuk melepaskan larangan dan pantangan serta menjadi penyalur arwah orang yang sudah meninggal menuju surga. Tari Bigal memiliki status sakral dalam Upacara Adat Ngensudah dan tidak dapat dipisahkan dari ritual tersebut. Tarian ini juga dianggap sebagai sarana komunikasi dengan roh leluhur. Tarian ini menggabungkan elemen-elemen pendukung seperti kostum, properti, gerakan, dan musik pengiring.
Makna Simbol Properti Tari Bigal dalam Upacara Adat Ngensudah Dayak Melahui di Kabupaten Melawi Crystitha, Crystitha; Oktaviari Satrianingsih, Aline Rizky; Oktariani, Dwi
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v3i2.34521

Abstract

Upacara kematian tradisional seperti ngensudah melepaskan tabu dan menghormati almarhum. Kepercayaan lokal menyatakan bahwa ngensudah mengirim jiwa dan tubuh almarhum untuk beristirahat dengan tenang. Ritual ini berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah kematian. Sebelum ritual ngensudah, banyak prosesi yang akan dilakukan. Renovasi makam keluarga adalah salah satu prosesi. Prosesi upacara tradisional ngensudah memiliki berbagai aspek yang berhubungan dengan tarian. Prosesi ritual ini termasuk tarian Bigal. Tarian Dayak Melahui Bigal sebagian besar dilakukan di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Tarian ini juga merupakan sub-suku Dayak Ot Danum Ngaju. Upacara adat Ngensudah dan Tarian Bigal adalah salah satu dari sekian banyak adat istiadat yang berhubungan dengan masyarakat Dayak Melahui. Tarian Bigal membutuhkan properti tangan, yang dijalin ke dalam Mandau (parang Suku Dayak) milik penari. Selendang dan nyube (beras kuning, kunyit, jeruk nipis, sirih, pinang, dan rokok) adalah properti lainnya. Tarian ini menggunakan kualitas tertentu. Temaduk, sebuah patung kayu yang menyerupai manusia, menari bersama mereka tanpa menyentuhnya. Toras (patung temaduk) dan Sangkeriak (sesajen yang kuat) adalah aset lainnya. Setiap properti Tari Bigal melambangkan keberadaan Desa Akam. Rasa hormat, kekuatan, keindahan, dan perlindungan diri merupakan hal yang penting dalam masyarakat, seperti halnya menghindari risiko dan selamat di akhirat.
Faktor Kesulitan Belajar Tari Jepin Tembung Panjang bagi Mahasiswa Seni Tari: Difficulty Factors in Learning Jepin Tembung Panjang Dance for Dance Arts Students Oktariani, Dwi
Wacana : Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajaran Vol 8 No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbsp.v8i2.23536

Abstract

This qualitative descriptive study investigated the learning challenges faced by 50 Performing Arts education students at FKIP UNTAN in mastering the Jepin Tembung Panjang dance, a traditional Malay dance from West Kalimantan, within the Advanced Basic Malay Dance course. Utilizing interviews, documentation, and questionnaires, the research identified both internal and external factors hindering students' progress. Internal difficulties included varying levels of prior dance experience, leading to challenges in synchronizing body movements, and a lack of sensitivity to musical beats due to the use of recorded music. External challenges involved the complexities of mastering the dance's wirasa, wiraga, and wirama components, essential for professional dance competency. The research underscores the necessity of enhancing students' movement skills to elevate their dance proficiency. The findings serve as a valuable resource for evaluating current teaching methodologies and developing future solutions to optimize the Jepin Tembung Panjang dance learning experience, ensuring prospective cultural arts teachers are well-equipped with local traditional dance knowledge for their future careers.
The Existence of the Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan Dance in Pontianak Ricki, Ricki; Oktariani, Dwi; Ismunandar, Ismunandar
Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Humaniora Vol 15, No 1 (2024): Edisi April 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j-psh.v15i1.76351

Abstract

The development of dance continues to advance in line with people's lives. Traditional dances generally experience developments that are influenced by the surrounding community, whether the community is a supporting or inhibiting factor for the dance. One of the traditional dance arts that has developed to date is the Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan dance which is currently developing in Pontianak and its surroundings. The Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan dance is a Jepin Langkah dance that was originally developed in 1932 by an artist named Salim Kudong in Kalimas Village, Sungai Kakap District, Kubu Raya Regency. In 1947 Salim Kudong taught Jepin Langkah to Mr Yusuf Daiman. Mr. Yusuf Daiman passed it on to the next generation, namely Mr. Sabaruddin, in 1967. Mr. Sabaruddin developed the Jepin Langkah by taking 9 Jepin Langkah   that is langkah bujur (pelebat), langkah gersik, langkah sorong dayung, langkah jarum mesin, langkah betiti batang, langkah baki juadah, langkah tak sampai, langkah loncat tiung, dan langkah besikut so that they become one dance known as the Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan dance. This research aims to describe the existence of the Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan dance. This research uses a qualitative method with an ethnochoreological approach. The existence of the Jepin Langkah Loncat Tiung Sembilan dance cannot be separated from the community, researchers, and government who are supporting factors. Meanwhile, inhibiting factors such as people's interest in studying dance traditions still need greater attention.
Sosialisasi Penilaian Portofolio Seni untuk SNPMB Bagi SMA Sederajat di Kabupaten Kubu Raya Aria, Zakarias Aria Widyatama Putra; Nurmila Sari Djau; Imam Ghozali; Mastri Dihita Sagala; Egi Putri Grandena; Muniir, Asfar; Yery Silaban, Chiristianly; Ismunandar, Ismunandar; Tindarika, Regaria; Oktariani, Dwi; Cantik Putri Aditya, Mega; Rizky Oktaviari Satrianingsih, Aline
Wahana Dedikasi: Jurnal PkM Ilmu Kependidikan Vol. 7 No. 2 (2024): Wahana Dedikasi : Jurnal PkM Ilmu Kependidikan
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/wdk.v7i2.18158

Abstract

Penilaian portofolio seni untuk Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) kurang begitu dipahami oleh peserta didik maupun guru pengampu mata pelajaran seni budaya terkait teknis pengumpulan borang keterampilan. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan bahwa lebih dari 40% calon mahasiswa memiliki kesalapahaman akan instruksi teknis pengambilan video. Selain itu, MGMP Seni Budaya SMA sederajat di Kubu Raya sebagai mitra juga membutuhkan penguatan terkait materi portofolio seni untuk SNPMB sehingga, menjadi tujuan dari kegiatan ini adalah tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan adalah memberikan fasilitasi dalam bentuk sosialisasi kepada MGMP Seni Budaya dan perwakilan peserta didik setiap sekolah. Metode kegiatan menggunakan jenis sosialisasi dengan cara kerja ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Indikator ketercapaian kegiatan ini adalah peserta sosialisasi dapat mengisi post-test dengan ambang batas skor minimal 75. Hasil kegiatan adalah peserta kegiatan dapat memahami materi sosialisasi portofolio seni untuk SNPMB yang dibuktikan 80% peserta menjawab post-test melebihi ambang batas skor ketuntasan. Melalui kegiatan ini diharapkan kedepannya dapat menjadi jembatan bagi pihak mitra yang memiliki kebingungan dalam hal teknis SNPMB khususnya dalam portofolio seni.
Pelatihan Teknik Gerak Dasar Tari Melayu Bagi Siswa SMKN 1 Sukadana Oktariani, Dwi; Grandena, Egi Putri; Djau, Nurmila Sari
Journal Of Human And Education (JAHE) Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Human And Education (JAHE)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jh.v5i2.2545

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk menambah pengalaman dan pengetahuan siswa SMKN 1 Sukadana terhadapa teknik gerak Melayu yang ada di Kalimantan Barat. Peserta pelatihan adalah siswa SMKN 1 Sukadana berjumlah 20 orang. Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan oleh tim dosen FKIP UNTAN Pendidikan Seni Pertunjukan pada pelatihan gerak dasar tari Melayu di SMKN 1 Sukadana berjalan efisien sesuai dengan tujuan kegiatan. Peserta antusias dan aktif dalam setiap kegiatan, guru menyatakan bahwa kegiatan ini sangat baik sebagai dasar pengembangan gerak tradisi Melayu dengan menguasai Teknik gerak dasarnya terlebih dahulu. Mereka mampu menguasai teknik gerak dasar Melayu dengan menunjukan cara menari yang benar. Pemateri juga mencarikan gerak yang sesuai dan mudah diimitasi siswa dengan musik iringan yang berasal dari pola-pola tabuhan beruas, sehingga kedepannya diharapkan siswa tidak lagi kesulitan untuk mengikuti atau belajar tari bentuk tradisi Melayu pada satu rangkaian tari serta mengembangkan gerak tradisi menjadi tari kreasi.
Pola Gerak Tari Katipak Pada Ritual Babukokng Suku Dayak Ma'amp Di Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau Victoria Ria Nopiantika; Oktaviari Satrianingsih, Aline Rizky; Oktariani, Dwi
SEUNEUBOK LADA: Jurnal ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, Budaya dan Pendidikan Vol 12 No 2 (2025): JURNAL SEUNEUBOK LADA
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah - Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jsnbl.v12i2.12031

Abstract

The Babukokng ritual is a death ritual of the Dayak Ma'amp Tribe in Sebabas Village, Nanga Mahap District, Sekadau Regency. This ritual is carried out for people who have faith in the Almighty, and people who are considered to have had rank or merit to the village, carried out for 2 days, starting from the perabus location accompanied by barantu batunu, followed by bukokng ansau, bukokng batamak, bukokng alu, bukokng nyamut buah mansak, and pemasar. Katipak dance has 3 movement patterns called ngemak movements, accompanied by katipak music. Katipak dance is danced by adult male dancers with the number of 3, 5, or 7 people based on laboh bukokng, and has 1 sacred floor pattern with a circle shape that is believed to be a whirlpool to prevent evil spirits. This research uses a qualitative form with descriptive research methods and an ethnocoreological approach. Data collection was done by observation, interview, and documentation. The technique of testing the validity of data with extended observation and source triangulation.