Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Anemia pada Dispepsia di Rawat Inap RSUD Koja Inneke Kusumawati Susanto; Maria Cindy Lingra Sari; Suzanna Ndraha
Jurnal Kedokteran Meditek vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v17i44.209

Abstract

Profil Kolelitiasis pada Hasil Ultrasonografi di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Suzanna Ndraha; Helena Fabiani; Henny Tannady Tan; Marshell Tendean
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v20i53.1014

Abstract

bstrakLatar Belakang. Kolelitiasis (penyakit batu empedu) menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Namun diagnosisnya sulit ditegakan karena sebagian besar tidak menimbulkan gejala. Teknik pencitraan ultrasonografi (USG) pada pasien berisiko tinggi merupakan metoda yang penting dalam diagnosis awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien kolelitiasis berdasarkangambaran USG. Metoda.Penelitian potong lintang retrospektif dilakukan pada pasien kolelitiasis yang diagnosis berdasarkan hasil USG pada periode April 2012 sampai dengan September 2012. Di data usia, jenis kelamin, keluhan klinis, dan gambaran USG. Data dianalisis dan disajikan dalam diagram. .Hasil. Sebanyak 87 pasien didiagnosis kolelitiasis dengan usia rerata 45,6. Prevalensi pada pasienperempuan lebih banyak daripada laki-laki (57,47 %), dengan usiarata-rata di atas 40 tahun (80,46 %). Sejumlah 68,97%merupakan pasien yang dikirim dari ruang rawat inap. Keluhan klinis terbanyak yang ditemukan adalah dispepsia (42,53%). Kolelitiasis multipel merupakan gambaran USG terbanyak yang ditemukan (36,78%), dimana 73,56%pasien tidak menunjukkan komplikasi danhanya 22,99 % saja yang menunjukkan komplikasi kolesistitis .Kesimpulan. Penyakit batu empedu di RSUD Koja terjadilebihbanyakpadapasienperempuanberusia lebih dari 40 tahun dengan keluhan klinis dispepsia, dan didapatkan gambaran kolelitiasis multipel tanpa komplikasi pada hasil USG. Kata kunci: kolelitiasis, keluhan, gambaran USGAbstract Background.Cholelithiasis is the main substantial burden on health care systems in worldwide. Diagnosis of cholelithiasis can easily be missed or misinterpreted because most of all cases areasymptomatic. Ultrasound imaging plays important role in the initial diagnosisof cholelithiasis inhigh-risk patients. The study aims to describe analysis of the clinical presentation in whichcholelithiasis was diagnosed on imaging by using ultrasound.Method. A retrospective review was done of all cases of cholelitiasis recorded in reports of the ultrasound results during the period April 2012 to September 2012. Age, gender, clinical complaint, and ultrasound findings were evaluated. Result. Eighty-seven patients were diagnosed with cholelithiasis with the mean age at diagnosis is45.6. The prevalence was higher in women than men (57.47 %), where the highest prevalence aged isabove 40 (80.46 %). Most of patients were sent from inpatient ward (68.97 %). The most clinical complaint was dyspepsia (42.53 %). The ultrasound results showed multiple cholelithiasis (36.78 %).As much as 73.56 % patients did not show any complication from ultrasound result and only 22.99 %patients showed cholecystitis.Conclusion.The most common involved age group for cholelithiasis was above 40 years with a female predominance. Multiple cholelithiasis without any complication was found tobe the most commonpresentation of ultrasound results. Keywords: Cholelithiasis, symptom, ultrasound result
Komplikasi Retinopati Diabetik Gambaran Klinis dan Sebaran Prevalensi Pasien Rawat Jalan dan Rawat Inap Di RSUD Koja Periode Januari 2004 –Desember 2008 Ronald .; Suzanna Ndraha; Mardi Santoso; Saptoyo Argo Morosidi
Jurnal Kedokteran Meditek Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v15i39E.1111

Abstract

AbstrakRetinopati diabetik adalah komplikasi paling penting dalam diabetes mellitus karena prevalensinya yang tinggi. Tingkat gula darah meningkatkan faktor resiko. Pasien dengan retinopati diabetik beresiko mengalami kebutaan. Studi ini bertujuan untuk mempelajari prevalensi retinopati diabetik dihubungkan dengan faktor yang dapat dikontrol (tekanan darah dan gula darah puasa) dan faktor yang tidak dapat dikontrol (umur dan jenis kelamin). Untuk mendiagnosa retinopati diabetik digunakan standar yang diusulkan oleh Early Treatment Diabetic Retinopathy Study Research Group (ETDRS). Studi ini dilakukan secara cross-sectional. Data diambil berdasarkan rekam medis seluruh pasien DM dari Januari 2004–Desember 2008 di RSUD Koja. Retinopati Diabetik kebanyakan terjadi pada laki-laki (96 pasien, 59.26%) dibanding pada wanita (66 pasien, 40,74%). Kelompok umur 50-59 tahun beresiko lebih tinggi (38,27%) daripada kelompok umur lain. Retinopati diabetik terjadi sebanyak 67.9% pada pasien dengan kadar gula darah puasa 100 mG/dL dan gula darah sewaktu 140 mG/dL.Kata kunci: retinopati diabetik, prevalensi, komplikasi  AbstractDiabetic Retinopathy is the most important complication in diabetes mellitus (DM) because of its high prevalence. The risk factor is elevated blood sugar. Patients with diabetic retinopathy are at risk of blindness. This study was aimed to find out the prevalence of Diabetic Retinopathy related to unmanageable factors (age and sex) and manageable factors (blood pressure and fasting blood sugar). Classification proposed by Early Treatment Diabetic Retinopathy Study Research Group (ETDRS) was used for diagnosing diabetic retinopathy. This study was cross sectional and was based on medical data record on all DM patients from January 2004 – Desember 2008 in RSUD Koja. Diabetic Retinopathy mostly happens in male (96 patients, 59.26%) compare to female (66 patients, 40,74%). Age group of 50-59 years old has a higher risk (38,27%) than the other age group. Diabetic Retinopathy happened 67.9% in patients with blood sugar level of 100 mG/dL (fasting) and 140 mG/dL Key words : retinopathy diabetic, prevalence, complication
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keberhasilan Terapi GERD Suzanna Ndraha; Donny Oktavius; Fransisca Fransisca; Julian Leonard Sumampouw; Ni Nyoman Juli; Ricco Marcel
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v22i60.1447

Abstract

AbstrakIntroduksi: Penyakit Refluks Gastro Esofagus (PRGE) atau yang lebih dikenal dengan nama Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD), merupakan kondisi yang terjadi bila aliran balik isi lambung ke esofagus memberikan keluhan dan mengganggu kualitas hidup seseorang.Tujuan:  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  faktor-faktor  yang  berhubungan  dengan keberhasilan terapi GERD, serta menguji keefektifan dalam mendiagnosis GERD dengan menggunakan kuesioner GERD Q.Metode: Enam puluh subjek yang memiliki gejala heartburn dan atau regurgitasi didata selama periode Maret-Mei 2015, dengan menggunakan disain analitik kuantitatif observasional. Kuesioner GERD Q terdiri atas enam pertanyaan sederhana meliputi gejala refluks, dispepsia, dan konsumsi obat, skor ≥8 yang mendukung diagnosis GERD. Pasien GERD diterapi selama dua minggu dan diberikan obat sesuai dengan resep dokter dan kontrol kembali.Hasil: Berdasarkan hasil univariat, didapatkan 56,7% (34 subjek) adalah perempuan, gejala klinis heartburn atau regurgitasi saja ditemukan 63.3% (38 subjek), usia < 40 sebanyak 55% (33 subjek), nilai IMT ≥25 ditemukan 66.7% (40 subjek), pemberian terapi PPI dan prokinetik ditemukan 50% (30 subjek), gaya  hidup  sehat  sebanyak  81.7%  (49  subjek),  dan  GERD  Q  post-test yang  membaik sebanyak  66.7%  (40  orang).  Pada  hasil  bivariat  didapatkan  hubungan  yang  bermakna  antarakeberhasilan terapi dengan usia (p 0.028 ,OR 3.667), jenis kelamin (p 0.002; OR 7.667), gejala klinis (p 0.037; OR 3.222), IMT (p 0.033; OR 4.188), dan terapi (p 0.001; OR 7.429).Kesimpulan: Pasien GERD di RSUD Koja yang berusia ≥ 40 tahun, laki-laki, nilai IMT ≥ 25 kg/m2, dan  memiliki  gejala  heartburn  atau  regurgitasi  saja, setelah  diterapi  dengan  PPI dan  prokinetik memiliki keberhasilan terapi yang lebih baik. Tetapi keberhasilan terapi GERD tidak dipengaruhi gaya hidup.Kata kunci: GERD Q, heartburn, regurgitasi, terapi AbstractIntroductions: Gastro Esophageal Reflux Disease (PRGE) or better known as Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) is a condition that occurs when the backflow of gastric contents into the esophagus giving complaints and interfere with quality of life.Objective: This study aimed to analyze the factors associated with the therapeutic efficacy on GERD as well as to test the effectiveness of using questionnaire that are to diagnose, GERD Q.Methods: Sixty subjects with symptoms of heartburn and regurgitation recorded during the period from  March  until  May  2015  using  a  quantitative analytical  observational  design.  Q  GERD questionnaire  consist  of  six  simple questions  include  symptoms  of  reflux, dyspepsia  and  drug consumption, the score ≥8 that support the diagnosis of GERD. GERD patients treated for 2 weeks and was given medication as prescribed and control back.Results: Based on univariate results, 56.7% (34 subjects) were women, the clinical symptoms of heartburn or regurgitation alone found in 63.3% (38 subjects), age <40 were 55% (33 subjects), the value  of  BMI ≥25  was  found  66.7% (40  subjects),  PPI  and  prokinetic therapy  found  50% (30 subjects), a healthy lifestyle as much as 81.7% (49 subjects) and GERD Q post-test were improved as much  as  66.7%  (40 people).  In  the  bivariate  results  of  a significant  association  between  the therapeutic efficacy with age (p 0.028, OR 3667), gender (p 0.002; OR 7,667), clinical symptoms (p 0.037; OR 3.222), BMI (p 0.033; OR 4188), and therapy (p 0.001; OR 7429).Conclusion: Patients GERD in Koja Hospital ≥ 40 years old, male, BMI values ≥ 25 kg / m2, and have symptoms of heartburn or regurgitation alone, after therapy with PPI and prokinetic have a better therapeutic success. But the success of GERD therapy is not influenced by lifestyle. Keywords: Q GERD, heartburn, regurgitation, therapy 
Pola Klinis dan Peningkatan Enzim Hati Pasien DBD di RSUD Koja Suzanna Ndraha; Anthony Hadi Wibowo; Nicholas Wijayanto; Fathin Amirah; Putri Chairani; Nathania Putri
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i61.1464

Abstract

AbstrakPendahuluan: Demam berdarah dengue (DBD) menunjukkan pola perjalanan yang berbeda di setiap daerah.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil demam berdarah dengue di RSUD Koja.Metode: Penelitian ini dilakukan dari periode 31 Maret 2015 sampai dengan 6 Juni 2015, dengan disain deskriptif observasional dan dilakukan di Bagian Penyakit Dalam RSUD Koja. Semua datapasien didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium dalam bentuk data primer. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 70 orang. Semua sampel dilakukan pemeriksaan darah rutin, SGOT, SGPT dan USG abdomen pada hari ketujuh demam.Hasil: Dari 70 sampel, hanya 35 subjek yang memenuhi kriteria diagnosa DBD. Pada 35 subjek ditemukan keluhan demam (100%), sakit kepala (97,14%), mual (85,71%), nyeri ulu hati (85,71%) dan perdarahan (57,12%) dengan jenis perdarahan terbanyak adalah petekie (45,71%). Hampir semua subjek mengalami peningkatan SGOT (94,29%) dan SGPT (71,43%), di mana SGOT meningkat lebih banyak  berbanding  SGPT,  dan  pada  USG  abdomen ditemukan  terbanyak  gall  bladder  wall thickening.Kesimpulan: Gejala-gejala yang terbanyak didapatkan di RSUD Koja adalah demam diikuti sakit kepala, mual, nyeri ulu hati, perdarahan, hepatomegali. Sedangkan jenis perdarahan spontan yang terbanyak adalah petekie. Sebagian besar terjadi peningkatan SGOT dan SGPT, namun peningkatan SGOT  lebih  bermakna  daripada  peningkatan  SGPT. Dari  pola  hasil  USG,  hasil  yang terbanyak didapat adalah gall bladder wall thickening. Kata kunci: DBD, SGOT, SGPT, USG abdomen AbstractIntroduction: Dengue hemorrhagic fever (DHF) exhibits different patterns in different districts.Objective: The purpose of this study is to determine the profile of DHF in RSUD Koja.Methods: The study was conducted between 31st March 2015 until 6th June 2015, using observational descriptive design and performed in Internal Medicine Department of RSUD Koja. All data were obtained through history taking, physical and laboratorium examinations in forms of primary data. The study included 70 samples, all of whom underwent routine blood test, liver function tests and abdomen ultrasound examinations on the seventh day of fever.Results: Out of all 70 subjects, only 35 subjects met the criteria of DHF. All 35 subjects complained of fever (100%), headache (97,14%), nausea (85,71%), heartburn (85,71%), and bleeding (57,12%), in which petechiae is the most prevalent (45,71%). Nearly every subject exhibits markedly elevated AST (94,29%) and ALT (71,43%) levels, whereby AST levels are higher than ALT. The most common ultrasound result is gall bladder wall thickening. Conclusion: The most common symptom of DHF in  RSUD Koja is fever, followed by headache, nausea,  heartburn,  bleeding,  and  hepatomegaly,  while the  most  common  form  of  bleeding  is petechiae. Most patients had elevated AST and ALT levels, whereby AST levels are higher than ALT. Their ultrasound results showed that most patients had gall bladder wall thickening. Keywords: DHF, AST, ALT, USG abdomen 
Karakteristik Penderita Kolelitiasis Berdasarkan Faktor Risiko di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Febyan Febyan; Har R Singh Dhilion; Suzanna Ndraha; Marshell Tendean
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i63.1565

Abstract

Kolelitiasis adalah material atau kristal yang terbentuk di dalam kandung empedu. Beberapa faktor risiko yang sering ditemui pada kejadian kolelitiasis dikenal dengan “6F” (Fat, Female, Forty, Fair, Fertile, Family history). Keluhan klinis yang sering ditemukan adalah nyeri pada perut kanan atas, nyeri epigastrium, demam, ikterus, mual, muntah. Sampel sebanyak 102 orang dipilih secara purposif dari pasien yang berkunjung di bagian Penyakit Dalam RSUD Koja pada periode 5 Oktober sampai dengan 31 Desember 2015, desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Hasil disajikan dalam tabel dan grafik. Frekuensi tertinggi berdasarkan jenis kelamin sebanyak 64 pasien (63 %) adalah perempuan, umur ( > 40 tahun) sebanyak 88 pasien (86 %), frekuensi tertinggi berdasarkan jumlah anak didapatkan bahwa responden yang mempunyai tiga anak atau lebih sebesar 52 pasien (52 %), rata-rata nilai indeks masa tubuh (IMT) sebesar 24,80, tidak ada riwayat keluarga yang menderita kolelitiasis sebanyak 83 pasien (80%), dengan warna kulit kuning langsat sebanyak 70 pasien (69 %), keluhan klinis yang tersering adalah dispepsia 61 pasien (60%), dengan nilai rata rata kolesterol total 201 mg/dl. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa, pasien kolelitiasis di RSUD Koja terjadi lebih banyak pada pasien perempuan dengan warna kulit kuning langsat (fair) yang berusia lebih dari 40 tahun, dengan jumlah anak lebih dari tiga orang, memiliki nilai rata-rata indeks massa tubuh sebesar 24,80, sebanyak 83 pasien kolelitiasis tidak ditemukan adanya riwayat kolelitiasis dalam keluarga, dan ditemukan bahwa dari seluruh jumlah pasien kadar rata-rata kolesterol 201 mg/dl dengan keluhan utama dispepsia.Kata kunci: kolelitiasis, faktor risiko, RSUD Koja
Komplikasi Penderita Sirosis Hati Di RSUD KOJA Pada Bulan Juli - November 2017 Suzanna Ndraha; Imelda Imelda; Marshell Tendean; Mardi Santoso
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1590

Abstract

Sirosis merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit hati kronis. Penyebab tersering adalah infeksi virus hepatitis B, virus hepatitis C dan alkohol. Sirosis hati dengan komplikasinya merupakan masalah kesehatan yang masih sulit diatasi. Hal ini ditandai dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan komplikasi apa saja yang didapatkan pada pasien sirosis hati yang dirawat di RSUD Koja. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif, dengan mengambil pasien rawat inap Penyakit Dalam RSUD Koja selama Juli–November 2017. Didapatkan sebanyak 63 pasien yang terdiri dari 41 orang (65,1%) laki-laki dan 22 orang (34,9%) perempuan, usia 20-40 tahun sebanyak 11 orang (17,5%) , usia 40 -60 tahun 46 orang (73%), dan usia lebih dari 60 tahun 6 orang (9,5%). Keluhan utama terbanyak adalah perut membesar (40%). Stigmata sirosis terbanyak adalah ikterus (51%), dan komplikasi terbanyak adalah asites, pada 55 orang (87,3%). Hal ini memberikan kesan penting sekali melakukan evaluasi pada pasien dengan penyakit hati kronis khususnya hepatitis B mengenai kemungkinan sirosis hati. Kata kunci: Sirosis hati, gender, usia, komplikasi
Gambaran Penyakit Ginjal Kronik dan Komplikasinya di RSUD Koja Periode Juli-November 2017 Suzanna Ndraha; Jean Nadya PR; Marshell Tendean; Mardi Santoso
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1678

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu proses patofisiologi dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya proporsi dan jenis komplikasi pasien PGK di Penyakit Dalam RSUD Koja. Penelitian ini bersifat observasional, dengan mengambil sampel secara consecutive sampling pada unit rawat jalan dan rawat inap Penyakit Dalam RSUD Koja selama Juli – November 2017. Didapatkan 261 subyek, 149 (57,09%) laki-laki dan 112 (42,91%) perempuan, dengan rentang usia antara 18–72 tahun, dengan jumlah terbanyak pada kelompok usia 45-65 tahun (62,45%),stadium PGK terbanyak adalah stadium V (62,.07%), sebanyak 74,33% memiliki komplikasi, terbanyak adalah ensefalopati uremik 94,64%, anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Di bagian rawat jalan dan Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Koja periode Juli–November 2017 sebanyak 74,33% dari pasien PGK memiliki komplikasi, komplikasi terbanyak adalah ensefalopati uremik (94,64%) diikuti oleh anemia 88,7% dan volume overload 88,1%. Kata Kunci : komplikasi, penyakit ginjal kronik, ensefalopati uremik
Rasionalitas Penggunaan Obat Benzodiazepine oleh Dokter Selama 10 Tahun Terakhir: Sebuah Literature Review Anughrahani, Lilie; Wijaya, Diana; Ndraha, Suzanna; Rumawas, Marina Astrid
Jurnal MedScientiae Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jmedscientiae.v4i2.3651

Abstract

Mental disorders have become a common problem globally. The World Health Organization shows that more than one in six people experienced mental health problems in 2016. Benzodiazepines, a drug that has been on the market since 1957, are often used to treat mental and behavior-related problems. Although effective for certain conditions, long-term use of benzodiazepines can cause significant side effects. Health regulations and guidelines suggest that treatment with benzodiazepines should be carried out rationally with reference to the Decree of the Minister of Health of the Republic of Indonesia in 2021 concerning the National Formulary. This literature aims to conduct a review to evaluate the rationality of the use of benzodiazepines by doctors in various countries over the past ten years. The method in this study is to search for articles through Google Scholar and Pubmed. The results obtained were that benzodiazepines are generally used to treat anxiety and sleep disorders. The maximum dose, which is according to the national formulary and the Food and Drug Administration, does not have a significant difference. Challenges that need to be addressed involve aspects of prescribing, such as ensuring the recipe is in accordance with the right indications, adhering to dosage restrictions, and paying attention to the maximum duration of use. Therefore, there needs to be clear rules to regulate this, supported by active socialization efforts to increase doctors' understanding and compliance with more rational prescribing practices.  
The Description of Post Sectio Caesaerae Patients Pain Intensity in Tarakan Hospital Jakarta Irianta, Ketut; Asmara, Yoseph Rohedi Yosi; Ndraha, Suzanna; Pradyanthi, I Gusti Ayu Cintya
Jurnal MedScientiae Vol. 1 No. 1 (2022): August
Publisher : Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/JMedScientiae.v1i1.3094

Abstract

Numeric Rating Scale (NRS) is an efficient and easy measurement instrument used for measuring painintensity. The aim of this research is to know the description of post sectio caesaria patient pain intensityin RSUD Tarakan Jakarta. This is an observation descriptive with cross sectional aproach. 46 postsection caesaria patients were involved as the participants with totaly sampling technique. The data wascollected through NRS scale observation questionnaire in hospitalization room RSUD Tarakan fromSeptember-November. The result shows the average reduction pain scale based on the NRS 6, 12, and 24hours post sectio caesarea. It is concluded that the average reduction pain cale based on the NRS 6, 12,and 24 hours post sectio caesarea.
Co-Authors Ade John Nursalim Afdilla, Winda Agustina Merdekawati Amirah, Fathin Anthony Hadi Wibowo Anughrahani, Lilie Asmara, Yoseph Rohedi Yosi Bhannu Khumar Caesar, Zulfikar Cecep Kusmana Chairani, Putri Defranky . Derza Polas, Caesaredo Desima . Dhilion, Har R Singh Diana Wijaya Didi Kurniadhi Donny Oktavius Dwicahya Putra, Hervico Eddy Chandra El, Zegovine Evan Evan Farras, Zahra Fathin Amirah Febyan, Febyan Fendra Wician Fendra Wician Fransisca Fransisca Fransisca, Fransisca Grace Abigaelni Harefa Hans Hernando Hanung Adi Nugroho Har R Singh Dhilion Helena Fabiani Helena Fabiani Helena Fabiani Helena Yap Helena Yap, Helena Henny Tanadi Tan Henny Tannady Tan IDN Wibawa Imelda Imelda Inneke Kusumawati Susanto Irianta, Ketut Irsan Hasan Ivan DP Sunardi Jean Nadya PR Juli, Ni Nyoman Julian Leonard Sumampouw Kamala, Yurri KHAIRUL HUDA, KHAIRUL Laura Sabrina, Ratih Marcel, Ricco Marcellus Simadibrata Marcellus Simadibrata Mardi Santoso Mardi Santoso Mardi Santoso Mardy Santoso Maria Cindy Lingra Sari Marshel Tendean Marshell Tendean Marshell Tendean Marshell Tendean Marshell Tendean Marshell Tendean Melfrits Rinell Siwabessy Mukhamad Najib Nathania Putri Ni Nyoman Juli Nicholas Wijayanto Novpi Susanto Oktavius, Donny Pradyanthi, I Gusti Ayu Cintya Puspitasari Puspitasari Putri Chairani Putri, Nathania R. Sapto Hendri Boedi Soesatyo Rianas, Wiwin Ricco Marcel Rizal Rinaldy Ronald . Ronald ., Ronald Rumawas, Marina Astrid Saptoyo Argo Morosidi Saptoyo Argo Morosidi, Saptoyo Argo Sarah A E Retraubun Sumampouw, Julian Leonard Sunanda Naibaho Surjadi Sujana Tendean, Marshell Wibowo, Anthony Hadi Wijayanto, Nicholas Wilfried H. Sibuea Yuni Ayu