Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Tolak Balak Local Traditions of Sea Rituals in the Sabu Tribe of East Nusa Tenggara in the Midst of Modern Culture Mustolehudin, Mustolehudin; Hamid, Wardiah; Dachlan, Muhammad; Israpil, Israpil
Indigenous Southeast Asian and Ethnic Studies Vol. 1 No. 2 (2025): September
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/iseaes.v1i2.19

Abstract

The Tolak Balak ritual is an important tradition performed by the Sabu tribe in East Nusa Tenggara to ask for protection and safety from evil spirits. This ritual has been going on for a long time and is an important part of the Jingitiu religious beliefs. However, the impact of modernization has caused some major difficulties. This article looks at how the Tolak Balak ritual is adapting to the rapidly evolving social, cultural, and technological changes in Sabu society. Although modernization and technological advances make it easy, they also affect the way this tradition is performed and how the younger generation perceives it. This study shows that Savunese people can maintain the essence and meaning of the Tolak Balak ritual by changing and updating its implementation even though the changing times are destroying it. In addition, the article links this tradition to broader conversations about the preservation of local cultural heritage amidst modernization and globalization. This article provides insight into the importance of the Tolak Balak tradition for the people of Savu and shows how local traditions can survive and thrive in the face of today's challenges.
Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Terhadap Kinerja Guru Madrasah di Kota Gorontalo Mujizatullah, Mujizatullah; Mustolehudin, Mustolehudin
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Vol. 17 No. 3 (2019): EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan
Publisher : Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32729/edukasi.v17i3.638

Abstract

AbstractThis study aimed to find out the influence level of subject teachers’ training and education for the improvement of madrasah teacher’s performance in Gorontalo. This study used a survey and quantitative research method. The result of this research showed that training and education implementation had influenced the madrasa teacher’s performance in Gorontalo. There was an increase in madrasa teacher's four competencies after they joined the training, which are pedagogical competence, personality competence, professional competence, and social competence. Respondents said that the trainers (widyaiswara) could explain the material substance well (score 4.4). The trainers have much understood and competent in the training aims and procedures. So, the academic qualification of the trainers is appropriating with their primary tasks by involving qualified and professional instructors. Nevertheless, some trainers were not mastering in presenting training material. Furthermore, the training materials are considering inadequate for the training participants. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengaruh pendidikan dan pelatihan mata pelajaran terhadap peningkatan kinerja guru madrasah di Kota Gorontalo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan dan pelatihan terhadap guru madrasah di Kota Gorontalo, memiliki pengaruh terhadap kinerja guru. Pengaruh tersebut adalah guru memiliki peningkatan dalam kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial setelah mengikuti kediklatan. Responden menjelaskan bahwa widyaiswara mampu menyampaikan materi dengan baik dengan skor 4,4. Widyaiswara cukup memahami dan menguasai tujuan dan prosedur penyelenggaraan diklat sehingga kualifikasi akademik widyaiswara sesuai dengan tugas pokoknya dengan melibatkan instruktur yang kompeten dan profesional. Namun demikian, masih terdapat beberapa Widyaiswara dalam pelaksanaan diklat dianggap masih kurang memadai dalam membawakan materi. Selain itu, ketersediaan bahan ajar bagi peserta diklat dianggap masih kurang memadai.
Kejawen Spiritualism: The Actualization of Moral Values at Paguyuban Suci Hati Kasampurnan in Cilacap Mustolehudin, Mustolehudin; Muawanah, Siti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v19i2.4029

Abstract

In Java, the existence of penghayat—believing in the One Almighty God—has grown significantly during the early reign of President Joko Widodo. This is supported by the Regulation of Ministry of Education and Culture Number 27 in 2016 about education services related to the belief in the One Almighty God at schools. Paguyupan Hati Suci Kasampurnan is one of penghayat groups in Cilacap which implements the teaching of budi pekerti (good behaviors) towards its adherents. This is a qualitative research examining the hidden meaning contained in the guidance book of Paguyupan Hati Suci Kasampurnan through semiotic analysis. This study results in two findings. First, the main source used at this paguyuban is Kitab Adam Makna. Second, the main teaching of this paguyuban is the teaching of good behaviors towards the adherents in order to reach the level of perfect life which is known as manunggaling kawula gusti. Di Jawa, keberadaan penghayat terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal pemerintahan Presiden Joko Widodo. Hal ini dikuatkan dengan terbitnya regulasi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2016 tentang layanan pendidikan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada satuan pendidikan. Paguyuban Suci Hati Kasampurnan merupakan salah satu kelompok penghayat di Cilacap yang ikut berperan aktif dalam mengimplementasikan ajaran budi pekerti kepada pemeluknya. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini berupaya mengkaji makna yang tersirat dalam kitab ajaran Paguyupan Hati Suci Kasampurnan melalui analisis semiotika. Hasil penelitian berupa dua temuan. Pertama, sumber ajaran Paguyuban SHK adalah Kitab Adam Makna (berupa simbol-simbol yang terdapat di jagat raya). Kedua, bahwa intisari dari ajaran paguyuban ini adalah mengajarkan budi pekerti luhur sebagai dasar untuk memperoleh kesempurnaan dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti).
Religion and Malay-Dayak Identity Rivalry in West Kalimantan Yusriadi, Yusriadi; Ruslan, Ismail; Hasriyanti, Nunik; Mustolehudin, Mustolehudin; Shin, Chong
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v23i1.11449

Abstract

Ethnic rivalry triggers competition among individuals, certain actors, and groups. Often, the competition is due to political factors while religion becomes a structural legitimacy. This paper examined how the rivalry between Malay and Dayak in West Kalimantan affected certain groups’ identity. The data of this paper were obtained through a documentation study by reviewing publications and writings on the issue of rivalry and interviews with some figures in West Kalimantan. The result concluded that the rivalry between Malay and Dayak in West Kalimantan was tight due to political factors. The two equally dominant communities have long competed since the colonial period in West Kalimantan. Today's rivalry has taken place since Indonesia's reformation in 1998 and let both groups maintain their identity, and, in some cases, lead to unclear boundaries. They do not live as neighbors but brothers. However, religion remain an essential factor amid the situation and cause the rivalry stronger. Persaingan etnis memicu persaingan antar individu, aktor tertentu, dan melibatkan kelompok. Seringkali persaingan disebabkan oleh faktor politik, sedangkan agama menjadi legitimasi struktural. Makalah ini berupaya untuk melihat bagaimana persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat berimplikasi pada identitas kelompok. Data untuk makalah ini diperoleh melalui studi dokumentasi dengan melihat publikasi dan tulisan tentang isu persaingan, serta wawancara dengan sejumlah tokoh di Kalimantan Barat. Kesimpulannya, persaingan antara Melayu dan Dayak di Kalimantan Barat sangat kuat karena faktor politik. Kedua komunitas yang sama-sama dominan ini telah bersaing sejak jaman penjajahan di Kalimantan Barat. Persaingan saat ini telah terjadi sejak reformasi Indonesia pada tahun 1998. Melalui kompetisi ini, masing-masing etnis Melayu dan Dayak mempertahankan identitasnya, dan dalam beberapa kasus menciptakan batasan yang kabur. Mereka ditempatkan sebagai tetangga, tetapi sebagai saudara. Namun, agama tetap menjadi faktor penting di tengah situasi ini, dan membuat persaingan keduanya semakin kuat.
Harmony in Diversity in Border Areas: Dayak Iban Tribe and Migrants in Badau Segara, I Nyoman Yoga; Kustini, Kustini; Mustolehudin, Mustolehudin; Muawanah, Siti; Nofandi, R. Adang
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.27109

Abstract

This study aimed to highlight the harmonious coexistence among different ethnic and religious groups. The study was conducted in Badau, a sub-district in West Kalimantan, inhabited by the indigenous Dayak Iban ethnic group and migrants from various ethnic and religious backgrounds. The primary motivation for examining the socio-cultural and religious life in Badau stems from the region's challenges, including limited religious guidance and services, the establishment of places of worship, the roles of traditional and religious leaders, and interfaith relationships. Using a qualitative approach with observation, interviews, and document analysis, the research revealed several key findings. Firstly, customary rules play a significant role in the lives of the Dayak Iban, serving as a guiding principle. They adhere to these rules strictly but with flexibility. Secondly, community leaders and social institutions are instrumental in resolving social issues. The rumah panjang and balai adat are two key mechanisms for conflict resolution. The study recommends conducting anthropological and historical research to trace the origins of the Dayak Iban tribe and explore religious encounters in the region. It also suggests that local governments in border areas emulate Badau’s community resilience, where the Cross-Border Post (PLBN) serves as a living symbol of unity, promoting nationalism and harmony among diverse ethnic, cultural, and religious groups. Studi ini bertujuan untuk menyoroti kehidupan harmonis di antara kelompok etnis dan agama yang berbeda. Penelitian ini dilakukan di Badau, sebuah kecamatan di Kalimantan Barat, yang dihuni oleh suku Dayak Iban sebagai kelompok etnis asli dan para migran dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Motivasi utama untuk meneliti kehidupan sosial budaya dan agama di Badau berasal dari tantangan yang dihadapi wilayah ini, seperti keterbatasan bimbingan dan layanan keagamaan, pendirian tempat ibadah, peran pemimpin adat dan agama, serta hubungan antar umat beragama. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen, penelitian ini mengungkapkan beberapa temuan penting. Pertama, aturan adat memainkan peran penting dalam kehidupan suku Dayak Iban, menjadi pedoman utama mereka. Mereka mematuhi aturan tersebut dengan tegas namun fleksibel. Kedua, para pemimpin komunitas dan lembaga sosial berperan penting dalam menyelesaikan masalah sosial. Rumah panjang dan balai adat merupakan dua mekanisme penyelesaian konflik di antara masyarakat. Studi ini merekomendasikan dilakukannya penelitian antropologi dan sejarah untuk menelusuri asal-usul suku Dayak Iban serta mengeksplorasi pertemuan agama di wilayah tersebut. Studi ini juga menyarankan agar pemerintah daerah di wilayah perbatasan meniru ketahanan komunitas di Badau, di mana Pos Lintas Batas Negara (PLBN) berfungsi sebagai simbol hidup persatuan, mempromosikan nasionalisme dan kerukunan di antara kelompok etnis, budaya, dan agama yang beragam.