Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

IDENTIFIKASI SAMPAH ANORGANIK PADA EKOSISTEM MANGROVE PANTAI TASIK RIA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Irfan Sirajudin; Wilmy E. Pelle; Rignolda Djamaluddin; Darus Sa’ada J. Paransa; Joshian N. W. Schaduw; Joudy R. R. Sangari
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 1 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.54944

Abstract

Threats to the marine and coastal environment are increasing due to the increasing population and increasing exploitation of the population on the coast. If the garbage is thrown into the river or thrown directly into the sea, it will eventually result in a reduction in the beauty of the coastal area, the sea and the mangrove ecosystem. Inorganic waste with the type of plastic will not be separated from everyday life, due to the increasing number of people in the world. Therefore, the demand for and consumption of plastic-type materials is increasing and will continuously enter the land environment to the sea. Sampling is located at Tasik Ria Beach, Tombariri District, Minahasa Regency. The sampling time for marine debris in the mangrove ecosystem will be in August 2021. Inorganic waste sampling is carried out in the mangrove ecosystem by looking at the age of the month at the lowest low tide. Sampling used the line transect method or quadrant line transect and was carried out directly in the morning and it took one day until the tide started. Based on the research objectives, to identify inorganic marine debris found in the mangrove ecosystem of the Tasik Ria beach and analyze the total density of inorganic marine debris, both heavy and the amount laid on the mangrove ecosystem, research conducted at Tasik Ria Beach, Tombariri District, Minahasa Regency has obtained five types of waste. namely plastic, glass, metal, rubber and wood waste and their derivatives. Keywords: Coastal, Mangrove Ecosystem, Identification, Marine Debris, Tasik Ria Coast ABSTRAK Ancaman terhadap lingkungan laut dan pesisir semakin meningkat diakibatkan oleh bertambahnya jumlah penduduk dan bertambah pula eksploitasi penduduk di pesisir. Apabilah sampah tersebut dibuang ke sungai maupun dibuang langsung ke laut yang akhirnya berakibat berkurangnya keindahan wilayah pesisir, laut maupun pada ekosistem mangrove. Sampah anorganik dengan jenis plastik tidak akan terlepas dengan kehidupan sehari-hari, dikarenakan bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Maka dari itu permintaan maupun kunsumsi bahan dengan berjenis plastik semakin meningkat dan akan secara terus-menerus masuk ke lingkungan daratan sampai ke laut. Pengambilan sampel terletak di Pantai Tasik Ria Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Waktu pengambilan sampel sampah laut pada ekosistem mangrove dilaksanakan pada bulan Agustus 2021. Pengambilan sampel sampah anorganik di lakukan pada ekosistem mangrove dengan melihat umur bulan pada saat kondisi surut terendah. Pengambilan sampel menggunakan metode line transek atau transek garis kuadran dan dilakukan secara langsung di pagi hari dengan membutuhkan waktu selama satu hari sampai pada saat air mulai pasang. Berdasarkan tujuan penelitian mengidentifikasi sampah laut anorganik yang terdapat di ekosistem mangrove pantai tasik ria dan menganalisa jumlah kepadatan sampah laut anorganik baik itu berat maupun jumlah yang tergampar pada ekosistem mangrove penelitian yang di lakukan di Pantai Tasik Ria Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa telah di dapatkan lima jenis sampah yaitu sampah jenis plastik, kaca, logam, karet serta kayu dan turunannya. Kata Kunci : Pesisir, Ekosistem Mangrove, Identifikasi, Marine Debris, Pantai Tasik Ria
KONDISI PADANG LAMUN DI SEKITAR PERAIRAN MOKUPA KECAMATAN TOMBARIRI KABUPATEN MINAHASA Meilin Yulita Walo; Calvyn F. A. Sondak; Darus Sa’adah Johanis Paransa; Janny D. Kusen; Joshian N. W. Schaduw; Billy T. Wagey; Jetty Rangan
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55012

Abstract

Seagrass is the only flowering marine plant that lives permanently in shallow coastal waters and plays a key ecological role. This study aims to determine the types of seagrasses, community structure and current condition of seagrass beds nearby Mokupa waters. The method that used in this studywas the line transect method. This study found 5 types of seagrass and identified as : Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Syringodium isoetifolium. The average species density value was 25 ind/m², frequency was 1.26, species cover is 25.5. The highest important value index (INP) belongs to Cymodocea rotundata (101.5%). The diversity index (H’) was moderate with an average value of 1.17 and the dominance index is low with an average C value of 0.32. Based on the seagrass cover category, the seagrass beds in the study area were categorized as "rare" (0-25%). Water temperature ranging from 29 to34°C and water salinity 25 to 29‰. The substrate types found weresandy mud, muddy sand, and rubbels. Keywords : Seagrass, Percentage of Closure, Community Structure, Mokupa Beach ABSTRAK Lamun merupakan satu-satunya tumbuhan laut berbunga yang hidup secara tetap di lingkungan perairan pantai yang dangkal dan merupakan kunci dalam peranan ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis lamun, struktur komunitas dan kondisi terkini padang lamun di sekitar perairan Mokupa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode line transek kuadrat. Pada penelitian ini ditemukan 5 jenis lamun yang teridentifikasi yaitu : Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Syringodium isoetifolium. Nilai rata-rata kerapatan jenis 25 ind/m², frekuensi jenis 1,26, penutupan jenis 25,5, Indeks nilai penting (INP) lamun tertinggi terdapat pada spesies Cymodocea rotundata dengan nilai sebesar (101,5%). Indeks keanekaragaman sedang dengan nilai rata-rata H’ 1,17 dan indeks dominansi rendah dengan nilai rata-rata C 0,32. Berdasarkan kategori penutupan lamun, padang lamun yang terdapat di lokasi penelitian dikategorikan “jarang” dengan nilai penutupan lamun 0-25%. Faktor lingkungan antara lain: suhu berkisar 29 - 34°C, salinitas 25 - 29‰. Jenis substrat yang ditemukan adalah lumpur berpasir, pasir berlumpur, dan pecahan karang. Kata Kunci : Lamun, Persentase Penutupan, Struktur Komunitas, Pantai Mokupa
Analysis of Carotenoid Pigment Types in the Carapace of the Male Crab Grapsus albolinetaus Latreille in Milbert 1812 Mokoginta, Fatika Sari; Paransa, Darus Saadah Johanis; Kemer, Kurnati; Paulus, James J. H.; Kawung, Nickson J.; Manoppo, Henky
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34421

Abstract

Carotenoid pigments have various colors such as yellow, orange, or red-orange. One of the carotenoid pigment sources is Crab G. albolineatus Latreille in Milbert 1812. Column chromatography separation technique was used to determine the metabolism of carotenoid pigments in the crab G. albolineatus latreille in Milbert 1812. This CC separation used hexane and acetone as the developer solution (70:30). The developer solution as known as the mobile phase is semipolar, while the stationary phase is silica powder G60. Therefore, it formed two metabolic pathways. The male G. albolineatus crab used in this study was on the D3 molting stage which had a concentration of 36.37 g/g dry residue and 4.72 g content. The types of pigments identified are: β – karoten, Zeaxanthin, lutein, β – kriptoxanthin dan Astaxanthin.Keywords: Carotenoid Pigments; G. albolineatus; Column Chromatography; MoltingAbstrakPigmen karotenoid memiliki berbagai warna seperti kuning, oranye, atau merah oranye. Salah satu sumber pigmen karotenoid adalah pada karapas kepiting G. albolineatus Latreille in Milbert 1812. Untuk mengetahui metabolisme jenis pigmen karotenoid pada kepiting Grapsus albolineatus latreille in Milbert 1812 yaitu menggunakan pemisahan kromatografi Kolom. Pemisahan KK ini menggunakan larutan pengembang heksan dan aseton (70:30). Larutan pengembang merupakan fase gerak yang bersifat semipolar dan fase diamnya menggunakan bubuk silika G60. Terbentuk dua  jalur metabolisme. Kepiting G. albolineatus jantan yang digunakan pada penelitian berada di stadium molting D3 dengan konsentrasi sebesar 36,37 µg/g berat residu kering dan kandungan 4,72 µg. Jenis pigmen yang teridentifikasi yaitu : β – karoten, Zeaxanthin, lutein, β – kriptoxanthin dan Astaxanthin.Kata kunci: Pigmen; Karotenoid; G. albolineatus; Kromatofrafi Kolom; Molting
Analysis Of Types Of Carotenoid Pigments In Crab Sesarmops sp From Manado By Coast Adrian, Melinda Margareta; Paransa, Darus S. J; Paulus, James J. H; Kawung, Nickson J.; Bara, Robert A.; Kepel, Rene Ch.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35127

Abstract

Carotenoid pigments are a group of pigments that are yellow, orange, and red-orange in color. Pigments are natural dyes found in plants and animals, extracts of carotenoid pigments can be separated by chromatographic methods where the common chromatographic methods in determining the type of pigment are Column Chromatography (CC) and Thin Layer Chromatography (TLC). The purpose of this study was to determine the types of pigments contained in the carapace extract of the male crab Sesarmops sp. The Sesarmops sp crab has a brown dorsal carapace with blackish-brown leg spots known as mangrove crabs. Crabs in the Sesarmidae family have a carapace formation and wide legs, do not have swimming legs, and have a pair of claws that are faded purple, the presence of these colors can be identified as containing carotenoid pigments. The results of this study obtained the content of carotenoid pigment 25.2 g/gr and the value of the concentration of carotenoid pigment in the male crab extract Sesarmops sp 10.99 g. The results of the separation of the total pigment extract using column chromatography obtained the types of pigments -carotene, Ekinenon, Zeaxanthin, and Astaxanthin. Keywords: Column Chromatography (CC); Carotenoids; Sesarmops sp                                                                       AbstrakPigmen karotenoid adalah sekelompok pigmen yang berwarna kuning, oranye dan merah oranye. Pigmen adalah zat warna alami yang terdapat pada tumbuhan  dan hewan, ekstrak pigmen karotenoid dapat dipisahkan dengan metode kromatografi yang dimana metode kromatografi umum dalam menentukan jenis pigmen adalah Kromatografi Kolom (KK) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis pigmen apa saja yang terdapar pada ekstrak karapas kepiting jantan Sesarmops sp. Kepiting Sesarmops sp memiliki karapas dorsal bewarna coklat dengan bintik kaki coklat kehitaman yang dikenal sebagai kepiting mangrove. Kepiting dalam keluarga sesarmidae memiliki bentukan karapas dan kaki yang lebar tidak memiliki kaki renang serta memiliki sepasang capit berwarna ungu pudar, adanya warna tersebut kepiting dapat diidentikasikan mengandung jenis pigmen karotenoid.  Dari hasil penelitian ini mendapatkan kandungan pigmen karotenoid 25,2 dan nilai konsentrasi pigmen karotenoid pada ekstrak kepiting jantan Sesarmops sp 10,99 . Hasil pemisahan dari ekstrak pigmen total menggunakan kromatografi kolom didapatkan jenis pigmen β-karoten, Ekinenon, Zeaxantin dan Astaxantin
Morphological identification of crabs in the rocky coast of Manado Bay Rustikasari, Irna; Paransa, Darus S. J.; Kaligis, Erly Y.; Ompi, Medy; Pelle, Wilmy E.; Pratasik, Silvester B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35200

Abstract

Coastal areas have a wealth of biological natural resources including marine life such as crustaceans. One of the marine organisms in the crustacean group is the crab. The purpose of this study was to identify the types of crabs that live in rocky coastal habitats through a morphological approach. To determine the morphology of crabs can be done by looking at the shape, color, and size. The results of this study found 3 types of crabs in two locations in the Manado Bay area including the crab is Grapsus albolineatus, Ozius truncatus, and Uca (Galasimus) tetragonon. Based on the results of the research above, morphological forms were found on the abdomen in the form of a tapered triangle which indicated that the crab was male and the abdomen was triangular with the female sex. The most common crabs found at the study site were female crabs.Keywords: Coastal Area; Crab; Morphology AbstrakWilayah pesisir memiliki kekayaan sumber daya alam hayati diantaranya biota laut seperti krustasea. Salah satu organisme laut dalam golongan krustasea adalah kepiting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis kepiting yang hidup di habitat pantai pesisir berbatu melalui pendekatan morfologi. Untuk mengetahui morfologi pada kepiting dapat dilakukan dengan melihat bentuk, warna serta ukuran. Hasil penelitian ini menemukan 3 jenis spesies kepiting pada dua lokasi yang berada di daerah Teluk Manado diantaranya kepiting Grapsus albolineatus Ozius truncatus dan Uca (Galasimus) tetragonon. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka ditemukan bentuk morfologis pada bagian abdomen berbentuk segitiga meruncing yang menunjukkan bahwa kepiting tersebut berkelamin jantan dan abdomen berbentuk segitiga melebar merupakan kepiting dengan jenis kelamin betina. Kepiting yang paling banyak ditemukan pada lokasi penelitian adalah kepiting betina.  Kata Kunci: Wilayah Pesisir; Kepiting; Morfologi 
Waste Inventorization Inorganic In The Mangrove Ecosystem Bunaken Island For The East Part Sundah, Geraldo Thimoty; Schaduw, Joshian N. W.; Warouw, Veibe; Kumampung, Deislie R.H.; Paransa, Darus Sa'adah J.; Mokolensang, Jeffrie
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35318

Abstract

The coastal area is a potential resource in Indonesia, is an intermediate area between the mainland and Ocean. This resource is very large which is supported by the existing coastline 81,000 km long. Long coastline This holds the potential for a large wealth of natural resources. The potential including biological and non-biological potential. in addition to the potential for natural resources that are widespread on the coast of Indonesia, potential pollution to the coastal and marine environment has quite a big opportunity. this opportunity could be caused by Indonesia's population density, high tourist activity including transportation, and major construction. As for the goal This study aims to identify the type and amount of waste inorganic in the Bunaken coastal mangrove ecosystem in the eastern part and identify the size and weight characteristics of inorganic waste in the mangrove ecosystem. The method used The result of this research is the coastline survey method methodology based on NOAA (2013) and line transects with taking 2 stations. This research was conducted for three months, which at each station has 1 transect line, each of which has 5 plots/sampling plots. Transect lines are carried out in parallel coastline along 50 meters of trash in the mangrove forest the distance between stations is 50 m, where the transect line must be located represents the research area. The data taken next is back analysis with the help of a computer program MS Excel The types of marine debris found at the research location are plastic, rubber, metal, and glass waste. The total size of the litter type which was found at the research location showed 2 characteristics, namely mega- debris and macro-debris. The most dominant type of waste is plastic waste.Keywords: Inorganic waste, Mangrove, East BunakenAbstrak Wilayah pesisir yang merupakan sumber daya potensial di Indonesia, adalah daerah peralihan antara daratan dan lautan.Sumber daya ini sangat besar yang didukung oleh adanya garis pantai sepanjang sekitar81.000 km. Garis pantai yang panjang ini menyimpan potensi kekayaan sumber alam yang besar.Potensi itu diantaranya potensi non hayati dan hayati.Disamping potensi sumberdaya alam yang tersebar luas di pesisir Indonesia, potensi pencemaran terhadap lingkungan pesisir dan laut pun memilik i peluang yang cukup besar.Peluang ini dapat disebabkan oleh padatnya penduduk Indonesia, aktifitas wis ata yang cukup tinggi termasuk transportasi, dan pembangunan yang besar. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu Mengidentifikasi jenis dan jumlah sampah anorganik yang berada di ekosistem mangrove pantai Bunaken bagian timur Dan Mengidentifikasi karakteristik ukuran dan berat sampah anorganik pada ekosistem mangrove. Metode yang dipakai dalam hasil penelitian ini adalah metode shoreline survey methodology berdasarkan NOAA (2013) dan Line transect dengan mengambil 2 stasiun . Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, dimana dalam setiap stasiun terdapat 1 line transect yang masing–masing memilik i 5 petak/plot pengambilan sampel. Jalur transek dilakukukan sejajar garis pantai sepanjang 50 meter adanya sampah pada mangrove jarak antar stasiun adalah 50 m, dimana jalur transek tersebut harus mewakili wilayah penelitian. Data yang di ambil selanjutnya d i analisa kembali dengan bantuan program komputer MS Excel Jenis sampah laut yang ditemukan pada lokasi penelitian berupa sampah plastik, karet, logam, dan kaca. Jumlah ukuran jenis sampah yang terdapat di loksasi penelitian menunjukan bahwa terdapat 2 karakteristik yaitu mega-debris dan macro-debris. Jenis sampah yang paling dominan adalah sampah plastik.Kata Kunci: Sampah Anorganik, Mangrove, Bunaken Timur.
Identification And Diversity Of Crab In Pondang And Lopana Beach Waters, South Minahasa Lepa, Bryan Gabriel; Paransa, Darus Saadah J; Mantiri, Desy M. H; Boneka, Farnis B; Lumoindong, Frans; Tilaar, Ferdinand F.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38004

Abstract

There are crab species that live in the forest and supratidal areas, on sandy, rocky, and muddy coastal areas. The aim of this research is to identify the morphology, of meristic crabs and the effect of the moon phase on species diversity. Sampling locations were on the coast of Pondang Village and Lopana Village, sampling using the roaming method and carried out at the two lowest low tide phases during the dead moon and full moon phases, during the lowest low tide crabs were generally found with walking legs. Based on the identification of the morphology of crabs found on the coast of Pondang Village and Lopana Village, East Amurang District, South Minahasa Regency, there are six species of them Ocypode ceratophthalmus (Stimpson, 1858), Grapsus albolineatus (Latreille in Milbert, 1892), Eriphia sebana (Shaw and Nodder, 1803), Atergatis floridus (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), Episesarma mederi (Edwards, 1853). Keywords: Coastal; Habitat; Crabs; Morphology; meristic AbstrakTerdapat jenis kepiting yang hidup di daerah hutan dan supratidal, di daerah pesisir pantai berpasir, berbatu dan berlumpur. Tujuan penelitian mengidentifikasi secara morfologi, meristik kepiting dan pengaruh fase bulan terhadap keanekaragaman spesies. Lokasi pengambilan sampel di pesisir pantai Kelurahan Pondang dan Desa Lopana, pengambilan sampel menggunakan metode jelajah serta dilakukan pada dua fase surut terendah saat fase bulan mati dan purnama, saat surut terendah umumnya dijumpai kepiting yang memiliki kaki jalan. Berdasarkan identifikasi morfologi kepiting yang ditemukan di pesisir pantai Kelurahan Pondang dan Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur, Kabupaten Minahasa Selatan, terdapat enam spesies antaranya Ocypode ceratophthalmus (Stimpson, 1858), Grapsus albolineatus (Latreille dalam Milbert,1892), Eriphia sebana (Shaw dan Nodder, 1803), Atergatis floridus  (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), Episesarma mederi (Edwards, 1853). Kata Kunci : Pesisir; Habitat; Kepiting; Morfologi; Meristik
Crustacea Brachyura Morphology And Morphometrically in Buloh Beach Intertidal Zone, Minahasa District, North Sulawesi Jumeini, Jumeini; Paransa, Darus S. J.; Schaduw, Joshian N. W.; Mantiri, Desy M. H.; Pelle, Wilmy E.; Manu, Gaspar D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i2.42078

Abstract

Brachyura crabs, especially coastal crabs, live in the intertidal zone with zone shape sandy beaches, muddy beaches, and rocky beaches. The colors on the crab’s carapace are caused by the presence of carotenoid pigments. The purpose of the study was to identify crabs morphologically and morphometrically. The sampling location was in Buloh Beach, Tateli Weru Village, Mandolang District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province. Sampling using the cruise method, which is a research activity carried out by tracing the coastal area at the lowest tide by capturing organisms as samples directly. The crab samples found then morphologically identified by observing the color and shape of the carapace, claws, walking legs, presence of spines on the carapace, carapace size, abdomen shape, the characteristics of the leg organs presence of hair (setae), and morphometric calculations were also carried out. Based on the morphology of the crabs found, namely: Grapsus albolineatus (Latreille in Milbert, 1812), Atergatis floridus (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), and Uca (Galasimus) tetragonon (Herbst, 1790)Keywords: Buloh Beach; Brachyura; Morphology; morphometrically; DiversityAbstrakKepiting brachyura khususnya kepiting pesisir hidup di zona intertidal dengan bentuk zona pantai berpasir, pantai berlumpur dan pantai berbatu. warna-warna pada karapas kepiting disebabkan karena adanya kandungan pigmen karotenoid. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kepiting secara morfologi dan morfometrik. Lokasi pengambilan sampel di Pantai Buloh, Desa Tateli Weru, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara. Pengambilan sampel menggunakan metode jelajah (cruise methods) yaitu suatu kegiatan penelitian dilakukan dengan menelusuri daerah pesisir pantai saat surut terendah dengan menangkap organisme sebagai sampel secara langsung. Sampel kepiting yang ditemukan kemudian dilakukan identifikasi morfologi dengan memperhatikan warna dan bentuk karapas, capit, kaki jalan, keberadaan duri pada karapas, ukuran karapas, bentuk abdomen dan ciri-ciri organ kakinya seperti keberadaan rambut (setae), serta dilakukan perhitungan morfometrik. Berdasarkan identifikasi morfologi kepiting yang ditemukan, yaitu: Grapsus albolineatus (Latreille in Milbert, 1812), Atergatis floridus (Linnaeus, 1767), Pilumnus vespertilio (Fabricius, 1793), dan  Uca (Galasimus) tetragonon (Herbst, 1790).Kata kunci : Pantai Buloh; Brachyura; Morfologi; Morfometrik; Keanekaragaman
Suitability Index and Supporting Capacity of Mangrove Ecotourism in Darunu Mangrove Park Wori District North Minahasa Regency Gultom, Fernando; Paruntu, Carolus Paulus; Rumengan, Antonius Petrus; Rumampuk, Natalie D. C.; Paransa, Darus S. J.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.54566

Abstract

The purpose of the study was to determine the type of mangrove, mangrove density, mangrove thickness, tides, associated biota objects, tourism suitability index, and carrying capacity of the Darunu mangrove tourism area.  The research period is October-December 2023.  The research methods used are cruising survey for mangrove species, line transect for mangrove density, remote sensing for mangrove thickness, and visualization for associated biota objects.  Data analysis for the tourism suitability index (IKW) and area carrying capacity (DDK) is guided by the provisions of Yulianda (2019).  The IKW value is 2.0 with the appropriate category and the DDK value is 25 people per day.  The size of the DDK value of the mangrove tourism area depends on two main factors, namely the length of tracking and the length of operating time.  The greater the value of tracking length and the length of operating time, the greater the DDK value, conversely the smaller the value of tracking length and the length of operating time, the smaller the DDK value.  As a recommendation to the village government to be able to extend the tracking distance by utilizing the mangrove spaces that are still available, in addition to the tourist period can be extended with adequate facilities such as electricity, lighting, etc. so that the value of DDK can still be achieved as much as possible to increase the economic income of the village community while still paying attention to environmental sustainability.  Furthermore, community participation to preserve this mangrove forest area is needed for the sustainability of ecotourism-based mangrove tourism at Darunu Mangrove Park. Keywords: Area carrying capacity, Darunu Mangrove Park, Ecotourism, Mangrove, Tourism suitability index. Abstrak Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis mangrove, kerapatan mangrove, ketebalan mangrove, pasang surut air laut, objek biota asosiasi, indeks kesesuaian wisata dan daya dukung kawasan wisata Darunu Mangrove Park.  Periode penelitian yaitu Oktober-Desember 2023.  Metode penelitian yang digunakan yaitu survey jelajah untuk jenis mangrove, transek garis untuk kerapatan mangrove, penginderaan jauh untuk ketebalan mangrove, visualisasi untuk objek biota asosiasi.  Analisis data untuk indeks kesesuaian wisata (IKW) dan daya dukung kawasan (DDK) berpedoman pada ketentuan dari Yulianda (2019).  Nilai IKW sebesar 2,0 dengan kategori sesuai dan nilai DDK sebanyak 25 orang per hari.  Besar kecilnya nilai DDK kawasan wisata mangrove tergantung pada dua faktor utama, yaitu panjang tracking dan lamanya waktu operasi. Semakin besar nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi, maka semakin besar pula nilai DDK tersebut, sebaliknya semakin kecil nilai panjang tracking dan lamanya waktu operasi maka semakin kecil nilai DDK tersebut.  Sebagai rekomendasi kepada pemerintah desa untuk dapat memperpanjang jarak tracking dengan memanfaatkan ruang-ruang mangrove yang masih tersedia, disamping itu periode waktu wisata dapat diperpanjang dengan dilengkapi fasilitas yang memadai seperti listrik, penerangan, dan lain-lain, agar nilai DDK masih dapat dicapai semaksimal mungkin dalam rangka peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungannya. Selanjutnya peran serta masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan hutan mangrove ini sangat dibutuhkan demi keberlanjutan wisata mangrove berbasis ekowisata di Darunu Mangrove Park. Kata kunci: Daya dukung kawasan, Darunu Mangrove Park, Ekowisata, Indeks kesesuaian wisata, Mangrove.
KARAKTERISTIK ARUS PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN MIANGAS KABUPATEN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA Nainggolan, Secilya; Angmalisang, Ping A,; Pelle, Wilmy E.; Paransa, Darus S. J.; Rampengan, Royke M.; Mamangkey, N. Gustaf F.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 1 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.1.2025.58468

Abstract

Arus adalah proses pergerakan massa air menuju kesetimbangan sehingga menimbulkan perpindahan horizontal dan vertikal sejumlah massa air. Perairan Sangihe Talaud merupakan pintu gerbang masukanya massa air laut dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia yang dinamakan Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Massa air Samudera Pasifik masuk ke perairan Indonesia melalui dua jalur salah satunya adalah melalui jalur Barat. Pemantauan dan pemetaan tiupan angin dan arus permukaan di perairan Talaud dalam penelitian ini menggunakan data yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) khususnya dari Stasiun Maritim Kota Bitung. Data ini digunakan untuk menggambarkan dinamika arus permukaan laut di perairan Miangas yang merupakan jalur pelayaran. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Analisa data dilakukan pertama-tama dengan metode pengklasifikasian data ke dalam empat bulan dalam setiap tahun, kemudian data diolah menggunakan peangkat lunak WRPLOT dan ODV (Ocean Data View). Hasil penelitian menunjukan karakteristik arus permukaan laut di Perairan Miangas pada tahun 2020 secara kumulatif arah arus dominan menuju ke Barat Daya dengan kecepatan maksimum 49,86 cm/s. Selanjutnya pada tahun 2021 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan 48,69 cm/s. Pada tahun 2022 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan maksimum 48,49 cm/s dan pada tahun 2023 arah arus dominan menuju ke Timur Laut dengan kecepatan maksimum 50,42 cm/s. Kata kunci: arus, kuantitatif, oseanografi, Perairan Miangas
Co-Authors Abdullah, Ridha Adrian, Melinda Margareta Angkow, Esther Angmalisang, Ping Angmalisang, Ping A, Anisa ET Silaa Anneke V. Lohoo Anton P Rumengan Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Antonius P. Rumengan Antonius Rumengan Antonius Rumengan Antonius Rumengan Aswan Thamin Bawias, Miranti Billy T. Wagey Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus Paulus Paruntu Chairulwan Umar Desy M H Mantri Dias Diasasthisa Efraim Bulele Elvy L Ginting Erly Y. Kaligis, Erly Y. Farnis B Boneka Farnis Bineada Boneka Fatmawati Amin Ferdinand F. Tilaar Fernando Gultom, Fernando Franciskus K.I. Manik Frans Lumoindong, Frans Gaspar D. Manu, Gaspar D. Grevo S Gerung Hariyani Sambali Hengky Manoppo Henky Manoppo Indri S Manembu Irfan Sirajudin James J H Paulus James J.H Paulus Janny D. Kusen Jetty K. Rangan Jetty Rangan Joice R.T.S.L. Rimper Joppy Mudeng Joshep Tamalonggehe Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joudy R. R. Sangari Jumeini, Jumeini Kemer, Kurnati Kepel, Rene Ch. Kumampung, Deislie Kumampung, Deislie R.H. Kurnia Kemer, Kurnia Kurniati Kemer Kurniati Kemer Kurniati Kemer Kurniati Kemer Kurniati Kremer Laurenzy Tampongangoy Lepa, Bryan Gabriel Lessy Armiyanti Maartianus S. Baroleh Mantiri, Desy M. H Mantiri, Rose Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Meilin Yulita Walo Meiske Salaki Mokoginta, Fatika Sari Mokolensang, Jeffrie Muhammad Zhaqif Ambarak N. Gustaf F. Mamangkey Nainggolan, Secilya Natalie D Rumampuk Natalie DC Rumampuk Nego E. Bataragoa Nickson J Kawung Nickson J. Kawung, Nickson J. Noldy G.F Mamangkey Ockstan Kalesaran Pankie Pangemanan Paulus, James Paulus, James J. H Paulus, James J. H. Pelle, Wilmy E. Raja Doli Remy E.P. Mangindaan Ridwan Lasabuda Rignolda Djamaluddin Rizald M Rompas Robert A. B. Tangkery Robert A. Bara Rosita Lintang Royke M. Rampengan Rudy Moningkey Rumengan, Antonius Petrus Rustikasari, Irna Silvester B Pratasik Sipriani Tumembow Stenly Wullur Stevania M Runtuwene Sundah, Geraldo Thimoty Sutandi Makalalag Suzanne L Undap suzanne Undap Tamara Angela Gabriela Siahaan Tilaar, Ferdinand F. Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Werianty Liony Zeak Wilmy E. Pelle