Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : INTEKNA

KEGAGALAN STRUKTUR DAN PENANGANANNYA Irawan, Joni
INTEKNA Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan yang terdapat di Banjarmasin dan sekitarnya, umumnya menggunakan sistem panggung. Sesuai dengan peraturan daerah Kota Banjarmasin, yang mengharuskan ba-ngunan-bangunan menggunakan sistem panggung. Hal tersebut bertujuan agar kebera-daan bangunan tidak mengganggu aliran air. Apabila bangunan tersebut menggunakan sistem panggung, maka di bawah bangunan terdapat ruang yang kosong. Ruang kosong tersebut mengakibatkan kolom bawah tanpa pengaku dinding, sehingga diperlukan sloof sebagai pengaku struktur bawah. Sloof hanya berfungsi untuk menahan beban lateral yang diakibatkan oleh tekanan tanah sekitar bangunan. Pada penelitian ini, menggunakan kasus bangunan yang retak pada dinding bangunan dengan lebar retak 2 cm. Pengumpulan data berdasarkan hasil pengamatan langsung dan gambar rencana dari konsultan perencana. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bangunan, ternyata pada struktur bawah ba-ngunan tersebut tidak mengunakan sloof, serta dimensi yang terpasang mempunyai ukuran yang sangat kecil dengan konfigurasi yang tidak monolit. Setelah mengetahui semua data yang terpasang pada bangunan, kemudian dimodelkan dengan menggunakan software komputer. Pemodelan dibuat dua macam, model asli se-suai kondisi eksisting dan model dengan beberapa alternatif penanganan. Permodelan model eksisting menunjukkan hasil bahwa displement pada bangunan atas melebihi nilai toleransi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya sloof pada bangunan bawah, dimensi balok dan kolom baja yang terpasang sangat kecil, serta posisi kolom tidak sentris sampai ke bangunan bawah. Setelah ditambahi dengan sloof dan penambahan balok serta kolom, displacement pada bangunan menjadi berkurang, masih dalam batas toleransi dan tegangan yang terjadi pada profil baja tidak overstress, tidak melebihi tegangan ijin.
Analisis Kelayakan Kolom Gedung PDAM Kabupaten Hulu Sungai Utara Irawan, Joni; Noor, Muhammad; Fahrin, Edy
INTEKNA informasi teknik dan niaga Vol 16 No 2 (2016)
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara pada Tahun 2012 merencanakan pembangunan kantor PDAM yang lebih representative, berupa gedung dua lantai. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Pembangunan dilakukan dengan 2 tahapan, yaitu tahap 1 berupa pelaksanaan struktur bawah yang meliputi pondasi dan kolom lantai 1. Sedangkan tahap 2 meliputi pekerjaan balok lantai 2, atap dan finishing. Setelah dilakukan pelaksanaan tahap 1, pembangunan tidak dilanjutkan langsung ke tahap 2. Selanjutnya pada Tahun 2015 PDAM Amuntai akan melanjutkan pembangunan tahap 2, tetapi harus dilakukan analisis dan desain terlebih dahulu terhadap kelayakan kolom lantai 1 tersebut.Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif cross sectional (potong lintang) dengan subjek penelitian tahap 1 pembangunan Kantor PDAM Amuntai  Hulu Sungai Utara. Pada penelitian ini, peneliti menganalisis kelayakan kolom lantai lantai 1. Apabila kolom lantai 1 dinyatakan masih mampu menahan beban dari lantai 2, maka analisis dilanjutkan dengan mereview seluruh balok di lantai 2, kolom lantai 2 dan atap. Selanjutnya output penelitian ini berupa rekomendasi yang ditujukan kepada Pemerintah Hulu Sungai Utara khususnya PDAM Amuntai.Struktur gedung ini dimodelkan dalam bentuk tiga dimensi dengan menggunakan Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB). Analisa struktur dilakukan dengan menggunakan program bantu software komputer. Berdasarkan hasil uji Hammer Test, kuat tekan beton kolom yang sudah terpasang rata-rata 286,46 kg/cm2, hal ini menunjukkan mutu beton yang sangat baik. Data mutu beton tersebut selanjutnya dijadikan dasar untuk menghitung kekuatan kolom. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa momen nominal (Mn) atau kapasitas penampang balok, kolom dan pelat lebih besar dari momen ultimit (Mu). Hal ini menunjukkan bahwa kolom yang sudah terpasang tersebut masih bisa menahan beban-beban yang bekerja, dengan tingkat keamanan masih memenuhi kekuatan batas, sehingga pembangunan tahap kedua bisa diteruskan. Begitu juga dengan balok serta pelat lantai rencana, bisa diteruskan sampai pembangunan tahap akhir, dengan mutu beton sesuai dengan perencanaan awal.
KEGAGALAN STRUKTUR DAN PENANGANANNYA Irawan, Joni
INTEKNA informasi teknik dan niaga Vol 12 No 2 (2012)
Publisher : P3M Politeknik Negeri Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan yang terdapat di Banjarmasin dan sekitarnya, umumnya menggunakan sistem panggung. Sesuai dengan peraturan daerah Kota Banjarmasin, yang mengharuskan ba-ngunan-bangunan menggunakan sistem panggung. Hal tersebut bertujuan agar kebera-daan bangunan tidak mengganggu aliran air. Apabila bangunan tersebut menggunakan sistem panggung, maka di bawah bangunan terdapat ruang yang kosong. Ruang kosong tersebut mengakibatkan kolom bawah tanpa pengaku dinding, sehingga diperlukan sloof sebagai pengaku struktur bawah. Sloof hanya berfungsi untuk menahan beban lateral yang diakibatkan oleh tekanan tanah sekitar bangunan. Pada penelitian ini, menggunakan kasus bangunan yang retak pada dinding bangunan dengan lebar retak 2 cm. Pengumpulan data berdasarkan hasil pengamatan langsung dan gambar rencana dari konsultan perencana. Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi bangunan, ternyata pada struktur bawah ba-ngunan tersebut tidak mengunakan sloof, serta dimensi yang terpasang mempunyai ukuran yang sangat kecil dengan konfigurasi yang tidak monolit. Setelah mengetahui semua data yang terpasang pada bangunan, kemudian dimodelkan dengan menggunakan software komputer. Pemodelan dibuat dua macam, model asli se-suai kondisi eksisting dan model dengan beberapa alternatif penanganan. Permodelan model eksisting menunjukkan hasil bahwa displement pada bangunan atas melebihi nilai toleransi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya sloof pada bangunan bawah, dimensi balok dan kolom baja yang terpasang sangat kecil, serta posisi kolom tidak sentris sampai ke bangunan bawah. Setelah ditambahi dengan sloof dan penambahan balok serta kolom, displacement pada bangunan menjadi berkurang, masih dalam batas toleransi dan tegangan yang terjadi pada profil baja tidak overstress, tidak melebihi tegangan ijin.