Mochamad Arief Soleh
Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran

Published : 43 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Faktor yang mendasari overestimasi pengukuran gas exchange tanaman dengan menggunakan Photosynthesis Analyzer Li-6400 Mochamad Arief Soleh
Kultivasi Vol 16, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.393 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v16i1.11546

Abstract

Salah satu tujuan penelitian adalah dihasilkannya data penelitian yang valid dan terpercaya. Semuanya itu tentu memerlukan usaha keras dalam memahami topik penelitian, serta memahami cara kerja alat penelitian yang akan digunakan. Beberapa kesalahan yang penulis temui dalam mengukur laju fotosintesis tanaman atau gas exchange dengan alat LI-6400 adalah ditemukannya overestimasi pengukuran. Seperti ditemukan pada dua publikasi jurnal, misalnya laju fotosintesis tanaman bawang merah mencapai 97-158 μmol CO2 m-2 s-1 dan laju fotosintesis jangung mencapai 85 – 100 μmol CO2 m-2 s-1. Secara umum tanaman C4 (Jagung) memiliki laju fotosintesis jauh lebih tinggi dibanding tanaman C3 (Bawang). Ada dua faktor kemungkinan yang menyebabkan terjadinya overestimasi dalam mengestimasi pengukuran fortosintesis dengan menggunakan alat portable fotosintesis LI-6400 ini, pertama: faktor pengguna seperti kurang informasi berkenaan response fotosintesis tanaman, kesalahan teknis pemasangan alat serta kekurang hati-hatian dalam menggunakan alat. Kedua, faktor sample daun yang diukur seperti: laju pembukaan stomata sangat minim, kondisi daun terlalu muda atau tua, serta daun terlalu banyak disentuh fisik (tangan) sehingga stomata menutup. Untuk menghindari hal tersebut hendaknya para peneliti yang menggunakan alat portable fotosintesis ini agar lebih memahami informasi fisiologis tanaman yang diukurnya, memahami protokol penggunakan alat, serta memahami bagaimanan memilih daun sample terbaik untuk dijadikan wakil dari  proses fisiologi tanaman. Dengan demikian estimasi nilai fotosintesis tanaman akan lebih akurat.Kata Kunci: gas exchange, fotosintesis, LI-6400, overestimasi
Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai (Capsicum sp.) yang diberi pupuk hayati pada pertanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) TBM I. Cucu Suherman; Mochamad Arief Soleh; Anne Nuraini; Annisa Nurul Fatimah
Kultivasi Vol 17, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.32 KB) | DOI: 10.24198/kultivasi.v17i2.18116

Abstract

ABSTRAK Penerapan sistem tanam tumpangsari pada tanaman belum menghasilkan (TBM) kelapa sawit merupakan upaya optimalisasi lahan. Pada TBM I  terdapat 75 % ruang terbuka yang dapat ditanami tanaman sela, misalnya tanaman cabai. Tanaman sawit umumnya ditanam pada lahan marginal, maka untuk optimasi pertumbuhan tanaman sela perlu dipilih varietas yang baik dan dilakukan pemupukan. Penelitian bertujuan untuk memperoleh pengaruh interaksi terbaik varietas dan dosis pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai yang ditanam pada pertanaman kelapa sawit TBM 1. Percobaan dilakukan mulai Oktober 2017 sampai Pebruari 2018 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas padjadjaran.  Ordo tanah inceptisol. Tipe curah hujan C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson, ketinggian tempat ± 780 m dpl. Rancangan menggunakan Split plot design,  varietas sebagai main plot terdiri atas dua taraf, yaitu CK5 dan CB2 dan dosis pupuk hayati sebagai sub plot terdiri atas enam taraf, yaitu 0, 50, 100,150, 200 dan 250 mL/tanaman. Setiap perlakuan diulang empat kali. Hasil penelitian menunjukkan Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai dipengaruhi secara mandiri maupun interaksi varietas dan dosis pupuk hayati. Pada CK5 taraf dosis pupuk hayati 200 mL/tanaman menghasilkan tinggi tanaman, lebar kanopi dan jumlah cabang yang lebih baik. Pada CB2, taraf dosis 150 mL/tanaman memberikan pengaruh interaksi lebih baik. Secara mandiri, dosis pupuk hayati 150 mL/tanaman menghasilkan pertumbuhan terbaik pada tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang, bobot dan jumlah buah tanaman cabai, sementara untuk varietas CK5 menghasilkan tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang dan jumlah buah yang lebih baik dibanding CB2.Kata kunci : Tumpangsari, varietas cabai, pupuk hayati. ABSTRACT Intercropping system on immature plant of oil palm is an alternative cropping system to reach land optimization. In immature oil palm plantation there is 75% uncover space among the crops which could be used for cultivating annual crops. Generally, oil palm is cultivated on marginal land, so that to optimize the growth of annual crop is needed proper variety and fertilization. The objective of this research was to get the best interaction effect among variety and dosage of organic fertilizer at year 1 immature palm. The experiment was conducted at experimental station of Agricultural Faculty, Universitas Padjadjaran from Oct 2017 to Feb. 2018, it used of split plot. Variety was a main plot with two level namely: CK5 and CB2, the dosage of organic fertilizer was a sub plot with six level namely: 0, 50, 100, 150, 200, and 250 mL of organic fertilizer. All treatments were repeated for four times. The growth and yield of chili crop were affected independently by variety or fertilizer dosage even by interaction of both. CK5 and 200 mL of fertilizer showed better on plant height, canopy width, and number of branch, whereas interaction effect of CB2 and 150 mL of fertilizer showed the best on plant growth. Independent effect of organic fertilizer of 150 mL affected on plant height, canopy width, branch number, fruits number and weight of chill crop. Independent effect of variety of CK5 showed better than of CB2 on plant height, fruit number and yield.Keywords : Intercropping, Chili Variety, Organic Fertilizer
Respons Pertumbuhan dan Fisiologi Beberapa Varietas Tebu (Saccharum officinarum L.) Asal Kultur Jaringan yang Diberi Cekaman Genangan Air Mochamad Arief Soleh; Santi Rosniawaty; Erza Febrilla Sofiani
Agrikultura Vol 30, No 3 (2019): Desember, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.263 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i3.24976

Abstract

Tanaman tebu merupakan komoditas utama penghasil gula. Produksi tebu dipengaruhi oleh faktor abiotik yaitu air. Sebaran curah hujan yang tidak merata akibat pemanasan global berpotensi terjadinya penggenangan di areal pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons sifat-sifat pertumbuhan dan fisiologis bibit tebu asal kultur jaringan yang diberikan cekaman genangan air. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 8 perlakuan, 4 ulangan dan setiap plot terdiri dari 3 tanaman. Perlakuan terdiri dari 4 jenis varietas yang berbeda yaitu PSJT 941, PS 862, PSJK 922 dan Kidang Kencana pada kondisi normal dan penggenangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat respons pertumbuhan dan fisiologi yang berbeda dari setiap varietas yang diuji. Varietas yang menunjukkan respons terbaik adalah PSJT 941 pada parameter tinggi tanaman yaitu 161,7 cm; varietas PS 862 pada parameter jumlah anakan 3,75 buah, bobot kering tajuk yaitu 38,68 g dan akar 48,70 g; varietas PSJK 922 pada konduktansi stomata (ks)yaitu 261,6 mmol H2O·m-2·s-1; dan varietas Kidang Kencana pada fv/fm yaitu 0,723.
Respons Tanaman Kentang terhadap Jenis Zat Pengatur Tumbuh pada Berbagai Kondisi Cekaman Kekeringan di Dataran Medium Nita Yuniati; Jajang Sauman Hamdani; Mochamad Arief Soleh
Agrikultura Vol 31, No 2 (2020): Agustus, 2020
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v31i2.25726

Abstract

Peningkatan suhu global akibat peningkatan CO2 di atmosfer dapat menyebabkan cekaman kekeringan pada tanaman kentang. Aplikasi zat pengatur tumbuh (ZPT) asam salisilat dan paclobutrazol mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman saat cekaman kekeringan melalui peningkatan aktivitas fotosintesis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui interaksi cekaman kekeringan dengan jenis ZPT terhadap indeks luas daun, nisbah pupus akar, dan hasil tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Jatinangor menggunakan rancangan split plot dengan tiga kali ulangan. Petak utama adalah interval penyiraman, terdiri dari 1, 4, 8, dan 12 hari, sedangkan anak petak yaitu jenis ZPT, terdiri dari tanpa ZPT, asam salisilat, paclobutrazol, dan kombinasi asam salisilat dan paclobutrazol. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat interaksi cekaman kekeringan dengan jenis ZPT. Perlakuan interval penyiraman 1 hingga 4 hari masih mampu memberikan indeks luas daun serta jumlah dan bobot ubi pertanaman paling baik. Aplikasi kombinasi ZPT asam salisilat dan paclobutrazol menurunkan indeks luas daun, namun mampu meningkatkan bobot ubi per tanaman.
Pengaruh Dosis dan Cara Pemberian Pupuk Anorganik terhadap Pertumbuhan Kakao (Theobroma cacao L.) Belum Menghasilkan Klon Sulawesi 1 Ester Miranda Lbn.Tobing; Santi Rosniawaty; Mochamad Arief Soleh
Agrikultura Vol 30, No 2 (2019): Agustus, 2019
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.1 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v30i2.22920

Abstract

Tanaman kakao banyak dibudidayakan di Indonesia, khususnya di perkebunan rakyat. Produksi kakao di Indonesia masih di bawah potensi hasil kakao secara umum. Peningkatan produksi perlu dilakukan, salah satunya dengan melakukan pemberian pupuk anorganik. Keefektifan penyerapan unsur hara oleh tanaman tergantung pada beberapa faktor, diantaranya dosis pupuk dan cara aplikasi pupuk yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh dosis dan cara pemberian pupuk anorganik yang memberikan pengaruh terbaik pada pertumbuhan tanaman kakao belum menghasilkan. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, pada bulan Desember 2018 sampai bulan April 2019. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Perlakuan terdiri dari dosis dan cara pemberian pupuk anorganik, dengan dosis pupuk meliputi: tanpa pemupukan; pupuk tunggal dengan satu taraf, yaitu 45 g/tanaman urea, 60 g/tanaman SP-36, 35 g/tanaman KCl; dan pupuk majemuk tablet NPKMg (20:10:10:2) dengan tiga taraf, yaitu 30 g/tanaman, 60 g/tanaman, 90 g/tanaman, sedangkan cara pemberian pupuk meliputi: disebar dan ditabur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis dan cara pemberian pupuk anorganik berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan kakao belum menghasilkan terutama pada parameter luas daun, indeks klorofil daun, jumlah flush, dan panjang flush. Pemberian 90 g/tanaman pupuk majemuk tablet NPKMg (20:10:10:2) dengan cara ditabur mampu meningkatkan pertumbuhan kakao belum menghasilkan.Kata Kunci: Kakao belum menghasilkan, Pupuk anorganik, Dosis, Cara pemberian
Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
PENGARUH KONSENTRASI CO2 TERHADAP RESPON FOTOSINTESIS GENOTIPE KEDELAI YANG BERBEDA DALAM KAPASITAS BINTIL AKAR Mochamad Arief Soleh; Makie Kokubun
Zuriat Vol 22, No 1 (2011)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v22i1.6844

Abstract

Peningkatan konsentrasi CO2 [CO2] di atmosfer akan terus berlangsung sehingga akan mempengaruhi produksi tanaman di masa depan. Peningkatan [CO2] tersebut dapat meningkatkan laju fotosintesis tanaman, sekaligus mempengaruhi hasil tanaman khususnya pada tanaman dengan tipe fotosintesis C3 misalnya kedelai. Kedelai kultivar Enrei (normal-nodulation) dan kultivar Enb01 (super-nodulation) telah ditanam di dalam pot dan ditempatkan di dua rejim [CO2] yang berbeda yakni [CO2] normal (380 ppm) dan [CO2] tinggi (580 ppm). Tanpa melihat perbedaan genotipe, laju fotosintesis kedelai pada level jenuh PPFD (Photosynthetic Photon Flux Density) (1500 µmolm-2s-1) di rejim [CO2] tinggi cenderung lebih tinggi dibanding rejime [CO2] normal pada fase awal tumbuh (sebelum berbunga) 42 dan 57 hari setelah tanam (HST). Sedangkan laju fotosintesis kedelai di rejim [CO2] normal cenderung lebih tinggi pada fase dewasa (sedang berbunga) umur 76 HST. Hal ini memperlihatkan adanya penurunan laju fotosintesis (down-regulation) pada tanaman kedelai umur dewasa (76 HST) di rejim [CO2] tinggi. Hasil pengamatan fotosintesis pada umur 57 HST pada level PPFD yang berbeda (0-1500 µmolm-2s-1) memperlihatkan peningkatan laju fotosintesis seiring meningkatnya radiasi cahaya. Sedangkan laju fotosintesis pada umur dewasa (76 HST) menjadi stagnan seiring meningkatnya radiasi cahaya. Oleh karena itu rejime [CO2] tinggi menstimulasi penurunan laju fotosintesis tanaman kedelai pada umur dewasa (76 HST) yakni pada saat pembungaan. Perbedaan genotip kedelai dalam kapasitas bintil akar tidak menunjukkan pengaruh terhadap laju fotosintesis.
AIR CUCIAN BERAS SEBAGAI SUPLEMEN BAGI PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT Rosafira Putri Zistalia; Mira Ariyanti; Mochamad Arief Soleh
JURNAL HUTAN PULAU-PULAU KECIL Vol 2 No 2 (2018): JHPPK
Publisher : Program Studi Manajemen Hutan, Pascasarjana Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.533 KB)

Abstract

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah pemberian unsur hara. Unsur hara yang biasa diberikan pada bibit kelapa sawit yaitu unsur N, P, K. Unsur hara tersebut dapat diperoleh dari pemberian pupuk organik, salah satunya yaitu yang berasal dari limbah air cucian beras. Air cucian beras banyak mengandung unsur yang bermanfaat bagi pertumbuhan bibit kelapa sawit diantaranya unsur N, P, K Mg, dan karbohidrat. Percobaan ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian air cucian beras dengan konsentrasi dan interval waktu berbeda terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Ciparanje, Universitas Padjadjaran, Kabupaten Sumedang pada bulan Januari 2018 sampai dengan bulan April 2018. Jenis tanah yang digunakan adalah Inseptisol dengan tipe curah hujan bertipe C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 13 perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali dan tiap ulangan berjumlah 2 tanaman. Perlakuan meliputi pemberian pupuk anorganik dan pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Interval waktu pemberian air cucian beras setiap hari, 3 hari sekali, 6 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 100% dan interval penyiraman 3 hari sekali pada bibit kelapa sawit berpengaruh baik terhadap pertumbuhan lilit batang dan jumlah daun.
Keragaan Fisiologis dan Morfologis Dua Kultivar Kedelai Asal Subtropis dan Tropis Akibat Cekaman Kekeringan Mochamad Arief Soleh; Ranu Manggala; Muhamad Kadapi
Buletin Palawija Vol 19, No 2 (2021): Buletin Palawija Vol 19 No 2, 2021
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bulpa.v19n2.2021.p111-116

Abstract

Strategi untuk memperbaiki sifat pertumbuhan tanaman budidaya adalah dengan melakukan penelusuran sifat tumbuh tanaman baik secara morfologi dan fisiologi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaan  pertumbuhan kultivar  kedelai asal subtropis yaitu Tambaguro dengan kedelai asal tropis yaitu Anjasmoro yang diberi cekaman kekeringan. Penelitian di lakukan di daerah tropis yaitu di Kelurahan Pasirwangi, Ujung Berung, Bandung menggunakan pot. Pertumbuhan tinggi tanaman kedelai kultivar Tambaguro berkisar 12 cm pada umur 2 MST (minggu setelah tanam) sampai 29 cm pada umur 6 MST, sedangkan tinggi tanaman kultivar Anjasmoro berkisar 10  cm pada 2 MST sampai 32 cm pada 6 MST. Tampilan konduktasi stomata untuk kedua kultivar menunjukkan penurunan seiring umur tanaman (2-6 MST) yaitu berkisar 1094 - 1042 mmol/m²•s untuk Tambaguro, dan 892-1319 mmol/m²•s untuk Anjasmoro. Kultivar Tambaguro memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dari kultivar Anjasmoro pada awal tumbuh, namun tidak pada pertumbuhan umur lanjut, sedangkan Kultivar Anjasmoro memiliki keunggulan dalam pertumbuhan tinggi pada umur lanjut. Tampilan fisiologis berupa respons konduktansi stomata dan fluoresensi klorofil kultivar Tambaguro lebih baik dari Anjasmoro disemua umur pengamatan, sedangkan dalam kodisi cekaman kekeringan, tampilan fisiologis kedua kultivar  cenderung sama menunjukkan ada potensi keunggulan genetik yang perlu dipertimbangkan, terlebih kultivar Tambaguro ini merupakan jenis kedelai berbiji besar sehingga memiliki keungulan secara ekonomis.Kata Kunci: 
Implementation of Islamic Religious Value on Governance of Law and Environmental Issue Mochamad Arief Soleh; Tubagus Chaeru Nugraha; Otong Nurhilal; Asep Agus Handaka Suryana
Islamic Research Vol 3 No 1 (2020): Jurnal Kajian Peradaban Islam
Publisher : Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.951 KB) | DOI: 10.47076/jkpis.v3i1.24

Abstract

Social environment is changing rapidly coincide with rapid change of human thinking in solving any problems. The thinking is underlying human activity in their life, so that it needs a guidance of thinking in facing every change in the life. Padjadjaran University (Unpad) as part of educational state has a guidance to support national development which is presented in principal scientific pattern (PSP) consisted of strengthen law and environmental issue. The rise opinions to restore Islamic religious values in the social order such as growing of Islamic banking system have proven its superiority at any challenges of finance problem. Therefore this paper tries to illustrate the superiority of Islamic values that are integrally introduced into PSP of Unpad's vision and mission. One of Islamic religious value has been listed in maqasid sharia is to maintaining human mind (Hifz Al Aql) in thinking and behavior and also to maintaining harmonious environment for good living. Hopefully, all of activities in the academic community of Unpad could be able to rely on Islamic PSP as a guidance in every academic activities, moreover to bring Islam blessings and prosperity for all (rahmatan lilalamiin) at the Unpad.