Claim Missing Document
Check
Articles

Glow in The Dark Prastiti, Ni Made; Pebryani, Nyoman Dewi; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.219 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1784

Abstract

Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) merupakan jenis kukang yang keberadaanya terancam punah akibat perburuan liar untuk diperjualbelikan. Kukang Jawa dikenal dengan sembutan malu-malu yang biasanya aktif di malam hari.Penciptaan karya busana Ready to Wear dan Semi Couture ini ditunjukan untuk mewujudkan busana wanita glamor style dengan kukang sebagai ide pemantik dan dilaksanakan bersamaan dengan program kerja Magang atau Praktik Kerja :MBKM di PT Erika Pefia Boutique. Kukang di implementasikan dengan teori analogi dan kata kunci terpilih yaitu : Bulu , Bergaris,Coklat Muda,Bulat,Menonjol. Metode penciptaan ini menggunakan yaitu terdiri dari delapan tahapan penciptaan "Frangipani" Desain Fashion dari Dr.Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, protype, dummy,final collection, promoting, branding, sale, production business. Hasil penciptaan ini di harapakan dapat menambah kepustakan Khususnya di bidang fashion dengan teori analogi Kukang yang diimplementasikan dalam busana Ready to Wear Deluxe dan Semi Couture ke dalam wujud busana Glamor style sebagai style dan dituangkan pada penggunaan kain satin, faux fur, tulle gliter, beading. Hasil karya ini diharapkan khususnya pelaku fashion menjadi salah satu referensi agar dapat menciptakan busana yang terinspirasi dari hewan endemik nusantara yang keberadaanya sudah hampir punah, serta di perjual belikan secara illegal dan harus dilindungi.
Happiness in Simplycity : Studi Kasus Busana Semi Couture dan Ready to Wear di Agung Bali Collection Maselia Andriani, Ni Putu Nanda; Pebryani, Nyoman Dewi; Sudarsana, Tjok Istri Ratna Cora
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 2 No. 2 (2022): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.41 KB) | DOI: 10.59997/bhumidevi.v2i2.1797

Abstract

Kue Klepon merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang termasuk dalam kelompok jajanan pasar yang sangat unik, makanan ini terbuat dari tepung ketan putih yang diberi pewarna hijau dari daun suji ataupun dari daun pandan kemudian dibentuk bulat-bulat diberi isian gula merah dan direbus didalam air mendidih. Keunikan Kue Klepon itu sendiri yaitu mengeluarkan gula saat digigit didalam mulut sehingga penikmat kue klepon merasakan kejutan rasa manis didalamnya. Hal ini yang membuat Kue Klepon hingga saat ini masih menjadi makanan tradisional yang sangat populer dimasyarakat luas. Pengembangan ide pemantik dari Kue Klepon ini dilakukan dengan tahapan proses desain fashion bertajuk “FRANGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan proses desain fashion FRANGIPANI ini meliputi 10 tahapan yang memberikan tahapan sistematis dalam mengembangkan sumber ide Kue Klepon ke dalam karya busana RTW dan Semi Couture.
Brahrang: Si Manis Berbalut Merah di Binjai Karso, Kejora Pratiwi; Sudharsana, Tjok Istri Ratna Cora; Pebryani, Nyoman Dewi; Karso, Olih Solihat
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2234

Abstract

Koleksi busana Brahrang merupakan hasil karya penciptaan desain mode yang terinspirasi oleh flora endemik Indonesia, yakni Rambutan Binjai. Rambutan Binjai adalah salah satu varietas unggul rambutan di Indonesia, memiliki asal usul yang menarik untuk diperkenalkan karena berasal dari salah satu kota penghasil buah rambutan terbanyak di Indonesia, yaitu Kota Binjai; kota yang juga terkenal dengan kain Ulosnya. Manisnya daging buah Rambutan Binjai dengan nuansa merah dan putih, serta kulitnya yang berwarna hijau ketika masih muda, diangkat menjadi ide pemantik dalam perancangan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture yang diimplementasikan menggunakan gaya ungkap analogi dengan sentuhan elegant look, style classic elegant dan sexy alluring. Perwujudan koleksi karya busana “Brahrang: Si Manis Berbalut Merah di Binjai” menggunakan delapan dari sepuluh tahapan perancangan busana yang bertajuk FRANGIPANI, The Secret Steps of Art Fashion, yaitu (1) Finding the brief idea, (2) Researching and sourcing of art fashion, (3) Narrating of art fashion idea by 2d or 3d visualization, (4) Making sample, dummy, and construction, (5) Interpreting of singularity art fashion will be showed in the final collection, (6) Promoting and making a unique art fashion, (7) Navigating art fashion production by humanist capitalism method, (8) Introducing the art fashion business. Perancangan busana ini bertujuan untuk memperkenalkan secara lebih luas ke masyarakat umum serta melestarikan flora endemik Indonesia dan kain khas tradisional Indonesia.
Abinawa Musara Ahyung: Analogi Anggrek Pensil Dalam Busana Feminine Exotic Wardani, Putu Asri; Adnyana, I Wayan; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2236

Abstract

Anggrek pensil yang memiliki nama latin papilionanthe hookeriana merupakan tanaman hias yang menyandang gelar sebagai Ratu Anggrek dan mendapat hadiah berupa “First Class Certificate” dikarenakan keindahannya yang mampu menawan para pemerintah inggris dan masyarakatnya pada tahun 1882. Tanaman yang terkenal memiliki habitat alami di Danau Dendam Tak Sudah ini menjadi ide pemantik untuk mewujudkan busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture yang kemudian dikemas dengan konsep busana Feminine Exotic yang berjudul Abinawa Musara Ahyung. Pembedahan tanaman anggrek pensil ke dalam bentuk mind mapping menghasilkan 5 kata kunci yang kemudian dapat diimplementasikan lewat teori analogi. 5 kata kunci terpilih yaitu: bergelombang, tutul ungu, halus, ungu gradasi, dan lurus. Metode penciptaan yang digunakan dalam pembuatan busana Abinawa Musara Ahyung adalan metode FRANGIPANI yang terdiri dari delapan tahapan penciptaan desain fashion yang ditulis oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016. Hasil akhir dari rekacipta penciptaan busana Abinawa Musara Ahyung ini diharapkan dapat menambah kepustakaan dalam bidang fashion.
Naur Penempuh: Metafora Tradisi Mayah Penempuh Dalam Penciptaan Busana Art Off Beat Style Look Romantic Utami, Ni Luh Sri; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 1 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i1.2237

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan busana bergaya art off beat romantic yang terinspirasi dari Tradisi Mayah Penempuh yang berasal dari Desa Suwug, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng. Tradisi Mayah Penempuh merupakan kelanjutan upacara setelah melakukan upacara pawiwahan yang dilakukan oleh pihak purusa setelah mampu dalam artian mampu segala hal baik mental dan material yang dilakukan secara turun temurun dan tidak dipaksakan oleh adat, tetapi memang sudah keyakinan dari masyarakat untuk membayar tradisi mayah penempuh. Tradisi Mayah Penempuh dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap metafora berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu, melepas penderitaan, bersyukur, perempuan, menikah, pitra rna. Proses pembuatan busana ini menggunakan metode dari Dr. Tjok Istri Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si yaitu “FRANGIPANI” yang terdiri dari 10, namu dalam penciptaan ini hanya menggunakan 8 tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample, Prototype, Dummy, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production Businnes. Ide dari busana ini nantinya diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan mengenai Tradisi Mayah Penempuh. Serta nantinya busana ini dapat memperkenalkan tradisi Bali kepada masyarakat Indonesia sehingga tradisi Bali tetap lestari.
Ufti Segara: Analogi Larung Sembonyo Dalam Busana Bergaya Sporty Casual Purwadani, Kadek Anjani Putri; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2818

Abstract

Sedekah laut merupakan budaya masyarakat indonesia khususnya masyarakat yang memiliki penghasilan dari laut seperti nelayan salah satunya. Masyarakat daerah teluk Prigi memiliki tradisi sedekah laut yang diberi nama Larung Sembonyo. Tradisi Larung Sembonyo dilakukan oleh masyarakat daerah teluk tersebut sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil laut yang telah di berikan dan sebagai pengingat akan leluhur mereka yang dimana saat masa Kerajaan Mataram melakukan perluasan daerah sepanjang pulau jawa. Larung Sembonyo merupakan ide pemantik dari koleksi busana yang berjudul “Ufti Segara”. Ufti Segara memiliki arti “Persembahan yang diberikan atau diperuntukkan kepada laut”. Perancangan desain busana memerlukan tahapan sistematis agar busana yang dihasilkan dapat terwujud sesuai dengan ide maupun konsep yang telah ditentukan. “FRANGIPANI”, The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fesyen) oleh Ratna Cora, merupakan salah satu tahapan dalam metode penciptaan karya busana. Pada penciptaan ini juga diuraikan tentang keterkaitan antara bentuk dan makna dalam busana Ready To Wear, Ready To Wear Deluxe dan Semi Couture dengan ide pemantik. Bentuk yang muncul pada koleksi ini tampak dalam siluet, permainan warna busana, dan aplikasi dari Textile Manipulating dengan teknik penggabungan. Sedangkan makna pada koleksi ini secara garis besar adalah perpaduan antara sumber ide dengan unsur tradisional dan unsur modern yang inovatif.
Ngale Tatanen: Metafora Tradisi Daerah Indramayu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Busana Berkolaborasi Dengan PT Sangkara Indah Sejahtera Ariyanti, Ni Kadek Yunik; Pebryani, Nyoman Dewi; Paramita, Ni Putu Darmara Pradnya
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2819

Abstract

Tradisi Ngarot merupakan tradisi di desa Lelea, Indramayu, Jawa Barat sebagai ungkapan syukur masyarakat terhadap datangnya musim tanam padi. Tradisi ini diwariskan oleh Ki Kapol yang bertujuan untuk menjalin kondisi sosial yang harmonis dengan melibatkan generasi muda terutama dalam pergaulan. Melalui bertani, nilai-nilai dalam tradisi Ngarot diharapkan dapat membawa generasi muda kearah peragaulan yang sehat dan tetap melestarikan tradisi didesa mereka. Syarat pemuda dan pemudi yang mengikuti rangkaian tradisi ini adalah generasi yang masih menjaga kesucian mereka / masih perawan dan perjaka. Mitos yang diyakini oleh masyarakat Lelea, jika pemudi yang mengenakan mahkota bunga sudah tidak suci maka bunga tersebut akan layu dan tidak wangi. Tradisi ini selalu dilaksanakan setiap hari rabu antara bulan Oktober, November dan Desember karena akhir tahun memasuki musim penghujan karena membawa kesuburan. Penciptaan karya busana Tugas Akhir yang dilatarbelakangi oleh keinginan penulis dalam mengimplementasikan Tradisi Ngarot Lelea dengan mewujudkannya kedalam karya busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan menggunakan teori pendekatan metafora. Kata kunci terpilih yaitu : bujang cuene, suci, persatuan, hujan, dan syukur. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini adalah sembilan penciptaan “Frangipani”design art fashion oleh Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan tradisi Ngarot yang di visualisasi dengan karya busana Tugas Akhir ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture.
Urek-Urek Dadi Sebun: Analogi Tanaman Myrmecodia Pendans dalam Busana Bergaya Classic Exotic Al Attas, Syarifah Alawiyah; Pebryani, Nyoman Dewi; Konte Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2821

Abstract

Myrmecodia pendans atau Sarang Semut merupakan tanaman obat dari Papua. Tanaman Sarang Semut memiliki batang yang menggelembung dan berduri, dalamnya terdapat banyak ruang atau rongga kecil yang banyak dihuni oleh semut. Penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture yang dilakukan oleh penulis dengan judul “Urek-Urek Dadi Sebun” memiliki konsep style busana Classic Exotic. Tanaman Sarang Semut diimplementasikan lewat teori analogi dengan kata kunci terpilih, yaitu bengkak, rongga, philidris cordata (semut), orange, dan duri. Penciptaan karya busana dilakukan dengan berkolaborasi bersama mitra terpilih yaitu Pertenunan Astiti. Kolaboarsi dilakukan dengan penciptaan busana penggunaan material kain tenun endek yang merupakan produk utama di Pertenunan Astiti. Kain tenun endek didesain oleh penulis sesuai dengan ide pemantik kemudian di produksi di pertenunan Astiti. Penciptaan karya busana dilakukan dengan menggunakan delapan tahapan dari sepuluh tahapan perancangan busana bertajuk FRANGIPANI, tahun 2016. Hasil dari penciptaan busana Urek-Urek Dadi Sebun ini diharapkan dapat menambah kepustakaan dalam bidang fashion.
Rambu Solo: Upacara Adat Kematian Di Tana Toraja Sebagai Inspirasi Koleksi Busana Hoar Nahak, Esperanza Ayu Viana; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2825

Abstract

Rambu solo merupakan upacara adat kematian tana toraja, Sulawesi selatan. Upacara ini tergolong unik karena berbeda dengan upacara adat pada umumnya. Upacara rambu solo memiliki rangkaian upacara lainnya yang wajib dilaksanakan agar dapat dikatakan sempurna. Upacara Rambu Solo dilakukan dengan tujuan menghormati serta menghantarkan roh ke Puya atau alam roh, jika kerabat belum bisa melakukan upacara ini maka jenazah akan dianggap sebagai orang yang hidup dalam keadaan sakit. Sehingga sangat wajar bagi masyarakat Toraja untuk berbincang atau menyuguhkan makanan kepada kerabatnya yang sudah meninggal jika belum melaksanakan upacara Rambu Solo. Keunikan upacara Rambu Solo ini menjadi sumber inspirasi penciptaan karya busana yang terdiri dari satu busana Ready to Wear, satu busana Ready to Wear Deluxe, dan satu busana Semi Couture, yang dibedah menggunakan pendekatan metafora dan diimplementasikan ke dalam gothic style. Penciptaan busana menggunakan tahapan proses desain fesyen dengan judul “FRANGIPANI” The Secret Steps of Art Fashion (Frangipani, Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fesyen) oleh Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana sebagai acuan. Proses desain fesyen FRANGIPANI ini memiliki sepuluh tahapan yang sistematis dalam mengembangkan sumber ide Rambu Solo. Hasil dari penciptaan busana ini, diharapkan dapat membuat masyarakat lebih mengenal keberagaman budaya Indonesia, terutama keunikan dari upacara Rambu Solo.
Murkaning Sang Dewi : Metafora Figur Rangda Pada Calonarang Dalam Busana Ready To Wear, Ready To Wear Deluxe, Semi Couture Chandra Fatmi, Dewa Ayu Gek Diah; Pebryani, Nyoman Dewi; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2827

Abstract

Seni Tradisi Pementasan Calonarang di Bali, Dalam lontar babad Rangda, oleh Ida Pedanda Made Sidemen (dalam sasana budaya Bali, 1975-1976:11), diceritakan bahwa Rangda adalah anak Bhatara Siwa yang bernama Dewi Krisna. Dewi Krisna tentang ilmu desti atau ngeleak (black magic). Oleh karena Dewi Krisna ini menguasai ilmu pengeleakan yang mengancam ketenteraman kayangan/surga maka, beliau di titahkan turun ke dunia fana di tanah Jawa dan kawin dengan adik raja Erlangga yang kebetulan menjadi pendeta di Pesraman Dirah dan dipesani pula oleh Bhatara Siwa ; “jikalau nanti Dewi Krisna sudah mempunyai anak, maka suamimu akan moksa /meninggal sesuai dengan takdirnya”. Figur Rangda dalam Seni Tradisi Pementasan Calonarang dipilih sebagai ide pemantik dalam merealisasikan rancangan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture yang diimplementasikan dengan gaya ungkap metafora berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu, simbol api, tridatu, taring runcing, lidah menjulur panjang, rambut/bulu. Proses pembuatan busana ini menggunakan metode dari Dr. Tjok Istri Cora Sudharsana, S.Sn, M.Si yaitu “FRANGIPANI” dengan delapan tahapan penciptaan meliputi Design Brief, Research and Sourcing, Design Development, Sample, Prototype, Dummy, Final Collection Promoting, Branding, Sale, Production Businnes. Ide dari busana ini nantinya diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan mengenai Figur Rangda dalam Seni Tradisi Pementasan Calonarang.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Aiununnisa, Amelia Al Attas, Syarifah Alawiyah Amelia Aiununnisa Apriliani, Luh Putu Monita Apriliyani, Christy Wahyu Ardhanariswari, I Gst. Ayu Agung Sista Aribaten, Ni Nengah Zinnia Ariyanti, Ni Kadek Yunik Artayasa, Ni Kadek Intan Cahyani Cahyani, Salsa Bilah Regita Chandra Fatmi, Dewa Ayu Gek Diah Dammayanti, Anak Agung Ketut Oka Marta Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Delia Fitriani Devi, A.A Istri Dewi, Ida Ayu Agung Pradnya Dewi, Ketut Dina Aprilianti Dewi, Ni Made Dhea Sasmitha Dewi, Ni Putu Chyntia Dewi, Ratih Kemala Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Fadiyanti, Elisa Grahantiyasari, Kadek Mirah Hadhira Rahma Hoar Nahak, Esperanza Ayu Viana I Made Radiawan I Nyoman Artayasa I Wayan Adnyana I Wayan Suardana I Wayan Sujana Ida Ayu Gede, Artayani Indartini, Ni Putu Melani K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Mahadewi, Ida Ayu Ari Maria Yolanda Vincent Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Megy, Ni Made Lesiana Mitariani - Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Noorwatha, I Kadek Dwi Paramita, Ni Gusti Ayu Prastiti, Ni Made Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Purwadani, Kadek Anjani Putri Puspayani, Ni Kadek Intan Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Rahma Sari, Ni Made Kartika Sari Rahma, Hadhira Ramadhan, Tara Firdaus Lailil Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Remawa, Anak Agung Gede Rai S. Suharto Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Savitri, Cokorda Istri Winda Suharto Suharto Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sumaningsih, Ni Kadek Dwi Sunatha, Ade Savitri Suprapti, Desak Ketut Devi Tiara Linggi, Randan Elrahel Udiyani, Ni Made Santi Utama, Gede Verdy Darma Utami, Ni Luh Sri Wardani, Putu Asri Yugeswari, Vinda Yulius, Yosef