Claim Missing Document
Check
Articles

Bahaduri: Penciptaan Busana Ready to Wear, Ready to Wear Deluxe dan Semi Couture Dengan Ide Pemantik Pencak Silat Rahma Sari, Ni Made Kartika Sari; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2829

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan pembuatan karya seni busana dengan mengangkat suatu kebudayaan yaitu pencak silat, pencak silat merupakan seni beladiri tradisional Indonesia. Pencak silat diplih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture dengan gaya ungkap analogi berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu hitam, sabuk, gong, kipas, bambu. Proses penciptaan karya menggunakan metode dari Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, yaitu ‘’FRANGIPANI’’ Tahapan rahasia dari seni fesyen dengan menerapkan 8 tahapan penciptaan meliputi design brief, research and sourching, design development, prototypes, sample and construction, the final collection, promoting-marketing and branding, production dan the business. Hasil dari tulisan penciptaan ini diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan mengenai pencak silat, serta mengenalkan pencak silat kepada pembaca dan masyarakat akan seni beladiri Indonesia melalui karya busana Bahaduri, karya busana bahaduri menerapkan style classic dramatic merupakan gabungan dari 2 style yaitu classic elegant dan exotic dramatic. Karya busana Bahaduri kedepannya mampu menjadi inpirasi untuk masyarakat.
Ngelukat Mala : Metafora Tradisi Sapuh Leger Dalam Busana Bergaya Exotic Dramatic Suprapti, Desak Ketut Devi; Pebryani, Nyoman Dewi; Konte Tenaya, Anak Agung Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 3 No. 2 (2023): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v3i2.2830

Abstract

Tradisi sapuh leger adalah suatu ritual dengan menggunakan sarana pertunjukan wayang yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.Keunikan tradisi sapuh leger ini menjadikan inspirasi sebagai ide pemantik dalam menciptakan karya busana Ready to wear, Ready to wear deluxe, dan haute couture yang ditunjukan untuk mewujudkan busana bergaya exotic dramatic yang akan berkolaborasi dengan mitra Pertenunan Astiti. Tradisi sapuh leger diimplementasikan secara metafora dan kata kunci terpilih yaitu : Kekayonan, toya panglukatan, wayang, siklus kehidupan, dewa kala. Metode penciptaan yang digunakan terdiri dari delapan tahapan penciptaan "frangipani" meliputi: Desain brief, Research and sourcing, design development, sample, prototype, final collection, promoting, branding. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat memperkenalkan budaya lokal melalui desain fashion dan dapat menambah kepustakaan di bidang fashion dengan teori metafora tradisi sapuh leger yang diimplementasikan ke dalam busana bergaya exotic dramatic.
Samsara Manusya: Metafora Patung Brahma Lelare Desa Batuan Kaler Sukawati Dalam Penciptaan Busana Lolita Gothic Dammayanti, Anak Agung Ketut Oka Marta; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i1.3555

Abstract

Samsara Manusya merupakan karya busana dengan konsep tema yang terinspirasi dari Patung Brahma Lelare. Desa Batuan Kaler Sukawati Gianyar semakin dikenal pariwisata Bali, sejak berdiri patung bayi besar dengan sebutan Brahma Lelare menjadi pusat perhatian masyarakat Bali maupun mancanegara. Keunikan akan bentuk dan makna patung yang membedakan patung ini dengan patung lainnya yang memiliki daya magis yang sangat luar biasa dan menjadi ikonik kabupaten Gianyar. Implikasi berdirinya Patung Brahma Lelare, dilakukan melalui penciptaan busana dengan sumber ide Eksistensi Patung Brahma Lelare mahakarya I Ketut Sugata tahun 1990. Pada penciptaan karya busana ini diwujudkan dalam koleksi busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture, yang diimplementasikan dengan gaya ungkap metafora berdasarkan 6 kata kunci terpilih: Bayi, Brahma, Siklus Kehidupan, Blahtanah, Pemujaan, dan Senyuman Kecil yang tercermin dalam siluet, potongan busana, dan aplikasi tekstil yang dihasilkan dari manipulasi kreatif. Keseluruhan proses karya busana “Samsara Manusya” melibatkan tahapan yang sistematis dalam proses desain fashion bertajuk “FRANGIPANI” The Secret steps of Art Fashion (Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora, terdiri dari 10 tahapan untuk mengembangkan ide dari Patung Brahma Lelare dalam penciptaan busana Lolita Gothic. Hasil dari penciptaan busana ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam terhadap keberagaman budaya Indonesia, khususnya mengenai keunikan patung Brahma Lelare.
Askara Asmaraloka Analogi Arsitektur Pura Penataran Agung Lempuyang sebagai Inspirasi Penciptaan Kebaya Modifikasi Artayasa, Ni Kadek Intan Cahyani; Priatmaka, I Gusti Bagus; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i1.3563

Abstract

Pura Penataran Agung Lempuyang merupakan salah satu pura tertua yang terletak di Kecamatan Abang, Karangasem, Pulau Bali. Pura Penataran Agung Lempuyang merupakan pura terbesar dari serangkaian Pura Lempuyang lainnya. Pura Penataran Agung Lempuyang terdiri dari tiga area halaman pura, yaitu Jaba Sisi, Jaba Tengah dan Jeroan. Tiga area tersebut dibatasi oleh perbedaan ketinggian, yang memiliki makna peningkatan sakral di setiap area. Dalam penciptaan busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture mengambil konsep arsitektur Pura Penataran Agung Lempuyang dengan pendekatan analogi ke dalam penciptaan busana dengan style kebaya modifikasi. Metode penciptaan yang digunakan, yaitu metode Frangipani yang terdiri dari 10 tahapan meliputi menentukan tema, riset sumber, analisa estetika elemen seni, memvisualisasikan ke dalam 2D dan 3D, koleksi final, promosi, mengarahkan produksi pada sumber daya manusia, dan pemasaran produk secara sustainable. Dengan metode penciptaan Frangipani tersebut menghasilkan satu produk busana ready to wear, satu produk busana ready to wear deluxe, dan satu produk busana semi couture. Koleksi tersebut diberi nama Askara Asmaraloka yang berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki makna bahwa busana yang diciptakan merupakan pancaran sinar cahaya yang dimiliki budaya Indonesia dengan penuh cinta yang tak akan lekang oleh waktu, sehingga hidup dan diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam pemasaran produk menggunakan rancangan bisnis model canvas.
Wangunan Beteng Urip : Analogi Rumah Adat Joglo Pencu Pada Busana Bergaya Logic Dengan Unsur Kultural Indartini, Ni Putu Melani; Pebryani, Nyoman Dewi; Mudarahayu, Made Tiartini
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i1.3567

Abstract

Rumah Joglo Pencu merupakan sebuah bangunan tradisional yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Joglo Pencu merupakan sebuah rumah hunian yang memiliki keunikan pada bagian struktur dan juga sejarah pendiriannya yang membedakannya dari rumah Joglo lainnya. Rumah Joglo Pencu sendiri merupakan karya seorang imigran China bernama The Ling Sing yang mana mualaf dan dipanggil Kiayai Telingsing. Aristektur Joglo Pencu memiliki perbedaan dengan Joglo lainnya, seperti pada tata ruangnya yang lebih sederhana, jenis atap yang digunakan, dan berbagai jenis ukiran yang diterapkan. Metode penciptaan menggunakan tahapan penciptaan "Frangipani" Design Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016. Dari sepuluh tahap nantiny akan digunakan hanya delapan tahap Rumah Joglo Pencu diwujudkan dalam bentuk analogi diterapkan dalam busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan haute couture dengan kata kunci yang terpilih dengan menggunakan style Logic. Ide dari busana ini nantinya diharapkan dapat menambah referensi kepustakaan mengenai arsitektur Indonesia salah satunya Joglo Pencu, dan dapat mengenalkan Joglo Pencu secara detail lebih luas kepada masyarakat.
Abimantra Kahuripan : Metafora Tradisi Megengan Sebagai Inspirasi Penciptaan Busana Berkolaborasi Dengan Luh Jaum Fashion Design & Tailor Cahyani, Salsa Bilah Regita; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 1 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i1.3569

Abstract

Tradisi megengan merupakan ritual tradisional yang biasa dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan dan sebagai proses penyambutan bulan Ramadhan. Megengan dapat diartikan sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan hidup dan dapat bertemu lagi dengan bulan suci Ramadhan. Masyarakat biasanya berbondong-bondong untuk berziarah kubur terlebih dahulu, membersihkan, menaburi bunga, dan tidak lupa mendoakannya. Megengan dimulai saat petang dengan dihadiri para tamu undangan. Undangan yang bersila di atas tikar dihadapkan dengan ambengan sebagai sajian untuk acara megengan. Tradisi megengan menjadi konsep yang saya gunakan untuk penciptaan karya busana ini dengan judul Abimantra Kahuripan yang memiliki arti berkah kehidupan. Megengan memiliki makna menahan atau ngempet dari segala hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Megengan juga memiliki arti keselamatan yang terjaga baik saat bulan Ramadhan
Representasi Tradisi Sigajang Laleng Lipa Dalam Teknik Patchwork di CV. Casa Annie Sunatha, Ade Savitri; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4405

Abstract

Sulawesi memiliki banyak tradisi yang belum teraba oleh sebagian orang, khususnya di Suku Bugis, tradisi yang terdapat disana sangat unik sekaligus mengerikan. Disebut mengeringan karena tradisi ini mempertaruhkan nyawa bagi para pelakunya. Tradisi bernama Sigajang Laleng Lipa tersebut terbilang ekstrem. Setiap tradisi ini dilangsungkan, selalu ada korban jiwa. Setiap orang yang mendengar kata si gajang laleng lipa tentu langsung terlintas dipikiran mereka mengenai pertarungan yang sangat mematikan. Si Gajang Laleng Lipa adalah salah satu budaya yang ada di Sulawesi Selatan. Dimana tradisi ini adalah mempertemukan dua orang laki laki dalam satu sarung untuk menyelesaikan sebuah permasalahan dengan cara berkelahi bahkan sampai salah satu diantaranya meninggal. Menggunakan nyawa sebagai taruhannya, menjadikan tradisi ini sangat mengerikan. Tradisi ini dilakukan sebenarnhya untuk menhyelesaikan masalah dari perwakilan dua keluarga. Tradisi ini dilakukan didalam satu sarung oleh dua orang dengan menggunakan senjata tradisional mereka yaitu badik yang terbuat dari baja.
PATIH KUBU PARUT DESA SUKAWANA INSPIRASI PENCIPTAAN BUSANA BERGAYA ETNIK Utama, Gede Verdy Darma; Pebryani, Nyoman Dewi; K. Tenaya, A.A. Ngurah Anom Mayun
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4409

Abstract

Konsep penciptaan karya busana untuk tugas akhir yang ditetapkan adalah Diversity of Indonesia yaitu Tradisi Posa Sukawana. Riset dilakukan terhadap ide pemantik sehingga menghasilkan lima kata kunci sebagai acuan dalam pengembangan desain pada karya. Kata kunci tersebut adalah ubi jalar, ilalang, kelakat, pohon pisang dan kayu dap – dap. Pengimplementasian kata kunci yang digunakan adalah metode analogi. Penciptaan ketiga busana melalui tahapan proses dan menggunakan skills yang mahasiswa dapatkan ilmunya di perguruan tinggi, sehingga menjadi kunci keberhasilan terwujudnya karya. Proses tersebut meliputi menentukan design brief, melakukan research and sourching, menetapkan concept list dan keywords, melakukan trend-color-designer-fabrics research, membuat maping collections, membuat mood board, membuat sembilan design development, membuat sembilan technical drawing dari sembilan design development, menentukan desain terpilih, membuat fashion bussines-marketing, dan yang terakhir perencaanaan pertunjukan karya.
ULUN BANGUN ORANG BASETAN MAKNA TRADISI BIDUK BEBANDUNG DALAM DUNIA FASHION Dewi, Ketut Dina Aprilianti; Pebryani, Nyoman Dewi; Diantari, Ni Kadek Yuni
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4411

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan pembuatan karya seni busana dengan mengangkat suatu kebudayaan yaitu Biduk Bebandung. Keunikan pada Tradisi Biduk Bebandung ini terdapat pada prosesi upacara atau ritual yang dilakukan. Keunikan akan Transportasi yang digunakan pada Tradisi ini berupa perahu kembar yang digunakan untuk menjemput atau menyambut tamu seperti Sultan, Raja, Pemangku Adat, Penglingsir dan pejabat. Tradisi ini dipilih sebagai ide pemantik dalam penciptaan karya busana ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture dengan gaya ungkap analogi berdasarkan 5 kata kunci terpilih yaitu Perahu, merah, ular- ularan, Kelambu dan dayung. Proses penciptaan karya menggunakan metode dari Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, yaitu ‘’FRANGIPANI’’ Tahapan rahasia dari seni fesyen dengan menerapkan 10 tahapan penciptaan meliputi design brief, research and sourching, Anaqlizing Art fashion, design development, prototypes sample and construction, the final collection, promosi dan produksi,marketing and branding, production dan the business model canvas.. Koleksi penciptaan ini diharapkan dapat menambah refrensi kepustakaan serta dapat menambah wawasan kita mengenai keberagaman, budaya serta manfaat pada tradisi – tradisi yang ada di nusantara serta mengenalkan Tradisi Biduk Bebandung ini kepada pembaca dan masyarakat akan kebudayaan Indonesia melalui karya busana sehingga kedepannya mampu menjadi inpirasi untuk masyarakat.
TEDHAK SITEN : SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA BUSANA JOYFULL Dewi, Ni Made Dhea Sasmitha; Pebryani, Nyoman Dewi; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 4 No. 2 (2024): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v4i2.4419

Abstract

Tedhak Sinten merupakan bagian dari adat dan tradisi masyarakat jawa, upacara ini dilakukan untuk anak yang baru pertama kali belajar berjalan atau menginjakkan pada tanah dan selalu ditunggu-tunggu oleh orang tua atau kerabat, tedak siten berasal dari dua kata "tedhak" berarti menampakkan kaki dan “siten” berasal dari kata "siti" yang berarti bumi, upacara ini dilakukan ketika seorang bayi berusia 7 bulan dan mulai belajar duduk dan berjalan di tanah. Melalui tradisi ini, saya ingin mewujudkan karya dalam balutan warna colorful dan pop-up, yang terinspirasi dari jadah 7 warna dalam prosesi tedha siten. Perpaduan dasar busana dengan warna putih, dan aksen-aksen tambahan busana dengan 6 warna lainnya, seperti merah, kuning, hijau, biru, jingga, dan ungu. Penambahan aksen-aksen bunga dengan menggunakan beberapa teknik, yang dimana terinspirasi dari kembang setaman dalam prosesi akhir tradisi tedhak siten. Desain busana yang loose dan terlihat santai dan nyaman digunakan. teknik-teknik yang akan digunakan dalam penambahan aksen-aksen pada busana tersebut antara lain, teknik lukis, teknik ombre dying, teknik slow stitching, dan teknik bakar. Serta adanya penambahan payet pada busana ready to wear deluxe dan adi busana.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Aiununnisa, Amelia Al Attas, Syarifah Alawiyah Amelia Aiununnisa Apriliani, Luh Putu Monita Apriliyani, Christy Wahyu Ardhanariswari, I Gst. Ayu Agung Sista Aribaten, Ni Nengah Zinnia Ariyanti, Ni Kadek Yunik Artayasa, Ni Kadek Intan Cahyani Cahyani, Salsa Bilah Regita Chandra Fatmi, Dewa Ayu Gek Diah Dammayanti, Anak Agung Ketut Oka Marta Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Delia Fitriani Devi, A.A Istri Dewi, Ida Ayu Agung Pradnya Dewi, Ketut Dina Aprilianti Dewi, Ni Made Dhea Sasmitha Dewi, Ni Putu Chyntia Dewi, Ratih Kemala Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Fadiyanti, Elisa Grahantiyasari, Kadek Mirah Hadhira Rahma Hoar Nahak, Esperanza Ayu Viana I Made Radiawan I Nyoman Artayasa I Wayan Adnyana I Wayan Suardana I Wayan Sujana Ida Ayu Gede, Artayani Indartini, Ni Putu Melani K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Mahadewi, Ida Ayu Ari Maria Yolanda Vincent Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Megy, Ni Made Lesiana Mitariani - Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Noorwatha, I Kadek Dwi Paramita, Ni Gusti Ayu Prastiti, Ni Made Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Purwadani, Kadek Anjani Putri Puspayani, Ni Kadek Intan Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Rahma Sari, Ni Made Kartika Sari Rahma, Hadhira Ramadhan, Tara Firdaus Lailil Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Remawa, Anak Agung Gede Rai S. Suharto Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Savitri, Cokorda Istri Winda Suharto Suharto Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sumaningsih, Ni Kadek Dwi Sunatha, Ade Savitri Suprapti, Desak Ketut Devi Tiara Linggi, Randan Elrahel Udiyani, Ni Made Santi Utama, Gede Verdy Darma Utami, Ni Luh Sri Wardani, Putu Asri Yugeswari, Vinda Yulius, Yosef