Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

IDENTIFIKASI DAN UJI PERKECAMBAHAN SPORA JAMUR PATOGEN YANG MENYEBABKAN BERCAK DAUN PADA TANAMAN KAKTUS PAKIS GIWANG (Euphorbia milii) Devia Enitasepa; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit yang sering ditemukan pada tanaman hias Euphorbia milii adalah penyakit bercak daun. Namun, penyebab penyakit bercak daun pada tanaman E. milii masih belum banyak diketahui hingga saat ini. Perkecambahan merupakan faktor yang penting bagi kelangsungan hidup spora. Pada beberapa kasus tertentu diketahui bahwa pertambahan spora patogen dapat dirangsang oleh metabolit sekunder tanaman yang rentan terhadap patogen tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab penyakit bercak daun pada tanaman E. milii dan perkecambahan spora jamur patogen yang menyebabkan penyakit bercak daun pada berbagai konsentrasi ekstrak daun E. milii. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Identifikasi penyakit bercak daun dilakukan dengan menggunakan uji postulat Koch. Pengujian perkecambahan spora memakai ekstrak daun E.milii dengan perlakuan konsentrasi ekstrak 0, 10, 25, 50, 100%, dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Percobaan ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Hasil dari  identifikasi didapatkan  bahwa penyakit bercak daun pada tanaman E. milii disebabkan oleh jamur Pestalotia sp. Persentase tertinggi dari perkecambahan spora jamur patogen Pestalotia sp. pada ekstrak tanaman E. milii dan air destilasi ditunjukkan pada perlakuan kontrol dengan nilai 82,25%, dan nilai terendah yaitu pada perlakuan ekstrak daun E. milii 100% dengan nilai 52,83%.
EKSPLORASI DAN UJI ANTAGONISME JAMUR FILOPLANE TERHADAP JAMUR Fusarium sp. PENYEBAB PENYAKIT BUSUK KERING PADA DAUN SRI REJEKI (Aglaonema sp.) Asri Ismahmudi; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.1.2

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur filoplane pada daun Aglaonema dan mengidentifikasi antagonisme penyakit busuk kering pada daun Aglaonema yang disebabkan oleh Fusarium sp. Penelitian yang dilakukan meliputi identifikasi jamur patogen, eksplorasi jamur filoplane, dan uji antagonisme. Penelitian ini dilaksanakan di Sub Laboratorium Mikologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Uji antagonisme dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 12 perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan ada tujuh jenis jamur filoplane yaitu genus Acromonium, Trichoderma, Cephalosporium, Mucor, Rhizopus, Fusarium, dan Aspergillus. Dari tujuh jenis jamur filoplane yang ditemukan, Trichoderma sp. memiliki daya hambat tertinggi (71,5%) terhadap pertumbuhan patogen Fusarium sp.Aplikasi suspensi dengan kerapatan 106 konidia/ml air Trichoderma sp. pada daun Aglaonema terbukti dapat menghambat penyakit busuk kering.
UJI DAYA TUMBUH DAN UJI VIRULENSI ISOLAT PATOGEN Fusarium moniliforme PENYEBAB PENYAKIT POKAHBUNG PADA TANAMAN TEBU (Saccharum officinarum) SECARA IN VITRO DAN IN VIVO Nia Devita Mevianti; Antok Wahyu Sektiono; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 9 No. 3 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2021.009.3.4

Abstract

Pokahbung merupakan salah satu penyakit penting yang banyak ditemukan di pertanaman tebu dan disebabkan oleh jamur Fusarium moniliforme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji daya tumbuh F. moniliforme di 6 media yang berbeda dan mengetahui media yang sesuai bagi pertumbuhan jamur F. moniliforme serta mengkaji pengaruh perbedaan media pertumbuhan jamur yang digunakan terhadap tingkat virulensi F. moniliforme pada tanaman tebu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan dan Rumah Kaca (Greenhouse), Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Metode penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dan eksperimen. Eksperimen dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan media yang berbeda dan 4 kali ulangan secara In vitro dan In vivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari parameter pengamatan diameter koloni, kerapatan konidia, dan viabilitas konidia menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata. Sehingga kentang, umbi ganyong, dan ubi kayu dapat digunakan sebagai media pertumbuhan jamur F. moniliforme dan penggunaan media kentang dan dextrose serta media kentang dan sukrosa dinilai dapat menjadi media yang paling efektif untuk pertumbuhan jamur F. moniliforme. Perkembangan intensitas serangan penyakit yang ditimbulkan dari keenam media yang berbeda memiliki tingkat virulensi yang sama.
EKSPLORASI JAMUR FILOPLANE PADA DAUN TANAMAN PEDANG-PEDANGAN (Sansevieria trifasciata) DAN UJI KEMAMPUAN ANTAGONISMENYA TERHADAP PENYAKIT ANTRAKNOSA (Colletotrichum sansevieriae) Dita Aprilia Mayasari; Ika Rochdjatun Sastrahidayat; Syamsuddin Djauhari
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 10 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2022.010.3.4

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman jamur filoplane pada daun tanaman Sansevieria trifasciata dan menguji kemampuan antagonismenya terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum sansevieriae. Penelitian ini dilakukan di sub laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa patogen yang menyebabkan penyakit antraknosa pada tanaman Sansevieria trifasciata adalah jamur Colletotrichum sansevieriae. Berdasarkan hasil eksplorasi diperoleh delapan jamur filoplane yang setelah diuji patogenisitas tidak menimbulkan gejala penyakit pada daun Sansevieria trifasciata. Hasil uji antagonisme menunjukkan bahwa semua jamur filoplane yang ditemukan tersebut dapat menghambat pertumbuhan jamur patogen Colletotrichum sansevieriae hingga di atas 50%. Jamur filoplane yang memiliki daya hambat tertinggi adalah jamur Trichoderma isolat 2 dengan persentase daya hambat sebesar 69% dan Trichoderma isolat 1 sebesar 68%. Berdasarkan hasil pengamatan mekanisme antagonisme, jamur Trichoderma isolat 2 memiliki mekanisme antagonisme kompetisi dan parasitisme, sedangkan jamur Trichoderma isolat 1 memiliki ketiga mekanisme antagonisme, yaitu kompetisi, antibiosis dan parasitisme.
Screening of Trichoderma spp. isolates based on antagonism and chitinolytic index against Xylaria sp. Wiwit Wicaksono Jati; Abdul Latief Abadi; Luqman Qurata Aini; Syamsuddin Djauhari
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 22 No. 1 (2022): MARCH, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA: JOURNAL OF TROPICAL PLANT PE
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jhptt.12255-67

Abstract

Sugarcane disease disturbance is one of the limiting factors in achieving high productivity. Xylaria sp. has become endemic to sugarcane plantations in Lampung and South Sumatra. The intensity of disease attacks in Indonesia by 25% and 26% can reduce sugar production 12.3 and 15.4%, respectively. Losses due to disease attacks are greater in ratoons because plant cane sugarcane which is attacked by this disease, in ratoon stage, there will be a decrease in the number of shoots. The aim of this study was to obtain isolates of Trichoderma spp. which have antagonistic abilities and have chitinase enzymes so that they are effectively used as biological agents against Xylaria sp. The research method of antagonist test used dual culture test and qualitative test of chitin substrate was used to assess the chitinolytic index of four isolates of Trichoderma spp. The parameters were the inhibition of Trichoderma spp. isolates and the chitinolytic index of the four isolates moreover the value of the chitinase enzyme activity of the selected isolates. Mechanism of antagonist T10 are competition, antibiosis and mycoparasitism. The results showed that the Indonesian Sugar Research Institute (ISRI) T10 isolate could be used as a biological agent against Xylaria sp. The isolate had an inhibitory ability 73.33% with a chitinolytic index value 1.15 and the activity value of the chitinase enzyme crude extraction at a dilution 10-1 was 10.99 units/mL.
Exploration and Antagonistic Test of Endophytic Fungi from Soybean (Glycine max L. Merr) With Different Resistance to Sclerotium rolfsii Siti Aminatuz Zuhria; Syamsuddin Djauhari; Anton Muhibuddin
The Journal of Experimental Life Science Vol. 6 No. 2 (2016)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.988 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2016.006.02.08

Abstract

The research aimed to determine the diversity of endophytic fungi in soybean crop with different resistance against Sclerotium rolfsii and find out their potential antagonist in controlling S.rolfsii by in vitro and in vivo. Materials used in this study were soybean with a variety of Wilis (susceptible variety) and Sinabung (resistant variety). This research was conducted at the Microbiology Laboratory of Central Laboratory of Life Science (LSIH), Brawijya University and in the trial plantation of Malang Research Institute for Food Crops, Lawang, Malang subdistrict in September 2015 until May 2016. Type of experimental design used was Complete Randomized Design with 16 treatments and three times repetitions at in vitro experiment with 16 treatments and four times repetitions at in vivo experiment. Observation on in vitro test is covering to colony morphology of fungal pathogens on PDA medium. On the test of in vivo, it was observed a disease occurrence and effectiveness rate of endophytic fungi. There are 15 species of endophytic fungi produced from isolation, namely Trichoderma sp., Aspergillus sp.2, Aspergillus sp.3, Acremonium sp.1, Acremonium sp.2, Acremonium sp.3, Acremonium sp.4, Fusarium sp.1, Fusarium sp.2, Cephalosporium sp, Microsporum sp., Penicillium sp., and unidentified fungi called W2 and W4. The highest inhibitory of endophytic fungi against S. rolfsii by Aspergillus sp.2 is 89.18% (in vitro) and 61.21% (in vivo), while Trichoderma sp. 91.88% (in vitro) and 63.29% (in vivo). Diversity index value of Wilis variety is higher than Sinabung, i.e. 1.878 and 1.606 respectively. While dominance index value of Sinabung variety is 0.2035 and Wilis is 0.1528. Keywords: Endophytic fungi, diversity, S. rolfsii.
UJI POTENSI JAMUR PENGHASIL IAA SEBAGAI PENGENDALI HAYATI PATOGEN LAYU Fusarium oxysporum PADA TANAMAN CABAI: INVESTIGATING THE POTENTIAL OF IAA-PRODUCING FUNGUS AS A BIOLOGICAL CONTROL OF FUSARIUM WILT ON CHILI Khoirunisa, Fenti Rahma; Sektiono, Antok Wahyu; Djauhari, Syamsuddin; Aini, Luqman Qurata
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2024.012.1.3

Abstract

Pemanfaatan mikroba antagonis sebagai agens pengendali hayati penyakit tumbuhan telah banyak dilakukan. Diketahui beberapa jamur antagonis mampu menghasilkan hormon Indole Acetic Acid (IAA) sehingga memiliki peranan yang lengkap dalam menunjang pertumbuhan tanaman karena dapat bertindak sebagai bioprotectant dan biofertilizer. Saat ini berbagai upaya untuk meningkatkan efektifitas pengendalian dengan agens hayati terus dilakukan guna mendapatkan cara pengendalian hayati yang efektif dan efisien sehingga memiliki daya tarik bagi pelaku budidaya pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi jamur penghasil IAA dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman serta menghambat patogen Fusarium oxysporum pada tanaman cabai. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 5 kali ulangan. Hasil penelitian ini didapatkan kedelapan isolat jamur memiliki daya hambat lebih dari 60% dan persentase daya hambat tertinggi pada hari ketujuh terdapat pada isolat jamur G sebesar 80,89%. Sedangkan hasil uji IAA secara kualitatif menggunakan reagen Salkowski dari kedelapan isolat jamur didapatkan dua isolat jamur yang mengalami perubahan warna menjadi merah muda yaitu isolat jamur AMR dan AR dengan konsentrasi masing-masing sebesar 22,29 ppm dan 11,65 ppm. Penelitian yang dilakukan di Rumah Kaca didapatkan hasil bahwa perlakuan P1 pada 7 MST efektif untuk meningkatkan tinggi tanaman dan perlakuan P2 pada 7 MST efektif menambah jumlah daun tanaman cabai rawit. Selain itu, semua perlakuan jamur antagonis berpotensi sebagai agens hayati dengan perlakuan P3 memiliki intensitas penyakit terendah pada 7 MST sebesar 10%.
APLIKASI Trichoderma asperellum DAN KAPUR UNTUK MENDEKOMPOSISI LIMBAH KOTORAN SAPI SEGAR SERTA MENGENDALIKAN AKAR GADA TANAMAN KUBIS: APPLICATION OF Trichoderma asperellum AND LIME TO DECOMPOSE FRESH COW MANURE WASTE AND CONTROL CLUBROOT OF CABBAGE PLANTS Jasuli, Jasuli; Abadi, Abdul Latief; Djauhari, Syamsuddin
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jurnalhpt.2024.012.1.5

Abstract

Penyakit akar gada pada tanaman kubis, yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae, merupakan ancaman serius bagi pertanian kubis. Penyakit ini menyebar dengan cepat pada suhu hangat dan kondisi pH yang asam. Limbah kotoran sapi yang dibuang oleh peternak sapi di Desa Pujon dialirkan ke dalam saluran air dan digunakan untuk irigasi pertanian, yang berpotensi mencemari lahan pertanian dan meningkatkan suhu dan keasaman tanah. Penggunaan kotoran sapi mentah sebagai bahan organik pada lahan pertanian turut mempercepat pertumbuhan jamur P. brassicae. Pengendalian biologis dengan menggunakan Trichoderma asperellum dan kapur menunjukkan potensi dalam mengurangi penyakit akar gada dan membantu dalam dekomposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas T. asperellum dan kapur dalam mendekomposisi kotoran sapi dan mengendalikan penyakit akar gada. Penelitian dilakukan di Desa Pujon Kidul, Malang, dan Laboratorium Penyakit Tumbuhan di Universitas Brawijaya selama periode lima bulan mulai dari Februari hingga Juni 2021. Penelitian terdiri dari dua tahap: pertama, dekomposisi kotoran sapi menggunakan T. asperellum dan kapur, dan kedua, aplikasi produk dekomposisi pada tanaman kubis yang terinfeksi penyakit akar gada. T. asperellum dan kapur efektif mengurangi insiden penyakit akar gada menjadi 0% dalam perlakuan T5P1 (20 hari penambahan T. asperellum pada kotoran sapi + kontrol), T4P2 (15 hari penambahan T. asperellum pada kotoran sapi + kapur), dan T5P2 (20 hari penambahan T. asperellum pada kotoran sapi + kapur), sementara pengamatan mikroskopis gejala penyakit menunjukkan penurunan hingga 10% dalam perlakuan T5P2 (20 hari penambahan T. asperellum pada kotoran sapi + kapur), menunjukkan tingkat efikasi yang tinggi pada perlakuan tersebut.
Potency Microbial Unicellular Filoplan Chili and Its Inhibitory to Collectotrichum capsici Causal Antraknose Disease on Chili (Capsicum annuum L.) Tanzil, Ahmad Ilham; Djauhari, Syamsuddin; Sulistyowati, Liliek
Jurnal Online Pertanian Tropik Vol. 7 No. 2 (2020): JURNAL ONLINE PERTANIAN TROPIK
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.572 KB) | DOI: 10.32734/jopt.v7i2.4329

Abstract

This study was conducted to isolate filoplan unicellular microbes which have antibiosis ability and characterize the secondary metabolite produced to inhibit Collectotrichum capsici in-vitro. This research was conducted at the Departement Plant Pest and Diseases, University of Brawijaya. Microbe isolated from the surface of chilies in a different age. Isolates microbes were tested for antagonistic potential against C. capsici. The persistence of the potential antagonist under different conditions of pH, temperature, and the light was also examined. An antagonist test was conducted to confirm the antibiosis mechanism. Furthermore, extracts were characterized using pH, light exposure, and temperature. The most potential antagonist was identified as isolate C3C with 36.20% inhibition. pH 5, 350C temperature, and light exposure of 0% is the best media optimization with the percentage of inhibition 37.5%, 38.2%, and 42.3%.
The Effect of Weather Elements on the Intensity of Leaf Blight Disease Caused by Phytophthora colocasiae in Taro Akbar, Faishal; Sastrahidayat, Ika Rochdjatun; Djauhari, Syamsuddin
Research Journal of Life Science Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rjls.2021.008.02.6

Abstract

Leaf blight Phytophthora colocasiae is one of the main diseases in taro plants which can reduce production yield significantly. Weather is one of the main factors supporting the epidemic of leaf blight. Weather changes will affect the development of pathogens and affect the development of disease in the field. This research aimed to find out the effect of weather elements (air temperature, humidity, sunlight intensity, rainfall, number of rainy days) on the intensity of the taro leaf blight attack. The results showed that weather elements had a significant correlation with the intensity of taro leaf blight disease. Air temperature and sunlight intensity showed negative correlations while air humidity, rainfall and the number of rainy days were positively correlated with the disease intensity. The results of this path analysis showed that air humidity had the most significant effect of the weather elements on the intensity of taro leaf blight both directly and indirectly.