Claim Missing Document
Check
Articles

Teknologi konseling digital: pemetaan perkembangan riset pada basis data scopus (2021–2025) Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad; Mutia Ramdhatul Jannah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 2 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086853011

Abstract

Penelitian ini memetakan perkembangan riset global tentang teknologi konseling digital periode 2021–2025 melalui analisis bibliometrik. Data ditarik dari Scopus menggunakan kombinasi boolean yang mencakup istilah online/digital/e-/cyber/internet/web-based/virtual/remote/tele-counseling beserta variasi ejaannya, lalu disaring berdasarkan tahun terbit, jenis dokumen, bahasa, jenis sumber, dan tahap publikasi. Hasilnya 569 dokumen yang dianalisis dengan Biblioshiny (Bibliometrix R-package). Produksi ilmiah memuncak pada 2022 (127 artikel), menurun ke titik terendah pada 2023–2024, lalu naik sedikit pada 2025. Sebaliknya, rerata sitasi per artikel per tahun terus menurun, yang menunjukkan momentum melambat meski volume dokumen bertahan. Amerika Serikat, Britania Raya, dan Jerman menjadi negara paling produktif, diikuti Iran, Kanada, Indonesia, dan India. Analisis Bradford menemukan 47 jurnal inti yang memuat sepertiga literatur, sementara Hukum Lotka (β = 3,74) menunjukkan produktivitas penulis sangat terkonsentrasi: 92,5% penulis hanya menyumbang satu dokumen. Peta tematik menempatkan klaster "covid-19/pandemic" sebagai tema motor yang matang, sedangkan klaster "controlled study/randomized controlled trial" berada di kuadran niche, menandakan desain eksperimental ketat masih menjadi ceruk, bukan arus utama. Studi ini menyimpulkan bahwa bidang ini sedang beralih dari respons darurat pandemi menuju konsolidasi berbasis bukti, dan mulai membuka jalan bagi modalitas berbasis kecerdasan buatan percakapan. Implikasi teoretis dan praktis, keterbatasan, serta agenda riset masa depan turut dibahas.
Online counseling dan digital mental health: pemetaan tren dan arah penelitian Wiki Lofandri; Bayu Ramadhan Fajri; Mutia Ramdhatul Jannah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086854011

Abstract

Penelitian ini memetakan struktur pengetahuan global bidang online counseling dan digital mental health melalui 340 artikel jurnal terindeks Scopus periode 2016-2025, diperoleh melalui strategi Boolean pada istilah online/e-/internet/web-based/virtual/tele-counseling yang dipadukan dengan istilah kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis. Analisis dilakukan dengan Biblioshiny (Bibliometrix R) dan VOSviewer, mencakup analisis performa (tren publikasi, sitasi, Hukum Bradford, Hukum Lotka, model siklus hidup) serta analisis struktural (co-occurrence, peta tematik, tiga-medan istilah, tren kata dari waktu ke waktu). Produksi ilmiah menunjukkan pola tidak linear: relatif kecil dan fluktuatif pada 2016-2019 (8-20 artikel per tahun), melonjak tajam pada 2020 (38 artikel) bersamaan dengan awal pandemi, mencapai puncak pada 2022 (59 artikel), sempat menurun pada 2023 (40 artikel), lalu kembali naik pada 2024-2025 (47 dan 51 artikel). Jaringan co-occurrence memperlihatkan dua klaster besar, yaitu klaster praktik konseling-klinis (mencakup online counseling/counselling, cognitive behavioral therapy, depression, anxiety) dan klaster modalitas pandemi (telepsychology, telehealth, telemedicine, covid-19). International Journal of Environmental Research and Public Health, JMIR Mental Health, dan Counselling and Psychotherapy Research tercatat sebagai jurnal paling produktif. Amerika Serikat mendominasi produksi ilmiah (110 dari 340 artikel), sementara Indonesia muncul pada 9 artikel, seluruhnya terbit pada 2021-2025 dan sebagian besar berasal dari jurnal berjangkauan nasional-regional dengan sitasi yang masih rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa kontribusi Indonesia pada bidang ini sudah mulai tumbuh namun belum menjangkau jurnal inti internasional yang menjadi pusat gravitasi keilmuan bidang ini, sehingga menyisakan ruang pengembangan riset konseling daring berbasis konteks lokal yang lebih terintegrasi dengan wacana global.
Artificial intelligence dalam kesehatan mental: tinjauan perkembangan literatur Wiki Lofandri; Bayu Ramadhan Fajri; Mutia Ramdhatul Jannah
SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling Vol. 10 No. 3 (2025): SCHOULID: Indonesian Journal of School Counseling
Publisher : Indonesian Counselor Association (IKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23916/086855011

Abstract

Penelitian ini menganalisis evolusi kajian kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada bidang kesehatan mental melalui pendekatan bibliometrik. Data ditarik dari basis data Scopus menggunakan kombinasi Boolean pada bidang judul, abstrak, dan kata kunci, mencakup terbitan tahun 2016 hingga 2025 dengan tipe dokumen artikel berbahasa Inggris dari sumber jurnal pada tahap publikasi final, menghasilkan 529 artikel sebagai korpus akhir. Analisis dilakukan menggunakan aplikasi Biblioshiny berbasis paket Bibliometrix pada R, mencakup analisis produksi ilmiah tahunan, sitasi, Hukum Bradford, Hukum Lotka, jaringan ko-kemunculan kata kunci, kolaborasi antarnegara, pemetaan tematik, serta proyeksi siklus hidup topik. Hasil menunjukkan pertumbuhan publikasi yang sangat tajam sejak 2020, dengan lonjakan terbesar pada 2024 dan 2025, serta rata-rata sitasi per dokumen sebesar 17,4. Amerika Serikat, Tiongkok, dan India tercatat sebagai kontributor paling produktif, sementara Journal of Medical Internet Research dan IEEE Access menjadi sumber publikasi terbanyak. Analisis tematik menunjukkan bahwa kata kunci "machine learning", "mental health", dan "artificial intelligence" menempati posisi sentral sekaligus berkembang, sedangkan tema seperti chatbot percakapan dan deteksi berbasis ucapan/teks masih berada pada kuadran tema khusus (niche) dengan tingkat pengembangan yang belum matang. Model proyeksi siklus hidup mengindikasikan bahwa produksi tahunan topik ini diperkirakan mencapai puncak pada sekitar tahun 2028–2029 sebelum melandai. Temuan ini memberikan peta jalan empiris bagi peneliti, pengembang teknologi, dan pembuat kebijakan dalam merumuskan agenda riset AI untuk kesehatan mental yang lebih terarah pada tema yang masih berkembang, khususnya pada aspek etika, validasi klinis, dan representasi populasi di luar negara-negara dengan produktivitas tinggi.
Dinamika dan arah riset affective computing dalam bidang kesehatan mental Wiki Lofandri; Saftrian Mukhlizul Fuad; Mutia Ramdhatul Jannah
JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia) Vol. 10 No. 1 (2025): JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia)
Publisher : IICET (Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/30036966000

Abstract

untuk mengenali dan merespons kondisi emosional manusia, dan penerapannya pada kesehatan mental menjadi arah riset yang tumbuh paling cepat dalam lima tahun terakhir. Penelitian ini memetakan struktur intelektual, tren produktivitas, dan evolusi tematik penelitian pada irisan affective computing dan kesehatan mental melalui pendekatan bibliometrik. Data diperoleh dari Scopus menggunakan boolean yang menggabungkan istilah affective computing dan emotion recognition dengan istilah kesehatan mental, dibatasi pada tahun terbit 2021–2025, jenis dokumen artikel, bahasa Inggris, jenis sumber jurnal, dan tahap publikasi final, sehingga diperoleh 828 artikel dari 424 jurnal dan lebih dari 45 negara. Analisis dilakukan menggunakan Biblioshiny (bibliometrix R) meliputi produktivitas tahunan, Hukum Bradford, Hukum Lotka, analisis sitasi, ko-kolaborasi negara, ko-occurrence kata kunci, dan pemetaan tematik. Hasil menunjukkan pertumbuhan publikasi yang meningkat tajam sejak 2023, didominasi kontribusi Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, dengan kepenulisan yang sangat terkonsentrasi. Pemetaan ko-occurrence memperlihatkan dua klaster yang saling terhubung melalui simpul mental health, yaitu klaster teknis-komputasional (affective computing, deep learning, EEG) dan klaster klinis-demografis (emotion, depression, schizophrenia, controlled study). Penelitian ini mengidentifikasi bahwa integrasi antara pengembangan model kecerdasan buatan dan validasi klinis pada populasi khusus, terutama di kawasan berpenghasilan rendah dan menengah, masih menjadi celah penelitian yang signifikan dan menjadi agenda riset prioritas ke depan.
Perkembangan riset virtual counselor berbasis AI berdasarkan publikasi terindeks Wiki Lofandri; Mutia Ramdhatul Jannah
Lentera Negeri Vol. 6 No. 2 (2025): Lentera Negeri
Publisher : Indonesian Institute For Counseling, Education and Therapy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/993790

Abstract

Penggunaan virtual counselor berbasis artificial intelligence (AI) untuk dukungan kesehatan mental berkembang pesat sejak 2021, didorong oleh kematangan large language model dan kebutuhan layanan psikologis yang terjangkau. Penelitian ini memetakan struktur intelektual dan evolusi tematik bidang tersebut melalui analisis bibliometrik terhadap 270 artikel jurnal (2021-2025) yang diekspor dari Scopus menggunakan Bibliometrix/Biblioshiny dan VOSviewer. Hasil audit menunjukkan produksi ilmiah meningkat dari 27 artikel pada 2021 menjadi 117 artikel pada 2025, dengan lonjakan tajam setelah 2023 yang searah dengan kemunculan large language model generatif. Analisis Bradford's Law mengidentifikasi sembilan jurnal inti (core), dipimpin oleh JMIR Formative Research dan Journal of Medical Internet Research, sementara Lotka's Law (Beta=3,43; R2=0,953) menegaskan pola produktivitas penulis yang sangat terkonsentrasi pada sebagian kecil peneliti produktif. Analisis co-occurrence kata kunci mengungkap tiga klaster tematik utama: klaster teknologi AI dan conversational agent, klaster gangguan mental klinis (depresi, kecemasan), dan klaster karakteristik populasi penelitian. Amerika Serikat mendominasi produksi ilmiah (94 dokumen) dan menjadi simpul kolaborasi internasional utama, sedangkan representasi negara Asia Tenggara di luar Singapura sangat terbatas. Pemetaan tematik menunjukkan tema motor berupa depresi dan cognitive behavioral therapy, sementara tema artificial intelligence dan conversational agents berada pada kuadran yang masih berkembang. Penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan riset pada konteks non-Barat, evaluasi jangka panjang, dan integrasi large language model generatif ke dalam kerangka etika konseling profesional, yang menjadi dasar agenda penelitian ke depan.