Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pemberdayaan Caregiver Panti Pangesti Lawang Untuk Mengurangi Kecemasan Lansia Dengan Terapi Warna Yafet Pradikatama; M. Ali Sodikin
Jurnal Humanis ( Jurnal Pengabdian Masyarakat ISTeK ICsada Bojonegoro) Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal HUMANIS
Publisher : LP2M STIKes ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.069 KB)

Abstract

ABSTRAK Panti Pangesti Lawang adalah salah satu panti sosial yang yang terletak di Lawang, Kabupaten Malang. Terdapat kurang lebih 13 caregiver dan 2 orang Perawat di Panti tersebut. Caregiver mengatakan bahwa lansia memiliki berbagai macam permasalahan fisik maupun psikologis. Permasalahan fisik diakibatkan oleh karena menurunnya kondisi fisik karena proses penuaan, sedangkan masalah psikologis yang biasa dialami oleh lansia adalah perasaan cemas yang dialami oleh lansia. Penyebab kecemasan tersebut diantaranya adalah karena kesepian, tidak pernah dikunjungi oleh keluarga, dan masalah kesehatan fisik itu sendiri. Ada beberapa cara yang umum digunakan untuk mengatasi kecemasan pada lansia, diantaranya adalah terapi warna. Terapi ini akan diajarkan ke caregiver terlebih dahulu, karena Dosen belum dapat menemui lansia secara langsung karena adanya protokol kesehatan ketat terkait masa Pandemi Covid-19. Diharapkan caregiver dapat mengajarkan terapi warna ini kepada lansia. Terapi ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang telah mendapatkan pelatihan dari perawat. Terapi ini berupa pewarnaan dengan pensil warna pada kertas, dengan warna dominan hijau, biru, kuning, dan merah. Pelatihan ini dilaksanakan selama 3x pertemuan, 1 kali pertemuan dilakukan secara daring (29 November 2021) dengan materi kecemasan dan terapi warna, pertemuan ke 2 dilakukan tanggal 9 Desember dengan materi terapi warna kemudian dilanjutkan praktik, dan pertemuan ketiga dilakukan tanggal 10 Desember 2021 dengan kegiatan evaluasi praktik terapi warna. Sebelum dilakukan dilakukan pertemuan pertama dilakukan pre test dan didapatkan nilai rata-rata 4,5 dan sesudah kegiatan pelatihan (pertemuan ke 3), dilakukan post test, dan didapatkan nilai rata-rata 7,5. perubahan nilai antara pre dan post ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan kognitif dan psikomotor caregiver. Caregiver mengerti dan mampu melakukan terapi warna, kemudian bersedia untuk mengajarkan ke lansia. Caregiver. Kata Kunci : Caregiver, Lansia, Terapi Warna
PEMBERDAYAAN CAREGIVER LKS LU PANGESTI LAWANG ACCEPTENCE AND COMMITMENT THERAPY (ACT) SESI I DAN II Yafet Pradikatama Prihanto; Sr. Felisitas A Sri S Misc; Oktavia Indriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i1.12284

Abstract

ABSTRAKLKS LU Pangesti Lawang memiliki 13 caregiver dan 1 orang Perawat, dan telah mendapatkan pelatihan terapi untuk mengatasi masalah psikogeriatri. Meskipun demikian salah satu caregiver mengatakan bahwa diperlukan kombinasi terapi untuk mengatasi masalah psikogeriatri, karena kondisi psikologis lansia berbeda dan kadang berubah dengan cepat. Berdasarkan temuan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat bermaksud untuk mengajarkan terapi sederhana untuk mengurangi kecemasan lansia kepada caregiver, yaitu acceptance and commitment therapy (ACT). Terapi ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang telah mendapatkan pelatihan dari perawat. Terapi ini mengajarkan kepada lansia untuk menerima pikiran yang mengganggu dan tidak menyenangkan dengan menempatkan diri sesuai dengan nilai yang dianut sehingga ia akan menerima dengan kondisi yang ada. Kegiatan ini telah dilaksanakan melalui 3 tahapan. Tahap pertama yaitu melakukan perijinan dan koordinasi dengan pengelola panti terkait rencacna pelaksanaan. Tahap kedua adalah pemberian materi dan praktik Acceptance and Commitment Therapy (ACT) tahap I dan II. Tahap ketiga adalah evaluasi kegiatan yang meliputi evaluasi perasaan Caregiver setelah melakukan terapi ACT beserta  evaluasi pre test dan post test. Kegiatan ini telah terlaksana selama bulan November - Desember 2022, dan diikuti oleh 1 Perawat dan 13 Caregiver lansia. Hasil kegiatan pengabdian ini adalah ; pada pretest 14 peserta rata-rata mendapatkan nilai 5,20. Setelah dilakukan pelatihan dan dilakukan evaluasi akhir atau posttest pada 14 peserta didapatkan rata-rata nilai 8,50 atau terdapat kenaikan nilai rata-rata sebesar 24%. Dari hasil observasi didapatkan data bahwa caregiver dapat melakukan terapi ACT sesi I dan II kepada lansia secara langsung dengan nilai rat-rata 80. Berdasarkan hasil pre dan post test  dengan perubahan yang signifikan dan hasil observasi dengan nilai yang baik, maka dapat disimpulkan bahwa peserta pengabdian masyarakat  mampu melakukan praktikum ACT Sesi I dan II dengan baik dan tepat. Secara keseluruhan kegiatan berjalan lancar karena dukungan dari pengelola Panti. Kata Kunci : caregiver; lansia;  kecemasan; panti werdha; acceptance and commitment therapy (ACT) ABSTRACTLKS LU Pangesti Lawang has 13 caregivers and 1 nurse, and has received therapy training to deal with psychogeriatric problems. Even so, one of the caregivers said that a combination of therapies was needed to deal with psychogeriatric problems, because the psychological conditions of the elderly were different and sometimes changed rapidly. Based on these findings, the community service team intends to teach a simple therapy to reduce the anxiety of the elderly to caregivers, namely acceptance and commitment therapy (ACT). This therapy can be done by anyone who has received training from a nurse. This therapy teaches the elderly to accept disturbing and unpleasant thoughts by placing themselves according to their values so that they will accept the existing conditions. This activity has been carried out through 3 stages. The first stage is obtaining permits and coordinating with the management of the orphanage regarding the implementation plan. The second stage is the provision of material and practice of Acceptance and Commitment Therapy (ACT) stages I and II. The third stage is activity evaluation which includes evaluating the Caregiver's feelings after carrying out ACT therapy along with pre-test and post-test evaluations. This activity was carried out during November - December 2022, and was attended by 1 nurse and 13 elderly caregivers. The results of this service activity are; in the pretest 14 participants averaged a score of 5.20. After the training was carried out and the final evaluation or posttest was carried out on 14 participants, an average value of 8.50 was obtained or there was an increase in the average value of 24%. From the observation results, it was found that caregivers can perform ACT sessions I and II therapy directly for the elderly with an average value of 80. Based on the results of the pre and post tests with significant changes and the results of observations with good scores, it can be concluded that the service participants the community is able to carry out ACT Sessions I and II practicum properly and correctly. Overall the activity ran smoothly due to the support from the Panti management. Keywords: caregiver; elderly; anxiety; nursing home; acceptance and commitment therapy (ACT)
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN MENGENAI IN DEPTH INTERVIEW UNTUK MENGKAJI MASALAH PSIKOSOSIAL DI KELURAHAN SUKOHARJO KOTA MALANG Yafet Pradikatama Prihanto; Felisitas A. Sri; Oktavia Indriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.16661

Abstract

ABSTRAKKegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini didahului dengan studi pendahuluan dengan Puskesmas Bareng Kota Malang dan didapatkan data bahwa kelurahan Sukoharjo merupakan kelurahan dengan populasi lansia terbanyak dan sebagian besar tinggal bersama dengan keluarganya (671 lansia). Kelurahan ini memiliki kader yang sangat aktif, berjumlah 16 orang. Pihak Puskesmas mengatakan bahwa Kader di kelurahan tersebut telah mendapatkan berbagai macam pelatihan untuk mengatasi masalah kesehatan dasar pada masyarakat, namun Puskesmas belum pernah memberikan pelatihan mengenai cara menggali permasalahan psikologis, terutama pada lansia dan keluarganya (caregiver informal). Berdasarkan fenomena tersebut, maka dipilih pelatihan teknik wawancara mendalam untuk kader kesehatan yang berjumlah 16 orang. Pelatihan ini berupa praktik wawancara mendalam (in depth interview) dengan tujuan kader kesehatan dapat menggali semua permasalahan psikologis yang dialami oleh pendamping lansia atau caregiver informal dalam merawat lansia, karena data tersebut tidak akan diperoleh apabila hanya dengan wawancara biasa. Data mengenai permasalahan psikologis ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengajarkan terapi sederhana lanjutan dalam mengtasi permasalahan psikologis. Kegiatan pengabdian masyarakat dimulai dengan perijinan ke Puskesmas Bareng, Dinas kesehatan Kota Malang, kemudian berkoordinasi dengan ketua kader kesehatan RW 01 kelurahan Sukoharjo. Setelah koordinasi dengan pihak yang terkait, maka disepakati bahwa pelaksanaan kegiatan ini dilakukan secara luring (penjelasan dan praktik langsung). Kegiatan dilakukan selama 3 hari, pada tanggal 4, 5 dan 6 Juli 2023. Kegiatan di hari pertama adalah dilakukan pre test dengan hasil 4,62, kemudian dijelaskan mengenai teori permasalahan psikososial dan teknik wawancara mendalam. Pada hari kedua, pelaksana pengabdian masyarakat memberikan contoh / role play mengenai teknik wawancara mendalam. Hari ketiga diawali dengan praktik langsung role play ulang mengenai teknik wawancara dilanjutkan dengan praktik langsung teknik wawancara mendalam oleh para kader kesehatan dilanjutkan penilaian, didapatkan rata-rata nilai praktikum 8,91. Pertemuan ketiga diakhiri dengan post test untuk mengevaluasi kognitif kader kesehatan dan didapatkan nilai 9,71. Berdasarkan proses yang telah terjadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berjalan dengan efektif dan berhasil, dibuktikan dengan perubahan nilai pre dan post test. Keberhasilan kegiatan ini juga karena dukungan penuh dari STIKes Panti Waluya Malang, dinas kesehatan Kota Malang, Puskesmas Bareng dan Kader Kesehatan RW 01 dan RW 02 Kelurahan Sukoharjo.  Kata Kunci : caregiver; kader; lansia; wawancara ABSTRACTThis Community Service Activity (PKM) was preceded by a preliminary study with the Public Health Center in Malang City and data obtained that the Sukoharjo sub-district is the sub-district with the largest elderly population and most of them live with their families. This kelurahan has very active cadres, totaling 16 people. The Puskesmas said that the cadres in the kelurahan had received various kinds of training to deal with basic health problems in the community, but the Puskesmas had never provided training on how to explore psychological problems, especially for the elderly and their families (informal caregivers). Based on this phenomenon, training in in-depth interview techniques was selected for 16 health cadres. This training is in the form of in-depth interview practice with the aim of health cadres being able to explore all the psychological problems experienced by elderly companions or informal caregivers in caring for the elderly, because such data cannot be obtained through regular interviews. This data regarding psychological problems can be used as a basis for teaching advanced simple therapies in overcoming psychological problems. Community service activities began with permits to go to the Public Health Center together, the Health Office of Malang City, then coordinated with the head of the RW 01 health cadre, Sukoharjo village. After coordination with related parties, it was agreed that the implementation of this activity would be carried out offline (explaination and direct practice). The activity was carried out for 3 days, on the 4th, 5th and 6th of July 2023. The activity on the first day was a pre-test with a result of 4.62, then explained the theory of psychosocial problems and in-depth interview techniques. On the second day, the community service executor gave an example/role play regarding the in-depth interview technique. The third day begins with a role play again regarding interview techniques followed by direct practice of in-depth interview techniques by health cadres followed by an assessment, obtaining an average practicum score of 8.91. The third meeting ended with a post test to evaluate the cognitive health cadres and obtained a score of 9.71. Based on the process that has occurred, it can be concluded that this activity was running effectively and successfully, as evidenced by changes in pre and post test scores. The success of this activity was also due to the full support of the Waluya Malang STIKes, the Malang City Health Office, the Joint Health Center and Health Cadres RW 01 and RW 02 Sukoharjo Village. Keywords: caregiver; cadre; elderly; interview
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN DIEBETES MELITUS TIPE II DI PUSKESMAS JANTI MALANG Yohana Srihartini Soleman; Ellia Ariesti; Yafet Pradikatama Prihanto; Oda Debora
Jurnal Keperawatan Dirgahayu (JKD) Vol 5 No 2 (2023): October
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jkd.v5i2.388

Abstract

ABSTRAKDiabetes melitus merupakan kondisi dimana kandungan gula dalam darah melebihi normal dan cenderungtinggi (>200 mg/dl). Diabetes termasuk dalam penyakit kronis atau terminal yang artinya penyakit yangtidak bisa disembuhkan tetapi dapat dikontrol dengan menjaga kadar gula darah tetap dalam rentan normal.Untuk melakukan pengontrolan kadar gula darah, penderita DM harus patuh dalam mengkonsumsi obatantidiabetes. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pasien DM adalah pengetahuantentang penyakitnya. Pengetahuan seseorang akan berpengaruh dalam menentukan sikap dalam mengelolapenyakitnya serta dapat mengurangi terjadinya komplikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuihubungan pengetahuan tentang penyakit Diabetes Melitus dengan kepatuhan minum obat pada pasienDiabetes Melitus Tipe II di Puskesmas Janti Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatifkorelasional. Penelitian ini dilakukan pada penderita Diabetes Melitus Tipe II yang berusia 15 tahun ke atasdi Puskesmas Janti Malang. Teknik yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel yaitu mengunakanteknik probability sampling (simple random sampling). Jumlah total responden adalah 95 orang sesuaidengan kriteria inklusi. Instrumen penelitian ini menggunakan kuisioner. Pengambilan data dilakukandengan metode wawancara dan analisis data menggunakan uji korelasi spearman. Hasil penelitian ini adalahterdapat hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus Tipe II diPuskesmas Janti Malang dengan hasil analisis korelasi spearman yang menunjukkan nilai p=0.000(p<0.05)yaitu semakin baik pengetahuan seseorang tentang penyakitnya maka semakin tinggi tingkat kepatuhanminum obat. Pengetahuan yang baik dapat mempengaruhi pola perilaku responden dan membuat penderitaDM memahami tentang penyakitnya dan menstimulus motivasinya untuk meningkatkan kepatuhan dalammengkonsumsi obat secara benar dan teratur dalam upaya mengontrol kadar gula darah serta mencegahkomplikasi yang terjadi di masa mendatang.
PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR LANSIA DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN SOSIAL LANJUT USIA (LKS LU) PANGESTI LAWANG DALAM PERSPEKTIF CARING OLEH CAREGIVER : ANALISIS FENOMENOLOGI Prihanto, Yafet Pradikatama; Astutik, Nanik Dwi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 20, No 2 (2024): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v20i2.1372

Abstract

AbstrakTahapan kehidupan akhir manusia adalah lansia, dimana dalam keadaan ini semua sistem tubuh telah mengalami kemunduran, termasuk pada aspek psikologis. Perubahan yang tampak pada lansia adalah emosi yang cenderung tidak stabil, sehingga membutuhkan kesabaran dalam menghadapinya. Keadaan tersebut telah menjadi makanan sehari-hari caregiver lansia di panti werdha, sehingga mereka dituntut untuk memiliki sikap “caring” yang berbeda pada tiap lansia, bergantung pada kondisi psikologis masing-masing. Meskipun caregiver ini tidak pernah belajar mengenai ilmu “caring” seperti perawat, namun karena kebiasaan, caregiver mampu melaksanakannya. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi pengalaman caregiver saat melakukan “caring” dan dihubungkan dengan 6 komponen caring menurut Simone Roach (Compassion, competence, confidence, consiene, commitmen, dan compartemen). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan interpretative phenomenological analysis (IPA). Jumlah total caregiver adalah 13 orang, namun pengambilan data dihentikan pada partisipan nomor 8 karena telah terjadi saturasi data. Hasil penelitian ini ditemukan 6 tema yang menjawab tujuan khusus penelitian. Tema pertama “membangun hubungan yang baik dengan lansia” dengan subtema ; mengedepankan perasaan, pendekatan, memenuhi kebutuhan dan membuat kebijakan. Tema kedua membantu beradaptasi”, yang terdiri dari subtema mencoba hal yang baru, pendampingan interpersonal, memahami lansia, bekerja sesuai prosedur, dibantu rekan kerja dan mau belajar. Tema ketiga “komunikasi terapeutik”, yang terdiri dari sub tema ; interaksi, menggali potensi, dukungan dan pengawasan. Tema Keempat “tergantung situasi dalam melayani”, terdiri dari sub tema ; berniat membantu, pengendalian diri, dan tidak peduli. Tema Kelima “berterus terang”, dihasilkan dari sub tema ; kejujuran, apa adanya, dan memberikan yang terbaik. Tema keenam “kesabaran dan perhatian”, terdiri dari sub tema ; tetap mengerti, menahan diri, butuh motivasi dan melepaskan beban. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semua caregiver telah memiliki sikap caring menurut Simone Roach (Compassion, competence, confidence, consiene, commitmen, dan compartemen), dibuktikan dengan semua tema hasil penelitan merujuk pada keenam aspek tersebut. Saran untuk peneliti selanjutnya adalah melakukan penelitian kualitatif mengenai cara caregiver dalam mendampingi lansia untuk menghadapi kematian menurut teori Kolcaba
Pemberdayaan caregiver Lembaga Kesjahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS LU) pangesti lawang tentang teori peaceful end of life pada lansia Prihanto, Yafet Pradikatama; Syukkur, Achmad
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 2 (2025): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i2.29028

Abstract

AbstrakLembaga Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia (LKS LU) Pangesti Lawang adalah salah satu panti sosial yang yang terletak di Lawang, Kabupaten Malang. Terdapat 13 caregiver dan 1 orang Perawat di Panti tersebut. Rata-rata caregiver telah bekerja di tempat tersebut minimal 3 tahun, sehingga memiliki banyak pengalaman dalam merawat lansia mulai dari membantu lansia beradaptasi saat datang ke panti sampai dengan mendampingi saat menjelang ajal. Studi pendahuluan yang telah dilaksanakan di bulan Juni 2024 didapatkan data bahwa semua tindakan perawatan yang diberikan kepada lansia didapatkan secara otodidak atau belajar kepada caregiver yang lebih senior. Permasalahan utamanya adalah caregiver belum pernah mendapatkan edukasi dan pelatihan mengenai cara pendampingan menjelang ajal. Berdasarkan fenomena ini pelaksana pengabdian kepada Masyarakat berencana untuk memberdayakan caregiver dengan tujuan dapat mendampingi lansia menjelang ajal degan cara mengusahakan lansia terbebas dari rasa sakit/nyeri, membuat lansia merasa nyaman/damai, terhormat dan dekat dengan orang yang disayang (Peaceful end of life) dengan metode Edukasi. Kegiatan ini telah dilaksanakan selama 3x pertemuan pada tanggal 21 November, 2 dan 5 Desember 2024 dengan jumlah peserta 11 orang di aula LKS LU Pangesti Lawang. Sebelum dan sesudah kegiatan pelatihan, dilakukan pre test (pertemuan pertama) dan post test (pertemuan ketiga). Soal pre dan post test berupa pengetahuan peserta mengenai pendampingan ajal lansia berjumlah 10 soal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dikatakan berhasil karena ada kenaikan dari pre dan post test. Rata-rata pre test adalah 5,09 dan post test adalah 8,54, dengan kenaikan sebesar 59,6%. Luaran dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah laporan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, modul untuk caregiver; pendampingan lansia menjelang ajal. Implikasi dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah caregiver lansia memahami perawatan lansia menjelang ajal. Kata Kunci : caregiver; lansia; menjelang ajal AbstractPangesti Lawang Elderly Social Welfare Institution (LKS LU) is a social institution located in Lawang, Malang Regency. There are 13 caregivers and 1 nurse at the home. On average, caregivers have worked there for at least 3 years, so they have a lot of experience in caring for the elderly, from helping the elderly adapt when they come to the institution to accompanying them when they are nearing death. A preliminary study carried out in June 2024 showed that all care actions given to the elderly were self-taught or learned from more senior caregivers. The main problem is that caregivers have never received education and training regarding how to accompany the dying. Based on this phenomenon, community service implementers plan to empower caregivers with the aim of being able to accompany the elderly as they approach death by ensuring that the elderly are free from pain, making the elderly feel comfortable/peaceful, respected and close to their loved ones (Peaceful end of life) using the education method. This activity was carried out during 3 meetings on November 21, December 2 and 5 2024 with 11 participants in the LKS LU Pangesti Lawang hall. Before and after the training activities, a pre-test (first meeting) and post-test (third meeting) were carried out. The pre and post test questions consisted of participants' knowledge regarding assisting the elderly in death, totaling 10 questions. This community service activity was said to be successful because there was an increase in the pre and post tests. The average pre test was 5.09 and post test was 8.54, with an increase of 59.6%. The output of this community service activity is a report on community service activities, a module for caregivers; assisting the elderly when they are dying. The implication of this community service activity is that elderly caregivers understand the care of elderly people who are dying. Keywords: caregiver; elderly;  approaching death
Studi Fenomenologi Mekanisme Koping Penyitas Covid 19 Saat Didiagnosis Positif Covid 19 Pradikatama, Yafet; Ariesti, Ellia; Sodikin, M. Ali
Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA Vol 12 No 1 (2022): Jurnal Ilmu Kesehatan MAKIA
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37413/jmakia.v12i1.191

Abstract

ABSTRACT In 2020 the world experienced a Covid-19 pandemic, and this affected all aspects of life, especially health. The impact in the world of health is the number of people infected with the Corona virus. This pandemic makes some people experience fear, where the mass media reports a lot about deaths due to being infected with Covid. The existence of this phenomenon shows that it is necessary to conduct a study on how this Covid-19 survivor responds to his illness and survives until he is declared cured by the doctor. Research design: Qualitative, Research participants: Covid-19 survivors who have been declared cured. Results: 4 sub themes were found which resulted in 2 themes, namely: positive thinking and adapting to current circumstances. Conclusion: Participants were able to get through a critical period because they have adaptive internal and external coping mechanisms, so they can survive in a balanced state, both physically and psychologically. In the end, the participants were able to return to health, and were able to do the same activities as before the illness. Keywords: Individual Coping Mechanisms, Survivors of Covid 19, Experience
Pemberdayaan Caregiver Panti Pangesti Lawang Untuk Mengurangi Kecemasan Lansia Dengan Terapi Warna Pradikatama, Yafet; Sodikin, M. Ali
Jurnal Humanis ( Jurnal Pengabdian Masyarakat ISTeK ICsada Bojonegoro) Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal HUMANIS
Publisher : LPPM ISTeK ICsada Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Panti Pangesti Lawang adalah salah satu panti sosial yang yang terletak di Lawang, Kabupaten Malang. Terdapat kurang lebih 13 caregiver dan 2 orang Perawat di Panti tersebut. Caregiver mengatakan bahwa lansia memiliki berbagai macam permasalahan fisik maupun psikologis. Permasalahan fisik diakibatkan oleh karena menurunnya kondisi fisik karena proses penuaan, sedangkan masalah psikologis yang biasa dialami oleh lansia adalah perasaan cemas yang dialami oleh lansia. Penyebab kecemasan tersebut diantaranya adalah karena kesepian, tidak pernah dikunjungi oleh keluarga, dan masalah kesehatan fisik itu sendiri. Ada beberapa cara yang umum digunakan untuk mengatasi kecemasan pada lansia, diantaranya adalah terapi warna. Terapi ini akan diajarkan ke caregiver terlebih dahulu, karena Dosen belum dapat menemui lansia secara langsung karena adanya protokol kesehatan ketat terkait masa Pandemi Covid-19. Diharapkan caregiver dapat mengajarkan terapi warna ini kepada lansia. Terapi ini dapat dilakukan oleh siapa saja yang telah mendapatkan pelatihan dari perawat. Terapi ini berupa pewarnaan dengan pensil warna pada kertas, dengan warna dominan hijau, biru, kuning, dan merah. Pelatihan ini dilaksanakan selama 3x pertemuan, 1 kali pertemuan dilakukan secara daring (29 November 2021) dengan materi kecemasan dan terapi warna, pertemuan ke 2 dilakukan tanggal 9 Desember dengan materi terapi warna kemudian dilanjutkan praktik, dan pertemuan ketiga dilakukan tanggal 10 Desember 2021 dengan kegiatan evaluasi praktik terapi warna. Sebelum dilakukan dilakukan pertemuan pertama dilakukan pre test dan didapatkan nilai rata-rata 4,5 dan sesudah kegiatan pelatihan (pertemuan ke 3), dilakukan post test, dan didapatkan nilai rata-rata 7,5. perubahan nilai antara pre dan post ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan kognitif dan psikomotor caregiver. Caregiver mengerti dan mampu melakukan terapi warna, kemudian bersedia untuk mengajarkan ke lansia. Caregiver. Kata Kunci : Caregiver, Lansia, Terapi Warna
Pengaruh Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Lansia Di LKS-LU Pangesti Lawang Damayanti, Nayu; Sutiyarsih, Emy; Prihanto, Yafet Pradikatama
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol. 9 No. 2 (2025)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37294/jrkn.v9i2.779

Abstract

Abstrak Lanjut usia merupakan suatu proses penuaan secara terus-menerus yang ditandai dengan penurunan fungsi fisik. Secara teori, proses perkembangan manusia  dimulai dari masa bayi, anak, remaja, dewasa, tua, dan akhirnya akan masuk pada fase usia lanjut umur 60 tahun ke atas.  Nyeri sendi pada lansia dapat ditangani dengan salah satu terapi non-farmakologis yaitu Teknik Relaksasi Otot Progresif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan nyeri sendi di LKS-LU Pangesti Lawang. penelitian menggunakan pra-experimental  dengan one group pre test – post test design.  Subjek  dalam penelitian ini  adalah lansia sejumlah 13 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian lembar observasi nyeri, kemudian melakukan analisis data menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test dikatehui p value< = 0,001 menunjukkan bahwa terdapat Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Nyeri Sendi LKS-LU Pangesti Lawang. Nilai Z = -3,500 dengan p = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik relaksasi otot progresif dapat menjadi intervensi keperawatan non-farmakologis yang efektif dan mudah diterapkan untuk menurunkan nyeri sendi pada lansia. Temuan ini juga dapat mendukung pengembangan SOP serta sarana untuk edukasi keluarga dalam perawatan lansia secara holistik. Penelitian ini menunjukkan adanya Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Nyeri Sendi Lansia di LKS-LU Pangesti Lawang.   Kata Kunci:  penurunan nyeri sendi , relaksasi otot progresif, lansia  
KAJI TINDAKAN MANDIRI CAREGIVER INFORMAL DALAM MERAWAT LANSIA DI RUMAH DI AREA KERJA PUSKESMAS BARENG KOTA MALANG : ANALISIS FENOMENOLOGI Sri, Felisitas A.; Prihanto, Yafet Pradikatama; Indriyani, Oktavia
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan Vol 19, No 2 (2023): JURNAL ILMIAH KESEHATAN KEPERAWATAN
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jikk.v19i2.1131

Abstract

AbstrakLansia merupakan tahapan akhir dalam proses perkembangan kehidupan manusia. Berbagai macam perubahan fisik maupun mental dialami oleh lansia. Perubahan-perubahan ini dapat dirasakan oleh orang terdekatnya. Pasangan, anak, cucu maupun kerabat dekat secara tidak langsung sangat erat hubungannya dengan lansia tersebut, karena mengetahui kebiasaan sehari-harinya, dan bahkan merawat atau memenuhi kebutuhan lansia tersebut. Perawatan lansia oleh orang terdekatnya sebagian besar hanya dilakukan sebatas pengalaman kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dapat terjadi karena memang keluarga terdekat belum mendapatkan pengetahuan cara merawat lansia dengan benar.Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengalaman Caregiver informal dalam merawat lansia di rumah. Desain penelitian adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil Penelitian ini ditemukan 4 tema, yaitu kemauan caregiver untuk belajar pemenuhan kebutuhan dasar lansia, pengawasan yang lebih terhadap lansia, menerima lansia apa adanya dan dibawa ke tempat pelayanan kesehatan. Kesimpulan kemauan untuk belajar KDM” yang didasarkan oleh kebutuhan akan pelayanan kesehatan, menerima lansia apa adanya dan pengawasan yang lebih terhadap lansia Kata Kunci : intervensi mandiri, Caregiver, informal, lansia