Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

The Combined Effect Of Red Ginger Oil And Kinesiotaping On Womac Score In Elderly Patients With Osteoarthritis Syukkur, Achmad; Prihanto, Yafet Pradikatama
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 12, No 3 (2024): EDITION NOVEMBER 2024
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v12i3.6202

Abstract

Osteoarthritis (OA) is a gradually worsening, non-inflammatory condition that affects the synovial joints, with its prevalence rising as people age. The initial symptoms often include joint pain during movement, which can limit mobility in older adults. This restriction in movement can lead to stiffness, reduced functional ability, and challenges in fulfilling daily tasks for the elderly. This study aims to analyze the effect of red ginger oil and kinesiotaping on pain, stiffness and functional ability using the WOMAC score instrument. This study is a Quasi Experiment study with a Nonequivalent sample technique (pretest and posttest) control group with a sample size of 60, divided into 4 groups, namely the red ginger oil group, the kinesiotaping group, the combined red ginger oil + kinesiotaping group, and the control group. The red ginger oil and kinesiotaping intervention was carried out for 7 days. The results showed that there was a simultaneous effect of red ginger oil administration (p-value 0.000; RSquare 0.669), kinesiotaping (p-value 0.000; R-Square 0.877) and a combination of red ginger oil kinesiotaping (p-value 0.002; R-Square 0.532). The use of red ginger oil and kinesiotaping interventions showed significant results or had an impact on the WOMAC score, making them promising alternative therapies for reducing the severity of osteoarthritis in the elderly
PENGARUH TERAPI THOUGHT STOPPING TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI STIKES PANTI WALUYA MALANG Flavia Prasetyo, Yehezkiel Aurelius; Ariesti, Ellia; Prihanto, Yafet Pradikatama
Jurnal Keperawatan Dirgahayu (JKD) Vol 6 No 1 (2024): March
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jkd.v6i1.403

Abstract

Kecemasan merupakan kondisi psikologis yang penuh dengan rasa takut dan khawatir. Perasaan takut dan khawatir akan sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Kecemasan berasal dari bahasa latin (anxius) dan bahasa jerman (anst), yaitu suatu kata yang digunakan untuk menggambarkan efek negatif. Thought stopping merupakan tehnik psikoterapeutik kohitif-behavior yang dapat digunakan untuk membantu proses berfikir. Thought stopping merupakan teknik yang digunakan untuk mengatasi pikiran negatif yang dapat membuat masalah dengan mengubah menjadi pikiran netral atau positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengethaui pengaruh terapi thought stopping terhadap tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir di STIkes Panti Waluya Malang. Penelitian dilaksanakan pada mahasiswa tingkat akhir di STIkes Panti Waluya Malang dengan teknik sampel secara total sampling. Jumlah total responden adalah 39 orang. Instrument penelitian mengunakan kuisioner. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara, mengisi kuisioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Singed-Rank Test. Hasil penelitian ini adalah terdapat pengaruh terapi thought stopping terhadap tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir di STIkes Panti Waluya Malang. Nilai yang dihasilkan adalah 0,000(p<0,05) yang menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir terhadap terapi thought stopping. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh terapi thought stopping terhadap tingkat kecemasan mahasiswa tingkat akhir. Kata Kunci : Kecemasan, thought stopping
Hubungan Kadar Gula Darah dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Bareng Kota Malang Puspita, Vrenova Armelya; Pradikatama, Yafet; Syukkur, Achmad
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 6 (2025): Volume 7 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i6.20267

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is a group of heterogeneous disorders characterized by elevated blood glucose levels or hyperglycemia. People with diabetes mellitus have a high sugar content of over 200 mg/dl. Regular control of blood sugar to prevent worsening symptoms is the management of the action. Uncontrolled blood sugar levels will cause anxiety for people with diabetes mellitus. To analyze the relationship between blood sugar levels and anxiety levels in diabetic mellitus patients at the Bersama Health Center in Malang City. This type of study is quantitative non-experimental with a spearman correlation test. The sampling technique uses a non-probability sampling technique with 172 respondents. Based on the results of the univariate analysis, respondents had a blood sugar level of > 200 mg/dl and had a mild anxiety level. Based on the results of the Spearman correlation test results, there is a significant relationship between blood sugar levels and anxiety levels showing a value of P=0.003 (p<0.05). Based on the results of a study conducted at Puskesmas Bareng, Malang with 172 samples, it can be concluded that there is a significant relationship between blood sugar levels and anxiety levels with the results of a spearman correlation analysis showing a value of P=0.003 (p<0.05). Keywords: Diabetes Mellitus, Blood Sugar Levels, Levels of Anxiety  ABSTRAK Diabetes melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Penderita penyakit diabetes mellitus mempunyai kadar gula yang tinggi melebihi 200 mg/dl. Penatalaksaan yang dapat dilakukan adalah kontrol gula darah secara rutin untuk mencegah perburukan gejala. Kadar gula darah yang tidak terkontrol akan menimbulkan kecemasan bagi penyandang diabetes mellitus. Untuk menganalisis hubungan kadar gula darah dengan tingkat kecemasan pada pasien diabetes melitus di Puskesmas Bareng Kota Malang. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif non experimental dengan uji korelasi spearman. Teknik pengambilan sampel menggunakan Teknik non-probability sampling (purposive sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 172 responden. Berdasarkan hasil analisis univariat, responden memiliki kadar gula darah > 200 mg/dl dan memiliki tingkat kecemasan ringan. Berdasarkan hasil uji korelasi spearman didapatkan hasil, terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah dengan tingkat kecemasan yang menunjukkan nilai P=0.003 (p<0.05). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Bareng kota Malang dengan jumlah sampel sebanyak 172 orang, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kadar gula darah dengan tingkat kecemasan dengan hasil analisis korelasi spearman yang menunjukkan nilai P=0.003 (p<0.05). Kata Kunci: Diabetes Melitus, Kadar Gula Darah, Tingkat Kecemasan
Hubungan Indeks Massa Tubuh Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia Wildiana Fajariyah, Bekki; Vinsur, Elizabeth Yun Yun; Prihanto, Yafet Pradikatama; Sakti, Ifa Pannya
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.649

Abstract

Lansia beresiko tinggi mengalami Indeks Massa Tubuh (IMT) abnormal, yang umumnya disebabkan oleh penurunan aktivitas fisik mereka. Kondisi ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak, khususnya di area perut dan pinggul, berdampak negatif Gangguan keseimbangan dan kekuatan sendi meningkatkan risiko jatuh pada lansia; penelitian ini menganalisis hubungan IMT dan risiko jatuh di Desa Sempal Wadak dengan pendekatan kuantitatif korelasional cross-sectional pada lansia prolanis, dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut: (1) usia 60 tahun atau lebih, (2) peserta prolanis aktif, (3) bersedia menjadi responden secara sukarela, dan (4) mampu berkomunikasi secara verbal. Kriteria eksklusi meliputi: (1) kondisi akut yang memerlukan rawat inap, (2) gangguan kognitif berat (skor MMSE kurang dari 18), dan (3) data pengukuran tidak lengkap. Dengan menggunakan rumus Slovin, diperoleh 94 responden. Indeks Massa Tubuh (IMT) dan Morse Fall Scale digunakan untuk menilai risiko jatuh di lansia. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,000 dan koefisien korelasi Spearman 0,000 (karena 0,000 < 0,05), menunjukkan adanya hubungan signifikan antara IMT dan risiko jatuh. Koefisien korelasi adalah 0,467, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi IMT seseorang, semakin besar risiko jatuh. Hal ini disebabkan oleh Kelebihan berat badan dan penurunan kekuatan otot mengganggu keseimbangan dan meningkatkan risiko jatuh. Lansia perlu lebih memperhatikan gaya hidup mereka, khususnya terkait asupan nutrisi dan aktivitas fisik
The Effect of 3M Educational Intervention on Parents’ Knowledge in Preventing Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Affila Hanindar Aspasya Putri; Berliany Venny Sipollo; Yafet Pradikatama Prihanto
Jurnal Kesehatan Cendikia Jenius Vol. 3 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/jenius.v3i2.361

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health problem in tropical countries, including Indonesia, with its incidence closely related to inadequate knowledge and preventive practices at the household level. The 3M strategy (draining, covering, and burying) is a key preventive approach that requires active parental involvement. This study aimed to determine the effect of 3M educational intervention on parents’ knowledge in preventing DHF. A quantitative study with a one-group pretest–posttest design was conducted. The sample consisted of 52 parents selected using total sampling. Data were collected using a structured knowledge questionnaire administered before and after the 3M educational intervention, conducted from January to March 2024 in the working area of Ardimulyo Public Health Center. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank test. The results showed a significant increase in parents’ knowledge levels after the intervention, with a marked rise in the proportion of respondents classified as having good knowledge. Statistical analysis revealed a p-value < 0.05, indicating a significant effect of the 3M educational intervention on parents’ knowledge. In conclusion, 3M education effectively improves parents’ knowledge in preventing DHF. Continuous and structured health education programs are recommended as sustainable preventive strategies to reduce DHF incidence at the community level.
Optimalisasi peran kader kesehatan dalam pencegahan penyakit arteri perifer pada penderita diabetes mellitus Achmad Syukkur; Yafet Pradikatama Prihanto
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.33426

Abstract

Abstrak Optimalisasi Peran Kader Kesehatan dalam Mencegah Penyakit Arteri Perifer (PAP) melalui Edukasi Faktor Risiko pada Penderita Diabetes Mellitus (DM) dilaksanakan di Desa Pandansari, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program ini dilakukan karena mitra masih menghadapi masalah seperti kurangnya pengetahuan kader tentang faktor risiko PAP, keterampilan pemantauan yang belum optimal, serta terbatasnya upaya pencegahan dini pada penderita DM. Tujuan kegiatan ini  untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam mengenali serta mengedukasi masyarakat terkait risiko terjadinya komplikasi PAP pada pasien DM. Bentuk kegiatan dilaksanakan melalui ceramah interaktif, diskusi, simulasi, praktik langsung, serta evaluasi pretest dan post-test untuk memperkuat pengetahuan dan melatih kader tentang faktor risiko PAP pada penderita DM. Hasil evaluasi, terjadi peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan peserta, yaitu sebesar 55,17%, dari skor rata-rata 52,73 (kategori cukup) menjadi 81,82 (kategori baik). Sementara itu, pada aspek keterampilan pemantauan PAP, terjadi peningkatan sebesar 44,66%, dari nilai rata-rata praktik 58,52 (perlu pembinaan lanjutan) menjadi 84,66 (kategori kompeten). Melalui kegiatan ini, kader kesehatan diharapkan dapat berperan lebih aktif dalam memberikan edukasi dan melakukan pencegahan PAP pada penderita DM di masyarakat. Kata kunci: kader kesehatan; diabetes mellitus; penyakit arteri perifer; edukasi faktor risiko. Abstract The Optimization of the Role of Health Cadres in Preventing Peripheral Artery Disease (PAD) through Risk Factor Education for Patients with Diabetes Mellitus (DM) was carried out in Pandansari Village, Poncokusumo Subdistrict, Malang Regency. This program was implemented because the partner still faced several issues, such as limited knowledge of cadres regarding PAD risk factors, suboptimal monitoring skills, and inadequate early prevention efforts for patients with DM. The purpose of this activity was to enhance the capacity of health cadres in identifying and educating the community about the risks of PAD complications among DM patients. The activities were conducted through interactive lectures, group discussions, simulations, hands-on practice, as well as pre-test and post-test evaluations to strengthen knowledge and train cadres on PAD risk factors in DM patients. The evaluation results showed a significant improvement in participants’ knowledge, with an increase of 55.17%, from an average score of 52.73 (fair category) to 81.82 (good category). Meanwhile, in terms of PAD monitoring skills, there was an improvement of 44.66%, from an average practice score of 58.52 (requiring further guidance) to 84.66 (competent category). Through this program, health cadres are expected to play a more active role in providing education and implementing PAD prevention efforts for DM patients in the community. Keywords: health cadres; diabetes mellitus; peripheral artery disease; risk factor education.
Pendampingan pembuatan produk minuman dan snack sehat dari bahan dasar jahe merah pada kader lansia Achmad Syukkur; Yafet Pradikatama
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25317

Abstract

Abstrak Jahe merah merupakan tanaman tradisional yang kaya akan manfaat untuk kesehatan, antara lain dapat mengurangi nyeri, menurunkan skor WOMAC pada pasien osteoarthritis, dan meningkatkan dayat tahan tubuh. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan keterampilan kader lansia dalam pengolahan jahe merah menjadi minuman dan snack sehat dalam bentuk serbuk atau bubuk dan ting ting jahe merah. Metode pelaksanaan kegiatan memberikan edukasi kepada kader terkait manfaat dan khasiat jahe merah terhadap kesehatan, dan memberikan pelatihan dalam pembuatan produk jahe merah dalam bentuk bubuk jahe dan ting ting jahe merah. Hasil evaluasi pengetahuan kader didapatkan peningkatan 45,8% pada aspek kognitif dari hasil pretest didapatkan nilai rata-rata 59 (kategori kurang) menjadi nilai rata-rata 86 pada hasil post test atau dengan kategori baik. Sedangkan hasil evaluasi aspek keterampilan kader dalam mengolah jahe merah menjadi serbuk/bubuk dan ting-ting jahe merah didapatkan peningkatan 46,7% dari nilai rata-rata 60 (kategori cuku) saat pretest menjadi nilai rata-rata 88 (kategori baik) saat post test. Kata kunci: kader lansia; jahe merah; kesehatan; bubuk jahe merah; ting ting jahe merah. Abstract Red ginger is a traditional plant that is rich in health benefits, including reducing pain, reducing WOMAC scores in osteoarthritis patients, and increasing endurance. The aim of this community service activity is to improve the skills of elderly cadres in processing red ginger into healthy drinks and snacks in the form of red ginger powder and ting ting. The activities carried out were to increase cadres' knowledge regarding the benefits and properties of red ginger for health, and to improve the skills of elderly cadres in making red ginger products by making snacks and drinks from red ginger base ingredients in the form of ginger powder and red ginger ting ting. Evaluation is carried out by conducting pre-tests and post-tests on cadres' knowledge and utilization/processing of red ginger into a product. The results of the evaluation of cadre knowledge showed an increase of 45.8% in the cognitive aspect. From the pretest results, the average score was 59 (poor category) to an average score of 86 in the post test results or in the good category. Meanwhile, the results of the evaluation of the cadres' skill aspects in processing red ginger into powder/powder and red ginger ting-ting showed an increase of 46.7% from an average score of 60 (cuku category) at pretest to an average score of 88 (good category) at post test. Keywords: elderly cadres; red ginger; health; red ginger powder; ting-ting jahe merah.
Pemberdayaan kader kesehatan : pengenalan posyandu sehat jiwa di RW 1 kelurahan Sukoharjo kota Malang Yafet Pradikatama Prihanto; Felisitas A. Sri; Oktavia Indriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21307

Abstract

AbstrakStudi pendahuluan yang telah dilaksanakan pada bulan Juli 2023, ditemukan data primer dari kader kesehatan yang mengatakan bahwa terdapat 5 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di RW 1 Kelurahan Sukoharjo Kecamatan Klojen Kota Malang. Kasus ODGJ tersebut belum tertangani oleh Puskesmas, sedangkan kader kesehatan tidak berani memberikan perawatan karena belum memiliki pengalaman. Berdasarkan data tersebut kader kesehatan ingin mengenal Posyandu sehat jiwa supaya dapat mengenal dan merawat ODGJ. Temuan data di lapangan tersebut dijadikan dasar oleh pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat untuk membuat sebuah kegiatan penyuluhan yang berjudul “pemberdayaan kader kesehatan : pengenalan Posyandu sehat jiwa di RW 1 Kelurahan Sukoharjo”, dengan target seluruh kader kesehatan di RW 1 berjumlah 18 orang. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan gambaran tentang kegiatan yang dilakukan di Posyandu sehat jiwa. Proses kegiatan ini dimulai dari perijinan kepada Puskesmas Bareng, Dinas Kesehatan Kota Malang dan ketua kader kesehatan. Koordinasi dilakukan dengan Ketua Kader Kesehatan RW 01 Kelurahan Sukoharjo setelah surat perijinan keluar. Telah disepakati bahwa kegiatan PKM dilaksanakan selama 3 hari, yaitu pada tanggal 4, 5 dan 6 Desember 2023. Kegiatan di hari pertama diawali dari pengisian pre test, dan didapatkan nilai rata-rata 4,66, kemudian dijelaskan mengenai teori orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Materi pada hari kedua adalah teori mengenai 5 meja Posyandu sehat jiwa. Hari ketiga pemberian materi cara mengisian kartu menuju sehat jiwa (KMSJ), kemudian evaluasi dan diakhiri dengan post test untuk mengevaluasi kognitif kader kesehatan dan didapatkan nilai 8,61. Berdasarkan proses yang telah terjadi dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berjalan dengan efektif dan berhasil, dibuktikan dengan kenaikan nilai pre dan post test sebesar 84,76%. Tidak ada kendala dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini. Keberhasilan kegiatan ini juga karena dukungan penuh dari STIKes Panti Waluya Malang, Dinkes Kota Malang, Puskesmas Bareng dan Kader Kesehatan RW 01  Kelurahan Sukoharjo.  Kata Kunci : kader kesehatan; pengenalan; posyandu sehat jiwa AbstractA preliminary study carried out in July 2023, health cadres said that there were 8 people with mental disorders (ODGJ) in the Sukoharjo sub-district and 3 in the RW 1 area. Health cadres also said that they often encountered mental health problems in the form of anxiety. Due to this phenomenon, cadres cannot do much, because they do not have sufficient knowledge and skills to handle people with mental disorders. Health cadres stated that they needed education and training regarding mental health Posyandu. Responding to the needs of health cadres, the community service team (PKM) held outreach regarding the introduction of mentally healthy Posyandu with a target cadre of 18 people. This activity started with obtaining permits and contacting the Bareng Community Health Center, the Malang City Health Service and the head of the health cadre. Coordination was carried out with the Head of Health Cadre RW 01 Sukoharjo Village after the permit letter was issued. It has been agreed that the PKM activities will be carried out for 3 days, namely on 4, 5 and 6 December 2023. The activities on the first day begin with completing a pre-test, and an average score of 4.66 is obtained, then the theory of people with mental problems is explained (ODMK) and people with mental disorders (ODGJ). The material on the second day was the theory regarding mental health Posyandu tables. On the third day, material was provided on how to fill out the card for mental health (KMSJ), then evaluation and ending with a post test to evaluate health cadres' cognitive abilities and a score of 8.61 was obtained. Based on the process that has occurred, it can be concluded that this activity was carried out effectively and successfully, as evidenced by changes in pre and post test scores. There are no obstacles in implementing this PKM activity. The success of this activity was also due to the full support of STIKes Panti Waluya Malang, Malang City Health Office, Puskesmas Bareng and Health Cadres RW 01 Sukoharjo Village. Keywords: health cadre;  introduction; mental health posyandu.
Penguatan kapasitas kader kesehatan dalam memberikan intervensi psikososial sederhana melalui stimulasi kognitif tebak gambar pada lansia Ellia Ariesti; Yafet Pradikatama Prihanto
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 5 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i5.29231

Abstract

Abstrak Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif, seperti daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berkomunikasi. Stimulasi kognitif merupakan salah satu metode yang efektif untuk menjaga dan meningkatkan fungsi kognitif lansia. Salah satu bentuk stimulasi kognitif yang sederhana namun menyenangkan adalah aktivitas tebak gambar, yang dapat merangsang daya ingat, konsentrasi, serta keterampilan komunikasi lansia. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari pihak Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang bahwa selama ini di Desa Gunungronggo belum pernah mendapatkan pelatihan tentang intervensi psikososial sederhana terhadap peningkatan fungsi kognitif. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan kader kesehatan lansia dalam meningkatkan fungsi kognitif lansia dengan Intervensi Psikososial Sederhana melalui Stimulasi Kognitif Tebak Gambar. Kegiatan pemberdayaan kader kesehatan di Desa Gunungronggo Wilayah Kerja Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang diikuti sejumlah 44 orang kader, kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu tanggal 1-43 Juli 2025. Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan dengan diberikan tes sebanyak 10 pertanyaan kepada peserta untuk menilai kemampuan kognitif para peserta. Hasil yang didapat Pengetahuan kader kesehatan tentang cara meningkatkan kualitas hidup lansia didapatkan nilai rerata pre-test dari 44 peserta yang hadir pengetahuan responden pada kategori baik dengan nilai 92,72. Hasil post-test yang dilaksanakan pada pertemuan terakhir, nilai rata-rata post-test pada 44 peserta yang hadir, pengetahuan responden pada kategori baik dengan nilai 95,22. Hal ini menunjukkan bahwa peserta pelatihan telah memahami secara benar tentang materi pelatihan yang diberikan, dan dapat mengintrepretasikan materi tersebut secara benar. Kemampuan kader kesehatan lansia dalam redemonstrasi teknik terapi tebak gambar untuk meningkatkan Kognitif lansia didapatkan hasil nilai rata-rata kategori sangat baik dengan nilai 84. Capaian ini menunjukkan bahwa kader tidak hanya memahami materi secara teoritis yang ditunjukkan melalui peningkatan nilai pengetahuan, tetapi juga mampu mengaplikasikan keterampilan secara praktis dalam konteks pelatihan. Kata kunci: kader kesehatan; stimulasi kognitif; tebak gambar. Abstract Older adults are a group that is vulnerable to cognitive decline, such as memory, concentration, and communication skills. Cognitive stimulation is one effective method for maintaining and improving cognitive function in older adults. One simple but enjoyable form of cognitive stimulation is picture guessing activities, which can stimulate memory, concentration, and communication skills in older adults. Based on information obtained from the Tajinan Community Health Center in Malang Regency, it was found that the village of Gunungronggo had never received training on simple psychosocial interventions to improve cognitive function. The solution to this problem is to carry out community service activities to increase the knowledge and empowerment of elderly health cadres in improving the cognitive function of the elderly through Simple Psychosocial Intervention through Cognitive Stimulation of Picture Guessing. The empowerment activity for health cadres in Gunungronggo Village, Tajinan Community Health Center, Malang Regency, was attended by 44 cadres and was held for 3 days from July 1-4, 2025. The evaluation was conducted before and after the activity by giving participants a 10-question test to assess their cognitive abilities. The results obtained showed that the health cadres' knowledge about how to improve the quality of life of the elderly obtained an average pre-test score of 92.72 from the 44 participants who were present, which was classified as good. The post-test results, which were conducted at the last meeting, showed that the average post-test score of the 44 participants who attended was 95.22, indicating that the respondents' knowledge was in the good category. This shows that the training participants correctly understood the training material provided and were able to interpret it correctly. The ability of elderly health cadres in re-demonstrating picture guessing therapy techniques to improve the cognitive abilities of the elderly obtained an average score in the very good category with a score of 84. This achievement shows that the cadres not only understood the material theoretically, as shown by the increase in knowledge scores, but were also able to apply their skills practically in the context of the training. Keywords: cognitive stimulation; health cadres; picture guessing.
Pemberdayaan kader kesehatan di desa Pandansari Krajan dengan filosofi “Sego Tumpeng” untuk pengenalan kebutuhan dasar lansia di rumah Yafet Pradikatama Prihanto; Nanik Dwi Astutik
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25244

Abstract

AbstrakDesa Pandansari memiliki lebih dari 80 lansia, dan semua tinggal bersama pasangan atau anak-anaknya. Data pada studi pendahuluan ditemukan data bahwa pendamping lansia atau caregiver informal hanya memenuhi kebutuhan dasar lansia saja seperti makan, minum, BAB/BAK dan kebersihan diri saja. Permasalahan ini yang menjadi salah satu pemicu ketidakstabilan emosi pada lansia yang mengakibatkan tekanan darah tinggi sehingga meningkatkan resiko terjadinya stroke, sedangkan apabila dilihat dari sisi caregiver informal, ketidakstabilan emosi lansia akan memicu kelelahan psikologis yang berpengaruh terhadap sikap kepada lansia. Berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan tersebut, pelaksana kegiatan pengabdian masyarakat telah mengadakan edukasi tentang pencegahan permasalahan pada lansia ini dengan cara penjelasan mengenai pemenuhan semua kebutuhan lansia dengan target kader kesehatan Desa Pandansari, Tujuannya adalah supaya kader kesehatan mengerti, memehami dan mampu menjelaskan mengenai kebutuhan lansia menurut Maslow. Alasan memili kader kesehatan adalah karena dipandang lebih mudah dalam pendekatan dengan caregiver informal. Materi edukasi telah diberikan adalah teori mengenai kebutuhan dasar manusia menurut Maslow atau dianalogikan sebagai “sego tumpeng, supaya kader kesehatan lebih mudah memahami dan mengingatnya, dan dapat menjelaskan ke caregiver informal lansia. Edukasi telah diberikan kepada 10 orang kader kesehatan selama 3 kali, pada tanggal 12,13 dan 14 Juni 2024 dengan materi dasar kebutuhan manusia, kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow dan kiat-kiat pemenuhan kebutuhan lansia agar bahagia. Metode kegiatan ini berupa focus group discussion (FGD).  Pada pertemuan pertemuan pertama dilakukan pre test didapatkan hasil rata-rata 5,2 dan di akhir pertemuan akan dilakukan post test berupa 10 pertanyaan pilihan ganda didapatkan hasil rata-rata 8,6. Perubahan nilai rata-rata pre dan post ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi berhasil karena terjadi penambahan pengetahuan kader kesehatan. Kata Kunci : hierarki maslow; kader kesehatan; pengenalan AbstractPandansari Village has more than 80 elderly people, and all live with their partners or children. Data from the preliminary study found that elderly companions or informal caregivers only fulfill the elderly's basic needs such as eating, drinking, defecating and personal hygiene. This problem is one of the triggers for emotional instability in the elderly which results in high blood pressure thereby increasing the risk of stroke, whereas if seen from the perspective of informal caregivers, emotional instability in the elderly will trigger psychological fatigue which affects attitudes towards the elderly. Based on the phenomena that occur in the field, the implementers of community service activities have held education about preventing problems in the elderly by explaining the fulfillment of all the needs of the elderly with the target of health cadres in Pandansari Village. The aim is for health cadres to understand and be able to explain the needs of the elderly according to Maslow . The reason for choosing health cadres is because it is considered easier to approach informal caregivers. The educational material that has been provided is the theory of basic human needs according to Maslow or analogous to "sego tumpeng, so that health cadres can more easily understand and remember it, and can explain it to informal caregivers of the elderly. Education was given to 10 health cadres 3 times, on 12, 13 and 14 June 2024 with basic material on human needs, human needs according to Abraham Maslow and tips for fulfilling the needs of the elderly to be happy. The method of this activity is a focus group discussion (FGD).  At the first meeting, a pre-test was carried out, the average result was 5,22, and at the end of the meeting, a post-test was carried out in the form of 10 multiple choice questions, the average result was 8,6. This change in the average pre and post scores shows that the educational activity was successful because it occurred. increasing knowledge of health cadres. Keywords: maslow's hierarchy; health cadres; introduction