Claim Missing Document
Check
Articles

ILUSTRASI DALAM BUKU AJAR SEKOLAH DASAR: KEKUATAN GAMBAR PADA PENCITRAAN Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 1, No 1 (2008)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2008.v1i1.32-43

Abstract

Dalam artikel ini diteliti gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar pada tingkat sekolah dasar (SD). Buku-buku yang dijadikan objek penelitian adalah buku sekolah elektronik yang diterbitkan Pusat perbukuan (Pusbuk) Depdiknas, khususnya pelajaran Bahasa Indonesia. Pada kelas awal (khususnya kelas 1) gambar lebih mendominasi isi buku untuk membantu siswa memahami materi pelajaran. Ilustrasi/gambar memiliki kekuatan untuk menginversi suatu kekuatan yang harus dianalisis. Gambar dapat menimbulkan pencitraan tertentu yang kuat melekat dalam benak para siswa. Dengan kata lain, pemilihan gambar dalam buku ajar perlu dipertimbangkan karena akan mempengaruhi peserta didik pada pencitraan. Analisis akan menggunakan prinsip pemaknaan faktor kinesik (gerak tubuh) pada gambar-gambar yang menjadi ilustrasi buku ajar. Faktor kinesik yang menjadi fokus peneliitian adalah gesture (gerak, isyarat, sikap) yang ditunjukkan pada gambar-gambar yang menampilkan relasi anak laki-laki dan anak perempuan. Gambar tersebut memposisikan anak perempuan sebagai sosok yang pemalu, penakut, pasif, dan perlu perlindungan memperlihatkan ada relasi kekuasaan yang bermain. Penggambaran ini akan membawa pencitraan yang dapat mempengaruhi cara pandang peserta didik.
GAMBARAN SEKSUALITAS DALAM NOVEL TRILOGI RONGGENG DUKUH PARUK JILID CATATAN BUAT EMAK KARYA AHMAD TOHARI (Sexuality Illustration in Catatan Buat Emak as a Part of The Trilogy of Novel Ronggeng Dukuh Paruk Written by Ahmad Tohari) Mayasari, Gilang Hanita; Rahayu, Lina Meilinawati; Hidayatullah, M. Irfan
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 6, No 1 (2013)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2013.v6i1.22-33

Abstract

Artikel ini menggambarkan wacana seksualitas yang terdapat dalam novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid Catatan Buat Emak karya Ahmad Tohari.  Wacana tersebut dibedah dengan melihat peristiwa-peristiwa yang dialami para tokoh. Selain itu, wacana seksualitas juga dikaitkan dengan mitos yang berkembang di masyarakat Dukuh Paruk sebagai latar tempat novel. Hal ini menunjukkan bahwa mitos berperan penting dalam pembentukan wacana seksualitas. Mitos disakralkan karena sejak ada telah disepakati dan diyakini oleh masyarakat setempat. Analisis ini juga menunjukkan bahwa mitos bergantung pada lokasi dan kondisi sehingga daerah satu dengan daerah lain memiliki mitos berbeda. Mitos ronggeng sebagai ikon kesuburan dan kemakmuran masyarakat Dukuh Paruk menyebabkan Srintil, tokoh utama novel ini harus melakukan ritual-ritual khusus. Ritual-ritual inilah yang kemudian menjadi salah satu yang saya analisis dalam bingkai wacana seksualitas.Abstract:This paper aims at describing sexuality discourse in Catatan Buat Emak as a part of the trilogy of Ronggeng Dukuh Paruk written by Ahmad Tohari. The discourse was observed by notic- ing the events experienced by characters in the novel. In addition, it is connected to  the myths developed in the community of Dukuh Paruk where the story happened. It shows that the myth plays as an important role in the formation of the discourse. Myths are often sacred because they have always been agreed and believed by the local people. This analysis also suggests that the myth depends on the location and condition so that it is  different in one areas from others . The myth of Ronggeng as an icon of fertility and prosperity of the Dukuh Paruk makes Srintil, the main character in the novel, has to do special rituals. These rituals are kinds of sexuality discourse issues that is put into the  analysis.
KEBERGANTUNGAN TEKNOLOGI DAN DAMPAKNYA DALAM NOVEL NEUROMANCER KARYA WILLIAM GIBSON Luqman, Arief; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.225-238

Abstract

Makalah ini menganalisis bagaimana novel memandang kehadiran teknologi di tengah masyarakat yang mengakibatkan pergeseran budaya. Teknologi yang menyajikan kemudahan dan fasilitas yang membantu manusia tetapi kebergantungan manusia terhadap teknologi muncul sebagai akibat dari interaksi manusia dengan teknologi yang berlebihan. Makalah ini membahas hubungan manusia dengan mesin dalam novelNeuromancer karya William Gibson, teknologi cyberspacedi tengah masyarakat yang mengakibatkan efek cyborg pada penggunanya.Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis. Tujuan dari pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana novel melihat teknologi yang hadir di tengah masyarakat dan untuk menunjukkan kontribusi teknologi terhadap kelas penguasa dan pergeseran budaya masyarakat.Abstract: This paper analyzes the novel’s view of technology in society whicheffect culture shift. Technology presents the ease and facilities that helps humans but at the same time, technology dependence come as the result of  the interaction between human and technology. This paper discusses the human and machine relation in William Gibson’s Neuromancer, thecyberspace technology in society that make a cyborg effect to users.The method used in this paper is a descriptive and analytical method. The purpose of the discussion in this paper is to show how the novel sees the technology in society and to show the contribution of technology to the rulling class and human’s culture shift.
DINAMIKA MASKULINITAS DAN FEMININITAS DALAM NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN Permata, Denti; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2016.v9i1.13-24

Abstract

Artikel ini mengkaji dinamika maskulinitas dan femininitas perempuan dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Teks novel ini menampilkan tokoh perempuan bernama Iteung  mengalami kekerasan seksual oleh gurunya ketika duduk di bangku SD. Efek dari kekerasan seksual tersebut membuat dirinya tumbuh menjadi perempuan tomboy. Semenjak itu, perilakunya selalu berubah-ubah kadang feminin kadang pula maskulin. Kajian ini dilandasi dengan teori maskulinitas perempuan dan tomboyisme Halberstam (1998). Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap tomboy Iteung merepresentasikan bentuk negosiasinya terhadap budaya patriarki yang telah melecehkannya.
KONSTRUKSI GENDER DALAM NOVEL UTSUKUSHISA TO KANASHIMI TO KARYA YASUNARI KAWABATA (Gender Construction in Yasunari Kawabata’s Utsukushisa To Kanashimi To) Wulandari, Anastasia Dewi; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.179-192

Abstract

Novel Utsukushisa to Kanashimi to merupakan sebuah karya Yasunari Kawabata yang diterbitkan pada tahun 1969. Penelitian diawali dengan menganalisis apa saja bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami Otoko dalam lingkup patriarki dengan menggunakan teori kritik sastra feminis. Kritik sastra feminis merupakan salah satu disiplin ilmu yang menekankan penelitian sastra dengan perspektif feminis. Hal yang penting dalam analisis kritik sastra feminis adalah bagaimana perempuan ditampilkan, bagaimana suatu teks membahas relasi gender serta apa saja ide-ide feminis yang terdapat dalam cerita. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Otoko mengalami beberapa ketidakadilan gender. Bentuk-bentuk ketidakadilan gender tersebut antara lain marjinalisasi, subordinasi, stereotipe, dan kekerasan seksual. Sementara itu, ide-ide feminis yang terkandung dalam cerita adalah kemandirian seorang perempuan dalam lingkup budaya patriarki.Utsukushisa to Kanashimi to novel was written by Yasunari kawabata, published 1969. This research followed by the analysis of gender construction Otoko within patriarchy environment. Feminist literature critism is a discourse emphasizing on how literature should be done through feminist perpektive. The important things of feminist literature critism are how the women are described, how a text could be related to gender, and any feminist ideas depicted in the story. The result of this research prove that Otoko faces gender construction such as marginalization, subordinations, sterotyping and sexual violences. Meanwhile, the ideas of feminism in the story are about a woman’s independence.
KEMATIAN DAN PERASAAN KEHILANGAN: KONSTRUKSI IDENTITAS QUEER DALAM EMPAT KARYA YOSHIMOTO (Death And Sense of Loss: Queer Identity Construction in Four Yoshimoto’s Works) syukur, andi abd khaliq; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.193-210

Abstract

Empat novelet Yoshimoto, yaitu Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), dan Hardluck (2001) menghadirkan kematian dan perasaan kehilangan di awal narasi. Kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas baru sebagai bagian konstruksi identitas queer, seperti kematian sebagai pemutusan matrix heteroseksual, perasaan kehilangan sebagai perubahan identitas gender, penerimaan orang asing sebagai anggota keluarga, hubungan bersifat inses, homoseksualitas perempuan, transgenderisme, dan perubahan peran dalam anggota keluarga. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis cara kematian dan perasaan kehilangan membuka probabilitas identitas queer dalam narasi Yoshimoto. Sedangkan untuk melihat bentuk identitas queer, penelitian ini menggunakan teori performativitas dari Butler untuk menunjukkan ketaksaan identitas gender dan seks.Hasil penelitian menunjukkan kematian dapat membuka probabilitias yang mengarah pada penghadiran identitas queer dan performativitas identitas queer menyajikan performativitas tokoh yang terus-menerus berubah, bergerak, dan tidak memiliki pusat.Abstract: Four novelettes of Yoshimoto’s, which are Kitchen (1988), Moonlight Shadow (1988), Hardboiled (2001), and Hard Luck (2001) bring death and sense of loss in the beginning of the narrative. The death and sense of loss give new probabilities as parts of the queer identity constructions, for instance the death as the partition of the heterosexual matrix, the loss feelings as a gender identity alteration, agree to accept foreigners as members of the family, the relationship tend to be incest, female homosexuality, transgenderism, and change the family members role. This study conducted to analyze the way of death and loss feelings give probabilities of queer identity in the Yoshimoto’s narration.As for seeing theshape ofqueeridentity, The research applies Butler’s thinking on gender performativity to analyze how ambiguous sexual and gender identities are presented. The research finds that the probabilityof deathcanopen upleads toqueeridentity and  the analysis of queer identity’s performativity on character’s performativity in the novelettes renders it possible for sexual and gender construction to be constantly changing and everlastingly displaced performances.
REINTERPRETASI DAN REKONSTRUKSI DONGENG JAKA TARUB DALAM DRAMA KARYA AKHUDIAT: SEBUAH PEMBACAAN NEW HISTORICISM Rahayu, Lina Meilinawati; Priyatna, Aquarini; Budhyono, Rasus
SUAR BETANG Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v14i1.108

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji transformasi  dongeng Jaka Tarub menjadi drama Jaka Tarub karya Akhudiat.  Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui perubahan interpretasi dan rekonstruksi ke dalam sastra Indonesia kontemporer. Dongeng Jaka Tarub yang ada dalam Babad Tanah Jawi bertransformasi ke dalam bentuk drama. Jaka Tarub  karya Akhudiat merupakan drama parodi yang terdiri atas dua babak. Drama ini memenangkan lomba naskah drama versi Dewan Kesenian Jakarta, tahun 1974. Hasil transformasi akan  dianalisis menggunakan pendekatan new historicism. Hasil kajian ingin membuktikan bahwa sejarah sebuah bangsa dapat dibaca melalui karya sastra. New Historicism  berkeyakinan bahwa selalu ada kaitan antara teks dan sejarah. Pemikiran ini memberi persfektif bahwa “kenyataan sejarah” tidak lagi tunggal dan absolut, tetapi bisa bermacam-macam versi dan sudut pandang. Hasil reinterpretasi dan rekonstruksi dongeng Jaka Tarub merepresentasikan Indonesia tahun 70-an.  Dalam konteks demikian teks sastra Indonesia yang merefleksikan sejarah dapat diposisikan sebagai pembacaan sejarah dari versi yang lain. Oleh karena itu, perspektif new historicism menjadi tepat digunakan untuk mendedah fenomena teks sastra yang demikian: yakni, dengan cara menyuguhkan kenyataan-kenyataan di luar teks sejarah yang mainstream.   
PEMBENTUKAN IDENTITAS BARU TOKOH IMIGRAN DALAM EMPAT CERPEN KARYA DUA PENGARANG BERLATAR BELAKANG IMIGRAN WLADIMIR KAMINER DAN DILEK GüNGӧR Hawa, Andina Meutia; Rahayu, Lina Meilinawati; Purnomowulan, N. Rinaju
ATAVISME Vol 20, No 2 (2017): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.345 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v20i2.404.155-167

Abstract

This research aims to reveal the depiction of formation of the new identity of immigrant characters in four short stories written by two immigrant authors in contemporary German literature, Wladimir Kaminer and Dilek Güng?r. This study discusses how the immigrant characters build their new identities and their self-subjectivities in four short stories, namely ?Schlechte Vorbilder?, ?Deutsch-russisch Kulturjahr?,  "Geld oder Leben? and ?Blondes Barbie?. This study applies Hall?s (1990) identity theory and Bhabha?s (1994) hybridity theory. This study uses the qualitative approach with the descriptive-analytics method. The result of this study argues that the identity formation of immigrant characters is performed by imitating other cultures and presenting the past memory of the immigrant characters in their present lives as an effort to liberate the immigrant characters from their otherness and to build their self-subjectivities. In addition, the depiction of formation of the immigrant characters? new identities also shows that identity is a fluid concept, and a means of rejection of the two immigrant authors towards the essentialism concept of identity.
KONSTRUKSI IDENTITAS DIRI TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HEBI NI PIASU DAN HAIDORA KARYA KANEHARA HITOMI Friandini, Asri Rizki; Rahayu, Lina Meilinawati; Saleha, Amaliatun
ATAVISME Vol 22, No 2 (2019): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1188.322 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v22i2.580.129-143

Abstract

Seseorang membentuk identitas bukan hanya dari pengaruh lingkungan sosial saja namun juga kecemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap konstruksi identitas diri tokoh utama di dalam 2 novel Jepang yang berjudul ?Hebi ni Piasu? dan ?Haidora? karya Kanehara Hitomi. Novel ini mendeskripsikan pembentukan identitas diri dan ditampilkan melalui tubuh serta busana yang mana pembentukan ini dipengaruhi oleh lingkungan sosial serta kecemasan. Terlebih lagi, di Jepang dikenal istilah ikizurasa yang digunakan untuk menggambarkan perasaan kosong dan terisolir. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Data dalam analisis ini didapatkan dari dua novel karya Kanehara Hitomi yang berjudul ?Hebi ni Piasu? dan ?Haidora?. Pendekatan yang digunakan dalam analisis ini adalah teori identitas diri. Hasil penelitian menunjukkan konstruksi identitas diri tokoh utama terbentuk karena pengaruh dari diri dan kecemasan serta lingkungan sosial. Tokoh utama kedua novel juga menunjukkan bahwa mereka menggunakan konstruksi identitas diri ini sebagai alat untuk bertahan hidup.
PERBANDINGAN MOTIF NOVEL MEMOIRS OF A GEISHA KARYA ARTHUR GOLDEN DENGAN PRIMADONA KARYA N. RIANTIARNO Wulandari, Anastasia Dewi; Priyatna, Aquarini; Rahayu, Lina Meilinawati
ATAVISME Vol 18, No 1 (2015): ATAVISME, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.026 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v18i1.36.119-128

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan intertekstual antara Primadona dan Memoirs of a Geisha. Kedua karya sastra tersebut dipilih karena kemiripan yang menimbulkan asumsi bahwa terdapat kaitan intertekstual antara kedua karya itu. Sumber data penelitian ini adalah novel Memoirs of a Geisha (2002) karya Arthur Golden dan Primadona (2006) karya R. Riantiarno. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa novel Memoirs of A Geisha dan Primadona mempunyai kemiripan pada beberapa aspek penting pembangun cerita, yakni motif dan penokohan. Primadona sebagai teks yang muncul terlebih dahulu diduga sebagai teks yang melatarbelakangi lahirnya Memoirs of a Geisha. Berdasarkan perbandingan motif-­motif dan penokohan ditemukan adanya relasi intertekstual antara Memoirs of A Geisha dan Primadona. Abstract: This research aims to analyze the intertextuality between Primadona and Memoirs of a Geisha. Memoirs of a Geisha and Primadona were selected by an assumption that some texts were present inside another text. The source data of this study are Arthur Golden?s Memoirs of a Geisha (2002) and N. Riantiarno?s Primadona (2006). The result of this research is the spell out of motif and character. Primadona as a novel that publish previously was expected as the text that underlying the birth of Memoirs of a Geisha. Beside, with the comparison of the similar aspects, relation the both of Memoirs of a Geisha and Primadona. Key Words: Memoirs of a Geisha; Primadona; intertext