Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

The Effectiveness of Pastoral Visits for the Spiritual Growth of Adolescents at GMIT Mawar Saron Liliba Klasis East Kupang City Riwu*, Mari Magdalena Ide; Leobisa, Jonathan; Kase, Simon
JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah Vol 9, No 3 (2024): Agustus, Education, Social Issue and History Education.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimps.v9i3.30875

Abstract

The study seeks to evaluate the efficacy of spiritual visits in facilitating the spiritual growth of teenagers. The employed methodologies encompass quantitative approaches such as surveys and questionnaire research, as well as qualitative methods involving in-depth interviews with teenagers, parents, and church leaders. The assessment of spiritual development might be based on enhanced comprehension of religious doctrines, advancement in the practice of prayer, active engagement in church-related endeavors, favorable modifications in conduct, and enhanced mental and emotional well-being. The study's findings indicate that the inclusion of a priest has a significant and beneficial influence on the spiritual growth of adolescents. The success of pastoral visits is supported by factors such as the frequency of visits, the quality of the pastor-teenager relationship, and a personalized approach. However, there are also hindrances such as time constraints and ineffective communication. The findings of this study recommend increasing the number of visits, offering specialized training to priests, adopting a more personalized approach, engaging families, and leveraging technology to enhance the effectiveness of pastoral visits. By employing this approach, it is anticipated that pastoral visits will provide greater efficacy in directing young individuals towards enhanced spiritual maturation.
Koinonia posdigital sebagai upaya moralisasi homo digitalis Leobisa, Jonathan; Paat, Anggreani Norma
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.385

Abstract

This research aims to analyze the function of social media in forming the character of Christian youth leaders. The method used in this research is descriptive-qualitative with observational data collection techniques at the GMIT locus of the Mawar Saron Liliba Congregation, as well as literature studies that strengthen theories about digital world phenomena. The research results show that young people use social media at the GMIT Mawar Saron Liliba Congregation. This highly impacts behavior and characterless respect of worship services, such as listening to sermons. This condition triggers the urgency of character formation and moralization in groups of teenagers who are often identified as homo digitalis or people who live in a digital world. In conclusion, the church, through its leaders, must be able to moralize congregation members, especially youth who are often referred to as homo digitalis.AbstrakTujuan penelitian ini adalah menganalisis fungsi media sosial dalam pembentukan karakter pemimpin pemuda-remaja Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi pada lokus GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba, serta studi literatur yang memperkuat teori tentang fenomena dunia digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial oleh para pemuda-remaja GMIT Jemaat Mawar Saron Liliba sangat tinggi, sehingga berdampak pada perilaku dan karakter yang kurang menghormati pelayanan ibadah, seperti mendengarkan khotbah. Kondisi ini memicu urgensitas pembentukan karakter dan moralisasi pada kelompok remaja yang kerap diidentifikasi sebagai homo digitalis atau orang-orang yang lekat dengan dunia digital. Simpulannya, gereja, melalui para pemimpinnya, harus mampu melakukan moralisasi kepada anggota jemaat, khususnya pemuda-remaja yang kerap disebut sebagai homo digitalis.
Edukasi Moderasi Beragama Berbasis Positive Reinforcement di SMA Kristen 2 SoE, Kabupaten TTS Leobisa, Jonathan; Adi Saingo, Yakobus; Damnosel Bara Pa, Hemi; Jhonnoto Dami, Friderich
Jurnal Visi Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Visi Pengabdian Kepada Masyarakat : Edisi Februari 2025
Publisher : LPPM Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51622/pengabdian.v6i1.2605

Abstract

Educational institutions should be at the forefront in preparing every component in them to help maintain harmony between religious communities, bearing in mind that existing religious pluralism, if not managed properly, can become a suggestion of intolerance by certain elements of society. The team of lecturers and students of the Program Magister PAK – IAKN Kupang believes that there is a need for activities that can educate school components so that they can have high awareness to help maintain the culture of religious tolerance that has been maintained throughout the midst of the diverse society of SoE City, South Central Timor Regency. Therefore, PkM activities were held which aimed to strengthen the values ​​of religious tolerance with the theme of religious moderation education based on positive reinforcement at Christian High School 2 SoE, TTS Regency. The method used in implementing this PKM activity is Participatory Action Research (PAR) which is carried out by socializing the implementation of positive reinforcement-based religious moderation values ​​for 54 participants consisting of Principals, teachers, staff/employees, and students of Christian High School 2 SoE. The data collected through active discussions between IAKN Kupang lecturers and participants were then processed and analyzed reductively, thereby showing the results of PkM activities that teachers and students need to work together in implementing religious moderation values ​​such as non-violent behavior, upholding national commitments, and promoting religious tolerance. , which is stimulated/stimulated from within oneself so that each individual can naturally have a high level of awareness in carrying out these values ​​voluntarily and pleasantly as a character that is inherent in daily activities. The implementation of PkM activities by the team of lecturers and students of the Program Magister PAK – IAKN Kupang was seen as very beneficial and had a significant impact in increasing participants' awareness as measured by a satisfaction level of 3.68%.
Generasi Alpha Yang Inklusif: Kontribusi Pendidikan Agama Kristen Di Sekolah Dalam Menghargai Keberagaman Boymau, Yerliana; Leobisa, Jonathan; Pairikas, Fenetson; Adi Saingo, Yakobus
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2025): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v2i3.3988

Abstract

Tujuan penelitian generasi alpha yang inklusif: kontribusi Pendidikan Agama Kristen di sekolah dalam menghargai keberagaman dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature yang pengumpulan datanya melalui buku, artikel penelitian, prosiding dan dokumen yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian. Data yang terkumpul dianalisis secara reduksi dan memaparkan hasil bahwa anak-anak generasi Alpha harus didik untuk menghormati keberagaman melalui lembaga pendidikan dengan pembelajaran bermutu yang membentuk moral dan karakter inklusi nya. Karakter inklusi pada generasi Alpha dapat dibentuk melalui pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang menjadi sarana untuk mendorong serta memotivasi untuk anak-anak dapat terbuka terhadap perbedaan agama dan bersedia terlibat dalam berbagai kegiatan yang dapat menciptakan kerukunan. Upaya pembentukan karakter inklusi dapat ditempuh dengan menanamkan nilai-nilai Kristiani melalui Pendidikan Agama Kristen. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen menjadi sarana menanamkan dan membentuk karakter inklusi sehingga anak-anak generasi Alpha dapat menjadi pribadi yang menghargai keberagaman, dan menghidupi prinsip-prinsip moral yang kuat, berempati, bertanggung jawab, dan mengedepankan inklusivitas di tengah keberagaman. Generasi Alpha dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menyampaikan Pendidikan Agama Kristen yang mengandung pesan moral relevan dengan penguatan jiwa dan karakter inklusi. Generasi Alpha yang berkepribadian inklusi dapat menjadi garda terdepan dalam memperkuat solidaritas untuk menciptakan kerukunan umat beragama.
Dekolonialisasi servant leadership: Karakter, kritik, dan rekonstruksi tata kelola eklesial dalam konteks indonesia Leobisa, Jonathan
KURIOS Vol. 11 No. 3: Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i3.1500

Abstract

The "servant leadership" discourse has achieved quasi-dogmatic status in contemporary Christian leadership, yet rarely undergoes critical interrogation of its epistemological assumptions and political implications. This article argues that the uncritical adoption of servant leadership in Indonesian church governance perpetuates colonial patterns through the depoliticization of biblical servanthood, the domestication of service rhetoric that conceals untransformed hierarchical power relations, and the reproduction of Western governance models as universal templates while marginalizing indigenous communal wisdom. Through critical analysis, this study identifies four constitutive characteristics of servant leadership discourse: individualization, moralization, leader-centrism, and ahistoricity. The reconstructive section develops an alternative paradigm of "Participatory-Communal Governance" that integrates early church practices (Acts 2:42-47; 1 Corinthians 12:12-27) with Indonesian indigenous wisdom—gotong royong, tepo seliro, and musyawarah-mufakat—proposing a distributed authority based on charismata, facilitative rotation, and communal deliberation.   Abstrak Diskursus "servant leadership" telah mencapai status quasi-dogmatis dalam kepemimpinan Kristiani kontemporer, namun jarang mengalami interogasi kritis atas asumsi epistemologis dan implikasi politisnya. Artikel ini mengargumentasikan bahwa adopsi tanpa kritik terhadap servant leadership dalam tata kelola gereja Indonesia melanggengkan pola-pola kolonial melalui depolitisasi servanthood biblika, domestikasi retorika pelayanan yang menyembunyikan relasi kekuasaan hierarkis yang tidak tertransformasi, dan reproduksi model governansi Barat sebagai template universal dengan memarjinalkan kearifan komunal indigenous. Melalui analisis kritis, studi ini mengidentifikasi empat karakter konstitutif diskursus servant leadership: individualisasi, moralisasi, leader-sentrisme, dan ahistorisitas. Bagian rekonstruktif mengembangkan alternatif paradigma "Governansi Partisipatif-Komunal" yang mengintegrasikan praktik gereja mula-mula (Kis 2:42-47; 1 Kor 12:12-27) dengan kearifan indigenous Indonesia—gotong royong, tepo seliro, dan musyawarah-mufakat—mengusulkan distribusi otoritas berbasis charismata, rotasi fasilitatif, dan deliberasi komunal.
Upaya Penguatan Pendidikan Karakter Di Sekolah Berbasis Integrasi Nilai-Nilai Karakter Dalam Kearifan Lokal Landena, Anita Yelinda Astuti; Leobisa, Jonathan
Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/ghhzva49

Abstract

Penguatan pendidikan karakter di sekolah merupakan upaya strategis dalam membentuk kepribadian peserta didik secara utuh di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penguasaan aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan nilai, sikap, dan perilaku yang berlandaskan moral dan budaya. Salah satu pendekatan yang relevan dalam penguatan pendidikan karakter adalah integrasi nilai-nilai karakter dalam kearifan lokal. Kearifan lokal mengandung nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui penghimpunan dan penelaahan berbagai dokumen tertulis, visual, dan elektronik yang relevan dengan topik kajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai karakter berbasis kearifan lokal dapat dilakukan melalui kurikulum, proses pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Guru memiliki peran sentral sebagai teladan dan fasilitator dalam menanamkan nilai karakter melalui pendekatan kontekstual dan partisipatif. Integrasi ini membantu peserta didik memahami dan menginternalisasi nilai karakter secara nyata dan berkelanjutan. Dengan demikian, penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal menjadi pendekatan yang efektif dalam membentuk peserta didik yang berintegritas, berbudaya, dan siap menghadapi tantangan kehidupan secara bertanggung jawab.
Menjunjung Pembentukan Karakter Berbasis Nilai Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Suki, Arista; Leobisa, Jonathan; Adi Saingo, Yakobus
Educational Journal Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/d0ftyk45

Abstract

Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan dan membentuk karakter Kristiani pada siswa di sekolah. Pendidikan ini tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan iman secara kognitif, tetapi juga berfokus pada pembinaan sikap, nilai, dan perilaku yang mencerminkan ajaran Yesus Kristus, seperti kasih, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu mengkaji berbagai buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan peran guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter siswa. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen memegang peran strategis sebagai pengajar, pembimbing, teladan, motivator, dan pendamping rohani bagi peserta didik. Keteladanan hidup guru yang mencerminkan karakter Kristus menjadi faktor utama dalam keberhasilan pendidikan karakter. Selain itu, lingkungan sekolah yang kondusif, budaya sekolah yang positif, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan gereja turut mendukung proses internalisasi nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berkontribusi secara signifikan dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara spiritual dan moral, serta mampu menjadi pribadi yang beriman dan berkarakter dalam kehidupan bermasyarakat.