Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS LEVEL MISKONSEPSI MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH MANUSIA DI SD Indri Sabila; Ghullam Hamdu; Agnestasia Ramadhani Putri
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i03.7759

Abstract

Miskonsepsi merupakan ketidaksesuaian konsep yang dipahami dengan konsep yang sebenarnya, sehingga menyebabkan kekeliruan pada pemahaman konsep peserta didik. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penemuan yang menunjukkan adanya miskonsepsi pada peserta didik di Sekolah Dasar. Hal ini didukung oleh hasil survery dari PISA dan TIMSS yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi sains di Indonesia masih tergolong rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena adanya miskonsepsi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kategori miskonsepsi yang dialami oleh peserta didik kelas VI, sekaligus faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya miskonsepsi pada materi sistem peredaran darah manusia. Metode peneltian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa miskonsepsi yang dialami oleh peserta didik kelas VI pada materi sistem peredaran darah manusia termasuk kategori sedang yaitu sebesar 40% pada materi ciri-ciri pembuluh darah arteri dan 40% pada materi proses peredaran darah besar dan peredaran darah kecil. Beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya miskonsepsi adalah karena konteks, penggunaan bahasa yang jarang diengar oleh peserta didik dan materi yang abstrak membuat peserta didik kesulitan memperoleh gambaran dari materi yang dipelajari. Selain itu penggunaan metode dan media pembelajaran yang kurang sesuai membuat pembelajaran menjadi kurang maksimal.)
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN LKPD-STEM BERBANTUAN AUGMENTED REALITY (AR) UNTUK SISWA KELAS IV SD Alexa Audisti Fitria; Ika Fitri Apriani; Agnestasia Ramadhani Putri
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i03.7783

Abstract

Kehidupan abad ke-21 menuntut siswa memiliki keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, komunikatif, dan literasi teknologi. Namun proses pembelajaran masih didominasi metode ceramah, penggunaan LKPD yang belum maskimal, sehingga motivasi belajar rendah dan keterampilan tersebut kurang berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan LKPD-STEM berbantuan Augmented Reality (AR) untuk siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara dan studi literatur. Subjek penelitian ini adalah dua guru dan tujuh siswa kelas IV dari dua sekolah dasar yang berada di Kota Tasikmalaya. Hasil menunjukkan guru memiliki kendala dalam menyediakan LKPD interaktif berbasis STEM, sedangkan siswa memiliki minat tinggi pada pembelajaran berbasis proyek dan praktikum. Pengembangan LKPD-STEM berbantuan Augmented Reality (AR) diharapkan mendukung pembelajaran aktif, interaktif, dan kontekstual, serta meningkatkan keterampilan abad ke-21.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 5E TERHADAP MISKONSEPSI SISWA KELAS IV PADA MATERI GAYA Siti Quraini Nurfadilah; Ahmad Mulyadiprana; Agnestasia Ramadhani Putri
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 03 (2025): Volume 11 No. 03 September 2025 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i03.7835

Abstract

This study aims to analyze the effectiveness of the Learning Cycle 5E model in reducing misconceptions among fourth-grade elementary students on the topic of force. The research employed a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The participants consisted of 66 students: 33 students from SDN 1 Giriawas as the control group and 33 students from SDN 2 Giriawas as the experimental group. The research instrument was a multiple-choice test with the Certainty of Response Index (CRI) to identify students’ misconceptions. The results indicated that before the treatment, most students experienced misconceptions regarding force concepts. After applying the Learning Cycle 5E model, the number of misconceptions in the experimental class significantly decreased compared to the control class. The N-Gain test showed that the conceptual understanding improvement in the experimental group was in the medium category, while the control group was in the low category. Moreover, the independent sample t-test confirmed a significant difference between the two groups. Therefore, the Learning Cycle 5E model is proven effective in reducing misconceptions and can be recommended as an alternative instructional strategy for science learning in elementary schools.
EKSPLORASI TINGKAT EKOLITERASI DAN PRAKTIK PENGELOLAAN SAMPAH PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR Hasna Khaerunnisa; Mohamad Setiadi, Pidi; Ramadhani Putri, Agnestasia
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 01 (2026): Volume 12 No. 01, Maret 2026 Release
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i01.12183

Abstract

The issue of waste remains an environmental challenge, including in elementary schools, which play a strategic role in building ecological awareness from an early age. This study aims to explore ecoliteracy of fifth-grade elementary school students in relation to the implementation of IPAS learning and waste management practices in the school environment. The study uses a qualitative descriptive approach with fifth-grade class student as subjects. Data collection was conducted through interviews, observations, and documentation to obtain a factual description of IPAS learning, student behavior, and the school's waste management curricula. The results show that IPAS learning related to the environment is still dominated by conventional approaches with limited practical activities, resulting in relatively low student involvement. The ecoliteracy of students is at a basic level, characterized by an understanding of the environment that has not been fully internalized in their daily behavior, particularly in the practice of waste sorting. The school waste management system also does not optimally support the development of ecoliteracy due to limited facilities and the absence of sustainable management of organic waste, including that generated by the Makan Bergizi Gratis Program. These findings emphasize that strengthening eco-literacy requires the integration of practice-based IPAS learning, the cultivation of environmentally conscious behavior, and the support of a sustainable school system and culture.
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN E-LKPD BERMUATAN SDGS TEMA AIR BERSIH DAN SANITASI LAYAK DI SEKOLAH DASAR Firda Nurul Aulia; Ghullam Hamdu; Agnestasia Ramadhani Putri
eL-Muhbib jurnal pemikiran dan penelitian pendidikan dasar Vol. 8 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/el-muhbib.v8i2.2676

Abstract

Salah satu upaya untuk mencapai tujuan SDGs menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua dapat diimplementasikan melalui pembelajaran di sekolah dengan memuat SDGs tema air bersih dan sanitasi layak serta dengan mengintegrasikan tiga pilar ESD yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial agar siswa memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan dan kehidupan disekitarnya. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal, tentunya harus didukung dengan adanya perangkat pembelajaran salah satunya LKPD yang dikemas secara elektronik atau E-LKPD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan pengembangan E-LKPD bermuatan SDGs tema air bersih dan sanitasi layak di sekolah dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian melalui wawancara dan studi dokumentasi. Subjek penelitian ini yaitu 5 orang guru dan 3 orang siswa sekolah dasar di kota Tasikmalaya. Analisis ini meliputi analisis LKPD, analisis hasil wawancara siswa, dan analisis hasil wawancara guru. Penelitian ini menunjukkan bahwa guru jarang mengembangkan LKPD dan LKPD yang digunakan siswa dalam belajar masih berbentuk cetak yang berasal dari buku atau mengunduh dari internet dan aplikasi PMM serta belum ada LKPD bermuatan SDGs tema air bersih dan sanitasi layak.
Analisis Kebutuhan Storybook Etno-ESD Gastronomi Sunda: Fondasi Penguatan Literasi Sains Siswa SD Windry Syakia; Agnestasia Ramadhani Putri; Srie Mulyati
Lambda: Jurnal Ilmiah Pendidikan MIPA dan Aplikasinya Vol. 6 No. 1 (2026): Lambda
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/lambda.v6i1.2781

Abstract

The problem addressed in this study stems from the low level of scientific literacy among elementary school students and the suboptimal implementation of Education for Sustainable Development (ESD), which has not been well integrated with local wisdom. In addition, Sundanese gastronomic knowledge is increasingly being eroded by modernization, highlighting the need for innovative, contextual, and meaningful learning media. This study aims to analyze the need for developing a learning medium in the form of a storybook based on Ethno-ESD Sundanese gastronomy as a foundation for strengthening students’ scientific literacy. This study employed a quantitative descriptive method within the Design Based Research (DBR) framework at the needs analysis stage. The sample consisted of fifth-grade elementary school students selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire covering five aspects: prior learning understanding, learning media needs, scientific literacy, integration of Ethno-ESD, and students’ interest in storybooks. Data were analyzed using descriptive statistics in the form of mean scores. The results indicate that students’ need for developing an Ethno-ESD-based storybook is high, with an average score of 4.13. All aspects fall into high to very high categories, with the highest score in the integration of Ethno-ESD Sundanese gastronomy. These findings suggest that students require contextual and engaging learning media that integrate scientific literacy with daily life and local cultural values. Therefore, the development of an Ethno-ESD-based Sundanese gastronomy storybook has strong potential as an innovative solution to enhance elementary students’ scientific literacy.
Pengembangan Media PROM (Proyektor Mini) Berbasis Pembelajaran STEM untuk Siswa Kelas V Sekolah Dasar Alfina Bakti Pertiwi; Dindin Abdul Muiz Lidinillah; Agnestasia Ramadhani Putri
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 5 No. 2 (2026): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (June 2026)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/nara.v5i2.486

Abstract

Tuntutan kompetensi abad ke-21 mendorong perlunya inovasi pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif melalui pendekatan berbasis STEM. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pemanfaatan media pembelajaran di sekolah dasar, (2) merancang Media PROM (Proyektor Mini) sebagai solusi atas kebutuhan pembelajaran, (3) menilai kelayakan dan hasil uji produk, serta (4) memaparkan bentuk akhir media yang dikembangkan. Kajian ini berangkat dari hasil analisis kebutuhan yang menunjukkan bahwa media pembelajaran di SD belum dirancang untuk memfasilitasi kegiatan belajar yang menuntut siswa berpikir kritis, kreatif, dan mampu berkolaborasi dalam pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Educational Design Research (EDR) dengan model McKenney & Reeves yang meliputi tahap analisis dan eksplorasi, desain dan konstruksi, serta evaluasi dan refleksi. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa kelas V di SDN 2 Pengadilan Kota Tasikmalaya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media PROM yang dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan berdasarkan hasil validasi ahli media dan ahli materi dengan kategori layak digunakan. Uji coba produk menunjukkan respon positif dari guru dan siswa serta mampu mendukung pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan konsep STEM, khususnya pada materi gelombang cahaya dan bangun ruang. Produk akhir berupa media PROM (Proyektor Mini) beserta buku panduan yang dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran inovatif di sekolah dasar.
Analisis Kebutuhan LKPD Berbasis Etno-STEM Kincir Cai untuk Melatih Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar Dini Restu Kurniati; Agnestasia Ramadhani Putri; Srie Mulyati
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 16 No. 4 (2026): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v16i4.4822

Abstract

Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan abad ke-21 yang penting dikembangkan sejak sekolah dasar, namun hasil studi PISA 2022 menunjukkan capaian siswa Indonesia dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi masih rendah. Salah satu upaya mengatasi hal tersebut adalah melalui pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Etno-STEM yang mengintegrasikan kearifan lokal Kincir Cai masyarakat Sunda ke dalam pembelajaran IPA. Penelitian menggunakan metode Design Based Research (DBR) yang dibatasi pada tahap identifikasi dan analisis masalah, sehingga belum sampai pada tahap perancangan, uji coba, maupun evaluasi produk akhir. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan guru kelas IV, penyebaran angket kepada 22 siswa kelas IV SDN 2 Manonjaya, dan studi dokumentasi LKPD yang digunakan, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama: (1) pembelajaran IPA telah dilaksanakan secara kontekstual melalui praktikum namun masih terkendala keterbatasan sarana dan LKPD yang digunakan belum mengintegrasikan unsur Etno-STEM; (2) sebagian besar siswa memiliki minat belajar yang baik tetapi masih kesulitan memahami materi Energi dan Gaya; (3) LKPD yang digunakan belum memfasilitasi indikator kemampuan berpikir kritis secara optimal. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan LKPD berbasis Etno-STEM Kincir Cai sebagai solusi kontekstual untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar pada pembelajaran IPA fase B.
Analisis Kebutuhan Penggunaan Media Pembelajaran dalam Mengatasi Miskonsepsi Peserta Didik di Sekolah Dasar Silmi Nurul Fadhillah; Ghullam Hamdu; Agnestasia Ramadhani Putri
Jurnal Lensa Pendas Vol 10 No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33222/jlp.v10i2.4968

Abstract

Pembelajaran sains di sekolah dasar seringkali menghadapi tantangan, terutama dalam penyampaian konsep abstrak seperti siklus air. Topik ini seringkali menimbulkan miskonsepsi di kalangan siswa akibat minimnya media pembelajaran yang konkret dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan penggunaan water cycle box sebagai media pembelajaran alternatif yang dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep siklus air. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data seperti kuesioner, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi. Penelitian ini melibatkan dua sekolah dasar dengan total 21 siswa dan beberapa guru kelas lima sebagai partisipan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menikmati pelajaran sains tetapi kesulitan memahami proses siklus air, terutama karena terbatasnya penggunaan media pembelajaran yang tepat. Para guru juga mengakui minimnya alat peraga dan menyatakan dukungannya terhadap pengembangan media yang dapat merepresentasikan proses siklus air secara konkret. Water cycle box dianggap sebagai alat yang efektif untuk memberikan pengalaman belajar yang langsung dan representatif melalui elemen visual seperti gunung, danau, lautan, dan kapas untuk melambangkan awan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa water cycle box sangat dibutuhkan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep siklus air dan mengurangi kesalahpahaman selama proses pembelajaran.
Analisis Kebutuhan Pengembangan Media Bedug Elektronik Berbasis Etno-STEM di Sekolah Dasar   Putri, Agnestasia Ramadhani; Mulyati, Srie; Elsakira, Lena
Edukasi: Jurnal Penelitian dan Artikel Pendidikan Vol 18 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/ndaa3174

Abstract

Natural Science education in elementary schools continues to face significant challenges, particularly regarding the scarcity of concrete and contextual learning media capable of fostering students' critical thinking skills, especially on the topic of energy sources and their transformations. The Bedug, a traditional drum deeply rooted in students' local culture, presents a strategic opportunity to be utilized as a learning medium by integrating STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) principles to facilitate critical thinking. This research aims to analyze the necessity of developing an Ethno-STEM-based electronic Bedug for elementary school settings. A qualitative descriptive approach was employed, with data gathered through structured and unstructured interviews with fourth-grade teachers and students. The findings reveal that teachers struggle to explain energy transformation concepts concretely, as existing media are limited to audiovisual formats that fail to represent various energy changes optimally. Furthermore, project-based and engineering activities remain infrequent, hindering the development of students' critical thinking. Conversely, students demonstrated high interest in science learning linked to local culture, specifically the Bedug and the Ngadulag tradition. They also expressed curiosity about the electronic Bedug concept and were able to articulate basic relationships between sound and electrical energy. These findings indicate that an Ethno-STEM-based electronic Bedug is urgently needed as a concrete, interactive, and contextual learning tool. This media effectively merges cultural heritage with modern technology, providing a superior solution compared to conventional media in supporting conceptual understanding and critical thinking skills.