Claim Missing Document
Check
Articles

Laundry waste treatment with photodegradation method using photocatalyst nanoparticle TiO2-SiO2 Abd Mujahid Hamdan; Febrina Arfi; Hilda Risma; Khairun Nisah
Journal of Aceh Physics Society Volume 11, Number 2, April 2022
Publisher : PSI-Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jacps.v11i2.24924

Abstract

Abstrak. Limbah binatu yang dibuang ke lingkungan tanpa proses pengolahan berpotensi mengganggu ekosistem lingkungan. Metode fotodegradasi mampu menguraikan polutan pencemar dari limbah binatu dengan bantuan cahaya matahari dan katalis. Katalis dalam bentuk nanopartikel dapat membantu dalam metode fotodegradasi. Pada kajian ini digunakan nanopartikel titanium dioksida (TiO2NP) dan nanopartikel silika dioksida (SiO2NP). Tujuan penggunaan katalis untuk membantu dalam proses pendegradasian polutan binatu karena TiO2NP-SiO2NP mempunyai kemampuan menyerap cahaya ultraviolet yang tinggi. Dari penelitian ini diperoleh dengan penambahan TiO2NP-SiO2NP dapat menurunkan polutan limbah binatu 1 liter, dengan massa dan waktu kontak yang optimum yaitu 1 gram TiO2NP-SiO2NP dengan waktu penyinaran selama 7 jam. Parameter limbah yang dianalisis yaitu pH, COD, TSS, fosfat dan kekeruhan. Hasil efektivitas dari uji parameter didapat untuk COD yaitu 96,77 %, TSS yaitu 83,78 %, fosfat yaitu 95,31 %, dan kekeruhan yaitu 97,72 % dan  pH didapat 7,8. Abstract. Waste that is discharged into the environment without a process for managing the environmental ecosystem. The photodegradation method is able to decompose pollutant pollutants from cleaning services with the help of sunlight and catalysts. Catalysts in the form of nanoparticles can help in photodegradation methods. In this study, titanium dioxide (TiO2NP) and silica dioxide (SiO2NP) nanoparticles were used. The purpose of using a catalyst to assist in the degradation process of laundry services is because TiO2NP-SiO2NP has the ability to absorb high ultraviolet light. From this study, it was found that the addition of TiO2NP-SiO2NP can reduce the discovery of 1 liter, with an optimal mass and contact of 1 gram of TiO2NP-SiO2NP with an irradiation time of 7 hours. Waste parameters analyzed were pH, COD, TSS, phosphate, and turbidity. The effective results of the parameter test were obtained for COD, namely 96.77%, TSS for 83.78%, phosphate for 95.31%, and turbidity 97.72% and pH was 7.8. 
Pembuatan Plastik Biodegradable Dari Polimer Alam Khairun Nisah
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v4i2.2849

Abstract

Penelitian ini merupakan kajian pustaka,berkaitan dengan bahan pembuatan plastik.Kajian bertujuan untuk memberikan informasi sumber-sumber bahan polimer alami,sebagai pembuatan plastik biodegradable. Plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan saat ini.Pada berbagai bidang.Dari alat rumah tangga sebagai kebutuhan hidup sehari-hari.Keadaan ini menimbulkan masalah bagi lingkungan,karena menghasilkan limbah.Limbah plastik dari minyak bumi merupakan limbah paling banyak dihasilkan,karena masa degradablenya sangat panjang.Untuk mengurangi limbah plastik yang sulit terdegradasi dengan menggunakan bahan biodegradable polimer alami sebagai bahan dasar pembuatan plastik Polimer alami digunakan dalam pembuatan plastik juga bisa digunakan sebagai alternative penganti polimer dari minyak bumi yang keberadaannya sangat terbatas, dan dapat bisa mengurangi limbah dari bahan polimer nonbiodegradable.Dari kajian ini diperoleh dua dasar sumber polimer alami sebagai bahan dasar pembuatan bahan plastik yaitu sumber nabati dan sumber hewani.Adapun sumber nabati yaitu kayu dan tanaman tahunan dan sumber Hewani yaitu kitin dan kitosan serta protein.
Preparation and Characterization of Giant Tiger Shrimp (Penaeus monodon) Shell-Based Chitin as Biocoagulant For Water Purification Khairun Nisah; Rizna Rahmi
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v7i2.8229

Abstract

Abstract: Giant tiger shrimp (Penaeus monodon) shells are solid waste that can be utilized for water purification by converting them into chitin-based biocoagulant. The extraction and deproteination of giant tiger shrimp shells (Penaeus monodon) resulted in 83.34% w/w, followed by a demineralization yield of 91.61% w/w product. Chitin extract was used as a biocoagulant using the Jar test method on a fixed variable of 1 L well water and the independent variables of chitin weight (mg) and stirring speed (rpm). The results showed that 15 mg/L chitin reduced the turbidity value of well water from 3.08-1.03 NTU and decreased the Total Dissolved Solids (TDS) from 555-500 mg/L, at 200 rpm and pH 8.4. In conclusion, our investigation proves that chitin derived from giant tiger shrimp shells can be used as a biocoagulant for water purification.Abstrak: Kulit udang merupakan limbah padat yang dapat digunakan untuk penjerniahan air, dengan mengonversi limbah tersebut menjadi biokoagulan berbasis chitin. Limbah kulit udang Windu (Penaeus monodon) diekstrak menjadi chitin sebagai bahan baku Biokoagulan dalam penjernihan air sumur. Proses ekstraksi kulit udang windu (Penaeus monodon) diperoleh rendemen sebesar 83,34% melalui proses deproteinasi, diperoleh rendemen sebanyak 91,61% melalui proses demineralisasi. Hasil ekstrak chitin digunakankan sebagai biokoagulan dengan metode Jar test pada variabel tetap sebesar 1 L air sumur dan variabel berubah adalah massa chitin dan waktu pengadukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 mgram/L chitin mampu  menurunkan nilai kekeruhan air sumur dari 3,08-1,03 (NTU) dan menurunkan Total Dissolved Solids TDS  dari 555-500 (mgram/L), dengan kecepatan rotasi 200 rpm untuk nilai pH 8,4. Kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa chitin yang diperoleh dari kulit udang windu dapat digunakan sebagai biokoagulan pada proses penjernihan air.
Biodegradasi Dari Penyalut Layak Makan Berbasis Pati Sagu Khairun Nisah; Basuki Wirjosentono
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v1i1.519

Abstract

The experiment about the food to cauting decent from starch of sago using powder of bar sago palm as filler and glycerol as plastisizer has done. Biodegadation of to cover eat decent eith powder of bar sago palm as filler, was done by soil buriar test for 5 – 3 days. Mean while biodegadation in Aspergillus niger media was done for 3-5 days. The results of weight loss percentage showed that all to cover eat decent can be biodegadation rate. The biodegadability by soil burial test was more faster thant by Aspergillus niger fungi. Characterization of fungtional goups were done by FT – IR and the morphology was tested by SEM. Toxicity test using E.Coli in Nutrien Agar media at temperature 370C and incubation 48 hours showed that to cover eat decent not indivcatoin of anticeptic properties.
STUDY PENGARUH KANDUNGAN AMILOSA DAN AMILOPEKTIN UMBI-UMBIAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK PLASTIK BIODEGRADABLE DENGAN Plastizicer GLISEROL Khairun Nisah
Biotik Vol 5, No 2 (2017): JURNAL BIOTIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/biotik.v5i2.3018

Abstract

Amylose and Amylopectin is the material on starch which is the raw material of making Biodegradable plastic, but easy to tear (brittle), so need addition of plasticizer. In this study using Glycerol as plasticizer. This research was conducted at Polymer Chemical Laboratory of University of Sumatera Utara and Physics Laboratory of FMIPA and Universitas Syahkuala with the aim to make Biodegradable plastic and know physical characteristics of three types of tuber starch with addition of glycerol plasticizer. The experiment was compiled using a complete randomized factorial design with three replications. Factors are the types of starch (sago starch, arrowroot, and cassava). Observations include chemical and physical properties of starches and physical properties of biodegradable plastics. Data obtained for Amylose and Amylopectin content are the biggest Sagu starch (21.7% - 62.51%), starch (19.4% - 59.35%) and wood starch (18.0% 60,15%. The result showed that Amilosa and Amilopectin content highly influenced tensile strength and elongation of Biodegradable plastic. The higher the Amylose value, the value of tensile strength and elongation of Biodegradable plastic increasingly but for sago starch has elongation value and strength of tensile strength (97,83 kgf / mm2 - 4,83%) for starch (98,97 kgf / mm2 - 3,38%) and cassava starch (89.83 kgf / mm2 - 2.26%), this occurs because of the impurity and error factor in the thickness measurement of Biodegradable plastic.
UJI TOKSISITAS DARI PENYALUT LAYAK MAKAN BERBASIS PATI SAGU (Metroxylon sagu) Khairun Nisah
Biotik Vol 5, No 1 (2017): JURNAL BIOTIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/biotik.v5i1.2976

Abstract

A sago starch- based (Metroxylon sagu) edible coating with sago powder as a filler and glycerol as a plasticizer has been made.This research is expected to provide information about microbial sensitivity towards the sago starch- based edible coating which is eco-friendly and safe to be used. Requirements to determine food quality refers to the role of E.coli as a toxicity indicator to cause food damage. Toxicity testing of E. coli toward sago starch-based coating was conducted by using Kirby Bauer method. A standardized agar-disc paper diffusion procedure is one way to to determine antibiotic resistancy of bacteria. Bacterial resistancy toward antibiotics is determined by the diameter of inhibit zone formed. Microorganisms cultures requires media that contain nutrients and appropriate environment such as Nutrient Agar (NA). Based on E. coli toxicity testing conducted to the sago starch-based edible coating in 370C temperature and 48 hours of incubation, it is found that the edible coated has not anticeptic activity toward Escherichia coli because the inhibit zone is not formed on the sago starch- based coating. Therefore, the edible coating which has been made is healthy to be consumed.
PERBANDINGAN ADSORBEN DAUN NIPAH (Nypa fruticans) DAN SERABUT BUAH NIPAH TERHADAP ZAT WARNA METHYLENE BLUE Khairun Nisah Khairun Nisah; Reni Silvia Nasution; Yunda Muddassir
AMINA Vol 3 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/amina.v3i1.1938

Abstract

Nipah atau Nypa fruticans merupakan tumbuhan dengan kandungan selulosa yang cukup besar sehingga bisa digunakan sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan adsorben daun nipah dan serabut buah nipah terhadap zat warna methylene blue. Proses aktivasi serbuk daun nipah dan serbuk serabut buah nipah dilakukan dengan menggunakan proses maserasi dengan menggunakan pelarut Ethanol p,a. dan HCl 1N. Bahan penyerap yang digunakan pada penelitian ini menggunakan larutan standar methylene blue, sedangkan proses pengukuran panjang gelombang menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Hasil kalibrasi yang diperoleh dari proses perbandingan adsorben daun nipah dan serabut buah nipah terhadap zat warna methylene blue menggunakan panjang gelombang maksimum 660 nm dengan menggunakan konsentrasi 0,2, 0,4, 0,6, dan 0,8 ppm dimana nilai absorbansi untuk daun nipah dan serabut buah nipah yang dihasilkan berbeda, adapun nilai absorbansi untuk daun nipah yaitu 0,198; 0,203; 0,395; dan 0,407 dan nilai absorbansi untuk serabut buah nipah yaitu 0,096; 0,125; 0,205; dan 0,354. Hasil dari proses pengukuran panjang gelombang di atas menggunakan larutan standar methylene blue dengan adsorben serbuk daun nipah maka nilai absorbansi yang didapatkan yaitu 3,00 ppm, adapun nilai konsentrasi yang didapat ialah 30,29 ppm, sedangkan proses pengukuran panjang gelombang menggunakan larutan standar methylene blue dengan serbuk serabut buah nipah maka nilai absorbansi yang didapatkan yaitu 1,96 ppm, adapun nilai konsentrasi yang didapat ialah 22 ppm. Hasil dari proses perbandingan adsorpsi dari adsorben serbuk daun nipah dan serbuk serabut buah nipah adalah sebagai berikut: 30,29 ppm dan 22 ppm.
IMOBILISASI SULFIDA PADA BATU APUNG YANG TERLAPISI KITOSAN SEBAGAI ADSORBEN LOGAM BESI (Fe) TERLARUT Muhammad Ridwan Harahap; Khairun Nisah; Qismullah
AMINA Vol 3 No 2 (2021): August 2021
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/amina.v3i2.2004

Abstract

Penelitian tentang pengaruh sulfida pada batu apung yang terlapisi kitosan sebagai adsorben logam besi (Fe) terlarut telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daya serap sulfida sebagai adsorben menggunakan metode adsorpsi. Metode yang dilakukan yaitu kombinasi penyalutan batu apung terlapisi kitosan dengan variasi konsentrasi natrium sulfida 1 M; 3 M dan 5 M. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh daya serap sulfida pada batu apung yang dilapisi kitosan memiliki kemampuan untuk menyerap logam Fe terlarut, namun penyerapan optimum ditunjukkan pada konsentrasi natrium sulfida 5 M dengan persentase efesiensi adsorpsi sebesar 97% dan kapasitas adsorpsi sebesar 0,1320 mg/g.
UJI PERSAMAAN LANGMUIR DAN FREUNDLICH PADA PENYERAPAN ION LOGAM KOBALT (II) OLEH KITOSAN DARI KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) Dea Amanda; Febrina Arfi; Khairun Nisah
AMINA Vol 3 No 3 (2021): December 2021
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitosan merupakan salah satu adsorben alami yang sangat melimpah di alam dan banyak terdapat dalam kulit luar hewan golongan Crustaceae, salah satunya seperti udang windu (Penaeus monodon). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah proses penyerapan ion logam Co (II) oleh kitosan memenuhi persamaan Langmuir dan Freundlich dan untuk mengetahui nilai daya adsorpsi maksimum ion logam Co (II) oleh kitosan yang paling sesuai dengan persamaan Langmuir dan Freundlich. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah isolasi kulit udang menjadi kitosan melalui empat tahap, yaitu deproteinisasi, dekalsifikasi, dekolorisasi dan deasetilasi. Hasil isolasi kitosan dikarakteristik dengan menggunakan Fourier Transform Infrared. Persamaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah persamaan Langmuir dan Freundlich. Untuk proses penyerapan ion logam Co (II) dilakukan dengan cara memvariasikan massa kitosan 0,1; 0,2; 0,3; 0,4 dan 0,5 g dan waktu kontak kitosan 15, 20, 25 dan 30 menit perlakuan ini dilakukan dengan penambahan ion logam Co (II) 4 ppm sebanyak 25 mL. Hasil penyerapan ion logam kobalt (II) dianalisis dengan menggunakan SSA (Spektrofotometer Serapan Atom). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai efektivitas adsorpsi massa kitosan pada adsorpsi ion logam kobalt (II) sebesar 0,1164 mg/g, 0,1343 mg/g, 0,1464 mg/g, 0,1655 mg/g dan 0,1871 mg/g. Dan nilai efektivitas adsorpsi pada variasi waktu kontak kitosan sebesar 0,1871 mg/g 0,2027 mg/g 0,2138 mg/g dan 0,2083 mg/g. Model isoterm adsorpsi mengikuti persamaan isoterm Langmuir dan Freundlich, dengan daya adsorpsi kitosan terhadap ion logam kobalt untuk persamaan Langmuir sebesar 0,1116 mg/g dan 0,1834 mg/g serta persamaan Freundlich sebesar 5,7743 mg/g dan 5,3839 mg/g. Jadi uji persamaan isotem Langmuir dan Freundlich dapat menunjukan penyerapan ion logam kobalt (II) oleh kitosan.
KARAKTERISASI SABUN CAIR CUCI PIRING DENGAN VARIASI KONSENTRASI NaCl Mufham Mufakkir Arrazi; Khairun Nisah; Febrina Arfi
AMINA Vol 3 No 3 (2021): December 2021
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi NaCl terhadap karakteristik sabun cuci piring, dimana NaCl berfungsi sebagai pemisah bahan sabun dengan gliserin. Variasi NaCl dalam pembuatan sabun cuci piring cair adalah 125 g: 94 g: 62,5 g: dan 31 g. Karakteristik sabun di uji dengan uji organoleptik, uji viscositas, uji pH, uji stabilitas busa serta uji densitas sabun. Pengujian organoleptik diperoleh massa NaCl 31 g berbentuk encer dibandingkan dengan massa yang lain. Hal ini juga berpengaruh pada uji viscositas sabun, sehingga NaCl dengan massa 3 g untuk nilai viscositasnya tidak sesuai dengan nilai SNI, begitu juga dengan uji densitas massa dari 3 g NaCl tidan memenuhi. Uji pH dari semua massa menghasilkan nilai pH ± 7. Uji stabilitas busa sabun dengan semua massa NaCl diperoleh sesuai dengan SNI.