Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Potensi Biji Kecipir Sebagai Alternatif Pengganti Suplemen Zat Besi Fe Rifzi Devi Nurvitasari; Descha Giatri Cahyaningrum; Gallyndra Fatkhu Dinata
MEDICAL JURNAL OF AL-QODIRI Vol. 10 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Program Studi Keperawatan dan Kesehatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Al-Qodiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anemia pada remaja merupakan permasalahan kesehatan yang berdampak pada penurunan konsentrasi, produktivitas, dan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konsumsi biji kecipir terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja di Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan kelompok kontrol dan intervensi, melibatkan 60 remaja putri berusia 15–18 tahun. Data kadar hemoglobin diukur menggunakan metode sianmethemoglobin sebelum dan sesudah intervensi selama delapan minggu. Analisis data dilakukan dengan uji paired t-test dan independent t-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan kadar hemoglobin pada kelompok intervensi sebesar 1,22 ± 0,57 g/dL dibandingkan kontrol sebesar 0,31 ± 0,42 g/dL (p < 0,001). Konsumsi olahan biji kecipir efektif meningkatkan kadar hemoglobin tanpa efek samping. Penelitian ini merekomendasikan pemanfaatan biji kecipir sebagai alternatif pangan lokal untuk mendukung program penanggulangan anemia remaja di tingkat sekolah dan komunitas.
Uji Efikasi Beberapa Ekstrak Tanaman Obat terhadap Larva Tenebrio molitor L. (Coleoptera: Tenebrionidae) Secara In Vitro Dinata, Gallyndra Fatkhu; Siswadi, Edi; Erdiansyah, Iqbal
AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 6 No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/agroscript.v6i1.1275

Abstract

T. molitor merupakan hama gudang yang dapat merusak secara kuantitatif dan kualitatif. Pengendalian kini mengarah kepada pengendalian hama yang ramah lingkungan. Pestisida nabati adalah pestisida ramah lingkungan yang bahan aktifnya berasal dari tumbuh-tumbuhan dan berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Tanaman toga kini banyak diteliti perannya sebagai pestida nabati terhadap serangga hama. Penelitian bertujuan untuk menguji efektifitas beberapa tanaman toga untuk mengendalikan larva T. molitor . Penelitian dilakukan di Laboratorium Perlindungan Tanaman Politeknik Negeri Jember pada November 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) 6 perlakuan dengan 3 ulangan, setiap satuan percobaan terdapat 10 ekor larva sehingga terdapat 180 sampel larva T. molitor . Adapun perlakuan tersebut antara lain, kontrol, ekstrak daun nimba, ekstrak daun sirsak, ekstrak bawang putih, ekstrak sereh, dan kontrol pestisida insektisida berbahan aktif dimetoat 400 g/l. Pemberian ekstrak tanaman toga memiliki pengaruh terhadap mortalitas larva T. molitor pada 24 jam. Perlakuan ekstrak serai dan bawang putih memberikan nilai efektivitas mortalitas larva T. molitor 90 – 100%.
Correlation of Sex Ratio and Population of Callosobruchus chinensis L. (Coleoptera: Bruchidae) in Mung Beans Dinata, Gallyndra Fatkhu; Jihad, Baroroh Nur
Advance Sustainable Science, Engineering and Technology Vol 3, No 2 (2021): May-October
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v3i2.9660

Abstract

One of the important pests on mung beans is the warehouse pest Callosobruchus chinensis (Coleoptera: Bruchidae). These pests can cause yield losses of up to 90%. Populations of adult C. chinensis have a close correlation in influencing the development of this pest in mung bean storage. This study aims to determine the correlation between the sex ratio of the population and its development in C. chinensis and to see its preference for mung beans. This research was conducted at the Plant Breeding Laboratory, Brawijaya University. The method was carried out by investing adult C. chinensis in mung beans based on the sex ratio, there are four sex ratio comparisons observed. Observations were made every week to see the number of eggs, larvaes, adults and dead insects. Based on the results of the study, the sex ratio of 2 males and 3 females resulted in the highest number of populations, a total of 72 eggs and 46 adult C. chinensis. Our hypothesis is that a high sex ratio leads to an increase in the population of C. chinensis. The vima variety is resistant mung beans compared to consumption varieties because it has lower seed weight loss. The results of this study are preliminary results that can be used for further research to evaluate the correlation between sex ratio, population and development of C. chinensis
Pemanfaatan Limbah Produksi Tempe untuk Perbanyakan Dekomposer Kotoran Sapi di Desa Rambipuji Siswadi, Edi; Rohman, Fadil; Dinata, Gallyndra Fatkhu; Utami, Christa Dyah; Salim, Abdurrahman; Shodik, Muhammad; Syauqi, Mochammad Syafiq
SEJAGAT : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2025): Desember
Publisher : P3M Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/sejagat.v2i3.6783

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mendukung penerapan Integrated Farming System di Desa Rambipuji, Kabupaten Jember, melalui inovasi pemanfaatan limbah cair produksi tempe sebagai media perbanyakan dekomposer. Limbah rendaman kedelai yang dihasilkan oleh industri rumah tangga tempe memiliki kandungan bahan organik tinggi seperti protein, karbohidrat, dan mineral, yang sangat potensial sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme pengurai. Dekomposer hasil perbanyakan kemudian dimanfaatkan dalam proses pengolahan bahan organik dari sektor peternakan, khususnya kotoran sapi, menjadi pupuk kompos. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan, praktik lapang, dan pendampingan teknis kepada kelompok tani setempat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat mampu memperbanyak dekomposer secara mandiri dengan memanfaatkan limbah produksi tempe serta menggunakannya untuk mempercepat proses pengomposan. Penggunaan dekomposer lokal terbukti mempercepat waktu fermentasi dan menghasilkan kompos dengan ciri fisik yang memenuhi kriteria kompos matang. Aplikasi kompos pada lahan pertanian menunjukkan pertumbuhan tanaman padi yang lebih baik dibandingkan tanpa perlakuan kompos. Program ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan masyarakat, pengurangan pencemaran lingkungan, serta peningkatan produktivitas pertanian secara terpadu.
Water Footprint Produksi Tanaman Melon pada Sistem Budidaya Hidroponik dan Konvensional Rohman, Fadil; Kusparwanti, Tri Rini; Firgiyanto, Refa; Pertami, Rindha Rentina Darah; Siswadi, Edi; Sukri, Muhammad Zayin; Rohman, Hanif Fatur; Dinata, Gallyndra Fatkhu; Eliyatiningsih, Eliyatiningsih; Fadilah, Anggita Rizky
Jurnal Pertanian Khairun Vol 4, No 2: (Desember 2025)
Publisher : Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/jpk.v4i2.11169

Abstract

Water use efficiency is a critical issue in melon production, particularly under greenhouse cultivation systems. This study aimed to compare the water footprint of melon (Cucumis melo L.) production under hydroponic and conventional cultivation systems. The experiment was conducted at the Teaching Factory Smart Greenhouse, Politeknik Negeri Jember, from March to June 2023. Each cultivation system consisted of 30 sampled plants. Both systems applied drip irrigation with a nutrient solution concentration of 1400 ppm. Water footprint was calculated following Hoekstra’s method, considering only the blue water footprint, while green and grey components were assumed to be zero due to the protected greenhouse environment. The results showed that the conventional system produced greater vegetative growth, earlier generative phase development, and higher fruit diameter and weight than the hydroponic system. However, the water footprint of the conventional system was significantly higher. Differences in water footprint were mainly attributed to differences in planting area per plant, which affected plant water use calculated as evapotranspiration multiplied by planting area. The hydroponic system demonstrated higher water use efficiency per unit yield.