Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

HUBUNGAN PENGGUNAAN TERAPI KOMPLEMENTER DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA Yunita Nur Fadilla; Putu Ayu Sani Utami; I Kadek Saputra; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p11

Abstract

Hipertensi merupakan satu dari banyaknya penyakit tidak menular yang paling umum terjadi pada lansia dan dapat ditangani melalui terapi farmakologis maupun nonfarmakologis, salah satunya terapi komplementer. Namun, penggunaan terapi komplementer dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Kepatuhan mengkonsumsi obat antihipertensi sangatlah penting, agar tidak terjadi komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan penggunaan terapi komplementer dengan kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Metode penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang digunakan sejumlah 54 orang lansia yang mendapatkan obat antihipertensi dari Puskesmas Blahbatuh II dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan Spearman’s Rank. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 57,4% lansia menggunakan terapi komplementer dan sebanyak 68,5% patuh berobat. Hasil uji Spearman’s Rank didapatkan p = 0,106 > 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan. Jadi, penggunaan terapi komplementer tidak memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Blahbatuh II. Lansia hanya menggunakan terapi komplementer sebagai pendamping terapi farmakologis untuk menunjang pengobatannya.
KORELASI KEBIASAAN LATIHAN HATHA YOGA DAN LEVEL AKTIVITAS FISIK PADA PRALANSIA Ayuni, Ni Luh Sri; Utami, Putu Ayu Sani; Sawitri, Ni Komang Ari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p07

Abstract

Masyarakat pralansia memiliki gaya hidup tidak sehat, salah satunya 33,5% kurang melakukan aktivitas fisik. Dalam aktivitas fisik diperlukan penunjang, seperti keseimbangan dan kelenturan yang bisa didapat dari latihan Hatha Yoga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan latihan Hatha Yoga dengan level aktivitas fisik pada masyarakat pralansia. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan metode deskriptif korelatif cross-sectional. Sampel ditentukan dengan purposive sampling yang berjumlah 55 orang yang berusia 45-59 tahun dan seluruhnya sudah tergabung satu bulan dalam komunitas Yoga sebelum pengumpulan data serta minimal mengikuti 4 kali latihan dalam satu bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur kebiasaan latihan hatha yoga dan aktivitas fisik dengan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ-SF). Hasil uji korelasi menggunakan Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan latihan hatha yoga dengan level aktivitas fisik (p-value = 0,000; a=0,05 ; r = 0,610). Semakin tinggi kebiasaan latihan Hatha Yoga maka semakin tinggi juga level aktivitas fisik. Hatha Yoga berperan penting untuk level aktivitas fisik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memiliki kebiasaan latihan yang rutin agar masyarakat pralansia tetap aktif melakukan aktivitas fisik sampai usia lanjut.
PEMBERDAYAAN KADER DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN KESEHATAN MENTAL PADA KELUARGA YANG MERAWAT LANSIA: EMPOWERING CADRES IN EMERGENCY MENTAL HEALTH FOR ELDERLY CAREGIVING FAMILIES Utami, Putu Ayu Sani; Lestari, Made Diah; Aryana, I Gusti Putu Suka
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v6i1.2903

Abstract

Masalah kesehatan mental pada keluarga yang merawat lansia dengan perawatan jangka panjang seringkali tersembunyi namun berdampak besar, baik bagi lansia maupun pendampingnya. Lansia dengan kondisi kronis dan keterbatasan fisik rentan mengalami penurunan kualitas hidup secara psikologis, sementara keluarga menghadapi tekanan emosional tanpa dukungan dan keterampilan yang memadai untuk menangani situasi kegawatdaruratan mental. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pencegahan serta pertolongan pertama pada masalah mental keluarga yang merawat lansia. Pelatihan dilaksanakan selama lima pertemuan di Desa Melinggih, Gianyar, Provinsi Bali, melalui metode edukasi teori, praktik keterampilan (pemantauan tanda vital, manajemen stres, dan Psychological First Aid), diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk menyusun alur tata kelola kegawatdaruratan mental, simulasi kasus pada lima keluarga yang merawat lansia serta praktik edukasi oleh kader kepada kelompok lansia. Luaran kegiatan meliputi peningkatan kapasitas 10 kader desa, tersusunnya alur penanganan darurat berbasis komunitas, serta media edukasi (poster, video, dan modul). Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan pasca kegiatan dengan rata-rata pengetahuan dengan kategori baik sebesar 86% dan keterampilan praktis 90%. Selain itu, terbentuk jejaring kolaboratif antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan perangkat desa dalam menangani kesehatan mental keluarga bahkan lansia secara berkelanjutan. Dengan demikian, model pemberdayaan kader berbasis komunitas melalui pelatihan terstruktur berpotensi menjadi strategi efektif meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat sistem dukungan kesehatan mental keluarga yang merawat lansia dengan perawatan jangka panjang di tingkat desa.
FLOOD PREPAREDNESS OF ELDERLY LIVING IN WATERSHED, PENYARINGANVILLAGE, JEMBRANA, BALI Pande Komang Sudiantika; Putu Ayu Sani Utami; Ni Luh Putu Eva Yanti
NurseLine Journal Vol. 10 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/nlj.v10i2.60274

Abstract

Background: Preparedness is key to reducing post-disaster damage. The Elderly residing in watersheds are particularly vulnerable to floods. Objective: This study aimed to examine the demographic characteristics of older adults and their level of flood preparedness in the Banjar Anyar Kelod watershed. Methods: A descriptive quantitative design was used involving 161 older adults selected through purposive sampling. Participants completed 20 questions from the preparedness questionnaire. Data analysis used descriptive statistics (mean, minimum, maximum, and percentage) to describe the characteristics of the respondents. This study also conducted a bivariate analysis using the Chi-square test to determine the relationship between demographic variables (age, gender, education level, and occupation) and the preparedness level of older people. The relationship between variables was measured using Cramer's V to determine the strength of the relationship between variables. Results: The Preparedness of the elderly living in the watershed of Banjar Anyar Kelod was categorized as less prepared (55.10%). Education level showed a moderate and significant relationship with preparedness (x²(10) = 28.24, p = 0.0017; Cramer's V = 0.30),indicating that higher education is associated with better preparedness among older people. Occupation also showed a significant moderate relationship (x²(14) = 37.58, p = 0.0006; Cramer's V = 0.34). Conclusion: The village government, community health center (Puskesmas) officers, and the Regional Disaster Management Agency (BPBD) officers are expected to collaborate in facilitating flood preparedness training for the elderly.
HUBUNGAN KUALITAS PERSAHABATAN DAN PERILAKU BULLYING PADA SISWA KELAS VIII DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 3 ABIANSEMAL Ni Luh Putu Sulyastini; Ni Komang Ari Sawitri; Ni Putu Emy Darma Yanti; Putu Ayu Sani Utami
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p14

Abstract

Perundungan pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bali semakin bervariasi dan menjadi perhatian yang cukup serius. Remaja sering kali terdorong untuk menunjukkan perilaku agresif ketika berinteraksi di lingkungan sekolah, dengan tujuan membuktikan mereka layak masuk ke suatu circle tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas persahabatan berkaitan dengan perilaku bullying di antara siswa kelas VIII di SMPN 3 Abiansemal. Jenis pendekatan penelitian yang diterapkan yaitu korelasional desain cross-sectional. Penelitian melibatkan 77 siswa yang dipilih secara acak menggunakan simple random sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian dua kuesioner mengenai kualitas persahabatan dan perilaku bullying. Hasil analisis menyatakan bahwa karakteristik responden dominan berjenis kelamin perempuan yakni 53 siswa (68,8%), mayoritas responden berusia 14 tahun yaitu 50 siswa (64,9%), siswa memiliki kualitas persahabatan kategori sedang sebanyak 60 siswa (77,9%) dan perilaku bullying dengan kategori sedang sebanyak 63 siswa (81,8%). Mayoritas siswa melakukan perilaku bullying berupa relational bullying dengan persentase (52%). Hasil uji spearman rank menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kualitas persahabatan dengan perilaku bullying pada siswa kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 3 Abiansemal (p=0,005). Pentingnya kualitas persahabatan ditingkatkan melalui pengembangan program kegiatan team building, dapat diterapkan sekolah sebagai sarana bagi remaja meningkatkan rasa saling memiliki dalam membina persahabatan yang berkualitas.
HUBUNGAN TINGKAT KESEPIAN DENGAN TINGKAT AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA DI BANJAR ABIANSOAN, KARANGASEM I Gusti Putu Eka Raditya; Ni Komang Ari Sawitri; Putu Ayu Sani Utami; Komang Menik Sri Krisnawati; Kadek Eka Swedarma
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p08

Abstract

Lansia akan mengalami beberapa perubahan baik secara fisik maupun psikososial. Perubahan yang biasanya dialami pada seorang lansia seperti masalah melemahnya tubuh, berkurangnya sistem imun, ditinggal keluarga, pasangan, dan teman-teman dapat menyebabkan lansia mengalami masalah kesehatan baik secara fisik maupun psikologis. Salah satu masalah psikologis yang biasanya dialami oleh lansia adalah kesepian. Masalah psikologis seperti kesepian serta perubahan fisik yang lansia alami dapat menyebabkan lansia malas untuk beraktivitas keluar rumah akibatnya risiko lansia mengalami masalah kesehatan fisik meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kesepian dengan tingkat aktivitas fisik lansia di Banjar Abiansoan Desa Bungaya Kangin Karangasem. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode korelasi dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampling menggunakan teknik aksidental sampling sebanyak 129 orang lansia berusia ≥60 tahun dan dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan UCLA Loneliness Scale Version 3 untuk mengukur tingkat kesepian dan PASE untuk mengukur tingkat aktivitas fisik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden tidak merasakan kesepian sebanyak 63 (48,8%) orang lansia dan mayoritas responden memiliki aktivitas fisik sedang hingga berat sebanyak sebanyak 70 (54,3%) orang lansia. Hasil uji Spearman Rank menunjukkan sig. (2-tailed) < 0,001 sehingga p-value < 0,05 dan r = -0,320, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kesepian, semakin rendah tingkat aktivitas fisik lansia. Lansia disarankan tetap melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan fisik dan memperkuat hubungan sosial untuk mencegah masalah psikososial seperti kesepian.