Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

GAMBARAN KEMAMPUAN PERSONAL GENITAL HYGIENE PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDA WANA SERAYA Candra Vali Devi Dasi; Ni Luh Putu Eva Yanti; Putu Ayu Sani Utami; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p11

Abstract

Kelompok lansia mengalami proses penuaan sehingga terjadi penurunan fungsional. Kemampuan fungsional lansia yang menurun berpotensi terhadap penurunan kemampuan lansia melakukan personal hygiene khususnya personal genital hygiene. Genital hygiene pada lansia penting untuk diperhatikan karena jika tidak dilakukan dengan baik dapat menimbulkan masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan personal genital hygiene lansia di Panti Sosial Tresna Werda Wana Seraya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional. Penelitian ini menggunakan metode total sampling dengan 28 responden. Hasil penelitian ditemukan rata-rata usia lansia adalah 73,39 tahun. Karakteristik lansia didominasi perempuan (78,6%), mayoritas tidak bersekolah (64,29%), dan tingkat kemandirian lansia sebagian besar (67,9%) termasuk dalam tingkat kemandirian tinggi. Kemampuan personal genital hygiene lansia dengan kategori positif ada 18 lansia (64,3%). Namun, masih terdapat lansia yang kemampuannya dikategorikan negatif, lansia perempuan tidak memastikan area genital kering sebelum menggunakan celana dalam 54%. Lansia perempuan juga tidak menggunakan celana dalam dengan bahan yang nyaman serta tidak mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari atau popok rutin setiap 4 jam (63%). Lansia perempuan tidak mencukur rambut kemaluan (77%). Saran untuk penelitian ini, diharapkan lansia lebih memperhatikan personal genital hygiene. Keterlibatan pihak pengurus panti sosial untuk membantu dan memperhatikan kemampuan personal genital hygiene lansia kearah yang lebih positif.
HUBUNGAN PENGGUNAAN TERAPI KOMPLEMENTER DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA Yunita Nur Fadilla; Putu Ayu Sani Utami; I Kadek Saputra; Ni Komang Ari Sawitri
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p11

Abstract

Hipertensi merupakan satu dari banyaknya penyakit tidak menular yang paling umum terjadi pada lansia dan dapat ditangani melalui terapi farmakologis maupun nonfarmakologis, salah satunya terapi komplementer. Namun, penggunaan terapi komplementer dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Kepatuhan mengkonsumsi obat antihipertensi sangatlah penting, agar tidak terjadi komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan penggunaan terapi komplementer dengan kepatuhan pengobatan antihipertensi lansia. Metode penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel yang digunakan sejumlah 54 orang lansia yang mendapatkan obat antihipertensi dari Puskesmas Blahbatuh II dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis dengan Spearman’s Rank. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 57,4% lansia menggunakan terapi komplementer dan sebanyak 68,5% patuh berobat. Hasil uji Spearman’s Rank didapatkan p = 0,106 > 0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan. Jadi, penggunaan terapi komplementer tidak memengaruhi kepatuhan pengobatan antihipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas Blahbatuh II. Lansia hanya menggunakan terapi komplementer sebagai pendamping terapi farmakologis untuk menunjang pengobatannya.
KORELASI KEBIASAAN LATIHAN HATHA YOGA DAN LEVEL AKTIVITAS FISIK PADA PRALANSIA Ayuni, Ni Luh Sri; Utami, Putu Ayu Sani; Sawitri, Ni Komang Ari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i06.p07

Abstract

Masyarakat pralansia memiliki gaya hidup tidak sehat, salah satunya 33,5% kurang melakukan aktivitas fisik. Dalam aktivitas fisik diperlukan penunjang, seperti keseimbangan dan kelenturan yang bisa didapat dari latihan Hatha Yoga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan latihan Hatha Yoga dengan level aktivitas fisik pada masyarakat pralansia. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan metode deskriptif korelatif cross-sectional. Sampel ditentukan dengan purposive sampling yang berjumlah 55 orang yang berusia 45-59 tahun dan seluruhnya sudah tergabung satu bulan dalam komunitas Yoga sebelum pengumpulan data serta minimal mengikuti 4 kali latihan dalam satu bulan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk mengukur kebiasaan latihan hatha yoga dan aktivitas fisik dengan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ-SF). Hasil uji korelasi menggunakan Spearman Rank menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan latihan hatha yoga dengan level aktivitas fisik (p-value = 0,000; a=0,05 ; r = 0,610). Semakin tinggi kebiasaan latihan Hatha Yoga maka semakin tinggi juga level aktivitas fisik. Hatha Yoga berperan penting untuk level aktivitas fisik sehingga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memiliki kebiasaan latihan yang rutin agar masyarakat pralansia tetap aktif melakukan aktivitas fisik sampai usia lanjut.
PEMBERDAYAAN KADER DALAM PENANGANAN KEGAWATDARURATAN KESEHATAN MENTAL PADA KELUARGA YANG MERAWAT LANSIA: EMPOWERING CADRES IN EMERGENCY MENTAL HEALTH FOR ELDERLY CAREGIVING FAMILIES Utami, Putu Ayu Sani; Lestari, Made Diah; Aryana, I Gusti Putu Suka
GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026): GEMAKES: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/gemakes.v6i1.2903

Abstract

Masalah kesehatan mental pada keluarga yang merawat lansia dengan perawatan jangka panjang seringkali tersembunyi namun berdampak besar, baik bagi lansia maupun pendampingnya. Lansia dengan kondisi kronis dan keterbatasan fisik rentan mengalami penurunan kualitas hidup secara psikologis, sementara keluarga menghadapi tekanan emosional tanpa dukungan dan keterampilan yang memadai untuk menangani situasi kegawatdaruratan mental. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pencegahan serta pertolongan pertama pada masalah mental keluarga yang merawat lansia. Pelatihan dilaksanakan selama lima pertemuan di Desa Melinggih, Gianyar, Provinsi Bali, melalui metode edukasi teori, praktik keterampilan (pemantauan tanda vital, manajemen stres, dan Psychological First Aid), diskusi kelompok terfokus (FGD) untuk menyusun alur tata kelola kegawatdaruratan mental, simulasi kasus pada lima keluarga yang merawat lansia serta praktik edukasi oleh kader kepada kelompok lansia. Luaran kegiatan meliputi peningkatan kapasitas 10 kader desa, tersusunnya alur penanganan darurat berbasis komunitas, serta media edukasi (poster, video, dan modul). Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan pasca kegiatan dengan rata-rata pengetahuan dengan kategori baik sebesar 86% dan keterampilan praktis 90%. Selain itu, terbentuk jejaring kolaboratif antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan perangkat desa dalam menangani kesehatan mental keluarga bahkan lansia secara berkelanjutan. Dengan demikian, model pemberdayaan kader berbasis komunitas melalui pelatihan terstruktur berpotensi menjadi strategi efektif meningkatkan kesiapsiagaan serta memperkuat sistem dukungan kesehatan mental keluarga yang merawat lansia dengan perawatan jangka panjang di tingkat desa.
Analisis Keberhasilan Atau Kegagalan Pasien Diabetes Melitus dalam Mengadopsi Gaya Hidup Sehat di Puskesmas Telagasari Mumuh, Ujang; Syafei, Abdullah; Utami, Rudi Pangarsaning
Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia Vol. 5 No. 01 (2026): Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia
Publisher : Yayasan Masyarakat Peduli Anak Indonesia (YMPAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70304/jmsi.v5i01.86

Abstract

Diabetes Melitus  (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi dan menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi meningkat. Perlu strategi yang lebih efektif dalam upaya mencegah dan mengelola penyakit DM. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keberhasilan atau kegagalan pasien Diabetes Mellitus  dalam mengadopsi gaya hidup sehat di Puskesmas Telagasari, Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan terdiri dari 10 pasien DM tipe 2 yang dipilih melalui purposive sampling dengan kriteria telah terdiagnosis minimal satu tahun dan menjalani perawatan rutin di Puskesmas Telagasari. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi langsung. Wawancara menggali pengalaman pasien dalam menerapkan gaya hidup sehat, sedangkan observasi menganalisis interaksi pasien dengan tenaga kesehatan serta kondisi sosial dan fisik di puskesmas. Data dianalisis menggunakan metode analisis tematik dengan menggunakan aplikasi Nvivo ver.15 untuk mengidentifikasi pola, tantangan utama, serta faktor yang mempengaruhi keberhasilan pasien dalam mengelola DM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan dan emosional terhadap keberhasilan atau kegagalan pasien dalam mengelola penyakit DM menyebutkan bahwa keluarga baik itu istri, suami dan anak atau lingkungan sosial seperti teman, rekan kerja dan lingkungan luar di sekitar sangat berpengaruh dalam pengelolaan penyakit DM. Semua informan menyatakan tantangan terbesar dalam menghadapi penyakit DM adalah pola makan dan gaya hidup seperti kebiasaan yang tidak bisa dirubah sebelum seseorang terjangkit DM, konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang serat, serta jadwal makan yang tidak teratur dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah dan meningkatkan risiko diabetes.