Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

imunisasi MR, edukasi berbasis k Peran Petugas Kesehatan Dalam Pemberian Imunisasi Measles Rubella Pada Anak Di Wilayah Kerja Puskesmas Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh Tahun 2023 Rista, Henny; Juliana Munthe; Rumondang; Marliani; Sri Wahyuni Br Manalu; Cantik Marlin Bate’e
Excellent Midwifery Journal Vol. 8 No. 1 (2025): EDISI APRIL
Publisher : STIKes Mitra Husada Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cakupan imunisasi Measles Rubella (MR) di Indonesia masih belum mencapai target nasional 95%. Rendahnya keterampilan tenaga kesehatan dalam pelaksanaan program imunisasi menjadi salah satu penyebab. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran tenaga kesehatan dalam pemberian imunisasi MR di wilayah kerja Puskesmas Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden 33 orang tenaga kesehatan. Pengambilan sampel dilakukan secara total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia >35 tahun (61%), berpendidikan S1 (48%), memiliki lama kerja >1 tahun (79%), dan sebagian besar (55%) hanya pernah mengikuti pelatihan imunisasi MR kurang dari 1 kali. Keterampilan tenaga kesehatan dalam pemberian imunisasi MR berada pada kategori terampil (76%) dan tidak terampil (24%). Kesimpulan penelitian ini adalah keterampilan tenaga kesehatan tergolong baik, namun perlu ditingkatkan melalui pelatihan berkelanjutan dan evaluasi rutin. Kata Kunci: imunisasi MR, tenaga kesehatan, keterampilan
PEMERIKSAAN PMS IBU HAMIL: UPAYA PENCEGAHAN KOMPLIKASI KEHAMILAN DI DESA BANDAR SETIA KABUPATEN DELI SERDANG Riska Susanti Pasaribu; Lasria Simamora; Ridesman Ridesman; Juliana Munthe; Marlina Simbolon
Jurnal Pengabdian Masyarakat 360 Derajat Vol 2 No 1 (2025): Pengabdian Masyarakat 360 Derajat
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/a65k4a29

Abstract

Penyakit Menular Seksual (PMS) masih menjadi tantangan kesehatan global dengan dampak yang signifikan, khususnya pada ibu hamil dan janin. Penularan dari ibu ke anak dapat menimbulkan berbagai komplikasi kehamilan, antara lain keguguran, persalinan prematur, infeksi bawaan, hingga kematian bayi. Pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai PMS dan melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan triple eliminasi terhadap HIV, sifilis, dan hepatitis B. Kegiatan ini berlangsung di Desa Bandar Setia, wilayah kerja Puskesmas Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, dan melibatkan 46 ibu hamil. Metode yang digunakan mencakup penyuluhan dengan media leaflet, pengukuran tingkat pengetahuan melalui pre-test dan post-test, serta pemeriksaan menggunakan rapid diagnostic test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan. Sebelum diberikan penyuluhan, sebanyak 21 peserta (45,6%) memiliki pengetahuan yang kurang, setelah dilakukan edukasi, terdapat 2 orang (4,3%) yang masih berpengetahuan kurang. Pemeriksaan triple eliminasi mendeteksi 2 orang (4,4%) menunjukkan hasil yang diduga reaktif terhadap HIV. Selain itu, ditemukan pula 4 ibu hamil (8,6%) dengan indikasi positif sifilis, serta 1 orang (2,2%) yang diduga terinfeksi hepatitis B. Adapun 39 responden lainnya (84,8%)  dengan hasil non-reaktif. Temuan ini menegaskan pentingnya pelaksanaan skrining rutin bagi ibu hamil serta peran edukasi dalam mencegah penularan vertikal PMS. Kegiatan ini memberikan bukti bahwa penyuluhan kesehatan reproduksi dan pemeriksaan triple eliminasi sangat efektif dalam mendukung upaya eliminasi penularan PMS dari ibu ke anak. Diperlukan sinergi berkelanjutan antara petugas kesehatan, kader masyarakat, dan lembaga pendidikan guna memperluas cakupan kegiatan serta menjamin keberlanjutan program di tingkat komunitas.
Midwifery Care Management for Threatened Abortion in Early Pregnancy: A Qualitative Descriptive Study and Document Review at Medan Haji Hospital Agnes Mutiara Simorangkir; Raina Fadhilah; Asi Esterina Sarumpaet; Indira Virli Ananda4; Dara Lestari; Juliana Munthe; Nelly Zahara
Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 5 No. 1 (2026): Februari: Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jukeke.v5i1.2570

Abstract

Threatened abortion (abortus imminens) is a common early-pregnancy condition characterized by first-trimester vaginal bleeding with a closed cervix and an ongoing intrauterine pregnancy. Besides clinical risk, it frequently produces psychological distress and is influenced by socioeconomic barriers, health literacy, and the coordination of care across providers and families. Objective: This study aimed to describe and analyze midwifery care management for women with threatened abortion at approximately 8 weeks’ gestation at Medan Haji Hospital, using an SDG-oriented lens on access (SDG 1), education/health literacy (SDG 4), and partnerships (SDG 17). Methods: A qualitative descriptive approach was combined with a desk-based document review. Primary information was collected through semi-structured interviews with women receiving care for threatened abortion in the Jabal Uhud UPTD Room. Secondary information was obtained from peer-reviewed literature, midwifery textbooks, and official reports/guidelines. Data were analyzed through thematic categorization and integrated by triangulation to synthesize patterns across access, education, and partnership domains. Findings: Three major patterns emerged. First, economic and transportation/coverage constraints were consistently linked to delayed or fragmented antenatal care and follow-up, weakening early detection and safety-netting. Second, limited health literacy and inconsistent counseling contributed to delayed care-seeking and suboptimal adherence to follow-up recommendations. Third, stronger partnerships interprofessional coordination, facility-to-system linkages, and family (including husband) support were associated with clearer referral pathways, improved continuity of care, and better emotional support for women experiencing early pregnancy bleeding. Implications: A continuity-oriented midwifery care bundle is recommended, integrating standardized counseling and return precautions, structured follow-up planning, and partnership mechanisms involving interprofessional coordination and family engagement to improve early pregnancy care quality and maternal well-being. Originality/Value: This study offers an integrated, SDG-linked interpretation of threatened-abortion midwifery care management by connecting clinical processes with structural access barriers, maternal health literacy, and partnership mechanisms, providing a practical framework for service improvement.