Claim Missing Document
Check
Articles

Adolescent Academic Resilience: The Role of Self-Regulated Learning and Optimism Roosyiana, Dini Roosyiana; Niken Titi Pratitis; Mamang Efendy
Psikologika: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 31 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine the role of Self-Regulated Learning on Academic Resilience with Optimism as a mediating variable among adolescent students. The research was based on the importance of self-regulation and positive attitudes in coping with increasing academic demands. A quantitative approach using Structural Equation Modeling (SEM) with Confirmatory Factor Analysis (CFA) was applied to assess model fit and relationships among variables. The sample consisted of 430 junior high school students selected using a quota sampling technique based on grade level and gender. The results indicated that Self-Regulated Learning was significantly associated with Optimism (β = 0.496; p < .001) and Academic Resilience (β = 0.409; p < .001), while Optimism was also significantly associated with Academic Resilience (β = 0.197; p = .024). The indirect effect (β = 0.098; p = .021) revealed that Optimism partially mediated the relationship between Self-Regulated Learning and Academic Resilience. These findings highlight that the ability to self-regulate learning and maintain an optimistic mindset are closely associated with academic resilience among adolescents. The study suggests integrating reflective learning strategies and psychological support programs in schools to strengthen students' academic resilience.
Understanding adolescent cyberbullying: The mediating role of problematic internet use in the associations between self-control, parental monitoring and cyberbullying Andik Matulessy; Nurussakinah Daulay; Prakash Padakannaya; Mamang Efendy; Muhammad Irfan Nazieh
Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Psychology and Health - Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/pjpp.v11i1.31739

Abstract

Social media provides adolescents with opportunities for self-expression, but it also increases the risk of cyberbullying. This study examines the direct relationship between self-control and parental monitoring and cyberbullying, and investigates whether problematic internet use mediates the relationships. The study involved 2.517 secondary school students (M-age = 16.40; SD = 1.08) who were recruited through convenience sampling. Data were collected online using four scales: a Cyberbullying Scale, the Problematic Internet Use Scale, a Parental Monitoring Scale, and a Self-control Scale. Data were analyzed using path analysis with Jamovi software. The results show that problematic internet use mediated the effects of self-control (β = −.035, p < .001) and parental monitoring (β = −.029, p < .001) on cyberbullying. The findings highlight the need for integrated prevention strategies to strengthen adolescents’ self-regulation, supportive parental monitoring, and healthy internet use through collaboration between schools, families, and communities.
Efektivitas Program Psikoedukasi “Proaktif” Untuk Meningkatkan Pengetahuan Orang Tua Dalam Pendampingan Belajar Anak Rizky Ashar Ramadhani; Mamang Efendy; Rahma Kusumandari
Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan | E-ISSN : 3063-1467 Vol. 2 No. 4 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jipk.v2i4.1575

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam pendampingan belajar anak melalui pemberian psikoedukasi. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kurangnya pengetahuan orang tua terkait pentingnya pendampingan belajar pada anak. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen. Subjek penelitian berjumlah 30 orang tua yang memiliki anak sedang menempuh pendidikan. Instrumen yang digunakan meliputi pemberian pre test dan post tets. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji wilcoxon dengan bantuan program SPSS versi 27. Hasil uji menunjukkan nilai p pada pre-test dan post-test sebesar 0,01 yang artinya p < 0,05. Sehingga dapat dikatakan bahwa signifikan dan uji wilcoxon terpenuhi. Hasil ini menunjukan bahwa pemberian intervensi yang dilakukan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diteliti. Artinya, terdapat perubahan yang bermakna setelah diberikan perlakuan yang ditunjukkan oleh perbedaan skor sebelum dan sesudah pemberian intervensi.
Kecenderungan impulsive buying pada remaja pengguna roblox: apakah dipengaruhi kecanduan game online dan kontrol diri? Adi Faturahman; Rahma Kusumandari; Mamang Efendy
SUKMA : Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No 2 Desember 2025
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aims to examine the relationship between online game addiction and self-control with impulsive buying tendencies among adolescent Roblox users in Surabaya. The research problem is grounded in the increasing engagement in online gaming among adolescents, particularly on the Roblox platform, which is equipped with a virtual economic system. This study employed a quantitative correlational approach, involving 351 participants selected through purposive sampling. The research instruments consisted of an online game addiction scale, a self-control scale, and an impulsive buying tendency scale, which were analyzed using multiple regression analysis. The findings indicate that online game addiction is positively and significantly correlated with impulsive buying tendencies (β = 0.573; p < 0.001), suggesting that higher levels of addiction are directly associated with increased impulsive buying tendencies. In contrast, self-control did not demonstrate a significant correlation (β = 0.009; p = 0.581). These results indicate that online game addiction contributes directly to impulsive buying tendencies, while self-control has not been proven to play a significant role in reducing such tendencies among adolescent Roblox users in Surabaya. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecanduan game online dan kontrol diri dengan kecenderungan impulsive buying pada remaja pengguna Roblox di Surabaya. Permasalahan dalam penelitian didasari oleh meningkatnya aktivitas game online di kalangan remaja terutama pada platform Roblox yang dilengkapi sistem ekonomi virtual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, melibatkan 351 partisipan yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi skala kecanduan game online, skala kontrol diri, dan skala kecenderungan impulsive buying yang dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Temuan menunjukkan kecanduan game online berkorelasi positif signifikan dengan kecenderungan impulsive buying (β = 0,573; p < 0,001), mengindikasikan tingginya kecanduan berbanding lurus dengan meningkatnya impulsive buying. Sebaliknya, kontrol diri tidak memperlihatkan korelasi bermakna (β = 0,009; p = 0,581). Hasil mengindikasikan kecanduan game online berkontribusi langsung yang memicu impulsive buying, sementara kontrol diri belum terbukti berperan signifikan dalam mengurangi kecenderungan tersebut pada remaja pengguna Roblox di Surabaya.
Regulasi Emosi dan Perilaku Cyberbullying pada Dewasa Awal: Peran Konformitas sebagai Mediator Moch. Rafly Putra Adryant; Mamang Efendy; Rahma Kusumandari
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing intensity of social media use among emerging adults has raised the risk of cyberbullying behavior influenced by psychological and social factors. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and cyberbullying behavior among emerging adults in Surabaya City, with conformity behavior as a mediating variable. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants were 130 emerging adults aged 18–25 years who actively used social media and resided in Surabaya, selected through purposive sampling. Data were collected using emotion regulation scales, conformity behavior scales, and cyberbullying behavior scales. Data analysis techniques included correlation analysis and mediation analysis. The results indicate relationships among emotion regulation, conformity behavior, and cyberbullying behavior, as well as the mediating role of conformity behavior. In conclusion, lower emotion regulation increases cyberbullying behavior both directly and indirectly through conformity behavior. Keywords: conformity; cyberbullying; emerging adulthood; emotion regulation; social media Penggunaan media sosial yang semakin intens pada dewasa awal meningkatkan risiko munculnya perilaku cyberbullying yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan perilaku cyberbullying pada dewasa awal di Kota Surabaya dengan perilaku konformitas sebagai mediator. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 130 dewasa awal berusia 18–25 tahun yang aktif menggunakan media sosial dan berdomisili di Kota Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa skala regulasi emosi, skala perilaku konformitas, dan skala perilaku cyberbullying. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi dan uji mediasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara regulasi emosi, perilaku konformitas, dan perilaku cyberbullying, serta peran mediasi perilaku konformitas. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa rendahnya regulasi emosi meningkatkan perilaku cyberbullying secara langsung maupun melalui konformitas. Kata kunci: cyberbullying; dewasa awal; konformitas; media sosial; regulasi emosi
Regulasi Emosi dan Agresivitas Verbal pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial X Ica Anggira Afrilia; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the association between emotion regulation and verbal aggressiveness among university students who use X as a social media platform. The open, fast-paced, and relatively anonymous nature of X may facilitate impulsive emotional responses and verbal aggression. A quantitative correlational design was employed, involving students who actively use X. Data were collected using a verbal aggressiveness scale based on Infante and Wigley’s framework and an emotion regulation scale grounded in Gratz and Roemer’s model. Correlation analysis was conducted after statistical assumptions were met. The findings indicate a significant negative association between emotion regulation and verbal aggressiveness, suggesting that students with better emotion regulation tend to display lower levels of verbal aggression. However, the relationship strength was weak, implying that verbal aggressiveness on social media is also influenced by other factors, including platform characteristics and anonymity. These results highlight the role of emotion regulation in reducing verbal aggressiveness, although it is not the sole contributing factor. Keywords: Verbal Agresiveness, Emotional Regulation, X Penelitian ini mengkaji hubungan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal pada mahasiswa pengguna media sosial X. Karakteristik X yang terbuka, cepat, dan relatif anonim berpotensi memicu respons emosional impulsif dan agresivitas verbal. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan partisipan mahasiswa pengguna aktif X. Data dikumpulkan menggunakan skala agresivitas verbal berbasis teori Infante dan Wigley serta skala regulasi emosi berdasarkan model Gratz dan Roemer. Analisis dilakukan melalui korelasi setelah uji prasyarat statistik terpenuhi. Hasil menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara regulasi emosi dan agresivitas verbal, di mana regulasi emosi yang lebih baik berkaitan dengan tingkat agresivitas verbal yang lebih rendah. Namun, kekuatan hubungan tergolong lemah, menunjukkan bahwa agresivitas verbal juga dipengaruhi faktor lain, seperti karakteristik platform dan anonimitas. Temuan ini menegaskan peran regulasi emosi dalam menekan agresivitas verbal, meskipun bukan sebagai faktor tunggal penentu. Kata kunci: Agresivitas Verbal, Regulasi Emosi, X
Cyberchondria di Era Digital: Peran Neuroticism pada Pengguna Internet Usia Dewasa Awal Jenar Shelomita Kristanto; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyberchondria is a condition in which individuals excessively search for health information on the internet, causing anxiety, while neuroticism is one of the Big Five personality dimensions characterized by a tendency to experience negative emotions such as anxiety, fear, and easy stress. This study aims to determine the relationship between cyberchondria and neuroticism in early adult internet users. This study used a quantitative approach with correlational methods. Participants totaled 351 early adults (18-40 years old) who were selected using purposive sampling technique. The measuring instruments used were the Cyberchondria scale and the Neuroticism scale, both of which had been tested for validity and reliability. The data analysis technique used was Pearson product moment correlation technique. shows that there is a significant positive relationship between cyberchondria and neuroticism (p < 0.05), which means that the higher a person's level of neuroticism, the higher the tendency of cyberchondria he has. These results indicate the importance of paying attention to personality aspects in understanding excessive health information seeking behavior on the internet.Keywords: Anxiety; Cyberchondria, Early adulthood; Internet; Neuroticism;Cyberchondria merupakan kondisi di mana individu secara berlebihan mencari informasi kesehatan di internet sehingga memunculkan kecemasan, sedangkan neuroticism adalah salah satu dimensi kepribadian Big Five yang ditandai dengan kecenderungan mengalami emosi negatif seperti cemas, takut, dan mudah stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara cyberchondria dan neuroticism pada individu usia dewasa awal pengguna internet. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Partisipan berjumlah 351 usia dewasa awal (18–40 tahun) yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah skala Cyberchondria dan skala Neuroticism, yang keduanya telah diuji untuk validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adaalah teknik korelasi pearson product moment. menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara cyberchondria dan neuroticism (p < 0,05), yang berarti semakin tinggi tingkat neuroticism seseorang, maka semakin tinggi pula kecenderungan cyberchondria yang dimilikinya. Hasil ini menunjukkan pentingnya memperhatikan aspek kepribadian dalam memahami perilaku pencarian informasi kesehatan secara berlebihan di internet.Kata Kunci: Cyberchondria; Internet; Kecemasan; Neurotisme; Usia Dewasa Awal
Marriage Is Scary? Perhatikan Intensitas Penggunaan Medsos dan Self-Compassion pada Dewasa Awal Alfhani Pradita Nurrahmah; Mamang Efendy; Herlan Pratikto
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 4 No. 01 (2026): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The "Marriage is Scary" phenomenon, widely discussed on social media, reflects a growing level of premarital anxiety among emerging adults. This anxiety is often triggered by excessive exposure to negative content about marriage and unrealistic social expectations formed through social media. On the other hand, a person’s ability to treat themselves kindly (self-compassion) can help reduce this anxiety. This study aims to examine the relationship between the intensity of social media use and self-compassion with premarital anxiety in emerging adults. Using a quantitative correlational method, this research involved 373 participants. The instruments used were the Premarital Anxiety Scale, the Social Media Use Intensity Scale, and the Self-Compassion Scale each developed based on relevant theoretical frameworks. The results showed a significant relationship between social media use intensity and self- compassion with premarital anxiety. The higher the intensity of social media use, the higher the level of premarital anxiety; conversely, the higher the self- compassion, the lower the anxiety experienced. These findings highlight the importance of media literacy, so individuals can filter out negative content, and the development of self-compassion as a strategy to manage premarital anxiety. This approach may help emerging adults deal with social pressures and complex expectations around marriage in a healthier and more realistic way. Keywords: emerging adulthood, premarital anxiety, self-compassion, social media, social media use intensity. Fenomena "Marriage is Scary" yang ramai dibicarakan di media sosial mencerminkan meningkatnya kecemasan pra-nikah di kalangan dewasa awal. Kecemasan ini sering kali dipengaruhi oleh paparan berlebih terhadap konten negatif tentang pernikahan dan ekspektasi sosial yang dibentuk melalui media sosial. Di sisi lain, kemampuan individu untuk bersikap baik pada diri sendiri (self-compassion) berpotensi menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan self- compassion dengan kecemasan pra-nikah pada individu dewasa awal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan partisipan sebanyak 373 orang. Alat ukur yang digunakan adalah skala kecemasan pra-nikah, skala intensitas penggunaan media sosial, dan skala self-compassion yang disusun berdasarkan teori relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan media sosial dan self-compassion dengan kecemasan pra- nikah. Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, maka semakin tinggi tingkat kecemasan pra-nikah; sebaliknya, semakin tinggi self- compassion, maka semakin rendah kecemasan yang dirasakan. Hasil ini memberikan implikasi pada pentingnya literasi media sosial agar individu dapat menyaring konten negatif dan pengembangan self-compassion sebagai strategi untuk mengelola kecemasan pra- nikah. Pendekatan ini dapat membantu dewasa awal menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi yang kompleks terkait pernikahan dengan lebih sehat dan realistis. Kata kunci: intensitas penggunaan media sosial, kecemasan pra-nikah, masa dewasa awal, media sosial, self-compassion
Co-Authors Adam Alamsyah Adi Faturahman Afiffa, Chaurilia Devi Aini Putri, Emilia Nur Akilla Putri , Navyliadel Sapphire Alfhani Pradita Nurrahmah Ananda, Moch. Rizky Andik Matulessy Andini Ramli, Zaskia Andirwan, Cecep andriani, nadiya angelina, fransiska sherly Anggara, Tirta Dwi Annisa Putri, Firizki Aprian Istiono Ardianik Ardianik Belinda, Naomi Bella Bella Tri Prastiningsih Budi Setyawan, Nur Fachmi Cahyaningrum, Ardelia Aristawati Camelia Aditya Maharani Christy Maharani Mamuko Danardana Murwani Devi puspitasari, Devi Dewi, Lusi Cahyanti Kusuma Dheny Jatmiko, Dheny Dhita Amalya Diajeng Nisak Rahmawati Eben Ezer Nainggolan Emilia Nur Aini Putri Evi Dwi Andani Fauzi, Diah Puspitasari Fitriyanti, Aida Nur Fulgentius Danardana Murwani Gracylia Abigail Sharon Christianti Hanan, Maryam Alifah Herlan Pratikto Herlan Pratikto Herlan Pratikto Herlan Pratikto Herlan Pratikto Hetti Rahmawati Ica Anggira Afrilia Imanuel Hitipeuw Isrida Yul Arifiana Ivan Ramandhika A. Jatnika Jayawarsa, A.A. Ketut Jenar Shelomita Kristanto Juwita, Swasty Hanum Kartikasari, Liza Wahyu Kayiz Ismail Kusumandari, Rahma Loouhyl Valencia Hermandha Luqyana Marsha Firdaus Makhfufa, Mita Amaliya Manta, Dedy Ardito Putra Marentek, Revina Julina Maulani, Anindya Aryo Mawarni, Richa Vivi Lianti Iga Meininda Rhivent Norhidayah Meirendra, Rizqiariq Arrofiq Meva, Devina Deaura Puspita Moch. Rafly Putra Adryant Muhammad Irfan Nazieh Mumtaz, Hana Fachriya Aila Mutmainah, Ayuhan Nafsul Nabilla, Firdausiah Salfa Niken Titi Pratitis Niken Titi Pratitis Norhidayah, Meininda Rhivent Nurussakinah Daulay Prakash Padakannaya Prasetyo, Galang Adi Pratitis, Nindia Pratiwi, Elfira PUTRI WULANDARI Putri, Emilia Nur Aini Rahma Kusumandari Rahma Kusumandari Reny Yuniasanti Ricky Alejandro Martin Rista, Karolin Rizky Ashar Ramadhani Roosyiana, Dini Roosyiana Rose, Angelica Putricia Axl Rosi Setyaningrum Rossa Ayu Eka Lestari Rr Amanda Pasca Rini, Rr Amanda Pasca Saifudin, Wijayanti Putri Sari, Nella Dinda Sayidah Aulia Ul Haque Sheilla Varadhila P Situsmara, Auranisa Kania Aulia Supriyanto Supriyanto Tazky, Amanda Titi Nur Utami Utami, Titi Nur Varadhila Peristianto, Sheilla Wahyu Widayati Wati, Sukma Wibisono, Haneysyah Oktivita Yuni Setiawati Zennaria, Sayfa