Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

The traditional custom of Tawas Jaa as a means of strengthening social cohesion among the Dayak Deah community Dewicca Fatma Nadilla; Bambang Subiyakto; Deasy Arisanty; Syaharuddin Syaharuddin; Fitri Mardiani; Ilham Galih Pambudi
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.39202

Abstract

The Tawas Jaa tradition practiced by the Dayak Deah community in Upau represents a culturally significant ritual imbued with profound spiritual and social values. Beyond its role as a medium of ancestral veneration, this tradition is an integral mechanism for reinforcing communal bonds. The collective participation of all societal strata in the ritual across gender, generational, and religious lines reflects a strong foundation of social cohesion rooted in shared religious and cultural beliefs. This study examines the sociocultural meaning of the Tawas Jaa tradition as a form of religious-based social cohesion within the Dayak Deah community of Kaong. Employing a qualitative research design with a descriptive approach, the research was conducted in Kaong Village, identified in 2024 & 2025 as the sole remaining village in the Upau subdistrict actively maintaining the Tawas Jaa practice. Data was collected through participant observation and in-depth interviews, with informants selected via snowball sampling techniques. Data analysis employed source triangulation, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The research findings indicate that the Tawas Jaa tradition serves as a central pillar of community cohesion, facilitating the integration of diverse social segments through collective involvement. The ritual encompasses elements of mutual cooperation, community-driven fundraising, and the symbolic use of cultural artifacts such as ancak and the dragon boat—each reinforcing collective identity and interdependence. In addition to its spiritual dimensions, the tradition underscores the importance of egalitarianism, social solidarity, and communal self-reliance. Furthermore, by embracing religious plurality, the tradition fosters a resilient social structure and affirms the enduring relevance of ancestral values in shaping communal life.     Tradisi Adat Tawas Jaa pada masyarakat Dayak Deah di Upau merupakan praktik budaya yang tidak hanya sarat nilai spiritual dan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai sarana memperkuat kohesi sosial berbasis religi di tengah kehidupan komunitas. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antaranggota komunitas. Melalui pelaksanaan ritual-ritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, Tawas Jaa mencerminkan kohesi sosial yang berakar pada nilai-nilai religi yang kuat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi makna tradisi adat Tawas Jaa sebagai bentuk kohesi sosial berbasis religi bagi masyarakat Dayak Deah Kaong. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dipilihnya Desa Kaong karena pada tahun 2024 & 2025 merupakan satu-satunya desa yang menyenggarakan Tradisi Adat Tawas Jaa ini di Kecamatan Upau. Data dikumpulkan dari observasi dan wawancara mendalam. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik Snowball Sampling. Analisis data menggunakan teknik triangulasi sumber, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi Tawas Jaa dalam masyarakat Dayak Deah berfungsi sebagai pilar kohesi sosial, mengintegrasikan seluruh lapisan masyarakat melalui partisipasi lintas gender, generasi, dan agama dalam penyelenggaraan nya. Ritual ini melibatkan gotong royong, pengumpulan dana secara mandiri, serta simbol-simbol adat seperti ancak dan perahu naga yang memperkuat identitas budaya mereka. Selain nilai spiritual, Tawas Jaa juga menegaskan pentingnya kesetaraan, solidaritas sosial, dan kemandirian komunitas. Dengan menghormati keberagaman keyakinan, tradisi ini membangun ketahanan sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai kolektif yang diwariskan oleh para leluhur.
OPTIMALISASI PEMANFAATAN MUSEUM SULTAN SURIANSYAH DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI SMK NEGERI 4 BANJARMASIN Nada Ariani; Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 11 No. 04 (2025): Volume 11 No. 04 Desember 2025 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v11i04.9145

Abstract

Penelitian ini mengkaji optimalisasi pemanfaatan Museum Sultan Suriansyah sebagai sumber belajar dalam pembelajaran sejarah di SMK Negeri 4 Banjarmasin. Latar belakang penelitian ini berangkat dari masih minimnya penggunaan museum sebagai media pendidikan, padahal museum menyediakan sumber sejarah autentik yang berpotensi meningkatkan pemahaman siswa terhadap sejarah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemanfaatan museum dalam pembelajaran sejarah serta mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran berbasis museum. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Sultan Suriansyah mampu menjadi media pembelajaran yang efektif karena dapat meningkatkan motivasi belajar, menghadirkan pengalaman belajar langsung, serta memperkuat pemahaman siswa mengenai sejarah dan budaya Kesultanan Banjar. Meskipun demikian, optimalisasi pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan waktu pembelajaran, minimnya koordinasi antara sekolah dan pihak museum, serta belum tersedianya program pembelajaran museum yang bersifat rutin dan terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Penelitian ini menegaskan pentingnya perencanaan pembelajaran yang sistematis, pengembangan modul museum, serta penguatan kerja sama institusional sebagai upaya optimalisasi pemanfaatan museum dalam pembelajaran sejarah.
Edukasi Pengenalan Rumah Adat Banjar Sebagai Upaya Peningkatan Literasi Budaya Di Desa Telok Selong Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Octavian Hendra Priyatno; Fitri Mardiani; Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla; Ilham Galih Pambudi; Willy Alfarius
Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2026): Pengabdian Masyarakat (DIMASY)
Publisher : Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/DIMASY.v3i1.123

Abstract

Pelestarian budaya lokal menjadi isu strategis di tengah arus modernisasi yang berpotensi mengikis identitas kultural masyarakat. Salah satu wujud nyata dari upaya pelestarian tersebut adalah pengenalan rumah adat sebagai simbol nilai, sejarah, dan jati diri bangsa. Kegiatan pengabdian ini berfokus pada Edukasi Pengenalan Rumah Adat Banjar di Desa Telok Selong, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang bertujuan untuk meningkatkan literasi budaya masyarakat melalui pendekatan edukatif dan partisipatif. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan tahapan observasi, penyusunan modul edukasi, pelatihan interaktif, dan evaluasi hasil kegiatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana. Hasil menunjukkan adanya peningkatan literasi budaya sebesar 54,2% setelah kegiatan berlangsung. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi berbasis budaya lokal mampu memperkuat kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budayanya. Temuan ini berimplikasi pada perlunya integrasi edukasi budaya ke dalam kurikulum lokal dan penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pelestarian budaya Banjar.
Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngamuan Gunung Perak Dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Dayak Ma'anyan Di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan Anai Anai; Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8318

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap tradisi Ngamuan Gunung Perak dalam upacara pernikahan adat suku Dayak Ma’anyan di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Gunung Perak merupakan elemen ritual paling signifikan dalam pernikahan adat Dayak Ma’anyan, berbentuk menyerupai pohon kehidupan yang dihiasi uang kertas, koin, dan ornamen berwarna emas, putih, dan perak, serta melambangkan rasa syukur, penggenapan sumpah (Antuhan), dan doa bagi kemakmuran serta keharmonisan pengantin baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami bagaimana masyarakat mengalami dan mengaitkan makna dengan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu mantan pemimpin adat (Mantir Adat), anggota kelompok tari tradisional, dan pasangan yang telah menjalani upacara Gunung Perak, didukung observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Perak menempati kedudukan sebagai puncak hukum pernikahan adat, baik dari struktur fisik dan makna simbolisnya maupun dari peran sentral Wadian dan Mantir Adat dalam menjaga keasliannya. Penelitian ini juga mengungkap perbedaan persepsi antargenerasi: generasi tua memandangnya sebagai kewajiban sakral, sementara generasi muda lebih memaknainya sebagai simbol identitas budaya. Tradisi ini turut menghadapi ancaman dari pengaruh budaya luar, ketegangan afiliasi keagamaan, dan migrasi penduduk muda ke perkotaan, yang direspons masyarakat melalui strategi pelestarian seperti festival budaya, pendidikan, dan digitalisasi pengetahuan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Ngamuan Gunung Perak tetap dihormati lintas generasi sebagai representasi penting identitas budaya Dayak Ma’anyan yang diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.
EKSISTENSI KETAHANAN EKONOMI DALAM KERAJINAN TAJAU DI KUIN UTARA KOTA BANJARMASIN TAHUN 1980–2020: ADAPTASI TRADISI DI TENGAH MODERNISASI Ade Listya Dwi Widodo; Wisnu Subroto; Rusdi Effendi; Dewicca Fatma Nadilla
CARITA: Jurnal Sejarah dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): CARITA : Jurnal Sejarah dan Budaya
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35905/carita.v4i2.17151

Abstract

Tajau merupakan salah satu budaya material masyarakat Banjar yang memiliki fungsi penting dalam sistem penyimpanan air dan hasil bumi pada lingkungan masyarakat sungai di Kalimantan Selatan. Selain memiliki nilai fungsional, Tajau juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan kerajinan Tajau sebagai mata pencaharian masyarakat Kuin Utara, Kota Banjarmasin, pada periode 1980–2020. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan pendekatan sejarah ekonomi yang didukung oleh sumber lisan (oral history) melalui wawancara dengan pengrajin, tokoh masyarakat, dan pihak terkait, serta dilengkapi dengan sumber tertulis berupa buku, jurnal, dokumentasi, dan arsip yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dekade 1980-an kerajinan Tajau mengalami masa perkembangan yang cukup pesat karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap wadah penyimpanan air dan hasil pertanian. Kondisi tersebut menjadikan produksi Tajau sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat Kuin Utara. Namun, sejak dekade 1990-an hingga 2020, industri ini mengalami kemunduran akibat perubahan pola konsumsi masyarakat, meluasnya penggunaan wadah berbahan plastik, serta berkurangnya regenerasi pengrajin. Meskipun fungsi ekonominya mengalami penurunan, sebagian pengrajin tetap mempertahankan produksi Tajau sebagai bentuk pelestarian warisan budaya lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah kerajinan Tajau tidak hanya mencerminkan perubahan mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menggambarkan proses adaptasi budaya lokal dalam menghadapi modernisasi dan transformasi ekonomi.
Persepsi Masyarakat Terhadap Tradisi Ngamuan Gunung Perak Dalam Upacara Pernikahan Adat Suku Dayak Ma'anyan Di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan Anai Anai; Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla
Sajaratun : Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah Vol 11 No 1 (2026): Sajaratun: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/sajaratun.v11i1.8318

Abstract

Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap tradisi Ngamuan Gunung Perak dalam upacara pernikahan adat suku Dayak Ma’anyan di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Gunung Perak merupakan elemen ritual paling signifikan dalam pernikahan adat Dayak Ma’anyan, berbentuk menyerupai pohon kehidupan yang dihiasi uang kertas, koin, dan ornamen berwarna emas, putih, dan perak, serta melambangkan rasa syukur, penggenapan sumpah (Antuhan), dan doa bagi kemakmuran serta keharmonisan pengantin baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami bagaimana masyarakat mengalami dan mengaitkan makna dengan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu mantan pemimpin adat (Mantir Adat), anggota kelompok tari tradisional, dan pasangan yang telah menjalani upacara Gunung Perak, didukung observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Perak menempati kedudukan sebagai puncak hukum pernikahan adat, baik dari struktur fisik dan makna simbolisnya maupun dari peran sentral Wadian dan Mantir Adat dalam menjaga keasliannya. Penelitian ini juga mengungkap perbedaan persepsi antargenerasi: generasi tua memandangnya sebagai kewajiban sakral, sementara generasi muda lebih memaknainya sebagai simbol identitas budaya. Tradisi ini turut menghadapi ancaman dari pengaruh budaya luar, ketegangan afiliasi keagamaan, dan migrasi penduduk muda ke perkotaan, yang direspons masyarakat melalui strategi pelestarian seperti festival budaya, pendidikan, dan digitalisasi pengetahuan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Ngamuan Gunung Perak tetap dihormati lintas generasi sebagai representasi penting identitas budaya Dayak Ma’anyan yang diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Workshop Kreatif Melukis Tema Kesejarahan Dengan Media Pengayuh Jukung Bagi Mahasiswa dan Anak Untuk Menumbuhkan Nasionalisme Wisnu Subroto; Dewicca Fatma Nadilla; Helmi Akmal; Fathurrahman Fathurrahman
Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2024): Pengabdian Masyarakat (DIMASY)
Publisher : Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ztn7qd91

Abstract

Sebuah karya seni tidak hanya untuk seni semata, tetapi dapat juga dipakai sebagai media menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Di dalam menumbuhkan hal itu, maka diadakan workshop untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan mahasiswa dan anak-anak melalui kegiatan melukis dengan tema kesejarahan menggunakan media pengayuh jukung. Jukung adalah perahu tradisional yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan Selatan, dan penggunaan pengayuhnya sebagai media melukis menambah nilai budaya dan kearifan lokal dalam karya seni. Seni lukis tidak hanya ditorehkan dalam media kain saja, lewat media kayu pengayuh menjadikan karya seni yang mempunyai nilai tambah. Media pengayuh dapat menyentuh kebutuhan-kebutuhan emosi dan imajinasi sejarah yang dapat membentuk citra diri.
Perkebunan Karet dan Dinamika Ekonomi Petani: antara Harapan dan Kenyataan Ega Nasywa; Rusdi Effendi; Wisnu Subroto; Fitri Mardiani; Dewicca Fatma Nadilla; Rochgiyanti
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v7i1.18411

Abstract

Perekonomian merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia khususnya Desa Hukai, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak dari perkebunan karet terhadap perekonomian petani karet dan untuk mengetahui pendapatan petani karet ini bisa mensejahterakan keluarga. Perkebunan karet mempunyai peranan penting dalam perekonomian perdesaan di Desa Hukai, karena menjadi sumber pendapatan paling utama masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perkebunan karet (Hevea brasiliensis) terhadap perekonomian petani di Desa Hukai, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Karet merupakan salah satu komoditas utama yang berperan penting dalam perekonomian lokal, meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti fluktuasi harga dan perubahan cuaca. Dengan adanya perkebunan karet menjadikan sektor ini sebagai sumber utama pendapatan masyarakat setempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data dari petani pemilik lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani karet sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga karet di pasar global. Ketika harga karet tinggi, pendapatan petani meningkat, yang berimbas pada perbaikan kesejahteraan sosial dan ekonomi keluarga. Sebaliknya, fluktuasi harga yang tajam dan ketergantungan terhadap musim juga dapat menyebabkan penurunan pendapatan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan ekonomi petani karet di Desa Hukai memerlukan kebijakan yang mendukung peningkatan produktivitas dan diversifikasi produk karet, serta perlunya bantuan pemerintah dalam mengatasi permasalahan fluktuasi harga. Diversifikasi produk dan pemanfaatan teknologi pengolahan karet dapat menjadi strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung keberlanjutan sektor perkebunan karet di wilayah.
DEVELOPMENT OF DIGITAL SOCIAL STUDIES LEARNING MATERIALS BASED ON DAYAK DEAH LOCAL WISDOM TO INCREASE ENVIRONMENTAL AWARENESS Dewicca Fatma Nadilla; Herry Porda Nugroho Putro; Wisnu Subroto; Ilham Galih Pambudi
JURNAL SOCIUS Vol 15, No 1 (2026): JURNAL SOCIUS
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/js.v15i1.24848

Abstract

This study aims to develop digital Social Studies (IPS) learning materials based on the local wisdom of the Dayak Deah community, particularly the Tawas Jaa tradition, and to examine their feasibility and effectiveness in enhancing junior high school students’ environmental awareness. The novelty of this study lies in the integration of the ecological values embedded in the Tawas Jaa tradition of the Dayak Deah community into Social Studies learning materials in the form of a digital storybook, which has not previously been developed within local wisdom based Social Studies learning.The study employed a Research and Development (R&D) approach using the 4D development model, which consists of the stages of define, design, develop, and disseminate. The research subjects included 27 seventh-grade students of SMPN 2 Upau as the experimental group and 25 students as the control group. Data were collected through observation, questionnaires, and environmental awareness tests, and were analyzed using descriptive and inferential statistics.The results indicate that in the define stage, students’ environmental awareness was still predominantly reflected in the knowledge dimension, while the attitude and behavioral dimensions remained at moderate to low levels. The design stage produced a prototype of a digital storybook that contextually integrates the ecological values of the Tawas Jaa tradition into Social Studies learning. In the develop stage, expert validation showed a very high level of feasibility with an average score of 85%. The limited trial results indicated very positive student responses, with an average score of 84% in terms of usability, attractiveness, and usefulness.The paired sample t-test analysis revealed a significant difference between the pre-test and post-test scores of the experimental group (p < 0.05), with a greater improvement compared to the control group. The study concludes that the digital Social Studies learning materials based on the Dayak Deah Tawas Jaa tradition meet the criteria of validity, practicality, and effectiveness in improving students’ environmental awareness. These findings suggest that integrating local wisdom into digital learning media can significantly contribute to strengthening environmental awareness in Social Studies learning.
Strengthening Social Studies Teachers’ Competence in Developing Digital Storybooks Based on Dayak Deah Local Wisdom Dewicca Fatma Nadilla; Herry Porda Nugroho Putro; Wisnu Subroto; Ilham Galih Pambudi
Carmin: Journal of Community Service Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Borneo Research and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59329/carmin.v6i1.236

Abstract

This community service activity aimed to strengthen teachers’ understanding in developing digital teaching materials through storybook digital based on Dayak Deah local wisdom for social studies learning at SMPN 2 Upau, Tabalong Regency. The activity was carried out through workshop, mentoring, and classroom implementation stages involving 12 teachers, including social studies teachers as the main participants. Data collection was conducted using pretest-post test instruments, observation, interviews, and student response questionnaires. The workshop focused on introducing digital teaching materials, training in developing storybook digital using Canva, and integrating Dayak Deah cultural values into social studies learning materials. The results showed that teachers’ average score increased from 62 points in the pretest to 72 points in the posttest after participating in the training and mentoring activities. The improvement was mainly seen in teachers’ understanding of Canva operation, storybook preparation, integration of local cultural values, and visual design of digital teaching materials. The classroom implementation results also showed positive student responses, with an average score of 87.33% categorized as very feasible. Students considered the storybook digital easy to use, attractive, and helpful in understanding social studies materials and local cultural values. The activity indicates that integrating digital technology and local wisdom can support more contextual and meaningful social studies learning while helping preserve local cultural values in educational practices.