Claim Missing Document
Check
Articles

MODAL SOSIAL DALAM PEMANFAATAN BUAH TENGKAWANG DI HUTAN ADAT PIKUL Dewita Dewita; Emi Roslinda; Siti Masitoh Kartikawati
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 10, No 2 (2020): Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v10i2.40980

Abstract

 Pikul customary forest has the potential of tengkawang that was abundant and utilized by the community around the forest to fulfill their daily needs. This study aimed to determine community social capital consists of cognitive and structural social capital and the relationship of social capital how to use tengkawang fruit in the Pikul indigenous forest. This study used the concept survey methods, with data collection techniques with interviews used questionnaires and in-depth interviews with key respondents. Respondents in this study were Melayang Hamlet community who used tengkawang fruit intentionally. The magnitude level of social capital used the value interval equation and the relationship of social capital was analyzed of Sperman rating coefficient test. The results showed the cognitive social capital and the structural social capital were both classified as "high". The relationship of social capital which used of tengkawang has a direct and strong relationship, the two elements of Cognitive and structural social capital were very significant and relate with the way how to use tengkawang. The real correlation occurred in the form of a positive correlation that showed the higher level of structural social capital and cognitive social capital formed, which better used of tengkawang fruit in the Pikul customary forest.Keywords: social capital, tengkawang fruit, Pikul costomary forestAbstrakHutan Adat Pikul memiliki potensi tengkawang yang sangat melimpah. Jenis ini dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui modal sosial masyarakat yang terdiri atas modal sosial kognitif dan struktural dan hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul. Penelitian ini menggunakan metode survei, melalui teknik wawancara menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam kepada responden kunci. Responden dalam penelitian ini adalah masyarakat Dusun Melayang yang memanfaatkan buah tengkawang. Tingkat modal sosial masyarakat dianalisis menggunakan persamaan selang nilai. Sementara itu hubungan modal sosial dianalisis menggunakan uji koefisien Peringkat Sperman. Hasil penelitian menunjukan bahwa modal sosial kognitif serta modal sosial struktural tergolong “tinggi”. Hubungan modal sosial terhadap pemanfaatan tengkawang memiliki hubungan yang searah dan kuat. Kedua unsur modal sosial Kognitif dan struktural berhubungan sangat nyata terhadap pemanfaatan tengkawang. Korelasi nyata yang terjadi berupa korelasi positif yang menunjukkan semakin tinggi tingkat modal sosial struktural dan modal sosial kognitif yang terbentuk, semakin baik pula pemanfaatan buah tengkawang di hutan Adat Pikul. Kata kunci: Modal Sosial, Buah Tengkawang, Hutan Adat Pikul
PEMANFAATAN TUMBUHAN LOKAL SEBAGAI OLAHAN PANGAN UNTUK MEMPERKUAT PEREKONOMIAN MASYARAKAT Destiana Destiana; Siva Devi Azahra; Siti Puji Lestariningsih; Siti Masitoh Kartikawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.23084

Abstract

Abstrak: Umbut kelapa merupakan bagian dari tumbuhan kelapa yang terletak pada bagian ujung batang yang jika terus tumbuh akan menjadi pelepah dan daun, bagian ini berada di empulur batang, bertekstur lembut dan memiliki rasa yang manis. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan umbut kelapa sebagai alternatif produk olahan pangan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dilakukan di Desa Peniti besar Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah, peserta kegiatan ini diikuti oleh kelompk Ibu-ibu PKK sebanyak 35 orang. Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan cara menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat dan sistem evaluasi dengan menggunakan kuisoner yang dilakukan diawal dan diakhir kegiatan. Hasil pelaksanaan kegiatan menggambarkan adanya perubahan informasi dan pemahaman tentang pemanfaatan umbut kelapa menjadi olahan pangan berbentuk kelapa dari yang sebelumnya 17% menjadi 100%, pemahaman tingkat kesulitan pembuatan umbut kelapa menjadi olahan pangan yanga awalnya sebesar 63% menyatakan sulit menjadi 10% dan ketertarikan berusaha sebesar 27% menjadi 73%.Abstract: The coconut sheath is part of the coconut plant located at the end of the stem, which, if it continues to grow, will become fronds and leaves; this part is in the pith of the stem, has a soft texture, and has a sweet taste. This activity aims to increase the activity aims to increase community knowledge about using coconut tubers as an alternative processed food product to improve the surrounding community's economy. Community service activities were carried out in Peniti Besar Village, Segedong District, and Mempawah Regency, and the participants of this activity were attended by a group of 35 mother Family Empowerment and Welfare (PKK). The method used in this activity is delivering socialization to the community, and the evaluatioj system is used, using questionnaries conducted at the beagining and the end of the activity. The results of the implementation of the activity illustrate a change in information and understanding of the utilization of coconut tubers into processed food in the form of coconut from the previous 17% to 100%, understanding the level of difficulty in making coconut tubers into processed food,which initially 63% to 10%, and interest in trying 27% to 73%. 
ETNOBOTANI UPACARA ADAT GALUNGAN MASYARAKAT HINDU DI DESA SEDAHAN JAYA KECAMATAN SUKADANA KABUPATEN KAYONG UTARA Kartikawati, Siti Masitoh; Liantar Sari, Lenny Kusbar; Rifanjani, Slamet
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 3 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i3.63871

Abstract

Sedahan Jaya Village is one of the villages in North Kayong Regency whose people embrace Hinduism. This community is a transmigration from Bali in 1968. Traditionally, the Hindu community in Sedahan Jaya Village still carries out Hindu religious traditions as is done in Bali. One of them is commemorating the Galungan ceremony which is commemorated as the day of the victory of Dharma (truth) against Adharma (evil). The purpose of this study was to examine the ethnobotany of plant species used in the traditional Galungan ceremony of the Hindu community of Sedahan Jaya Village. The research was conducted using a survey method with data collection techniques by interview and observation. Interviews were conducted with key respondents (key persons), namely the village head, 6 (six) traditional leaders or traditional stakeholders, and figures from each caste. The results of this study indicated that there are 14 families and 19 plant species with the largest shrub habitus. All types of plants have been cultivated except bamboo. Plants have their meaning, namely, leaves mean sacred thoughts, flowers mean sincerity, fruits mean prosperity and seeds mean the initial seeds of life that come from God. Flowers with various colors have their meanings, including the yellow color representing Mahadeva, black representing Vishnu, white representing Shiva, and red representing Brahma.Keywords: Ethnobotany, Galungan, Hindu Religion, Sedahan Jaya village, Traditional CeremoniesAbstrakDesa Sedahan Jaya merupakan salah satu Desa di Kabupaten Kayong Utara yang masyarakatnya memeluk agama Hindu. Masyarakat Desa Sedahan Jaya merupakan transmigran asal dari Bali pada tahun 1968. Secara tradisi, masyarakat Hindu di Desa Sedahan Jaya masih melakukan tradisi agama Hindu seperti yang dilakukan di Bali. Salah satunya adalah memperingati upacara Galungan yang diperingati sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji etnobotani dalam upacara adat Galungan masyarakat Hindu di Desa Sedahan Jaya. Penelitian dilakukan dengan metode survey dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan pada responden kunci (key person) yaitu kepala desa, 6 (enam) ketua adat atau pemangku adat serta tokoh setiap kasta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 14 famili dan 19 jenis tumbuhan dengan habitus terbanyak perdu. Semua jenis tumbuhan tersebut sudah di budidayak kecuali bambu. Tumbuhan memiliki maknanya masing-masing yaitu daun bermakna pikiran yang suci, bunga bermakna ketulusan, buah bermakna kemakmuran dan biji bermakna benih awal kehidupan yang bersumber dari Tuhan. Bunga dengan berbagai macam warna memiliki makna tersendiri diantaranya warna kuning melambangkan Dewa Mahadewa, hitam melambangkan Dewa Wisnu, putih melambangkan Dewa Shiwa, dan merah melambangkan Dewa Brahma.Kata kunci: Agama Hindu, Etnobotani, Galungan, Desa Sedahan Jaya, Upacara Adat
KAJIAN PEMANFAATAN JENIS-JENIS PANDANUS (PANDANACEAE) OLEH MASYARAKAT DESA NANGA KERUAP KABUPATEN MELAWI Sisillia, Lolyta; sabalaka, Sunsugos; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 1 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i1.63721

Abstract

This study aims to examine the types of pandanus (Pandanceae) used by the community and the form/pattern of pandanus utilization by the people of Nanga Keruap Village, Menukung District, Melawi Regency. Based on the results of the study, it was found that there were four types of pandanus plants, namely fragrant pandanus (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) and soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). The highest Use Value (UV) was from the kajang plant (Pandanus aristatus Martelli) with a value of 1. The highest Informant Consensus Factor (ICF) was found in the user group as housing materials, food ingredients, dyes, and traditional rituals, with an average value of 1. The highest Fidelity Level (FL) was found in soil plants with a value of 100%. Leaves are the most widely used part of the pandanus plant. The pattern of using pandanus plants tends to be personal consumption. Each type of pandanus is taken and processed into a product by the community as an individual need, not for sale. Pandanus plants are obtained from the wild (kajang, ririh, and soli) and cultivated plants (fragrant pandan).Keywords: Pandanaceae, pandanus, plants, utilization, Nanga Keruap Village.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji jenis-jenis pandanus (Pandanaceae) yang dimanfaatkan masyarakat serta mengkaji bentuk/pola pemanfaatan pandanus oleh masyarakat Desa Nanga Keruap Kecamatan Menukung Kabupaten Melawi. Penelitian ini dilakukan dengan metode Snowball sampling dan purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak 4 jenis tumbuhan pandanus yaitu pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb), kajang/perupuk (Pandanus aristatus Martelli), ries/ririh (Pandanus Sp.1) dan soli/kesopuk (Pandanus Sp.2). Use Value (UV) tertinggi yaitu dari jenis tumbuhan kajang (Pandanus aristatus Martelli) dengan nilai 1. Informant Consensus Factor (ICF) tertinggi terdapat pada kelompok pemanfaatan sebagai bahan perumahan, bahan makanan, pewarna, dan ritual adat dengan rata-rata nilai 1. Fidelity Level (FL) tertinggi terdapat pada tumbuhan soli dengan nilai 100%. Daun merupakan bagian tumbuhan pandanus yang paling banyak dimanfaatkan. Pola pemanfaatan tumbuhan pandanus cenderung bersifat konsumsi pribadi dimana setiap jenis pandanus yang diambil dan diolah menjadi sebuah produk oleh masyarakat sebagai kebutuhan pribadi tidak untuk dijual. Tumbuhan pandanus diperoleh dari tumbuhan liar (kajang, ririh, dan soli) dan budidaya (pandan wangi).Kata kunci: Desa Nanga Keruap, pandanaceae, pandanus, pemanfaatan, tumbuhan.
REKAYASA DESAIN MOTIF KAIN DENGAN TEKNIK CETAK DAUN Kartikawati, Siti Masitoh; Azahra, Siva Devi; Dewantara, Jagad Aditya
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 6, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v6i2.9721

Abstract

Abstrak: Komunitas Kampung Batik Kamboja merupakan komunitas pengrajin batik di Kota Pontianak yang menjadi target pengembangan industri tekstil dan tujuan wisata oleh pemerintah Kota Pontianak. Oleh karena itu, pengembangan teknik dan desain motif menjadi hal yang penting untuk menunjukkan ciri khas, meningkatkan nilai estetika, dan daya saing dengan produk tekstil lainnya. Inovasi desain motif dengan teknik cetak daun dapat memperkaya dan meningkatkan ragam motif produk yang dihasilkan, menjadi sarana pendidikan lingkungan mengenai jenis tumbuhan dan keanekaragaman bentuk daun bagi masyarakat, pengrajin setempat, maupun wisatawan Kampung Batik. Kegiatan dilakukan dengan melakukan pretest, penjelasan, demontrasi, pembimbingan dalam praktek pembuatan desain teknik cetak daun yang diaplikasikan langsung pada kaos dan totebag, dan diakhiri dengan evaluasi kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta mengenai identifikasi potensi dan karakteristik daun yang dapat dikembangkan sebagai inovasi desain motif karya tekstil yang memiliki nilai estetika.Abstract: The Kampung Batik Kamboja Community is a community of batik artisans in Pontianak City, which is the target of the development of the textile industry and tourism destination by the government of Pontianak City. Therefore, developing techniques and motifs is essential to show characteristics, increase aesthetic value, and improve the competitiveness of other textile products. Innovative motif designs with leaf printing techniques can be produced and improved upon product motifs as a means of environmental education regarding plant species and the diversity of leaf shapes for the community, local artisans, and tourists from Kampung Batik. The activity was carried out by conducting pretests, explanations, demonstrations, and guidance in making leaf printing techniques, which were applied directly to t-shirts and tote bags, and ended with an evaluation of the activities. The results showed an increase in participants' understanding and skills regarding the potential and characteristics of leaves that can be developed as an innovative design of art with aesthetic value.
OPTIMASI SUMBER DAYA TUMBUHAN LOKAL MENJADI PRODUK DAUR ULANG YANG BERNILAI EKONOMI DAN RAMAH LINGKUNGAN Azahra, Siva Devi; Destiana, Destiana; Kartikawati, Siti Masitoh; Lestariningsih, Siti Puji
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19803

Abstract

Abstrak: Desa Peniti Besar memiliki beragam sumberdaya tumbuhan lokal, antara lain kelapa (Cocos nucifera) dan pisang (Musa paradisiaca) yang merupakan komoditas andalan desa tersebut . Desa ini juga menghadapi permasalahan meningkatnya sampah kertas dari berbagai kegiatan masyarakat serta limbah berupa sabut kelapa dan batang pisang kering yang belum didayagunakan secara optimal. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut agar menghasilkan produk ramah lingkungan yang memiliki ciri khas, bernilai ekonomi, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dan diolah menjadi produk unggulan desa yang ramah lingkungan yaitu berupa kertas daur ulang. Kegiatan pelatihan dan pendampingan dilakukan kepada 27 anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), diawali dengan pemaparan mengenai permasalahan limbah dan potensi pendayagunaannya, demonstrasi pembuatan kertas daur ulang oleh narasumber yang dilanjutkan dengan praktek oleh peserta, serta evaluasi pengetahuan dan keterampilan peserta sebagai output pelatihan. Topik yang tepat sesuai dengan permasalahan masyarakat danserta kemampuanmampunya peserta membuat kertas daur ulang secara mandiri mengindikasikan bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik, dibuktikan dengan masing-masing peserta dapat dapat mencetak kertas daur ulangnya serta adanya peningkatan pengetahuan peserta terhadap topik pelatihan sebesar 43,7%k.Abstract: Peniti Besar Village has various local plant resources, including coconut (Cocos nucifera) and banana (Musa paradisiaca), the village's mainstay commodities. The village also faces the problem of increasing paper waste from various community activities and waste in the form of coconut fiber and dried banana stems that need to be optimally utilized. This service activity aims to provide new skills to the community to utilize these wastes to produce environmentally friendly products that have characteristics of economic value so that they have the potential to be developed and processed into environmentally friendly village superior products in the form of recycled paper. Training and mentoring activities were carried out for 27 members of the Family Welfare Empowerment (PKK), starting with an explanation of the problems of waste and its potential utilization, demonstration of making recycled paper by resource persons followed by practice by participants, and evaluation of participants' knowledge and skills as training output. The right topic according to community problems and the ability of participants to make recycled paper independently indicate that this activity is going well, evidenced by each participant being able to print their recycled paper and an increase in participant knowledge of the training topic by 43.7%.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN PEMBUATAN ECOENZYME SEBAGAI ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DI SD KALAM KUDUS PONTIANAK Kartikawati, Siti Masitoh; Azahra, Siva Devi
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 8, No 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v8i1.28560

Abstract

Abstrak: Pendidikan lingkungan adalah salah satu cara efektif untuk membentuk perilaku dan sikap manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan dalam pendidikan lingkungan adalah pengelolaan sampah organik melalui pembuatan ecoenzyme. Ecoenzyme terbuat dari limbah organik seperti kulit buah dan sayuran yang difermentasi dan dapat diolaj menjadi berbagai produk yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa, khususnya di SD Kalam Kudus, mengenai pentingnya pengolahan limbah organik menjadi ecoenzyme. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan pelatihan yang mencakup teori dan praktik, yang didukung dengan survei awal untuk mengetahui pengetahuan dasar siswa, serta observasi lingkungan belajar. Hasil dari pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan antara pre-test dan post-test yang diikuti oleh siswa dari rata-rata skor pre-test hanya mencapai 62% dan saat post-test meningkat menjadi 86,26%. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa tentang ecoenzyme, manfaatnya, dan bagaimana cara membuatnya, yang menunjukkan antusiasme siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh. Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan kesadaran lingkungan siswa, mendorong mereka untuk mengurangi sampah di rumah dan sekolah. Dengan hasil ini, diharapkan kegiatan serupa dapat diperluas dan diterapkan di berbagai sekolah untuk memberikan dampak positif terhadap pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan.Abstract:  Environmental education is one of the effective ways to shape human behavior and attitudes in preserving the environment. One approach that can be applied in environmental education is organic waste management by manufacturing eco enzymes. Ecoenzyme is made from fermented organic waste, such as fruit and vegetable peels, which can be processed into various helpful products in everyday life. This activity aims to increase the knowledge and awareness of students, especially at SD Kalam Kudus, regarding the importance of processing organic waste into eco enzymes. The implementation of this activity involves training that includes theory and practice, which is supported by an initial survey to determine students' basic knowledge, as well as observation of the learning environment. The training results showed a significant increase in knowledge between the pre-test and post-test attended by students. The average pre-test score only reached 62%, and it increased to 86.26% during the post-test. The training improved students' understanding of ecoenzyme, its benefits, and how to make it, which showed students' enthusiasm in applying the knowledge they gained. In addition, the training also increased students' environmental awareness, encouraging them to reduce waste at home and school. With these results, it is hoped that similar activities can be expanded and implemented in various schools to impact waste management and environmental conservation positively.
PEMANFAATAN SATWA OLEH MASYARAKAT DAYAK BAKATI DI DESA LAMOLDA KECAMATAN LUMAR KABUPATEN BENGKAYANG Kelana, Frandicha; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati, Muflihati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 3 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i3.73792

Abstract

The Dayak Bakati in Lamolda Village, Lumar District, Bengkayang Regency, still uses the animals around it. The use of animals by the community in Lamolda Village has diversity, in addition to meeting consumption needs, animals also used for traditional rituals, mystical, medicinal, artistic, game and animals used for hunting. This study aims to record the species of animals that are used and examine the use of animals by the Dayak Bakati community (emic) and to study based on scientific knowledge by the Dayak Bakati community in Lamolda Village, Lumar District, Bengkayang Regency (ethics). Data collection was done by interview method and (observation) direct observation in the field. Interviews were conducted on respondents who were selected using the snowball sampling technique with the key respondents being the village head who appointed customary leaders, Temanggung, hunters, mothers, parents, and the community who were considered to know and have knowledge about the use of animal species. The results obtained 54 species of animals from 47 families used by the Dayak Bakati community in Lamolda Village. The Dayak Bakati community utilize 54 species of animals for their daily needs, most of these animals are still wild (94.45%), but there are 3 species that have been domesticated/raised, namely dogs, native chickens and domesticated pigs.Keywords: Animals, Dayak bakati, Utilization.AbstrakSuku Dayak Bakati berada di Desa Lamolda Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang, masih memanfaatkan satwa yang ada di sekitarnya. Pemanfaatan satwa oleh masyarakat di Desa Lamolda memiliki keragaman, selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, satwa juga dimanfaatkan untuk ritual adat, mistis, pengobatan, kesenian, satwa buruan dan satwa yang digunakan untuk berburu. Penelitian ini bertujuan untuk mendata jenis-jenis satwa yang dimanfaatkan dan mengkaji pemanfaatan satwa oleh masyarakat Dayak Bakati (emik) serta mengkaji berdasarkan pengetahuan ilmiah oleh masyarakat Dayak Bakati di Desa Lamolda Kecamatan Lumar Kabupaten Bengkayang (etik). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dan (observasi) pengamatan langsung di lapangan. Wawancara dilakukan terhadap responden yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling dengan responden kunci adalah kepala desa yang menunjuk ketua adat, temenggung, pemburu, ibu-ibu, orang tua, serta masyarakat yang dianggap mengetahui dan memiliki pengetahuan mengenai pemanfaatan jenis satwa. Hasil penelitian diperoleh 54 jenis satwa dari 47 famili yang dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak Bakati di Desa Lamolda. Masyarakat Dayak Bakati memanfaatkan 54 jenis satwa untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian besar satwa tersebut masih liar (94,45%), namun ada 3 jenis yang sudah didomestikasi/dipelihara yaitu anjing, ayam kampung dan babi ternak. Kata kunci: Satwa, Dayak Bakati, Pemanfaatan
ANALISIS VEGETASI POHON PAKAN ORANGUTAN (Pongo pygmaeus Wrumbii) PADA TIGA HABITAT STASIUN RISET CABANG PANTI TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG ulandari, sari; Dewantara, Iswan; Kartikawati, Siti Masitoh
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 12, No 2 (2024): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v12i2.58005

Abstract

Gunung Palung National Park is one of the habitats for Orangutans in West Kalimantan, and in this area, there is an Cabang Panti Research Station that focuses on conducting research on Orangutans, one of which is the type of feed. This study aims to examine the potential for species diversity and the similarity index of Orangutan forage tree species using the vegetation analysis method. The most common types of feed were found in frashwater swamp habitats and the least in alluvial habitats. The most common species found in three habtats, namely alluvial, freshwater swamp, lowland sandstone, was Popowia pisocarpa from the Annonaceae family, while the highest INP from the Polyalthia sumatrana species, which was 44.93% was feed for Orangutans at pole level in alluvial habitats. The results of the vegetation analysis of all growth levels for the diversity of tree species in the three habitats were classifield as moderate, the species distribution was evenly distributed and no species dominated. Three were similarity in the three habitats at tree level, while at the pole level only lowland sandstone habitat with alluvial.Keywords: Alluvial, Freshwater Swamp, Lowland Sandstone, Orangutan.AbstrakTaman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan salah satu habitat Orangutan di Kalimantan Barat, dan kawasan ini terdapat Stasiun Riset Cabang Panti (SRCP) yang fokus melakukan penelitian Orangutan salah satunya adalah jenis pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi keanekaragaman jenis dan indeks kesamaan jenis pohon pakan Orangutan pada tiga habitat (alluvial, rawa air tawar, dan batu berpasir dataran rendah). Hasil analisis vegetasi pada ketiga habitat secara berurutan sebagai berikut INP tertinggi pada strata semai (P.pisocarpa 22,52%; S.platycarpa 13,67%; A.nitida 14,55%), strata pancang (P.pisocarpa 32,56%; K.laurina 16,41%; S.grande 22,95%), strata tiang (P.sumatrana 44,93%; P.rostrata 25,38%; P.pisocarpa 26,17%), dan strata pohon (S.Parvifolia 21,91%; S.platycarpa 30,85%; S.parvifolia 26,75%). Jenis pakan Orangutan yang ditemukan sebanyak 141 jenis dengan jenis pakan yang paling banyak ditemukan terdapat ada habitat rawa air tawar (107 jenis) dan yang paling sedikit pada habitat aluvial (86 jenis). Keanekaragaman jenis pohon pada tiga habitat untuk semua strata pertumbuhan tegolong sedang (H Ì…=1,3 "“ 1,9), penyebaran jenis tergolong merata dan tidak ada jenis yang mendominasi (C = 0 "“ 0,1). Terdapat kesamaan jenis pada tiga habitat untuk strata pohon (S = 50 "“ 86 %), tingkat tiang hanya habitat batu berpasir dataran rendah dengan aluvial (S = 87 %)Kata kunci: Aluvial, Rawa Air Tawar,batu Pasir dataran Rendah, Orangutan
Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Madu Tikung di Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang: Local Knowledge in The Management of Tikung Honey in Ensabang Village, Sepauk Sub-District, Sintang District Pransiska, Desi Natalia; Kartikawati, Siti Masitoh; Muflihati
PERENNIAL Vol 21 No 1 (2025): Vol. 21 No. 1, April 2025
Publisher : Forestry Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v21i1.35461

Abstract

Knowledge is essential for people to adapt to nature and becomes a cultural heritage in managing existing natural resources with knowledge, customary, and cultural norms in the community's concept of thinking. Forest honey from Ensabang Village, Sepauk District, Sintang Regency, is honey produced by Apis dorsata bees, which is managed by the community using the Tikung technique, the management of which is based on the community's local knowledge and customary rules. This research aims to examine forms of local knowledge in the management of Tikung honey. This research used interview techniques with all Tikung honey farmers, and the data was analyzed using qualitative descriptive analysis. The study results show that the management of Tikung honey is carried out individually. The Tikung is placed on the river bank and the ground, and the types of wood used to make Tikung are Tembesuk (Fagraea fragrans) and Kawi (Shorea balangeran). Harvesting forest honey is carried out at night, and packaging and marketing are carried out directly by honey farmers. The traditional rule is that people are prohibited from burning near nest trees, destroying and cutting down nest trees and food trees, and putting Tikung in other people's trees and gardens. There are written sanctions and fines for those who steal and claim other people's Tikung.