Claim Missing Document
Check
Articles

THE SOCIALIZATION OF NATURAL DYES AND SHIBORI TEXTILE COLORING METHODS FOR EMPOWERING KAMPUNG BATIK KAMBOJA COMMUNITY Siva Devi Azahra; Jagad Aditya Dewantara; Siti Masitoh Kartikawati
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 4, No 2 (2021): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v4i2.4327

Abstract

Abstrak: Semakin meningkatnya kesadaran lingkungan menyebabkan mulai beralihnya gaya hidup masyarakat untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan. Penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan dalam proses produksi tekstil dapat menjadi alternatif untuk menghindari penggunaan pewarna sintetis yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan maupun kesehatan. Oleh karena itu, penggunaan pewarna alami dengan memanfaatkan tumbuhan khas serta teknik pewarnaan shibori sangat bermanfaat untuk menghasilkan produk yang memiliki ciri khas, bernilai ekonomi, dan ramah lingkungan. Kelompok masyarakat Kampung Batik Kamboja terdiri dari masyarakat dan juga pengrajin batik yang ada di Kota Pontianak sehingga merupakan akseptor potensial karena merupakan pelaku langsung industri tekstil. Tahapan kegiatan dimulai dengan meninjau kondisi eksisting kelompok masyarakat tersebut, melakukan sosialisasi, memberikan pelatihan pembuatan pewarna alami dan teknik pewarnaan shibori, dan diakhiri dengan melakukan evaluasi pengetahuan peserta. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan setelah kegiatan, terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang bagi kelompok masyarakat tersebut, yaitu pemahaman mengenai bahaya penggunaan pewarna sintetis bagi kesehatan maupun lingkungan, pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan sebagai pewarna alami, dan teknik pewarnaan shibori. Kegiatan tersebut menjadi pendorong kelompok masyarakat Kampung Batik Kamboja untuk berinovasi dalam pembuatan karya seni tekstil batik dan mengembangkan jenis-jenis tumbuhan Kalimantan Barat yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami.Abstract: Increasing of environmental awareness has led to the shifts of people's lifestyles to use environmental friendly products. The use of eco-friendly natural dyes in the textile production process might be used an alternative to avoid harmful effect to the environment and risk to human health when using synthetic dyes. Therefore, using natural dyes especially from typical plants and utilizing shibori coloring techniques are useful to produce distinctive, economic, and eco-friendly products. Kampung Batik Kamboja, a community group consists of people and batik craftsmen in Pontianak City, is a potential acceptor of the methods since they are real player in textile industry. The activities was started with the review of the current condition of the community followed by socialization, providing training on making natural dyes and shibori coloring techniques, and ending with evaluating the knowledge of participants. Based on the evaluation conducted in the end of activity, the results show an increase in knowledge and skills of the member of community, in term of the understanding of the dangers of using synthetic dyes for health and the environment. Also, they have knowledge in alternative method of coloring by using natural dyes from plant and applying shibori coloring techniques. This activity is able to empower Kampung Batik Kamboja community groups to innovate of batik textile manufacturing especially in the artworks and develop the utilization of West Kalimantan plant species as a potential natural dyes.
Tingkat Kenyamanan Termal Ruang Terbuka Hijau dengan Pendekatan Temperature Humidity Index (THI) Siva Devi Azahra; Siti Masitoh Kartikawati
BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains Vol 4 No 1 (2021): BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.698 KB) | DOI: 10.31539/bioedusains.v4i1.2286

Abstract

This study aims to examine the level of thermal comfort of Tanjungpura University's green open space. The method used is to measure air temperature and humidity at seven green open spaces with three observation periods and then analyze it by calculating the Temperature Humidity Index (THI) value at each location. The results showed that the overall thermal comfort of green open space was still in the uncomfortable and partially uncomfortable category, with THI values between 25.61 to 28.93. In conclusion, there is a need for the development and enrichment of green open space vegetation in the Tanjungpura University area to increase thermal comfort for the academic community. Keywords: Thermal Comfort, Green Open Space, Temperature Humidity Index
PENGETAHUAN MASYARAKAT DAYAK IBAN TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN SEBAGAI PEWARNA ALAMI TENUN IKAT DI DUSUN KELAYAM DESA MANUA SADAP KABUPATEN KAPUAS HULU KALIMANTAN BARAT Jeki Jeki; M Dirhamsyah; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53535

Abstract

Natural dyes are extracted from plants (such as leaves, flowers, and seeds), animals, and minerals. The purpose of this study was to explore the characteristics of the community of tie weavers by the Dayak Iban tribe in Kelayam, to collect data on plant species as natural dyes for Ikat weaving, to explore community knowledge in the process of natural dyes for ikat weaving. The research was conducted using the survey method with data collection techniques by observation and interviews. (observation) directly in the field. Weaving has a function as a means of introduction and kinship. The use of plants as natural dyes has long been carried out by the Dayak Iban people who live in Kelayam Hamlet. Most of the plants used are obtained from the forest where they live. There are seven types of plants used for the manufacture of natural dyes by the Dayak Iban tribe in the Kelayam Hamlet, such as Engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa lunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Keyword: Dayak Iban Trible, Natural Dye.AbstrakPewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari ekstraksi tumbuhan (seperti bagian daun, bunga, biji), hewan dan mineral. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karekteristik masyarakat penenun ikat oleh suku Dayak Iban di Kelayam. mendata jenis tumbuhan sebagai pewarna alami Tenun Ikat, serta mengetahui pengetahuan masyarakat dalam proses pewarna alami untuk tenun ikat. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik pengumpulan data secara observasi dan wawancara (pengamatan) langsung dilapangan. Tenun yang dihasilkan memiliki fungsi sebagai sarana memperkenalkan dan tali persaudaraan. Pemanfaatan tumbuhan sebagai pewarna alami telah lama dilakukan oleh masyarakat Suku Dayak Iban berdomisisli di Dusun Kelayam. Sebagian besar tumbuhan yang dimanfaatkan diperoleh dari hutan disekitar tempat tinggal mereka.  Ada 7 jenis  tanaman yang digunakan untuk pembuatan pewarna alami oleh suku dayak iban di Dusun Kelayam seperti: engkerebai (Srylocoryne spp), jangau (Aporosa iunata), mengkudu (Morinda citrifolia), mengkudu kayu (Tarenna fragrans), rengat padi (Indigofera arrecta), tebelian (Euslderoxylon zwageri), tengkawang (Shorea macrophylla).Kata Kunci: Dayak Iban, Pewarna Alami
ETNOBOTANI PERNIKAHAN ADAT SUKU DAYAK PESAGUAN HULU KABUPATEN KETAPANG roberto siahaan; Togar Fernando Manurung; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.53640

Abstract

The upstream Pesaguan Dayak tribe in Tanjung Beulang Village, Tumbang Titi District, Ketapang Regency is an ethnic pesaguan who is still strong in the tradition of traditional marriage which is divided into 2, namely the Donor and Non-Sumbang traditional marriage. In collecting data, this research uses survey methods with interview techniques (Key person and Proposive Sampling), observation and herbarium. the results of this study Tanjung Beulang Village has a traditional institution, namely traditional elders from a village (Demong) who know about the unwritten rules in the community and there are also people who think they have advantages who are named Pesaroh (shaman). The plants used in discordant marriages are 19 species and 9 families and 7 species are not discordant and 5 families are the same plant species in the discordant custom. There are 19 types of plants for discordant traditional weddings and 9 families have 3 meanings, namely as offerings to spirits in dispelling bad luck on the bride, as a concoction in traditional blessings and as snacks during the wedding procession, while traditional weddings are not discordant there are 7 types of plants 5 families have 3 meanings, namely giving souvenirs or providing guests who have been present at the wedding, as an ingredient in traditional blessings and as snacks during the wedding procession.Keywords: Ethnobotany, Dayak Pesaguan, Traditional Wedding.AbstrakSuku Dayak pesaguan hulu di Desa Tanjung Beulang Kecamatan Tumbang Titi Kabupaten Ketapang merupakan etnis pesaguan yang masih kental akan tradisi pernikahan adat yang terbagi menjadi 2 yaitu pernikahan adat Sumbang dan Tidak Sumbang. Pada pengambilan data penelian ini mengunakan metode survey dengan teknik wawacara (Key person dan Proposive Sampling), observasi dan herbarium. hasil penelitian ini Desa Tanjung Beulang mempunyai kelembagaan adat yaitu tetua adat dari suatu Desa (Demong) yang mengetahui tentang aturan-aturan tidak tertulis dimasyarakat dan ada juga orang yang anggap memiliki kelebihan yang diberi nama Pesaroh (dukun). Tumbuhan yang digunakan dalam pernikahan adat sumbang berjumlah 19 spesies dan 9 famili dan tidak sumbang berjumlah 7spesies dan 5 famili merupakan jenis tumbuhan yang sama dalam adat sumbang. Tumbuhan  untuk pernikahan adat sumbang ada 19 jenis dan 9 famili  mempunyai 3 makna yaitu sebagai  sesajen kepada roh halus dalam membuang sial pada pegantin, sebagai ramuan dalam pemberkatan adat dan sebagai cemilan pada saat prosesi pernikahan sedangkan pernikahan adat tidak sumbang terdapat 7 jenis tumbuhan 5 famili mempunyai 3 makna yaitu pemberian cindera mata atau membekali tamu yang telah hadir dalam pernikahan, sebagai ramuan dalam pemberkatan adat dan sebagai cemilan pada saat prosesi pernikahan. Kata Kunci: Etnobotani, Dayak Pesaguan, Pernikahan Adat.
PENILAIAN DAYA TARIK WISATA ALAM BATU POSOK DI DESA PENYELADI KECAMATAN KAPUAS KABUPATEN SANGGAU Satrio Fajar Wiguna; Sarma Siahaan; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 10, No 4 (2022): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v10i4.49900

Abstract

Sanggau is one of the regencies in West Kalimantan. Sanggau has a potential place to be used as a natural tourist area that is not widely known by many people, such as the Batu Posok natural tourism area located in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The purpose of this study was to obtain the value of nature tourism attractions and characteristics of Batu Posok natural tourism visitors in Penyeladi Village, Kapuas District, Sanggau Regency. The method used in this study is the descriptive method. The results of data analysis show that the tourist attraction in Penyeladi Village is 181.8, with a total value of 1,090.8 tourist attractions, the criteria for natural tourist attraction Batu Posok in Penyeladi Village are declared Good (A), which means the potential to be developed as a natural attraction.Keywords: Batu Posok, Sanggau, Nature TourismAbstrakSanggau merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Sanggau memiliki tempat yang potensial untuk dijadikan kawasan wisata alam yang belum banyak dikenal oleh banyak orang, seperti kawasan wisata alam Batu Posok yang terletak di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh nilai daya tarik wisata alam dan karakteristik pengunjung wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil analisis data menunjukkan daya tarik wisata di Desa Penyeladi adalah 181,8, dengan nilai total 1.090,8 daya tarik wisata, kriteria daya tarik wisata alam Batu Posok di Desa Penyeladi dinyatakan Baik (A), yang berarti potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik alam.Kata Kunci: Batu Posak, Sanggau, Wisata Alam
Potensi Jenis Pohon pada Ruang Terbuka Hijau Kota Pontianak dalam Ameliorasi Iklim Mikro Siva Devi Azahra; Destiana; Siti Masitoh Kartikawati; Muhammad Pramulya
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 13 No. 1 (2023): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v13i1.46486

Abstract

Suhu udara di kawasan perkotaan mengalami peningkatan yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan produktivitas masyarakat. Ruang terbuka hijau (RTH) terdiri dari berbagai jenis pohon yang memiliki peran ekologis untuk menanggulangi hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian karakteristik pohon pada RTH dalam ameliorasi iklim mikro sehingga diketahui sejauh mana efektivitas dalam memenuhi fungsi ekologisnya serta memberikan rekomendasi jenis-jenis tumbuhan yang mendukung pengelolaan dan konservasi RTH. Penelitian dilakukan dengan melakukan penilaian kesesuaian karakteristik pohon dengan fungsi ekologisnya berdasarkan KPI (Key Performance Index) pada beberapa ruang terbuka hijau di Kota Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angsana (Pterocarpus indicus), tanjung (Mimusops elengi), trembesi (Samanea saman), dan mahoni (Swietenia mahagoni) merupakan jenis pohon yang efektif dalam memodifikasi suhu dan kelembapan udara serta sebagai pemecah angin.
Inovasi Eco-Textiles Sebagai Ciri Khas Produk Ramah Lingkungan Siva Devi Azahra; Siti Masitoh Kartikawati; Dina Setyawati
Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas ADPI Sains dan Teknologi
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/saintek.v4i1.273

Abstract

Kampung Batik Kamboja is a tourist village consisting of a community of people fostered by the Pontianak City government to produce various textile crafts. Previously, the production activities carried out were limited to batik products and still used synthetic materials and dyes; this is what underlies the need for assistance related to eco-friendly product innovation. This collaborative assistance has been carried out since 2020. It aims to solve production problems experienced by craftsmen and develop the diversification of products made from natural raw materials to become the hallmark of Kampung Batik Kamboja. Training and assistance that have been carried out include making natural dyes, coloring with shibori, and making textile motifs using eco-print pounding and leaf printing techniques. This assistance succeeded in increasing knowledge and encouraging the community to innovate to produce various environmentally friendly textile products so that they have the potential to increase the community's economy through community-based creative industries.
DIVERSIFIKASI AIR KELAPA MENJADI PRODUK KECAP UNTUK MENUNJANG KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT DESA Siti Masitoh Kartikawati; Siva Devi Azahra; Destiana Destiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13730

Abstract

Abstrak: Desa Sungai Kupah merupakan desa pesisir yang memiliki produk unggulan yaitu buah kelapa. Pemanfaatan komoditas kelapa masih terbatas pada nilai jual buah kelapa, gula kelapa dan kopra. Pada pembuatan kopra, air kelapa menjadi limbah yang belum dimanfaatkan. Kegiatan ini bertujuan memberi pelatihan pemanfaatan air kelapa yang tidak terpakai menjadi produk kecap sehingga dapat menunjang ketahanan pangan dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan kepada masyarakat Desa Sungai Kupah dengan metode penyuluhan tentang manfaat air kelapa dan diversifikasi produk air kelapa, praktek pembuatan kecap, praktek pengunaan produk kecap, dan evaluasi kegiatan dalam bentuk pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat dan nilai tambah ekonomi dari air kelapa sebesar 34%, selain itu setiap peserta juga berhasil mempraktekkan pembuatan produk kecap air kelapa.Abstract: Sungai Kupah Village is a coastal village that has a superior product, namely coconuts. Utilization of coconut commodities is still limited to the selling value of coconuts, coconut sugar, and copra. In the manufacture of copra, coconut water becomes waste that has not been utilized. This activity aims to provide training on the utilization of unused coconut water in soy sauce products so that it can support food security and have economic value for the community. Community service activities were carried out for the people of Sungai Kupah Village with counseling methods about the benefits of coconut water and coconut water product diversification, the practice of making soy sauce, the practice of using soy sauce products, and evaluation of activities in the form of a pre- and post-test. The results of the activity showed an increase of 34% in participants' knowledge about the benefits and economic added value of coconut water, besides the fact that each participant also succeeded in practicing making coconut water soy sauce products.
KARAKTERISTIK DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DESA ENTIBAB TENTANG PEMANFAATAN TUMBUHAN KRATOM (Mitragyna speciosa) DI KABUPATEN KAPUAS HULU Richa Syarma; Siti Masitoh Kartikawati; Dina Setyawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.60416

Abstract

Kratom (Mitragyna speciosa) is a type of plant that grows in the upstream Kapuas area and currently has a high economic value. This study aims to examine the characteristics of the people of Entibab Village about Kratom plants and describe knowledge about the use of Kratom plants in Entibab Village. The benefits of this research are expected to be able to provide information about community characteristics and public knowledge about the use of kratom plants. The method used is a survey method with a snowball sampling technique, namely determining key respondents. The gender of the community in Entibab Village itself is 18 men and 9 women. There are 2 types of kratom plants in Entibab Village, namely red kratom and white kratom. Kratom cultivation by the people of Entibab Village includes the stages of nursery preparation, land management, plant maintenance, harvest and post-harvest. Based on the criteria for gender characteristics, there are more men than women, 96% of whom are in the productive age category, meaning that almost all of the community is involved in the production process of kratom leaves.Keywords: Characteristics, Entibab Village, Kratom Plant, UtilizationAbstrakKratom (Mitragyna speciosa) merupakan jenis tumbuhan yang tumbuh di daerah kapuas hulu dan saat ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik masyarakat Desa Entibab tentang tumbuhan Kratom dan mendeskripsikan pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan Kratom di Desa Entibab. Adapun manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi mengenai karakteristik masyarakat dan pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan kratom Metode yang digunakan metode survei dengan teknik snowball sampling, yaitu menentukan responden kunci. Jenis kelamin masyarakat di Desa Entibab sendiri terdapat 18 orang laki laki dan 9 orang perempuan. Tumbuhan kratom di Desa Entibab sendiri terdapat 2 jenis kratom yaitu kratom merah dan kratom putih. Budidaya kratom oleh masyarakat Desa Entibab meliputi tahap persiapan pembibitan, pengolahan lahan, pemeliharaan tanaman, panen dan pasca panen. Berdasarkan kriteria karekteristik jenis kelamin, laki-laki lebih banyak daripada perempuan, berdasarkan usia 96% termasuk kategori usia produktif, artinya masyarakat hampir semuanya terlibat dalam proses produksi daun kratom.Kata Kunci: Desa Entibab, Karakteristik, Pemanfaatan, Tumbuhan Kratom
PERSEPSI MASYARAKAT DESA SEDAHAN JAYA TERHADAP KEBERADAAN ORANGUTAN DI ZONA PEMANFAATAN TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG soni irawan; Sudirman Muin; Siti Masitoh Kartikawati
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 2 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i2.55711

Abstract

Gunung Palung National Park must be maintained as an orangutan conservation area and as a life support system between humans and animals called the use zone. There is a relationship between the community and the existence of the Gunung Palung National Park that cannot be separated which causes the community's perception of the existence of orangutans in the TNGP utilization zone This study aims to examine the perception of Sedahan Jaya's community on the existence of orangutans in the Gunung Palung National Park utilization zone, Analyzing the relationship between land ownership, education level, income and land dependency level with the community's perception of the existence of orangutans in the Gunung Palung National Park utilization zone. This study used a survey method with interviews guided by a questionnaire containing several questions to respondents, and data were collected using purposive sampling. The results of this study indicate that community perceptions tend to be negative (50.58%), area of land ownership is positive (50.59%), low-income level (50.58%), low education level (71.76%) and level of dependency is high (54.35%). The positive and insignificant relationship between the level of the land area is (sig (2- tailet) amount of 0.301, and the correlation coefficient score is 0.113). There is a positive and significant relationship between education level and perception (sig (2-tailed) amount of 0.603, correlation coefficient score is 0.057), there is a negative and significant relationship between income level and perception (sig (2-tailed) amount of 0.040, the correlation coefficient score is -0.223) and there is a negative and significant relationship between the level of dependence and perception (sig (2-tailed) of 0.119, the correlation coefficient score is -0.171.Keywords: Perception, Sedahan Jaya Village, Utilization Zone. AbstrakTaman Nasional Gunung Palung harus dijaga sebagai kawasan konservasi orangutan dan sebagai sistem pendukung kehidupan antara manusia dan hewan yang disebut zona penggunaan. .Adanya hubungan antara masyarakat dengan keberadaan Taman Nasional Gunung Palung yang tidak dapat dipisahkan yang menyebabkan persepsi masyarakat terhadap keberadaan orangutan di zona pemanfaatan TNGP Penelitian ini bertujuan untuk menguji persepsi masyarakat Sedahan Jaya terhadap keberadaan orangutan di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Palung, Menganalisis hubungan antara kepemilikan lahan, tingkat pendidikan, pendapatan dan tingkat ketergantungan lahan dengan persepsi masyarakat tentang keberadaan orangutan di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Palung. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan wawancara yang dipandu oleh kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan kepada responden, dan data dikumpulkan menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat cenderung negatif (50,58%), luas kepemilikan tanah positif (50,59%), tingkat pendapatan rendah (50,58%), tingkat pendidikan rendah (71,76%) dan tingkat ketergantungan yang tinggi (54,35%). Hubungan positif dan tidak signifikan antara tingkat luas lahan adalah (sig (2- tailet) jumlah 0,301, skor koefisien korelasi adalah 0,113). Ada hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dan persepsi (sig (2-ekor) jumlah 0,603, skor koefisien korelasi adalah 0,057), ada hubungan negatif dan signifikan antara tingkat pendapatan dan persepsi (sig (2-ekor) jumlah 0,040, skor koefisien korelasi adalah -0,223) dan ada hubungan negatif dan signifikan antara tingkat ketergantungan dan persepsi (sig (2-ekor) dari 0,119, skor koefisien korelasi adalah -0,171.Kata kunci: Persepsi, Desa Sedahan Jaya, Zona Pemanfaatan.